Merenungkan Bahasa Indonesia Pada Peringatan 56 Tahun Sumpah Pemuda

Merenungkan Bahasa Indonesia Pada Peringatan 56 Tahun Sumpah Pemuda
Oleh: Prof Dr S. Takdir Alisjahbana
1. Bahasa Indonesia Di Jalan Buntu
Bulan ini kita merayakan tahun ke-56 Sumpah Pemuda yang berlaku dalam tahun 1928. Sumpah Pemuda itu boleh kita katakan adalah rumusan yang terpenting dalam sejarah terbentuknya negara Indonesia sebagai negara kesatuan sekarang ini. Saya tak usah lagi berbicara tentang sumpah yang pertama, yaitu berbangsa satu yang sekarang telah tercapai secara formil dalam kewargaan negara ndonesia. Sekalian orang yang menjadi warga negara Inonesia merupakan anggota bangsa Indonesia yang satu. Saya juga tidak usah berbicara tentang bertanah air satu, oleh karena hal itu telah tercapai dalam batas-batas negara Indonesia yang telah mantap. Batas negara Indonesia yang sudah ditentukan dengan masuknya Irian Jaya kedalam wilayah Indonesia yang membentang menepati sepertujuh dari khatulistiwa. Kalau diletakkan di Eropa, Indonesia membentang dari Irlandia sampai ke laut Kaspia.
Tentang soal bahasa Indonesia yang menurut sumpah itu kita junjung, dalam Undang-Undang 1945 dengan tegas dan ringkas dikatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa negara, jadi bukan lagi harus dijunjung, tetapi sudah menjadi sebagian dari darah daging keseluruhan bangsa dan negara Indonesia yang tidak dapat dipisahkan lagi daripadanya.
Dalam karangan ini saya terutama akan membicarakan perkembangan bahasa Indonesia dalam keadaannya dewasa ini. Sebenarnya perjuangan dan perkembangan bahasa Indonsia sejak tahun 1928 boleh kita katakan adalah sesuatu yang unik dalam sejarah perjuangan dan perkembangan bahasa di dunia. Meskipun dosen-dosen sering mengeluh bahwa mahasiswanya tidak menguasai bahasa Indonesia, kalimat-kalimat tidak selesai, dsb, meskipun ada orang yang mengeluh bahwa pejabat-pejabat kita masih ada yang membuat kesalahan dalam mengucapkan maupun menuliskan bahasa Indonesia, meskipun dalam percakapan dan surat kabar masih sering kelihatan kesalahan-kesalahan, sehingga Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia perlu merumuskan semboyan
“Pakailah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar”, tetapi saya sebagai orang yang seumur hidup berjuang untuk perkembangan bahasa Indonesia, pada waktu ini hendak mengucapkan dengan terus-terang kegirangan hati saya akan tingkat pemakaian bahasa Indonesia yang kita capai sekarang ini. Surat-surat kabar kita telah mengembangkan bahasa Indonesia yang lancar dan jelas, memberi penerangan dan memberi uraian yang logis dan dapat dipahamkan. Demikian juga dengan bahasa yang kita pakai dalam rapat-rapat, baik pada tingkat yang rendah, kecamatan, kabupaten, maupun tingkat parlemen. Tentu di tingkat desa dan kecamatan masih lebih banyak kata-kata daerah dipakai. Itu wajar dan hal ini lambat laun akan berkurang dengan Keputusan Pemerintah yang amat penting tahun ini, yaitu keputusan wajib belajar bagi semua anak-anak Indonesia. Pembakuan dan perbaikan bahasa Indonesia dalam arti yang sering dikemukakan sekarang adalah pertamasekali tugas dan pekerjaan sekolah. Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Bahasa Belanda, yang sekarang ini boleh dikatakan bahasa-bahasa yang baku dan mantap, akan hilang kebakuan dan kemantapannya, kalau sekolah-sekolah ditutup barang seratus tahun di negara-negara itu.
Keberatan-keberatan dan keritik tentang bahasa Indonesia sebagai bahasa hukum, bahasa sekolah, bahasa percakapan dalam rapat-rapat, dalam sidang-sidang yang resmi dan lain-lain, pada pikiran saya tak ada yang menimbulkan soal yang besar yang tak dapat diatasi. Bahasa Indonesia telah berkembang dan kita dapat membanggakan hal itu.
Tetapi dapatkah kita sekarang ini berpuas diri dengan kedudukan bahasa Indonesis dalam perkembangan bangsa kita sebagai bangsa keseluruhan, di tengah-tengah dunia yang amat cepat berubah dan maju? Dalam hubungan yang luas ini yang menentukan perkembangan dan kemajuan bangsa kita sebagai keseluruhan, saya masuk orang yang paling tidak puas. Pada kesempatan ini saya hendak mengucapkan hal-hal yang pada pikiran saya harus segera dilakukan apaabila bahasa Indonesia betul-betul hendak kita jadikan bahasa seperti termaktub dalam Sumpah Pemuda dan Undang-Undang Dasar kita. Baik kita ingatkan kembali, bahwa Bahasa Indonesia dahulu cepat berkembang oleh karena kita tidak puas akan usaha pemerintah Belanda untuk menahan penyebaran bahasa Belanda di kalangan bangsa kita. Bahasa Belanda yang pada suatu ketika telah mulai menjadi sesuatu yang menarik dan perlu bagi kita, sebagai alat untuk mendapat kedudukan dan ilmu pengetahuan yang baik dalam masyarkat, sehingga orang tua berebut-berebut hendak memasukkan anaknya ke sekolah Belanda, bahasa Belanda dibatasi oleh pihak Belanda kemungkinan mempelajarinya, karena bangsa Belanda takut bertambah lama bertambah banyak orang Indonesia yang mempunyai pengetahuan dan lambat laun juga sadar akan hak-haknya dan menuntut hak-haknya itu sebagai bangsa yang menghendaki kemerdekaan. Karena terbatasnya kemungkinan mempelajari bahasa Belanda, maka bangkitlah pergerakan memperkembangkan bahasa Melayu, yang lambat laun menjadi bahasa seluruh masyarakat Indonesia. Kita tahu bahwa perjuangan itu sampai sekarang dikagumi seluruh dunia, bagaimana suatu bangsa dalam negeri yang paling terpecah-pecah di seluruh dunia (ingatlah terjadi dari 13.000 pulau besar dan kecil), menumbuhkan bahasa persatuan mengatasi 400 bahasa dan kebudayaan yang sangat berbeda-beda.
2. Pendewasaan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Modern
Dalam kepuasan dan kebanggaan kita mempunyai bahasa Indonesia itu, pada waktu sekarang ini, baiklah kita renungkan kembali hingga manakah telah tercapai tujuan yang kita kehendaki, masih dapatkah kita sesungguhnya puas akan perkembangan bahasa Indonesia dalam keadaan Indonesia dan dunia sekarang ini? Tentang hal ini terus terang saya katakan, saya sangat kecewa dan tidak puas. Setelah perkembangan bahasa Indonesia yang gilang-gemilang tak ada taranya dalam sejarah bahasa-bahasa dunia, menjadi bahasa modern abad ke 20, yaitu bahasa ilmu dan kebudayaan yang dewasa. Menurut tinjauan saya kegagalan ini mengurangkan arti seleruh perjuangan dan usaha kita yang sangat berhasil, yaitu mengadakan bahasa Indonesia bahasa persatuan dan bahasa negara di masa yang lampau. Dalam hal ini tentu ada beberapa faktor yang berpengaruh. Pengaruh negatif yang terpenting pada pikiran saya adalah pengaruh linguistik modern yang dipelajari oleh sarjana-sarjana kita, terutama di Eropa dan Amerika, yaitu suatu linguistik dan terbatas, serta spesilistik. Tentang ini saya hendak menunjukan karangan saya dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Kegagalan linguistik modern dalam menghadapi soal-soal bahasa abad ke dua puluh.
Dengan demikian hakikat bahasa sebagai alat dan penjelmaan keseluruhan pikiran dan kebudayaan terlupakan atau sekurang-kurangnya sangat terabai. Keseluruhan sesuatu bahasa adalah keseluruhan konsep dan pikiran seluruh kebudayaan yang bergerak, bertempur dan berkombinasi sesamanya yang menjelma dinamis fikiran bangsa itu.
Dalam hubungan inilah kelihatan kepada saya, bahwa soal menerjemahkan buku-buku dari segala bahasa di dunia yang relevan tentang kemajuan ilmu dan kebudayaan modern sangat memutuskan untuk arti bahasa Indonesia bagi bangsa dan kebudayaan kita. Bagaimana sekalipun memuaskannya bahasa itu dipakai dalam rapat-rapat, dalam surat kabar, dalam sekolah dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi, tetapi adalah bahasa itu adalah bahasa yang sangat miskin dan kemiskinan itu makin hari makin terasa apabila bangsa kita makin dalam terlibat dalam perlombaan kemajuan ilmu, teknologi dan ekonomi, yang menjadi ciri kebudayaan modern di seluruh dunia. Seperti belum berapa lama ini saya ucapkan, universitas kita yang akan menjadi katrol untuk mengangkat seluruh rakyat kita ketingkat kemajuan ilmu dan kebudayaan modern, ketingkat industrial civilization, tidak berdaya oleh sangat rendah mutunya. Kita dapat mengangkat, apabila berpindah dari bahasa Indonesia ke bahasa modern yang telah dewasa, dalam hal ini bahasa Inggris. Pekerjaan itu amat berat bagi kita oleh karena pelajaran bahasa Inggris di negeri kita sangat rendah, sedangkan kita tidak mempunyai tradisi bahasa Inggris seperti di Malasyia, Singapura, Brunei,dll. Demikian, soal kemisikinan buku ilmu dalam bahasa Indonesia itu menjadi soal seluruh perkembangan masyarakat kita, malah hendak saya tekankan, seluruh usaha pembangunan dan modernisasi yang merupakan keputusan pemerintah yang sebaik-baiknya dan harus disokong. Masih tahun ini saya di hadapan DPR berusaha meyakinkan DPR akan perlunya kita melakukan terjemahan itu secepat mungkin dan seluas mungkin, tetapi saya sangat menyesal mendengar Menteri P dan K enggan melakukan dengan mengemukakan bahwa di Indonesia ada penerjemah-penerjemah yang pandai tetapi mereka terlampau sibuk sehingga usaha penerjemah penerjemahan besar-besaran itu tidak dapat dilakukan. Saya cuma ingin bertanya, bagaimana orang Islam dalam abad ke-8 dan ke-9 mendapat penerjemah untuk menerjemahkan buku-buku yang terpenting dari bahasa Yunani, Parsi, India, tentang filsaf, matematika, astronomi, kedokteran, dll. Contoh yang paling baru bagaimana Jepang menerjemahkan dalam Restorasi Meiji, 150 tahun yang lalu, sedangkan bangsa Jepang ketika itu bukanlah seperti kita yang mempunyai ratusan universitas, pemerintah dan swasta, tetapi belum mempunyai unversitas, malahan memulai dengan mengadakan lembaga penerjemah, yang lambat laun menjadi Unversitas Tokyo yang terkenal itu.
Di sini kelihatan bahwa semua dalih itu tidak beralasan. Sebab yang terpenting adalah kurang motivasi, dalam hal ini kurang yakin bahwa kunci dari kemajuan kita sekarang ini adalah mendewasakan bahasa Indoensia dengan menerjemahkan buku-buku itu seperti berlaku di Jepang, sehingga mahasiswa dan masyarakat kita yang boleh dikatakan seluruhnya tidak menguasai bahasa Inggris selayaknya, dapat mengembangkan ilmunya sepenuh-penuhnya. Dan di sini dapat kita tambahkan lagi bahwa buku bahasa Inggris di Indonesia terlamapau sedikit, Universitas Indonesia hanya mempunyai 400.000 buku, sedangkan Singapura dan Kuala Lumpur saja sudah mempunyai buku di atas 1000.000.
Nah, dapatlah kita mengerti jalan buntu perkembangan ilmu dan teknologi di negara kita. Kita selalu berbicara dan mengeluh pada negara-negara yang telah maju tidak membantu kita dalam tranfer of science and technology. Lupa kita bahwa ilmu dan teknologi, bahwa kemajuan itu mesti direbut, sebab kemajuan kita mencapai tingkat negara yang sudah maju, akan menimbulkan soal bagi mereka, kita akan menjadi saingan bagi mereka seperti sekarang mereka semuanya menghadapi soal yang sangat besar dengan kemajuan Jepang, dengan majunya Korea, Taiwan, dan sebagainya.
Di sini sekali lagi dalam suasana perayaan ke 56 Sumpah Pemuda saya sampaikan prmintaan kepada Pemerintah kita, malahan terutama Kepada Presiden kita yang memegang pimpinan dalam pembangunan dan modernisasi sekarang ini, supaya secepat mungkin dan seluas mungkin diusahakan penterjemahan buku ilmu pengetahuan. Kalau tidak dilakukan, tidak ada alternatif kita yang lain daripada mengambil bahasa Inggris sebagai bahasa ilmu dan kebudayaan modern kita. Kita mengakui kesalahan kita dahulu pindah dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia, bukan langsung ke bahasa Inggris. Dengan begini kita harus mengakui bahwa Pilipina lebih cerdik dan bijaksana dari kita. Mereka menciptakan bahasa Tagalog sebagai bahasa kebangsaan untuk memenuhi hasrat kebanggaan mempunyai bahasa kebangsaan, tetapi bahasa kebangsaan itu hanya untuk pemeran saja, sedangkan bahasa kebudayaan tinggi, bahasa lmu dan bahasa kemajuan zaman modern adalah bahasa Inggris, yang diketahui sebagian besar dari rakyat. Bahasa Tagalog itu tidak dipakai sebagai bahasa pengantar pada perguruan menengah, apalagi pada perguruan tinggi, sekalian itu sepenuh-penuhnya dalam bahasa Inggris. Dengan demikian segala kemajuan bahasa Inggris, dapat diambil oleh orang Pilipina yang dibesarkan dalam suasana bahasa Inggris. Tidak ada keperluan bagi mereka untuk menjadikan bahasa Tagalog itu bahasa ilmu abad ke-20. Tetapi keadaan di negari kita berbeda sekali, tidak mengadakan bahasa Indonesia itu sebagai pengganti bahasa Belanda, bahasa Indonesia modern. Sekarang setelah itu menjadi sepenuhnya memenuhi kehidupan bangsa kita, kita gagal melakukan langkah yang berikutnya. Ini sangat disayangkan dan meskipun saya dalam lingkungan Universitas Nasional sudah mengambil keputusan untuk mementingkan bahasa Inggris, tetapi dalam hati kecil saya masih mengharapkan pemerintah untuk mengembangkan bahasa Indonesia itu sebagai bahasa modern seperti bahasa Jepang.
3. Meningkatkan Kerjasama Dengan Malaysia dan Singapura
Satu hal lagi yang saya anggap penting direnungkan pada bulan perayaan Sumpah Pemuda berhubung dengan perkembangan dan perluasan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang bersifat internasional. Kita sekaliannya tahu bahwa bahasa Indonesia itu dikembangkan dari bahasa Melayu, kita tahu juga bahasa-bahasa Melayu itu di Malaysia dikembangkan menjadi bahasa Malaysia, sedangkan di Singapura dan Brunei bahasa Melayu itu masih tetap dengan nama bahasa Melayu.
Pada hakikatnya bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia tidak berbeda oleh karena kedua-keduanya berpokok kepada bahasa Melayu dan kedua-duanya bahasa kebangsaan yang penuh, sedangkan kedua-duanya tidak bisa tidak mesti tumbuh menjadi bahasa modern. Perbedaan yang kecil-kecil antara kedua bahasa ini akan tetap ada, misalnya berhubungan dengan kelembagaan politik tentu istilah yang tidak sama, sebab Undang-Undang Dasar ,lembaga-lembaganya berlainan, tetapi sementara itu tentang dunia modern kedua-duanya menghadapi soal yang sama, dan koordinasi malahan standarisasi kedua bahasa ini amat penting bagi perkembangan kedua bahasa ini selanjutnya dengan membakukan bahasa Indonesia, bahasa Malaysia, dan bahasa Melayu di Singapura dan di Brunei. Kita akan mendapatkan suatu bahasa yang dipercakapkan oleh kira-kira 180 juta manusia, dengan demikian masuk menjadi bahasa yang terbesar di dunia, menyusul bahasa Inggris, bahasa Cina dan Hindi. Mungkin sekali bahasa Indonesia-Malasyia-Melayu adalah lebih besar dari bahasa Prancis, dari bahasa Spanyol dan bahasa Arab, jadi menjadi bahasa keempat atau setinggi-tingginya lima di dunia, yang juga bersifat internasional.
Kalau kita tahu sekarang bahasa-bahasa Arab sudah menjadi bahasa PBB, tentulah bagi bahasa Indonesia hanya soal waktu untuk mencapai kedudukan yang demikian. Kalau dibandingan dengan bahasa Arab, bahasa Indonesia-Malaysia…
(Lihat halaman IX kol.5)
(Sumber: Suara Karya 29 Oktober 1984, hlm. V).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s