Konfrensi Internasional Budaya Sunda

                                           Orang Sunda yang Rusuh
Ayang- ayang gung
gung googna rame
menak ki mastanu
nu jadi wadana
naha maneh kitu
tukang olok-olok
loba anu giruk
ruket jeung kumpeni
niat jadi pangkat
katon kagorengan
ngantos kangjeng dalem
lempa lempi lempong
ngadu pipi jeung no ompong

Lagu di atas hanyalah lagu anak-anak Sunda. Dengan kalimat nyinyir, lagu tersebut menggambarkan kebiasaaan bangsawan Sunda yang cenderung mengikuti kompeni agar bahagia hidupnya. Tak kurang dari seorang Ajip Rosidi, menilai kecenderungan masyarakat Sunda yang lebih mampu ngawula (menjadi pengikut) ketimbang menjadi pemimpin. Karena lebih memilih ngawula, maka kecenderungannya, masyarakat Sunda tak berani melawan’atasan’, tak mau aksi kekerasan. Atau dengan kata lain, masyarakat Sunda tak suka berbuat rusuh.
Lantas sastrawan Sunda yang kini mukim di Jepang itu menyebut kota Bandung yang telah melahirkan banyak pemimpin gerakan nasional. Tapi dari tokoh-tokoh yang muncul, tak ada tokoh dari Sunda. Yang ada, tokoh Jawa atau Sumatera.
Dalam berbagai kesempatan, Gebernur Jabar HR Nuriana selalu menegaskan, tipologi masyarakat Sunda memang tak suka berbuat rusuh. Karenanya, Nuriana cukup bangga jika kerusuhan yang ada di Jawa Barat bisa dilokalisasi. Tidak meluas sebagaimana halnya kerusuhan-kerusuhan di luar Jawa Barat.
Tapi benarkah demikian? Orang Sunda sebenarnya justru sering berbuat rusuh. Coba lihat setiap pagi hari ketika orang hendak berangkat kerja atau pergi ke pasar. Mereka selalu rusuh. Rusuh di sini, tentu saja rusuh dalam bahasa Sunda yang berarti terburu-buru. He he…
Benarkah orang Sunda tak suka melawan? Buktinya, Si Kabayan, selalu melakukan penentangan. Meski hanya kepada mertuanya. Benarkah orang Sunda tak memyukai aksi kekerasan? Buktinya tentara Siliwangi mengejar kelompok DI/ TII. Tentara Siliwangi pula yang memburu Kahar Muzakar.
***
Hal-hal itu, tentu saja hanya sebagian kecil dari problema yang akan dibahas dalam ‘Konferensi Internasional Budaya Sunda’ yang akan dilangsungkan di Gedung Merdeka, Bandung 22-25 Agustus ini. Pencetus konferensi ini adalah Ajip Rosidi, yang begitu gamang dengan perkembangan budaya Sunda. “ Anak-anak muda sekarang tak mengetahui budaya Sunda,” ujar Ajip.
Kenyataan itu ditemukan Ajip selama menyusun eksiklopedi Sunda. Sebab banyak orang yang jarang mengetahui jawabannnya, ketika pihaknya mengonfirmasi berbagai hal untuk entri ensiklopedinya. Ensiklopedi sudah tercetak, dan langkah selanjutnya adalah meneruskannya ketingkat konferensi yang dihadiri banyak pengamat budaya Sunda dari negara lain.
Ajip menjelaskan, banyak naskah kuno Sunda yang meberikan ajaran-ajaran demokrasi dan moralitas, tak tersosialisasikan, lantaran jarang yang bisa membacanya. Naskah-naskah itu, kini banyak tersimpan di Belanda.
Bagi Eep Saefullah Fatah yang juga orang Sunda, upaya ini patut didukung selama tidak mengarah kepada komunalisme. Menurut Eep, upaya mengangkat budaya lokal harus disasarkan pada gerakan demokratisasi.
Perubahan yang mencekam selama ini telah mendorong beberapa kelompok masyarakat memakai agama sebagai langkah penyelesaian. Tapi atas nama agama, mereka kemudian menyerang kelompok lain. Agama menjadi perekat identitas yang dapat memperkuat daya desak terciptanya kerumunan. Itulah yang dimaksud Eep sebagai komunalisme. ‘‘ Budaya lokal mempunyai potensi seperti itu,’’ ujar Eep yang diundang bicara dalam persiapan konferensi internasional budaya Sunda ini, di Jakarta, akhir Juli lalu.
Komunalisme bisa muncul dengan banyak cara. ‘‘Ketika pejabat politik diadili. Komunalisme muncul dengan kerumunan orang-orang yang sedaerah asal dengan tokoh tersebut, untuk kemudian menuntut proses peradilan dihentikan,’’ papar Eep justru menjadi kontraproduktif.
Karenanya, ia mengingatkan, seharusnya upaya membangun budaya lokal di khidmatkan untuk membangun lokalitas yang tersebar di berbagai tempat. “ Karena lokalitas itulah yang memberi kontribusi besar terhadap demokratisasi,’’ Ujar Eep.
Itulah sebabnya, konferensi budaya Sunda ini bisa dijadikan bagian dari gerakan pembugaran budaya. Pemeringkatan dalam berbahasa, kata Eep, layak dibugarkan. Karena pemeringkatan justru menandakan sikap tidak demokratis. Ajip pun sepakat tentang ini. Undak usuk ( pemeringkatan ) dalam Bahasa Sunda, menurut Ajib terjadi karena Belanda – di masa kolonialisme – menginginkan hal itu untuk mendukung kepentingan Belanda. “ Sebelum Belanda masuk, Bahasa Sunda tak mengenal undak-usuk, jelas Ajip. Dalam hal ini, kata Eep, upaya pembugaran budaya dilakukan bukan dengan cara menjaga tradisi sebagai warisan. Melainkan, dengan cara mereaktualisasi tradisi.
Lontaran Ajip soal kecenderungan masyarakat Sunda yang lebih suka ngawula tentulah bukan harga mati. Karena ternyata, yang memilih tindakan itu, adalah kalangan bangsawan. Tapi kalangan bangsawan ini justru mematikan kebudayaan rakyat. Rakyat yang memilki kemampuan untuk tidak ngawula. Masyarakat Baduy, adalah salah satu contoh tentang keberanian masyarakat Baduy tak mengakui organisasi negara. Kini pun, masih ada yang memilih sikap ini dengan cara tak bersedia memiliki kartu tanda penduduk (KTP).
Lantas, tiadanya pemimpin yang muncul dari kalangan Sunda yang masih dipertanyakan. Djuanda – yang nasibnya menjadi pegawai, ataupun Otto Iskandardinata – yang meninggal karena kecelakaan pesawat, dicurigai ‘tersingkir’ karena intrik-intrik. Inilah ketidakberdayaan orang Sunda.
Bahkan, ketidakberdayaan orang Sunda kian lengkap. Ketika nama Sunda Kecil diganti oleh Muh Yamin dengan sebutan Nusa Tenggara. Demikian juga untuk sebutan Sunda Besar yang juga ditiadakan oleh Yamin# pri
( Sumber: Republika, Minggu, 19 Agustus 2001, hlm. 13).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s