Ketika Rakyat Aceh Membela Negara Republik Indonesia Yang Baru Merdeka Seumur Jagung!

SEPUTAR PERANG KEMERDEKAAN
Kenang-Kenangan Dari Semenanjung Tanah Melayu

DALAM memperingati 50 tahun Indonesia merdeka saya ingin menceritakan sedikit pengalaman dan kenangan saya yang ada hubungannya dengan perjuangan kemerdekaan selama saya berada di Semenanjung Tanah Melayu yang duhulu masih disebut Malaya. Itu antara tahun 1948-1949. Saya dan beberapa orang kawan,diantaranya M Nur Nikmat (sekarang Ketua Umum Aceh sepakat Medan) berada di sana dalam perjalanan untuk melanjutkan perjalanan keluar negeri tetapi gagal oleh beberapa sebab. Tetapi selaku Anggota Tentara Pelajaran Islam (TPI) yang diperbantukan pada Markas Batalion Istimewa Mujahidin di Sungai Liput Aceh Timur (setelah jatuhnya Tanjung Pura ke tangan Belanda), kami yang di luar negeri itu, mendapat tugas dan pesan agar turut membantu para pejuang kita yang sering hilir mudik antara Penang-Aceh .
Tugas para pejuang kita di Malaya termasuk Singapore adalah membawa barang-barang dagangan secara barter, memasukkan atau menyelundupkan senjata dan logistik, mencari dana atau devisa. Di samping itu juga melakukan tugas-tugas intelijen dan mencari berbagai informasi untuk kepentingan perjuangan . Pada masa itu Malaya masih dibawah kekuasaan Inggris, tetapi secara umum tidak memusui perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mungkin dari bisnis juga menguntungkan Malaya. Bahkan di Singapore tak ada hambatan untuk Indonesia yang membuka kantor Perwakilan Republik Indonesia dan di Penang ada juga konsulat Indonesia.

Aceh ketika itu sebagai daerah yang bebas dari kedudukan Belanda, maka para pedagang dan pejuang dari Aceh bebas melakukan perdagangan dan barter. Banyak terdapat kantor-kantor perdagangan orang Aceh di Penang. Bahkan dari sini mereka melakukan import ekspor dengan negara-negara lain seperti India, Pakistan, Ceylon, Thailand, Burma, Hongkong, Inggris dan negara-negara Arab.
Pesatnya hubungan perdagangan antara Aceh dan Penang seolah mengulangi kejayaan masa lalu. Dulu di Acheen Street (Leboh Aceh) Penang, banyak bermukim para saudagar Aceh. Komoditi yang utama pada waktu itu….(2 baris hilang) …….yang di dirikan oleh Wakil Presiden Moh.Hatta. 4 Ali Basyah H.Tawi. 5 Indocolim. 6. Petraco, 7 HM Syarif & Sons. 8 Toko Meuraxa, 9. Indo Malaya. Selain dari itu banyak juga perusahaan orang-orang Cina dan India yang asal Aceh atau yang pernah mengadakan perdagangan dengan Aceh. Disamping para pedagang, banyak juga para pejabat, pejuang dan tokoh militer yang hilir mudik. Ada juga para penyelundup yang halunya disebut smokkelar. Selain OA dan Jakfar Hanafiah, tokoh-tokoh yang saya kenal sering hilir mudik Aceh Penang adalah Lektol Hasballah Daud, bekas komandan Mujahiddn dan putraTgk. Daud Beureu’eh, Abdullah Arif wartawan surat kabar Semangat Merdeka Kutaraja dan Staf Penerangan Div X TRI, Kapten Nip Karim yang dikenal sebagai tokoh pejuang dan penyelundup dari front Medan Area,Abdullah Nyak Husin ataulebih dikenal Abdullah NH, yang ini adalah bekas Wedana Langsa dan perwira polisi di Aceh, Kolonel Hasballah Haji/Gajah Mada, ketika itu sebagai komandan Resimen 1/KSBO Medan Area, Tjik Mat Rahmany yang sebagai kepala Staf Div Tgk Tjik Di Tiro dan lain-lain yang saya tidak ingat lagi.
Perdagangan antara Aceh dengan Malaya berjalan baik, hanya bahayanya jika dicegat di tengah laut Selat Malaka oleh patroli Belanda. Untuk melumpuhkan kekuatan kita, Belanda sering memblokir laut seputar Aceh. Para pedagang Aceh yang ada di Malaya, selain melakukan kegiatan bisnis juga turut membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan cara menyumbang dana dan perlengkapan, memberikan berbagai fasilitas kepada para pejabat dan pejuang yang singgah di Penang dan turut memasarkan produk ekspor milik pemerintah. Dalam usaha mencari senjata untuk membeli, para pejabat turut dibantu oleh pedagang dan juga orang-orang Aceh yang ada dinegeri Yan kedah. Dalam pengumpulan dan untuk membeli dua pesawat terbang yang disumbangkan kepada pemerintah pusat, para pedagang kita di Penang turut juga membantu. Dana ini dikumpulkan oleh T. Manyak selaku Wakil Gabungan Saudara Indonesia Daerah Aceh (GASIDA). Tentang pembelian pesawat ini baiklah saya singgung sedikit mengingat adanya …….(hilang sedikit akibat dirusak lumpur tsunami Aceh)…..pendapat bahwa kemungkinan uang itu sudah dibelikan senjata dan perlengkapan untuk perjuangan melawan Belanda.
Saya mengetahui ini karena sekitar bulan Desember 1948 atau awal tahun 1949 saya yang masih golongan pemuda ini ikut musyawarah yang diadakan di kantor NV. Permai di Penang. musyawarah itu dihadiri oleh OA. T Manyak, Ali Basyah H Tawi, H Muhammad ERRI, Hasballah Daud, Abdullah Arif, Nip Karim dan beberapa pedagang lainnya. Bahwa ada sejumlah uang yang mungkin dikirim ke pemerintah pusat karena sulitnya perhubungan dan tidak berjumpanya para penyampai amanah ini dengan Mr Utoyo Ramelan, Kepala Perwakilan RI di Singapore. Maka atas instruksi dari penguasa di Aceh, uang itu akan dibelikan senjata dan perlengkapan dan akan dikirim dengan speed boet ke Aceh.
Uang Palsu
Berikut ada dua peristiwa yang mengesankan yang masih saya kenang, yaitu tentang uang palsu dan penyunludupan senjata. Pada masa-masa perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan ketika itu, pemerintah sangat membutuhkan uang untuk berbagai keperluan . berbagai jenis mata uang yang dikeluarkan seperti ORI, ORIPS, ORIPSU, sementara yang khusus dikeluarkan di Aceh adalah uang yang disebut URIKA dan URIBA, bahkan suatu ketika terjadi keadaan yang mendesak maka alat pengeluaran yang sah ini dikeluarkan dalam bentuk Bon Kontan yang terkenal Bon OA (Oesman Adami) uang itu dikeluarkan dengan tidak dukungan jaminan emas, bahkan dicetak secara besar-besaran sesuai dengan kebutuhan sehingga terjadi inflasi. Kiranya uang yang beredar itu tidak hanya dicetak di Aceh, tetapi juga dicetak di Penang oleh orang lain yang merupakan uang palsu. Saya mengetahui ini secara kebetulan.
Pada waktu kedatangan saya dan kawan-kawan di Penang sekitar April 1948, kami menumpang selama 20 hari di sebuah bangunan, bekas sebuah toko yang bermerek ”Indo Malaya”, terletak di Penang street. Perusahaan tersebut itu tidak aktif lagi dan kami tidak tahu siapa pemiliknya. Hanya seorang bekas pegawainya yang kami kenal, sebut saja namanya Yusuf Idris, orang Aceh. Beliaulah yang memberi tumpangan kepada kami di bangunan kosong itu. Sedangkan Yusuf Idris tidak tinggal di sini. Dia punya pemondokan sendiri. Ketika membenahi dan membersihkan ruangan di atas, kami berusaha membuka sebuah WC yang pintunya tertutup dan terpaku tetap seperti layaknya WC yang tidak terpakai lagi. Waktunya pintu tersebut terbuka, alangkah terkejutnya kami melihat ribuan uang kertas tumpah berhamburan keluar dari WC. Setelah kami teliti ternyata uang kertas palsu Republik Indonesia seperti yang dikelurkan di Aceh. Saya tidak ingat lagi URIKA atau URIBA, tetapi bernila Rp 5,- (Lima Rupiah). Barangkali sekarang ini setara dengan lima Ratus Rupiah. Sebagian sudah dipotong dalam ukuran lembar uang dan sebagian lagi masih dalam lembaran-lembaran kertas besar yang terdiri atas enam lembar uang.
Alangkah banyaknya uang itu. Waktu ditumpuk sekitar satu meter kubik. Karena kami merasa takut dan perasaan hati tidak enak, maka kami sepakat uang palsu itu kami bakar semua. Untuk membakarnya diperlukan dua….rusak lagi…..
kepada polisi, takut kalau-kalau kami ditahan. Maklum kita di negeri orang. Tetapi dua lembar uang itu saya kirim ke Markas Divisi x TNI/Mujahidindi Sungai Liput, tempat saya pernah bertugas. Saya mohon perhatian Markas, kemungkinan uang palsu seperti itu telah lama beredar di Aceh terutama Aceh bagian Timur dan Langkat. Temuan tersebut juga kami laporkan kepada Bpk Hasballah Daud dan Abdullah Arif yang pada waktu itu berada di Penang untuk dilaporkan ke Kutaraja.
Kemudian hari setelah kita sempurna bebas dari pejajah, dan zaman pun sudah normal, sekitar Tahun 1952, orang yag bernama Yusuf Idris itu pernah ditangkap di Medan dan dihukum dua tahun penjara karena kasus uang palsu juga. Sekarang ia sudah meninggal dunia di Penang.

Menyelundupkan Senjata
Mengenai penyelundupan senjata, seperti saya ceritakan di atas, bahwa diantara tugas para pejabat dan pejuang kita di Malaya adalah mencari dan membeli senjata, yang dibantu juga oleh para pedagang dan orang-orang kita di kota Yan, Kedah. Barang-barang tersebut dikumpulkan dan dibeli dari orang-orang Cina dan Siam, diantaranya berasal dari gerilyawan Komunis Malaya pimpinan Cheng Pin, yang ternyata mereka membutuhkan uang. Ada juga senjata-senjata itu berasal dari anak kapal Inggris dan Amerika.
Saya tidak sepenuhnya tahu seluk beluk perdagangan senjata yang penuh resiko itu. Umumnya pusat-pusat pengumpulan senjata itu, antara lain di Sungai Perlis, lautan Perlis-Thailand, Pulau Langkawi, Balik Pulau, sebuah negeri di sekitar Pulau Pinang dan juga di Pulau Pinang. Pada suatu malam saya diajak oleh Bpk Hasballah Daud men…………….selanjutnya isi artikel dalam kolom terakhir ini telah hilang/robek separuh kolom. Kalaupun saya salin bacaaannya tidak sempurna, maka tidak saya salin lagi. Seingat saya, penulis artikel ini adalah: Abd. Wahab Gam-Balee Seutui, Aceh Utara. Artikel ini disalin kembali oleh putra saya yang pertama, kecuali sub judul “menyelundupkan senjata”
Bale Tambeh, 13 Agustus 2015, malam, jam 22.07, T.A. Sakti
( Sumber: Serambi Indonesia, Rubrik REMAJA, Minggu, 9 Juli 1995 hlm…)

Iklan

Peran Surat Kabar “Semangat Merdeka” di Aceh dalam Mendukung Perang Kemerdekaan Republik Indonesia(1945-1949)

SEMANGAT MERDEKA, SURAT KABAR PERTAMA DI ACEH SETELAH INDONESIA MERDEKA

Oleh: T.A. Sakti

A. Ringkasan ‘Profil’ Suratkabar Semangat Merdeka

– Semangat merdeka diterbitkan oleh organisasi pemuda yang kemudian diberi nama IPI (Ikatan Pemuda Indonesia) yang dipimpin A. Hasjmy (Ketua Umum).

– Semboyan/motto Semangat Merdeka ialah “Surat Kabar Pembimbing Semangat dan Penjunjung Republik Indonesia”.

– Penerbit Semangat Merdeka pada awalnya adalah Badan Penerbit Semangat Merdeka Koetaradja.
– Suratkabar Semangat Merdeka terbit sejak tanggal 18 Oktober 1945 sampai tanggal 14 September 1950. Pada mulanya terbit tiap-tiap hari Selasa, Kamis, Sabtu.

– Seingat A.Hasjmy pemberian nama suratkabar dengan nama “Semangat Merdeka” adalah atas usul Abdullah Arif.

– Pendiri Semangat Merdeka ialah bekas pemimpin/pengasuh suratkabar Jepang: Atjeh Sinbun.

– Percetakan yang digunakan mencetak Semangat Merdeka juga bekas percetakan Atjeh Sinbun.

– Atas persetujuan para pendirinya, tanggal 3 November 1945, Pemerintah Daerah Aceh Republik Indonesia mengambil alih penerbitan Semangat Merdeka, sedangkan pimpinan dan karyawannya tetap seperti semula.

– Badan penerbit pemerintah daerah Aceh ini bernama: Pejabat Penerangan Umum Republik Indonesia Daerah Aceh di Koetaradja.

– Sejak tanggal 1 Desember 1945, semangat Merdeka sudah mampu terbit setiap hari, kecuali hari Ahad. Jadi, Semangat Merdeka adalah suratkabar harian pertama yang terbit di Aceh setelah Indonesia Merdeka.
– Para pengelola Semangat Merdeka, yaitu:
Para pengelola Semangat Merdeka, yaitu:
Pemimpin Umum : A. Hasjmy
Wakil Pemimpin Umum : Amelz
Staf Redaksi/Para Redaktur : Abdullah arif, Teuku Alibasyah Talsya dan
Ridwan.
Pemimpin Tata Usaha : Abu Bakar dan Syarif Alimy.
*Semua pegawai bekas percetakan Atjeh Sinbun tetap menjadi karyawan Percetakan Semangat Merdeka.
*Akhirnya tahun 1946 setelah A. Hasjmy mengalami berbagai kesibukan perjuangan di bidang lain, maka yang menggantikan beliau sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab suratkabar Semangat Merdeka ialah AMELZ (Abdul Manaf el Zamzamy; – yang kemudian menjadi pendiri Badan Penerbit “Bulan Bintang” di Jakarta).

– Pada awal penerbitan Semangat Merdeka pernah mengalami krisis/kesulitan kertas. Oleh karena Semangat Merdeka lakunya laris sekali, maka setelah habis kertas koran sisa Atjeh Sinbun, terpaksalah dicetak di atas kertas serat ubi dan di atas kertas doorslag, yang hanya bisa dicetak pada satu sisi saja.

– Lokasi kantor suratkabar Semangat Merdeka adalah belasan meter di sebelah utara Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh (bangunan lama mesjid itu, tahun 1945-1950).

– Jumlah oplah/eksemplar Semangat Merdeka berkisar antara 2500-3000,- eksemplar.

– Peredaran/penyebaran Semangat Merdeka, selain di Aceh juga ‘diseludupkan’ kepada pusat-pusat pertahanan kita seperti ke Yogyakarta, Bukittinggi dan selainnya; termasuk kepada perwakilan-perwakilan negara Indonesia di Malaya, India, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

B. Tinjauan Dan Analisis Isi Semangat Merdeka
Untuk menelusuri peranan suratkabar Semangat Merdeka semasa perang kemerdekaan Republik Indonesia, akan dilakukan tinjauan dan analisis beberapa unsur dari isi suratkabar tersebut. Di antara isi yang akan dianalisa ialah berita dalam negeri, berita luar negeri. Seruan-seruan/pengumuman dan tajuk rencana. Penulisan isi suratkabar akan ditulis dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), hanya kutipan-kutipan panjang yang tetap ditulis sebagaimana ejaan aslinya..

1. Berita dalam negeri
Berita yang berjudul “Negara Republik Indonesia telah diakui” yang dimuat suratkabar Semangat Merdeka terbitan Selasa, 23 Oktober 1945 memberitakan pengumuman resmi penguasa tertinggi pasukan Sekutu untuk Asia Tenggara yang berkedudukan di Singapura. Pengumuman itu bersisi empat masalah. Pertama, Panglima Sekutu bagi Indonesia Jenderal Philips Christison tidak diberi kuasa untuk mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia. Kedua, kepada Jenderal Philips Christison hanya diperintahkan untuk melucuti senjata tentera Jepang dan menjaga keselamatan tawanan-tawanan Sekutu di Indonesia. Ketiga, urusan politik dalam negeri Indonesia diserahkan dan diakui keberadaannya di bawah pemerintahan Republik Indonesia, yang telah dibangunkan oleh rakyat Indonesia sendiri. Keempat, bila pelucutan senjata telah selesai, urusan pemerintahan Indonesia hanya akan diawasi oleh pucuk pimpinan tentera Sekutu Asia Tenggara di Singapura.
Pengumuman resmi Admiral Lord Mountbetten sebagai pimpinan tertinggi tentera Sekutu di Asia Tenggara tentu memberi pengaruh positif bagi rakyat daerah Aceh yang sedang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Pelarangan terhadap pasukan Sekutu mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia, bisa ditafsirkan sebagai suatu bentuk pengakuan tentang berdirinya negara Indonesia yang baru dua bulan lebih diproklamirkan. Pengakuan wewenang pemerintahan Republik Indonesia untuk mengatur urusan politik dalam negeri, merupakan lambang pembenaran, bahwa bangsa Indonesia sudah mampu mengatur negaranya sendiri. Tentang perlucutan senjata Jepang, bisa menggugah pikiran rakyat daerah Aceh bahwa keperkasaan sebuah bangsa sering ada pasang-surutnya. Bangsa Jepang yang dulu kuat, setelah dikalahkan tentera Sekutu telah berubah menjadi bangsa tak berdaya. Pembenaran pihak Sekutu bagi pemerintah Indonesia untuk mengurus sendiri urusan dalam negeri, bisa berarti bangsa Indonesia pun bisa menjadi sebagai bangsa yang perkasa seperti Jepang, sekiranya bangsa Indonesia tetap mampu mempertahankan kemerdekaannya. Isi suratkabar Semangat Merdeka itu sanggup membangkitkan semangat rakyat daerah Aceh untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari ancaman tentera Belanda yang membonceng Sekutu.
Suratkabar Semangat Merdeka terbitan tanggal 24 Nopember 1945 memuat berita utama di halaman depan dengan judul “Hukum Perang Sabil pada masa sekarang ini adalah Fardlu ‘Ain, bukan Fardlu Kifayah lagi”. Judul berita yang dicetak dengan huruf yang besar-besar serta mengisi tiga perempat lebar halaman depan itu adalah berasal dari kutipan ucapan Teungku H.M. Hasan Krueng Kale seorang ulama kenamaan di daerah Aceh, terutama sangat dihormati rakyat di Aceh Besar. Teungku H.M. Hasan Krueng Kale menyebut hukum perang sabil itu bertempat di Mesjid Raya Kutaraja (Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sekarang) di hadapan para ulama terkemuka serta masyarakat pada rapat pembentukan Barisan Hizbullah daerah Aceh. Kalangan ulama terkenal yang ikut hadir pada rapat tersebut antara lain ialah Teungku (Tgk.) Sayed Abdullah Kajhu, Tgk.H. Ahmad Hasballah Indrapuri, Tgk. H. Makam Gampong Blang, Tgk. Mohd. Ali alias Tgk. Lam Pisang Kreung Kale, Tgk.M. Daud Beureueh, Tgk. Abdul Wahab Selimum dan lain-lain.
Pernyataan Tgk.H.M. Hasan Kreung Kale yang mengatakan hukum perang sabil (perang melawan kafir) menjadi fardlu ‘ain, yakni yang wajib dikerjakan oleh setiap pribadi ummat Islam sebagaimana kewajiban shalat; tentu menumbuhkan semangat jihad bagi para peserta rapat itu. Oleh karena pernyataan itu ikut disiarkan sebagai berita paling utama suratkabar Semangat Merdeka, ucapan tersebut bisa pula membangkitkan semangat jihad bagi para pembacanya. Di antara alasan yang dapat penulis kemukakan, bahwa berita itu mampu menggugah rakyat ialah karena ketokohan Tgk.H.M. Hasan Krueng Kale sebagai ulama besar sudah cukup luas dikenal masyarakat. Lebih-lebih lagi ucapan tersebut dilontarkan di depan para ulama sekaliber beliau pula. Harus pula disebutkan, bahwa ucapan itu dikemukakan pada rapat pembentukan Barisan Hisbullah, yaitu persatuan laskar rakyat yang dipimpin para ulama daerah Aceh untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Atas inisiatif suratkabar Semangat Merdeka memuat berita pembentukan Barisan Hizbullah daerah Aceh serta mengutip pula perihal hukum perang sabil itu, tentu mampu menggerakkan rakyat daerah Aceh untuk bergabung menjadi anggota Barisan Hizbullah atau mendaftarkan diri pada kelompok-kelompok perjuangan yang lain, karena perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia itu hukumnya fardlu ‘ain, yaitu wajib bagi setiap pribadi muslim.
Dalam Semangat Merdeka terbitan Kamis, 25 Oktober 1945 halaman 2 menurunkan berita berjudul “Uang Republik Indonesia segera akan dikeluarkan”. Selain menjelaskan bahwa mata uang Republik Indonesia segera diedarkan, berita itu juga memberi tahu masyarakat tentang dilarangnya menggunakan mata uang NICA (Netherlands Indies Civil Administration) sebagai alat tukar dalam jual-beli. Berita peringatan yang berasal dari Wakil Presiden Mohamad Hatta itu dikirim melalui telegram (surat kawat) kepada Komite Nasional Kutaraja. Bagian penting lainnya dari isi berita itu ialah suatu ketentuan bahwa alat penukar yang sah saat itu adalah mata uang Javasche Bank dan uang Nippon (Jepang).
Berita tentang akan segera beredar mata uang sendiri negara Republik Indonesia memberi kesan bahwa Republik Indonesia benar-benar sanggup memerintah diri sendiri. Keyakinan itu bisa memperteguh kepercayaan rakyat dan menghilangkan sikap ragu-ragu sebagian rakyat yang belum percaya penuh bahwa bangsa Indonesia sanggup mengatur dan membiayai negara yang baru merdeka itu. Larangan menggunakan uang NICA dan anjuran penggunaan uang Javasche Bank serta mata uang Jepang, menunjukkan sikap tegas Pemerintah Republik Indonesia yang menolak kedatangan Belanda menjajah kembali Indonesia yang telah merdeka. Kepercayaan diri ini memperteguh jiwa juang rakyat Indonesia umumnya dan rakyat daerah Aceh khususnya untuk berkorban mempertahankan kemerdekaan yang sudah dicapai saat itu.
“Semangat Republik di dusun-dusun”, demikian judul berita suratkabar Semangat Merdeka edisi Sabtu, 21 Oktober 1945 yang memberitakan dua peristiwa rapat umum menyambut kemerdekaan di dua desa yaitu di Sibreh dan Seunelop Aceh Besar. Rapat umum yang dihadiri ribuan pendengar itu bertujuan mengupas serta menjelaskan soal-soal berkenaan kemerdekaan.
Mengawali acara dilakukan penaikan Sang Merah Putih diiringi oleh Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Para pembicara di Seoneulop secara berturut-turut adalah Said Usman dari Markas Daerah API (Angkatan Pemuda Indonesia), A. Hasjmy sebagai Ketua Pusat PRI (Pemuda Republik Indonesia) Daerah Aceh, Tgk.H. Hasballah Indrapuri, dan Said Abubakar. Para pembicara di Sibreh yang rapat itu berlangsung dua hari kemudian ialah Tgk. Ismail Jakoeb dari Badan Penerangan Pusat Komite Nasional Daerah Aceh, A. Hasjmy, Tgk.H. Hasballah Indrapuri, Tgk. Lamjabat, T. Waki Harun dan T. Oesman Kepala Mukim VII Baet.
Bagi pembaca Semangat Merdeka yang membaca berita tersebut di atas, akan menambah wawasan kemerdekaan mereka bahwa soal Indonesia merdeka bukanlah sekedar urusan kaum elit yang tinggal di kota-kota, tetapi merupakan masalah bersama segenap rakyat Indonesia di mana saja mereka berada, tak terkecuali bagi penduduk daerah Aceh yang menetap di desa-desa. Penaikan bendera Merah Putih yang diiringkan lagu kebangsaan Indonesia yang dinyanyikan penuh semangat tentu memberi sentuhan sangat mendalam bagi rakyat desa yang mengalir pada keyakinan, bahwa Indonesia benar-benar telah merdeka; maka mesti dipertahankan buat selama-lamanya. Turut sertanya para ulama pujaan rakyat dalam rapat umum menyokong kemerdekaan itu, jelas mencetuskan sikap makin percaya kalangan rakyat desa terhadap kewajiban mendukung kemerdekaan Indonesia. Pemuatan berita rapat umum dalam Semangat Merdeka, berarti makin memperluas gema dari rapat mengelu-elukan kemerdekaan Republik Indonesia.
Suratkabar Semangat Merdeka terbitan, Kemis, Tanggal 1 Nopember 1945 halaman 1 dengan kepala berita yang berbunyi “van Mook bermusyawarat dengan Presiden kita”. Berita itu sangat singkat, tetapi memiliki nilai amat penting; sehingga dijadikan berita utama pada penerbitan hari itu.
Isi lengkap berita itu sebagai berikut: “Radio San Fransisco 30-X. Permoesjawaratan jang telah dianggap resmi diantara Presiden Soekarno dengan van Mook telah ditentoekan dimoelai pada hari Selasa ini di Djakarta”.
Berita akan berlangsungnya perundingan antara Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno dengan Dr. A.J. van Mook sebagai pemimpin utama NICA menimbulkan penafsiran bahwa pihak Belanda telah mengakui Presiden Soekarno sebagai presiden resmi dari negara Indonesia yang berdaulat dan merdeka penuh. Pencantuman kata-kata “yang telah dianggap resmi” dalam berita itu, seolah-olah perundingan tersebut diadakan antara dua pemimpin resmi yang mewakili negara masing-masing, yakni Presiden Soekarno mewakili Republik Indonesia, sedangkan Dr. A.J. Van Mook sebagai wakil negara Belanda. Dipilihnya Jakarta yang merupakan ibukota negara Republik Indonesia menjadi tempat berlangsungnya permusyawaratan itu, mengandung pengakuan tidak langsung Belanda bahwa Indonesia memang betul-betul sebuah negara merdeka. Kesemua alasan di atas bisa menumbuhkan semangat percaya diri sebagai sebuah bangsa merdeka, baik bagi rakyat daerah Aceh khususnya atau bagi rakyat seluruh Indonesia pada umumnya. Semangat percaya diri ini, akan memperkuat rasa persatuan dan memperkokoh semangat berkorban bagi kepentingan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selanjutnya, suratkabar Semangat Merdeka terbitan Sabtu, 3 Nopember 1945 mengisi halaman depannya dengan berita berjudul “62 kapal terbang jatuh ke tangan tentera Indonesia”. Selain 62 kapal terbang, beberapa perlengkapan perang yang dapat dirampas tentera Indonesia dari tentera Jepang di Magelang, Jawa Tengah ialah 65 meriam besar, 80 buah meriam parie dan beribu-ribu granat tangan dan peluru (pelor).
Berita perampasan peralatan perang oleh tentera Indonesia dari tentera Jepang dengan hasil sangat besar itu, bisa menambah kepercayaan akan kemampuan tempur tentera Republik Indonesia yang kemerdekaannya belum sampai tiga bulan. Pemilikan 62 pesawat terbang dan sejumlah besar peralatan tempur lainnya, jelas merupakan modal yang sangat berarti dalam rangka mempertahankan kemerdekaan tanah air kita Republik Indonesia. Rakyat daerah Aceh yang tidak terlibat langsung pada saat perebutan senjata-senjata tentera Jepang itu sangat gembira membaca berita kemenangan pihak Indonesia yang dimuat Semangat Merdeka, serta menumbuhkan sifat keberanian berjuang menentang pasukan Belanda yang bermaksud menduduki daerah Aceh.
Berita “5 pesawat terbang Inggeris gugur di Surabaya” yang dimuat pada halaman 2 suratkabar Semangat Merdeka edisi Sabtu, 17 Nopember 1945 menyiramkan gelora semangat tempur merebut kemenangan bagi warga negara Indonesia yang mendengar berita tersebut. Kelima pesawat tempur Inggeris yang jatuh ditembak itu adalah sebagai balasan kekejaman tentera Inggeris membom kota Surabaya. Pasukan Indonesia tidak tinggal diam, meriam-meriam penangkis serangan udara menembak jatuh ke lima pesawat pembom itu, sehingga jatuh berkeping-keping. Dalam uraian lebih lanjut isi berita itu, juga menyebutkan pertempuran di Surabaya semakin menjadi-jadi. Pihak kebangsaan memiliki cukup senjata-senjata serba moderen, yang terdiri dari meriam-meriam besar, kecil, meriam-meriam kodok dan sebagainya.
Judul berita Semangat Merdeka “Tentera Keamanan Rakyat seluruh Indonesia diakui”, dimuat hari Selasa, 13 Nopember 1945 memberi kelegaan besar bagi bangsa Indonesia. Berita yang berasal dari Gubernur Sumatera Mr. Teuku M. Hasan yang diterima dari Wakil Presiden Dr. Mohd. Hatta menyebutkan pengakuan itu datangnya dari pemimpin tentera Sekutu di Jawa, Jenderal P. Christison.

2. Berita dari Luar Negeri.
Bangsa Jepang yang sangat ditakuti rakyat selama masa pendudukan Jepang di Indonesia, ternyata sama sekali tidak berkutik setelah menderita kalah dalam Perang Dunia ke II. Keperkasaan mereka lenyap, kekejaman pudar dan setelah kalah berprilaku sangat patuh kepada pemenang perang, yaitu pihak Sekutu.
Keadaan yang bertolak-belakang tersebut di atas tercermin dalam berita suratkabar Semangat Merdeka terbitan hari Selasa, 11 Desember 1945 halaman 1 yang berjudul “Penjahat-penjahat perang Jepang akan diperiksa di Hawai”. Selanjutnya berita itu menyebutkan ada 300 orang terdiri dari kalangan militer dan sipil Jepang dinyatakan sebagai tertuduh sebagai pelaku penyiksaan terhadap tawanan orang-orang Amerika selama masa perang. Selain itu terlibat pula beberapa pemimpin Jepang dituduh melakukan rapat-rapat rahasia untuk melancarkan serangan ke pelabuhan Mutiara; Pearl Habour serta pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan di sana memang sudah direncanakan sebelumnya. Jaksa penuntut dari Amerika Serikat I. Joseph. D menerangkan lagi bahwa bekas perdana menteri Jepang; Tozyo tidak akan diadili di Hawai, tetapi di suatu tempat yang belum diumumkan.
Bagi siapa saja yang pernah hidup di jaman penjajahan Belanda, masa pendudukan Jepang dan ketika bangsa Indonesia telah lepas dari derita penjajahan bangsa asing, melihat nasib kejatuhan Jepang mungkin akan membuat mereka mengingat kembali beberapa peristiwa penting. Sewaktu Belanda masih berkuasa, bangsa Indonesia umumnya menganggap dirinya lemah dan tidak pernah mampu mengusir penjajah. Setiap peperangan melawan Belanda, pihak yang selalu kalah adalah bangsa Indonesia.
Akan tetapi ketika orang Jepang menyerang Belanda di Indonesia, bangsa kulit putih itu pun menyerah kalah tanpa mampu memberi perlawanan yang berarti. Bahkan sebagian rakyat Indonesia sempat menyaksikan sendiri ketika tentera Jepang yang bertubuh pendek-pendek itu terpaksa melompat waktu mau menempeleng orang Belanda yang postur tubuhnya tinggi besar. Belanda yang didera tentera Jepang sedikit pun tidak berani melawan, padahal semasa berkuasa dulu orang Belanda sangat berani dan kejam terhadap orang-orang Indonesia. Meskipun peristiwa tak berdayanya Belanda berhadapan dengan Jepang baru beberapa tahun saja disaksikan sendiri, sekarang mereka baca pula dalam suratkabar Semangat Merdeka, Jepang pun mengalami penderitaan yang sama ketika bertekuk lutut di hadapan bangsa Amerika Serikat (Sekutu) yang menang perang. Berita ini bisa membangkitkan semangat perjuangan rakyat Indonesia, khususnya di Aceh; untuk membantu perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tersirat dalam berita tersebut, setiap bangsa yang memiliki kekuatan besar, besar kemungkinan akan dihormati oleh kawan dan lawan.
Nasib buruk yang menimpa bangsa Jepang terus bertambah, sejak negerinya dikalahkan Sekutu. “Paham shinto dihapuskan di Jepang,” salah satu judul pada halaman pertama Semangat Merdeka, terbitan Senin, 17 Desember 1945. Panglima besar tentera Amerika Serikat di Jepang; Jenderal Mac Arthur mengeluarkan perintah supaya ajaran Shintoisme dihapuskan di Jepang. Ajaran Shinto yang menghormati leluhur, memuja militer serta menghormati Kaisar dilarang diajarkan di sekolah-sekolah.
Dilarangnya ajaran Shinto oleh pemimpin bangsa Amerika yang sedang menduduki Jepang, menunjukkan bahwa pemerintahan bangsa asing terhadap suatu bangsa, lebih sering melakukan tindakan sewenang-wenang. Oleh sebab itu bangsa Indonesia perlu dijaga tetap merdeka.
Suratkabar Semangat Merdeka terbitan hari Selasa tanggal 27 Nopember 1945 memuat berita utamanya berjudul “Rusia Simpati Kepada Indonesia”. Berita yang berasal dari siaran radio Surakarta itu menyebutkan bahwa radio Moskow dalam siaran seksi bahasa Indonesia menyiarkan pada tanggal 15 Nopember 1945, bahwa Rusia menyatakan simpatinya terhadap perjuangan kebangsaan Indonesia dan berdoa semoga tercapai hendaknya segala maksud dan tujuan bangsa Indonesia seluruhnya.
Isi berita itu memang singkat, tetapi karena memiliki nilai cukup penting untuk menggugah rasa percaya diri bagi bangsa Indonesia yang sedang mempertahankan kemerdekaannya, maka pihak redaksi Semangat Merdeka menempatkan berita tersebut pada halaman pertama diurutan pertama pula. Pentingnya berita itu dari segi perjuangan kebangsaan Indonesia mengandung beberapa alasan. Pertama, radio Moskow menyiarkan sikap simpati itu dalam bahasa Indonesia, yakni bahasa resmi negara Republik Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia oleh radio kota Moskow sebagai sebuah seksi tersendiri bagi siaran luar negeri dari radio negara Rusia itu, boleh diartikan bahwa bangsa Rusia telah mengakui kemerdekaan Republik Indonesia secara tidak resmi. Sebuah pepatah menyebutkan bahwa bahasa menunjukkan bangsa, bahasa Indonesia menunjukkan bangsa Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaannya.
Alasan kedua, pengakuan simpati kepada perjuangan kemerdekaan Indonesia itu berasal dari negara Rusia yang keluar sebagai pemenang dalam Perang Dunia ke II. Dalam percaturan politik internasional Rusia memiliki kekuatan yang menentukan, antara lain karena punya kekuatan militer yang besar, persenjataan modern dan sanggup bersuara vokal dalam forum internasional. Buktinya, ketika Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dibentuk, Rusia terpilih sebagai salah satu negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Sebagai anggota tetap dewan Keamanan PBB, Rusia mempunyai hak veto dalam pemungutan suara pada lembaga PBB. Penggunaan hak veto bisa membatalkan resolusi-resolusi yang sedang dimusyawarahkan para anggota Dewan Keamanan PBB.
Ketiga, pernyataan simpati Rusia itu datangnya pada saat yang tepat, ketika bangsa Indonesia memang sedang sangat membutuhkan pengakuan luar negeri terhadap kemerdekaannya. Rasa simpati Rusia itu, punya nilai strategis penting dalam melawan Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia. Pernyataan simpati Rusia merupakan pengakuan tidak langsung atau belum resmi dari sebuah negara yang sedang menanjak menjadi salah satu negara super power saat itu. Setiap negara yang mempunyai pengaruh besar seperti Rusia mempunyai banyak negara sahabat atau negara-negara yang berada di bawah pengaruhnya. Bila sang induk telah bersimpati, biasanya cepat atau lambat negara-negara sekelompok itu juga akan mengikuti jejak induknya. Beralasan sekali bila dikatakan, bahwa berita simpati Rusia kepada perjuangan rakyat Indonesia yang dimuat Semangat Merdeka itu punya daya dukung yang besar bagi memantapkan niat atau ketetapan hati rakyat Indonesia di daerah Aceh untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Berita pemogokan mendukung Indonesia di Australia dimuat di halaman depan suratkabar Semangat Merdeka, Sabtu, 3 Nopember 1945 menarik penulis menganalisanya. Berita berjudul “Pemogokan besar di Australia” melaporkan tentang aksi pemogokan di lapangan terbang di Brisbane (Australia), sebagai bantahan terhadap tindakan Belanda yang masih berniat jahat kepada bangsa Indonesia. Diberitakan lebih lanjut, bahwa para peserta mogok tidak mau memuat atau memunggah barang-barang dari kapal terbang kepunyaan Belanda, karena mereka mengetahui, tentu barang-barang itu akan dipergunakan untuk menindas pergerakan kebangsaan Indonesia.
Berita pemogokan mendukung bangsa Indonesia di Australia tentu amat menarik. Kejadian itu menunjukkan persoalan Indonesia bukan hanya masalah bangsa Indonesia saja, tetapi sudah berkembang menjadi problema masyarakat dunia yang cinta damai dan mengakui hak asasi setiap bangsa untuk menentukan nasib mereka sendiri. Pemogokan mendukung kemerdekaan Indonesia di sebuah negeri seperti Australia yang berpenduduk kulit putih dan biasanya lebih cenderung menyokong Belanda atau sesama kulit putih (ras Eropa), termasuk peristiwa aneh. Keganjilan ini bisa dijadikan sebagai bukti, bahwa perjuangan rakyat Indonesia membela kemerdekaan bagi negaranya merupakan tindakan yang benar, sesuai dengan suara hati nurani umat manusia di mana saja mereka berada. Tindakan pemogokan para buruh lapangan terbang di Brisbane (Australia itu, selain merugikan Belanda dalam bentuk materi, hal yang lebih penting lagi adalah pengaruh psikologis yang dapat merangsang perjuangan rakyat Indonesia menentang Belanda.
Suratkabar New York Time yang terbit di Amerika Serikat ikut menyebarkan tentang kekuatan pertahananan bangsa Indonesia menentang Belanda. Berita suratkabar tersebut yang disiarkan kembali oleh radio Amerika dan seterusnya dimuat dalam Semangat Merdeka, Kemis, tanggal 20 Desember 1945 dengan judul “Benteng pertahanan Indonesia amat kuat”, mengandung nilai psikologis besar bagi memupuk rasa percaya pada kekuatan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang telah merdeka. Jika kekuatan pertahanan Indonesia tidak perlu diperhitungkan musuh (Belanda), jelas tidak mungkin masalah kuatnya pertahanan Indonesia mau dijadikan berita oleh sebuah suratkabar beroplah besar dan sangat terkenal di dunia, yaitu suratkabar New York Time. Berita itu turut disiar ulang oleh radio Amerika Serikat, langsung tersebarlah ke seluruh dunia, bahwa kekuatan pertahanan kita cukup kuat.

3. Pengumuman dan seruan
Selama perang kemerdekaan Republik Indonesia banyak dikeluarkan pengumuman (maklumat) dan seruan-seruan untuk menggalang kekuatan rakyat mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang hendak dijajah Belanda kembali. Pengumuman dan seruan itu berasal dari banyak pihak; seperti dari pemerintah, organisasi sipil, dan militer, bahkan dari seorang tokoh pejuang kemerdekaan serta tokoh luar negeri yang bersimpati kepada perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia. Banyak cara ditempuh agar pengumuman dan seruan itu bisa sampai kepada masyarakat seperti menempelkan di dinding toko-toko atau rumah, menulis di tembok, disiarkan lewat radio dan memuatkannya dalam suratkabar. Sehubungan tulisan ini hanya menyangkut suratkabar Semangat Merdeka, maka penulis hanya mengulas beberapa pengumuman atau seruan yang berkaitan dengan tujuan tulisan ini.
Suratkabar Semangat Merdeka, terbitan hari Selasa, tanggal 30 Oktober 1945 memuat maklumat (pengumuman) yang ditanda tangani Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Soekarno-Hatta. Maklumat yang dimuat di halaman depan Semangat Merdeka itu berjudul “Maklumat Presiden Republik”. Pengumuman ini ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia. Disebutkan dalam maklumat itu, bahwa pembangunan Negara Indonesia Merdeka yang dikehendaki segenap lapisan rakyat, waktu itu sedang dilaksanakan dengan seksama. Segala hal yang perlu untuk pembangunan Negara Republik Indonesia sedang diselenggarakan saat itu dan dijanjikan bahwa pembangunan itu akan selesai dalam waktu yang pendek. Oleh karena itu, maka Presiden dan Wakil Presiden, Soekarno – Hatta mengharapkan pada sekalian rakyat Indonesia dari segala lapisan masyarakat agar tetap tinggal tenteram, tenang, siap sedia dan memegang teguh disiplin.
Bagi rakyat Indonesia umumnya dan bagi rakyat daerah Aceh khususnya, pengumuman (maklumat) itu sangat penting, karena maklumat itu dikeluarkan oleh pemimpin tertinggi dari negara mereka yaitu Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Kedua tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarno dan Drs. Mohamad Hatta sejak sebelum menjadi Presiden – Wakil Presiden telah dikagumi serta diakui sebagai pemimpin yang teguh pendiriannya, penuh disiplin dan senantiasa berjuang memimpin pergerakan kebangsaan dengan tujuan menuntut kemerdekaan Indonesia dari penjajah bangsa asing. Oleh karena itu, maklumat yang berasal dari kedua tokoh pejuang kemerdekaan itu disambut hangat rakyat Indonesia. Apalagi saat itu Soekarno-Hatta telah menjadi presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Satu hal lain yang menarik penulis tentang maklumat yang dimuat Semangat Merdeka tanggal 30 Oktober 1945 ialah pengumuman tersebut dikeluarkan Soekarno Hatta di Jakarta pada tanggal 18 Agustus 2605 (1945-penulis), yaitu pada hari pertama Soekarno-Hatta dipilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ini berarti Maklumat itu telah pernah disiarkan kepada masyarakat baik melalui radio, suratkabar atau melalui selebaran-selebaran, terutama di Kota Jakarta sendiri dan kota-kota besar lainnya yang banyak memiliki saluran media massa seperti suratkabar dan radio. Boleh jadi mengingat arus informasi dari ibu kota negara Jakarta masih kurang lancar penyebarannya ke daerah-daerah, termasuk ke daerah Aceh; maka inisiatif redaksi suratkabar Semangat Merdeka menyiarkan kembali maklumat itu tanggal 30 Oktober 1945 merupakan tindakan sangat tepat. Apalagi mengingat Semangat Merdeka baru berdiri tanggal 18 Oktober 1945. Untuk ukuran masa itu pemuatan maklumat itu tidaklah jadi berita basi, apalagi isinya sangat penting dalam rangka mempersatukan rakyat Indonesia.
Berikut akan dikaji “Maklumat Residen Aceh No. 2” yang dimuat dalam Semangat Merdeka halaman 2 pada hari pemuatan Maklumat Presiden Republik tersebut di atas. Pengumuman Residen Aceh T. Nyak Arief yang mulai berlaku pada hari diumumkan, yakni tanggal 30 Oktober 1945 merupakan “blokade ekonomi” pemerintah Indonesia di daerah Aceh terhadap tentera Belanda dan NICA yang sedang menduduki Sabang, Pulau Weh yang dijadikan sentral kekuatan Belanda untuk menembus pertahanan rakyat Aceh di sepanjang pantai.
Dalam upaya melemahkan kekuatan musuh, Residen Aceh mengeluarkan peraturan untuk menghentikan keluar-masuk barang-barang dari daerah Aceh ke Sabang dan sebaliknya, terkecuali barang-barang yang akan digunakan untuk kepentingan Sekutu yang juga sedang berada di Sabang. Barang-barang yang dilarang dibawa keluar-masuk Sabang ialah bahan-bahan makanan, pakaian, senjata dan lain-lain yang bisa menunjang kekuatan Belanda.
Sehubungan dengan larangan itu, maka semua perahu dan berbagai alat pengangkut yang lain dilarang keras berlayar hilir-mudik dari daratan Tanah Aceh ke Sabang dan sebaliknya dari Sabang ke daratan Aceh. Orang-orang yang melanggar ketetapan itu dinyatakan akan dihukum berat serta barang-barang termasuk alat pengangkutnya akan dirampas. Kepada semua alat negara diperintahkan untuk menegakkan terlaksananya ketentuan tersebut.
Maklumat Residen Aceh No. 2 ini membuktikan pemerintahan Republik Indonesia di daerah Aceh sudah mampu menegakkan kepentingan negara sendiri. Berarti pula pemerintah Indonesia sudah berani menegaskan kepada negeri musuhnya, yaitu negara Belanda segala urusan yang berkepentingan untuk menegakkan kemerdekaannya walaupun hal itu bertentangan dengan kepentingan pihak Belanda sendiri. Berita ini memberi dukungan moril dan memperkuat kepercayaan rakyat kepada pemerintahnya.
Pernyataan sikap para ulama seluruh daerah Aceh tentang perang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, telah dimuat suratkabar Semangat Merdeka hari Kemis, 29 Nopember 1945. Atas nama ulama seluruh Aceh, empat orang ulama terkemuka masa itu, yakni Tgk. Haji Hasan Krueng Kale, Tgk. Haji Dja’far Sidik Lamjabat, Tgk. M. Daud Beureueh dan Tgk. Haji Ahmad Hasballah Indrapuri menegaskan, bahwa perang menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia adalah perjuangan suci yang disebut Perang Sabil.
Lebih lanjut, “Maklumat Ulama Seluruh Aceh” itu menjelaskan, bahwa Belanda adalah satu kerajaan yang kecil serta miskin. Belanda satu negeri yang kecil lebih kecil dari daerah Aceh dan telah hancur dalam Perang Dunia kedua. Diterangkan pula, bahwa segenap rakyat telah bersatu-padu dengan patuh berdiri di belakang maha pemimpin Ir. Soekarno untuk menunggu perintah dan kewajiban yang akan dijalankan. Pada bagian penutup maklumat itu mereka menghimbau rakyat supaya tunduklah dengan patuh akan segala perintah-perinah pemimpin kita untuk keselamatan Tanah Air, Agama dan bangsa. Pernyataan para ulama Aceh ini diketahui Residen Aceh T. Nyak Arief dan disetujui Ketua Komite Nasional Daerah Aceh Tuanku Mahmud.
Bagi rakyat daerah Aceh yang mayoritas beragama Islam; bahkan ada yang menyebutkan fanatik, pernyataan keempat ulama kharismatik itu bisa menggelorakan semangat jihad, karena para ulama itu telah memberi fatwa (keputusan hukum agama) bahwa perang kemerdekaan yang sedang dihadapi saat itu adalah Perang Sabil. Bagi yang terbunuh dalam Perang Sabil akan mendapat pahala syahid yang langsung dimasukkan ke Surga oleh Allah SWT tanpa rintangan apapun. Selain itu, penjelasan dalam maklumat itu yang menyebutkan negara Belanda suatu negeri kecil dan miskin, menambah dorongan bagi rakyat tidak merasa takut kepada Belanda.
Pengumuman Pemimpin Pusat Pemuda Republik Indonesia (PRI) nomor satu, dimuat Semangat Merdeka edisi Selasa, 23 Oktober 1945. Dalam pengumuman yang diberi nama “Panggilan Umum”, pengurus pusat PRI Daerah Aceh yang diketuai A.Hasjmy sebagai Ketua I dan Tuanku Mahmud selaku Sekretaris I, meminta kepada para pemuda berumur 18 tahun ke atas supaya mendaftar diri menjadi anggota Pemuda Republik Indonesia (PRI). Ditambahkan lagi, bahwa berusaha mengerahkan dan mempersatukan tenaga pemuda Indonesia guna menyokong Komite Nasional yang berdiri sebagai tulang-punggung Republik Indonesia. Di bagian penutup pengumuman itu disampaikan semboyan perjuangan yaitu: hidup Indonesia, bahagia Indonesia; merdeka.
Pengumuman Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang disiarkan kepada masyarakat melalui suratkabar, akan lebih cepat sampai ke sasaran yang ditujukan Pemimpin pusat PRI. Dalam hal ini suratkabar Semangat Merdeka berjasa dengan menghubungkan antara pengurus PRI dengan masyarakat luas. PRI adalah sebuah perkumpulan pemuda yang bercita-cita mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada tanggal 1 Nopember 1945, Semangat Merdeka mengumumkan aturan memakai lencana merah putih sebagai lambang setia kepada negara Republik Indonesia. Disebutkan aturan itu sebagai berikut: pertama, bagi putera-puteri yang berumur dibawah 18 tahun harus melekatkan lencana merah putih tersebut pada lengan sebelah kiri (atas). Kedua, bagi putera-puteri yang berumur 18 tahun ke atas memakainya di dada sebelah kiri, yaitu tepat di atas detakan jantung.
Pengumuman cara memakai lencana merah putih yang disiarkan Semangat Merdeka menjadikan pemakaian simbol bendera Indonesia itu seragam. Berhubung penyampaian informasi masa itu belum lancar, membuat praktek memakai lencana itu bisa berbeda-beda di antara satu tempat dengan tempat lainnya. Ketidak seragaman bisa berkesan perpecahan, sedangkan seragam menunjukkan bersatu, kokoh.
Selain menyiarkan pengumuman dan seruan-seruan, suratkabar Semangat Merdeka juga memasang berbagai iklan yang memberi sokongan kepada perjuangan membela kemerdekaan Indonesia. Walaupun iklan-iklan itu bertujuan menarik pembeli terhadap barang yang diiklankan, namun karena barang-barang itu memang dibuat untuk mendukung semangat kemerdekaan,- bukan sekedar urusan dagang,- maka lewat iklan pun suratkabar Semangat Merdeka berpartisipasi menegakkan kemerdekaan Indonesia.
Di antara iklan-iklan yang dimuat Semangat Merdeka (selanjutnya yang berhubungan iklan disingkat: SM) ialah iklan hikayat berjudul “Semangat Atjeh” karangan Abdulah Arif (SM, 23-10-1945). Kata pengantar iklan menyatakan bahwa hikayat ukuran saku itu disusun dalam syair Aceh yang indah bersemangat, menunjang negara Republik Indonesia dan menganjurkan anti penjajahan.
“Peutheun Meurdehka” adalah syair Aceh yang bersemangat dan menggelorakan jiwa pembacanya digubah oleh Ibnoe Abbas (SM, 23-10-1945). Iklan lainnya (SM, 8-11-’45) memberi tahu bahwa akan terbit buku “Susunan Indonesia Merdeka” oleh Tgk. Ismail Jakoeb. Buku tersebut membahas riwayat gerakan kemerdekaan Indonesia, siapa Bung Karno, Undang-undang Dasar, susunan kabinat, PRI dan lain-lain.
Semangat Merdeka, 13 Nopember 1945 mengiklankan barang di Toko Indonesia Baru, Kutaraja dengan bunyi: Sudah sedia, lencana merah putih menurut ukuran yang ditetapkan. Seterusnya (SM, 27-11-1945) memasang iklan “Kalender 1946 Negara Republik Indonesia”. Kalender ini dikeluarkan badan Penerangan Umum Negara Republik Indonesia (NRI). Semangat Merdeka, 1 Desember 1945 memasang dua iklan yang kedua-duanya bisa menimbulkan gairah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Iklan pertama ajakan berlangganan majalah “Rencong” yang terbit di Binjei dan tentang terbitnya buku baru Riwayat penghidupan dan Perjuangan Ir. Soekarno yang disusun M. Yunan Nasution.

4. Tajuk Rencana
Tajuk rencana merupakan suara suratkabar yang bersangkutan terhadap suatu masalah. Suratkabar Semangat Merdeka yang terbit sejak 18 Oktober 1945, baru memiliki kolom khusus tajuk rencana pada tanggal 17 Nopember 1945. Sebelumnya, tulisan-tulisan yang bersifat opini pernah pula dimuat, tetapi penulis karangan itu termasuk mereka di luar staf redaksi.
Tanggal 17 Nopember 1945, Semangat Merdeka memuat tajuk rencana berjudul “Tiga Bulan Indonesia Merdeka”. Bagian awal tajuk menjelaskan tentang tantangan yang sedang dihadapi Indonesia, sedangkan di bagian akhir memaparkan harapan-harapan yang bakal dicapai bangsa Indonesia.
Dijelaskan, dalam usia Republik Indonesia yang baru tiga bulan, hanya satu syarat yang belum dimiliki Republik Indonesia dari empat syarat penting bagi sebuah negara merdeka. Syarat dimaksud ialah pengakuan dari luar negeri. Ketiga syarat lain telah digenggam Indonesia, yaitu wilayah negara, rakyat negara dan pemerintah.
Untuk memperoleh pengakuan luar negeri, tajuk itu menyerukan agar cita-cita perjuangan bangsa jangan bergeser arahnya seperti semula. Pertama, melawan segala percobaan dari luar yang bermaksud menjajah Indonesia kembali. Kedua, perjuangan di lapangan internasional. Sifat perjuangan ini digerakkan secara teratur dan harmonis. Oleh karena itu tindakan liar jangan dibiarkan berlaku untuk mencapai maksud perjuangan. Setiap bertindak perlu mematuhi aturan-aturan yang dikeluarkan para pemimpin negara.
Tajuk rencana itu mencontohkan akibat kekejaman dan tindakan liar tentera Inggeris di Indonesia. Hampir seluruh dunia mencela tindakan-tindakan Inggeris yang di lakukan di Jawa, karena tindakan mereka melanggar tujuan sebenarnya pendaratan tentera Inggeris ke Indonesia. Presiden Soekarno yang bijaksana menghadapi suasana ini dengan tenang, tanpa melakukan suatu tindakan yang makin memperburuk kekacauan itu.
Semua yang terjadi di Indonesia, baik sikap Inggeris yang mengecewakan, maupun sikap Belanda; namun bagi kemerdekaan Indonesia ada gunanya. Teristimewa lagi karena peristiwa-peristiwa tersebut telah menyebabkan perhatian dunia internasional semakin lebih tajam, kritis dan bersimpati kepada Republik Indonesia. Kata tajuk rencana itu lagi, kita yakin buat masa seterusnya bangsa kita akan tetap dapat mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Di bagian penutup tajuk rencana yang ditulis Wakil Pemimpin Umum Semangat Merdeka, Amelz; media ini membangkitkan rasa optimis bagi bangsa Indonesia, dikatakan, telah tiga bulan kita tempuh Indonesia Merdeka dengan selamat. Dan kita akan menghadapi masa tiga bulan yang akan datang hingga seterusnya dengan penuh bahagia.
Tajuk rencana ini memberi pendidikan politik kepada rakyat agar bisa berprilaku sebagai suatu bangsa yang beradab dan dewasa. Sikap berhati-hati dalam bertindak bukan berarti pengecut, tetapi hendaklah semua usaha mencapai tujuan perlu dilakukan berpedoman ke pada aturan yang digariskan para pemimpin yang sudah matang memikirkan setiap tindakan yang akan dilaksanakan. Setiap tindakan liar dan gegabah akan merusak nama baik Republik Indonesia di mata dunia luar. Padahal simpati dan pengakuan luar negeri terhadap Indonesia akan memperlancar perjuangan menegakkan kemerdekaan serta kedaulatan Republik Indonesia.
Suratkabar Semangat Merdeka tanggal 21 Desember 1945 menurunkan tajuk rencana yang berjudul “Keputusan Majelis Islam Tinggi”. Muktamar diadakan di Bukit Tinggi. Hasil-hasil dari muktamar itu adalah terbentuknya tiga panitia, yaitu panitia fatwa dibawah pimpinan Syeh Ibrahim Moesa Parabek, Barisan Sabiloellah diketuai oleh Tgk. Abdul Wahab Seulimum dan politik diketuai oleh Abu Gaffar Djambek.
Panitia kedua yaitu Barisan Sabiloellah yang diketuai oleh Tgk. Abdul Wahab Seulimum, adalah mempunyai kedudukan dan kewajiban penting dalam masa mempertahankan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang tercinta ini. Penitia Sabil ini tentulah akan disambut oleh segenap kaum muslimin di daerah Aceh dengan mengokohkan tekadnya untuk berjuang melawan kafir dan hendak mati Syahid dalam perang suci itu.
Semangat perjuangan dalam perang sabil sekali-kali tidak pernah padam dalam setiap jiwa putra-putra perwira di tanah Rencong; karena riwayat perjuangan Mujahid Besar Tgk. Chik Ditiro, Muda Perkasa T. Panglima Polem, Panglima Perang Besar T. Umar dan berpuluh-puluh pahlawan yang telah tewas dalam membela kesucian Agama dan Tanah Airnya dahulu senantiasa menjadi pedoman pemuda-pemuda angkatan zaman.
Semangat perang sabil sangat melekat pada setiap masyarakat Aceh. Apalagi telah diketahui bahwa mati dalam peperangan membela tanah air adalah mati syahid. Orang yang mati syahid akan langsung masuk Surga. Hal ini akan mendorong rakyat Aceh untuk mempertahankan negerinya sampai titik darah terakhir.
A. Beberapa Kesimpulan
1. Suratkabar Semangat Merdeka diterbitkan atas inisiatif para pemuda dan tokoh pejuang angkatan 45. Semangat Merdeka pada pertama sekali dipergunakan oleh para pejuang angkatan ’45 untuk menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia kepada rakyat Aceh dan berita-berita menyerahnya bangsa Jepang kepada Sekutu.
2. Suratkabar Semangat Merdeka merupakan media komunikasi yang dapat menghubungkan antara seseorang dengan orang lain, antara pemerintah daerah dengan rakyat yang di bawah pemerintahannya, antara pemerintah daerah dengan pemerintahan pusat dan antara pemerintah pusat dengan pemerintah negara lain.
3. Suratkabar Semangat Merdeka berperan untuk membangkitkan Semangat Keperwiraan serta mendorong semangat perjuangan di medan Pertempuran, baik bagi pejuang yang berada di daerah Aceh maupun yang berjuang di daerah lain.
4. Melalui Suratkabar Semangat Merdeka dapat ditangkis dan dipatahkan propaganda palsu Belanda yang mereka siarkan melalui suratkabar dan radio.
5. Suratkabar Semangat Merdeka berperan menyiarkan semua instruksi Kepala Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Mr. Sjafruddin Prawiranegara terutama kepada perwakilan Indonesia Dr. Sudarsono di India dan L.N. Palar di PBB.
6. Melalui Suratkabar Semangat Merdeka dapat diberitahukan kepada masyarakat untuk memberikan bantuan kepada para pejuang. Berita-berita pengumpulan dana untuk membeli pesawat udara “Seulawah”, berita-berita ekonomi lainnya juga dimuat dalam Semangat Merdeka semasa perang kemerdekaan.
7. Suratkabar Semangat Merdeka berperan menyiarkan amanat-amanat pemerintah maupun pendapat-pendapat para tokoh pejuang, baik yang ditujukan ke dalam negeri maupun ke luar negeri.
8. Suratkabar Semangat Merdeka berperan menyiarkan keadaan sosial rakyat Indonesia yang senasib sependeritaan dan sepenanggungan. Suratkabar ini juga menyiarkan hasil-hasil karya para pejuang Aceh, baik yang berbentuk hikayat, syair, dan sejenisnya untuk membangkitkan semangat juang para patriot Aceh.
9. Dalam mengisi kemerdekaan, suratkabar Semangat Merdeka ialah mengajak dan membimbing masyarakat Aceh khususnya serta bangsa Indonesia umumnya untuk turut aktif dalam segenap bidang kehidupan demi tercapai kemerdekaan sepenuhnya bagi bangsa Indonesia.

B. Saran-saran
1. Disarankan kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) daerah Aceh agar menyusun sebuah buku tentang sejarah persuratkabaran di Aceh. Penerbitan buku tersebut sangat penting untuk menggugah minat mengarang (tulis-menulis) bagi generasi muda daerah Aceh.
2. Dalam upaya mengikis anggapan orang luar bahwa daerah Aceh merupakan daerah angker dan tertutup, maka usaha menyebarluaskan informasi positif tentang Aceh perlu terus-menerus dilakukan secara terencana.
3. Perlu dibangun sebuah tugu peringatan untuk mengenang peran suratkabar Semangat Merdeka dalam masa perang kemerdekaan di Aceh.

—-000—-
(Sumber: 1. SEMANGAT MERDEKA, A. Hasjmy 70 Tahun Menempuh Jalan Pergolakan & Perjuangan Kemerdekaan, “Bulan Bintang” Jakarta, 1985. 2. Koleksi fotokopy arsip koran Semangat Merdeka, 40 hari terbit).