Minat Baca Huruf Arab-Jawoe, Bangkit Kembali di Aceh

Minat  Baca Huruf Arab-Jawoe,

Bangkit Kembali di Aceh

Oleh : T.A. Sakti dan Siti Hajar

Aceh merupakan salah satu gudang naskah(manuskrip) nusantara. Berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti agama, hukum adat, sejarah, kesehatan,astronomi,  sosial-budaya, politik dan ekonomi tercakup dalam naskah itu. Sebelum diperkenalkan dengan huruf Latin oleh penjajah Belanda, huruf Arab-Melayu atau Jawi alias harah Jawoe merupakan satu-satunya media  pencari ilmu bagi orang Aceh.Tetapi akibat perkembangan zaman, yaitu dengan tingginya penggunaan huruf Latin, membuat huruf Arab- Melayu mulai ditinggalkan. Peralihan penggunaan huruf Jawi ke aksara Latin membuat masyarakat Aceh pada umumnya tidak mampu lagi membaca hikayat, nazam dan tambeh.  Padahal tradisi membaca ketiga jenis naskah itu merupakan  ‘santapan’ sehari-hari masyarakat Aceh tempo dulu sepanjang tahun.

Suatu sore  di bulan Februari 2013 Bapak Drs. Teguh Santoso, S.S., M. Hum sebagai Kepala Balai Bahasa Banda Aceh menghubungi saya (T.A Sakti) untuk tukar pendapat terkait dengan ide beliau yang berencana mengadakan lomba naskah lama Aceh.  Saya sangat mendukung gagasan itu, namun akibat pengalaman saya yang pernah menjadi juri pada kegiatan lomba membaca naskah lama yang diadakan oleh Museum Aceh, Banda Aceh tahun 2003, saya menjadi sedikit prihatin dan sedih. Sebab, lomba di Museum Aceh itu hanya diikuti oleh 6 (enam) orang peserta lomba dan seluruh pesertanya perempuan. Sementara yang laki-laki tidak seorang pun ikut mendaftar. Mendengar jawaban saya, Bapak Teguh tidak menyerah, sekaligus mencari solusinya. Akhirnya, acara lomba membaca naskah lama Aceh pertama di Balai Bahasa Banda Aceh, berlangsung dengan meriah.

Pada acara lomba membaca naskah lama Aceh pertama yang berlangsung tahun 2013, saya (T.A Sakti), Medya Hus, dan Zainun S.Ag diundang sebagai juri dalam perlombaan itu. Acara lomba diikuti oleh 46 peserta dari berbagai kalangan; mulai dari masyarakat umum, mahasiswa, dan santri dayah yang datang dari berbagai kampung di Banda Aceh dan Aceh besar. Banyaknya peserta melebihi perkiraan semula, membuat saya merasa kaget, seakan tidak percaya. Setelah melihat antusias peserta untuk mengikuti perlombaan ini, membuat saya amat bahagia. Sekarang, ternyata minat baca masyarakat Aceh terhadap naskah lama mulai bangkit kembali. Dalam upaya mendukung pengembangan dan pelestarian naskah lama Aceh, sejak tahun 1992 hingga sekarang; saya telah melakukan alih aksara 35 judul naskah lama Aceh. Hasil transliterasinya sekitar 7000(tujuh ribu) halaman. Sebagian teramat kecil dari hasil alihaksara itu telah diterbitkan.

Dalam perlombaan yang diadakan tahun 2013, para peserta diwajibkan membaca cuplikan Hikayat Akhbarul Karim dan Hikayat Abu Nawah. Setiap peserta diberi waktu 10 menit untuk membacakan salah satu dari hikayat itu.  Acara lomba selesai dengan sukses. Para pemenang lomba yaitu; Tasnim dari Sibreh, Mufazal dari Gue Gajah, Sahimi dari Klieng Meuria, dan Ahmad Fauzi dari Gamp. Sagoe Baru. Kesuksesan lomba baca naskah lama tahun 2013, merupakan tonggak pertama  dalam membangkitkan minat baca masyarakat Aceh terhadap naskah Arab-Melayu alias Jawoe. Upaya melestarikan warisan budaya leluhur ini  mencapai sukses nyaris sempurna.

Tahun 2014 Balai Bahasa Banda Aceh kembali menggelar lomba membaca naskah lama untuk kedua kalinya. Perlombaan ini diikuti oleh 50 orang peserta dari berbagai kalangan yang berasal dari Banda Aceh dan Aceh Besar. Saya (T.A Sakti), Medya Hus, dan Lukman kembali dipercayakan untuk menjadi juri dalam perlombaan tersebut.  Adapun naskah yang telah dipersiapkan oleh panitia untuk diperlombakan, yaitu Hikayat Abu Nawah dan Nazam Teungku di Cucum.  Pelaksanaan lomba pada tahun kedua ini lebih meriah dan lebih sukses dari tahun sebelumnya.

Kesuksesan kegiatan lomba pertama dan kedua, memberi angin segar bagi naskah Aceh untuk kembali diminati masyarakat. Balai Bahasa Banda Aceh yang telah menjadi Balai Bahasa Provinsi Aceh menjadikan kegiatan lomba baca naskah lama  Aceh sebagai salah satu agenda rutin tahunan.  Bapak Murhaban, S.Ag., M.A. sebagai koordinator kegiatan lomba membaca naskah lama Aceh tahun 2015 menuturkan bahwa, lomba baca naskah Aceh dilaksanakan selama dua hari,  yakni hari Senin dan Selasa tanggal 8 – 9 Juni 2015. Pada hari pertama acara berlangsung dari pagi sampai sore hari, sedangkan hari kedua acara hanya sampai siang hari. Kegiatan lomba tahun 2015 berbeda dari pelaksanaan kegiatan lomba tahun sebelumnya. Pada tahun lalu, untuk lomba yang bersifat kedaerahan hanya lomba membaca naskah lama, sedangkan pada tahun ketiga ini, ada cabang perlombaan lain yaitu;  lomba Hiem yang telah diselenggarakan pada tanggal 6 dan 7 Juni 2015 dan lomba membaca naskah lama Aceh.

Bapak Murhaban lebih lanjut menuturkan bahwa, “lomba baca naskah lama Aceh diikuti oleh 50 peserta, dari berbagai kalangan, baik masyarakat umum, mahasiswa, siswa tsanawiyah dan dayah. Para peserta berasal dari daerah Banda Aceh dan Aceh Besar. Kegiatan ini masih langka dan berskala kecil, makanya bebas diikuti oleh setiap kalangan dan tidak dibatasi umur. Balai Bahasa menjadikan kegiatan ini agenda rutin karena naskah sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Acara ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk kembali cinta naskah dan mengambil manfaat dari isi naskah tersebut”. “Saya prihatin melihat kondisi naskah Aceh yang masih sangat kurang minat masyarakat untuk kembali membuka naskah-naskah tersebut, sedangkan ditempat lain minat masyarakat sudah sangat tinggi, sehingga kegiatan ini dijadikan sebagai pancingan agar masyarakat kembali mau membuka naskah lama”, ungkap Murhaban lagi. Bahan naskah yang diperlomba tahun ini juga dua naskah, yaitu cuplikan Nazam Teungku(Tgk) Di Cucum dan Hikayat Abu Nawah. Cuplikan Nazam Teungku Di Cucum membicarakan tentang perkembangan “zikirullah” yang akan semakin semarak di Aceh pada akhir zaman. Cuplikan Hikayat Abu Nawah mengisahkan keberangkatan Abu Nawah bersama para menteri memancing ikan bersisik merah ke laut lepas. Sementara Dewan Juri adalah T.A. Sakti, Zainun, S.Ag dan Rahmat, S.Ag.,M.Hum

Balai Bahasa Provinsi Aceh berencana, jika kegiatan lomba membaca naskah lama kembali dilaksanakan tahun depan, maka akan dibuat dengan format yang berbeda. Mutu acara akan ditingkatkan. Jika selama ini; yang sudah tiga tahun berjalan, pada saat mendaftar peserta diberikan pilihan salah satu naskah yang akan dibaca. Untuk  kedepan tantangan akan lebih besar. Direncanakan peserta akan diberikan beberapa naskah, dan ketika tampil di pentas, maka panitia yang akan menentukan naskah mana yang harus dibacakan. Dengan demikian akan memunculkan sosok-sosok yang memang sangat paham dengan aksara Arab-Melayu/Jawi atau Jawoe.

Beragam tanggapan para pesarta terkait keikutsertaan mereka dalam lomba ini. M. Husen (55) pembaca naskah Teungku di Cucum 1 (satu) menjelaskan bahwa; ia ikut lomba ini karena merasa prihatin dengan bahasa Aceh saat ini. Generasi sekarang mulai meninggal bahasa sendiri, yaitu bahasa Aceh dengan cara enggan menggunakan bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bertanya dengan bahasa Aceh, maka dia tetap menjawab dengan bahasa Indonesia, walaupun dia sangat mengerti  bahasa Aceh. Saat ini bahasa Aceh banyak dicampur dengan bahasa nasional, seperti saat menyebutkan “camca”, anak-anak tidak lagi menyebut sesuai aslinya, tapi lebih mengenal kata sendok sebagai pengganti camca. Misalnya, dalam kehidupan sehari-hari untuk meminta camca maka ia menyebutkan “ tolong Mak cok sendok siat!”. Diharapkan dengan perlombaan ini, masyarakat tidak meninggalkan identitas diri dan tidak mencampur adukkan bahasa Aceh sebagai identitas diri dengan bahasa nasional dan lainnya. Acara ini diharapkan dapat diikuti oleh setiap wilayah di Aceh untuk meningkatkan khazanah budaya Aceh. Bahasa Aceh merupakan salah satu bahasa terkaya di dunia dan semoga acara ini terus dapat diselenggarakan.

Peserta lain, Muhammad Nur dari Tibang yang membacakan naskah Teungku Di Cucum 2(dua) menuturkan bahwa, ketika kecil sering bergaul dengan orang tua yang gemar membaca hikayat, dan saat itu senang belajar membaca hikayat karena isinya sangat bagus, mulai dari nasehat dan petuah ulama. Harapannya, semoga setiap tahun dapat dilaksanakan  kegiatan lomba ini.

Berdasarkan hasil pantauan terhadap lomba membaca naskah lama Aceh yang sudah berlangsung tiga kali dalam masa tiga tahun, ternyata para peserta lomba lebih banyak memilih membaca naskah yang berunsur agama, dibandingkan dengan naskah cerita. Pada lomba tahun 2013, mayoritas peserta membaca naskah Hikayat Akhbarul Karim, yang mengandung ajaran Islam tentang kehidupan sehari-hari. Pada tahun 2014 dan 2015, kebanyakan peserta memilih membaca naskah Nazam Tgk. Di Cucum, yang berisi “ilmu batin” membersihkan hati. Dalam acara lomba tahun ini, dari jumlah 50 peserta, hanya satu orang saja yang melantunkan Hikayat Abu Nawah.

Kegiatan lomba ditutup dengan pembagian hadiah kepada para pemenang lomba. Mereka yang terpilih sebagai juara 1 sampai dengan 6 yaitu; Jamaluddin dari Mureu Baro, Sakdiah dari Jeulingke, Qudusisara dari Rukoh, M. Amiruddin dari Lam Beusoe, M. Khaled dari Kajhu, dan Husni Marzan dari Lampineung. Acara diakhiri dengan foto bersama antara para pemenang lomba dengan panitia, serta dewan juri. Sebagai bingkisan dan kenang-kenangan kegiatan lomba membaca naskah lama Aceh, kepada seluruh peserta dibagikan sertifikat dan kaos warna silver yang bertuliskan “Balai Bahasa Provinsi Aceh, Lomba Membaca Naskah Lama Tahun 2015”.

 

 

***Artikel ini dengan sedikit penyesuaian telah dimuat dalam “opini Serambi” 30 Juni 2015,T.A. Sakti

#Catatan kemudian: Selama bertahun-tahun, hampir setiap bulan Ramadhan kegiatan saya adalah menyalin hikayat dari huruf Jawi/Jawoe ke aksara Latin. Ketika sampai pada hari ke 25 Ramadhan, saya selalu menulis cacatan mengenai Ulang Tahun musibah di jalan raya Solo-Yogyakarta. Saya berbuat demikian, karena musibah lalin itu memang terjadi pada tanggal 25 Ramadhan 1405 H/15 Juni 1985 M di sekitar Kalasan, Klaten-Yogyakarta.  Namun pada Ultah ke- 31 pada tanggal 25 Ramadhan 1436 H tahun ini catatan demikian tidak dapat saya lakukan, karena saya tidak mengerjakan alih aksara hikayat Aceh. Sebagai pengganti “catatan perayaan Ultah” itu, saya telah fotokopy lebih 31 paket(baik yang huruf Jawi dan alih aksaranya) cuplikan Nazam Teungku Di Cucum mengenai Zikirullah di Aceh pada akhir zaman. Kesemua paket hadiah itu telah saya sampaikan kepada berbagai pihak di Aceh, yang saya anggap paham tentang makna nazam Aceh itu.

Bale Tambeh, 2 Uroe Raya 1436/2 Syawal 1436 H/18 Juli 2015 M, pukul 18.04 wib.

Iklan

Satu pemikiran pada “Minat Baca Huruf Arab-Jawoe, Bangkit Kembali di Aceh

  1. terima kasih. senang saya dg tulisan kecil namun sangat bermangfaat. mudah mudahan suatu hari bole jadi catatan sy untuk divisualkan jika saya sudah mampu. terimeng genaseh. saleum dari perantaun kota damansara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s