Ayo, Menuliskan Aceh di Internet – VI

Ketika Enam Tahun Menjadi Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2015

Ayo, menuliskan Aceh di Internet – VI

Selamat berpuasa, semoga ibadah kita di Ramadhan mulia ini diridhai Allah Swt, sehingga kita mendapat ampunan dan rahmat yang berlipat ganda, Amin!.

Tanggal 15 Juni 2015 jam 22.35 sudah 266.600 lebih  kunjungan pada  blog Bek Tuwo Budaya. Melihat jumlah penikmat  selama enam tahun hanya sebanyak itu, memang tidak menggembirakan; amat sedikit!.   Namun, rasa syukur yang dalam tetap bersemadi  di hati saya, karena blog ini telah sanggup melintasi beragam tantangan selama enam tahun. Dengan semakin berkurangnya tulisan-tulisan saya  sendiri yang dapat diposting,  maka semakin berganda-ganda pula  “rasa bosan dan sia-sia” datang menyerang. Alhamdulillah, semua beban batin itu masih mampu saya kikis dari batin saya yang dirasukinya. Sebab, saya masih yakin bahwa setiap artikel yang  saya posting pasti ada manfaat bagi sebagian  pembaca. Memberi faedah kepada orang lain, tentu Allah Swt akan menganugerahkan rahmat kepada sang penulis dan pelaksana lainnya.

Satu hal yang paling menyenangkan, bahwa pengetikan bahan bacaan untuk diposting tidak perlu lagi saya bawa ke Rental seperti tahun-tahun sebelumnya. Sekarang, semua kebutuhan itu telah ditangani oleh anggota keluarga secara gotong-royong. Dengan bermodalkan sebuah komputer pribadi  dan tiga Laptop milik putri-putra saya, maka semua ‘order ketikan’ dapat berlangsung lancar dalam setahun ini. Hanya saja, berhubung kost pengetikan di rumah ‘lebih mahal’, maka artikel yang diposting dalam blog dalam masa sebulan dicukupkan satu judul saja, atau kadang-kadang dua.

Walaupun telah bergaul  sampai enam tahun, tetapi saya belum mengenal betul dengan perangkat internet ini. Selain belum paham seluk-beluknya, saya juga masih dibisikkan  rasa kurang percaya terhadap keakuratannya. Sampai kini, belum ada ahli yang dapat saya tanyai mengenai keraguan ini. Satu contoh: terhadap kunjungan blog Bek Tuwo Budaya tanggal 15 Juni 2025. Pada pukul 22.35 hari Senin/malam Selasa, jumlah kunjungan per-negara sebagai berikut:  62 Indonesia, 20 Amerika Serikat,  15 Malaysia, 11 Uni Eropa, 2 Singapura, 1 Thailand, 1 Inggris. Saya belum yakin kesahihannya, mengapa  pengunjung dari negara Amerika Serikat lebih banyak dibandingkan dengan pengunjung dari Malaysia. Mengapa pengunjung dari Uni Eropa bisa lebih banyak daripada pengunjung dari Singapura, Thailand; padahal dari satu negara Eropa, yaitu Inggris hanya 1 pengunjung saja. Kemudian, besok jam 7.00 pagi tanggal 16 Juni 2015 jumlah pengunjung per-negara menjadi: 87 Indonesia, 33 Amerika Serikat, 15 Malaysia, 14 Uni Eropa, 2 Singapura, 1 Thailand, dan Inggris tetap 1. Dalam keadaan ini, saya masih tetap bertanya-tanya, mengapa lagi-lagi Amerika Serikat dan Uni Eropa yang banyak bertambah dibandingkan negara-negara tetangga kita!?. Apakah  semakin jauh merantau, orang-orang semakin rindu kepada tanah airnya?. Atau karena bangsa Amerika Serikat dan Eropa adalah orang-orang yang amat doyan kepada informasi?

Kemusykilan lain  alias  problema blog Tambeh saat ini, yaitu kembalinya penyakit lama yang menghisap semangat saya untuk terus mengasuh blog Tambeh. Pada awal  keaktifannya, isi blog ini banyak dicopy-paste oleh pemilik-pemilik blog lain yang curang. Banyak tulisan-tulisan saya yang diambil untuk dipampang ke dalam blog mereka. Sebagian plagiator ini sampai-sampai menghapuskan nama saya, lalu mengganti  dengan namanya sendiri. Namun setelah berkali-kali saya “tunjuk hidungnya” dalam setiap sambutan ulang tahun blog Tambeh ini, mereka pun satu-persatu mengakui kesalahannya dengan menghapuskan karangan-karangan saya dalam daftar isi blog-blog tersebut. Gejala itu sudah bangkit lagi dalam setahun ini!. Beberapa copy-paste terhadap tulisan saya terlihat jelas.  Beberapa waktu ke depan, saat  saya melakukan edit terakhir terhadap sambutan Ulang Tahun ini, semua kecurangan dan penculikan karya saya akan ditampilkan satu-persatu!.

Dalam  kegairahan  Islam di Aceh dewasa ini, ada gejala menarik yang berkembang dalam dua tahun terakhir. Fenomena itu adalah bangkitnya ‘amalan  Zikir” yang menyentuh hampir semua kalangan masyarakat Aceh.  Hampir lima tahun lalu, pada  setiap maghrib dan subuh, dari kejauhan sayub-sayub terdengar gema zikir dari suatu tempat yang jauh di sekitar Banda Aceh. Saat sekarang, hampir setiap pekan kita dapat membaca-mendengar berita-berita tentang kegiatan berzikir dalam media-massa Aceh. Acara zikirullah itu diikuti ribuan orang. Iklan berzikir pun sering terpampang di halaman pertama Harian Serambi Indonesia, serta baliho dan poster terus berkibar di beberapa sudut kota Banda Aceh. Tempat pelaksanaan berzikir itu sudah berlangsung di beragam lingkungan, seperti di komplek  Makam Syiah Kuala,di lapangan sekitar Makam Ulama dan Sultan Aceh seperti Makam Sultan Iskandar Muda,  Mesjid Raya Baiturrahman, di berbagai ibukota kabupaten di Aceh, di berbagai komunitas, di kampus-kampus, di Kapolda Aceh dan lain-lain.

Memang ada kalangan  yang memandang ‘kecil’ terhadap geliat dakwah di kalangan  masyarakat  umum ini, namun dalam kesempatan menyambut Ulang Tahun ke enam blog Bek Tuwo Budaya  kali ini,  saya  menampilkan bagaimana tanggapan salah seorang ulama tempo dulu terhadap geliat agama  ini. Beliau bernama Syekh Abdussamad  atau  Teungku Di Cucum. Kubur beliau terdapat di gampong Cucum,  – antara Keude Tungkop dan Keude Lam Ateuk, Aceh Besar.Ulama yang diperkirakan hidup di awal Perang Aceh-Belanda ini,  masih meninggalkan  warisan karya bermutu hingga  sekarang,  antara lain  Akhbarul Na’im, Tambeh Tujuh Blaih dan “Tambeh Gohna Nan”.  Tambeh Gohna Nan  adalah judul yang saya lakapkan, karena naskah ini belum diberikan nama oleh Teungku Di Cucum. Setelah membaca cuplikan kitab  itu, terkesan kepada kita seolah-olah beliau sudah ‘meramalkan’ apa yang sedang berlangsung di Aceh hari ini, yakni  sekarang  gema zikir semakin sering dan nyaring terdengar di Bumi Serambi Mekkah!.

Dalam  mengikuti  arus zaman, saya telah memberikan cuplikan naskah Tambeh/Nazam Teungku Di Cucum  kepada Panitia Lomba Membaca Naskah Lama Balai Bahasa Provinsi Aceh. Lomba yang berlangsung  tanggal 8 – 9 Juni 2015 itu,  diikuti oleh 50(lima puluh) peserta dari Banda Aceh dan Aceh Besar. Saya yang menjadi salah seorang juri dalam acara  langka itu,  amat menikmati makna dan kemerduan nazam Aceh yang dibacakan  oleh peserta  beragam umur , laki-laki dan perempuan. Sebagian besar peserta membaca  naskah huruf Arab Jawoe  dari cuplikan Tambeh Gohna Nan seri  I, sedang seri II sambungannya,  hanya dibaca beberapa orang saja. Sementara  naskah Jawi/Jawoe  cuplikan  Hikayat Abu Nawah;   mengenai  Abunawah yang ditugaskan Sultan Harunur Rasyid mencari ikan bersisik merah di laut; hanya dibaca oleh satu orang peserta saja. Acara Lomba Membaca Naskah Lama Aceh di Balai Bahasa  Banda Aceh/Provinsi Aceh, merupakan kegiatan tahun ketiga secara  berturut-turut. Salam hormat dan tahniah yang setinggi-tingginya patut kita persembahkan kepada Kepala Balai Bahasa Propinsi Aceh, Bapak Teguh Santoso, S.S., M.Hum yang telah menggagas dan melaksanakan  acara teramat langka itu. Beliau yang berasal dari Yogyakarta  telah mengukir jasa bagi bahasa, sastra dan kebudayaan Aceh. Berdasarkan pengamatan tiga kali berlangsungnya  acara lomba itu, nampaknya  minat membaca huruf Arab Jawoe sudah bangkit kembali di Aceh. Kiranya,  berbagai pihak  terutama  lembaga yang terkait agama Islam dan kebudayaan Aceh  perlu ‘menampung’  gejolak manis ini!.

Berikut cuplikan  “Tambeh Gohna Nan”  tentang ibadat ragam kaum  sufi tersebut:

Teungku Di Cucum I

Lailahaillallah, kalimah thaiyibah jeuet keu payong

Neu peulara bandum kamoe, meunan jinoe neubri untong

Lailahillallah, kalimah thaiyibah kuta nyang raya

Soe nyang tem duek lam kuta nyan, seulamat iman hate lam dada

Peubuet suroh peujeuoh teugah, hamba Allah nyang sijahtra

Nyoe nyang laen lon amanat, beuta ingat E aneuknda

Pat-pat na meugah hai puteh lumat, bungong hekeumat  peukayan dada

Yoh goh prang Aceh dilee saboh hat, bungong hekeumat meugah muliya

Aceh pih reule ‘ohlheueh kaphe mat,  bungong hekeumat leunyap pat nyang na

Le syahid Teungku neuwoe bak rahmat, bungong hekeumat bak gobnyan punca

Sangkira Teungku neubri seulamat, bungong hekeumat rata rinyeun na

Soe teumeung sunteng bungong hekeumat,  geuliyueng mangat deungo nyang beuna

Soe teumeung sunteng bungong hekeumat, hate jih thaat barangjan masa

Soe teumeung sunteng bungong hekeumat, nyawong jih mangat watee keuluwa

Soe teumeung sunteng bungong hekeumat, teupuka kasyaf leumah peue nyang na

Beudoh jak mita bungong hekeumat, supaya mangat hate lam dada

Nyang le bungong nyan dinanggroe luwah, Makkah Madinah sinan phon mula

Dinanggroe Irak ngon nannggroe Kufah, rame sileupah keubon peunula

Meunurot dali neubrile Allah, keubon nyang luwah ‘oh akhe masa

Maken that akhe maken meutamah,  keubon nyan teuhah rata teumpat na

Lam nanggroe tanyoe hanale leumah, lawet ka leupah Teungku neugisa

Teutapi dudoe leubeh lom luwah, deungon afuwah Syiyah Kuala

Kana soe puwoe dinanggroe Makkah, bungong peuet ulah hudep peunula

Bijeh meutabu neubrile Allah,  neujok ‘inayah keu ureueng puga

Qudrat Iradat kuasa Allah, soe-soe meutuwah jiteumei mita

Ji teumei pangkee bungong lhee ulah,  soe nyang na teuhah hate lam dada

Bungong lapan on mantong that mudah, bungong peuet ulah tapreh-preh teuka

Bungong lapan on meususon ulah, harah dua blaih aleh lam lam ha

Bungong kalimah ulah teudong-dong, takalon mantong meuteumeung pahla

Ulah bungong  nyan  nacit nyang meurok, takalon beutok jeuet peungeuh dada

Bungong bak ulah leumah lapan on, tan meu-ek meutron beurangjan masa

Soe teumeung sunteng bungong tojoh on, Tuhan peuampon sigala dausa

Soe teumeung sunteng bungong tojoh on,  langet meususon pinto geubuka

Soe teumeung sunteng bungong tojoh on,  roh jih lam ayon watee ‘oh geuba

Soe teumeung sunteng bungong tojoh on. Jiduek yub payong Blang Padang Masya

Lailahaillah, beumeutuwah aneuk hamba

Beujitem seubut Kalimah Lailahaillallah. Bungong nyan sah keuyum Syuruga

Bareh lapan nyankeuh bungong, pham beukeunong cut ngon raya

Bareh lapan geukheun bungong, gunci ngon tamong pinto Syuruga

Watee takheun deungon lidah, Lailahaillallah bak jipoh ha

Bareh lapan tinggai tujoh, sabab karoh ka jipoh ha

nyankeuh lon kheun bungong tujoh on, bek meuron karon watee tabaca

lailahaillallah, pasoe lam babah kalimah zike

bungong lapan on mantong na mudah, bungong peuet ulah nyang that meuseuke

bungong lapan on Thariqat Hadad, baca beule that iep watee sabe

lailahaillallah, Kalimah Thaiyibah kuta nyang tinggi

soe le baca Kalimah Thaiyibah, urat darah ji meunari

hate didalam seunang ka teuhah, ingat keu Allah Nyang Maha Suci

Teungku Di Cucum II

Lailahaillallah, Kalimah Thaiyibah kuta nyang tinggi

Bungong lapan on kalheueh lon peugah, bungong peuet ulah deungo lon kheunkri

Wahe aneuk nyang na tuwah, tadeungo gah pat-pat teurjali

Pat-pat nyang na teuma meugah, Zikerullah lateh rohani

Ngon nyan teubuka ‘ileumei nyang luwah,  Kalimah Allah seubut ngon hate

Beureuseh hate neubrile Allah, raseuki mudah karonya Rabbi

Raseuki haleue Tuhan neulimpah, meunan geupeugah didalam rawi

Watee ta’amai deungon ikheulah, lakee bak Allah taubat beugeubri

Talakee ampon pat-pat nyang salah, nyawong bak leupah dalam Jannati

Tadeungo jinoe ulon meupeugah, supaya mudah jeuet tatukri

Bukon sayang Miruek Pango, sinan jinoe  na teumpat Kaluet

Watee akhe teuma dudoe, tanle sidroe nyang jak khaluet

Tanle Teungku soe peurunoe, taek keudroe teumpat kaluet

Suloek kaluet jak lateh droe, jak peugleh droe bandum sifeuet

Jak boih dausa darah asoe, jak meutoe ngon Tuhan makbud

Hate pigleh nibak kuto, ka baro toe ngon Tuhan makbud

Duek lam kaluet malam ngon uroe, hate peulaloe ngon Ya Makbud

Baca Tahle malam uroe, bak duek sidroe nyan tapubuet

Suloek kaloet sithon lhee go, lam watee droe nyan geupubuet

Syakban Ramadhan nyang phon sigo, teuma dudoe lam Haji peubuet

Buleuen Molod nyang keulhee go, jumeulah uroe tujohploh ka

Dalam tiep thon watee lhee go, geupeusaho lheueh nyan teuma

Meungna umu neubrile Po, nam thon jinoe payah keureuja

Suloek kaluet meunan bagoe, baro sampoe ‘oh meunan na

‘Ohka cukop sithon nam uroe, ‘oh meusaho uroe jina

Duek lam kaluet malam uroe, na dum bagoe zike taba

Zike qalbi ngon lathaif, troh bak nafi isbad nama

Troh bak ‘ukuf muraqabah, bandum sudah tamat teuma

Trok bak tahle nyang manyang that, ‘ohnan meuhat suloek geuba

Bukonle dhiet panyot kande, that meuseuke ‘oh tamita

Duek lam kaluet zike sabe, seubut zike peue nyang kana

Peue nyang geuyue uleh guree, meunan teuntee takeureuja

Lailahaillallah, ngon lidah tabaca sabe

Tan laen Po nyang lon seumah, malengkan Allah Rabbol Kade

Duek lam kaluet hate dahsyah, Allah Allah seubut di hate

‘Ohka tamat bandum sudah, Allah Allah nyan zike se

‘Ohlheueh suloek deungon kaluet, ‘ileumei peubuet dumka geubri

‘Ileumei bandum ka habeh jeuet, adab peubuet dumka meukri

Guree kalon bandum sifeuet, soe nyang kajeuet ijazah neubri

Neujok ijazah ban laku jeuet, deueh bak sifeuet neukalon kri

Rame ngon le khalifah jeuet, nyang kalheueh beuet ijazah neubri

Nyang meuseuke jareueng na jeuet, keu mursyid nyang that tinggi

Lam siribee hana meupeuet, mursyid nyang jeuet ijazah neubri

Jok ijazah sigala buet, keu mursyid nyang that tinggi

Guree kalon bandum sifeuet, narit ngon buet dum geutukri

Pajoh ranub jih bak mirah, tacok seupah sumbo puree

Mursyid kajeuet ngon khalifah, geu ijazah uleh guree

Dum ileumei ubit luwah, jok naseukhah uleh guree

Bukonle dhiet tanoh Makkah, sinan payah hudep kayee

Nyangka mursyid geubri ijazah, bungong peuet ulah sikarang lhee

Zike hate Allah Allah, nyang lon peugah bungong karang lhee

Zike qalbi nama jih sah, Allah Allah bareh jih lhee

Sinan hai Nyak ulon peugah, supaya mudah tacok teurajee

Jak bak Teungku cok ijazah, Zikerullah nyang bareh lhee

Bukonle dhiet tanoh Makkah, Blang ‘Arafah teumpat dum Haji

Bungong jih lhee Kalimah Allah, salasilah diphon bak Nabi

Jebra-i peutron lam guha Hirak, masa neujak kaluet Nabi

Jebra-i  cok nibak Tuhan, peutroh yohnyan jok keu Nabi

Nabi sambot bak watee nyan, meuhadapan ngon Jebra-i

Keu sahbat peuet Nabi pulang, hingga luwah bak dum sufi

Ngon sahabat meusilsilah, meu ijazah hate keu hate

Mula diphon meusala silah, ‘an sudah kiyamat bumi

Bukonle dhiet K’akbatullah, jak dum tawaf ureueng Haji

Bukonle dhiet dum silsilah, naseukhah bandum ka meukri

Bukonle dhiet K’akbatullah, hamba Allah nyan qiblati

Bahauddin Naksyabandiyah, nyang peuluwah zike qalbi

Bukonle dhiet tanoh Makkah, asaliyah lahe Nabi

Bukonle dhier zikerullah,  nyang peugleh hate nyang keuji

Geuboeh nama Zike Isem Zat, Thariqat Naqsya Bandi

Nyangkeuh Imum lam Thariqat,  Bahauddin meuhat nama geurasi

Saboh pinto tamong taubat, ngon nyan meuhat bagah asi

Dausa zina dausa liwat, ‘oh jitaubat bandum meukri

Dausa baten nyang teusom that,  rotnan meuhat bagah suci

Jantong leumoh jih gusuen that,  bagah puleh Tuhan neubri

‘Ohka keunong hate meucap, ‘oh keunong lhat nama Ilahy

Tuboeh la’eh teuga meuhat, asoe urat dum beureuhi

Seumayang tinggai hate batat, tan teuingat suroh Rabbi

Tan ji teupeue uroe Jumeu’at, meungnyo kathat hate meulhi

‘Ohka keunong hate meucap, buet Syari’at baro meukri

Baroka mangat peubuet ‘Ibadat,  hate ka teupat hana meugawi(o)

Seumbahyang limong bandum ka meukrat, puwasa meuhat bandum ka meukri

Ureueng nyang maksiet cit rotnoe taubat,  laen tan sapat jalan teupuka

Meugoh gleh hate han ek takarat, adak gob pakat han ek teuhila

Dum ek gob maba jipadan taubat,  hate beungeh that keu ureueng maba

Meu’oh jitamong jitem jak taubat, hanpeuele pakat bandum teurasa

Ureueng nyang maksiet deungon nyang ‘awam, wajeb hai rakan taubat ngon sigra

Wajeb tatamong tatueng Thariqat,  sunat cit meuhat bak takeureuja

Ureueng nyang ‘awam tapadan meuhat, tangieng nyang batat seumbahyang hana

Jih nyan tamaba peulop bak taubat, supaya meupat dijih rahsiya

Rahsiya tuboeh baro jitupat, bandum na hijab habeh teupuka

Baro ka jithee laloe raya that, baro ji tupat hate lam dada

Ureueng nyang lazem kayem ‘Ibadat, hanpeue tapakat keunan tamaba

Geuturi keudroe jalan nyang teupat, bandum na hijab hate lam dada

Ileumei Tasawuf ngon peugleh hasad, maksiet siploh boh teusuet uluwa

Taek ugle takoh keu tungkat, pileh meuhat kayee ‘Ali

Lethat kasiet ngon hekeumat, kayee tungkat Saidina ‘Ali

Zike hate nyan Isem Zat,  geukheun Thariqat Naqsya Bandi

Dum biek raya dausa lethat, bagah teupat Tuhan neubri

Akai nyang brok gadoh meuhat, deungon bereukat Naqsya Bandi

Nyankeuh aneuk kalon peugah, asailiyah phon teurjadi

Paneuk haba ulon peugah, silsilah meuribee ahli

Pat-pat lehna teuma meugah, ‘oh leupah kamoe peureugi

Tinggai gata ubit leupah,  nyan silsilah tatupeue dali

Alhamdulillah, ternyata Ulang Tahun ke ENAM blog tercinta kita;  bertepatan dengan hari pertama secara resmi umat Islam  Indonesia melaksanakan ibadah puasa. Semoga, semangat berpuasa ini dapat menjalar ke dalam diri  kita, sehingga blog Tambeh-Bek Tuwo Budaya ini terus berjaya, insya Allah  mampu bertahan terhadap segala tantangan dan rintangan di masa-masa akan datang!. Sekaligus kita harapkan, mudah-mudahan blog ini tetap berfaedah  bagi pembaca di mana saja berada, khususnya  bagi peminat  kebudayaan Aceh dan bidang humaniora lainnya.

Tetap harus diakui, bahwa tujuan utama penampilan blog ini di alam maya belumlah tercapai. Buktinya, sampai saat ini bidang bahasa dan sastra Aceh kurang dipedulikan  di Aceh. Misalnya, setiap diadakan berbagai lomba di berbagai tempat  di Aceh,  bahasa dan sastra Aceh selalu dilupakan. Padahal hampir semua pelaksana kegiatan lomba itu adalah orang-orang Aceh.  Setahu saya,  setiap tahun  cukup banyak Dayah, sekolah  dan perguruan tinggi mengadakan  berbagai perlombaan atau sayembara. Lihat saja, kapan mereka pernah memasukkan lomba seni Aceh yang Islami, seperti lomba mengarang nazam dan tambeh Aceh, lomba menulis dan membaca naskah Jawoe dan sejenisnya!.  Kita  ileh terhadap kebudayaan Aceh, budaya  kita sendiri!.

Akhirul kalam, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa mulai hari ini kepada kaum muslimin –muslimat di mana saja berada. Semoga  segala amal ibadat kita di bulan Ramadhan yang penuh  ampunan ini diterima Allah Swt,  dan kita mendapat rahmat dan beureukat!.

Banda Aceh, 18 Juni 2015

1 Ramadhan 1436 H/1 Puwasa 1436

dto

T.A. Sakti

Iklan

2 pemikiran pada “Ayo, Menuliskan Aceh di Internet – VI

  1. Semoga Abucek selalu sehat dan terus semangat dalam berkarya. Kami bangga pada Abucek…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s