Kebudayaan harus berpokok pada ilmu

Kebudayaan harus berpokok pada ilmu

Sutan Takdir Alisjahbana, 72 tahun, sastrawan

Sebenarnya terjadi kekacauan dalam mengambil pengetian tentang kebudayaan nasional Indonesia. Banyak di antara kita tidak memiliki pengertian kebudayaan yang jelas. Dalam arti sempit, kebudayaan adalah adat istiadat, kepercayaan, seni. Dalam arti luas—yang sebenarnya relevan pada zaman sekarang—kebudayaan itu melingkupi segala perbuatan manusia, yang membedakannya dengan hewan. Budi daya atau kebudayaan tak lain daripada hasil budi manusia. Dan bila kita lihat kebudayaan Indonesia dalam arti yang luas ini, perubahannya akan jelas sekali: dari suatu konfigurasi yang dikuasai agama, seni, solidaritas dan kekuasaan politik, pindah ke suatu bentuk yang dikuasai ilmu, ekonomi, yang bersama-sama melahirkan teknologi dan menumbuhkan solidaritas serta susunan politik yang baru. Bagi saya jelas sekali perbedaan kebudayaan Indonesia lama, kebudayaan Indonesia baru, dan kebudayaan Indonesia modern. Pusat kebudayaan itu adalah universitas.

Kebudayaan daerah                                          

Kebudayaan nasional Indonesia adalah kebudayaan yang progresif. Ia dikuasai ilmu dan teknologi. Dan bagi saya seluruh kebudayaan Indonesia, juga kebudayaan daerah, akan berpokok pada ilmu dan bersifat progresif. Kalau beternak sapi di daerah, ia harus dipelihara secara ilmiah. Bahasa apa pun yang dikuasai sekolah-sekolah di desa, ia mesti memberikan ilmu abad keduapuluh ini. Warung di desa mesti dijalankan dengan pikiran yang menyadari efisiensi. Kita tak peduli petani memberi sesajen untuk Dewi Sri, namun mereka harus menanam padinya secara modern. Dalam hal ini sifat kedaerahan hilang. Indonesia adalah bagian dari dunia, dan karenanya ia tak bisa lari dari kebudayaan progresif. Kenapa demikian? Karena kebudayaan yang berpokok pada ilmu, ekonomi, telah menyatukan dunia. Yang tidak sadar akan hal ini, berarti hidup dalam abad yang lampau. Kita masih hidup dalam abad pertengahan. Kesukarannya adalah karena cara berpikir universitas belum sampai ke desa, dan rasionalisasi dalam bidang ekonomi serta efisiensi masih merupakan kata-kata asing. Hal ini masih terdapat pada sebagian besar masyarakat Indonesia, dan pemimpin kita banyak yang belum mengetahui secara jelas apa yang terjadi di dunia ini.

Dengan universitas sebagai pusat, dapatkah kita melakukan perubahan secara cepat? Kalau mau, perubahan itu bida cepat terjadi. Lihatlah Jepang. Semuanya berubah dalam lima tahun. Tapi kita, mendisiplinkan pegawai negeri saja belum bisa. Bekerja keras dan belajar keras, belum menjadi semboyan.

Saya berpendapat bahwa embel-embel daerah itu tidak penting. Anak Jawa yang melanggar kelakuan Jawa dianggap belum jadi orang Jawa. Kita harus tahu, kebudayaan itu hanya tempelen. Yang penting adalah bagaimana kemauan cara hidup kita. Jika kita hanya mengambil bahan dari Indonesia, alangkah bodohnya kita. Kita harus meluaskannya. Sejarah kita terlalu kecil dibandingkan dengan Cina, India, Islam ataupun Eropa. Karena itu kita harus luas. Bentuk diri menjadi manusia besar abad sekarang. Jalannya adalah lewat pendidikan, bekerja keras. Rasanya tidak banyak orang yang mati karena bekerja terlalu banyak. Barangkali lebih banyak orang mati karena kurang bekerja.

Hendaknya kita sadar bahwa kebudayaan di abad ini adalah soal kesatuan dunia, umat manusia. Ada orang yang berkata, kita manusia Timur, jangan seperti orang Barat, kebudayaan kita lain. saya dulu memang memakai perkataan Barat, tapi yang saya maksud adalah manusia yang rasional, dinamis dan sadar akan hidupnya. Namun sekarang, perkataan Barat dan Timur harus dibuang. Ia menghambat pengertian tentang kemanusiaan. Manusia Barat dan Timur sama. Sama manusia.

Jangan dikira saya terlalu jadi orang internasional dibandingkan jadi orang Indonesia. Itu tak benar. Saya bekerja mati-matian untuk Indonesia. Tetapi Indonesia haruslah dilihat dari kemanusiaan. Saya ingin menjadi orang Indonesia yang besar. Apa saya mau menjadi orang atau manusia kecil tetapi keindonesiaannya saja yang besar?

Kebudayaan daerah dengan sendirinya akan tetap ada. Seperti di Eropa sekarang, di setiap desa ada kebudayaan. Mau dihapuskan tentu tidak bisa. Karena mereka satu desa dan berteman bersama-sama, tentulah mereka mengadakan tari-tarian dan menyanyi bersama. Tetapi sebaliknya, desa itu tidak dapat menutup diri dari semua yang asing. Sekarang ini ada pertukaran antara pusat dan daerah. Dengan pertukaran ini desa tidak lenyap. Tiap desa mempunyai coraknya sendiri.

Luntur

Ada yang mengatakan bahwa lunturnya kebudayaan daerah antara lain disebabkan kesalahan Angkatan 28 yang mempersetankan kebudayaan Indonesia lama, dan menghembuskan kebudayaan Indonesia baru. Pendapat seperti ini memutarbalikkan sejarah. Mohammad Yamin adalah orang yang banyak mempelajari kebudayaan Jawa. Angkatan 28 sampai dengan Pujangga Baru lebi berdasarkan ilmu dalam penyelidikan kebudayaan lama. Orang tak mengerti tentang apa yang dikerjakan oleh mereka yang pro barat. Saya dikatakan pro Barat. Dan orang pun tak mengerti apa yang saya lakukan dengan sanggar kesenian Toya Bungkah di Bali.

Kini orang pun cemas tentang masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia. Padahal dalam kekhawatiran itu, kebudayaan yang mereka maksud dan membuat khawatir itu hanyalah ujung-ujungnya atau ekses-ekses saja. Kebudayaan Barat yang sebenarnya, sebetulnya terlalu lambat masuk ke negeri kita. Universitas, teknologi, ekonomi, efisiensi, terlalu lambat kita terima. Janganlah melihat yang jelek-jelek itu. Kalau mau telanjang, telanjanglah. Itu hanya ujung-ujungnya. Tapi yang saya kehendaki adalah kebudayaan, yakni ilmu dari Barat.

Kenapa kebudayaan daerah dalam arti sempit kini makin luntur? Karena angkatan muda dinamis dan kreatif. Jiwanya sudah jiwa abad ke-20. Jadi kalau disodori isi yang lama, tidak cocok lagi. Saya sekarang memberi jiwa abad ke-20 kepada gaya-gaya lama tadi, jiwa masa yang akan datang. Kita buat tari Bali, gerak Bali dan gamelan Bali di persimpangan jalan. Ini adalah soal kita. Betul tari Bali, tetapi orang melihatnya sebagai sesuatu yang lain. Indonesia kaya sekali akan kesenian. Pada Conference on the Art and future, orang asing mengatakan bahwa pusat markas besarnya adalah di Toya Bungkah. Jadi kita diberi kesempatan memimpin dunia. Tetapi kalau kita hanya berpikir secara daerah saja, sukar bagi kita memimpin dunia. Sekarang pun kita sukar memimpin daerah karena kebudayaan daerah sudah masuk kebudayaan industri. Kita harus meluaskan pikiran kita, bahwa dunia sudah berubah sejak perang dunia II. Lihat di Eropa, Inggris dan Jerman tahun ini akan memilih anggota parlemen langsung dari rakyat mereka, tahun ini mereka akan bertukar pegawai, dan mereka sudah lama membicarakan penyatuan uang. Dulu mereka bermusuhan. Sekarang kita harus mengetahui tujuan dunia.

Strategi kebudayaan

Kalau kita suatu bangsa yang sadar, pasti kita mempunyai strategi kebudayaan untuk menuju masa depan yang baik. Dalam rapat perguruan tinggi swasta saya merumuskan tentang kebudayaan Indonesia. Saya memakai nama kebudayaan Indonesia secara prioritas. Pertama tentang ekonomi dan ilmu. Kalau tidak, kita akan menjadi paria di dunia. Bertambah lama bertambah paria. Ilmu dan ekonomi yang melahirkan teknologi.

Tentang agama, kita jangan lupa bahwa ilmu itu adalah sebagian dari apa yang kita tidak tahu. Dalam hal ini kita harus rendah hati kepada rahasia alam semesta yang tidak terduga, yang menguasai kita dalam segala hal.

Tentang politik, masyarakat, organisasi kemasyarakatan mempunyai 2 sumbu, kekuasaan dan solidaritas. Kekuasaan itu vertikal, dari atas ke bawah. Solidaritas, horizontal, berdasarkan cinta kasih sayang. Dan kita ingin demokrasi. Tinggal satu nilai lagi yakni seni. Nilai seni itu nilai kreatif, mencipta sesuatu yang baru. Saya menghendaki supaya seni membesar bukan hanya keindahannya saja. Gampang saja membuat sajak percintaan yang menimbulkan keharuan. Bagi saya sekarang, tiba saatnya kekreatifan seni itu melingkupi ilmu, ekonomi, politik dan solidaritas. Kekreatifan itu meluas ke segala lapangan. Sebab itu, kalau orang mengatakan roman saya terlampau banyak isinya, itu adalah keyakinan saya. Roman hanya dapat melakukan tugasnya sekarang, kalau dia memakai segala hal yang diperoleh itu, dia meluaskan pikirannya seluas agama, kalau dia dapat memberikan kepada dirinya suatu tanggungjawab, solidaritas dan organisasi negara.

Bukan karena penjajah

Dapatkah penjajahan yang berlangsung di Indonesia tempo dulu disebut sebagai penghalang? Tidak. Penghalang itu adalah mentalitas bangsa Indonesia sendiri. Penjajahan adalah sebagai akibat hukum alam: yang pintar, kuat, dinamis, mesti menguasai yang bodoh, lemah dan statis.

Tugas Belanda dahulu memang bukan untuk mendidik kita. Dan sebetulnya Belanda telah berjasa besar mengubah otak Sukarno, Hatta, dan lain-lainnya, yang akhirnya menjadi murid-murid yang mengusir Belanda itu sendiri. Itu pun atas dukungan internasional yang besar sekali.

Bagaimana pun bangganya kita, kita harus sadar bahwa kebudayaan kita tidak pintar, lemah dan statis. Kebanggaan kita kadang-kadang berlebihan. Kita kurang intropeksi. Kita harus melihat perubahan dunia secara nyata, jujur, jangan bermimpi atau berilusi. Kita harus merubah mental dari kebudayaan ekspresif dan fantasi, sedikit rasio yang berdasarkan intuisi, menjadi kebudayaan yang dikuasai rasio, perhitungan, dan realitas. Dengan begitu, bukan berarti agama bakal hilang. Saya tak khawatir sumber agama akan lenyap. Hanya orang bodoh dan tak memahami arti agama sesungguhnyalah yang memiliki kekhawatiran demikian.

Bahasa

Tentang berbahasa Indonesia dengan baik, saya selalu berselisih dengan kaum linguis. Mereka tidak sampai menjadi manusia dewasa. Mereka itu murid-murid. Guru-gurunya itu kolega saya berdebat di Amerika. Linguistik dalam 50 tahun yang lalu tiba di jalan buntu, karena mereka takut kepada pikiran. Mereka bermain dengan bunyi-bunyi, maka timbullah fonologi, yang semuanya berputar-putar pada bunyi. Pikiran itu susah bagi mereka. Jadi kita sekarang menerima ilmu linguistik sebagai ilmu bahasa yang tidak berarti. Padahal bahasa itu pentingnya kalau punya arti.

Kalau demikian boleh saja mereka membuat ilmu linguistik mengenai aum harimau, suara bebek atau kambing, sebab hanya tentang bunyi. Bagi mereka pikiran terlampau sukar. Mereka sebenarnya harus sampai kepada logika, filsafat, dan kebudayaan. Bahasa yang tidak menjadi alat pikiran, bahasa apa pula namanya? Bagi saya, bahasa itu adalah cara menjelmakan pikiran manusia. Di sinilah letak kebudayaan. Setiap bahasa itu sempurna untuk kebudayaannya. Kebudayaan apa yang ada di Indonesia ini, bahasa Indonesia harus menjadi cermin yang sesungguhnya. Bahasa daerah dan bahasa Indonesia berbeda sekali. Bahasa daerah akan menjadi cermin kebudayaan lama, kebudayaan daerah. Bahasa Indonesia sejak dulu dikritik banyak orang. Sekarang bahasa Indonesia harus menjadi setaraf dengan bahasa Jerman, Belanda, Inggris, Jepang, Rusia sebagai bahasa modern abad ke-20. Istilah yang kita ciptakan sudah lebih dari setengah juta. Terasa bagaimana perubahan kebudayaan kita. Dari 20 ribu, yang masuk hampir 20 kali, sejak zaman Jepang. Kalau Diponegoro tiba-tiba masuk ke suatu sekolah di Jawa Tengah, dia tidak bakal mengerti. Kaum linguis tidak mengerti hal ini. Bahasa Indonesia adalah satu-satunya bahasa Melayu Polynesia yang menjadi bahasa modern.

Kalau orang mengatakan kita harus berbahasa Indonesia yang baik, berarti bahasa yang modern, yang logis. Sekarang dalam pelajaran bahasa di bawah pimpinan kaum linguis, saya sering melihat kalimat-kalimat itu tidak selesai, sebab cara berpikir tidak jadi penting. Dalam tata-bahasa diadakan uraian kalimat. Mana subjek, prediket, objek, keterangan tempat dan keterangan waktu. Semua ini kategori pikiran. Penganalisaan pikiran. Bahasa adalah seperti yang disebutkan guru saya, Niewenhuys: Bahasa itu kadang-kadang berupa bunyi, kadang berupa tanda, tetapi selalu pikiran. Janganlah hal ini diabaikan. Dalam krisis kebudayaan seperti sekarang, orang tidak bisa berpikir tentang kebudayaan kalau tidak berani naik ke filsafat. Di zaman sekarang kita harus berani mendaki gunung. Dari puncak gunung kita dapat melihat peta kebudayaan seluruh Indonesia. Tetapi kalau kita di bawah pohon, kita tidak bisa berbicara tentang kebudayaan yang luas itu. Kita hanya melihat bayang-bayangnya saja.

Jadi, berbahasa Indoensia yang baik adalah mengekpresikan pikiran-pikiran dengan baik. Kalau tidak begitu kita menipu rakyat. Kita jadinya memberi bahasa yang tidak cocok.

Lebih celaka lagi kalau cara-cara lama mewarnai bahasa Indonesia. Seperti perasaan halus dan kasar dari bahasa Jawa. Pelacur sudah bagus lantas diganti dengan tuna-susila. Penganggur diganti tuna-karya. Yang kita kehendaki bukan penghalusan tetapi penambahan logika dan tepat. Dan tiap-tiap penghargaan yang lain menghalangi penglogisan dan pentepatan bahasa kita. Karena itu juga saya mempertahankan perkataan tuan dan puan. Dahulu orang Belanda suka yang memanggil tuan dan puan. Setelah merdeka, semua kita harus menjadi tuan,  sekarang yang dipakai adalah kata kampong dari desa yakni Bapak dan Ibu. Di desa semua memakai bapak dan ibu, kakak dan adik. Tetapi dalam hubungan resmi mestinya memakai tuan dan puan. Dengan kata ini semua orang sama.

Dalam kongres bahasa baru-baru ini saya katakan bahwa dalam pengadilan semua orang Indonesia adalah Tuan dan Puan, sama tinggi duduknya dengan hakim. Kalau kita pergi ke kantor pajak, “Tunggu dulu, tuan. Akan saya lunasi besok.” Semua menyebut tuan. Lancar. Sekarang masih terlampau ditinggikan, kata Bapak memasukkan unsur desa ditambah unsur feodal. Apakah saya harus memanggil anak muda, dengan Bapak? Kekuasaan menjadikannya sebagai Bapak. Ini namanya perkawinan desa dengan feudal. Untuk abad ke-20 ini mestinya, tuan dan puan. Pesawat terbang Malaysia mempergunakan panggilan Tuan-tuan dan puan-puan. Maskapai penerbangan Singapura juga begitu. Tetapi Indonesia mempergunakan Tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Mungkinkah wanita Indonesia bukan nona lagi? Mengapa tidak memakai tuan dan puan? Apakah kita takut dikatakan meniru Malaysia? Bukankah Malaysia, Singapura dan Indonesia mempunyai bahasa yang satu?.  Di sini kekerdilan kita masih kelihatan sekali.

( Sumber:  Prisma 2, Februari 1978 hlm  50 – 58 ).

                 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s