Ayo, Menuliskan Aceh di Internet – VI

Ketika Enam Tahun Menjadi Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2015

Ayo, menuliskan Aceh di Internet – VI

Selamat berpuasa, semoga ibadah kita di Ramadhan mulia ini diridhai Allah Swt, sehingga kita mendapat ampunan dan rahmat yang berlipat ganda, Amin!.

Tanggal 15 Juni 2015 jam 22.35 sudah 266.600 lebih  kunjungan pada  blog Bek Tuwo Budaya. Melihat jumlah penikmat  selama enam tahun hanya sebanyak itu, memang tidak menggembirakan; amat sedikit!.   Namun, rasa syukur yang dalam tetap bersemadi  di hati saya, karena blog ini telah sanggup melintasi beragam tantangan selama enam tahun. Dengan semakin berkurangnya tulisan-tulisan saya  sendiri yang dapat diposting,  maka semakin berganda-ganda pula  “rasa bosan dan sia-sia” datang menyerang. Alhamdulillah, semua beban batin itu masih mampu saya kikis dari batin saya yang dirasukinya. Sebab, saya masih yakin bahwa setiap artikel yang  saya posting pasti ada manfaat bagi sebagian  pembaca. Memberi faedah kepada orang lain, tentu Allah Swt akan menganugerahkan rahmat kepada sang penulis dan pelaksana lainnya.

Satu hal yang paling menyenangkan, bahwa pengetikan bahan bacaan untuk diposting tidak perlu lagi saya bawa ke Rental seperti tahun-tahun sebelumnya. Sekarang, semua kebutuhan itu telah ditangani oleh anggota keluarga secara gotong-royong. Dengan bermodalkan sebuah komputer pribadi  dan tiga Laptop milik putri-putra saya, maka semua ‘order ketikan’ dapat berlangsung lancar dalam setahun ini. Hanya saja, berhubung kost pengetikan di rumah ‘lebih mahal’, maka artikel yang diposting dalam blog dalam masa sebulan dicukupkan satu judul saja, atau kadang-kadang dua.

Walaupun telah bergaul  sampai enam tahun, tetapi saya belum mengenal betul dengan perangkat internet ini. Selain belum paham seluk-beluknya, saya juga masih dibisikkan  rasa kurang percaya terhadap keakuratannya. Sampai kini, belum ada ahli yang dapat saya tanyai mengenai keraguan ini. Satu contoh: terhadap kunjungan blog Bek Tuwo Budaya tanggal 15 Juni 2025. Pada pukul 22.35 hari Senin/malam Selasa, jumlah kunjungan per-negara sebagai berikut:  62 Indonesia, 20 Amerika Serikat,  15 Malaysia, 11 Uni Eropa, 2 Singapura, 1 Thailand, 1 Inggris. Saya belum yakin kesahihannya, mengapa  pengunjung dari negara Amerika Serikat lebih banyak dibandingkan dengan pengunjung dari Malaysia. Mengapa pengunjung dari Uni Eropa bisa lebih banyak daripada pengunjung dari Singapura, Thailand; padahal dari satu negara Eropa, yaitu Inggris hanya 1 pengunjung saja. Kemudian, besok jam 7.00 pagi tanggal 16 Juni 2015 jumlah pengunjung per-negara menjadi: 87 Indonesia, 33 Amerika Serikat, 15 Malaysia, 14 Uni Eropa, 2 Singapura, 1 Thailand, dan Inggris tetap 1. Dalam keadaan ini, saya masih tetap bertanya-tanya, mengapa lagi-lagi Amerika Serikat dan Uni Eropa yang banyak bertambah dibandingkan negara-negara tetangga kita!?. Apakah  semakin jauh merantau, orang-orang semakin rindu kepada tanah airnya?. Atau karena bangsa Amerika Serikat dan Eropa adalah orang-orang yang amat doyan kepada informasi?

Kemusykilan lain  alias  problema blog Tambeh saat ini, yaitu kembalinya penyakit lama yang menghisap semangat saya untuk terus mengasuh blog Tambeh. Pada awal  keaktifannya, isi blog ini banyak dicopy-paste oleh pemilik-pemilik blog lain yang curang. Banyak tulisan-tulisan saya yang diambil untuk dipampang ke dalam blog mereka. Sebagian plagiator ini sampai-sampai menghapuskan nama saya, lalu mengganti  dengan namanya sendiri. Namun setelah berkali-kali saya “tunjuk hidungnya” dalam setiap sambutan ulang tahun blog Tambeh ini, mereka pun satu-persatu mengakui kesalahannya dengan menghapuskan karangan-karangan saya dalam daftar isi blog-blog tersebut. Gejala itu sudah bangkit lagi dalam setahun ini!. Beberapa copy-paste terhadap tulisan saya terlihat jelas.  Beberapa waktu ke depan, saat  saya melakukan edit terakhir terhadap sambutan Ulang Tahun ini, semua kecurangan dan penculikan karya saya akan ditampilkan satu-persatu!.

Dalam  kegairahan  Islam di Aceh dewasa ini, ada gejala menarik yang berkembang dalam dua tahun terakhir. Fenomena itu adalah bangkitnya ‘amalan  Zikir” yang menyentuh hampir semua kalangan masyarakat Aceh.  Hampir lima tahun lalu, pada  setiap maghrib dan subuh, dari kejauhan sayub-sayub terdengar gema zikir dari suatu tempat yang jauh di sekitar Banda Aceh. Saat sekarang, hampir setiap pekan kita dapat membaca-mendengar berita-berita tentang kegiatan berzikir dalam media-massa Aceh. Acara zikirullah itu diikuti ribuan orang. Iklan berzikir pun sering terpampang di halaman pertama Harian Serambi Indonesia, serta baliho dan poster terus berkibar di beberapa sudut kota Banda Aceh. Tempat pelaksanaan berzikir itu sudah berlangsung di beragam lingkungan, seperti di komplek  Makam Syiah Kuala,di lapangan sekitar Makam Ulama dan Sultan Aceh seperti Makam Sultan Iskandar Muda,  Mesjid Raya Baiturrahman, di berbagai ibukota kabupaten di Aceh, di berbagai komunitas, di kampus-kampus, di Kapolda Aceh dan lain-lain.

Memang ada kalangan  yang memandang ‘kecil’ terhadap geliat dakwah di kalangan  masyarakat  umum ini, namun dalam kesempatan menyambut Ulang Tahun ke enam blog Bek Tuwo Budaya  kali ini,  saya  menampilkan bagaimana tanggapan salah seorang ulama tempo dulu terhadap geliat agama  ini. Beliau bernama Syekh Abdussamad  atau  Teungku Di Cucum. Kubur beliau terdapat di gampong Cucum,  – antara Keude Tungkop dan Keude Lam Ateuk, Aceh Besar.Ulama yang diperkirakan hidup di awal Perang Aceh-Belanda ini,  masih meninggalkan  warisan karya bermutu hingga  sekarang,  antara lain  Akhbarul Na’im, Tambeh Tujuh Blaih dan “Tambeh Gohna Nan”.  Tambeh Gohna Nan  adalah judul yang saya lakapkan, karena naskah ini belum diberikan nama oleh Teungku Di Cucum. Setelah membaca cuplikan kitab  itu, terkesan kepada kita seolah-olah beliau sudah ‘meramalkan’ apa yang sedang berlangsung di Aceh hari ini, yakni  sekarang  gema zikir semakin sering dan nyaring terdengar di Bumi Serambi Mekkah!.

Dalam  mengikuti  arus zaman, saya telah memberikan cuplikan naskah Tambeh/Nazam Teungku Di Cucum  kepada Panitia Lomba Membaca Naskah Lama Balai Bahasa Provinsi Aceh. Lomba yang berlangsung  tanggal 8 – 9 Juni 2015 itu,  diikuti oleh 50(lima puluh) peserta dari Banda Aceh dan Aceh Besar. Saya yang menjadi salah seorang juri dalam acara  langka itu,  amat menikmati makna dan kemerduan nazam Aceh yang dibacakan  oleh peserta  beragam umur , laki-laki dan perempuan. Sebagian besar peserta membaca  naskah huruf Arab Jawoe  dari cuplikan Tambeh Gohna Nan seri  I, sedang seri II sambungannya,  hanya dibaca beberapa orang saja. Sementara  naskah Jawi/Jawoe  cuplikan  Hikayat Abu Nawah;   mengenai  Abunawah yang ditugaskan Sultan Harunur Rasyid mencari ikan bersisik merah di laut; hanya dibaca oleh satu orang peserta saja. Acara Lomba Membaca Naskah Lama Aceh di Balai Bahasa  Banda Aceh/Provinsi Aceh, merupakan kegiatan tahun ketiga secara  berturut-turut. Salam hormat dan tahniah yang setinggi-tingginya patut kita persembahkan kepada Kepala Balai Bahasa Propinsi Aceh, Bapak Teguh Santoso, S.S., M.Hum yang telah menggagas dan melaksanakan  acara teramat langka itu. Beliau yang berasal dari Yogyakarta  telah mengukir jasa bagi bahasa, sastra dan kebudayaan Aceh. Berdasarkan pengamatan tiga kali berlangsungnya  acara lomba itu, nampaknya  minat membaca huruf Arab Jawoe sudah bangkit kembali di Aceh. Kiranya,  berbagai pihak  terutama  lembaga yang terkait agama Islam dan kebudayaan Aceh  perlu ‘menampung’  gejolak manis ini!.

Berikut cuplikan  “Tambeh Gohna Nan”  tentang ibadat ragam kaum  sufi tersebut:

Teungku Di Cucum I

Lailahaillallah, kalimah thaiyibah jeuet keu payong

Neu peulara bandum kamoe, meunan jinoe neubri untong

Lailahillallah, kalimah thaiyibah kuta nyang raya

Soe nyang tem duek lam kuta nyan, seulamat iman hate lam dada

Peubuet suroh peujeuoh teugah, hamba Allah nyang sijahtra

Nyoe nyang laen lon amanat, beuta ingat E aneuknda

Pat-pat na meugah hai puteh lumat, bungong hekeumat  peukayan dada

Yoh goh prang Aceh dilee saboh hat, bungong hekeumat meugah muliya

Aceh pih reule ‘ohlheueh kaphe mat,  bungong hekeumat leunyap pat nyang na

Le syahid Teungku neuwoe bak rahmat, bungong hekeumat bak gobnyan punca

Sangkira Teungku neubri seulamat, bungong hekeumat rata rinyeun na

Soe teumeung sunteng bungong hekeumat,  geuliyueng mangat deungo nyang beuna

Soe teumeung sunteng bungong hekeumat, hate jih thaat barangjan masa

Soe teumeung sunteng bungong hekeumat, nyawong jih mangat watee keuluwa

Soe teumeung sunteng bungong hekeumat, teupuka kasyaf leumah peue nyang na

Beudoh jak mita bungong hekeumat, supaya mangat hate lam dada

Nyang le bungong nyan dinanggroe luwah, Makkah Madinah sinan phon mula

Dinanggroe Irak ngon nannggroe Kufah, rame sileupah keubon peunula

Meunurot dali neubrile Allah, keubon nyang luwah ‘oh akhe masa

Maken that akhe maken meutamah,  keubon nyan teuhah rata teumpat na

Lam nanggroe tanyoe hanale leumah, lawet ka leupah Teungku neugisa

Teutapi dudoe leubeh lom luwah, deungon afuwah Syiyah Kuala

Kana soe puwoe dinanggroe Makkah, bungong peuet ulah hudep peunula

Bijeh meutabu neubrile Allah,  neujok ‘inayah keu ureueng puga

Qudrat Iradat kuasa Allah, soe-soe meutuwah jiteumei mita

Ji teumei pangkee bungong lhee ulah,  soe nyang na teuhah hate lam dada

Bungong lapan on mantong that mudah, bungong peuet ulah tapreh-preh teuka

Bungong lapan on meususon ulah, harah dua blaih aleh lam lam ha

Bungong kalimah ulah teudong-dong, takalon mantong meuteumeung pahla

Ulah bungong  nyan  nacit nyang meurok, takalon beutok jeuet peungeuh dada

Bungong bak ulah leumah lapan on, tan meu-ek meutron beurangjan masa

Soe teumeung sunteng bungong tojoh on, Tuhan peuampon sigala dausa

Soe teumeung sunteng bungong tojoh on,  langet meususon pinto geubuka

Soe teumeung sunteng bungong tojoh on,  roh jih lam ayon watee ‘oh geuba

Soe teumeung sunteng bungong tojoh on. Jiduek yub payong Blang Padang Masya

Lailahaillah, beumeutuwah aneuk hamba

Beujitem seubut Kalimah Lailahaillallah. Bungong nyan sah keuyum Syuruga

Bareh lapan nyankeuh bungong, pham beukeunong cut ngon raya

Bareh lapan geukheun bungong, gunci ngon tamong pinto Syuruga

Watee takheun deungon lidah, Lailahaillallah bak jipoh ha

Bareh lapan tinggai tujoh, sabab karoh ka jipoh ha

nyankeuh lon kheun bungong tujoh on, bek meuron karon watee tabaca

lailahaillallah, pasoe lam babah kalimah zike

bungong lapan on mantong na mudah, bungong peuet ulah nyang that meuseuke

bungong lapan on Thariqat Hadad, baca beule that iep watee sabe

lailahaillallah, Kalimah Thaiyibah kuta nyang tinggi

soe le baca Kalimah Thaiyibah, urat darah ji meunari

hate didalam seunang ka teuhah, ingat keu Allah Nyang Maha Suci

Teungku Di Cucum II

Lailahaillallah, Kalimah Thaiyibah kuta nyang tinggi

Bungong lapan on kalheueh lon peugah, bungong peuet ulah deungo lon kheunkri

Wahe aneuk nyang na tuwah, tadeungo gah pat-pat teurjali

Pat-pat nyang na teuma meugah, Zikerullah lateh rohani

Ngon nyan teubuka ‘ileumei nyang luwah,  Kalimah Allah seubut ngon hate

Beureuseh hate neubrile Allah, raseuki mudah karonya Rabbi

Raseuki haleue Tuhan neulimpah, meunan geupeugah didalam rawi

Watee ta’amai deungon ikheulah, lakee bak Allah taubat beugeubri

Talakee ampon pat-pat nyang salah, nyawong bak leupah dalam Jannati

Tadeungo jinoe ulon meupeugah, supaya mudah jeuet tatukri

Bukon sayang Miruek Pango, sinan jinoe  na teumpat Kaluet

Watee akhe teuma dudoe, tanle sidroe nyang jak khaluet

Tanle Teungku soe peurunoe, taek keudroe teumpat kaluet

Suloek kaluet jak lateh droe, jak peugleh droe bandum sifeuet

Jak boih dausa darah asoe, jak meutoe ngon Tuhan makbud

Hate pigleh nibak kuto, ka baro toe ngon Tuhan makbud

Duek lam kaluet malam ngon uroe, hate peulaloe ngon Ya Makbud

Baca Tahle malam uroe, bak duek sidroe nyan tapubuet

Suloek kaloet sithon lhee go, lam watee droe nyan geupubuet

Syakban Ramadhan nyang phon sigo, teuma dudoe lam Haji peubuet

Buleuen Molod nyang keulhee go, jumeulah uroe tujohploh ka

Dalam tiep thon watee lhee go, geupeusaho lheueh nyan teuma

Meungna umu neubrile Po, nam thon jinoe payah keureuja

Suloek kaluet meunan bagoe, baro sampoe ‘oh meunan na

‘Ohka cukop sithon nam uroe, ‘oh meusaho uroe jina

Duek lam kaluet malam uroe, na dum bagoe zike taba

Zike qalbi ngon lathaif, troh bak nafi isbad nama

Troh bak ‘ukuf muraqabah, bandum sudah tamat teuma

Trok bak tahle nyang manyang that, ‘ohnan meuhat suloek geuba

Bukonle dhiet panyot kande, that meuseuke ‘oh tamita

Duek lam kaluet zike sabe, seubut zike peue nyang kana

Peue nyang geuyue uleh guree, meunan teuntee takeureuja

Lailahaillallah, ngon lidah tabaca sabe

Tan laen Po nyang lon seumah, malengkan Allah Rabbol Kade

Duek lam kaluet hate dahsyah, Allah Allah seubut di hate

‘Ohka tamat bandum sudah, Allah Allah nyan zike se

‘Ohlheueh suloek deungon kaluet, ‘ileumei peubuet dumka geubri

‘Ileumei bandum ka habeh jeuet, adab peubuet dumka meukri

Guree kalon bandum sifeuet, soe nyang kajeuet ijazah neubri

Neujok ijazah ban laku jeuet, deueh bak sifeuet neukalon kri

Rame ngon le khalifah jeuet, nyang kalheueh beuet ijazah neubri

Nyang meuseuke jareueng na jeuet, keu mursyid nyang that tinggi

Lam siribee hana meupeuet, mursyid nyang jeuet ijazah neubri

Jok ijazah sigala buet, keu mursyid nyang that tinggi

Guree kalon bandum sifeuet, narit ngon buet dum geutukri

Pajoh ranub jih bak mirah, tacok seupah sumbo puree

Mursyid kajeuet ngon khalifah, geu ijazah uleh guree

Dum ileumei ubit luwah, jok naseukhah uleh guree

Bukonle dhiet tanoh Makkah, sinan payah hudep kayee

Nyangka mursyid geubri ijazah, bungong peuet ulah sikarang lhee

Zike hate Allah Allah, nyang lon peugah bungong karang lhee

Zike qalbi nama jih sah, Allah Allah bareh jih lhee

Sinan hai Nyak ulon peugah, supaya mudah tacok teurajee

Jak bak Teungku cok ijazah, Zikerullah nyang bareh lhee

Bukonle dhiet tanoh Makkah, Blang ‘Arafah teumpat dum Haji

Bungong jih lhee Kalimah Allah, salasilah diphon bak Nabi

Jebra-i peutron lam guha Hirak, masa neujak kaluet Nabi

Jebra-i  cok nibak Tuhan, peutroh yohnyan jok keu Nabi

Nabi sambot bak watee nyan, meuhadapan ngon Jebra-i

Keu sahbat peuet Nabi pulang, hingga luwah bak dum sufi

Ngon sahabat meusilsilah, meu ijazah hate keu hate

Mula diphon meusala silah, ‘an sudah kiyamat bumi

Bukonle dhiet K’akbatullah, jak dum tawaf ureueng Haji

Bukonle dhiet dum silsilah, naseukhah bandum ka meukri

Bukonle dhiet K’akbatullah, hamba Allah nyan qiblati

Bahauddin Naksyabandiyah, nyang peuluwah zike qalbi

Bukonle dhiet tanoh Makkah, asaliyah lahe Nabi

Bukonle dhier zikerullah,  nyang peugleh hate nyang keuji

Geuboeh nama Zike Isem Zat, Thariqat Naqsya Bandi

Nyangkeuh Imum lam Thariqat,  Bahauddin meuhat nama geurasi

Saboh pinto tamong taubat, ngon nyan meuhat bagah asi

Dausa zina dausa liwat, ‘oh jitaubat bandum meukri

Dausa baten nyang teusom that,  rotnan meuhat bagah suci

Jantong leumoh jih gusuen that,  bagah puleh Tuhan neubri

‘Ohka keunong hate meucap, ‘oh keunong lhat nama Ilahy

Tuboeh la’eh teuga meuhat, asoe urat dum beureuhi

Seumayang tinggai hate batat, tan teuingat suroh Rabbi

Tan ji teupeue uroe Jumeu’at, meungnyo kathat hate meulhi

‘Ohka keunong hate meucap, buet Syari’at baro meukri

Baroka mangat peubuet ‘Ibadat,  hate ka teupat hana meugawi(o)

Seumbahyang limong bandum ka meukrat, puwasa meuhat bandum ka meukri

Ureueng nyang maksiet cit rotnoe taubat,  laen tan sapat jalan teupuka

Meugoh gleh hate han ek takarat, adak gob pakat han ek teuhila

Dum ek gob maba jipadan taubat,  hate beungeh that keu ureueng maba

Meu’oh jitamong jitem jak taubat, hanpeuele pakat bandum teurasa

Ureueng nyang maksiet deungon nyang ‘awam, wajeb hai rakan taubat ngon sigra

Wajeb tatamong tatueng Thariqat,  sunat cit meuhat bak takeureuja

Ureueng nyang ‘awam tapadan meuhat, tangieng nyang batat seumbahyang hana

Jih nyan tamaba peulop bak taubat, supaya meupat dijih rahsiya

Rahsiya tuboeh baro jitupat, bandum na hijab habeh teupuka

Baro ka jithee laloe raya that, baro ji tupat hate lam dada

Ureueng nyang lazem kayem ‘Ibadat, hanpeue tapakat keunan tamaba

Geuturi keudroe jalan nyang teupat, bandum na hijab hate lam dada

Ileumei Tasawuf ngon peugleh hasad, maksiet siploh boh teusuet uluwa

Taek ugle takoh keu tungkat, pileh meuhat kayee ‘Ali

Lethat kasiet ngon hekeumat, kayee tungkat Saidina ‘Ali

Zike hate nyan Isem Zat,  geukheun Thariqat Naqsya Bandi

Dum biek raya dausa lethat, bagah teupat Tuhan neubri

Akai nyang brok gadoh meuhat, deungon bereukat Naqsya Bandi

Nyankeuh aneuk kalon peugah, asailiyah phon teurjadi

Paneuk haba ulon peugah, silsilah meuribee ahli

Pat-pat lehna teuma meugah, ‘oh leupah kamoe peureugi

Tinggai gata ubit leupah,  nyan silsilah tatupeue dali

Alhamdulillah, ternyata Ulang Tahun ke ENAM blog tercinta kita;  bertepatan dengan hari pertama secara resmi umat Islam  Indonesia melaksanakan ibadah puasa. Semoga, semangat berpuasa ini dapat menjalar ke dalam diri  kita, sehingga blog Tambeh-Bek Tuwo Budaya ini terus berjaya, insya Allah  mampu bertahan terhadap segala tantangan dan rintangan di masa-masa akan datang!. Sekaligus kita harapkan, mudah-mudahan blog ini tetap berfaedah  bagi pembaca di mana saja berada, khususnya  bagi peminat  kebudayaan Aceh dan bidang humaniora lainnya.

Tetap harus diakui, bahwa tujuan utama penampilan blog ini di alam maya belumlah tercapai. Buktinya, sampai saat ini bidang bahasa dan sastra Aceh kurang dipedulikan  di Aceh. Misalnya, setiap diadakan berbagai lomba di berbagai tempat  di Aceh,  bahasa dan sastra Aceh selalu dilupakan. Padahal hampir semua pelaksana kegiatan lomba itu adalah orang-orang Aceh.  Setahu saya,  setiap tahun  cukup banyak Dayah, sekolah  dan perguruan tinggi mengadakan  berbagai perlombaan atau sayembara. Lihat saja, kapan mereka pernah memasukkan lomba seni Aceh yang Islami, seperti lomba mengarang nazam dan tambeh Aceh, lomba menulis dan membaca naskah Jawoe dan sejenisnya!.  Kita  ileh terhadap kebudayaan Aceh, budaya  kita sendiri!.

Akhirul kalam, saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa mulai hari ini kepada kaum muslimin –muslimat di mana saja berada. Semoga  segala amal ibadat kita di bulan Ramadhan yang penuh  ampunan ini diterima Allah Swt,  dan kita mendapat rahmat dan beureukat!.

Banda Aceh, 18 Juni 2015

1 Ramadhan 1436 H/1 Puwasa 1436

dto

T.A. Sakti

Iklan

darurat dayah di aceh!

Droe Keudroe:

Darurat Dayah

Serambi Indonesia telah memuat tiga berita  tentang nasib Dayah Aceh pada edisi Kamis, 30 April 2015. Ketiga berita itu ternyata menyedihkan. Pada halaman “Serambi Pase” sebagai berita teratas berjudul ’12 Bilik Santri Terbakar”, yaitu sebanyak 12 bilik(kamar) santri  Dayah Darut Thalibin Desa Mesjid Baro, Kecamatan Samalanga, Bireun hangus terbakar. Dalam halaman 19 berjudul “Tak Miliki Santri, Pemerintah Stop Bantuan”. Ini mengenai hasil verifikasi yang dilakukan oleh tim bersama  Aceh Jaya, yang menemukan adanya Dayah dan TPA yang tidak memiliki santri sama sekali, sementara bantuan dari pemerintah terus mengalir ke Dayah dan TPA itu. Berita ketiga berjudul “DPRK Minta Jerih Guru Dayah Ditingkatkan – Selama Ini Rp. 970 Ribu Per Tahun”. Berita di halaman 20 ini,  terkait hasil kunjungan kerja Wakil Ketua DPRK Pidie Jaya Fakhruzzaman Hasballah ke sejumlah Dayah di kabupaten  itu, yang ternyata jerih guru Dayah sangat minim di sana.

Sesungguhnya, berita duka dari  Dayah-dayah  di tiga kabupaten daerah Aceh itu,  merupakan cerminan dari nasib pilu dari sebagian besar Dayah dan TPA(Bale Seumeubeuet) yang terdapat di Provinsi Aceh. Hanya saja jarang terungkap ke publik. Petuah “sabar”  sudah menjadi benteng pertahanan yang kokoh bagi para santri(Aceh:Ureueng Meudagang) di Dayah-dayah sejak  dahulu kala. Segala macam penderitaan selama di Dayah dianggap sebagai “cobaan dan ujian” yang harus dimenangkan. Akibat pandangan demikian, keluh-kesah anak-anak Dayah jarang terekspose ke luar.Berkat ikut membimbing sejumlah skripsi mahasiswa  mengenai  Sejarah Dayah dan beberapa kali ulang-alik ke beberapa Dayah di Aceh Besar  sejak tahun 2013 – 2015, menyebabkan ‘ puncak gunung es ‘ cobaan para santri Dayah sudah terkuak ala kadarnya.

Memang, dalam 30 tahun terakhir geliat Dayah di Aceh amatlah nampak. Minat para orangtua yang  mengantarkan anaknya ke Dayah semakin hari semakin tinggi. Akibatnya, walaupun pertumbuhan jumlah Dayah yang  cukup banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, namun ternyata tidak mampu menampung  jumlah santri/santriwati yang mendaftarkan diri. Beberapa Dayah terkenal sudah menyetop penerimaan murid baru buat sementara. Sebagian orangtua hanya menginginkan putra-putrinya “pernah” menjadi santri/santriwati di Dayah,  tetapi tidak kurang pula para orangtua yang  mengharapkan anak-anak mereka  belajar  secara penuh di Dayah, terutama di Dayah-dayah yang mengeluarkan ijazah.

Banyak faktor yang mendorong para orangtua menjadi “sadar Dayah”.  Selain faktor-faktor tradisional yang sudah membudaya, faktor-faktor masa kini juga amat kuat getarannya. Terbentuknya Badan Dayah Provinsi Aceh beberapa tahun terakhir,  cukup mempesona sebagian calon santri. Banyaknya berita-berita tentang aktivitas Dayah dalam media-massa – seperti dalam Serambi Indonesia -,telah menggugah ‘kesadaran Dayah’ para orangtua. Diakuinya ijazah Dayah untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi cukup mendamaikan batin santri/santriwati  untuk belajar di Dayah. Apalagi, jika pernah ada berita “penerimaan PNS”   bagi alumni Dayah.Salah satu faktor masa kini yang lain yang cukup tinggi daya dorongnya adalah negeri kita yang terjangkiti ‘darurat narkoba”. Semua orangtua amat khawatir terhadap keselamatan anaknya dari bahaya sabu-sabee ini. Salah Satu  bentang pertahanan yang masih dipercaya masyarakat Aceh adalah Dayah. Maka berduyun-duyunlah para orangtua mengantarkan putra-putri mereka ke Dayah. Akibatnya, Dayah-dayah terkenal di Aceh menjadi penuh-sesak, dan sebagian calon santri/santriwati tak tertampung lagi!. Inilah yang saya sebut “Darurat Dayah”,  yang perlu perhatian Pemerintah Aceh, masyarakat dan media-massa di Aceh.

T.A. Sakti

Tinggal di   Banda Aceh

Kebudayaan harus berpokok pada ilmu

Kebudayaan harus berpokok pada ilmu

Sutan Takdir Alisjahbana, 72 tahun, sastrawan

Sebenarnya terjadi kekacauan dalam mengambil pengetian tentang kebudayaan nasional Indonesia. Banyak di antara kita tidak memiliki pengertian kebudayaan yang jelas. Dalam arti sempit, kebudayaan adalah adat istiadat, kepercayaan, seni. Dalam arti luas—yang sebenarnya relevan pada zaman sekarang—kebudayaan itu melingkupi segala perbuatan manusia, yang membedakannya dengan hewan. Budi daya atau kebudayaan tak lain daripada hasil budi manusia. Dan bila kita lihat kebudayaan Indonesia dalam arti yang luas ini, perubahannya akan jelas sekali: dari suatu konfigurasi yang dikuasai agama, seni, solidaritas dan kekuasaan politik, pindah ke suatu bentuk yang dikuasai ilmu, ekonomi, yang bersama-sama melahirkan teknologi dan menumbuhkan solidaritas serta susunan politik yang baru. Bagi saya jelas sekali perbedaan kebudayaan Indonesia lama, kebudayaan Indonesia baru, dan kebudayaan Indonesia modern. Pusat kebudayaan itu adalah universitas.

Kebudayaan daerah                                          

Kebudayaan nasional Indonesia adalah kebudayaan yang progresif. Ia dikuasai ilmu dan teknologi. Dan bagi saya seluruh kebudayaan Indonesia, juga kebudayaan daerah, akan berpokok pada ilmu dan bersifat progresif. Kalau beternak sapi di daerah, ia harus dipelihara secara ilmiah. Bahasa apa pun yang dikuasai sekolah-sekolah di desa, ia mesti memberikan ilmu abad keduapuluh ini. Warung di desa mesti dijalankan dengan pikiran yang menyadari efisiensi. Kita tak peduli petani memberi sesajen untuk Dewi Sri, namun mereka harus menanam padinya secara modern. Dalam hal ini sifat kedaerahan hilang. Indonesia adalah bagian dari dunia, dan karenanya ia tak bisa lari dari kebudayaan progresif. Kenapa demikian? Karena kebudayaan yang berpokok pada ilmu, ekonomi, telah menyatukan dunia. Yang tidak sadar akan hal ini, berarti hidup dalam abad yang lampau. Kita masih hidup dalam abad pertengahan. Kesukarannya adalah karena cara berpikir universitas belum sampai ke desa, dan rasionalisasi dalam bidang ekonomi serta efisiensi masih merupakan kata-kata asing. Hal ini masih terdapat pada sebagian besar masyarakat Indonesia, dan pemimpin kita banyak yang belum mengetahui secara jelas apa yang terjadi di dunia ini.

Dengan universitas sebagai pusat, dapatkah kita melakukan perubahan secara cepat? Kalau mau, perubahan itu bida cepat terjadi. Lihatlah Jepang. Semuanya berubah dalam lima tahun. Tapi kita, mendisiplinkan pegawai negeri saja belum bisa. Bekerja keras dan belajar keras, belum menjadi semboyan.

Saya berpendapat bahwa embel-embel daerah itu tidak penting. Anak Jawa yang melanggar kelakuan Jawa dianggap belum jadi orang Jawa. Kita harus tahu, kebudayaan itu hanya tempelen. Yang penting adalah bagaimana kemauan cara hidup kita. Jika kita hanya mengambil bahan dari Indonesia, alangkah bodohnya kita. Kita harus meluaskannya. Sejarah kita terlalu kecil dibandingkan dengan Cina, India, Islam ataupun Eropa. Karena itu kita harus luas. Bentuk diri menjadi manusia besar abad sekarang. Jalannya adalah lewat pendidikan, bekerja keras. Rasanya tidak banyak orang yang mati karena bekerja terlalu banyak. Barangkali lebih banyak orang mati karena kurang bekerja.

Hendaknya kita sadar bahwa kebudayaan di abad ini adalah soal kesatuan dunia, umat manusia. Ada orang yang berkata, kita manusia Timur, jangan seperti orang Barat, kebudayaan kita lain. saya dulu memang memakai perkataan Barat, tapi yang saya maksud adalah manusia yang rasional, dinamis dan sadar akan hidupnya. Namun sekarang, perkataan Barat dan Timur harus dibuang. Ia menghambat pengertian tentang kemanusiaan. Manusia Barat dan Timur sama. Sama manusia.

Jangan dikira saya terlalu jadi orang internasional dibandingkan jadi orang Indonesia. Itu tak benar. Saya bekerja mati-matian untuk Indonesia. Tetapi Indonesia haruslah dilihat dari kemanusiaan. Saya ingin menjadi orang Indonesia yang besar. Apa saya mau menjadi orang atau manusia kecil tetapi keindonesiaannya saja yang besar?

Kebudayaan daerah dengan sendirinya akan tetap ada. Seperti di Eropa sekarang, di setiap desa ada kebudayaan. Mau dihapuskan tentu tidak bisa. Karena mereka satu desa dan berteman bersama-sama, tentulah mereka mengadakan tari-tarian dan menyanyi bersama. Tetapi sebaliknya, desa itu tidak dapat menutup diri dari semua yang asing. Sekarang ini ada pertukaran antara pusat dan daerah. Dengan pertukaran ini desa tidak lenyap. Tiap desa mempunyai coraknya sendiri.

Luntur

Ada yang mengatakan bahwa lunturnya kebudayaan daerah antara lain disebabkan kesalahan Angkatan 28 yang mempersetankan kebudayaan Indonesia lama, dan menghembuskan kebudayaan Indonesia baru. Pendapat seperti ini memutarbalikkan sejarah. Mohammad Yamin adalah orang yang banyak mempelajari kebudayaan Jawa. Angkatan 28 sampai dengan Pujangga Baru lebi berdasarkan ilmu dalam penyelidikan kebudayaan lama. Orang tak mengerti tentang apa yang dikerjakan oleh mereka yang pro barat. Saya dikatakan pro Barat. Dan orang pun tak mengerti apa yang saya lakukan dengan sanggar kesenian Toya Bungkah di Bali.

Kini orang pun cemas tentang masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia. Padahal dalam kekhawatiran itu, kebudayaan yang mereka maksud dan membuat khawatir itu hanyalah ujung-ujungnya atau ekses-ekses saja. Kebudayaan Barat yang sebenarnya, sebetulnya terlalu lambat masuk ke negeri kita. Universitas, teknologi, ekonomi, efisiensi, terlalu lambat kita terima. Janganlah melihat yang jelek-jelek itu. Kalau mau telanjang, telanjanglah. Itu hanya ujung-ujungnya. Tapi yang saya kehendaki adalah kebudayaan, yakni ilmu dari Barat.

Kenapa kebudayaan daerah dalam arti sempit kini makin luntur? Karena angkatan muda dinamis dan kreatif. Jiwanya sudah jiwa abad ke-20. Jadi kalau disodori isi yang lama, tidak cocok lagi. Saya sekarang memberi jiwa abad ke-20 kepada gaya-gaya lama tadi, jiwa masa yang akan datang. Kita buat tari Bali, gerak Bali dan gamelan Bali di persimpangan jalan. Ini adalah soal kita. Betul tari Bali, tetapi orang melihatnya sebagai sesuatu yang lain. Indonesia kaya sekali akan kesenian. Pada Conference on the Art and future, orang asing mengatakan bahwa pusat markas besarnya adalah di Toya Bungkah. Jadi kita diberi kesempatan memimpin dunia. Tetapi kalau kita hanya berpikir secara daerah saja, sukar bagi kita memimpin dunia. Sekarang pun kita sukar memimpin daerah karena kebudayaan daerah sudah masuk kebudayaan industri. Kita harus meluaskan pikiran kita, bahwa dunia sudah berubah sejak perang dunia II. Lihat di Eropa, Inggris dan Jerman tahun ini akan memilih anggota parlemen langsung dari rakyat mereka, tahun ini mereka akan bertukar pegawai, dan mereka sudah lama membicarakan penyatuan uang. Dulu mereka bermusuhan. Sekarang kita harus mengetahui tujuan dunia.

Strategi kebudayaan

Kalau kita suatu bangsa yang sadar, pasti kita mempunyai strategi kebudayaan untuk menuju masa depan yang baik. Dalam rapat perguruan tinggi swasta saya merumuskan tentang kebudayaan Indonesia. Saya memakai nama kebudayaan Indonesia secara prioritas. Pertama tentang ekonomi dan ilmu. Kalau tidak, kita akan menjadi paria di dunia. Bertambah lama bertambah paria. Ilmu dan ekonomi yang melahirkan teknologi.

Tentang agama, kita jangan lupa bahwa ilmu itu adalah sebagian dari apa yang kita tidak tahu. Dalam hal ini kita harus rendah hati kepada rahasia alam semesta yang tidak terduga, yang menguasai kita dalam segala hal.

Tentang politik, masyarakat, organisasi kemasyarakatan mempunyai 2 sumbu, kekuasaan dan solidaritas. Kekuasaan itu vertikal, dari atas ke bawah. Solidaritas, horizontal, berdasarkan cinta kasih sayang. Dan kita ingin demokrasi. Tinggal satu nilai lagi yakni seni. Nilai seni itu nilai kreatif, mencipta sesuatu yang baru. Saya menghendaki supaya seni membesar bukan hanya keindahannya saja. Gampang saja membuat sajak percintaan yang menimbulkan keharuan. Bagi saya sekarang, tiba saatnya kekreatifan seni itu melingkupi ilmu, ekonomi, politik dan solidaritas. Kekreatifan itu meluas ke segala lapangan. Sebab itu, kalau orang mengatakan roman saya terlampau banyak isinya, itu adalah keyakinan saya. Roman hanya dapat melakukan tugasnya sekarang, kalau dia memakai segala hal yang diperoleh itu, dia meluaskan pikirannya seluas agama, kalau dia dapat memberikan kepada dirinya suatu tanggungjawab, solidaritas dan organisasi negara.

Bukan karena penjajah

Dapatkah penjajahan yang berlangsung di Indonesia tempo dulu disebut sebagai penghalang? Tidak. Penghalang itu adalah mentalitas bangsa Indonesia sendiri. Penjajahan adalah sebagai akibat hukum alam: yang pintar, kuat, dinamis, mesti menguasai yang bodoh, lemah dan statis.

Tugas Belanda dahulu memang bukan untuk mendidik kita. Dan sebetulnya Belanda telah berjasa besar mengubah otak Sukarno, Hatta, dan lain-lainnya, yang akhirnya menjadi murid-murid yang mengusir Belanda itu sendiri. Itu pun atas dukungan internasional yang besar sekali.

Bagaimana pun bangganya kita, kita harus sadar bahwa kebudayaan kita tidak pintar, lemah dan statis. Kebanggaan kita kadang-kadang berlebihan. Kita kurang intropeksi. Kita harus melihat perubahan dunia secara nyata, jujur, jangan bermimpi atau berilusi. Kita harus merubah mental dari kebudayaan ekspresif dan fantasi, sedikit rasio yang berdasarkan intuisi, menjadi kebudayaan yang dikuasai rasio, perhitungan, dan realitas. Dengan begitu, bukan berarti agama bakal hilang. Saya tak khawatir sumber agama akan lenyap. Hanya orang bodoh dan tak memahami arti agama sesungguhnyalah yang memiliki kekhawatiran demikian.

Bahasa

Tentang berbahasa Indonesia dengan baik, saya selalu berselisih dengan kaum linguis. Mereka tidak sampai menjadi manusia dewasa. Mereka itu murid-murid. Guru-gurunya itu kolega saya berdebat di Amerika. Linguistik dalam 50 tahun yang lalu tiba di jalan buntu, karena mereka takut kepada pikiran. Mereka bermain dengan bunyi-bunyi, maka timbullah fonologi, yang semuanya berputar-putar pada bunyi. Pikiran itu susah bagi mereka. Jadi kita sekarang menerima ilmu linguistik sebagai ilmu bahasa yang tidak berarti. Padahal bahasa itu pentingnya kalau punya arti.

Kalau demikian boleh saja mereka membuat ilmu linguistik mengenai aum harimau, suara bebek atau kambing, sebab hanya tentang bunyi. Bagi mereka pikiran terlampau sukar. Mereka sebenarnya harus sampai kepada logika, filsafat, dan kebudayaan. Bahasa yang tidak menjadi alat pikiran, bahasa apa pula namanya? Bagi saya, bahasa itu adalah cara menjelmakan pikiran manusia. Di sinilah letak kebudayaan. Setiap bahasa itu sempurna untuk kebudayaannya. Kebudayaan apa yang ada di Indonesia ini, bahasa Indonesia harus menjadi cermin yang sesungguhnya. Bahasa daerah dan bahasa Indonesia berbeda sekali. Bahasa daerah akan menjadi cermin kebudayaan lama, kebudayaan daerah. Bahasa Indonesia sejak dulu dikritik banyak orang. Sekarang bahasa Indonesia harus menjadi setaraf dengan bahasa Jerman, Belanda, Inggris, Jepang, Rusia sebagai bahasa modern abad ke-20. Istilah yang kita ciptakan sudah lebih dari setengah juta. Terasa bagaimana perubahan kebudayaan kita. Dari 20 ribu, yang masuk hampir 20 kali, sejak zaman Jepang. Kalau Diponegoro tiba-tiba masuk ke suatu sekolah di Jawa Tengah, dia tidak bakal mengerti. Kaum linguis tidak mengerti hal ini. Bahasa Indonesia adalah satu-satunya bahasa Melayu Polynesia yang menjadi bahasa modern.

Kalau orang mengatakan kita harus berbahasa Indonesia yang baik, berarti bahasa yang modern, yang logis. Sekarang dalam pelajaran bahasa di bawah pimpinan kaum linguis, saya sering melihat kalimat-kalimat itu tidak selesai, sebab cara berpikir tidak jadi penting. Dalam tata-bahasa diadakan uraian kalimat. Mana subjek, prediket, objek, keterangan tempat dan keterangan waktu. Semua ini kategori pikiran. Penganalisaan pikiran. Bahasa adalah seperti yang disebutkan guru saya, Niewenhuys: Bahasa itu kadang-kadang berupa bunyi, kadang berupa tanda, tetapi selalu pikiran. Janganlah hal ini diabaikan. Dalam krisis kebudayaan seperti sekarang, orang tidak bisa berpikir tentang kebudayaan kalau tidak berani naik ke filsafat. Di zaman sekarang kita harus berani mendaki gunung. Dari puncak gunung kita dapat melihat peta kebudayaan seluruh Indonesia. Tetapi kalau kita di bawah pohon, kita tidak bisa berbicara tentang kebudayaan yang luas itu. Kita hanya melihat bayang-bayangnya saja.

Jadi, berbahasa Indoensia yang baik adalah mengekpresikan pikiran-pikiran dengan baik. Kalau tidak begitu kita menipu rakyat. Kita jadinya memberi bahasa yang tidak cocok.

Lebih celaka lagi kalau cara-cara lama mewarnai bahasa Indonesia. Seperti perasaan halus dan kasar dari bahasa Jawa. Pelacur sudah bagus lantas diganti dengan tuna-susila. Penganggur diganti tuna-karya. Yang kita kehendaki bukan penghalusan tetapi penambahan logika dan tepat. Dan tiap-tiap penghargaan yang lain menghalangi penglogisan dan pentepatan bahasa kita. Karena itu juga saya mempertahankan perkataan tuan dan puan. Dahulu orang Belanda suka yang memanggil tuan dan puan. Setelah merdeka, semua kita harus menjadi tuan,  sekarang yang dipakai adalah kata kampong dari desa yakni Bapak dan Ibu. Di desa semua memakai bapak dan ibu, kakak dan adik. Tetapi dalam hubungan resmi mestinya memakai tuan dan puan. Dengan kata ini semua orang sama.

Dalam kongres bahasa baru-baru ini saya katakan bahwa dalam pengadilan semua orang Indonesia adalah Tuan dan Puan, sama tinggi duduknya dengan hakim. Kalau kita pergi ke kantor pajak, “Tunggu dulu, tuan. Akan saya lunasi besok.” Semua menyebut tuan. Lancar. Sekarang masih terlampau ditinggikan, kata Bapak memasukkan unsur desa ditambah unsur feodal. Apakah saya harus memanggil anak muda, dengan Bapak? Kekuasaan menjadikannya sebagai Bapak. Ini namanya perkawinan desa dengan feudal. Untuk abad ke-20 ini mestinya, tuan dan puan. Pesawat terbang Malaysia mempergunakan panggilan Tuan-tuan dan puan-puan. Maskapai penerbangan Singapura juga begitu. Tetapi Indonesia mempergunakan Tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Mungkinkah wanita Indonesia bukan nona lagi? Mengapa tidak memakai tuan dan puan? Apakah kita takut dikatakan meniru Malaysia? Bukankah Malaysia, Singapura dan Indonesia mempunyai bahasa yang satu?.  Di sini kekerdilan kita masih kelihatan sekali.

( Sumber:  Prisma 2, Februari 1978 hlm  50 – 58 ).