DAUD BEUREUEH LAWAN DR VAN MOOK

                    DAUD BEUREUEH LAWAN DR VAN MOOK

Oleh A Hasjmy

Tanggal   28   Maret   1994  yang akan datang merupakan ulang tahun ke-46 gagalnya Mukta­mar Sumatera, yang bertujuan membentuk Negara Federasi   Sumatera dalam rangka usaha menghancurkan Republik Indonesia Proklamasl 17 Ag­ustus 1945.

Menyambut ulang tahun tersebut, dalam tulisan ini saya akan mengangkat ke permukaan, perihal “Negara Sumatera” yang gugur dalam kandungan, karena kala itu Aceh menolak ikut serta. Rencana pembentukan “Negara Sumatera” oleh Belanda, adalah usaha terakhir untuk menghan­curkan Republik Proklamasi 17 Agustus 1945. Sebelum itu, Belanda telah berhasil mendirikan Negara Indonesia Timur, Negara Madura, Negara Jawa Timur, Negara Pasundan di Jawa Barat, dan sebagainya. Acehlah satu-satunya wilayah Republik Indonesia yang tidak dapat ditaklukkan Belan­da. Hatta Tanah Aceh menjadi “modal” dalam rangka merebut dan memerdekakan kembali daerah-daerah yang telah dijadikan “negara boneka” oleh Belanda lewat tangan antek-anteknya orang Indonesia, seperti Tengku Mansur di Sumatera Timur. Abdul Malik di Sumatera Selatan, Raden Kartalegawa orang Pasundan di Jawa Barat,  Sukowati di Indonesia Timur dan sebagainya.

         Bukan Mimpi

Pada waktu itu, tanggal 17 Maret 1948, sebuah pesawat terbang militer Belanda melayang rendah di atas Kota Banda Aceh (waktu itu bernama Koetaradja) ibukota Daerah Modal Re­publik Indonesia (nama kebanggaan .yang diberikan Presiden Pertama Re­publik Indonesia, Soekarno, waktu bulan Juni 1948 berkunjung ke Aceh). Kapal terbang tcrsebut menjatuhkan sepucuk surat undangan yang dimuat dalam kaleng yang terpateri rapi. Surat undangan itu ternyata ditujukan kepada Mayor Jenderal Teungku Muhammad Daud Beureueh-, Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Antara lain berbunyi:

Ke hadapan

Yang Mulia Gubernur Militer Aceh di

Koetaradja

… Itulah sebabnya, maka saya merasa boleh memulai menggerakkan untuk mengundang wakil-wakil segala daerah Sumatera buat limit serta dalam satu Muktamar Sumatera yang akan berlangsunq di Medan pada tanggal 28 Maret 1949.

Negara “Sumatera Timur”   akan merasa sebagai suatu kehormatan untuk menerima perutusan Tuan sebagai tamu selama itu.

Yang diundang ialah Aceh, Tapanuli, Nias, Minangkabau, Bengkalis, Indragiri, Jambi, Riau, Bangka,   Belitung,   Sumatera   Selatan, Lampung, dan Bengkulu,

Terlepas dari segala perbedaan politik, saya menyatakan pengharapan saya, supaya Aceh juga akan menyuruh suatu perutusan mewakilinya pada Muktamar pertama dari suku-suku bangsa Sumatera ini

Pembesar-pembesar di Sabang telah diperintahkan untuk menyambut per­utusan Tuan dan mengawalnya ke Medan dengan kapal terbang.

Tengku Mansur yang menamakan dirinya ”Wali Negara SumateraTimur”  mengirim surat tersebut atas perintah Dr Van Mook, Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Kalimat-kalimat “Pembesar-pembesar di Sabang telah diperintahkan untuk menyambut … (mana ada kekuasaan Tengku Mansur untuk memerintahkan Perwira-perwira Belanda di Sabang, yang bukan bahagian Sumatera Timur), membuktikan bahwa di belakang Tengku Mansur berdiri Dr Van Mook.

Untuk membahas surat Tengku Mansur, Mayor Jenderal Tengku Mu­hammad Daud Beureueh, mengadakan rapat khusus pada tanggal 20 Maret 1948. Agenda rapat ialah:

  1. a) menerima ajakan Tengku Mansur,
  2. b) memproklamirkan Aceh sebagai sebuah Republik Islam,
  3. c) tetap menjadi bahagian Republik Indonesia yang diproklamirkan tang­gal 17 Agustus 1945.

Pada awal rapat dimulai, para peserta-rapat minta ayat (a) dihapus dari agenda rapat. Pendeknya, mereka tak setuju menerima ajakan Tengku Mansur.

Yang dipertimbangkan dalam rapat maraton yang memakan waktu lama itu ialah agenda point (b) dan (c) yang masing-masing banyak pendukungnya.

Setelah hamplr pukul 22.00 Mayor Jenderal Teungku Mu­hammad Daud Beureueh, sebagai ketua rapat menyatakan bahwa Aceh tetap menjadi bagian Republik Proklamasi 17 Agustus 1945.

Harian Semangat Merdeka yang terbit tanggal 23 Maret 1948 mengumumkan pernyataan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo seperti berikut:

“Perasaan kedaerahan di Aceh tidak ada lagi Sebab itu, kita tidak bermaksud membentuk Aceh Raya, seperti Tapanuli Raya, Bengkulu Raya, Bangka Raya dan lain-lain, yang kemudian menjadi “negara bahagian” dari “Nega­ra Pederasi Sumatera. Karena itu, yang  ada di Aceh hanya semangat Republikein.

Sebab itu juga, undangan dari Wali Negara Sumatera Timur” kita pandang sebagai tidak ada dan karena itulah tidak kita balas…”

Dengan penentangan dan penolakan Aceh terhadap Muktamar Sumateranya Dr Van Mook lewat Tengku Mansur,   maka   gagallah   muktamar tersebut dan “Negara Federasi Sumatera” gugur dari kandungan nafsu Van Mook

Penolakan terhadap usaha pecah belah  Dr Van  Mook,   adalah modal Aceh yang amat penting untuk menyelamatkan Republik Indonesia Proklamasi 17 Agustus 1945, seperti yang pernah saya lukiskan dalam serangkum sajak termuat dalam Buku September Berdarah, yatui: “Akhirnya, karena penentangan Aceh, ‘Negara   Federasi   Sumatera’   gugur dalam kandungan, gagallah politik licik Belanda, Aceh tetap menjadi Daerah Modal Republik Kesatuan Indonesia, tidak pernah dijamah kami, tentera kolonial Belanda waktu agresi pertama di masa agresi kedua.”

Harapan saya, semoga angkatan sekarang, juga angkatan-angkatan yang akan datang, tidak melupakan jejak sejarah masa lalu.

*Prof. A.Hasjmy, Ketua Umum MUI dan LAKA Daerah Istimewa Aceh serta mantan Gubernur Aceh.

( Sumber: Harian Serambi Indonesia, Senin, 21 Maret 1994 hlm.4).

#Penyalinan ulang artikel sejarah ini atas usaha T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s