Kiblat Kita : Lokal, Nasionalisme atau Kosmopolitan ?

Dialog

Kiblat Kita : Lokal,

Nasionalisme atau Kosmopolitan ?

 

 

Pengantar

Dialog kita kali ini menampilkan dua sastrawan dari dua periode berbeda. Yang pertama, Ayip Rosidi, 41 tahun, adalah orang yang punya perhatian dan melakukan penelitian untuk sastra daerahnya: Sunda. Yang kedua, Sutan Takdir Alisyahbana, 72 tahun, sastrawan pelopor pujangga baru. Mereka memiliki pandangan sendiri-sendiri tentang kebudayaan daerah dan nasional.

Ayip tetap tak mau meninggalkan keindonesiaan dalam melihat kebudayaan daerah. Dia melihat ada usaha “kurang sadar” yang pernah dibuat orang dalam menghidupkan kembali kesenian daerah, antara lain mengembalikan feodalisme. Dan melihat kebudayaan daerah bagi Ayip sendiri—dia sendiri pernah merekam pantun-pantun Sunda—tak menimbulkan regionalisme.

Takdir pun mencintai kesenian daerah. Dia memiliki sanggar kesenian Toya Bungkah, Bali. Namun bagi Takdir, kebudayaan daerah dan nasional sekarang haruslah bersumber pada ilmu. Kebudayaan sekarang, katanya, adalah soal kesatuan dunia, kesatuan umat manusia. Redaksi.

Kebudayaan Daerah dan Keindonesiaan

Ayip Rosidi, 41 tahun, sastrawan

Banyak sudah usaha yang ingin menghidupkan kebudayaan daerah. Tetapi, usaha itu sering hanya didorong oleh keinginan untuk melanjutkan yang biasa—yang sudah ada—dan sering pula tidak dihubungkan dengan keindonesiaan. Kegiatan dan kebudayaan seperti itu, seperti tidak tahu, bahwa daerah sesungguhnya sudah lain dalam suatu kesatuan Indonesia. Dan mereka yang melakukan kegiatan ini, banyak yang tak sadar bahwa banyak nilai daerah—yang menurut mereka dianggap baik—sebetulnya tidak cocok lagi dengan cita-cita kebangsaan yang hendak kita tegakkan. Masalah demokrasi adalah salah satu contoh.

Kita kini sepakat untuk menegakkan asas demokrasi. Pada dasarnya, asas itu ada di tiap-tiap daerah, dengan tipis tebal yang berbeda, serta latarbelakang yang berlainan. Tetapi di beberapa daerah, feodalisme lebih menonjol. Bagi mereka nampaknya, antara feodalisme dan demokrasi tak ada persoalan prinsipil. Dalam situasi 1950-an, ketika mengagung-agungkan Indonesia, jika ada orang mengatakan bahwa ada hal-hal yang tak cocok lagi, mereka bakal tersinggung. Walaupun begitu, karena kebudayaan daerah itu terdapat di seluruh Indonesia, ia memang perlu digali. Saya berasal dari daerah Sunda, karena itu saya menggali kebudayaan Sunda. Kecenderungan saya menulis dalam bahasa Sunda juga menimbulkan ejekan dari beberapa kawan. Ada yang menyebut saya sebagai “Si Sunda”. Tapi di balik itu, dalam lingkungan kebudayaan Sunda lama, saya juga tidak diterima dengan baik. Kalau pun saya diterima, penerimaan itu disertai dengan kecurigaan. Ada malah yang menulis, bahwa saya adalah “monyet” yang datang dari daerah lain dan tak bisa memahami masalah yang sebenarnya. Tragis. Saya terjepit. Dan pada tahun 1950-an—saat yang masih dekat dengan masa revolusi—setiap usaha dan kegiatan yang berbau daerah dapat dianggap sebagai kaki tangan van Mook. Ini pandangan politis, karena van Mook mendirikan negara boneka. Pada saat begitu, sulit bagi kita untuk membicarakan kebudayaan daerah. Tapi kini keadaan seperti ini masih nampak pada orang-orang yang berasal dari perjuangan 1945. Ada pandangan yang mengatakan bahwa kebudayaan daerah dianggap bertentangan dengan cita-cita nasional. Jadi, unsur daerah masih dilihat sebagai sesuatu yang membahayakan Indonesia sebagai nation. Pandangan ini keliru. Pada tahun 1960-an, kesenian daerah mulai bangkit. Hanya saja ia dipergunakan secara politis oleh Lekra. Organisasi itu mendirikan sanggar, dan dalang yang sebetulnya tidak mempunyai pandangan politis jadi senang sekali. Tempat latihan yang tak pernah mereka bayangkan, mereka peroleh. Banyak orang terjebak. Dalam pada itu organisasi seperti LKN dan Lesbumi masih membatasi pada jenis kesenian tertentu, dan belum menjamah wayang serta topeng. Mereka hanya mengurus kesenian rebana, menjaga perasaan para kiyai. Inilah masalah pada tahun 1960-an.

Penelitian

Kepada Jawatan Kebudayaan pernah saya usulkan untuk membuat rekaman kesenian-kesenian rakyat yang hampir hilang (1958-1959). Saya tertarik pada pantun. Antara 1959 dan 1960, Jawatan Kebudyaan Jawa Barat pernah merekam pertunjukan pantun di Kuningan, tapi usaha ini tidak dilanjutkan lagi. Hingga 1966 juga tak ada. Tahun 1968 dan 1969 setelah saya menulis beberapa artikel di media massa dan gagal, datangah Prof. Teeuw, dan kepadanya saya jelaskan kesulitan saya. Dari dia saya dapat pinjaman alat perekam dan pita. Dengan itu selama 1969, 1970 dan 1971 saya menjelankan penelitian untuk pantun Sunda. Beberapa puluh pantun berhasil saya rekam, kemudian saya transkripkan dan  terbit dalam bentuk stensilan. Jumlahnya ada 20 jilid, dan masing-masing tebalnya antara 100 dan 200 halaman folio. Sekarang beberapa perpustakaan penting di dunia telah memilikinya. Jika ada yang hendak melanjutkan penelitian lewat hasil itu bisa saja. Di Leiden, Negeri Belanda, sastra Sunda itu dipakai. Untuk daerah lain kini pemerintah sudah menyediakan dana yang lebih besar buat penelitian seperti yang saya lakukan itu.

Ciri Sunda

Orang Sunda membangga-banggakan kesenian dan kebudayaan Sunda. Tetapi apakah mereka dapat menerangkan secara benar kebudayaan Sunda sesungguhnya? Sampai sekarang tak ada.

Kalau bersandar pada kebesaran masing-masing kabupaten—Cirebon, Cianjur, Bandung—saya dapat mengejek mereka. Semuanya pernah dijajah Mataram, Jawa Tengah. Semua pernah ngawula Mataram. Jika mempertanyakan, apa kesundaan itu dan bagaimana filsafat Sunda, orang akan kembali kepada Hasan Mustafa. Tapi apakah Hasan Mustafa asli Sunda? Pengaruh Islam besar sekali padanya. Apakah Hasan Mustafa ini orang Sunda yang terpengaruh oleh Islam, atau seorang yang lahir dalam tradisi Islam yang mempunyai warna Sunda? Saya lebih condong pada yang terakhir ini, lebih-lebih setelah saya membaca sebagian besar karya Hasan Mustafa. Ia lahir dalam tradisi Islam. ia menulis dalam bahasa dan warna lokal, yakni Sunda. Dalam hidupnya ia sudah dicurigai. Ia dinamakan ulama mahiwa: lain daripada yang lain.

Karena saya belum menyelesaikan penelitian saya, saya belum dapat menyebutkan, apa ciri Sunda yang membedakannya dengan yang lain. tapi mungkin ada beberapa pandangan hidup orang Sunda yang dapat menerangkannya. Ia bersifat dugaan dan sementara. Saya melihat unsur yang sama dari pantun berbagai daerah. Itu menunjukkan sumber atau paling tidak referensi yang sama. Misalnya, pantun Kuningan punya banyak kesamaan dengan pantun Banten. Pantun Sukabumi selatan juga punya banyak persamaan dengan Sumedang. Persamaan ini menarik untuk diteliti, misalnya pantun yang saya rekam dari Pak Aceng di Sumedang. Dalam pantun itu ada teka-teki, dan teka teki itu sebetulnya dahulu hanya dilakukan oleh raja-raja ketika menerima lamaran. Di dalamnya ada pandangan hidup yang menarik. Inti dasar kalimat dalam pantun itu adalah “kekosongan.” Hidup itu kosong. Berdasarkan kata-kata yang ia pakai, dalam hemat saya, pantun itu mengisyaratkan bahwa “kekosongan” itu yang menjadi tujuan hidup. Jadi, hidup yang sempurna itu adalah yang tak berbekas. Seperti bebek berenang di lubuk. Saya menjumpai filsafat ini dalam beberapa pantun. Dan dalam hati saya bertanya: apakah ini filsafat Sunda? Kalau itu betul, apakah bisa dijawab, kenapa di daerah Sunda tidak terdapat candi dan tidak ada peninggalan-peninggalan yang besar? Mungkin itu terjadi karena raja-raja Sunda dahulu berpendapat bahwa hidup yang baik adalah hidup yang tak meninggalkan apa-apa. Dan dari sana mungkin dapat pula kita lihat, kenapa Sunda dekat dengan Islam. Mungkin karena dalam Islam dikenal apa yang disebut innalilahi…., kembali kepada ketidak-adaan, kepada asal.

Orang Belanda sering kacau dalam membuat interpretasi tentang kesenian kita tempo hari. Dalam metode dan sistematika, mereka memang lebih terlatih, tapi dalam menafsirkan apa yang tersirat mereka gagal. Karena itu kebudayaan atau kesenian daerah harus digali oleh orang daerah itu sendiri. Orang luar jangan diharapkan.

Nilai-nilai dalam masyarakat lahir dengan sendirinya. Ia dilanjutkan. Tapi ketika masyarakat itu berubah, dan ia mengalami goncangan, banyak nilai itu yang menghilang.

Pergeseran dan kepunahan         

Saya dibesarkan dalam lingkungan yang punya apresiasi akan wayang. Ketika saya dikhitan, kakek saya menanggap wayang. Saya senang wayang. Tetapi kini, anak saya tidak lagi suka. Mereka dibesarkan di Jakarta dan tidak memiliki apresiasi untuk itu.

Tetapi kini di kampung kelahiran saya sendiri juga terjadi perubahan niai-nilai. Dahulu orang paling suka menanggap Dalang Cita, paling bagus dan mahal. Kini, yang dianggap hebat adalah yang menaggap band, atau memutar film di alun-alun. Kesenian topeng juga berkurang. Pilihan anak muda untuk itu makin sedikit, dan penghargaan orang pun mulai luntur. Masyarakat berubah. Dalam keadaan seperti itu, peranan pusat-pusat kesenian yang dapat menjadi sarana pembinaan apresiasi kesenian daerah, terasa makin penting.

Jika sarana pembinaan apresiasi seperti ini tidak kita adakan, dan dalam pada itu kurikulum serta guru di sekolah tidak mengajarkannya kepada murid, akan berbahaya. Kita yang bangga dengan kekayaan seni kita, tiba-tiba nanti pada suatu saat mungkin akan menghadapi kenyataan yang pahit: kita akhirnya tak memiliki apa pun. Dan akan lebih parah lagi kalau kita harus belajar wayang di Australia. Ada contoh kecil. Saya pergi ke Kalimantan menonton pertunjukan mamanda. Kesenian ini mulai populer kembali di sana setelah muncul di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di situ saya sadar, bahwa TIM dijadikan ukuran daerah.

Adakah kesenian daerah kita punya daya tahan dan mampu menghadapi “serbuan” kebudayaan luar? Di beberapa daerah saya kira ada beberapa jenis kesenian yang memiliki daya tahan untuk mengadakan akulturasi, sehingga lahir bentuk kesenian yang lain. Lenong yang sering kita saksikan di TIM, sebetulnya berbeda dengan lenong dalam bentuk yang asli. Begitu juga sinden dalam wayang. Sebetulnya sinden baru muncul sebelum zaman Jepang. Wayang dahulunya adalah dalang dan wayang saja, tanpa sinden. Pada zaman Jepang peranan sinden kian penting. Tahun 1950-an lebih ketat lagi, dan Upit Sarimanah serta Titin Fatimah populer. Kalau mereka bernyanyi, mereka duduk di atas meja, lebih tinggi dari dalang dan wayangnya. Walaupun demikian, saya kini agak risau melihat mutu yang menurun, baik dalam kesenian daerah maupun nasional. Dahulu dalam bidang sastra anak-anak sekolah berbicara tentang Chairil Anwar, Pramudya Ananta Toer, atau Idrus. Tidak heran kalau anak Taman Siswa mengundang Soedjatmoko memberikan ceramah sehubungan dengan artikelnya ”Mengapa Konfrontasi”. Ramadhan KH setelah pulang dari Spanyol diundang untuk memperkenalkan sajak Lorka. Anak-anak sekolah dan gurunya berbicara tentang majalah Kisah, Mimbar Indonesia, atau Siasat. Tapi kini anak sekolah bicara soal majalah hiburan. Kini kita juga jarang mendengar seriosa. Ciptaan seperti karya Amir Pasaribu yang memasukkan unsur daerah ke dalam musiknya, juga tidak lagi terdengar. Yang kedengaran hanya musik pop. Bahkan TVRI pun turut serta dalam hal itu. Masalah ini cukup serius. Dalam seni lukis kita masih melihat Affandi, Sadali, dan Amri Yahya sebagai oprang-orang yang masih serius. Tetapi bagaimana halnya dengan beberapa pelukis lain?

Pada hemat saya, masalah ini erat sangkutpautnya dengan kebijaksanaan nasional kita dalam bidang ekonomi. Kita terbuka mengundang modal besar sehingga yang berkualitas hanyalah uang. Ada orang berkata, “habis, mereka tak mau mendengar gamelan.maunya lagu pop.”persoalannya adalah: di mana-mana orang disuguhi lagu pop. Secara tidak langsung kita dibina lagu pop. Dan akhirnya kita hanya punya apresiasi terhadap lagu seperti ini. Seharusnya ada suatu kebijkasanaan untuk ini.

Departemen P dan K membuat seminar tentang kebijaksanaan, tetapi yang dijalankan lain. Pusat pengembangan bahasa menyelenggarakan seminar politik bahasa nasional. Diputuskan, penting bahasa daerah. Tetapi dalam kurikulum 1975 yang dibuat suatu badan di bawah P dan K,tidak dicantumkan bahasa daerah. Bahkan di daerah-daerah tertentu ia dihapuskan sebagai bahasa pengantar. Ini tidak konsisten.

Daya tahan

Apa yang kita maksud dengan daya tahan? Daya tahan itu adalah pemberian kesempatan untuk memupuk apresiasi tentang kesenian daerah. Jika kita lakukan pemupukan, barulah ada daya tahan. Inilah yang belum kita perbuat, walaupun kini sudah mulai ada perhatian untuk kebudayaan daerah. Namun secara tidak langsung ada usaha untuk membuat berbagai kesenian daerah jadi pop. Sebetulnya, kalau usaha ini kita biarkan, akibatnya bisa fatal. Yang kita lakukan sebaiknya adalah perawatan, jadi harus disimpan beberapa jenis seni tari, atau lagu, yang tidak boleh diubah. Harus tetap seperti itu. Seni itu harus diajarkan kepada anak-anak, dan dipertunjukan kepada masyarakat, sehingga ada pengembangan. Memang ada yang harus populer, seperti ciptaan-ciptaan baru yang juga harus diberi kesempatan. Tapi sekarang, urusan ini tidak jelas.

Manusia Indonesia yang utuh

Orang Indonesia yang utuh, sebetulnya tidak perlu meninggalkan unsur daerah. Karena itu, saya tidak sependapat dengan Yus Badudu yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia yang sempurna adalah bahasa Indonesia yang berlafal Indonesia, tanpa kedengaran lafal daerahnya. Dalam hemat saya, tidaklah menjadi masalah jika seorang Jawa berbahasa Indonesia dengan lafal Jawa. Hanya saja, lafal daerah itu jangan keterlaluan, misalnya: “mengatakan” diucapkan dengan “mengataken.”

Sekarang nampaknya sudah ada kesadaran seperti itu. Kini saya melihat sudah banyak orang yang ingin jadi orang Indonesia utuh tanpa menghilangkan unsur daerah. Darmanto YT menulis dalam bahasa Indonesia yang baik, tapi dia tetap memperlihatkan unsur Jawa dalam sajak-sajak yang dibuatnya. Saya menafsirkan bahwa Darmanto menganggap, kejawaan bukanlah sesuatu yang dapat mengurangi keindonesiaan. Saya berpendapat, hal seperti itu tidak jadi apa, malah ia sanggup memperkaya keindonesiaannya. Dalam hal seperti inilah orang-orang dari tahun 1930-an membuat kesalahan. Sutan Takdir Alisyahbana menyerukan masa lampau, persetan dengan masa lalu. Indonesia baru harus menghirup roh Barat. Dan kalau kita lihat kesenian yang ditampilkan tahun 1930-an zaman Jepang, terdapat kecenderungan seperti yang dikatakan Yus Badudu: Indonesia adalah Indonesia  yang tidak seperti daerah mana pun.

Orang sering bertanya tentang karakter daerah. Tapi apakah sebetulnya karakter daerah itu? Stereo type seperti ini dipelajari dalam antropologi, dan stereo type seperti itu sudah diragukan. Dalam karya sastra, ia tentu tergantung pada lingkungan hidup sang seniman. Seorang Sunda yang lama di Eropa, akan melahirkan ciptaan yang berbeda dibandingkan dengan seorang Sunda yang tidak pergi ke mana-mana. Kalau Sardono tidak ke Amerika, ia tidak akan sampai pada karya-karyanya yang dipertunjukan di TIM. Dalam masalah politik orang juga berbicara tentang karakter daerah seorang pemimpin. Di sini kita akan bicara dari segi manusia, dan akan susah. Contoh paling dekat adalah Ali Sadikin. Ia sukses. Tapi sebenarnya ia bukanlah tipikal Sunda. Orang Sunda mengakui suksesnya karena dia orang Sunda. Jika tidak, akan jadi lain. Ali Sadikin suka bicara blak-blakan. Ali Sadikin itu mahiwa, lain dari yang lain, lain dari kelompoknya. Apakah itu karakter Sunda?. Kadang-kadang memang muncul pula kesundaannya.

Ada sebuah cerita. Pada suatu saat dia mencoret-coret lukisan Srihadi. Dia kira, lukisan itu mengejek Jakarta. Srihadi marah. Geger. Dewan Kesenian Jakarta turut campur tangan. Saya dan Zaini (almarhum) datang ke Balaikota. Ali Sadikin marah sekali. Dia tidak mau disalahkan. Dan karena hari itu adalah hari Jum’at, kami kemudian sembahyang di TIM. Saya dan Ali Sadikin semobil, sedangkan Zaini di mobil yang lain. Dari Balaikota sampai TIM Ali Sadikin mentertawakan dirinya sendiri. Dia bertanya, “Kok tadi bisa berbuat begitu?.  Kalau filemkan bagus ya?!” lantas saya bertanya, “Bisa marah seperti itu lagi apa tidak?” Dia bilang, “Tidak”. Sebetulnya latarbelakang peristiwa itu sepele saja. Ali Sadikin marah-marah, karena Kepala Dinas Pemugaran DKI, Ir. Tjong, tidak datang. Padahal, Ir. Tjong yang memang tahu bahwa Bang Ali bakal marah-marah, sengaja datang terlambat. Dan akhirnya kemarahan itu tumplek pada lukisan Srihadi. Ini adalah karakter si Kabayan. Hakikat si Kabayan ini populer di derah Sunda. Dia adalah tokoh yang malas, berani mempermainkan mertua, dan akhlaknya kurang baik. Walaupun orang Sunda menyukai cerita itu, tak seorang pun di antara mereka yang mau disebut si Kabayan.

Regionalism

Apakah akan muncul regionalism jika orang terlalu berlebihan menghargai kebudayaan daerahnya? Di sini perlu politik kebudayaan. Sekarang tidak jelas. Sekarang, kedaerahan dibangkitkan tanpa kebijksanaan. Di beberapa tempat kita melihat dihidupkannya kembali kedaerahan yang feodalistis. Saya kurang suka upacara adat dipopulerkan kembali di daerah Jawa Barat. Ada yang dibuat-buat, dan sebelumnya ia tidak pernah ada. Ia hanya semacam pertunjukan. Secara historis tidak benar, dan hanya untuk menyenangkan pejabat. Ketika Ratu Juliana datang ke Bandung, kakinya dicuci. Jika saya jadi Ratu Juliana, saya akan marah, karena itu berarti kaki saya kotor. Begitu juga yang terjadi dengan mengantar pejabat yang pindah ke daerah lain dengan upacara adat. Mereka yang melakukannya, mungkin merasa senang, atau merasa kangon.

Saya memang melakukan transkripsi karya-karya sastra Sunda. Tapi saya tak hendak menimbulkan regionalisme. Yang saya lakukan hanya merawatnya, mengamankan kekayaan rohani supaya jangan hilang. Saya hanya mencatat, apalagi juru pantun kini umumnya sudah berumur di atas 60 tahun, dan mereka tak punya murid lagi.

(Sumber: Majalah PRISMA, no.2 Februari 1979 Tahun VIII, hlm. 50 – 54. Sambungannya yang berjudul “Kebudayaan harus berpokok pada ilmu”  oleh Sutan Takdir Alisjahbana, insya Allah di bulan depan!)

DAUD BEUREUEH LAWAN DR VAN MOOK

                    DAUD BEUREUEH LAWAN DR VAN MOOK

Oleh A Hasjmy

Tanggal   28   Maret   1994  yang akan datang merupakan ulang tahun ke-46 gagalnya Mukta­mar Sumatera, yang bertujuan membentuk Negara Federasi   Sumatera dalam rangka usaha menghancurkan Republik Indonesia Proklamasl 17 Ag­ustus 1945.

Menyambut ulang tahun tersebut, dalam tulisan ini saya akan mengangkat ke permukaan, perihal “Negara Sumatera” yang gugur dalam kandungan, karena kala itu Aceh menolak ikut serta. Rencana pembentukan “Negara Sumatera” oleh Belanda, adalah usaha terakhir untuk menghan­curkan Republik Proklamasi 17 Agustus 1945. Sebelum itu, Belanda telah berhasil mendirikan Negara Indonesia Timur, Negara Madura, Negara Jawa Timur, Negara Pasundan di Jawa Barat, dan sebagainya. Acehlah satu-satunya wilayah Republik Indonesia yang tidak dapat ditaklukkan Belan­da. Hatta Tanah Aceh menjadi “modal” dalam rangka merebut dan memerdekakan kembali daerah-daerah yang telah dijadikan “negara boneka” oleh Belanda lewat tangan antek-anteknya orang Indonesia, seperti Tengku Mansur di Sumatera Timur. Abdul Malik di Sumatera Selatan, Raden Kartalegawa orang Pasundan di Jawa Barat,  Sukowati di Indonesia Timur dan sebagainya.

         Bukan Mimpi

Pada waktu itu, tanggal 17 Maret 1948, sebuah pesawat terbang militer Belanda melayang rendah di atas Kota Banda Aceh (waktu itu bernama Koetaradja) ibukota Daerah Modal Re­publik Indonesia (nama kebanggaan .yang diberikan Presiden Pertama Re­publik Indonesia, Soekarno, waktu bulan Juni 1948 berkunjung ke Aceh). Kapal terbang tcrsebut menjatuhkan sepucuk surat undangan yang dimuat dalam kaleng yang terpateri rapi. Surat undangan itu ternyata ditujukan kepada Mayor Jenderal Teungku Muhammad Daud Beureueh-, Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Antara lain berbunyi:

Ke hadapan

Yang Mulia Gubernur Militer Aceh di

Koetaradja

… Itulah sebabnya, maka saya merasa boleh memulai menggerakkan untuk mengundang wakil-wakil segala daerah Sumatera buat limit serta dalam satu Muktamar Sumatera yang akan berlangsunq di Medan pada tanggal 28 Maret 1949.

Negara “Sumatera Timur”   akan merasa sebagai suatu kehormatan untuk menerima perutusan Tuan sebagai tamu selama itu.

Yang diundang ialah Aceh, Tapanuli, Nias, Minangkabau, Bengkalis, Indragiri, Jambi, Riau, Bangka,   Belitung,   Sumatera   Selatan, Lampung, dan Bengkulu,

Terlepas dari segala perbedaan politik, saya menyatakan pengharapan saya, supaya Aceh juga akan menyuruh suatu perutusan mewakilinya pada Muktamar pertama dari suku-suku bangsa Sumatera ini

Pembesar-pembesar di Sabang telah diperintahkan untuk menyambut per­utusan Tuan dan mengawalnya ke Medan dengan kapal terbang.

Tengku Mansur yang menamakan dirinya ”Wali Negara SumateraTimur”  mengirim surat tersebut atas perintah Dr Van Mook, Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Kalimat-kalimat “Pembesar-pembesar di Sabang telah diperintahkan untuk menyambut … (mana ada kekuasaan Tengku Mansur untuk memerintahkan Perwira-perwira Belanda di Sabang, yang bukan bahagian Sumatera Timur), membuktikan bahwa di belakang Tengku Mansur berdiri Dr Van Mook.

Untuk membahas surat Tengku Mansur, Mayor Jenderal Tengku Mu­hammad Daud Beureueh, mengadakan rapat khusus pada tanggal 20 Maret 1948. Agenda rapat ialah:

  1. a) menerima ajakan Tengku Mansur,
  2. b) memproklamirkan Aceh sebagai sebuah Republik Islam,
  3. c) tetap menjadi bahagian Republik Indonesia yang diproklamirkan tang­gal 17 Agustus 1945.

Pada awal rapat dimulai, para peserta-rapat minta ayat (a) dihapus dari agenda rapat. Pendeknya, mereka tak setuju menerima ajakan Tengku Mansur.

Yang dipertimbangkan dalam rapat maraton yang memakan waktu lama itu ialah agenda point (b) dan (c) yang masing-masing banyak pendukungnya.

Setelah hamplr pukul 22.00 Mayor Jenderal Teungku Mu­hammad Daud Beureueh, sebagai ketua rapat menyatakan bahwa Aceh tetap menjadi bagian Republik Proklamasi 17 Agustus 1945.

Harian Semangat Merdeka yang terbit tanggal 23 Maret 1948 mengumumkan pernyataan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo seperti berikut:

“Perasaan kedaerahan di Aceh tidak ada lagi Sebab itu, kita tidak bermaksud membentuk Aceh Raya, seperti Tapanuli Raya, Bengkulu Raya, Bangka Raya dan lain-lain, yang kemudian menjadi “negara bahagian” dari “Nega­ra Pederasi Sumatera. Karena itu, yang  ada di Aceh hanya semangat Republikein.

Sebab itu juga, undangan dari Wali Negara Sumatera Timur” kita pandang sebagai tidak ada dan karena itulah tidak kita balas…”

Dengan penentangan dan penolakan Aceh terhadap Muktamar Sumateranya Dr Van Mook lewat Tengku Mansur,   maka   gagallah   muktamar tersebut dan “Negara Federasi Sumatera” gugur dari kandungan nafsu Van Mook

Penolakan terhadap usaha pecah belah  Dr Van  Mook,   adalah modal Aceh yang amat penting untuk menyelamatkan Republik Indonesia Proklamasi 17 Agustus 1945, seperti yang pernah saya lukiskan dalam serangkum sajak termuat dalam Buku September Berdarah, yatui: “Akhirnya, karena penentangan Aceh, ‘Negara   Federasi   Sumatera’   gugur dalam kandungan, gagallah politik licik Belanda, Aceh tetap menjadi Daerah Modal Republik Kesatuan Indonesia, tidak pernah dijamah kami, tentera kolonial Belanda waktu agresi pertama di masa agresi kedua.”

Harapan saya, semoga angkatan sekarang, juga angkatan-angkatan yang akan datang, tidak melupakan jejak sejarah masa lalu.

*Prof. A.Hasjmy, Ketua Umum MUI dan LAKA Daerah Istimewa Aceh serta mantan Gubernur Aceh.

( Sumber: Harian Serambi Indonesia, Senin, 21 Maret 1994 hlm.4).

#Penyalinan ulang artikel sejarah ini atas usaha T.A. Sakti.