Jejak Aceh di Senggora – negara Thailand

Jejak-jejak Aceh di Senggora

Catatan dari Bangkok (habis)

“KITA ini orang Tenggara. Kita itu orang Tenggara,” ka­ta Yusmar Yusuf penuh semangat ketika membentangkan makalahnya dalam se­minar Pertemuan Kerjasama Melayu-Islam Asean di Hotel Chaleena Bangkok, Thailand 28 Maret sampai 4 April. Yusmar dengan bersemangat sekali hendak membuktikan kebesaran “bangsa” Melayu Asia Tenggara .

Menurut doktor dari Pusat Pengkajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu Universitas Riau itu, budaya Melayu pada hakikatnya adalah sebuah persekutuan “tamadun” bangsa-bangsa yang mendiami bagian tenggara Asia, Melayu adalah tamadun yang besar. Cuma saja bangsa-bangsa Asean tidak pernah mengarifi-hal tersebut sebagai “laman” ekspresi tamadun bangsa Melayu Tenggara yang telah salin bersalin nada sejak dari keperkasaan Sriwijaya, Siam, Ligor, Cham, dan lain. Bukti geografls menunjukkan penyebaran Melayu berkisar hampir seluruh Asean, ketika kita bicara tentang orang-orang Muslim di Mindano, orang Pattani di Thailand, di Kepulauan Andaman, atau or­ang Cham di Kamboja. Menurut Dr Arong Suthasasana, salah satu kehebatan orang Melayu adalah mereka pindah melalui laut, sehingga terdapat orang-orang Melayu diwilayah kepulauan dan pesisir. “Ini telah membentuk sebuah kesatuan peradaban yang besar dan saling terkait antara satu dengan lainnya,” kata Guru Besar dari Chulalongkorn Uni­versity Bangkok itu.

Mungkin dari sanalah, maka kabarnya pada 1605 serombongan orang-orang “Melayu” dari Aceh bertolak ke utara, lalu mendarat di sebuah tempat, sebelum mereka melakukan jalan kaki mencari tempat yang cocok untuk sebuah kehidupan. Konon, di Thailand yang sekarang ini, pada masa itu ada sebuah negeri yang bernama Senggora, terletak di bagian pantai timur Thai menghadap ke Laut China Selatan. Ke sanalah diperkirakan sebanyak 40 perahu orang Aceh yang kemudian mendarat di bagian barat. “Salah seorang di antara mereka bernama Datok Monggul alias Sulaiman.” kata Sawai Na Pattalung, mencoba merekonstruksikan catatan sejarah Senggora dengan “petualangan” orang Aceh dalam menghindari “huru hara” di negerinya. Sang pengkisah Sawai Na tidak bisa berbahasa Inggris, sehingga ketika wawancara de­ngan Serambi, dia menggunakan seorang penerjemah, Bounmi.

Sawai Na Pattalung adalah keturunan kesembilan dari Sultan Sulai­man Shah yang disebutkan tadi. Itu sebabnya dia bisa berkisah dengan piawai tentang leluhurnya. Sultan Su­laiman memiliki tiga anak, masing-masing Mustafa, yang pemah penjadi penguasa negeri dan diangkat sebagai Gubemur Chaiya. Anak keduanya ber­nama Hussen, menjadi gubemur di Pat­talung. Semua negeri ini berada diThailand bagian selatan. Sedangkan anak terakhirya Hassan, menjadi Panglima Angkatan Laut Kerajaan Ayudhya, kerajaan Siam masa lalu yang berpusat di utara yang di kemudian hari menyerang dan mengalahkan Pattani dan Senggora. Memang semua keturunan Sultan Sulaiman menjadi orang-orang penting di Thailand kemudian hari. Beberapa menteri dalam kabinet Thailand moderen dari waktu ke waktu juga termasuk orang-orang keturunan .Raja Sulaiman. Sawai Na Pattalung sendiri, kini masih menjabat sebagai Penasihat Wakil Perdana Menteri Thailand dan Penasihat Senator untuk Urusan Dalam Negeri di Bangkok, meskipun dia menetap di Hatyai, tak jauh dari kota Songkhla yaitu nama baru Senggora yang pernah diperintahi oleh Sultan Sulaiman.

Di Songkhla, 60 km dari Hatyai, kini didirikan sebuah monument, sekaligus menjadi makam Sultan Sulaiman dan  keturunannya. Namanya Budhist Muslim Friendship Paviliun, di bawah naungan sebuah yayasan dimana pelindungnya adalah Princes Phakreu Yong Jaiyut dengan ketuanya adalah Sawai Na Pattalung sendiri. Bangunannya juga merupakan paduan arsitektur Melayu dan Thai (Budhist) dengan konstruksi bertingkat, di atas tanah seluas 10 hektar.

Kenapa harus ada perpaduan an­tara Budhist dengan Muslim di monu­men tersebut? “Itulah gambaran bagaimana Muslim dan Budhist bisa bersatu.” katanya. Juga menyangkut historis sang tokoh. Seperti diceritakan Sawai Na (69 tahun) bahwa monumen itu memang harus demikian. Sebab, meskipun Sultan Sulaiman pada awalnya seorang Islam dan berasal dari Aceh, pada generasi kelimanya mereka menjadi penganut Budha sampai sekarang. “Penting bagi saya bisa mendapatkan keterangan di mana kampung asal Sultan Sulaiman dan Dato Monggul di Aceh.” katanya melalui penerjemah Bounmi.

Bounmi, lelaki berusia empat puluhan yang hari itu menjadi pener­jemah Sawai Na adalah seorang manajer di sebuah pusat hiburan dan ho­tel di kota wisata Hatyai, Thailand ba­gian selatan, milik Pattalung. Jika saja Yusrizal Ibrahim tidak menyimpan alamat Bounmi, mungkin perjumpaan dengan pengusaha hotel dan hiburan terkemuka ini tidak pemah terjadi dalam rangkaian perjalanan budaya kami sembari menghadiri seminar di Bangkok itu. hari.

Tapi bagi Sawai Na, keberhasilan membangun Budhist Muslim Friend­ship Paviliun di Songkhla bukan akhir dari obsesinya untuk mengenang dan melestarikan sejarah tokoh besar seperti Sultan Sulaiman. “Sebab, yang jauh lebih penting ialah di mana asalnya moyang saya itu di Aceh, ketika mereka berangkat sebanyak 40 perahu ke mari dahulu kala,” katanya. Ada rasa rindu tercermin dari wajah Sawai Na, meskipun dia tidak pernah tahu bagaimana sesungguhnya Aceh, kecuali yang samar-samar terlihat dalam peta.

Di mana negeri yang disebut-sebut Sawai Na Pattalung sebagai asal moyangnya di Aceh? Ketika ini ditanyakan berkali-kali, lelaki yang kelihatan lebih muda dari usia sebenamya ini hanya menyebut: “Sale….Sale…..” Mungkinkah yang dimaksud Sawai Na itu Kerajaan Samudra Pase yang diperintah oleh Raja Sultan Malikussaleh? Bounmi menatap wajah Sawai Na. Ya, dia mengatakan negeri asal datoknya dari Sale, dan dia amat merindukan negeri itu.

Kalau kelak diketahui di mana letak Sale yang disebutkan itu, apakah Sawai Na Pattalung akan “pulang” ke sana? “Bukan sekadar pulang. Tapi saya akan membangun kampung itu, dan di sana akan ada monumen sebesar dan sekokoh yang ada di Songkhla tapi dengan identitas Aceh yang kental, sehingga jelas itulah negeri tempat asal seorang raja yang amat berjasa mem­bangun Senggora yang kemudian berubah menjadi Songkhla, berabad-abad lalu,” katanya.

Songkhla berasal dari Senggora yang kotanya didirikan oleh Dato Monggul pada awal abad 17 M. Setelah Dato Monggul mangkat, maka. anaknya Sulaiman mengganti tempatnya. “Pada tahun 1624 Sulaiman mengisy-tiharkan (memproklamirkan) Senggora sebagai sebuah kerajaan bebas de­ngan dinamakan Negeri Melayu Seng­gora dan menggelarkan dirinya sebagai. Sultan,” tulis Chapakla.

Catatan bahwa Senggora didirikan oleh Dato Monggul pada awal abad 17 sesuai dengan keterangan Sawai Na Pattalung yang menyebutkan kedatangan orang-orang .Aceh itu pada tahun 1605. Juga apa yang disebut­kan di sini sesuai dengan catatan penyerangan raja Siam Ayudhya dari utara terhadap negeri-negeri Melayu di Selatan, termasuk Songkhla.

Chapakia juga mencatat bahwa pengganti Sultan Sulaiman di Songklha alias Senggora adalah Mustafa, pada tahun 1688. Ini sesuai dengan apa yang diceritakan Sawai Na Pattalung bahwa Sulaiman punya tiga anak, antara lain Mustafa meski disebut-sebut lelaki ini menjabat sebagai salah seorang gube­rnur. Barangkali benar juga bahwa dari jabatan gubernur inilah ketika ayahnya mangkat, dia dinobat sebagai raja sebagaimana ditulis oleh De Choisi.

Makam Sultan Sulaiman itulah yang sekarang menjadi Budhist-Mus­lim Ferensdship Paviliun, yang dibangun oleh Sawai Na Pattalung, sebagai simbol “persekutuan” budaya, dalam sebuah bingkai sejarah Senggora.

Persekutuan budaya atau tamadun juga tercemin dalam ide pembangunan Budhist Muslim Freindsllip ?Paviliun. Ketika seorang tokoh disosokkan, di sana melekat dua sisi: Melayu dan Is­lam. Tetapi sejarahlah kemudian yang mencatat, kemelayuan seorang Sultan Sulaiman telah melahirkan “kultur” lain Budhist yang kemudian menyatu dalam sebuah peradaban dan sejarah gemilang: sejarah Melayu Senggora.

Ada kemungkinan pula, selain Kerajaan Samudra Pasai, Sale di Aceh yang dimaksudkan Sawai Na Pattalung adalah Saree sebuah tempat di kaki Seulawah,, yang tak jauh dari pusat peradaban Aceh masa lampau; Seulimum. Saree menjadi Sale karena; lidah orang Thai sulit mengucapkan huruf ‘r”.

*barlian a.w

(Sumber: Serambi Indonesia, Jum’at, 10 Mei 2000, hlm. 1 dan 11).

Iklan