TENTANG SEJARAH NASIONAL ITU-wawancara TEMPO dgn Prof.Dr.Sartono Kartodirdjo

TENTANG SEJARAH NASIONAL ITU

 

Tercantumnya tiga nama, Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poeponegoro, dan Nugroho Notosusanto, pada sampul muka buku Sejarah Nasional Indonesia, bisa menimbulkan salah pengertian bahwa kami bertiga yang menulisnya. Saya sendiri sebenarnya kurang menyetujui pencantuman nama itu. Kami bertiga adalah pengurus dari Panitia Penulisan Buku Sejarah Nasional yang dibentuk pada akhir Seminar Sejarah Nasional II DI Yogya, Agustus 1970. Saya, waktu itu, ketua umum panitia tersebut, Bu Marwati ketua I, dan Pak Nugroho ketua II.

Struktur organisasi penyusunan buku yang enam jilid itu dibagi menjadi enam seksi sesuai dengan banyaknya jilid yang direncanakan. Tiap-tiap seksi membawahi 4 hingga 5 orang anggota penulis. Ada penulis yang terus ikut sampai buku selesai ditulis. Ada penulis yang diganti karena sakit atau sebab yang lain. Tiap seksi menulis satu jilid.

Sebagai ketua umum saya berkewajiban membuat kerangka acuan, sebuah kerangka umum untuk seluruh penulisan. Pelaksanaannya terserah pada ketua seksi masing-masing. Kerangka itu kemudian diterbitkan oleh Gramedia, tahun 1983, berjudul Historiografi Indonesia.

Sebagai ketua, saya juga sudah membuat kata pengantar umum untuk seluruh penulisan itu. Sayang, hanya dimuat pada jilid I. Jadi, mereka yang tidak membeli seluruh jilid, tak tahu hubungan antar jilid, jika tak membaca kata pengantar yang hanya ada pada jilid I itu. Membaca kata pengantar itu penting, terutama untuk mendapatkan gambaran yang mendasari  buku Sejarah Nasional Indonesia itu apa. Seharusnya, kata pengantar itu dimuat di setiap jilid.

Selain itu, saya juga menyumbang tulisan utuk jilid IV, terutama mengenai Abad XIX tentang “tanam paksa” dan sebagainya. Saya juga memberi sumbangan pada jilid V mengenai perkembangan sosial ekonomi tahun 1990-1930-an.

Yang jelas, saya tak turut menulis jilid VI, buku yang direvisi itu. Sejauh ini tanggung jawab saya mengenai jilid VI adalah karena kedudukan saya sebagai ketua umum. Pimpinan langsung untuk semua jilid adalah ketua seksi masing-masing, pada jilid VI ketua seksinya Nugroho Notosusanto.

Kembali pada soal kerangka umum itu, ternyata banyak yang tak mengindahkannya. Saya kan sudah memberi kerangka umum mengenai masalah periodisasi. Pembagian atas enam jilid saya rasa selaras dengan garis besar periodisasi. Tapi tema pokok yang saya ajukan—dan ini sebenarnya teori atau tesis yang saya ajukan—mengapa kami memberi nama buku sejarah Indonesia itu sebagai Sejarah Nasional Indonesia. Nama itu menunjukkan suatu kesatuan dan menunjukkan satu unit dari penulisan yang menjadi enam jilid itu.

Yang harus ditonjolkan dari enam jilid itu adalah benang merah kesatuannya. Umpamanya, kami tidak menulis mengenai Budi Utomo lalu Serikat Islam satu persatu. Melainkan mengenai pergerakan isu secara keseluruhan, bagaimana terbentuknya suatu elite baru. Dan lewat organisasi-organisasi itu mereka menemukan identitasnya yang baru. Organisasi-organisasi itu memberikan arena politik baru tempat mereka bisa berkomunikasi, dari yang semula hanya merupakan suku-suku yang terpisah.

Dalam Seminar Sejarah Nasional I di Yogya tahun 1957, saya sudah mengemukakan itu, bahwa yang harus kita lihat itu adalah wawasan nasio-sentris itu. Yakni bagaimana seluruh masalah nasional Indonesia itu merupakan pengalaman kolektif bangsa melalui proses integrasi. Ini yang sesungguhnya menjadi pendobrak, yang menjadikan kita ini satu bangsa. Dan ini yang ingin dituliskan dalam Sejarah Nasional Indonesia itu.

Kalau kita baca SNI jilid I-VI, muncul selera saya masalah proses integrasi masih kurang menonjol. Jadi, tiap-tiap jiid SNI masih terasa berdiri sendiri-sendiri. Dan memang tidak mudah untuk menyusun sesuai dengan kerangka yang saya inginkan.

Mengapa kita kadang-kadang menghindari satu penulisan sejarah kontemporer? Ini karena secara inheren hal-hal yang potensial menimbulkan kontroversi akan muncul. Karena masih sering sejarah kontemporer menyangkut tokoh-tokoh atau pengikut yang masih hidup.

Jarak yang masih cukup dekat menimbulkan persoalan agak besar. Saya, umpamanya, menulis peristiwa 100 tahun lalu mengenai pemberontakan Banten. Saya merasa cukup jauh jaraknya. Saya tak punya kepentingan apa-apa, baik pada pihak pemberontak maupun yang diberontak. Kata professor yang menguji tesis saya itu: Kalau nama Anda dihilangkan, orang tak akan tahu kalau penulisnya orang Indonesia.” Saya tak tahu apakah ini hinaan atau pujian, tapi paling sedikit komentar professor saya itu merupakan bukti bahwa saya sudah mencoba mendekati objektivitas.

Saya ingin mengatakan seobjektif mungkin. Saya tak ingin membuat evaluasi terhadap sejawat Nugroho Notosusanto yang sudah meninggal. Itu terasa kurang etis buat saya. Tapi, itu tadi, kendala yang dihadapi sejarawan kontemporer berlaku untuk siapa saja, termasuk saya, termasuk Pak Nugroho. Penulis sejarah kontemporer menghadapi kesulitan membuat jarak terhadap zaman, situasi, apalagi terhadap tokoh-tokohnya.

Kalau toh itu ditulis, dan menjadi konstroversi, karena orang membaca tulisan mengenai sejarah kontemporer tidak sebagai pengkaji sejarah secara ilmiah. Tapi mereka membaca sebagai pengikut partai dengan aliran politik atau ideologi tertentu. Nah, kalau sejarah sudah diserahkan kepada kaum partisan, semua sudah dinilai, disusun dengan perspektif partisan itu, ya sukar dikatakan  objektif.

Soal Bung Karno, kenyataannya, tokoh itu dan penulisan sejarahnya, kalau dimuat dalam buku sejarah masih menimbulkan atau masih bersifat kontrovesial. Ini karena masih cukup banyak orang bertindak sebagai partisan—tidak seperti sejarawan—dalam menghayati ilmu sejarah. Kalau seorang menghayati sejarah sebagai partisan, bagaimana bisa menghindari bahan pelajarannya itu secara kritis dan objektif?

Contoh paling kontroversial adalah surat-surat Bung Karno ke Belanda yang menjelaskan bahwa ia sudah minta ampun dan mohon dibebaskan—surat-surat September 1933. Saya masih menyangsikan. Ini aneh. Surat-surat itu disimpan di Belanda sudah diketik. Tapi tak ada tanda tangannya. Tentu harus cukup ada penelaahan yang tuntas, menurut metode sejarah.

Mengenai perkawinan Bung Karno dengan nyonya Hartini, waktu itu sangat menghebohkan. Kita perlu menempatkan peristiwa ini dalam konteks kepribadian Bung Karno. Bagaimana lagi, kenyataannya memang begitu. Sebagai catatan, saya kenal baik dengan keluarga Suwondo Fogel, suami pertama Hartini. Saya masih ingat ketika mereka manten anyar di Salatiga, dan ketika merayakan kelahiran anak pertamanya.

Kalau kita menganggap kehidupan Bung Karno sebagai sejarah, di satu pihak tak mungkin mengabaikan jasa-jasa perjuangannya. Di pihak lain, juga perlu menyatakan kekurangan-kekurangan dan kegagalan-kegagalannya.

Jangan dilupakan bahwa menghayati ilmu yang juga pokok adalah kejujuran. Mengingkari kekurangan Bung Karno sesuatu yang tak jujur. Begitu juga mengingkari kelebihannya.

Lalu mengenai masalah revisi. Persepsi pihak media massa mungkin perlu diluruskan. Bagi sejarawan, masalah menulis kembali—saya tidak memakai kata revisi—merupakan suatu proses yang wajar saja. Ada pepatah yang mengatakan bahwa setiap generasi wajib menulis sejarahnya sendiri.

Gambarannya begini. Saya, misalnya, duduk dalam panitia UNESCO dengan 25 anggota. Saya memberi pengarahan untuk menyusun Scientific History of Human Time. Kami berkumpul tahun 1980. Sampai sekarang penulisannya belum selesai.

Kami mendesain kembali penulisan yang didesain tahun 1950 itu. Mengapa? Ini karena generasi tahun 1950 memiliki persepsi dan wawasan yang berbeda dengan generasi tahun 1970. Karena kondisi yang dihadapi berbeda.

Jadi, setiap generasi wajib menulis sejarahnya. Sejarawan tak bisa lepas dari ikatan zaman dan ikatan kebudayaannya. Bagi sejarawan, wajar saja kalau ada revisi. Apalagi kalau ada alasan lebih kuat, yakni karena menimbulkan kontroversi.

Masalahnya, seperti yang saya alami dalam panitia UNECSO itu, timbul perdebatan. Yakni, ketika kami bertemu di tahun 1980, hanya berdebat mengenai apakah sejarah itu direvisi atau ditulis kembali—dengan versi baru. Saya pikir, menurut pertimbangan yang amat logis, membuat revisi lebih repot dibandingkan membuat versi baru.

Yang membuat revisi repot, karena terlalu terikat dengan teks yang ada. Usul saya, lebih baik buat saja versi baru. Ini karena revisi akan menghadapi kesulitan dalam membuat pendekatan. Seperti kita ketahui, ada ungkapan, “Memermak jas lungsuran lebih sulit dibanding membuat jas yang baru.”

Saya pribadi kemudian menulis dua jilid buku mengenai sejarah nasional Indonesia. Yakni periode tahun 1500-1900 dan tahun 1900-1942, dengan judul Pengantar Sejarah Indonesia Baru (penerbit Gramedia). Tahun 1981-1982, waktu saya cuti di negeri Belanda, jilid I saya tulis dengan kerangka acuan saya sendiri. Ini bisa lebih mudah saya kontrol. Saya merasa bisa mengimbangi hal yang saya rasa kurang. Saya bisa memuaskan selera saya.

Saya berhenti sampai periode tahun 1942 karena mata saya tak awas lagi. Untuk menulis buku sejarah umum seperti itu, bacaannya harus banyak. Dan itu tak bisa saya lakukan lagi kini kendalanya sangat besar, saya tak bisa membaca lagi secara cepat. Pada kata pengantar jilid I, saya juga menekankan masalah integrasi. Bagaimana dalam wilayah Indonesia ini dari abad ke abad, secara lambat laun terjadi proses integrasi. Ini tema pokoknya.

Integrasi itu penting. Misalnya, mengapa perjuangan revolusi kita berhasil. Itu karena adanya dua proses perjuangan yang saling memperkuat: fisik dan perjuangan diplomasi. Dua-duanya memperkuat dan masing-masing mempunyai dampak hingga akhirnya perjuangan berhasil 100%. Tesis saya masih seperti itu. Juga dalam karangan saya mengenai Linggarjati, misalnya, bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan oleh ABRI. Waktu itu, di Salatiga, Jawa Tengah, ada 17 organisasi pemuda, ada yang punya senjata dan ada yang tidak, seperti Hizbullah, Laskar Rakyat, Bepri, Pesindo, dan Bambu Runcing. Tergabung waktu itu organisasi pemuda dari yang paling “kanan hingga paling “kiri”.

Kalau hal itu sekarang tak terasa dampak dan hasilnya. Itu tetap penting dalam jalannya sejarah revolusi. Juga, untuk membuktikan bahwa perjuangan rakyat Indonesia adalah perjuangan yang demokratis.

Gambaran orang tentang historiografi atau penulisan sejarah itu kadang keliru. Tak perlu buku sejarah Indonesia menyajikan semua fakta yang terjadi di Indonesia. Yang diperlukan adalah seleksi. Dan yang pokok, kriteria seleksi itu apa. Buat saya sudah jelas. Kriteria seleksinya itu derajat integrasi, yang pada suatu periode bisa dicapai bangsa Indonesia. Itu cara sederhana menuliskan sejarah nasional kita. Dengan cara seleksi itu memang banyak yang tak akan tercakup, misalnya peranan Natuna, Mentawai, atau Selayar bagaimana?

Tapi penduduk di tenpat-tempat yang tak termuat dalam penulisan itu tak usah kecil hati. Kita itu satu nation. Gambaran dalam sejarah itu adalah gambaran pengalaman bersama.

 

 

 

DARI CANDI PRAMBANAN

SAYA lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, 15 Februari 1921. Selagi belum berusia setahun, saya dibawa orang tua saya ke Candi Prambanan yang terkenal dengan Rorojonggrang-nya itu. Ini karena kaul ayah saya, Tjitro Sarojo, pegawai pos di zaman Belanda. Ayah bernadar, bila panuwun-nya untuk memperoleh anak laki-laki terkabul, bayi itu akan dibawanya mengunjungi Prambanan. Berangkatlah orang tua saya dari Wonogiri ke Prambanan dengan kereta api, bersama saya si bayi merah.

Mungkin ini sebab pertama yang mempengaruhi bawah sadar saya menyukai sajarah. Orang tua saya sendiri mendambakan saya menjadi dokter. Ini tak mungkin saya laksanakan, karena saya punya penyakit takut melihat darah.

Tentu tak hanya melihat Prambanan itu awal cinta saya pada sejarah. Sewaktu kelas 3 HIS—sekolah di zaman Belanda setingkat SD—pada bulan puasa saya berlibur selama sebulan di rumah kakak saya yang menjabat kepala sekolah desa Borobudur. Setiap pagi selama sebulan, sendirian saya jelajahi Borobudur. Candinya, sungai, bukit dan sawah-sawah di sekitarnya. Kadang saya duduk-duduk menikmati pemandangan dari tingkat atas Candi. Dari atas candi saya lihat sekeliling bangunan candi yang indah dengan sungai Progo dan elo-nya.

Pengetahuan sejarah saya waktu itu tentu masih minim. Saya masih kurang menyadari apa yang saya lakukan, tapi itu barangkali yang membuat saya memasuki bidang garap sejarah. Saya sudah melihat begitu banyak bangunan, Borobudur, misalnya, bermakna bagi sejarawan Indonesia dan bagi umat manusia.

Di sekitar tempat saya lahir sendiri tak banyak dijumpai peninggalan sejarah seperti di Yogya itu. Ada satu monument di Wonogiri sebenarnya, yang cukup penting, yang terletak di tepi Begawan Solo. Di sana ada bukit kecil yang disebut sebagai Gunung Giri, tempat yang dikeramatkan penduduk. Banyak orang berziarah di situ karena ada makam-makam. Tapi yang penting adalah sebuah batu besar di situ. Menurut cerita rakyat setempat batu itu adalah tempat Sunan Giri berhenti sejenak—dari perjalanan jauhnya menyebarkan agama Islam—untuk shalat dan berdoa. Sampai sekarang batu itu tetap didatangi orang sambil membawa nasi dengan gudangan (sayur urap) serta ayam panggang. Sewaktu kecil saya pernah ikut berziarah.

Saya tak tahu dan baru tahu kemudian setelah membaca salah satu majalah, nama majalahnya TBG, di museum Jakarta, bahwa di belokan di kaki Gunung Giri ditemukan prasasti juga. Prasasti itu dulunya adalah tempat penyeberangan orang dari  Barat—dari Pajang—ke Jawa Timur.

Waktu duduk di HIS (1927-1934) di Wonogiri, saya berkali-kali melihat untu bledheg (gigi halilintar). Saya baru tahu kemudian bahwa itu adalah mikrolit, mata panah terbuat dari batu yang digunakan orang pada zaman prasejarah.

Itulah peninggalan prasejarah yang saya kenal waktu kecil.

Lalu, waktu kecil, saya juga sudah mendengar cerita perjuangan Pangeran Sambernyowo (Mangkunegoro I). Di lingkungan keluarga kami ada kenangan khusus tentang pangeran Sambernyowo berupa pusaka, jenisnya tombak, namanya Kiyai Bruwang. Ceritanya, salah seorang nenek moyang kami pernah menyelamatkan Pangeran Sambernyowo waktu dikejar Kompeni. Pangeran Sambernyowo diseberangkannya di Bengawan Solo dengan selamat. Sebagai penghargaan, tombak Kiyai Bruwang dihadiahkan kepadanya. Kini Kiyai Bruwang ada pada Pak Sujarwo (bekas menteri kehutanan).

Kesejarahan itu mungkin meresap pada saya juga karena berulang kali saya ke makam nenek moyang. Leluhur saya  dari garis laki-laki pernah ada yang menjadi Punggawa Keraton Kartasura (Amangkurat IV). Menurut cerita ibu saya, kakek saya itu menjabat sebagai ronggo. Suatu hari kakek cekcok dengan seorang pengawas perkebunan Belanda (orang Belanda). Lalu, entah bagaimana terjadinya, Belanda itu ditemukan terbunuh. Otomatis, kakek saya dicari polisi. Untuk menghindari perkara dengan polisi Belanda, ia melarikan diri ke Jawa Timur.

Ibu saya, dari garis nenek, turun temurun adalah putra petinggi di Wonogiri. Namanya Mangunprajoko. Keluarga dari pihak ibu merupakan cikal bakal, orang pertama yang membuka daerah, dan tinggal serta memimpin di Wonogiri. Karena itu, waktu nenek saya meninggal, yang mengantar ke kuburan ya mbludag, banyak sekali.

Ketika sudah duduk di MULO, setingkat SMP, di Solo, saya senang ketika dalam ujian akhir saya mendapat angka tertinggi untuk sejarah: sepuluh. Saya makin tertarik pada sejarah. Saya masih ingat buku pertama yang saya beli, judulnya Vander Landsche Geschledenis (sejarah tanah air) terbitan J.B. Wolters di Batavia. Saya pesan khusus, dalam uang gulden yang ada pada waktu itu nilainya tinggi, seringgit (2,5 gulden). Saya tak ingat nama pengarang buku sejarah itu.

Saya lulus dari sekolah guru di Xaverius di Muntilan, Jawa Tengah, tahun 1941, setelah belajar lima tahun. Setelah lulus saya menjadi guru tiga bulan di sekolah Schakel di Muntilan juga. Murid-murid sekolah ini anak-anak yang sudah lulus sekolah ongko loro. Sekolah ongko loro itu jalur sekolahnya anak pribumi. Schakel itu yang menghubungkan ke jalur sekolah Belanda. Baru setelah lulus dari Schakel, bisa masuk MULO, bertemu dengan mereka yang dari HIS.

Sesudah tiga bulan saya lalu pindah ke Salatiga, ke sekolah HIS swasta yang sudah “disamakan.” Gaji saya waktu itu 40 gulden, karena belum penuh. Kalau sudah penuh, 75 gulden. Untuk kos, saya membayar 10 gulden. Itu termasuk mahal karena saya guru. Kalau buat pelajar lebih murah, 6 gulden.

Tak lama kemudian pecah perang. Saya datang di Salatiga November 1941, 8 Desember 1941 Hawai diserang.

Suasana sudah mulai tidak normal. Anak-anak sudah harus dibawa ke tempat bersembunyi kalau ada tanda bahaya. Tanggal 15 Februari Singapura jatuh ke tangan Jepang, dan 1 Maret Jepang masuk ke Jawa. Suasana perang, lampu-lampu di jalan dikerudungi supaya tak begitu terang. Teman-teman saya menajdi sukarelawan menjaga kota. Saya sendiri tak bisa ikut karena mata tak terlalu awas dan fisik tak terlalu kuat.

Akhirnya Jepang datang, dan sampai juga ke Salatiga. Berderet-deret tentara diangkut dengan truk. Tak terdengar tembak-menembak dengan Belanda.

Barang-barang kebutuhan sudah mulai sulit. Nasi sudah mulai dicampur dengan jagung. Sebelumnya, dengan 10 gulden orang sudah bisa makan baik selama sebulan. Setelah Jepang datang, dengan 10 rupiah hidup sudah agak sulit. Saya waktu itu indekos pada seorang pensiunan sersan KNIL. Pensiunan sersan KNIL gajinya dua kali lipat gaji saya. Ia hidup cukup makmur, makan baik, rumah besar.

Saya mengalami kekecewaan pertama dengan masuknya Jepang karena bahasa Belanda dilarang. Bahasa Belanda langsung diganti dengan bahasa Melayu atau Indonesia. Guru-guru kelas ongko loro hanya tahu sedikit bahasa Belanda. Dengan berubahnya zaman, mereka setengahnya menertawakan kami yang guru berbahasa Belanda ini. Di antaranya ada yang kalau ketemu saya memberi salam dalam bahasa Jepang sambil mengejek: “Komban wa, (selamat malam) dan “konnichi wa” (selamat siang), dan lain-lain. Saya hanya diam saja. Pada zaman Jepang, lulusan sekolah Belanda dianggap rendah.

Teman-teman di bawah saya terus ditarik ke Jakarta, mengajar di Si Hang Dako (Sekolah Guru) di Jatinegara, kebanyakan menjadi guru olah raga. Pada zaman Jepang, kedudukan olah raga mulai dipentingkan.

Teman-teman guru dan pegawai banyak yang kursus bahasa Jepang. Ada guru negeri ditarik ke Jakarta. Saya dari sekokah swasta, tak pernah mendapat giliran. Juga, saya malas untuk mulai dari awal. Fisik saya juga tak terlalu kuat untuk masuk ke berbagai barisan. Waktu teman-teman guru banyak yang masuk PETA, saya ditawari ditarik ke jawatan lain. Waktu ayah saya meninggal, kalau mau bisa saja saya bekerja di Postel di Solo. Tapi saya tak tertarik, karena saya masih senang menjadi guru. Saya juga pernah mendapat kesempatan di kepolisian. Saya juga tak tertarik. Pada zaman Jepang itu, saya berpikir bahwa bahasa adalah sesuatu yang berguna untuk memahami kebudayaan lain. Karena tak ada kegiatan lain akhirnya saya mendalami bahasa Jepang dengan belajar sendiri.

Waktu itu saya kenal dengan salah seorang guru, namanya lupa, orang Cina. Ia jebolan THS (kini Institut Teknologi Bandung). Ia mengajar di SD Cina. Kami sering omong-omong, dan sepakat menempuh ujian bahasa Jepang bersama. Kami sama-sama tak pernah ikut kursus. Nasihatnya pada saya, “Kalau Pak Sartono ingin lulus ujian, hafalkan saja sebanyak-banyaknya huruf Kanji.” Saya lalu menghafalkan banyak huruf Kanji.

Aneh, dari semua yang ikut ujian, hanya kami berdua yang lulus. Akhirnya, saya yang tak pernah ikut kursus bahasa Jepang malahan diserahi tugas untuk mengelola kursu resmi bahasa Jepang di Salatiga. Banyak muridnya, salah seorang di antaranya adalah Nyonya Tjokropanolo (istri bekas Gubernur DKI).

Bulan-bulan kacau dari Agustus sampai November atau Desember 1945, sekolah tutup semua. Selama menganggur, saya banyak bergerak di organisasi pemuda. Waktu itu ada 17 organisasi. Sudah ada GPII, Hisbullah, Pemuda Putri Indonesia, Ikatan Pelajar Indonesia (IPI), Pesindo, juga Angkatan Muda Katolik Republik Indonesia (AMKRI). Saya ketua AMKRI di Salatiga dan sekitarnya, yang waktu itu menjadi ibu kota Karesidenan Semarang.

Lalu, dibentuk badan koordinasi organisasi pemuda seluruh Karesidenan Semarang. Saya dipilih menjadi koordinator dari 17 organisasi pemuda. Saya dipilih karena saya dikenal sebagai penghuni lama di Salatiga.

Salah satu kesempatan yang sangat menyenangkan adalah merayakan Hari Kartini, 21 April 1946, dalam suasana merdeka. Sebagai ketua, saya membagi-bagi tugas  pada organisasi. Yang menyenangkan, waktu itu, kesatuan nasional masih utuh, masih bulat. Semua organisasi, kecuali pembagian pekerjaan yang cukup rapi, semua bisa kerja sama dengan kerukunan, tak terjadi hal-hal yang tak mengecewekan.

Saya suka menghimpun buku-buku yang disita dari rumah-rumah Indo, dan dikumpulkan di kantor Komite Nasional Indonesia (KNI). Sekretarisnya teman saya, namanya Soewondo—suami pertama Nyonya Hartini Soekarno. Akhirnya Pak Soewondo mengajak saya mengatur perpustakaan KNI. Banyak buku filsafat, tapi kebanykan bacaan popular. Ada yang dari rumah seorang dokter yang punya buku tiga dinding rumah. Tadinya, buku-buku itu ditumpuk saja di kantor Laskar Rakyat. Setelah aksi militer Belanda, nasib buku-buku itu tak saya ketahui lagi.

Sebagai bujangan, saya mempunyai teman-teman kumpul-kumpul sesama bujangan. Waktu itu di antara teman saya adalah Pak Adi Sucipto—yang kemudian gugur dan namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Yogyakarta.

Setelah ada perjanjian Linggarjati, sebagai ketua badan koordinasi pemuda, saya diminta memberi sambutan di hadapan massa di Ambarawa. Hadir di alun-alun Ambarawa sekitar seribu orang. Penduduk waktu itu sepi, Cina-Cinanya mengungsi. Ini peristiwa kedua yang cukup berkesan yang saya alami. Tugas badan koordinasi di Semarang waktu itu adalah memberikan penjelasan mengenai persetujuan Linggarjati. PNI dan Masyumi, misalnya, tak setuju dengan perjanjian itu. Saya salah seorang yang setuju. Dengan kesediaan Belanda melakukan perundingan, sudah menunjukkan pengakuan Belanda secara de facto. Meski pengakuan secara de jure belum.

Tahun 1947 Salatiga diserbu Belanda. Malam gelap gulita, toko banyak dirampok. Saya berada di belakang Hotel Kalitaman. Malam itu saya mesti menentukan, mengungsi atau tidak. Saya waswas karena saya menjadi ketua organisasi pemuda. Yang menjadi hantu waktu itu adalah Nevis, dinas rahasia Belanda. Kalau sampai terpegang itu, bisa mati saya. Maka, untuk amannya saya mengungsi.

Saya bergabung dengan warga kampung. Kami ke luar kota, menyeberang sungai, dengan jalan kaki selama 4-5 hari. Saya lalu ketemu dengan beberapa orang murid saya dan mereka menawari untuk pergi sama-sama ke Yogya atau ke Solo. Saya terima.

Kaki rasanya sakit sekali. Sehari hanya bisa menempuh 30 km. Sebelum sampai di Yogya, beberapa hari saya menginap di Solo, di tempat saudara.

Akhir Juli 1947 sampai tahun 1950 saya tinggal di Yogya. Saya masih sempat melayat Pak Adi Sucipto yang pesawatnya ditembak Belanda. Pelayatan waktu itu amat sederhana. Jenazah—kalau tidak salah ada tiga jenazah—disemayamkan dulu di Rumah Sakit Bethesda. Lalu diiring ke makam Pakuncen. Iring-iringan pelayat menuju ke makam tak begitu panjang, hanya terdiri dari keluarga, teman dekat, dan beberapa dari AURI.

Di Yogya, saya memberi les privat bahasa Indonesia pada Nyonya Urip Sumoharjo, dua kali seminggu. Beliau ini lingkungan gaya hidupnya Eropa, bahasa Belanda. Begitu proklamasi, bahasa Indonesianya tak memadai.

Saya menikah dengan Sri Kadaryati. Waktu saya menikah usia saya 27 tahun dan istri saya 20 tahun. Kami bertemu di pengungsian tahun 1945. Lalu kawin 6 Mei 1948. Mungkin karena itu saya mendapatkan julukan dalam majalah Sarinah sebagai “Pengantin Revolusi”, bukan pahlawan revolusi. Keluarga mertua saya mengungsi di Muntilan.

Dari perkawinan itu kami dikarunia dua orang anak, satu laki-laki, Nimpuno, dan satu perempuan, Roswita. Dari keduanya saya mendapat tiga cucu.

LAHIRNYA SEORANG SEJARAWAN

SAYA mulai kuliah di Fakultas Sastra UI  jurusan Sejarah tahun 1950. Waktu itu banyak yang kuliah lagi ke Jakarta. Sebelumnya, selama 10 tahun, saya hanya mondar-mandir dalam kegiatan politik yang cukup mengasyikkan. Setelah saya ke Jakarta, saya melepaskan kegiatan politik.

Waktu itu dosen saya Profesor Berling untuk filsafat, Profesor Bernet Kempers untuk sejarah kuno dan arkeologi, dan tentu juga Profesor Resink untuk sejarah Indonesia. Guru yang paling saya kagumi adalah Profesor Burger. Saya kira perhatian saya terhadap aspek sosial ekonomi dalam sejarah dibangkitkan oleh kuliahnya. Saya menikamti sebagian besar dari kuliah Profesor Burger, sebab beliau mempersiapkannya baik-baik.

Kuliah para Profesor itu dalam bahasa Belanda. Itu lebih menguntungkan saya dibandingkan dengan rekan mahasiswa yang jauh lebih muda. Malahan skripsi sarjana saya tulis dalam bahasa Belanda di bawah bimbingan Beerling. Tema skripsi itu adalah perbandingan antara masyarakat Abad Pertengahan dan Modern di Eropa, dengan ilustrasi filsafat sejarah.

Terus terang, jurusan sejarah kami di Jakarta waktu itu sangat lemah. Pada suatu waktu di UI saya praktis sendirian. Teman lain pada pindah ke arkeologi. Saya masih ingat, suatu hari Profesor Resink bertanya kepada saya, “Mengapa tidak pindah saja ke fakultas sosial ekonomi?” Saya tak menyesal tidak mengikuti nasehatnya. Saya berkeyakinan bahwa suatu waktu, di antara 80 juta atau 90 juta orang Indonesia (waktu itu) paling sedikit harus ada satu sarjana yang mengkhususkan diri dalam sejarah Indonesia. Saya lulus sebagai sarjana sejarah pertama di Indonesia Februari 1956.

Kebetulan, satu hal yang perlu dilaksanakan setelah saya menjadi sarjana adalah menulis sejarah nasional. Terutama untuk kebutuhan sekolah, dan kedua, untuk mengganti sejarah warisan Belanda. Waktu itu tahun 1957, diselenggarakan Seminar Sejarah Nasional I. Saya mendapat kesempatan menjadi pemberi saran. Setelah saya, banyak orang masuk jurusan sejarah.

Penulisan sejarah menjadi penting sejak tahun 1950. Saya sendiri mendapat kesempatan melaksanakannya. Meskipun tidak selalu berhasil, saya mendapat kesempatan mewujudkannya. Terutama mewujudkan buku Sejarah Nasional Indonesia yang memiliki posisi penting.

Berbicara tentang sejarah, pengetahuan sejarah, terutama sejarah nasional, diperlukan untuk membangkitkan kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah melandasi kesadaran nasional. Kesadaran nasional adalah pangkal dari seluruh nasionalisme idiologi pembentukan bangsa. Terserah umum menyadari atau tidak, ini bisa dilacak secara logis.

Pada kesempatan yang lain, dalam suatu seminar, saya katakan kita masih menghadapi kendala-kendala. Yakni, adanya konsepsi yang salah mengenai kesejarahan, misalnya, banyak teman wartawan menanyakan pada saya “Pak Sartono, sebagai seorang sejarawan penyusun Sejarah Nasional Indonesi, bagaimana perasaan Bapak menghadapi revisi buku itu?” Pertanyaan seperti ini timbul dari pikiran seolah-olah kalau buku sejarah direvisi, langsung si penulis terkena. Lho, ini kan salah. Revisi itu biasa sekali. Semua sejarah pasti ditulis kembali. Setiap generasi lazim menulis kembali sejarah dengan wawasan generasi itu yang tentu saja lain dengan generasi sebelumnya. Revisi itu amatlah wajar.

Tak ada penulisan sejarah yang final. Ada penulisan seperti zamannya rezim Stalin di Soviet yang mengatakan penulisan sejarah harus begini. Tapi begitu Stalin meninggal, penulisan sejarahnya dirombak. Bahkan nama Stalin harus dibuang.

Tentu repot kalau sejarah ditulis dengan cara seperti itu. Anggapan yang mendasari itu kekanak-kanakan. Seperti anak SD, yang mengira bahwa apa yang ditulis dibuku ya seperti itu realitasnya. Tidak diketahui bahwa semua sejarah penulisannya subjektif. Artinya, melekat dalam tulisan itu cirri-ciri si subjek. Ciri generasi, ciri kelompok, tidak mungkin lepas sama sekali.

Dari sudut lain, kalau tidak ada konsepsi yang salah,pasti tidak ada gedung-gedung dirobohkan seperti sekarang. Kontradiksi yang terjadi kini di Indonesia adalah di satu sisi ingin memajukan parawisatanya, tapi di pihak lain, karena tak ada wawasan historis, gedung-gedung kuno dibongkar. Ini kontradiktif. Mana ada turis mau lihat gedung-gedung baru saja?

Saya baru belajar sepuas-puasnya waktu dikirim belajar oleh Departemen P dan K ke Yale University, Amerika Serikat, tahun 1962.Waktu berangkat ke Amerika, istri saya ikut, anak-anak saya titipkan ke neneknya.

Saya memilih disiplin ilmu lain seperti ilmu politik, antropologi, dan sosiologi. Jadi , bukan sejarah. Saya ingin menyerap lebih banyak metodologi interdisiplinernya. Saya lulus MA tahun 1964.

Disertasi saya berjudul The Peason Revoult of Banten in 1888, Its Condition, Coursen Seguel: A Case Study of  Social Moverment in Indonesia. Sebelum berangkat ke luar negeri, saya memang berniat menulis tentang gerakan sosial. Antara lain mengenai Budi Utomo. Tapi promotor saya, Profesor Sukanto, meninggal. Lalu saya dengan ada orang Jepang yang menggarap masalah Budi Utomo. Tapi saya juga berminat mempelajari tentang Ratu Adil (Messeanisme) dalam sejarah Indonesia. Waktu itu saya juga berurusan dengan penulisan sejarah nasional.

Dengan berbagai alasan tersebut, ternyata semuanya tercakup dalam disertasi yang saya tulis mengenai Pemberontakan Petani Banten. Di sini ada gerakan sosialnya, sejarah nasionalnya, masalah Messeanismenya. Juga tercakup peranan bangsa sendiri. Petani punya peranan, tapi tak pernah disebut dalam sejarah yang ditulis oleh sejarawan Belanda. Padahal dalam antropologi dan ilmu politik, petani menjadi pusat. (Penyalin dari TEMPO:  saya ongkos salin pada rental (T.A. Sakti).

 

(Sumber: Majalah TEMPO, 24 Oktober 1992 hlm. 44 – 66).

Catatan: Beberapa foto yang dipasang TEMPO(insya Allah akan saya scan nanti)

1. Di ruang kerjanya: terlihat beliau sedang membaca dengan ‘alat membaca khas beliau’. “saya tidak menyesal memilih sejarah”.

2. Bersama Presiden Soeharto ketika mendapat penghargaan, tahun 1990.

3. dst..dst…..

  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s