Lee turun, Goh Naik. Apa Bedanya ?

Lee turun, Goh Naik.

Apa Bedanya ?

 

Goh Chok Tong, perdana menteri baru Singapura berjanji akan

memakai sepatunya sendiri. Banyak yang sangsi, karena Lee

Kuan Yew akan duduk sebagai menteri senior.

Lampu warna-warni menghiasi hampir semua kompleks pertokoan. Sementara itu, sampai pukul 11 malam pekan lalu, taman-taman kota masih dipenuhi muda-mudi yang lagi pacaran. Tempat makan model Pecenongan, yang di sana namanya Food Street, penuh sampai pagi.

Namun jangan dihubungkan itu semua dengan turunnya Perdana Menteri Lee Kuan Yew (67 tahun), dan naiknya Goh Chok Tong (49 tahun) sebagai pemimpin baru, yang akan dilangsungkan Rabu pekan ini. Kemeriahan semua pusat pertokoan itu adalah untuk menanti Natal. Tak kelihatan sehelai bendera, umbul-umbul, atau spanduk pun yang mengucapkan selamat pada Goh. Konon, jauh sebelumnya sudah ada pesan dari Goh, agar peristiwa pelantikannya tak usah dibesar-besarkannya.

Namun, di samping pesan Goh, bila peristiwa ini tak diramaikan, mungkin karena suksesi ini berjalan tanpa huru-hara. Orang tak perlu cemas. Tanyalah dari supir taksi sampai penjaga hotel, mereka yakin semuanya bakal beres. Atau, karena demikian mulusnya pergantian penguasa ini, orang pun berani bertaruh, bahwa tak ada perubahan apa pun, hingga tak perlu ucapan selamat. “Tak akan ada perubahan. Dari PAP ke PAP juga. Buat apa ramai-ramai?” kata seorang pejabat pemerintah yang tak mau disebutkan identitasnya. PAP, People Action Party atau Partai Aksi Rakyat, sudah menguasai kota itu sejak ia merdeka pada 1963, dan waktu itu masih menjadi bagian Malaysia.

Bila dicari, apalagi di kalangan anak muda, sebetulnya reaksi pada suksesi ini ada juga. Misalnya, Low Thia Kiang, Sekretaris Partai Buruh yang juga penguasa pabrik alumunium. Ia tak puas dengan dunia politik Singapura yang penuh tekanan. “Tapi mau apa lagi?”, katanya.

Yatiman Yusof, sekretaris parlemen yang PAP, melihtanya dari sudut lain. Proses suksesi itu katanya, sudah lama dibicarakan. Bahkan sudah sejak 1976 Lee Kuan Yew mengatakan akan mundur. “Kalau orang sudah ngomong sepuluh tahun untuk soal yang sama, ya membosankan,” katanya dalam bahasa Inggris bagus.

Sudah sejak 1984 orang mulai bicara dengan lepas tentang peralihan dari Lee ke Goh. Pada pesta kemenangan PAP dalam pemilu terakhir , 4 September 1988, Goh memberi ancar-ancar. “Saya akan jadi Perdana Menteri dalam dua tahun lagi,” katanya kepada wartawan. Lalu Goh mengatakan lagi, waktunya antara akhir November dan minggu pertama Desember 1990. Itulah yang terjadi.

Susunan kabinet baru pun tak mengejutkan. Akhir Oktober Goh menyebut Ong Teng Cheong dan B.G. Lee – anak Lee Kuan Yew – sebagai Wakil Perdana Menteri. Lee muda diberi keistimewaan: ia akan mewakili sebagai pejabat Perdana Menteri apabila Goh berhalangan. Alasan Goh sangat mudah. Kalau ia hanya berpikir untuk tiga atau lima tahun saja, katanya, yang dipilihnya adalah Ong Teng Cheong atau Tonny Tan. Namun, ia mesti berpikir jauh, demi masa depan negara. Susahnya, dengan pilihan itu, banyak yang menganggap ia tak lebih “menghangat kursi.”

“Bagi saya, B.G. Lee adalah mitra, bukan saingan,” kata Goh di muka komprensi kadet PAP, pertengahan November lalu. Ucapan itu justru memancing spekulasi bahwa di antara mereka memang ada rivalitas. Bahkan ada yang mengatakan, dalam kabinet pun sekarang sudah ada dua kubu. Goh punya konco, sementara B.G juga punya geng seperti Wong Kan Seng (menteri luar negeri), Mah Bow Tan, dan George Teo. Ada juga yang “netral”. “susah untuk mengatakan dengan jelas ini orang Goh, itu orang Teo,” kata seorang wartawan senior Singapura.

Keputusan paling penting tapi juga sudah bisa ditebak adalah pengangkatan Lee Kuan Yew sebagai senior minister. Menurut protokoler, pangkat itu adalah tertinggi kedua, setelah perdana menteri. Lee juga akan tetap sebagai sekjen PAP. Tradisi di mana-mana, seperti Partai Tory di Inggris, bos adalah perdana menteri. Di sini baru uniknya politik Singapura. Lee tetap sekjen, selagi Goh perdana menteri

Namun, menurut Goh, tadinya ia ingin mengambil alih jabatan sekjen itu. Ia memutuskan mempertahankan Lee pada jabatan itu karena ia memerlukannya sebagai “penjaga Gurkha” untuk Singapura. Rumah para pejabat Singapura memang dijaga tukang pukul Gurkha yang dikenal setia. “Mr Lee unik. Ia bisa mempengaruhi siapa saja yang diinginkannya,” kata Goh pada para wartawan Indonesia tentang mentornya itu. Di dalam kabinet ia akan menjadi seorang “konsultan”.

Untuk kalangan oposisi, kedudukan Lee yang masih tetap menentukan jelas buruk. Kata Chiam See Tong, Ketua Singapure Democratic Party (SDP), keadaan baru baik kalau Lee benar-benar mundur. Chiam, satu-satunya tokoh oposisi sebenarnya di parlemen, menganggap Lee sebagai sosok politikus yang hidup di masa-masa sulit. Ia hidup di zaman kolonial Inggris, pendudukan Jepang, dan perjuangan melawan komunis. Tipe pemimpin seperti itu tak kenal kompromi, kata Chiam.

Kondisi sekarang tak cocok untuk tipe pemimpin seperti Lee. Chiam mengakui prestasi Lee yang luar biasa. “Ia adalah George Washington-nya Singapura,” kata pengacara yang bertubuh atletis yang berkantor di ruangan kecil milik orang India itu. Stabilitas politik diakuinya sebagai jasa Lee. Demikian juga dengan sistem hukum yang baik dan pemerintah bersih korupsi. Namun, Lee, menurut Chiam, sangat paternalistik. PAP disebutnya partai yang telah menyiapkan segala tatanan.

Masalahya, sejalan dengan perkembangan Singapura, kepemimpinan paternalistik mungkin tak cocok lagi. “Kami memerlukan perubahan gaya. Tak bisa lagi dipertahankan sebuah pemerintahan yang tak punya toleransi terhadap pandangan berbeda,” kata Chiam menegaskan.

Ia menaruh harapan besar pada Goh, yang dalam penilaiannya gayanya bisa diterima rakyat. Goh lebih lunak, komunikatif, dan selalu mencari consensus. Ia berharap oposisi bisa berperan.

Namun, J.B. Jeyaretnan, sekjen Worker’s Party, punya pandangan lain. Ia pesimistis terhadap suksesi ini. “Saya kira tak akan hanya perubahan. Apalagi Lee tetap jadi sekjen PAP. Jadi, apa bedanya?” kata Jeya.

Sebenarnya, perbedaan itu diam-diam sedang direncanakan. Parlemen kini sedang menyiapkan sebuah RUU yang akan memberi kekuasaan lebih besar pada presiden. Berdasarkan pada RUU tersebut, presiden akan dipilih oleh rakyat. Masih diperdebatkan apakah langsung seperti di Amerika atau sistem perwakilan seperti di Indonesia, atau bagaimana. Yang sudah pasti, presiden terpilih akan punya hak veto untuk pengangkatan pejabat kunci dan juga penentuan bujet.

Segera saja timbul spekulasi bahwa Lee akan menempati posisi itu, secara tak langsung. Menurut rencana, Wee Kim Wee, presiden sekarang, akan menjadi presiden pertama yang dipilih, sedangkan Lee akan jadi yang kedua. Memang kontradiktif terdengarnya, sementara ada pemilihan, tapi siapa yang terpilih sudah ditentukan.

Karena itulah pihak oposisi, terutama Chiam, tak begitu antusias terhadap perubahan itu. Diakuinya, bila UU itu sudah berlaku, pemilihan presiden akan menjadi sesuatu yang sangat penting artinya. Namun, kalau yang terpilih seorang yang paternalistik seperti Lee, dan partai berkuasa mendominasi segala hal seperti PAP sekarang, sementara rakyat akan tetap apatis.

Keadaan akan lebih runyam lagi kalau yang terpilih sebgai presiden berasal dari bukan partai penguasa. Keadaannya akan repot karena segalanya akan macet.

Akhirnya, yag ditunggu adalah janji Goh, sebagaimana yang dikatakannya pada International Herald Tribune dua pekan lalu, untuk memerintah dengan lebih demokratis dan lebih lunak.

Setalah Pertemuan

Tengah Malam

 

Goh Chok Tong sudah memberikan kesan sederhana pada awal pelantikannya. Ia lebih suka memilih suatu ruang kecil di City Hail. Di tempat itulah, 31 tahun lalu, Lee Kuan Yew dilantik pertama kali. Tampaknya pergantian pimpinan ini seperti mengganti pilot dengan copilot (lihat wawancara). Menengok sejarah keduanya, memang Lee jugalah yang mendorong Go memasuki dunia politik.

Goh, kini 49 tahun, pada mulanya ingin jadi ahli ekonomi. Karier pertamanya memang sebagai Direktur Eksekutif Orient Lines. Di tangan Goh perusahaan perkapalan negara itu berkembang pesat. Tak sia-sia ia mengantungi master ekonomi pembangunan dari William College, Massachusetts, AS.

Melihat bakat Goh, orang nomor satu di Singapura mendorong Goh terjun ke gelanggang politik. Goh, yang semula ogah-ogahan, entah kenapa, akhirnya setuju.

Pada 1976, Goh jadi anggota parlemen, mewakili partai PAP (Partai Aksi Rakyat). Hanya setahun dikursi itu, Goh terpilih menjadi Menteri Keuangan. Dua tahun  berikut sudah pindah lagi ke kursi Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Sementara itu, posisinya di PAP pun ikut meroket: sebagai asisten kedua Sekjen PAP, orang ketiga terpenting di partai berkuasa itu.

Pada 1980, Goh “dites” lagi, sebagai ketua komite pemilihan selang dan persiapan pemilu 1980. Ternyata, ia lulus dengan pujian. Prestasi sebagai manajer kampanye partai membuat Goh dipercaya untuk mengepalai tim seleksi calon pemimpin generasi ketiga PAP.

Yang kemudian memberikan nilai plus bagi Goh adalah caranya yang unik dalam menyeleksi calon. Pria berkaca mata minus itu mengundang calon-calon yang diincar secara informal, minum the di rumahnya, tiga minggu sekali. Di antara pertemuan ini Goh melirik calon yang dianggap memenuhi syarat. Kalau mereka lolos, Goh baru memperkenalkan mereka kepada anggota tim seleksi lainnya.

Dari situ Goh ditarik ke kabinet lagi, sebagai menteri kesehatan merangkap menteri pertahanan. Sementara itu, dalam partai, dari orang ketiga, ia ditarik jadi orang kedua.

Sebenarnya, dalam kelompok PAP generasi kedua, ada banyak calon kuat. Goh dikelilingi oleh enam tokoh muda lainnya. Antara lain Tonny Tan (menteri perdagangan dan industri) Ong Teng Cheong (menteri non-departemen), Suppiah Dhanabalan (menteri luar negeri dan pendidikan, Jayakumar (menteri dalam negeri) dan Yeo Ning Hong (menteri negara urusan pertahanan).

Bila akhirnya Goh yang dipilih, ada cerita tersendiri. Sekitar 1984, ketika perolehan suara PAP menurun, “kami yang muda-muda sangat prihatin,” tutur Goh, sekitar enam bulan lalu. Maka, mereka bertekad berperan di depan agar menguasai segala persoalan.

Waktu itu disepakati, di antara mereka harus ada yang berdiri paling depan. “Penentuan siapa yang akan menjadi pemimpin di antara yang muda-muda ini sangat mendesak,” ujar Goh. Akhirnya ketujuh anggota generasi kedua ini sepakat untuk bertemu di rumah Tonny Tan pukul 10.30 malam.

Goh terlambat hadir. Ia punya acara yang tidak bisa ditinggalkan, sebagai tamu kehormatan di daerah pemilihan. Rupanya, keenam rekannya sudah membuat putusan. “Kami sudah sepakat,” kata Tonny, “Kamu yang akan memimpin kami.” Saat itu Goh memang sudah di atas angin. Ia menjabat asisten pertama Sekjen PAP.

Entahlah, apakah setelah menjadi PM, Goh masih sempat menyalurkan hobinya: main tenis dan golf. Atau memberi waktu untuk keluarganya, misalnya bermain-main dengan sepasang anak kembarnya.

Setelah Kopilot Menjadi Kapten

Lee Kuan Yew tentang suksesi, Presiden Soeharto, ASEAN, dan oposisi. Wawancara Tempo dengan PM yang pekan ini menyerahkan jabatan pada

Goh Chok Tong.              

 

Alih kekuasaan di Singapura berjalan mulus. Itulah kesan para pengamat sehubungan dengan pelantikan Goh Chok Tong pada Rabu pekan ini. “Itu telah kami persiapkan sejak lima tahun yang silam,” kata Perdana Menteri Lee Kuan Yew, Senin pekan ini, ketika menerima enam wartawan Indonesia, antara lain wartawan Tempo Fikri Jufri.

Di ruang tamu istana negara, tempat wawancara bersama itu dilakukan, Lee tampak santai dan banyak tertawa. Mengenakan kemeja lengan pendek, celana dril hijau muda, dan jaket abu-abu, orang nomor satu Singapura itu kelihatan siap menjawab berbagai pertanyaan. Wawancara berlangsung lebih sebagai diskusi daripada tanya jawab. Berikut ini adalah beberapa petikannya dari wawancara tersebut, ditambah kutipan dari pertanyaan tertulis Tempo yang diajukan beberapa hari sebelumnya.

Apa yang mendorong Anda merasa siap melepaskan kendali pemerintahan pada Goh. Konsep Anda tentang kekuasaan?

 

Secara ekonomi negeri Singapura boleh dikatakan telah mencapai taraf lepas landas. Ini menyebabkan kami menghadapi dua pilihan sulit: menunggu sampai mencapai ketinggian jelajah tertentu dan menyerahkan kemudi kepada para penerus, atau serahkan kendali itu sekarang meskipun kami masih mendaki. Kalau kami ambil alternatif pertama, ada bahaya bagi kopilot. Ia tak akan punya waktu untuk merasa dirinya siap jadi pilot.

Kami akhirnya tiba pada keputusan membiarkan kopilot menjadi kapten pesawat negeri ini dan kami yang tua-tua jadi kopilotnya. Kalau saja posisi Singapura ibarat pesawat masih ada di landasan, kami tak berani melakukan itu. Untunglah, keadaan ekonomi kami sudah demikian maju sehingga kami merasa sudah tiba waktunya mengalihkan kekuasaan kepada para pemimpin generasi muda. Itulah latar belakang dari keputusan kami.

Tapi, Anda kan tahu tentang dilema suatu kekuasaan yang biasanya tak begitu mudah dilepaskan kepada orang lain. Bagaimana Anda bisa menghindari dilema tadi meskipun terdengar juga tudingan Anda telah melakukan akumulasi kekuasaan?

 

Peran saya adalah wasit dari sebuah negeri penganut ekonomi bebas. Ia harus adil, tak bisa dipengaruhi lantaran koneksi atau menerima hadiah. Tak berarti kami tak ingin melihat orang jadi kaya. Di negeri ini punya banyak orang kaya daripada para pemimpin politik. Masing-masing tahu akan perannya. Kalau orang ingin cari duit agar jadi kaya, mereka bebas bergerak di berbagai bidang mulai dari perusahaan swasta, dokter, pengacara, arsitektur, dan lain-lain.

Dilihat secara fisik Anda sehat, padahal banyak pemimpin dunia yang lebih tua dari Anda. Faktor lain apa yang mendorong Anda memutuskan pengunduran diri sekarang?

Kaum eksekutif di negara-negara maju pensiun pada usia 65 tahun, demi vitalitas dan sistem suksesi yang teratur. Saya sebenarnya sudah siap mengundurkan diri pada usia 65 di tahun 1988. Tapi, Chock Tong meminta saya tetap pada kedudukan saya supaya ia dapat mengonsolidasikan kedudukannya di kalangan para pemimpin Indonesia dan Malaysia. Sekarang ia sudah siap mengambil alih kekuasaan.

Banyak yang mengatakan Anda akan jadi menteri senior atau malah menjadi presiden. Apakah Anda berencana memainkan peranan sebagai pelindung pemerintah Goh?

 

Tugas utama saya sebagai menteri senior adalah membantu Goh memenangkan pemilu yang akan datang. Saya telah memenangkan delapan pemilu. Saya tahu bagaimana mengajukan kebijaksanaan-kebijaksanaan tak popular dengan cara tertentu sehingga menjelang pemilu rakyat menyadari itu perlu dan bermanfaat. Karena itu, mereka memilih kami lagi. Goh dan timnya akan memperkembangkan keahlian mereka dengan menghadapi berbagai pengalaman seperti itu.

Mengapa Anda menunjuk Goh dan bukan B.G. Lee sebagai pengganti Anda?

 

Saya tidak menunjuk Goh. Para menteri lebih mudalah yang memilihnya sebagai pemimpin mereka setelah memenangkan pemilu pada Desember 1984. B.G Lee tak ditunjuk sebagai pengganti saya lantaran menteri-menteri itu tak memilihnya.

Tampaknya, Anda punya suatu peraturan khusus yang dikenakan terhadap orang Melayu dan susunan etnis di Singapura. Apakah menurut Anda kebijaksanaan itu harus terus dilakukan?

 

Saya tak punya “peraturan” istimewa terhadap orang Melayu Singapura. Kalau yang dimaksudkan itu untuk menentukan persentase jumlah penduduk Melayu, sebenarnya persentase itu sekarang sudah naik dari 12% pada 1945 jadi 15% pada 1990. Jumlah itu tak akan berubah secara dramatis dalam 45 tahun mendatang. Walaupun ada perbedaan dalam angka kelahiran setiap ras, jumlah itu tak cukup besar untuk mengubah susunan masyarakat Singapura secara fundamental. Singapura adalah negeri berbilang kaum (multirasial).

Hari depan ras Melayu bergantung pada yang 190 juta di Indonesia dan Malaysia. Hari depan ras India bergantung pada 700 juta orang India di India sedangkan yang Cina bergantung pada 1,1 milyar yang ada di daratan Cina. Pendekatan yang paling baik bagi Singapura adalah tetap seperti sekarang ini dan mempertahankan harmoni dan persatuan di kalangan ras-ras itu.

Anda yang mengatakan Anda terlalu pragmatis. Anda telah memajukan ekonomi Singapura dengan cepat, tapi di balik itu sepertinya Anda kurang memperhatikan ideologi dan identitas nasional. Benarkah pendapat itu?

 

Saya yakin kalau ideologi dan identitas nasional harus berkembang dengan perlahan. Sebagai hasil percobaan-percobaan kami dan respons kami terhadap banyak masalah dan kesulitan, kami akan menciptakan suatu ideologi nasional dan identitas nasional. Kalau kedua hal itu terlalu dipaksakan, yang didapat hanyalah kegagalan.

Nampaknya, Anda pengagum Presiden Soeharto, dan berpendapat Goh bisa jadi seorang Soeharto yang tak suka banyak bicara. Tapi, Anda pintar berpidato. Apakah bisa dikatakan PM Lee sebagai kombinasi antara Soekarno dan Soeharto?

 

Wah, saya tak punya karisma seperti Soekarno yang bisa pidato berjam-jam, tanpa teks, tanpa persiapan. Saya tak memiliki stelan yang bisa menggetarkan seperti itu. Saya lebih suka menggunakan pendekatan lebih intelektual ketimbang emosional. Soekarno sering bisa tampil dari satu pidato ke pidato yang lain. Saya lebih suka mempraktekkan dulu isi pidato pertama sebelum pindah ke pidato lain.

Soeharto tak suka pidato panjang-panjang, tapi ia menyediakan lebih banyak waktu untuk berunding dengan para menteri dan penasehatnya. Sebelum mengambil keputusan, Soeharto menyediakan waktu untuk mempertimbangkannya dulu, kadang untuk waktu cukup lama. Tapi, begitu merasa yakin, ia akan melaksanakan dengan konsisten. Itulah rahasia sukses Soeharto sebagai pemimpin.

Anda sudah sekian lama memimpin dan menjadi panutan. Karenanya, apakah Goh tak akan menengok dulu pada Anda sebelum ia mengambil suatu tindakan penting?

 

Tidak, tidak. Bagaimanapun ia selalu akan menoleh ke saya kalau saya tak hadir di situ. Dia telah dan akan tampil dalam berbagai sidang, dan dia telah dan akan mengambil sendiri keputusan. Kami berdua sudah bekerja sama selama 14 tahun. Ia sudah bisa membaca apa yang ada pada benak saya. Mana mungkin kami bisa bekerja sama kalau tujuan kami tak seiring? Hanya saja cara untuk mencapai sasaran bisa berubah, bergantung pada keadaan.           

Hubungan Anda dengan Presiden Soeharto nampak semakin akrab walaupun latar belakang masing-masing berbeda. Betulkah?

 

Ada kesamaan pendekatan antara saya dan dia, di samping perbedaan-perbedaan antara kami yang menurut saya superfisial. Saya tak bisa bicara tentang Soeharto lantaran saya bukan dia. Kami memiliki rasa pendekatan yang sama baik dalam melihat suatu masalah maupun dalam menilai orang lain. Saya rasakan itu dan karenanya kami bisa menjalin hubungan tanpa perlu banyak bicara. Itulah yang menurut saya hubungan nonverbal.

Dia seorang yang baik dan saya bisa mengandalkannya setiap kali kami mencari penyelesaian atas suatu masalah. Saya percaya Presiden Soeharto menganut cara pendekatan yang sama. Presiden Soeharto tak selalu menggunakan argumentasi logis, tapi ia lebih bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Kami berdua bukan orang teori dan tak begitu percaya pada itu. Saya berkesimpulan cara Soeharto memecahkan persoalan sama dengan yang saya selalu lakukan. Goh Chock Tong juga termasuk orang yang tak terlalu percaya pada teori.

Namun, ada kesan bahwa Andalah yang sering menyesuaikan diri dengan Soerhato…

 

Dia ramah. Dia bisa menerima saya bukan perokok, karena mata dan hidung saya sakit kalau kena asap. Tapi, mungkin tak banyak orang yang tahu dalam pertemuan “empat mata” Presiden Soeharto bisa berbicara banyak, dan itu terasa lebih efektif. Chok Tong adalah orang tipe demikian.

Banyak yang beranggapan Cina di Asia, termasuk etnik Cina, memainkan peranan dominan terutama di sector ekonomi. Komentar Anda?

 

Saya anggap itu mitos. Kalau orang Singapura berunding dengan wakil-wakil perusahaan negara RRC, jangan dikira itu berjalan mulus dengan sendirinya. Cina yang sedang menggalakkan modernisasi punya kepentingan sendiri. Juga kalau saya bertemu dengan orang keturunan Cina Filipina, mereka juga lain karena gaya mereka lebih mirip Amerika, Cina Malakapun, yang sudah ratusan tahun tinggal di sana, amat berbeda dengan orang Cina di negeri lain. Persamaannya, mereka yang di mana pun sangat mementingkan kelaurga, hidup hemat, dan mengutamakan pendidikan.

Bagaimana persepsi Anda tentang Asia Tenggara seandainya tercipta perdamaian di Kamboja? Mungkinkah itu menampilkan wajah Asia yang kohesif dengan mengikutsertakan negara-negara Indocina dalam suatu sistem regional seperti ASEAN?

 

Saya kira persatuan ASEAN perlu dipertahankan. Kita belum perlu memasukkan Vietnam, Kamboja, dan Laos ke dalam ASEAN. Sekalipun demikian, kita mesti membantu mereka karena, menurut perhitungan saya, Vietnam membutuhkan sekitar 10 tahun untuk mengubah ekonomi komando jadi ekonomi pasar bebas. Kita tidak boleh melupakan Burma. Ia bagian dari Asia Tenggara, dan memiliki posisi strategis sebagai jembatan dengan Asia Selatan.

Dua hari lagi Anda akan menyerahkan tongkat komando pada Goh. Apakah di hari baik itu pemerintah akan membebaskan tahanan politik Chia Thy Poh yang sampai sekarang ditempatkan di Pulau Santosa?

 

Dia diizinkan datang ke kota untuk bekerja. Tapi, harap diketahui, dia itu komunis. Kami terus memantaunya tanpa disadarinya. Ketika gembong komunis Malaysia, Chin Peng, menyerah Desember tahun lalu, Cina amat kecewa. Untuk gampangnya, boleh saja ia menuntut saya. Di Singapura, apabila ada seseorang menuduh orang lain komunis, itu berarti pencemaran nama, suatu perbuatan melanggar hukum. Jadi, kalau Cina mau, ia bisa saja mengadukan saya ke pengadilan.

Setelah Suksesi,

Demokrasi?

 

Cerita tentang oposisi di Singapura mungkin tak bisa dibanggakan sebagaimana pembangunannya. Satu-satunya oposisi di negeri pulau itu adalah Singapore Democratis Party (SDP), yang baru 10 tahun umurnya. Chiam See Tong, ketua SDP, satu-satunya wakil oposisi di parlemen sekarang.

Chiam, bapak satu anak yang sehari-hari bekerja sebagai pengacara, baru berhasil menembus parlemen lewat SDP pada tahun 1984. “Saya memperjuangkan demokrasi,” katanya di kantornya yang sempit, di pertokoan India di kawasan High Street.

Sebenarnya, ada oposisi lain di parlemen. Yakni Dr. Lee Siew Choh, dari Worker’s Party (WP). Hanya saja, Dr. Lee oposisi kelas dua. Ia duduk di parlemen karena jatah yang diberikan pada oposisi. Memang ada ketentuan, bila pihak oposisi hanya berhasil meraih kurang dari tiga kursi, akan ada anggota oposisi yang diangkat sampai jumlah kursi oposisi menjadi tiga. Anggota istimewa ini kemudian disebut sebagai Non-Constituency Members of Parlement (NCMP).

NCMP disebut anggota parlemen kelas dua karena mereka tak boleh memberikan suara untuk hal yang berkaitan dengan undang-undang atau anggaran. Jika misalnya ada mosi tidak percaya terhadap pemerintah, NCMP juga tak boleh ikut ambil bagian.

Lee Kuan Yew memang keras terhadap oposisi. Ia tak segan menuntut oposisi yang dianggapnya membahayakan. J.B. Jeyaretnam, Sekjen WP, adalah salah satu contoh korban sikap itu.

Pada 1981, setelah 15 tahun parlemen dikuasai hanya oleh PAP, Jeya berhasil duduk di lembaga itu. Pada pemilu 1984 ia masih bisa bertahan. Namun, dua tahun kemudian ia ditangkap, dituduh membuat pernyataan palsu dan memindahkan dana partai secara tidak jujur. Ia bukan cuma kehilangan kursi di parlemen, tetapi juga sempat dilarang melanjutkan prakteknya sebagai pengacara. Baru setelah ia mengajukan banding ke Privy Council  di London, hak prakteknya dipulihkan.

Namun, Agustus lalu, ia kena denda hampir Rp 300 juta karena pengadilan memutuskan ia mencemarkan nama baik Lee Kuan Yew. Ceritanya, dalam sebuah kampanye pemilu di Bedok, Agustus 1988, ia menghubung-hubungkan Lee dengan kematian The Cheang Wan, bekas menteri pembangunan nasional yang dinyatakan secara resmi mati karena bunuh diri.

Karena denda itu, Jeya hampir bangkrut. Untung, anggota WP membuka sumbangan, lewat media dua bulanan milik mereka, The Hammer. Karena hukum Singapura tak membenarkan soal mencari dana, Low Thia Kiang, Sekretaris WP, didatangi dan dibawa ke kantor polisi pada pukul 1.00 dini hari. Ia diinterogasi soal pengumpulan dana.

Ada tokoh oposisi yang terpaksa pindah ke Amerika, yakni Francis Seow, anggota WP yang diangkat sebagai NCMP bersama Dr. Lee Siew Choah. Desember tahun lalu ia diadili dengan tuduhan menghindari pajak. Seow terkena denda 19.000 dolar Singapura. Artinya, ia harus pergi dari parlemen karena anggota parlemen yang terkena denda lebih dari 2.000 dolar harus mundur.

Seow memang sudah lama diincar. Sebelumnya ia sempat 27 hari ditahan berdasarkan Internal Security Act (ISA). Berdasarkan ISA itu, pemerintah punya hak menahan orang tanpa diadili jika dianggap membahayakan keamanan negara.

Banyak korban ISA, antara lain Chia Thye Poh, bekas anggota Barisan Sosialis (BS), yang dituduh menjadi anggota partai komunis dan berniat menggulingkan pemerintah lewat aksi kekerasan. Sampai 19 tahun lamanya ia ditahan, pemerintah tak mengeluarkan pernyataan apa pun. “Baru tahun 1985 Menteri Dalam Negeri menjelaskan penahanan saya karena ada pertanyaan di parlemen,” tutur Chia, yang kurus dan berkaca mata tebal ini.

Akhirnya, Mei tahun lalu ia dibebaskan dengan syarat. Yakni harus tinggal di Pulau Santosa, kawasan wisata yang luasnya 3. Km2. Ia menempati sebuah rumah kecil 624 meter, bekas rumah jaga di Fort Siloso bekas benteng Inggris. Ia menyewa ruangan itu dari pemerintah, 90 dolar Singapura sebulan. Memang cukup nyaman, ada listrik, telepon, TV, kulkas kecil, dan tempat tidur. “Namun, ini ibarat kurungan. Biar dari emas juga tetap kurungan,” kata Chia yang sehari-hari sibuk jadi penerjemah. Boleh naik ke daratan Singapura cuma harus balik ke pulau begitu hari gelap.

Adakah masa yang lebih cerah di bawah Goh?

                                                                   Yopis Hidryst (Singapura)

 

( Sumber: Majalah TEMPO, 1 Desember 1990, hlm. 72 – 75).