Suluk, Melepas Diri dari Urusan Duniawi ( 1 )

                                           Suluk,  Melepas Diri dari Urusan Duniawi     ( 1 )

Suluk merupakan ibadah menyerahkan diri kepada Allah SWT dengan melepaskan diri dari segala urusan duniawi. Pengikut suluk dilarang memakan makanan yang mengandung darah dan tidak diperkenankan berhubungan dengan masyarakat luar.  Bagaimana ibadah untuk dijalankan. Berikut ini ikuti laporan  Koresppnden Serambi  Suprijal dan Darul Qutni  CH  menelurusi kegiatan suluk di sejumlah Pesantren Aceh Selatan. Laporan ini dirangkum Zainun Yusuf.

Selama bulan suci Ramadhan ada kegiatan ibadah khas di sejumlah Dayah (pesantren) di Aceh. Sejak awal bulan Ramadhan, pria dan wanita terutama kalangan usia lanjut dengan bekal ala kadarnya ramai-ramai mendatangi Dayah guna mengikuti ibadah yang dinamakan Suluk. Di Aceh Selatan misalnya,  Dayah Darussalam Labuhan Haji dan pesantren Daruss’adah Kota Fajar  Kluet Utara. Pengikut suluk semakin bertambah dari tahun ketahun.
Ibadah suluk dilakukan menyendiri pada bilik dengan kain putih. Orang sering menyangka suluk sama dengan kalut, padahal keduanya terdapat perbedaan, di samping memang ada persamaan. Suluk rangkain kegiatannya dibimbing yang dinamakan Mursyid dan masih diperkenankan bicara dengan pengikut suluk lainnya walaupun terbatas pada hal penting saja.
Sedangkan kalut, ibadah menyendiri total dalam sebuah tempat melakukan ibadah kepada Allah SWT tanpa berbicara sepatah katapun . bila ada keperluan, komunikasi lewat surat. Peserta kalut ini tidak sembarang orang yaitu hanya  mampu dilakukan oleh orang yang telah memiliki pengetahuan agama cukup tinggi dan orang tersebut tidak lagi terpengaruh dengan kesenangan dunia ini. Sehingga peserta kalut ini sangat jarang, hanya satu dua Ulama, itu pun jarang di ketahui orang.
Kesamaannya  adalah pengikutnya dilarang memakan makanan yang berdarah dan nasi ala kadarnya, bahkan kalau peserta suluk persoalan makan telah ditentukan tekarannya oleh sebuah panitia.
Menurut Pimpinan Pesantren Darussalam Labuhan Haji, Tgk Haji Mawardi Waly,  suluk terbagi tiga tingkatan, suluk 30, 20 dan 10 hari. Ibadah dilakukan dalam sebuah bilik (khalwat) meliputi doa, zikir, shalat sunat, dan membaca Al-Qur’an, sedangkan shalat fardhu dilakukan secara berjamaah. Bagi peserta suluk tidak ada waktu tanpa berzikir. Termasuk waktu berbaring lagi mata terpejam, tetap berserah diri kepada Allah SWT dengan berzikir dan berdoa.
Di dayah Darussalam,  pengikut suluk Ramadhan tahun ini tercatat 658 orang meliputi 553 kaum ibu dan 105 kaum bapak. Sekitar 80 persen berumur 50tahun  keatas dan 20 persen berusia 30 tahun kebawah . Diakui Tgk Haji Mawardi Waly , seperti biasanya pengikut lebih banyak  mengikuti suluk tingkat 20 dan 10 hari, sehingga sampai 20 Ramadhan nanti peserta suluk bisa mencapai seribu orang lebih.
Ibadah suluk merupakan ajran Tarikat Naqsyabandiah, yang dikembangkan oleh Syech Baharuddin Syahbandiyah sekitar 400 tahun setelah imam empat. Selama mengikuti suluk dilarang memakan makanan mengandung darah;  dimaksudkan untuk mengekang hawa nafsu. Agar ibadah suluk lebih khusuk, dilarang berhubungan dengan masyarakat luar , bahkan sesama pengikut suluk sendiri berbicara hanya terbatas perkataan penting saja. Misalnya, sudah shalat atau sudah makan, itu saja.
Pengikut suluk, sering menangis terutama ketika merenung arti kehidupan. Pembahasan soal kehidupan dunia dikupas oleh Mursyid dengan irama dan intonasi yang meluluh kalbu membuat peserta mengucur air mata.

Dengan demikian yang bersangkutan sudah menyatu dengan ibadah suluk, dan mampu melepaskan diri dari segala urusan dunia yang menjadi kesibukan luar biasa. Kemudian lewat ibadah suluk, pengikut berserah kepada Sang Maha Pencipta agar memperoleh keridhaannya dengan melakukan shalat Tahajut sampai larut malam.
Rangkaian kegiatan suluk selama  hampir 24 jam (Sehari Semalam) sangat sarat dengan amal ibadah. Terutama zikir yang dilakukan mencapai 5.000 sampai 7.000 kali, kemudian shalat sunat dan mengikuti ceramah Agama. Kendati demikian, panitia tidak mengabaikan masalah kesehatan pengikut suluk ini. Pada waktu pagi hari sekitar 7.00 sampai…..( satu-dua baris terpotong gunting!)
( Sumber:  Serambi Indonesia, Senin, 28 Februari 1994 halaman 7 ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s