Bangsa Melayu Baru!

Bangsa Melayu Baru, Berakar Nasional
dan Berakal Internasional
Oleh: Alfitra Salam

KEKHAWATIRAN terhadap masa depan ekonomi, sosial-budaya dan politik bangsa Melayu telah menimbulkan gagasan baru yang dilontarkan oleh Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, tentang perlunya pembentukan bangsa Melayu Baru. Gagasan tersebut dikemukakan oleh Mahathir ketika Kongres UMNO pada 8 November 1991, yang antara lain mengatakan bahwa bangsa Melayu akan dapat merebut tempatnya yang sah, bukan saja sebagai peserta tetapi juga sebagai bangsa yang menentukan, dengan satu syarat: orang Melayu haruslah ditransformasikan menjadi bangsa “Melayu Baru”.
Konsep “Melayu Baru” ini melibatkan perubahan menyeluruh terhadap segala aspek budaya orang Melayu, yang didefinisikan sebagai bangsa yang berbudaya sesuai dengan aliran zaman, sanggup menghadapi segala tantangan, dapat bersaing tanpa bantuan, terpelajar dan berilmu, canggih, jujur, berdisiplin, amanah dan ulet.
Munculnya gagasan Melayu baru ini tentunya tidak lepas dari pengamatan Mahathir sendiri dalam melihat gejala yang berlaku dalam masyarakat Melayu belakangan ini. Mahathir sendiri pernah mengatakan bahwa masyarakat Melayu gagal menguasai keterampilan dalam manajemen perdagangan modern.
Kekecewaan ini dirasakan juga sehubungan dengan kebijaksanaan pemerintah yang menyerahkan proyek perdagangan yang dimiliki oleh pemerintah kepada golongan bukan Melayu demi untuk menyelamatkan proyek tersebut. Pandangan terhadap perubahan sosial dan pembaharuan di atas, sebenarnya bukanlah gagasan baru dalam sejarah sosial Malaysia. Beberapa pemikiran pada masa pemerintahan kolonial, seperti Abdullah Munsyi (pertengahan abad ke-19) dalam bukunya Kisah Pelayaran Abdullah mengritik orang Melayu yang terkurung dengan tradisi, termasuk golongan atasan Melayu yang berfikir sempit dan sukar membuka pemikiran untuk menerima pembaharuan dari luar.
Syed Sheikh Al-Hadi (tahun 1920-an) pula menekankan pentingnya pembaharuan dilakukan ke atas pendidikan Islam ke arah menjadikan umat Islam dapat bersaing dalam biadng ekonomi. Begitu juga beberapa tokoh pemikir Malaysia terdahulu seperti Aminudin Baki, Za’ba yang mengritik budaya orang Melayu, yang kemerosotannya hingga kini dirasakan dalam kedangkalan budaya orang Melayu.

Kedangkalan budaya
Menarik untuk dikaji pemikiran dari seorang cendekiawan Malaysia yang cukup kritis, Rustam A.Sani dalam bukunya Melayu Baru dan Bangsa Malaysia,
yang mendakwa masyarakat Melayu Malaysia sekarang ini merupakan gabungan tiga unsur budaya dangkal. Pertama, unsur peradaban Barat yang agak dangkal. Peradaban seperti ini adalah orang Melayu yang menguasai bahasa Inggris, berpendidikan dan menguasai bidang profesi tertentu, tetapi pengusaan perdaban barat ini tidak melebihi hanya penguasaan “teknis” bidang yang dikuasai. Penguasaan bahasa Inggris hanya berfungsi sebagai perbendaharaan klise untuk bidang itu dan untuk pengucapan sehari-hari, bukannya pengucapan kreatif yang mendalam.
Kedua, unsur kebudayaan Melayu yang amat dangkal. Kedangkalan kedua ini adalah orang Melayu yang tipis kepekaannya akan budaya Melayu, sehingga dia mungkin tidak menguasai bahasanya sendiri, apalagi penggunaan bahasa itu untuk pengucapan yang kreatif dan canggih. Tradisi sastra, budaya dan sejarah dan pemikiran bangsa yang agak mendalam tidak dikuasai. Orang Melayu seperti ini justru memantapkan unsur-unsur feodalnya seperti kepekaannya terhadap struktur status dan sistem gelar yang amat rumit dalam budaya Melayu itu.
Ketiga, unsur Islam yang semata-mata bersifat ritus. Orang Melayu yang termasuk golongan ini adalah kelompok yang kurang menyadari sama sekali peradaban dan tradisi kecendikiwanan dalam pemikiran Islam., tetapi menekankan unsur amalan dan ibadah agama itu dalam kehidupannya. Bahkan “keislaman” seorang itu mungkin pula diukur semata-mata berdasarkan unsur ibadah yang nyata. Dakwaan seperti di atas dapat juga dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, seperti yang terjadi pada tahun 1990 dimana sebuah universitas di Malaysia mengadakan diskusi mengenai buku Surat Setan
Karya Salman Rusdhi, yang mengundang tokoh terkenal dari partai Islam PAS. Setelah diskusi panjang lebar, ternyata tokoh dari PAS ini sama sekali belum membaca buku ysng dihebohksn tersebut., sehingga tokoh tersebut menjadi ejekan di kalangan mahasiswa yang hadir.
Kasus yang sama terjadi juga dalam sebuah universitas di mana sekelompok mahasiswa mengadakan demonstrasi agar pementasan musik rock dibatalkan karena bertentangan dengan agama Islam. Setelah diadakan diskusi dengan pihak universitas ternyata kelompok mahasiswa yang menentang ini sama sekali tidak dapat menunjukkan alasan tepat yang masih melihat Islam dalam perspektif “pahala dan dosa”. Gambaran di atas seperti yang dikatakan oleh Rustam A.Sani bahwa pemikiran orang Melayu masih terbatas pada ajaran agama Islam yang penafsirannya terlalu kolot, beku dan tidak rasional.
Pemahaman Melayu Baru
Seperti halnya wawasan 2020, maka gagasan pembentukan Melayu Baru memperlihatkan pemikiran yang visionary dari seorang pemimpin atau suatu paradigma baru tentang model budaya masyarakat Melayu yang berorientasikan pada masa depan. Namun hingga kini gagasan pembentukan Melayu Baru ini masih belum dipahami secara mendalam. Pada umumnya masyarakat mempunyai persepsi bahwa gagasan Melayu baru itu digunakan sebagai alasan untuk melakukan sesuatu hal yang baru di kalangan orang Melayu, Bahkan yang selama ini sukar diterima dalam kerangka sistem nilai dan etos orang Melayu. Sedangkan kelompok oposisi mempersoalkan gagasan tersebut, karena menurut mereka konsep “Melayu Lama” tidaklah terlalu salah.
Penelitian yang dilakukan oleh Firdaus Abdullah (Monograf Melayu Baru terbitan GAPENA,1993) persepsi masyarakat mempunyai pelbagai pandangan. Pertama, gagasan Melayu baru suatu ungkapan generasi muda Melayu yang berpendidikan dan mudah menyesuaikan diri dalam lingkungan sekitarnya baik antara suku bangsa maupun di tingkat internasional.
Kedua, ungkapan Melayu baru sering dipergunakan terhadap suatu generasi yang terbuka pada perkembangan mutakhir di bidang politik, ekonomi dan sosial. Ketiga, Melayu baru juga merujuk kepada aspek buruk dan tidak baik dalam generasi baru Melayu, seperti sifat tamak loba, “mata duitan” tidak jujur dan tidak ikhlas.
Keempat, ungkapan Melayu baru ada kalanya diberikankepada suatu angkatan usahawan muda dan tokoh konglemerat Melayu yang terbentuk sebagai hasil Dasar Ekonomi Baru yang sekarang ini dikaitkan dengan pemebentukan suatu masyarakat perdagangan dan perindustrian bumiputra.
Dikalangan tokoh politik, seperti Menteri Besar Selangor, Muhammad Taib membayangkan (Bersambung ke hlm. 5 kol. 5-9)
Catatan: halaman sambungannya belum ditemukan!. Libur Uroe Raya ‘Idul Adha 1435 H hari ke 3, Selasa, 7 Oktober 2014 jam 10.48 pagi. Pengetikan ulang kolom lima artikel ini turut dibantu putri saya. TA

(Sumber: Harian Kompas, Senin, 21 November 1994 hlm. 4).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s