Pelawak Bukan Manusia Formal

Pelawak Bukan Manusia Formal
Oleh: Tarzan
WAKTU Sri Mulat mengadakan lomba lawak se-Jabotabek bulan April 85, tidak kurang tiga ratus grup lawak ambil bagian. Umpama lomba ini diadakan seluruh Indonesia, , tidak terbayangkan berapa ribu grup yang bakal mendaftar. Sayangnya, sensus lawak belum pernah ada, kecuali seperti pendaftaran seperti dilakukan Dinas Kebudayaan DKI. Masih banyak pelawak yang tidak punya nomor induk yang tidak ada catatannya di Dinas Kebudayaan. Yang ingin saya tanyakan mengapa sebenarnya orang ramai-ramai ingin jadi pelawak. Apa mungkin karena melihat ada yang dari pelawak bisa punya mobil, ada yang menjadi anggota DPR dan sebagainya. Ini, yang bisa menjawab tentunya mereka sendiri.
Waktu saya jadi peengurus Srimulat(sekarang saya tidak di Srimulat lagi, saya freelance) banyak pelamar yang ingin jadi pelawak. Alasannya, katanya melawak lebih gampang dari pada jadi kuli bangunan. Sebetulny, ini bisa menjadi gambaran, bahwa ada yang menganggap melawak bisa dilakukan sekadar sebagai pelarian. Bisa dilakukan tidak secara sungguh-sungguh.
Padahal, menurut saya melawak dibutuhkan jiwa seni, dibutuhkan bakat, serta dibutuhkan belajar secara ungguh-sungguh. Rasanya saya keloro-loro ketika dalam sebuah ceramah di Gedung Deppen Jakarta, Ibu Haryati Soebadio(waktu itu Dirjen Kebudayaan), mengatakan bahwa melawak belum bisa dikatakan seni. Alasannya, pelawak itu sendiri membuat seni rusak. Tobat, tobat. Pak Guno dalam sebuah terbitan Proyek Javanologi juga mengatakan lawak tidak mmenuhi pada definisi seni. Meski begitu, Pak Guno masih mengatakan betapapun penyajian lawak merupakan seni tersendiri. Di mana, hanya sebagian kecil saja dari seniman yang dapat mengerjakannya.
APA pun, saya condong berpendapat bahwa melawak butuh jiwa seni. Ini serius, saya tidak sedang melawak. Arswendo Atmowiloto dalam tulisannya di majalah HAI mengatakan melawak tidak seperti penyanyi. Umpamanya lagu yang sedang in di mana saja bisa diterima. Lagu kugadaikan Cintaku oleh Gombloh almarhum bisa dinyanyikan di mana saja karena sedang in. Tidak demikian dengan melawak. Melawak harus disesuaikan sikon alias situasindan kondisi. Melawak di pesta pengantin harus berbeda dengan melawak di reuni SD ATAU REUNI TK.
Di sinilah dibutuhkan apa yang disebut perasaan tanggap, peka. Dan juga bakat. Misalnya, bagaimana sampai mampu memanfaatkan kebiasaan, sehingga sesuai dengan karakter diri sendiri. Sehingga melawak kelihatan tidak dibuat-buat, oleh karenanya tidak konyol. Umpama di suatu grup ada yang bodoh, ya jadikan tokh bodoh. Kalau yang pintar, ya jadikan tokoh pintar. Jangan yang bodoh kelihatan minteri dan yang pinter nggobloki. Ada memang yang punya kelebihan, , jadi apa saja bisa. Contoh untuk ini adalah almarhum Bing Slamet.
Semua ini bisa dicapai, tidak saja dengan bakat, tapi juga dari belajar terus-menerus. Misalnya dari membaca, menonton apa saja, dan bergaul seluas-luasnya.
Selain itu, ada lawakan dengan penonton yang sifatnya sangat umum. Ini misalnya melawak di tempat seperi Pasar Seni Ancol, atau lebih luas lagi di televisi. Terasa sekali perlunya bakat. Misalnya bakat menulis naskah yang baik. Karena dengan penonton yang sifatnya umum, diperlukan naskah. Naskah adalah senjata. Dan naskah yang baik senjata ampuh untuk merebut hati penonton.
Tapi apakah setelah memenuhi itu semua sebuah grup lawak terus langgeng? Inilah bukti lagi, bahwa dunia lawk bukan dunia yang gampang.
Banyak kelompok lawak kita yang tidak abadi, menjadi korban meminjm istilah Mochtar Lubis dalam buku Manusia Indonesia, hipokritisme atau kemunafikan. Menurut Mochtar Lubis itu ciri pertama manusia Indonesia. Lain di muka lain di belakang.
Umpamanya waktu mau mendirikan grup, pokoknya terserah. Apa saja mau, pokoknya baik. Tapi nanti kalau dapat angin, lalu berubah. Begitu juga dalam pembagian rezeki. Ketika grup menjadi besar, honor pemain tidak ikut besar, meski pemain ikut membesarkan nama grup. Katanya ini untuk kekeluargaan. Tetapi kekeluargaan macam ini adalah kekeluargaan munafik.
Menurut saya, untuk membuat grup lawak yang kokoh, dibutuhkan disiplin, keterbukaan, dan keadilan.
***
BAHWA untuk menjadi pelawak yang baik dibutuhkan peningkatan pendidikan, itu benar. Tapi saya rasa tidak harus melalui pendidikan formal.
Maksudnya pendidikan ini, menurut istilah wartawan Kompas, Don Sabdono, adalah memperluas kepribadian secara terus menerus. Pelawak menjadi pribadi yang kaya, tidak cupet pengetahuan hidup.
Dan ini tidak harus melalui pendidikan formal. Sebab banyak hal yang berbau formal selama ini hanya mencetak manusia formal, bukannya manusia sebagai pribadi yang kaya, dan sanggup menghadapi tantangan hidup macam apa pun.
Katakanlah misalnya kalau seperti harus bergelantungan di kota besar semacam Jakarta. Aaauuuwooooo….***
Tarzan, pelawak.
( Sumber: Harian Kompas, 24 Januari 1988 hlm. VI)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s