P. Ramlee, Bintang Pujaan Ramai

P Ramlee, Bintang Pujaan Ramai

Tanggal 23 Maret lalu genap usia 65 tahun tokoh terkenal P.Ramlee, jika sekiranya beliau masih hidup. P.Ramlee yang nama aslinya adalah Ramli bin Puteh, lahir tgl. 23 Maret 1929 di Kampong Jelutong, Pulau Pinang, Malaysia, dari pasangan Nyak Puteh bin Zakaria (berasal dari Aceh, Cunda) dan Encik Fatimah (berasal dari Kedah)

Ayahnya pada masa sebelum Perang Dunia II adalah masinis sebuah kapal Inggris. Sejak kecil Ramli sudah suka menyanyi. Ia sangat menggemari lagu-lagu keroncong Melayu terutama dari penyanyi keroncong Indonesia masa itu yang dikenal dengan nama Said Abdullah dari Kandangan Kalimantan. Bahkan sjak remaja ia sudah menciptakan lagu-lagu Melayu yang dinyanyikannya sendiri. Lagu pemulanya yang sangat terkenal adalah “Azizah”.
Semula ayahnya kurang menyukai anaknya menjadi penyanyi, tetapi sebelum orangtua meninggal dunia kiranya sempat juga ia mendengar suara merdu anaknya melalui piring hitam dan radio.
Hanya sayang, ia tak sempat menonton film-film P.Ramlee yang cukup mencuat ketika itu. Pada masa remaja P.Ramlee yang wataknya agak “nakal” itu sering menyanyi di restoran, nite club dan pangung-panggung joget.
Pada suatu malam di bulan Maret 1948 ia sedang menyanyi di sebuah nite club d Penang membawakan lagu “Azizah”, dengan penuh perasaan. Seorang produser dan sutradara film dari Singapore yang kebetulana hadir di tempat itu, begitu kagum dan terpesona akan suara dan gaya menyanyi pemuda yang berkumis tipis ini. Itulah malam bersejarah yang kemudian membawa P.Ramlee menjadi termasyhur di kemudian hari.
B.S. Rajah, sang sutradara tersebut membawa Ramlee ke Singapore dan dijadikan sebagai playback-singer, yaitu suara penyanyi pengganti untuk pemain film terkenal seperti Romai Noor. Untuk suara pemain wanita seperti Kasma Booty biasa direkam suara Miss Rubiah dari Medan. Disamping sebagai playback-singer ia juga mendapat peran kecil-kecilan sebagai pemain pembantu. Tetapi karena bakat dan keuletannya, dalam waktu yang tidak begitu lama, ia kemudian mendapat peran utama. Demikianlah nama P.Ramlee atau yang biasa dipanggil “PR” saja terus menanjak sehingga membuat namanya terus termasyhur baik sebagai penyanyi maupun sebagai bintang film yang tiada taranya pada masa itu.
Sebenarnya suara P.Ramlee tidaklah terlalu merdu jika umpamanya dibandingkan dengan suara Said Effend penyanyi langgam Melayu moderen dari Indonesia, tetapi karena dia mampu sebagai aktor dan gaya membawakan lagu dengan suara yang agak berat itulah ia merebut hati jutaan penggemarnya yang tersebar di Malaysia, Indonesia, Thailand, Brunai dan sebagian Philipina.
Walaupun hanya bersekolah di Sekolah Dasar Melayu, biduan Ramlee termasuk manusia jenius yang langka, karena ia memiliki semua keahlian yang berhubungan dengan musik dan film. Ia adalah penyanyi, pencipta lagu, penata musik, pemimpin orkes (El Sitara) dan dapat memainkan beberapa alat musik, terutama biola. Di bidang Film, seniman keturunan Aceh ini, selain sebagai pemain, sekaligus ia juga pengarang cerita, penulis skenario, sutradara dan produser. Ia pun adalah pelawak terkenal. Hanya dalam mencipta lirik lagu-lagu ia dibantu oleh seorang seniman yang bernama S. Sudarmaji.Selain bahasa Inggris ia juga dapat berbahasa dan menulis huruf Cina dan bahasa Tamil(India).
Tak terkirakan betapa banyaknya lagu yang diciptakan dan dinyanyikan, termasuk lagu-lagu Melayu lama yang telah dipermodern. Kita masih ingat akan lagu-lagu: Azizah, Kalaulah Kaca Menjadi Intan, Anaku Sazali, Engkau Laksana Bulan, Mecece Bujang Lapok, Merak Kayangan, Senandong Malam, Baerkorban Apa Saja, Rindu Hatilu Tak Terkira, Jeritan Batinku, Getaran Jiwa dll adalah diantara lagu-lagu “abadi” yang masih digemari sampai sekarang terutama di kalangan masyarakat Melayu baik di Malaysia maupun di Indonesia. Di antara film-filmnya yang terkenal dan menjadi box office adalah: Hang Tuah, Bujang Lapok, Sumpah Orang Minyak, Nujum Pak Belalang, Anakku Sazali, Semerah Padi, Penarik Beca, Musang Berjanggut, Takdir Ilahi dll.
Diantara bintang wanita yang biasa menjadi partner dalam film adalah: Kasma Booty, Siput Serawak, Neng Yatimah, Normadiah, Maria Manado, Latifah Umar, Sitti Maryam dan Saloma.
P. Ramlee adalah seorang tampan, gagah, romantis dan sinar matanya yang hitam banyak membuat kaum hawa tergoda. Dengan uang yang berlimpah dan hidup dalam kemewahan, setelah bercerai dengan isterinya yang pertama, pernah ia bertualang sebagai plaboy. Tetapi akhirnya ia insaf bahwa hidup seperti itu tidak membahagiakan dan hampir-hampir menghancurkan kariernya. Walaupun ia berjaya dalam kariernya tetapi ia tidak begitu beruntung dalam berumah tangga. Isterinya yang pertama yaitu Junaidah Haris(anak pelawak Daeng Haris) diceraikannya setelah kawin sekitar 3 tahun dan mendapat dua orang anak yaitu Normah dan Mohd Nasir. Kemudian tahun 1955 ia kawin dengan Noorizan, janda Sultan Idris dari negeri Perak. Setelah bercerai dengan Noorizan akhirnya ia kawin dengan Salmah Ismail atau lebih populer dengan nama Soloma, seorang penyanyi jelita yang bersuara emas. Banyak lagu-lagu duet P.Ramlee – Saloma beredar ketika itu. Kiranya dengan Saloma ia serasi dalam menempuh hidup hingga akhir ayatnya.
Beberapa lagu P.Ramlee pernah mendapat penghargaan, selain di Malaysia juga pernah mendapat penghargaan internasional. “Best Music Award” dalam Festival Film Asia di Hongkong. Juga dalam perfilman ia pernah mendapat hadiah sebagai film terbaik yaitu “Golden Harvest Award” di Manila untuk film “Sumpah Orang Minyak”. Juga untuk film “Anakku Sazali” ia pernah mendapat award. Karena jasa-jasanya mengangkat nama Malaysia dalam seni budaya, maka kerajaan Malaysia mengangkatnya sebagai “Seniman Agung” dengan gelar Tan Sri P.Ramlee.
Selama ia bermukim di Singapore ia bernaung di bawah perusahaan film raksasa Run Run Shaw. Kemudian setelah Singapore berpisah dari Malaysia, P.Ramlee beserta seluruh anak buahnya hijrah ke Kuala Lumpur, Malaysia. Di sini ia bernaung di bawah perusahaan film “Cathay Kris Film Production”, dimana ia juga mempunyai saham.
Karena kesibukan kesibukannya P. Ramlee dinilai kurang menjaga kesehatan dan kondisi tubuhnya, ia semakin gemuk dan tidak lagi melakukan olahraga kegemarannya yaitu main badminton(bulutangkis-red) dan sepak takraw.

Makan enak tanpa berolahraga menjadikan tubuh penuh kolestrol. Demikianlah dini hari menjelang tanggal 29 Mei 1973 tiba-tiba ia meresa sesak nafas dan dadanya panas dari dalam. Allahyarham meninggal dunia di rumah sakit karena serangan jantung dalam usia 44 tahun. Kematiannya menggegerkan rakyat Malaysia, banyak yang menangis dan pingsan. “Air mata mengalir di Kuala Lumpur” adalah lagu ciptaan Saloma dalam mengenang suaminya. Syair lagu tersebut seperti menggambarkan suasana pedih yang meliputi kota Kuala Lumpur dalam mengantar jenazah Tan Sri P.Ramlee ketempat peristirahatan yang terakhir.
Dalam sejarah Malaysia belum pernah ada sebanyak itu orang mengantarkan jenazah yang mencapai hampir satu juta orang. Yang Amat Berhormat Tan Sri P.Ramlee telah pergi, sebuah bintang besar telah lenyap, tetapi suara merdunya masih mendayu-dayu di udara baik melalui radio, televisi maupun kaset. Terutama di kalangan penggemarnya ”angkatan tua”. Tercatat banyak orang yang mengunjungi Malaysia datang melihat rumah kelahirannya di Jelutong Pulau Pinang atau ke Musium P.Ramlee di Kuala Lumpur. Bahkan ada yang “berziarah” ke pusaranya.
Sebagai penutup tulisan ini penulis menurunkan syair lagu “Senandung Malam”, salah satu lagunya yang digemari ramai, yang dipetik dari salah satu albumnya: Sejuta bintang bertabur/ Siapakah gerangan di jendela. Risau bintangkah atau nak dagangkah/Harum bunga senandung malam.
Mungkinkah malam bermimpi/ Mata jelita kilau-kilauan. Menentang malamkah, melepas rindukah/Duhai nak dara marilah dinda.
Lena daku dalam sunyian/Senandung malam berkisah. Mengisahkan asmara hati/Duhai nak dara marilah dinda.
Kutahu kau tak berteman/Pilih teruna siapa gerangan. Pilih akukah atau sidiakah/Dengar nak dara senandung malam (Abd Wahab Gam)
#Sumber: *Pembicaraan langsung penulis dengan ybs.
*Catatan perjalanan penulis ke Malaya/Malaysia.
* Beberapa majalah.
(Asal tulisan: Serambi Indonesia, Minggu, 27 Maret 1994/Budaya)
@Salinan ulang ini sebanyak 4 kolom saya salin sendiri dan kolom 5 dibantu putra pertama saya. Bale Tambeh, 10-10-2014, pkl. 10.25 malam, T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s