Selamat Jalan Prof. Sartono…

Selamat Jalan Prof. Sartono…..
Puluhan orang melepas jenazah Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo (86 tahun) dari Balairung Universitas Gadjah Mada. Sabtu (8/12), sekitar pukul 10.30 Wib sejarawan besar Tanah Air itu diberangkatkan ke pemakaman keluarga Astana Kadarisman, Ungaran, Jawa Tengah.
“Semasa hidupnya, Sartono telah memberikan sumbangan besar dalam ilmu pengetahuan Indonesia, khususnya ilmu sejarah,” kata Rektor UGM, Prof Ir Sudjarwadi, dalam pidato pelepesan jenazah. Semasa hidupnya, Sartono telah mengabdikan diri untuk dunia pendidikan sehingga mendapatkan anugerah dan berbagai penghargaan baik nasional maupun internasional. Terakhir, mendiang mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari Presiden RI pada 11 Agustus 2007.
Sartono tutup usia Jum’at(7/12) sekitar pukul 01.00 wib di Rumah Sakit PantI Rapih Yogyakarta. Ia meninggalkan seorang istri, Sri Kardajati(80), dua anak yakni Nimpuno(57) dan Roswita(53), tiga cucu dan satu cicit. “Sampai meninggalnya kakek selalu berpesan jadi orang, khususnya ilmuwan jangan seperti pohon pisang yang hanya mampu berbuah sekali dalam hidupnya,” kata Nindito (33) salah seorang cucu Sartono.
Sementara Prof Dr. Ahmad Syafii Maarif mengenang Sartono sebagai seorang sosok yang sangat serius dalam menekuni ilmu. Bahkan, guru besar sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu menyebutnya sebagai seorang pertapa yang terus mencari dan menggali berbagai hal. Ia menyayangkan hanya sedikit yang hadir untuk melepas kepergian sejarawan Ratu Adil itu. “Bahkan, saya tidak melihat para sejarawan yang menjadi muridnya ikut melepas. Saya kecewa,” kata Syafi’i (Bersambung ke hal B 11 kol 1-2) yang juga mantan ketua PP Muhammadiyah di sela-sela acara pelepasan jenazah itu.

Meusubudi
Saat berulang tahun ke 85 pada 15 Februari 2006, Sartono secara tegas mengungkapkan kegelisahannya terhadap kondisi negara saat ini. Di zaman yang semakin bobrok seperti sekarang ini, katanya waktu itu, sejarawan dan generasi muda seharusnya jangan hanya mengejar dunia. Sebab, rumah besar, kekayaan yang melimpah tidak akan ada gunanya jika hingga tutup usia tidak meninggalkan karya yang berguna untuk masyarakat. Di saat itu dia berpesan, generasi muda harus tetap untuk tetap berpegang pada etos yang disebutnya Mesu budi. Istilah yang diambil dari Serat Widatama yang bermakna mengandalkan kekuatan batin dan tidak bertumpu kepada kemegahan dunia. Seseorang hendaknya juga jangan seperti pohon pisang yang hana mampu berbuah setelah itu mati.
“Beliau adalah guru utama sejarawan indonesia,” kata Prof Dr Djoko Suryo, sejarawan UGM. Hampir semua sejarawan ternama di Indonesia, lanjut Djoko, merupakan murid Sartono. Perjalanan  karir Sartono yang lahir di Wonogiri 15 Februari 1921 ini dimulai sebagai guru di Sekolah Schakel di Muntilan (1941) Setelah meraih gelar MA di Universitas Yale Amerika (1964) dan gelar PhD di Universitiet van Amsterdam, Belanda(1966), ia dikukuhkan sebagai guru besar Fakultas Sastra UGM (1968).
Sartono disebut koleganya sebagai ‘Toynbeean’. Sebab, putra pegawai pos di zaman Belanda ini mengikuti pola pikir sejarawan terkenal Arnold J Toynbee yang mengembangkan konsep challenge and response dalam menganalisis proses sejarah. Puluhan judul buku yang telah dihasilkan Sartono. Namun, yang sangat terkenal adalah buku berjudul The Peasant Revolt of Banten in 1888. Buku ini diambil dari desertasinya di Amsterdam yang megantarkan gelar PhD dengan peringkat Cum laude. Buku yang menceritakan tentang pemberontakan petani Banten tahun 1888 ini juga disebut-sebut sebagai rintisan penulisan sejarah baru, yakni tentang aktivitas orang-orang kecil.
Pada 1984, buku Ratu Adil-nya terbit.Dalam buku itu ia mengemukakan, gerakan-gerakan yang terjadi di Jawa yang meyakini akan datangnya sorang Ratu Adil yang membawa kebahagiaan dan kemakmuran seperti yang pernah dialami masa lampau. Lantaran banyak menulis tentang Ratu Adil, Sartono pun kemudian kerap dijuluki Sejarawan Ratu Adil.
Sebagai ilmuwan, guru besar emeritus Fakultas Ilmu Budaya ini juga mempunyai keteguhan dalam mempertahankan prinsip. Hal ini terlihat dalam buku Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Jilid I zaman kerajaan dan Jilid II tentang pergerakan sejarah nasional indonesia. Buku ini ditulis sebagai ‘protes’ dia terhadap buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditulis pemerintah.
Buku Sejarah Nasional Indonesia itu ditulis oleh 30 orang namun memerlukan waktu hingga 5-6 tahun. Dan hasilnya tidak maksimal dan justru menuai banyak kritikan. Sartono sendiri pada awalnya dilibatkan dalam pembuatan buku itu. Namun, entah apa sebabnya, tiba-tiba namanya menghilang ketika buku itu baru sampai pada jilid II (seluruhnya ada 6 jilid) “Beliau dikenal sebagai tokoh sejarawan yang mempunyai integritas tinggi dan selalu mengabdikan diri pada pengembangan ilmu hingga akhir hayat. Ini langka,” kata Djoko Suryo. “Indonesia butuh orang seperti beliau”.# hep

( Sumber: Republika, 9 Desember 2007 hlm B1)

Catatan: Berita koran Republika ini sengaja saya posting ke blog Bek Tuwo Budaya hari ini, dalam rangka menyambut kunjungan Prof.Dr. Bambang Purwanto,MA ke Jurusan Pendidikan Sejarah FKIP Unsyiah, pada hari ini Selasa, 28 Oktober 2014 dalam rangka menyampaikan “Kuliah Umum”. Beliau adalah staf pengajar Jurusan Sejarah FIB UGM Yogyakarta, dan teman sekelas saya sewaktu masih sebagai mahasiswa di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta. Saya yakin, Prof.Dr. Bambang Purwanto,MA mampu mengikuti jejak keilmuan Prof.Dr. Sartono Kartodirdjo yang telah meningkatkan martabat dan wibawa ilmu sejarah dengan karya-karya kesejarahan!.

Bale Tambeh,Seulasa, 4 Sa Usen 1436/4 Muharram 1436 H/28 Oktober 2014 M, pkl. 09.12 Wib, T.A. Sakti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s