Nyali Besi Aung San Suu Kyi

Nyali Besi Aung San Suu Kyi

Orang tahu kediaman Aung San Suu Kyi terletak di pinggir Danau Ir.. Yangoon (Rangoon ibukota Myanmar(Birma), Orang pun tahu regim militer yang berkuasa men”cekal” Suu Kyi dengan status tahanan rumah, sejak Juli 1989. Sekeliling rumahnya, tentera bersenjata patroli siang dan malam. Jangankan berjumpa orang lain, kontak telepon sesama keluarganya diblokade. Suaminya Prof. Michael Aris tak pernah diizinkan menemui istrinya-sejak Natal 1989. Dan, per September tahun itu, Suu Kyi pun Cuma bisa mengelus foto kedua anaknya.
Dalam situasi begitu pun, Suu Kyi merupakan aral besar bagi regm militer di Yangoon. Regim berkuasa mengatakan, “Suu Kyi baru akan dibebaskan kalau betul-betul meninggalkan dunia politil”. Tangan kekuasaan junta Myanmar memang berlepotan darah. Legitimasi kekuasaan mereka ditegakkan dengan berondongan peluru. Dan, berbicara dalam bahasa senapan- yang menyudahi ribuan penduduk pro demokrasi pada 1988.
Hadiah Nobel bidang Perdamaian(1991) dikukuhkan atas nama pemimpin Liga Demokrasi Nasional( National League for Democracy, NLD) bagi ibu dua anak tersebut, dicalonkan oleh Presiden Ceko-Slovakia, Vaclav Havel. Havel – yang dia sendiri termasuk calon utama, melakukan itu atas permintaan sebuah gerakan solidaritas Norwegia. “Saingan serius Suu Kyi adalah Nelson Mandela”, pemimpin anti- apartheit Afrika Selatan. Penganugerahan hadiah – piagam, medali emas, dan uang sekitar sejuta dolar AS- itu, menurut para pengamat akan meningkatkan moral rakyat Myanmar. Atau, dalam kalimat Front Demokrasi Mahasiswa Myanmar di pengasingan ,”Akan mendorong mereka yang telah mengorbankan darah, keringat, air mata dan nyawa untuk terus berjuang demi demokrasi.” Ketua Panitia Nobel Farncis Sijerstedt mengatakan, telegram dikirim ke pemerintah Myanmar. Pemerintah Myanmar diminta untuk menyampaikannya kepada Ny.Suu Kyi. Disitu jelas antara lain, “Perjuangannya merupakan satu di antara contoh-contoh paling luar biasa keberanian sipil di Asia selama beberapa dasawarsa. Sejauh ini panitia hadiah Nobel Perdamaian tidak bisa menghubungi Suu Kyi. Kepastian boleh-tidaknya Suu Kyi menerima hadiahnya pada upacara resmi di Brussel 10 Desember mendatang masih tanda tanya. Lebih lanjut Francis Sejerstedt mengatakan, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian kali ini sangat dipengaruhi strategi non-kekerasan Mahatma Gandhi.”Suu Kyi sudah bekerja demi konsiliasi kelompok-kelompok etnik di Myanmar. Ia telah menjadi orang yang penting di dalam keluangan(?) menghadapi penindasan” ujar Sejer Stedt. “Ia menjadi pemimpin oposisi demokratis, yang menerapkan sarana-sarana tanpa kekerasan untuk? melawan regim yang bercirikan brutalisme.”.
Pihak Gedung Putih menyambut baik pemberian Nobel itu kepada Suu Kyi. Di depan wartawan, Sekretaris Pers Gedung Putih..lin Fitzwater, bahkan mendesak agar pemerintahan sipil(pemerintahan terpilih) di Myanmar dipulihkan dan membebaskan semua tahanan politik. Berkenaan dengan nasib tak menentu Suu Kyi, pernyataan itu menegaskan, dilanjutkan penahanan terhadapnya hanyalah merupakan tanda dari pemerintahan militer yang represif. Suara senada datang dari Masyarakat Ekonomi Eropa. Di Manila Ny Corazon Aquino mengucapkan selamat kepada rekannya sesama perempuan. Dia mengatakan Suu Kyi merupakan simbol perdamaian dan perlawanan pasif bagi kebebasan asasi. Dari New York, Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar menyatakan rasa senangnya atas penganugerahan Nobel Perdamaian(1991) kepada Suu Kyi. Dengan satu harapan, Suu Kyi segera dibebaskan dari tahanan rumah.
Suaminya, Michael Aris – warga Inggris yang profesor tamu pada Universitas Harvard, AS- berharap para penguasa Myanmar mendapat tekanan untuk membebaskan istrinya. “Tujuan dia sederhana: kebebasan manusia. Ia telah berjuang untuk itu. Dan bersama rakyatnya, ia menderita pula karena itu, kata Aris.
Aung San Suu Kyi, anak perempuan pahlawan pembebasan Myanmar, Aung San(alm). Sebagian rakyat Myanmar menganggap perempuan itu titisan ayahnya. Aung San adalah salah seorang pahlawan pembebasan Myanmar. Ironisnya Aung Sanglah yang memelopori pembentukan angkatan bersenjata. Cuma, ia tak sempat bisa menikmati kemerdekaan – karena keburu tewas ditembak oleh rekan seperjuangannya. Itu terjadi enam bulan sebelum Inggris mengakhiri kekuasaannya di Myanmar, Juli 1947. Waktu itu, Suu Kyi masih berumur dua tahun. Jadi, ia belum sempat mengenal sang ayahanda.
Suu Kyi lahir di Yangoon, 19 Juni 1945. Pendidikan dasar dan menengah ia jalani di Myanmar dan India. Di sini, ibunya(meninggal Januari 1989) pernah bertugas sebagai duta besar. Ia memperoleh beasiswa untuk belajar politik, filsafat, dan ekonomi, di Universitas Oxford, Inggris. Setamat kuliah, ia bekerja pada sekretariat PBB DI New York. Pada 1972, ia menikah dengan Prof. Michael Aris, warga Inggris yang ahli dalam kebudayaan Tibet. Mereka menetap di Inggris.
Ia kembali ke tanah kelahiran April 1988. Pulang ke kampung dalam situasi negeri bergolak. Saat itu, ia tengah merampungkan tesis ……. … pada London‘s School… and African Studies …. ilmiah hendak digusurnya…. total berbaur( fotokopi bagian rusak-tergeser) yakni…. pada alam. ………….. –kalau disalin pun tak jelas, karena tulisan bukan di tempat aslinya,melainkan bertukar-ganti! -………… ………….. /………………… …………… ………………………….. …………

Aris. Suu Kyi menegaskan hal itu – “Jika rakyat membutuhkan saya”. Langkah itulah yang ia tempuh, ketika seluruh negeri dilanda chaos. “Krisis dewasa ini sungguh sangat memprihatinkan seluruh negeri. Sebagai anak bapakku, aku tak akan tinggal diam. Krisis ini bisa disamakan dengan perjuangan kedua menuju kemerdekaan.” ujarnya saat itu. Misi yang terbeban pada pundaknya disebutnya dengan kalimat “Rakyat Myanmar sungguh-sungguh menginginkan kebebasan. Mereka menginginkan kebebasan dari rasa takut. Rakyat sudah lama dihinggapi rasa takut. Ke mana pun kita pergi, kita harus terus menerus membangkitkan mereka,”jangan takut’. Maka jika kamu membiarkan dirimu diintimidasi, mereka(penguasa) pasti akan terus mengintimidasi kamu,” katanya.
Kehadirannya cepat mengundang simpati dari berbagai kalangan masyarakat. Ia ibarat Corazon Aquino bagi Filipina di ujung krisis kepemimpinan Preside Marcos. Tokoh-tokoh oposisi menganggap Suu Kyi bisa menjadi pemersatu kubu perlawanan. Gayanya konfrontatif. Namun Suu Kyi bukan penganjur kekerasan. Ia, seperti diakuinya, meneladan pada gaya perjuangan Mahatma Gandhi dan Marthin Luther King. Bersama bekas PM U Nu dan dua jenderal purn- Aung Gyi dan Tin Oo, Liga Nasional bagi Demokrasi, partai yang dalam waktu singkat berhasil menghimpun sekitar dua juta anggota. Walau, belakangan, U Nu dan Aung Gyi memisahkan diri dan membentuk partai sendiri.
Meski dihalang-halangi penguasa, Suu Kyi selalu berusaha mengunjungi desa-desa. Setelah keadaan darurat diumumkan – yang mengharamkan berkumpul lebih dari lima orang- kaset-kaset video berisi penampilan Suu Kyi justru marak. Rekaman kaset dan teks-teks pidatonya beredar dari tangan ke tangan. Serangkaian pidato dengan nada keras digelarnya di masa Sein Lwin berkuasa. Ia menyerukan pembentukan pemerintahan sementara dan pelaksanaan pemilu sesegera mungkin. Hal itu ia dengungkan di depan Pagoda Shwedagon, Yangoon – dengan jumlah massa tak kurang sejuta jiwa. “Macan Podium” itu bahkan punya nyali untuk memaksa sekelompok serdadu – yang coba menghentikan pidato Suu Kyi – kembali ke markas dengan tangan hampa.
Peristiwa itu terjadi ketika ia berbicara di depan ribuan massa di Myanmar. Tentera turun dari dua truk. Suu Kyi cepat tanggap. ‘Jangan merasa terganggu”. Jika kita bisa mengendalikan diri, kita bisa mengalahkan lawan kita.” Ujarnya menenangkan massa. Moncong-moncong senjata diarahkan ke tengah kerumunan. Mereka panik. Dan, Suu Kyi cukup berkata singkat untuk ‘menjinakkan’
tentera. ‘Kita malah berterima kasih kepada kalian. Kalian malah berjasa menyulut keberanian rakyat”. Suu Kyi sangat yakin, kisruh yang melanda Myanmar 26 tahun terakhir berpokok pada Ne Win.
Meski secara resmi Ne Win tidak lagi berkuasa, menurut Suu Kyi,”SLORC tetap dikendalikan oleh orang tua itu.”Diakhir Juni 1989, di depan massa Suu Kyi terang-terangan mengajak militer untuk menggulingkan “orang kuat” tersebut. “Ne Win telah merendahkan martabat AB. Aku mendesak para pejabat Angkatan Bersenjata dan SLORC untuk setia kepada negara. Setia kepada rakyat. Bukan kepada Ne Win”, ujarnya.
Kecaman terbuka gaya Suu Kyi itu menggegerkan. Ia, dengan begitu telah melumerkan kebekuan politik yang telanjur mentradisi. Kelantangan suaranya jadi semacam obat penawar, pada mulanya. Lama kelamaan, hal itu besar artinya buat mempertebal semangat dan kesadaran rakyat tentang demokrasi dan hak-hak asasi. Faktanya, figur Ne Win dibenci rakyat. Tapi, baru Suu Kyi yang punya nyali “menyumpahi” Ne Win.
Kena tampar begitu keras, Saw Maung langsung beraksi. Beberapa pekan kemudian para pemimpin NLD diburu dan diprodeokan. Pada 20 Juli, Suu Kyi bersama 42 pentalon NLD ditangkap. Situasi berkembang buruk. Tentera menggeledah semua kantor partai dan 200 aktivis partai ditahan. Dengan tegas dihadapinya intrik kotor dan keji penguasa Myanmar.
Seusai “pembersihan” terhadap Suu Kyi dan partainya, the rulling clas menjanjikan pemilu. Maklumat itu bertujuan ganda: memberi ‘permen’ buat rakyat dan pengerem tekanan internasional. Pihak SLORC memang tak ingkar janji. Pemilihan umum yang bersih – hal yang mencengangkan banyak peninjau – berlangsung Mei 1990. Regim militer mengandalkan Partai Persatuan Nasional(NUP) pengganti BSPP.
Optimisme NUP bakal menang seperti diyakini Saw Maung, cukup logis. Mereka yakin, tentera, pegawai negeri dan para petani bakal berpihak pada NUP. Karenanya, SLORC tidak merasa perlu berbuat curang. Ancaman oposisi?. UU Darurat cukup mengekang ruang gerak kampanye mereka. Kebanyakan pentalon NLD sudah pula diprodeokan. Namun, aspirasi rakyat Myanmar berbicara lain. Hasil pemilu meleset dari ramalan. Partai oposisi, NLD menang telak – dengan perolehan 392 kursi dari 485 kursi parlemen yang diperebutkan. Celakanya, Saw Maung mengangkangi hasil pemilu itu. Parlemen terpilih tidak dibentuk, dengan dalih yang khas militer, “NLD pasti tidak becus memimpin bangsa.”
Aung San Suu Kyi menjadi lambang perlawanan tanpa kekerasan terhadap para penguasa militer Myanmar. Pemerintahan yang disebut Panitia Nobel sebagai “regim yang berwatak brutal”. Di dalam isolasi, berbagai konsesi ditawarkan regim – asalkan Suu Kyi meninggalkan Myanmar. Tapi, sekali “tidak”, ia pantang menjilat ludah. Angin demokratis yang ditiupkannya – yang mulai dapat tempat – sirna lagi. Rakyat Myanmar digiring surut. Kembali ke era intimidasi senapan dan suasana serba ketakutan.

(Sumber: Bonus Majalah Sarinah No. 242).

Catatan: Artikel Bonus ini selesai saya salin menjelang berangkat kuliah, Aleuhad/Ahad, 12 Oktober 2014, pkl. 9.48 pagi, T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s