Penulisan Sejarah

Penulisan Sejarah
Oleh: M Isa Sulaiman
Siapa saja yang jeli memperhatikan rubrik “komentar pembaca” suratkabar Serambi Indonesia pastilah tersentak oleh kenyataan bahwa kolom itu sering diisi oleh seseorang pembaca yang membantah bukan saja tentang cuplikan sejarah Aceh yang pernah dimuat dalam Harian ini, malahan juga cuplikan sejarah Aceh dalam berbagai publikasi lainnya.
Ambil saja sebagai contoh pada edisi 14 dan 22 Juni lalu, ketika Ridwan Azwad membantah pemberitaan yang mengatakan bahwa Tgk M.Daud Beureueh pernah bekali-kali ditangkap oleh Belanda.
Dalam edisi akhir Mei lalu, Mariman Jarimin membantah beberapa bagian tulisan A.Wahab Gam tentang perubahan status propinsi Aceh menjadi Keresidenan Aceh. Selain Ridwan Azwad, Twk A Djalil beberapa waktu lalu juga mempersoalkan beberapa bagian isi buku “Lima Puluh Tahun Aceh Membangun” yang menurut mereka terdapat beberapa bagian cuplikan sejarah di dalamnya tidak benar.
Kritik dan komentar yang disampaikan itu menyadarkan kita bahwa khalayak pembaca mempunyai kepedulian dan kesadaran yang tinggi terhadap sejarah daerah atau bangsanya, sehingga mereka terpanggil untuk mempertanyakannya jika terdapat sesuatu yang menurut mereka kurang tepat. Namun patut digarisbawahi bahwa apa yang mereka bantahkan itu sebenarnya menyangkut peristiwa atau fakta sejarah, yang merupakan bahan baku penulisan sejarah.
Fakta sejarah itu merupakan rekaman dari berbagai kejadian sesungguhnya atau sejarah sebagai kenyataan yang dalam bahasa Perancis disebut “histoire realite”. Sedangkan dalam arti subjektif atau “histoire recite” sejarah adalah konstruk atau paparan cerita masa lalu yang disusun oleh penulis berdasarkan bukti-bukti tersedia.
Dengan patokan di atas dapatlah ditarik garis demarkasi antara sejarah dengan aneka macam karya sastra, seperti cerpen, novel dan epik, walaupun yang terakhir sebenarnya juga dalam waktu konstruk yang disusun oleh pengarangnya, Akan tetapi patutlah diingat bahwa kadar campur tangan dan motivasi antara sejarahwan dan sastrawan dalam membentuk konstruk cukuplah berbeda.
Sastrawan lebih leluasa menggunakan imajinasinya dinadingkan dengan yang pertama. Karena objek sejarah adalah aktualitas di masa lampau. Sejarahwan berusaha mengemukakan gambaran tentang objek tulisan sebagaimana adanya dan kejadian sebagai sesungguhnya terjadi dengan prosedur yang cukup ketat dan tertib, baik dalam penetapan ruang(topografi) dan waktu (kronologi) maupun berdasarkan bukti-bukti.
Fakta sejarah terdiri atas perbuatan , aksi dan kejadian atau peristiwa yang dalam sejarah Aceh bisa kita temukan seperti mangkatnya Sultan Malik Al Saleh, pernyataan perang yang dikeluarkan Komisaris Pemerintah Hindia Belanda, Nieuwen Huizen kepada Sultan Aceh, pengangkatan T Nyak Arief – baik sebagai residen Aceh atau staf umum Komandemen TRI Sumatera – dan proklamasi yang ditandatangani oleh Tgk M Daud Beureueh bahwa daerah Aceh dan sekitarnya menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia. Di samping itu tedapat pula fakta sejarah dalam wujud “a particular truth” yang merupakan generalisasi dari sejumlah fakta khusus yang dalam sejarah Aceh dapat dijadikan sebagai contoh gerakan kebangkitan Islam sejak dasawarsa 20-an.
Fakta sejarah yang tiada terbilang jumlahnya itu sudah terekam dalam aneka macam dokumen baik yang beraksara Arab, Latin dan Cina maupun yang berbahasa Aceh, Melayu/Indonesia, Arab, Cina, Portugis, Belanda, Perancis, Jepang dan Inggris.
Lalu timbul pertanyaan apakah fakta sejarah itu semata-mata dalam wujud sumber tertulis?. Idealnya begitu. Akan tetapi sejarahwan bisa juga mempergunkan sumber artifak atau lisan. Yang jelas artifak termasuk fosil adalah bahan baku utama arkeologi, palaeontologi dan prehistori. Sebaliknya, bila mau mempergunakan sumber lisan sejarahwan haruslah hati-hati dalam menyaring fakta yang diperoleh dari informan.
Masalahnya tiada lain informan yang menyuguhkan fakta adalah manusia yang mempunyai ingatan terbatas terhadap peristiwa yang telah jauh berlalu, mempunyai kepribadian dan kecenderungan yang khas, dan juga kepentingan tertentu terhadap fakta yang dikemukakannya.
Pengerjaan sejarah sebagai rekonstruksi masa lampau itu hanyalah mungkin dilakukan setelah pertanyaan pokok dirumuskan terlebih dahulu. Bertolak dan dituntut oleh prtanyaan pokok itulah sejarahwan melakukan pencarian atau penemuan data
(heuristik). Data yang terkumpul dalam dokumen itu belumlah diterima begitu saja, melainkan diuji terlebih dulu kadar otentisitas dan kredibilitasnya –melalui prosedur kritik sumber sehingga diperoleh fakta sejarah yang secara historis benar.
Prosedur demikian sangatlah penting dilakukan mengingat fakta sejarah itu mempunyai kadar yang beragam. Dalam sejarah Aceh misalnya, kita menemui ribuan fakta keras yang telah diterima secara luas kebenarannya baik oleh ilmuwan atau orang awam, karena fakta tersebut ditemui dalam berbagai sumber tertulis.
Contoh kongkritnya adalah fakta tentang berdirinya PUSA, Gerakan F Kikan, Majelis Beureueh dan lahirnya Daerah Istimewa Aceh. Di samping itu terdapat pula fakta lunak masih memerlukan verfikasi kadar otentisitas atau kredibilitasnya.
Terakhir adalah yang secara sengaja dipalsukan oleh orang-orang tertentu tentang sesuatu peristiwa, karena yang bersangkutan memang mempunyai kepentingan terhadap peristiwa tersebut.
Bila fakta sejarah yang secara historis benar itu telah terkumpul dalam jumlah yang memadai, maka sejarahwan pun melakukan kegiatan penulisan(historiografi). Tahap ini tidaklah dapat dianggap enteng. Soalnya, penulisan sejarah menjadi histoire recite itu memerlukan pula keterampilan teknis,kepekaan, common sense, imajinasi, dan ketajaman analisis.
Apa yang dipaparkan secara amat singkat di atas, mengingatkan kita betapa berat beban dan tangung jawab yang dipikul oleh seseorang yang menaruh minat untuk menulis sejarah Aceh. Terutama apabila mereka bermaksud menulis sejarah yang tahan uji atau kritik. Jika tidak maka mereka terjebak kembali pada pola penulisan tradisional. Sebab, tradisi penulisan sejarah yang terdapat dalam khazanah budaya Aceh sebagaimana kita saksikan dalam naskah-naskah lama seperti Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat Aceh, Bustanussalatin, Hikayat Malem Dagang dan Hikayat Pocut Muhammad – memperlihatkan percampuradukan antara peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dengan mitos atau dongeng.

Dr M Isa Sulaiman MA, dosen sejarah FKIP Unsyiah, Banda Aceh

(Sumber: Serambi Indonesia, Sabtu, 6 Juli 1996 hlm.4/Opini).
Catatan: Diketik ulang dalam suasana Hari Raya ‘Idul Adha 1435 H, hari tasyrik kedua, Selasa, 7 Oktober 2014 pkl. 14.40 wib, T.A. Sakti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s