Kalau Profesor Menjadi Menteri!

Kalau Profesor Menjadi Menteri

SEMENJAK awal pemerintahan Orde Baru ada semacam kecenderungan dan arus “ditarkinya” sejumlah besar staf pengajar di berbagai universitas untuk menduduki jabatan struktural dan staf dalam pemerintahan. Di satu sisi hal ini dianggap bermanfaat, tetapi di sisi lain menimbulkan masalah di kampus. Mulai muncul pertanyaan apakah hal ini akan terus berlangsung menghadapi perubahan yang akan dialami Indonesia di masa depan. Dengan mengambil FE –UI, FE-UGM dan IPB sebagai contoh, wartawan Kompas Ninuk Mardiana Pambudi, Tony Dibyo Widiastono, Chrys Kelana, Julius Pour dan Indrawan Sasongko, mencoba memaparkan permasalahannya dalam tiga tulisan. Dua tulisan di halaman I dan satu di halaman XVI.

ANDA sempat membaca buku terbitan tahun 1969 The Best and The Brightest karangan bekas wartawan harian The New York Times David Halberstam?. Buku ini mengisahkan tentang Presiden John F. Kennedy dan orang-orang terbaik Amerika yang mengelilingi dan membantunya. Orang seperti Wapres
Lyndon B.Johnson, Jaksa Agung Robert Kennedy, Menlu Dean Rusk, Menteri Pertahanan Robert McNamara, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata Jenderal Maxwell Taylor, lalu juga William Bundy, McGeorge Bundy, Jendral William Westmoreland, Walt Rostow dan George Ball.
“Kalau saja ada yang menulis buku tentang “Sumitro dan Murid-muridnya” seperti tulisan David Halberstam dalam The Best and The Brightest , buku ini pasti akan jadi bestseller(laku keras). Di situ akan terlihat bagaimana situasi ekonomi, sejarah pemikiran ekonomi, kebijaksanaan ekonomi: bagaimana hasilnya dan orang-orang yang berperan di dalamnya”.
Ucapan bernada harapan itu dilontarkan Dr, Dorodjatun Kuntjoro Jakti, Direktur Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Univrsitas Indonesia sekitar dua pekan lalu. Apa yang dilontarkan itu terasa tiba-tiba karena dalam percakapan di ruang kerjanya, pembicaraan berkisar tentang harga minyak yang cenderng turun, dollar AS yang masih mengkhawatirkan dan perdagangan dunia yang makin protektif.
Barangkali ucapannya ada kaitannya dengan susunan Kabinet Pembangunan V yang baru saja diumumkan Presiden Soeharto. Barangkali juga ada kaitannya dengan keinginannya yang belum tercapai: menulis buku tentang sejarah pemikiran ekonomi Indonesia. Tetapi bagaimana pun juga buat semua orang FE-UI, baik staf pengajar maupun mahasiswa, peran Prof.Sumitro, Prof. Widjojo Nitisastro, Prof. Ali Wardhana dan lain-lain dalam pembangunan ekonomi masa pemerintahan Orde Baru, merupakan kebanggaan tersendiri. Sampai-sampai kebanggaan itu jadi agak keblinger dan cenderung sombong di kalngan mahasiswa. “FE-UI bukan hanya mencetak ahli ekonomi, tapi juga sekolah menteri,” kata mereka.
Kalangan yang tidak suka menyebut Prof Sumitro dan para muridnya sebagai Mafia Berkeley dengan konotasi negatif. Tetapi tidak ada yang bisa menyangkal bahwa “cap dan warna” keberhasilan mereka dalam pembangunan ekonomi merupakan fakta sejarah.
Sejak awal Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto mereka “ditarik” masuk ke dalam pemerintahan. Mula-mula penasehat ekonomi Presiden, dalam Dewan Moneter dan kemudian diangkat sebagai menteri.
Prof Sumitro. Prof Widjojo Nitisastro, Prof Ali Wardhana, Prof Sadli, Prof. Subroto, Prof Emil Salim, Prof Sumarlin, Prof Saleh Afiff. Semua mahaguru ini jadi menteri di bidang ekonomi, walaupun ketika pertama kali diangkat beberapa di antaranya baru bergelar doktor saja. Lalu belakangan ada Prof BS Muljana.
Orang kampus memang memperoleh kesempatan untuk mengabdi dengan menjadi menteri, sejak awal Orde Baru hingga saat ini. Bukan hanya orang FE-UI atau UI saja yang memperoleh kesempatan. Prof B.J.Habibie, Prof Sudarsono Hadisaputro, Prof JH Hutasoit, Prof H. Mukti Ali, Prof Fuad Hasan, Almarhum Prof Nugroho Notosusanto, Prof Syarifuddin Baharsyah, dan Prof Haryati Subadio, untuk sekedar menyebut sebagian dari deretan nama.
Staf pengajar yang jadi menteri juga tidak hanya yang bergelar Professor tetapi ada juga yang bergelar Doktor (Menmud Perdagangan Sudradjat Djiwandono dan Gubernur Bank Sentral Adrianus Mooy misalnya). Bahkan ada juga yang masih berelar Drs (Menmud Keuangan Nasruddin Sumintapura).
Dosen perguruan tinggi juga berkesempatan menjadi pejabat eselon I (Dirjen Dikti Prof Sukadji, Sekjen Departemen Perhubungan Dr Junaedi Hadisumarto), eselon II (Kepala Biro Kepegawaian Departemen Pertanian Dr Sutatwo Hadiwigeno), menjadi ketua lembaga (Ketua Bapepam Prof Barli Halim). Juga menjadi menjadi staf ahli menteri (Dr Dibyo Prabowo, Prof Ludolf Sinaga,Prof I.B. Teken), menjadi asisten menteri (Dr Herman Haeruman, Prof Kartomo Wirsuhardjo). Ini sekedar contoh dan masih banyak untuk bisa disebut satu persatu.
Mutu
“Ditariknya para staf pengajar di perguruan tinggi, termasuk IPB, tidak bisa dielakkan karena pemerintah memerlukan mereka,” kata Rektor IPB Prof Dr Ir Andi Hakim Nasution.
Sedang Dekan FE-UI Prof Dr Wagiono Ismangil mengatakan, pemerintah memelukan mereka karena ada kepentingan yang lebih besar dan lebih mendesak. Mereka mengemban misi FE-UI yang lebih luas.
Tetap dengan makin banyaknya tenaga staf pengajar perguruan tinggi yang ditarik ke pemerintahan dan nampak kecenderungan ini terus berlangsung, apakah tidak mengganggu proses belajar dan mengajar serta penelitian? Apakah mutu perguruan tidak akan turun mengingat orang yang ditarik merupakan orang-orang andalan ?.
Rektor UI Prof Dr Sujudi mengaku bahwa hal itu menimbulkan gangguan sedikit, ”Munafik kalau dikatakan kalau tidak ada gangguan. Hanya yang saya minta dan harapkan, gangguan itu bisa ditekan semaksimal mungkin dan dalam tempo singkat,” katanya.
Dalam soal mutu, Dekan FE-UI Prof Wagiono mengatakan, orang bisa berdebat mengenai hal ini. Tetapi kenyataannya dalam lulusan FE-UI diperhitungkan dalam lapangan pekerjaan dan staf pengajar muda yang dikirim ke luar negeri bisa masuk ke perguruan tinggi kelas satu.
Baik Prof Sujudi, Prof Andi Nasution dan Prof Wagiono berbicra tentang kaderisasi sebagai upaya untuk mempertahankan mutu. Dosen senior yang masuk pemerintahan digantikan oleh dosen muda yang berkualitas.
Untuk mempercepat peningkatan kualitas inilah staf pengajar dikirim ke luar negeri mengambil program master atau doktor. Dewasa ini, kata Wagiono, ada sekitar 30 staf pengajar FE-UI yang belajar di luar negeri.
Selain itu peningktan kualitas juga dilakukan dengan pembentukan Inter University Center (IUC) yang dipimpin oleh Ketua Jurusan Ekonomi dan Studi Pembangunan FE-UI Dr Iwan Jaya Aziz. Lembaga ini berugas memikirkan peningkatan mutu staf pengajar, materi kuliah, penelitian, dan penulisan buku untuk beberapa perguruan tinggi negeri.
Tetapi masih tetap ada kesangsian apakah dosen muda akan bisa menandingi dosen senior sekaliber Prof Widjojo atau rekan-rekannya.
“Dosen muda belum tentu kalah” tutor Prof Sujudi, “Pak Widjojo pernah mengatakan bahwa ia harus banyak belajar dari Iwan Aziz. Banyak hal yang sudah tidak diketahui oleh Pak Widjojo.”
Pengakuan kelebihan dosen muda ini juga diucapkan mantan Menko Ekuin Ali War(Bersambung ke hal. XII kol. 4-7)

(Sumber: Kompas, Minggu, 10 April 1988 hlm. 1). Catatan: Halaman sambungan belum terjumpai!, T.A.Sakti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s