Mengenang Teungku Syiah: Menyambut Ultah ke-53 Universitas Syiah Kuala, 2 September 1959 – 2 September 2014.

Mengenang Teungku Syiah
Sebuah poster lebar sekarang terpampang di sudut halaman depan Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh. Pesan yang dikandung “kain rentang” itu mengajak semua kita untuk memperingati Dies Natalis ke – 53 Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) pada tanggal 2 September 2014. Memperingati Hari Ulang Tahun Unsyiah, berarti mengenang jejak sejarah Unsyiah; sekaligus menghormati dan memuliakan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya.
Dalam rangka  memperingati hari-hari yang penuh kenangan yang mengharukan itu, sebagai alumnus Unsyiah; saya bermaksud mengisahkan perihal masyarakat di empat  kampung (gampong) yang amat menghormati Teungku Syiah. Gampong pertama adalah Gampong Tampieng Baroh, Mukim Caleue, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie. Gampong kedua dan tiga, adalah gampong Dayah Muara dan gampong Sawiet, yang keduanya dalam kecamatan Pekanbaro, Kabupaten Pidie. Informasi ‘peumulia’ Teungku ( Tgk) Syiah ini saya peroleh dari Drs. Zulkifli AZ alias Pak Joel, yang pernah menjadi Teungku Imum di gampong Tampieng Baroh – sekarang juga masih sebagai pelaksana Tgk Imum di sana. Selesai kami mengikuti hari penutupan kuliah di Pascasarjana UIN Ar-Raniry di hari Minggu pagi, 15 Ramadhan 1435 H yang lalu, saya mewawancarai Pak Joel di ruang tunggu gedung pasca itu.
Penduduk Tampieng Baroh memiliki sebuah Meunasah yang sejak dulu bernama Meunasah Teungku Syiah. Dinamakan demikian, karena Tgk Syiah pernah menunaikan sembahyang di Meunasah itu. Beberapa tiang dari bangunan lama juga masih terlihat utuh. Sebuah batu yang dipercaya pernah ditapaki(diinjak) Tgk Syiah masih ada sampai hari ini. Dulu, bila orang hendak naik ke Meunasah harus mencuci kaki(sekalian berwudhuk) di sumur, kemudian melangkah di atas batu sebagai alas tapak kaki hingga ke tangga Meunasah. Salah satu batu itulah yang masih dijumpai di Meunasah itu yang digelari “batee Teungku Syiah”. Menurut kisah turun-temurun masyarakat setempat, Tgk Syiah yang dianggap pernah mengunjungi kampung mereka adalah Syekh Abdurrauf alias yang juga bergelar Teungku Syiah Kuala. Menurut Drs. Zulkifli AZ , yang juga Kepala SDN Damai desa Jurong, Caleue, kampung lain yang juga dipercaya pernah didatangi Tgk Syiah adalah gampong Dayah Muara dan gampong Sawiet. Ketiga kampung itu letaknya bertetangga.
Sebab itulah ketiga kampung ini setiap tahun selalu mengadakan “Khanduri Teungku Syiah” dalam rangka mengenang dan mengambil berkah seumpeuna kunjungan ulama besar yang bergelar Tgk Syiah itu. Sekiranya, memang benar sebagai kepercayaan masyarakat, bahwa Tgk Syiah yang mereka hormati itu adalah Syekh Abdurrauf atau Teungku Syiah Kuala, maka berarti Kenduri Teungku Syiah telah berlangsung beberapa abad. Menurut pengalaman Pak Joel yang juga dosen Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Sigli, tradisi khanduri Tgk Syiahdi kampungnya telah dilakukan cukup lama dan tak pernah putus. Paling-paling hanya tata cara pelaksanaannya yang berubah sesuai perkembangan zaman. Pak Joel sendiri sudah menyaksikan 30 kali khanduri Tgk Syiah, yakni sejak tahun 1984 ia berkeluarga serta tinggal di gampong Tampieng Baroh.
Tempo dulu, acara kenduri Tgk Syiah berlangsung cukup bersahaja. Ketiga kampung itu melaksanakannya secara khusus sebagai upacara istimewa. Masing-masing rumah/keluarga mempersiapkan hidangan nasi- lengkap dengan lauk-pauknya untuk dihantarkan ke Meunasah. Tamu yang diundang adalah penduduk dari dua kampung bertetangga. Jika yang melangsungkan kenduri kampung Tampieng Baroh, maka warga kampung Dayah Muara dan Sawiet akan diundang ke Meunasah Teungku Syiah untuk menyantap kenduri. Begitu pula sebaliknya. Namun, jika acara kenduri lebih besar, barulah warga di kampung-kampung lain turut diundang. Berarti mengundang warga dua kampung yang pernah disinggahi Teugku Syiah; nampaknya termasuk wajib.
Dalam pelaksanaan Khanduri Tgk Syiah yang sudah bergantian abad itu, pernah pula dibuat kenduri tiga hari berturut-turut. Misalnya, hari pertama adalah kenduri Maulid, hari kedua merupakan khanduri Tgk Syiah, sedangkan di hari ketiga adalah khanduri blang(kenduri bersawah). Namun, beberapa tahun terakhir, khanduri Tgk Syiah sudah diserentakkan dengan kenduri maulid Nabi Muhammad Saw.
Hingga kini, masyarakat sekitar masih menganggap ‘bertuah’ Meunasah Teungku Syiah itu. Hal ini terkesan dengan masih adanya orang-orang yang membayar nazar(peulheueh kaoy). Misalnya, bila tanaman padi di sawah diganggu hama tikus, maka warga pun bernazar ke Meunasah itu. Ketika nazar terkabul, maka mereka pun mengantar sejumlah kiloan padi buat dana abadi Meunasah Tgk Syiah.
Begitulah yang dipraktekkan masyarakat kampung Tampieng Baroh, Dayah Muara dan desa Sawiet , Kabupaten Pidie sejak dulu sampai kini. Hanya dengan pernah disinggahinya sekali ke kampung mereka oleh seorang Teungku Syiah yang amat dihormati, maka mereka pun telah melangsungkan “ khanduri Teungku Syiah” bergantian abad.

Bila bagi  masyarakat tiga gampong di Pidie mempunyai Meunasah Teungku Syiah dan Khanduri Teungku Syiah, maka bagi masyarakat Blang Oi, kota Banda Aceh juga punya kenangan tersendiri terhadap Syekh Abdurrauf-Teungku Syiah Kuala. Mereka memiliki Bale Teungku Syiah, yang tetap terpelihara turun-temurun sampai peristiwa tsunami Aceh, 26 Desember 2004. Bale itu terletak dalam komplek Meunasah Blang Oi. Alkisah, diceritakan Tgk Syiah Kuala pernah mengunjungi kampung Blang Oi dan melangsungkan pengajian agama di balai itu. Dulu, di kawasan Meunasah Blang Oi, selain Bale Teungku Syiah juga terdapat Bale Panyang dan Bale Tambo(Balai Bedug). Sebagai kelaziman tempo dulu, Bale itu selain sebagai tempat pengajian, pada malam hari juga menjadi lahan penginapan bagi pemuda-pemuda lajang sedesa. Namun, bila tidur di Bale Teungku Syiah, mereka harus berlaku tertib, suci dan sopan. Bila melanggar, pasti ada peristiwa aneh yang bakal terjadi.
“Barangsiapa yang tidur tanpa mencuci pipis(hana rah iek), besok pagi kita lihat ia tertidur dalam rumput di halaman Bale Tgk. Syiah”, kisah Prof. Dr. Yuswar Yunus kepada saya sambil terkekeh. Beliau penduduk asli gampong Blang Oi, Banda Aceh.
Buat mengenang kunjungan Tgk Syiah Kuala yang hampir empat abad lalu, sekarang dalam bekas areal Meunasah Blang Oi telah didirikan sebuah masjid yang bergelar Mesjid Syekh Abdurrauf al Singkily beserta sebuah yayasan yang diberi nama “Yayasan Syekh Abdurrauf al Singkily” pula. Hal ini menunjukkan, begitu besar penghargaan masyarakat Blang Oi kepada ulama besar mereka; Syekh Abdurrauf-Teungku Syiah Kuala, yang sudah berpulang ke Rahmatullah hampir empat abad lalu.

Di negeri orang, termasuk di Jawa, jenis kisah berupa dongeng, legenda, haba jameun terun-temurun seperti ini terwariskan dengan cukup baik, karena sudah terkumpul dalam berbagai buku, filem dan alaat-alat rekaman jejak lainnya. Kini, kisah-kisah serupa di Aceh nyaris punah, karena tak ada pihak yang peduli …!. Patut kiranya ke depan, dalam rangka memperingati Dies Natalis Unsyiah dilaksanakan berbagai acara terkait Syekh Abdurrauf-Teungku Syiah Kuala. Banyak hal yang dapat diangkat dari tokoh ulama Aceh ini, seperti dari profil pribadi yang amat haus ilmu dan menghasilkan karya tulis yang berlimpah serta mampu mendamaikan konflik agama dan politik di Aceh; pameran kitab-kitab beliau, mencetak ulang karya-karya itu, berziarah ke makam Tgk Syiah Kuala, Seminar pengaruh pemikiran Tgk Syiah Kuala di dunia Islam dan Asia Tenggara, lomba mengarang dan baca cae-puisi tentang sosok beliau dan sebagainya. Mengamati isi poster besar tersebut di atas, tidak terbayang adanya acara seperti yang kita sarankan itu!.

T.A. Sakti, Peminat naskah lama-sastra Aceh,

Email: t.abdullahsakti@gmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s