Mengganti Nama Unsyiah, Perlukah?

Opini Harian Serambi Indonesia:

Mengganti Nama Unsyiah, Perlukah?
Senin, 7 Juli 2014 11:43 WIB

Oleh T.A. Sakti
BEBERAPA hari terakhir, ‘debat’ pergantian nama Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) deras mengalir dalam masyarakat Aceh. Hal ini menunjukkan Unsyiah amat dicintai rakyat Aceh. Pendapat masyarakat berbeda-beda, sebagian pro dan lainnya kontra terhadap pergantian itu. Sebagai seorang alumnus Unsyiah, saya pun memiliki pandangan sendiri tentang poblema serius ini.
Dalam kehidupan saya yang kini hampir berumur 60-an tahun, sebutan Syiah sudah menyelimuti saya sejak kecil. Di kalangan masyarakat awam sering terdengar kisah-kisah misterius tentang Syiah, atau yang mereka gelari Teungku Syiah. Syiah adalah ulama yang amat tinggi ilmunya dan setaraf dengan Aulia atau Wali kalau di Jawa. Bagi masyarakat awam di Aceh, mereka juga punya kisah versi sendiri tentang sejumlah syiah seperti Syiah Abdokade (Syekh Abdul Kadir Jailany), Syiah Hudam, Syiah Kuala dan Syiah Plak Plieng.
Syiah Abdokade adalah pengguna pertama alat seni Rapa-I dan beliau sering menabuhnya di pinto guha (pintu gua) pada malam Jumat. Syiah Hudam adalah suami Putroe Neng asal Cina. Berkat keampuhan ilmu Syiah Hudam, semua penyakit bisa di tubuh Putri Neng sembuh total, sedangkan Syiah Kuala dianggap orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Aceh. Sementara Syiah Plak Plieng merupakan ulama yang tidak sepaham dengan Syiah Kuala dalam hal cara menyebarkan Islam di Aceh.
Bagi mereka yang pernah belajar Nadham dan Tambeh di Bale Teungku, tentu mengenal pula beberapa sosok Syiah lainnya, seperti Syiah Bal’am dan Syiah Barshisha. Kedua beliau adalah ulama yang sudah masuk taraf Aulia atau Wali karena ilmu yang dimiliki keduanya amat tinggi. Syekh Abdurrauf yang bergelar Syiah Kuala –dan sejak lebih setengah abad lalu menjadi label nama bagi Universitas Syiah Kuala– adalah ulama besar Aceh abad ke 17 yang juga menguasai ilmu yang amat dalam.
Berkat martabat ilmunya, yang disodorkan melalui fatwa; maka empat perempuan dapat menjadi Ratu (raja perempuan) di Kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke 17. Padahal sampai kini pun, para ulama masih memperdebatkan boleh-tidaknya satu negeri Islam dipimpin seorang wanita. Orang lain masih terus berdebat, sedangkan di Aceh sudah terlaksana dengan manis hampir empat abad yang lalu.
Tidak keliru
Dalam bahasa Arab, kata syayikh berasal dari kata syeikh, yang berarti mahaguru. Bila dibawa ke tradisi ilmiah sekarang, maka berarti guru besar alias profesor. Dalam lidah orang Aceh, kata syekh atau syayikh dalam huruf Arab dan Jawoe diucapkan syiah. Kesimpulan yang dapat dipetik dari uraian di atas, bahwa sejak awal tidak ada yang keliru atau salah dalam pemberian nama bagi Univeritas Syiah Kuala. Soal masyarakat luar Aceh yang sering keliru mengucap kata syiah menjadi syah atau syi’ah, itu masalah lain.
Gelar atau sebutan tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara berbeda-beda menurut masing-masing wilayah. Gelar-gelar tersebut antara lain; makhdum, wali, sunan, maulana, imam, fakih, khatib, syekh dan syiah. Maulana, sunan dan wali terkenal di pulau Jawa, makhdum dan khatib di Filipina dan Kalimantan. Sementara di Aceh sebutan syiah (Teungku Syiah) sebagai “ulama besar” dikenal masyarakat luas.
Begitulah suatu masyarakat terwariskan ‘memory’ yang berbeda tentang tokoh ulama “keramat” di wilayah mereka. Karena itu tidaklah sulit memahami, bila masyarakat luar Aceh sering salah saat mengucapkan nama Univeritas Syiah Kuala. Akibat memori otak mereka tidak menyimpan kata “syiah”, maka melengkunglah lidah mereka kepada momori lain yang berdekatan bunyinya dengan ucapan syiah itu. Akibatnya, meluncurlah dari mulut mereka nama universitas syah kuala atau universitas syi’ah kuala. Kata syah cukup popular dibandingkan syiah. Para sultan di dunia Melayu hampir selalu namanya diakhiri dengan sebutan syah, seperti Sultan Muhammad Daud Syah sebagai sultan terakhir dari Kerajaan Aceh Darussalam atau Sultan Iskandar Muhammad Syah yang ditabalkan menjadi sultan pertama Kerajaan Malaka.
Akar kekeliruan terhadap nama Unsyiah sudah terjadi sejak universitas ini belum lahir ke alam nyata. Surat Keputusan (SK) pendiriannya yang ditandatangani Presiden Soekarno mengalami kesalahan dari awal lagi. Saya yakin, bahwa bahan-bahan dasar buat isi SK yang disodorkan Panitia Pembangunan Unsyiah telah tertulis dengan benar. Namun, menjadi salah ketika diketik ulang oleh Staf Istana Presiden yang menyusun isi pernyataan/konsideran SK tersebut. Hal ini tentu tidak disengaja karena sang pengetik SK itu tidak memiliki memori terhadap gelar syiah di benaknya.
Tidak tahu-menahu
Lantaran itu, warga luar yang tidak tahu-menahu mengenai SK Unsyiah yang salah dari semula, sebagian besar mereka juga menyebut universitas syah kuala kepada Unsyiah. Sikap panitia pengusul SK yang tidak mempersoalkan kekeliruan itu, mereka tentu lebih memahami situasi. Kita yang hidup di era reformasi dan demokrasi sekarang, perlu menelaah kembali sejarah Bung Karno di era awal 1960-an itu. Saya percaya pihak panitia yang dimotori Gubernur Aceh Ali Hasjmy pasti berpikir: “Dari pada tidak mendapat apa-apa bila diprotes nanti, lebih baik diam saja asal tujuan utama tercapai.”
Sandungan lain yang mencegat Unsyiah bebas melangkah juga terkait namanya yang salah diucapkan orang, umumnya orang luar Aceh. Yaitu Universitas Syiah Kuala, namun sewaktu keluar dari mulut orang luar; lantas berubah bunyinya menjadi Universitas Syi’ah Kuala. Hal ini termasuk persoalan lebih baru. Sewaktu cara penulisan kata syi’ah masih menggunakan huruf ‘ain dengan tanda (‘) saat menulis syi’ah, maka kesalahan itu jarang terjadi. Akan tetapi ketika cara penulisan syi’ah sudah sama dengan cara menulis syiah, yaitu syiah pula, mengakibatkan kekeliruan mengucapkan Universitas Syiah Kuala menjadi Universitas Sy’ah Kuala, justru semakin sering terjadi.
Kita yang tak punya wewenang apa-apa dalam hal bahasa, tentu tak dapat membalik jarum sejarah, agar cara penulisan kata aliran Syiah dikembalikan seperti cara lama, yaitu Syi’ah. Oleh karena itu cara lebih mudah mengatasi kesalahan orang menyebut nama Universitas Syiah Kuala adalah dengan menambah huruf (y) pada tulisan Syiah, sehingga tertulislah Universitas Syiyah Kuala. Sekiranya kesilapan pada SK pendiriannya benar-benar diralat, maka ketika itulah penambahan huruf y menjadi saat yang tepat.
Promosi, kini tersedia berbagai jalur canggih untuk memperkenalkan diri. Salah satunya adalah melalui iklan tampil di televisi. Keunggulan media ini terutama dalam hal mampu menampilkan fisik dan vokal suara secara terang-benderang. Khusus buat membetulkan sebutan atau panggilan terhadap sesuatu yang salah, maka media televisilah sarana yang paling ampuh. Usaha membetulkan salah ucap lewat tulisan di media massa tak mungkin berhasil. Sebab, melihat tulisan amat berbeda kesannya dengan mendengar pengucapan yang betul dari tulisan itu.
Saluran paling jitu untuk tujuan itu hanyalah lewat media televisi. Pengucapan terhadap nama Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dapat terdengar jelas dan fasih melalui media elektronik ini. Saya amat yakin, melalui acara-acara di TV Jakarta itulah sebagai solusi paling ampuh untuk mengikis salah-silap dalam menyebut nama Unsyiah yang ‘sudah berkarat’ berpuluh tahun. Semoga!

* T.A. Sakti, Peminat Manuskrip-Sastra Aceh, Dosen Unsyiah, dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: t.abdullahsakti@gmail.com
Berita Terkait: Opini

Iklan

3 pemikiran pada “Mengganti Nama Unsyiah, Perlukah?

  1. kalo sudah lama bahkan berpuluh tahun biasanya sangat sulit sekali, tapi apa saja yang baik pasti akan menang, 😛

  2. Pada tulisan saya yang lalu tertulis kata Syah, yang semestinya Syeh. Lidah Jawa mengucapkannya Seh, bukan Syiah sebagaimana kata T.A. Sakti dalam tulisannya diatas.
    Kata “Syah” berarti Raja atau bisa juga Penguasa, kata ini berasal dari Bahasa Parsi. Jadi sangat pas apabila Raja2 Melayu menggunakan kata ini dibelakang nama mereka. Adapun pendapat menambahkan huruf y dalam tulisan Syiah sehingga menjadi Syiyah itu menambah kekeliruan karena Syiyah dalam literatur Arab berarti hiasan / lukisan. Jadi, kembali pada tulisan saya yang lalu untuk mengganti kata Syiah yang paling tepat adalah Syekh, Syeh, Syeikh / Syaikh. Karena kata2 yg saya sebutkan mengandung arti guru besar / ulama besar yang dihormati. Jika kata tsb sulit / berat untuk diucapkan bisa ditulis Syaih dengan mendahulukan huruf a pada kata Syiah. Semoga tulisan saya bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s