Makna di Balik Permainan Anak Aceh

Pong Ma dan Tuhan
(Memaknai ulang permainan Aceh)
Oleh: Dr.Hasballah Saad

Memang ibu,mak,bunda atau ummi adalah teluk yang teduh tempat semua perahu manusia berlabuh dengan tenang, setelah lelah mengembara dalam samudera kehidupan.
***

Dalam tradisi kanak-kanak  Aceh, sangat terkenal permainan meupet-pet (petak umpet) ada penjaga pong, yang bertugas mengawal tonggak dimana semua pemain pada awalnya berkumpul. Posisi tertentu itu yakni “Pong” adalah tempat semua pemain mulai berlari, dan ada yang bersembunyi, akan kembali ke “pong” bila dikejar oleh sang penjaga itu. Semua yang ikut bermain akan berlomba kembali menyentuh pong. Siapa yang berhasil menyentuh pong,  maka ia terbebas dari kejaran sang penjaga pong. Permainan ini menjadi ajang melatih gerak motorik, kecekatan, kelihatan, taktik dan strategi para pemain, yang umumnya anak-anak.
Didalam keluarga, para anak balita selalu dekat dengan sang ibu yang dipanggil “ma”. Akar kata ummi, ma adalah “pong” keluarga. Para balita yang senang bermain, akan kembali kepangkuan mama, manakala ada sesuatu yang ditakuti, dikhawatirkan atau sesuatu yang asing dan tidak dipahami. Mama menjadi tumpuan tempat berlindung yang aman bagi para balita, juga bagi anak-anak yang lebih tua. Tidak salah jika seorang menjerit karena sesuatu sebab, panggilannya bukan ayah atau bapak,tetapi mama ,e…ma… e” (wahai mama). Para anak balita akan memanggil mama bila ada suatu ancaman,kesakitan atau kesusahan yang dianggap mengancam dirinya. Mama menjadi symbol tempat berlindung, lambang keteduhan dimana semua orang akan berlabuh,
Agama (Islam) pun memposisi mama menjadi sangat  sentral. Rasulullah saw ketika ditanyai seseorang; Wahai Rasulullah, siapakah orang yang harus paling kita hormati di dunia ini?”. Rasul menjawab dengan satu kata ummaka” (Ibu mu) sang penanya bertanya lagi “ sesudah itu siapa lagi ya Rasul?”
kembali Rasul menjawab “ umma ka”, hingga 3 kali berturut-turut. Baru pada pertanyaan serupa kali keempat. Rasul menjawab “Abi ka” (ayahmu).
Itulah pertanyaan pemuliaan tinggi kepada sang ibu dan “kaum ibu” (baca perempuan) pada umumnya. Rasulullah memulai hal itu tatkala dunia Arab jahiliyah masih memandang rendah pada kaum perempuan. Pada masa itu malah para bayi perempuan dikebumikan hidup-hidup karena dianggap membawa malang bagi keluarga. Penistaan perempuan sudah melampaui batas yang tidak dapat di maafkan. Rasul saw yang membongkar tradisi itu, dan menempatkan posisi perempuan pad derajat yang lebih mulia, hatta atas posisi sang ayah (laki laki) sekalipun. Memang ibu, mak, bunda dan ummi adalah teluk yang teduh tempat semua perahu manusia berlabuh dengan tenang, setelah lelah mengembara dalam samudera kehidupan.
Bagaimana orang yang tidak memiliki ibu? Kemana dia akan berlabuh tatkala memerlukan perlindungan, atau istirahat untuk melepas penat, tempat mengadu atas segala duka lara, yang tak tertanggungkan?. Bayangkan pula para anak yatim piatu, atau piatu tak ber-ibu lagi, jika mereka berduka lara, mengalami kepedihan dan derita hidup, kepada siapa sang piatu harus mengadu , dan mencurahkan isi hatinya, kemana dia harus meminta kembali perlindungan dan pemanjaan diri? Maka disini Tuhan menjadi penting.
Tuhan adalah “pong” atau “mak” tempat semua orang berlabuh tenang. Tuhan maha awal dan maha akhir ! Seperti “pong” atau “ma” dari situlah balita pergi bermain, dan kesanalah semua orang akan kembali , baik suka ataupun tidak suka. Bayangkan kalau Tuhan tidak ada , atau tidak mau menerima kembalinya seseorang mana kala dia membutuhkannya. Ini seumpama mak yang tidak tahu menerima kepulangan balitanya. Alasan apapun, baik karena malu disebabkan terlalu banyak dosa atau pembangkangan atau karena tidak tahu bagaimana cara agar dekat dan mudah kembali kepada-Nya, bukan soal. Pada akhirnya yang tidak Akrab dengan Tuhan akan mengalami masalah dalam proses kembalinya itu. Tentu perasaannya akan dihantui dengan ketakutan yang tiada akhir atau malu yang tak habis habisnya, atau merasa tidak pantas kembali kepada “pong yang maha Agung itu.
Bagaimana pula jika orang , utamanya anak-anak balita, mempersepsi bahwa Tuhan itu kejam, menghukum tanpa henti, melempar ke neraka jahannam , dan berbagai sifat tak pemaaf. Tentu kita akan mempersepsi “pong akhir” yang mengerikan. Kita kehilangan “pong” yang teduh, nyaman, melindungi tempat kita semua mencari akhir yang damai.
Para pemeluk Kristiani menyebut pong yang agung itu dengan kalimat “rumah bapa di surga” atau “kerajaan alah yang damai”. Kaum muslim menamakannya dengan syurga “jannatun naim” atau “jannatun Firdausi” atau sebutan lain yang menjadi lambang keteduhan, kedamaian abadi dan bahagia tiada akhir, ini merupakan rekonstruksi harapan. Penyerahan total dan kerinduan pada sesuatu yang abadi menyenangkan. Dalam terminology Islam semua sebutan tersebut, yakni “jannatun-naim’’ atau “jannatun-Firdausi” atau “jannatun-makwa” adalah harapan, kerinduan akan kedamaian abadi, dan kesenangan tanpa akhir.
Kearifan Aceh
“Pong adalah kearifan yang mesti diajarkan kembali kepada anak-anak Aceh, meskipun dia sulit membayangkan wajah Tuhan dan bagaimana sesungguhnya surga itu, konsep “pong” dalam permainan meu-pet-pet (petak-umpet) itu sebagai penyerahanaan atau lebih konkrit bagaimana “mak” diperlukan dikala susah atau duka, atau pun berbagai suka.
Menarik disimak teori “big-bang” yang dianut sebagaian para ahli kosmologi dan menguak asal mula kejadian alam ini. Dari satu titik beku maha pekat meledak dengan sangat dekat hingga mengeluarkan gas yang luar biasa banyaknya, dan pecahan pecahan dari molekul amat panas dari pecahan itu terlontar oleh kekuatan maha dahsyat memenuhi jagat raya yang tanpa batas. Putaran epicentrum dalam kurun waktu yang sangat lama, telah mengubah gas menjadi benda-benda langit yang saling mengitari titik yang paling induk . Matahari dipercaya merupakan pusat epicentrum jagat raya. Dan bukan pula mustahil bahwa ada jutaan matahari yang lahir dari pecahan zarrah yang maha awal itu dengan segala sistemnya.
Lalu konsep akhirat boleh jadi dijelaskan sebagai ketika sebagai saatnya nanti, setelah makhluk mengembara di dunia dan menunggu di alam barzah, akan tiba saatnya kembali kepada Sang  Maha Awal, atau menyatu dalam titik amat pekat dengan kekuasaan Sang Maha Pencipta. Manusia dan semua makhluk Allah, tidak lagi memerlukan ruang dan tidak larut dalam dimensi waktu. Wallahu a’klam. Tapi petak umpet dan konsep “pong” dapat dijadikan media untuk menggiring pemahaman ke arah soal-soal ketuhanan dan hakekat kejadian alam semesta.
Big bang telah dengan sangat mudah diterjemahkan oleh para arif Aceh masa lalu ke dalam permainan petak umpet itu. Berawal dari pong yang satu, para pemain menyebar ke sekeliling pong hingga penjaga pong tidak dapat menjangkaunya. Akan tetapi sejauh apapun para pemain lari pada akhirnya kalau dia mau selamat dan terbebas dari kejaran dari penjaga pong (malaikatul maut?), maka dia harus kembali ke asal, yakni pong, tonggak dimana tadi mulai berlari. Dari tanah kembali ke tanah.
Dalam ungkapan Aceh disebut “asai bak tanoh meuwoe keu tanoh, Tuhan peuteungoh blang padang mahsya”, yang artinya segala sesuatu berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah, Tuhan lah yang akan membangkitkan kembali di padang mahsyar kelak, merupakan kalimat yang menjelaskan hakikat kejadian manusia dan dan semua makhluk hidup ciptaan Allah di bumi.
Tentu pengajaran hal demikian itu tidaklah mudah bagi anak anak balita dan sebaya mereka. Konkritisasi prinsip itu diajarkan dalam permainan petak umpet, dimana pong adalah mula dari segala mula, dan kesitu pula semua orang akan dan harus kembali.
Teori big bang yang rumit, dan pesan tentang hakikat hidup telah diterjemahkan ke dalam sebuah permainan menyenangkan oleh para ahli kebajikan Aceh. Dari maha tunggal, semua orang akan kembali “maha esa” itu, tanpa kaya miskin, megah dan hina, suka atau tidak suka. Pada akhirnya semua orang yang dan makhluk akan kembali ke dalam “ yang maha satu “ itu. Menarik pula jika prinsip ini digunakan untuk memahami teori atau paham wahdatul wujud, yang meyakini menyatunya makhluk dengan sang khalik. Tak ada ruang lagi diantara dua esensi itu. Maka al-halaj sampai pada kesimpulan bahwa kalau demikian maka “ Ana-alhaq” (akulah tuhan ) yang sangat controversial itu.
Permainan kesenian hasil karya Aceh masa silam penuh dengan simbol-simbol kehidupan, pesan moral, hakikat kehidupan, dan mengingatkan kita bahwa pada akhirnya hanya tuhanlah yang “ maha abadi ’’ dan kekal selamanya. Presiden, menteri, pemilu, DPR, pangkat, kekayaan, kemegahan, pelantikan, deposito, rumah , jabatan, dan mobil dinas, semua itu adalah assesoris dan mainan perentang waktu menuju “ pong yang maha abadi” .
Dan saya amat yakin bahwa sesuatu yang tak tampak dengan mata kepala, akan dengan sangat jelas terlihat dengan menggunakan mata hati, jika kita menggunakan perspektif intangible approach dalam menggali berbagai rahasia, pesan dan makna dalam berbagai unsur dan elemen kebudyaan, khususnya dalam kebudayaan Aceh masa lalu. Siapa yang paham, mau dan bisa melakukan itu sangat ditentukan oleh tingkat kepeduliaan, kearifan dan kemampuan berfikir yang sungguh-sungguh terhadap khasanah budaya kita yang sangat kaya. Waallahu a’lamu bis-shawab.
#Dr. Hasballah Saad adalah dosen senior di FKIP Unsyiah, dan Ketua Dewan Pembina Aceh Cultural Institute (ACI) di Banda Aceh.
( Sumber: Serambi Indonesia, Minggu, 12 Juli 2009 halaman 22/Budaya ).
Catatan: Lon peugot catatan nyoe, seubab bak: Rabu, 25 Ramadhan 1435 H ( 23 Juli 2014 M), yakni hari ini adalah dalam rangka mengenang atau Ultah ke 30 kecelakaan di jalan raya yang saya alami di Yogyakarta. Naas itu terjadi hari Sabtu, 25 Ramadhan 1405 (15 Juni 1985 ) sekitar pukul 13.00 wib di wilayah Kalasan, lk 8 km sebelah timur kota Yogyakarta. Pada hari itu, kami mahasiswa peserta KKN-UGM dijemput pulang ke kampus setelah melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata selama dua bulan lebih. Saya sendiri, T. Abdullah Sulaiman beserta empat orang teman lainnnya ditugaskan di desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Selesai acara perpisahan dengan “Pemda Kabupaten di Boyolali” konvoi mahasiswa KKN-UGM bergerak pulang ke Kampus UGM Yogyakarta. Setelah melintasi Candi Prambanan peristiwa naas itu terjadi. Sebuah mobil Colt pengangkut barang tivi tiba-tiba menabrak saya. Akibatnya, saya perlu berobat dua tahun, secara medis di kota dan tabib patah di gunung. Nyaris skripsi tak selesai. Syukur Alhamdulillah, semua hambatan itu teratasi juga akhirnya. Semoga kedepan rahmat dan karunia Allah Swt semakin berlimpah dicucurkan kepada saya sekeluarga serta bagi kaum Muslimin-Muslimat, termasuk di Gaza, Palestina!. Selamat Menyambut Hari Raya ‘Idul Fitri 1435 H, mohon-maaf lahir dan bathin!!!.

Bale Tambeh, 25 Puwasa 1435
25 Ramadhan 1435 H
23 Juli 2014 M
( T.A. Sakti )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s