Kisah Orang Indonesia di Australia

Keturunan Indonesia di Queensland
Generasi yang Hilang

IA tengah mengikuti konferensi Islam yang berlangsung tiga hari di Sydney. Menggunakan gamis yang menutupi tubuh dan kopiah putih, lelaki berusia  55 tahun asal Mackay itu tampak ceria. Diakuinya,  ia termasuk generasi  Indonesia yang “hilang”  di Australia.
“Di Mackay ada kira-kira 100 orang keturunan Indonesia. Mereka semua lahir di sana,” kata Sahdean Hasan, orang dari generasi ketiga yang belum pernah ke Indonesia.
Mackay adalah sebuah kota kecil di Queensland yang pada decade 40-an, selain Brisbane, Sydney dan Melbourne, menjadi pusat pergerakan juang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Jauh sebelum bekas tawanan politik  Digul dan bekas pekerja-pekerja di kapal Belanda itu berjuang.  Di Mackay , ratusan orang Indonesia telah bermukim disekitar daerah itu, setidaknya sejak awal abad  ini.
Mohamad Bondan, pejuang yang kemudian menulis Genderang Revolusi di luar negeri (1971), menyinggung dalam bukunya  tentang pertemuannya dengan nenek Encon, yang saat itu berusia 65 tahun dan telah beranak cucu. Ia konon berasal dari Banten , mengikuti suaminya bernama Encon uang datang ke Queensland  untuk bekerja sebagai penanam tebu. Dan Sahdean Hassan, seperti diakuinya, adalah salah keturunan dari kaum pekerja tebu itu.
***
SAHDEAN menjelaskan dengan bahasa Inggris    karena memang tidak bisa berbahasa Indonesia    bahwa  kakek dan neneknya berasal dari sebuah  desa di Jawa Barat bernama Cikande Cimande. “Saya tidak tahu persisnya,” ungkapnya. “nama desa itu mungkin telah berubah sekarang. Kata orang-orang Indonesia, sebagian kata telah berubah, seperti  hitam yang menjadi item.”
Para pendahulu Sahdean, generasi pertama, meninggalkan kampung halaman mereka  ketika Krakatau  meletus tahun 1880-an. Maksud mereka semula sebenarnya bukan untuk bekerja  sebagai buruh perkebunan tebu. Melainkan untuk mencari  emas. Ada orang yang mengiming-imingi waktu itu, bila mereka datang ke Australia mereka akan mendadak kaya, karena terdapat banyak emas di sana. Ketika mereka tiba di tempat tujuan, mereka kecewa, karena tidak menemukan emas. Lantas mereka pun bekerja atau dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan tebu di daerah itu. Walhasil, mereka telah ditipu orang.
Tercatat dalam sejarah, sejak awalnya  industrI  gula di Queensland, seperti juga di New South Wales, para pekerja berwarna dari pulau-pulau laut Selatan sangat dibutuhkan, mereka dicari, dibujuk, dan di tipu atau dipaksa oleh para kontraktor untuk bekerja sebagai buruh murah  dalam kondisi-kondisi semi-perbudakan. Konon, dari tahun 1847 hingga 1904, kira-kira 57.000 orang kulit berwarna di borong ke Australia untuk di pekerjakan seperti itu.
***

PARA pendahulu Sahdean dari generasi  pertama itu tidak kembali ke Jawa, tapi terus tinggal di Queensland dan meninggal di sana. Ceritanya sedikit berbeda dari apa yang ditulis Dr Tuti Gunawan (1988). Menurut Tuti Gunawan , banyak buruh perkebunan tebu itu dipulangkan ke Jawa karena selain kontrak kerja mereka habis, Pemerintah Australia pun memperketat  kebijakan imigrasinya.

Generasi pertama itu telah menurunkan tiga generasi lagi. Generasi sekarang telah kehilangan  budaya nenek moyang mereka. Kalupun masih ada unsure  budaya yang tersisa, itu adalah beberapa jenis makanan seprti  nasi, roti, soun, sayur, cabai, lalap, kacang panjang dan sebagainya. Sahdean sendiri  dibesarkan dalam budaya barat. Orang tuanya tidak pernah mengajarkan Agama atau bahasa mereka. Mereka mengajari anaknya bahasa Inggris. Sedikit  saja mereka berbahasa Indonesia.
“Itulah sebabnya saya mengetahu i beberapa kata Indonesia. Generasi kedua umumnya tidak mempraktekkan Islam, meskipun mereka beragama Islam. Karenanya mereka juga tidak mengajarkan Islam kepada kami, kecuali beberapa Doa. Ada dua orang tua dari generasi kedua yang waktu itu bisa membaca AL Qur’an, tapi mereka juga tidak mengajarkannya kepada kami,” ujar Sahdean.
ia menambahkan bahwa ia sendiri menemukan Islam kembali lewat kematian ayahnya. Ketika ayahnya meninggal, seorang wanita India mangatakan bahwa karena ayahnya bernama Ismail Hassan, tentulah ia seorang Muslim. Lalu ia pun mempelajari  Islam dan semakin memahami  Agamanya setelah ia bertemu dan bergaul dengan orang-orang Islam yang berdakwah di Mackay.
***
MENARIK untuk dicatat, agaknya generasi migrant Indonesia yang datang ke Queensland  itu adalah generasi  pertama yang terus menetap di Australia, meskipun maksud mereka semula untuk kembali pulang setelah mereka kaya. Sebenarnya terdapat generasi lain yang lebih dahulu datang ke Australia, yaitu  orang-orang Makassar yang setiap tahun mengunjungi  Australia bagian utara, sejak awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Seperti dipaparkan  C.C. Macknight dalam bukunya The voyage to Marege(1976), selama hampIr seabad itu setiap tahunnya rata-rata seribu orang Makassar yang berlayar ke Australia. Mereka bisa menangkap tripang di sepanjang daerah yang disebut Marege, nama yang asal muasalnya tidak jelas, meskipun tercatat di berbagai sumber. Sebagian dari mereka mungkin saja mengunjungi  pantai Kimberly di Australia Barat yang mereka sebut kayu Jawa untuk melakukan  usaha serupa.
Kegiatan mereka berlangsung hingga akhirnya pemerintah Australia menerapkan undang-undang yang mempersulit usaha mereka menjelang  akhir abad ke-19 dan bahkan melarang kegiatan tersebut pada tahun 1906. Gelombang terakhir kedatangan orang-orang Makassar tiba di Australia tahun 1905-1906.
Meski  orang-orang Makassar itu tidak menetap,  mereka meninggalkan artefak seperti  gelas, mangkuk, cangkir, panci masak, jarum, alat pancing, uang logam , perapian untuk merebus Tripang, dan sebagainya. Keberadaan mereka di negeri kanguru juga diabadikan dalam lukisan-lukisan yang dibuat orang Eropa dan penduduk asli Australia yang bertemu dengan mereka pada masanya.
***
SAHDEAN menambahkan, terdapat perkuburan generasi pertama yang  terletak di luar Mackay.
“Sebenarnya terdapat lebih banyak lagi keturunan mereka. Di samping 19 atau 20 keluarga yang kini tinggal di Mackay dan sekitarnya, termasuk  keluarga saya, banyak pula yang telah menyebar ke seluruh pelosok Australia, sebagian bahkan menikah dengan orang-orang Australia.”  katanya.
Budaya Barat telah mempengaruhi seluruh kehidupan generasi keempat.
“Dalam hal ini misalnya ?’’
“Generasi setelah saya tidak merasa sebagai warga Indonesia, karena mereka tidak pernah merasa diajari seperti itu. Kabanyakan dari mereka berperilaku seperti  Australia.”
Untuk  melukiskan bagaimana generasi keempat itu telah terperosok dalam budaya barat, anak-anak muda itu tidak pernah memanggilnya  “Pak”.
Ketimbang menjabat tangan saya  ketika  bertemu , mereka menyapa saya dengan Hello atau G’day, Mate”’ ujarnya. “mereka menikah lewat celebrantmariage, seperti kebanyakan orang Australia. Melalui seorang celebrant. Mereka bisa menikah dimana saja mereka suka, di taman atau bahkan di pesawat udara,” tambahnya pula.
***

KETIKA  ditanya  bagaimana ia mengidenfikasikan dirinya sendiri, tanpa ragu ia menjawab, “ Saya keturunan Indonesia. Saya selalu menekankan itu. Namun pertama-tama saya adalah Muslim. Bila orang bertanya siapa saya, saya segera menjawab bahwa saya orang Indonesia. Tidak pernah terpikir dari benak saya bahwa saya orang Australia.”
Sahdean Hassan telah berkerja di perusahaan Telekomunikasi Australia selama 25 tahun. Ia menikah dengan seorang wanita Australia dan dikarunia lima anak, tiga putra dan dua putri,   ia berharap bisa mengunjungi kakek  dan neneknya  di penghujung tahun ini, untuk pertama kalinya. Namun ia ragu apakah ia bisa bertemu dengan kerabatnya  di sana kelak. Wallahualam.  (Deddy Mulyana).

( Sumber: Kompas, Selasa, 3 Maret 1992 )
*Laporan ini diketik ulang oleh T. Idham Khalid, putra saya yang pertama, 20 Juni 2014, delapan  hari sebelum 1 Ramadhan 1435 H.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s