Khanduri Aceh, Jenis dan Ragamnya

img_6573

Seorang ibu sedang memasak Timphan

Serambi
Minggu 30 Desember 2007

Khanduri Aceh,
Jenis dan Ragamnya

oleh Dr Hasballah  M. Saad
Khanduri  menjadi khas masyarakat Aceh. Dalam Masyarakat Aceh bila mempunyai hajat, apakah itu ketika mendapat kenikmatan sesuatu atau ditimpa musibah, biasanya melaksanakan khanduri. Khanduri itu sebagai pengabdian atau tanda ingat kepada Yang Maha Kuasa. Khanduri  itu dilakukan dengan menjamu saudara, tetangga dan kerabat untuk makan bersama   utamanya yang kurang mampu. Maka ada istilah khaduri hidup dan khanduri kematian. Khanduri selalu dipandang dan terkait dengan status sosial (orang kaya atau tokoh masyarakat).  Dalam kasus tertentu, seperti khanduri thon (tahunan) dilaksanakan khusus, para qari membaca Al Qur’an  dan melantunkan lagu-lagu pujaan, teungku membaca doa dan lainnya.
Beragam khanduri di Aceh. Ada khanduri Tujuh (menujuh  hari) yang terkait  dengan kematian seseorang  (pada hari ketujuhnya). Meskipun setiap malamnya para tetangga dan kerabat hadir melayat membaca Tahlil, membaca Qur’an, dan tausiah kepada keluarga yang kemalangan, tapi pada hari ketujuh merupakan puncak, dan biasanya diundang orang-orang khusus. Di samping itu ada khanduri tiga puluh, atau empat puluh empat, biasanya diakhir upacara meudoa, pada khanduri khusus ini, pemilik hajat memberi  sadaqah. Besarnya sedekah tergantung kepada status social dan kemampuan ekonomi sang tuan rumah.  Teungku biasanya diberikan dalam jumlah extra, anak-anak lebih sedikit dari orang dewasa.
Khanduri blang, agak khusus sifatnya, dilakukan setahun sekali  ketika musim bersawah akan dimulai. Beberapa ekor sapi dipotong di suatu tempat yang dianggap keramat, biasa di kuburan orang ternama (Teungku di Blang, atau tokoh pertanian yang telah lama tiada). Sering khanduri ini dilaksanakan di hulu sungai, di tengah sawah atau  di tempat  di mana pohon tumbuh di tepi hutan. Untuk tingkatan satu aliran sungai kecil, masyarakat biasanya memotong biri-biri. Peserta khanduri membawa bu kulah ( nasi bungkus dengan daun pisang yang diasapi), bu kulah di sajikan kepada tetamu terhormat  yang diundang dari kecamatan, atau mukim tetangga. Setelah upacara membaca doa-doa, maka seseorang tokoh terkemuka, seperti kepala mukim, atau kujruen blang, memberikan pengumuman tertentu. Seperti kapan harus membersihkan selokan, memperbaiki irigasi desa, awal musim membajak lahan, atau saat mulai menabur benih. Ini merupakan komando, dan koordinasi antara petani di hulu dan di hilir agar distribusi air bisa merata.
Khanduri maulud, berkenaan dengan memperingati kelahiran Rasulullah saw.  Khanduri maulud ini dapat berlangsung selama rentang waktu seratus  hari. Dalam bulan penanggalan Aceh, ada buluen maulud, Adoe Maulud, Kumuen maulud dan Cuco maulud yang hanya sepuluh hari sehingga tiga bulan dan sepuluh hari itu genap menjadi seratus hari. Dalam penanggalan hijriah,  maulud dimulai dengan bulan Ra’biul  awal,lalu Ra’biul akhir, Jumadil awal dan sepuluh hari Jumadil akhir. Tradisi khanduri maulud itu juga ditandai dengan pembacaan zikir, puji-pujian kepada Rasulullah. Ada pembacaan bezanji, atau shalawat Rasul, yang dilantunkan bersama, sebelum makanan disantap. Tetamu biasanya diundang dari  desa tetangga, dan ini akan saling berbalas mengundang. Khusus untuk tetamu pribadi, undangan dijamu di rumah masing-masing. Tetamu pribadi, selalu membawa bungong jaroe (buah tangan) berupa gula pasir ,roti, pisang, sirih, atau buah buahan lainnya.
Anak-anak bergembira  ria selama musim maulud ini. Makanan yang tidak habis dimakan dalam upacara yang biasanya digelar di lapangan meunasah atau mesjid, boleh dibawa pulang. Ditengah perjalanan  kerap kali dimakan lagi, di pematang sawah,di tepi sungai atau balai balai persinggahan. Para ibu dan anak perempuan menanti  “bu maulud” di rumah, makanan yang telah dicampur lauk, bekas dimakan lelaki, ditunggu dengan penuh harap. Rasanya yang memang enak dan mengundang selera. Dalam khanduri maulud tidak ada sedekah uang diakhir upacara. Selain membaca zikir, shalawat nabi atau berzanji,tak ada doa khusus yang dibacakan.  Peranan penting selalu ada di tangan sang pembuka hidang, karena dia paling berkuasa membagi  bagi makanan. Ayam panggang telur asin, atau udang galah tumis selalu hilang terlebih dahulu,  disembunyikan sang pembagi, atau prioritas selalu kepada anak, atau sanak keluarganya.
Khanduri Samadaroh, berasal dari kata- kata Tadarus.  Dalam bulan ramadhan, orang Aceh selalu membiasakan diri menghabiskan waktu malamnya  dengan membaca Al ‘ di meunasah atau di surau secara bersama sama. Tadarus Qur’an ini merupakan kelanjutan shalat taraweh berjamaah. Setiap kali bacaan Qur’an khatam, maka ada khanduri yang disebut khanduri tamat, atau Samadaroh (barang kali dari kata tamat tadarus).  Bu tamat, biasanya disantap menjelang sahur, sebelumnya dilakukan dzikir. Ada doa pendek yang dipimpin  imam meunasah.  Khatamul  Qur’an‘, menamatkan bacaan quran dilantunkan bersama. Khanduri samadaroh ini hanya dihadiri oleh para lelaki dan anak anak saja, para ibu dan anak perempuan jarang hadir, karena acara santap biasanya setelah tengah malam,  anak- anak yang ketiduran di meunasah sehabis membaca Alquran dibangunkan. Acapkali, shalat subuh menjadi terlambat karena ketiduran sehabis sahur dengan samadaroh itu.
Khanduri Meukeurija, untuk pesta perkawinan Aceh. Dulu ada  ungkapan bahwa  orang Aceh pergi berperang seumpama pergi ketempat meukeurija. Itu bermakna orang Aceh tak takut berperang, dan gembiranya menuju medan perang seumpama senangnya orang pergi ke pesta perkawinan. Itu terkait bahwa “bila mati dalam perang suci, maka dia akan mendapat pahala Syahid, dimana  tanpa hisap, langsung menuju Surga Allah swt’’. Tamu umum yakni kerabat, tetangga, handai taulan, dan tokoh masyarakat yang dikenal . Ada pula rombongan pengantar lonto baro (pengantar pengantin baru laki laki) yang datang khusus bersama pengantin. Jumlah rombongan disesuaikan dengan perjanjian. Dan tergantung uang hangus (biaya pesta yang ditanggung pihak laki laki) yang disepakati terlebih dahulu, melalui seulangke (perantara resmi).
Peristiwa antar pengantin ini biasanya menjadi ajang saling lirik antara peserta. Rombongan pengantin laki laki, terdiri dari kerabat dan kawan dekat  yang masih lajang. Beberapa tokoh dan orang patut patut, hadir sebagai pengetua dan pembuka jalan. Di pelaminan, anak anak muda lah mendominasi, sehingga para gadis di samping mempelai wanita menjadi inceran rombongan sang pengantin lelaki. Tidak jarang, peristiwa itu diikuti oleh perkenalan hingga menuju pelaminan berikut, tak lama setelah saling lirik terjadi di pesta itu.
Linto baro, disuguhkan hidangan santap penuh hiasan dan kualitas tinggi. Dada  ayam panggang, telur asin, gulai daging, atau eungkot rambeue   (ikan kuek) yang mahal. Panganan Aceh  menjadi hiasan hidang. Sang pengantin biasanya tidak memiliki selera makan, karena lebih memikirkan  malam malam selanjutnya sehabis pesta. Para pendampinglah yang menikmati makanan khanduri itu dengan lahapnya.
Tetamu yang diundang pada pesta perhelatan pesta perkawinan, disyaratkan membawa amplop, yang berisi uang tunai. Teumeuteuk namanya untuk menyerahkan amplop itu, sebagai tanda syukur dan ikut bergembira dan berpartisipasi  Dahulu,  sebelum budaya undangan dengan kartu undangan di praktekkan, dalam kebudayaan Aceh, ada ranup pate (sirih berlipat) yang diantar kepada orang-orang yang diundang. Bagi undangan biasa cukup dengan sehelai sirih, namun bagi undangan tertentu, seumpama pihak besan,orang patut,ulama, tokoh adat, maka ranup pate dibuat berlapis sesuai dengan martabat dan kedudukan seseorang.

Khanduri Apam. Dalam system penanggalan Aceh bulan dinamakan sesuai dengan peristiwa tertentu. Bulan maulud dinamakan untuk bulan bulan yang penuh dengan khanduri maulud Nabi. Bulan puasa dinamakan bulan ibadah. Demikian pula buleuen  Apam (bulan  apem). Karena sepanjang bulan itu orang Aceh melakukan khanduri Apam. Ini sama dengan bulan rajab dalam system penanggalan hijriah.
Dalam bulan rajab banyak sejarah penting terjadi dalam sejarah Islam.  Oleh karena itu, orang Aceh mensyukuri peritiwa penting dengan melakukan syukuran menyajikan apam sepanjang bulan itu. Para pejalan kaki atau siapa saja yang lewat sebagai musafir, selalu dijamu tanpa harus diundang  terlebih dahulu,  tak ada kewajiban membawa buah tangan untuk tuan rumah.
Dalam beberapa kasus, apam diantar ke meunasah, atau balai balai umum di desa. Untuk disantap oleh siapa saja. Ada apam kuah tuhe (Apam dengan kolak pisang) atau apam u(apam dengan parut kelapa), tergantung status social yang punya hajat. Konon dahulu kala ada seorang yang dihormati bernama Abdullah Rajab, wafat tanpa ada yang mengkhandurikannya. Maka siapa saja berkemudahan, dianjurkan untuk khanduri Apam, guna mengenang kematian tokoh itu.

img_6583

Para undangan sedang menikmati  kenduri di Khanduri Thon, nomor dua dari kiri Hasballah (Tgk. Aceh) putra Pahlawan tiga zaman Panghab Keumire

Khanduri Ie Bu Babah Jurong   Dalam bahasa Aceh adalah bubur beras yang cair dengan campuran santan kelapa. Khanduri ie bu dilakukan  diujung jalan desa, biasanya ditandai adanya kuburan keramat, pohon besar atau balai-balai desa. Khanduri ini lebih sebagai ritual penolak bala, menghindari wabah penyakit yang massal seperti cacar, kolera, atau peulaweue. Dulu peulaweue sangat ditakuti orang, karena merupakan wabah yang cepat menular dan sulit dicegah. Orang Aceh menolak bala itu dengan khanduri ie bu babah jurong.
Biasanya bubur ini tidak diberi pemanis atau gula, paling hanya dicampur pisang. Beberapa bagian, disajikan dalam tempat khusus, seuleuke (kotak daun pisang yang dirajut dengan lidi). Di dalam kotak itu diisi bubur, lalu diletakkan di tempat tertentu sebagai sesajen untuk makhluk halus, dan roh jahat, agar dia menjauh dari desa.
Betapa pengaruh hindu cukup kental  terasa dalm sesajian seuileuke ini. Kapan dan dimana  persinggungan budaya hindu dalam Islam di Aceh , tak ada catatan resmi yang diketahui dengan pasti, namun hal ini telah menjadi tradisi dan bahagian dari keseharian hidup orang Aceh sejak dahulu. Banyak lagi khanduri seperti  khanduri laot (pesta nelayan), khanduri padi (panen padi), khanduri peutron aneuk (menurunkan anak), khanduri aqiqah, keumaweueh, peucicap, dan khanduri sunatan Rasul.
Khanduri ‘Asyura.
Salah satu khanduri yang popular dalm masyarakat aceh adalah khanduri  ‘Asyura. Ini bermula dari kisah gugurnya  Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib. Cucu Rasulullah ini gugur dalam pertempuran melawan tentara Yaziz bin Muawiyah di Karbala. Ini merupakan tragedi paling berdarah terhadap keluarga Rasulullah saw, setelah beliau wafat. Husen adalah pemegang kekuasaan yang diwariskan dari abangnya Hasan yang telah diracun terlebih dahulu atas suruhan Yazin bin Muawaiyah juga. Motivasi     di balik  tindakan itu adalah ingin merebut kekuasaan yang ada ditangan Husen. Gugurnya Husen terjadi pada 10 Muharram. Maka dalam hikayat Hasan Husen, salah satu bait yang berkaitan dengan kisah tragis cucu Rasulullah itu adalah :
//Bak poh siploh uroe beuleun Muharram/  kesudahan Husen Jamaloe/ peu na mudah ta khanduri/. Poteu Allah bri pahla dudoe/ sepuluh hari bulan Muharram/ hari berpulang Husen Jamalul / apa yang mudah silahkan khanduri/pahala diberi hari kiamat//  Dalam tradisi masyarakat Aceh, hari  itu selalu diperingati setiap tahunnya, dengan melakukan khanduri bersama. Biasanya dilakukan di meunasah atau di surau. Setiap keluarga membawa makanan dan penduduk  kampung baik yang membawa makanan ataupun tidak,  semua di ajak makan bersama-sama. Yang didahului oleh doa bersama. Imuem (imam) meunasah biasanya yang memimpin do’a.
Bagi anak-anak , ini merupakan kesempatan untuk mendapatkan  menu yang sedikit lebih berkualitas. Ada sie manok, telur asin, daging dan ikan-ikan yang bagus. Di beberapa tempat , pada saat khanduri peringatan ‘asyura itu, Hikayat Hasan dan Husen dibacakan kepada yang hadir, beberapa bait, atau didendangkan secara bersama-sama.
Banyak diantara yang hadir menangis menyimak peristiwa tragis  yang menimpa keluarga Rasulullah pada hari ‘asyura itu. Di Iran, dan beberapa Negara yang mendapat pengaruh paham syi’ah, hari ‘asyura diperingati sebagai hari Yatim sedunia. Dalam sejarah awal masuknya Islam ke Aceh, memang suasana syi’ah sangat kental adanya. Semoga bagi para pendatang, pekerja dari luar Aceh, dan para pemerhati  budaya Aceh, mendapatkan pemahaman selayang pandang tentang  tradisi dan kebiasaan hidup masyarakat Aceh sejak dahulu kala. Bagi para peneliti yang lebih serius, tentu dapat menggantinya dari sumber-sumber yang lain, baik berupa ceritera lisan, sumber tertulis yang lengkap, atau melalui rekaman penuturan para pakar yang ahli.

*Penulis adalah dosen FKIP  Unsyiah Banda  Aceh,   Ketua Dewan Pembina Institut Kebudayaan Aceh, Pendiri Institut Perdamaian Indonesia (IPI ), Ketua Yayasan Lambrineu, dan anggota Pembina Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy.

 

*Mengenang Tiga Tahun almarhum Dr.Hasballah M. Saad, yang meninggal dunia 23 Ramadhan 1432 H/23 Agustus 2011 M   s/d   23 Ramadhan 1435 H/21 Juli 2014 M. Bale Tambeh, 21 Juli 2014, T.A. Sakti

v

Iklan

Kisah Orang Indonesia di Australia

Keturunan Indonesia di Queensland
Generasi yang Hilang

IA tengah mengikuti konferensi Islam yang berlangsung tiga hari di Sydney. Menggunakan gamis yang menutupi tubuh dan kopiah putih, lelaki berusia  55 tahun asal Mackay itu tampak ceria. Diakuinya,  ia termasuk generasi  Indonesia yang “hilang”  di Australia.
“Di Mackay ada kira-kira 100 orang keturunan Indonesia. Mereka semua lahir di sana,” kata Sahdean Hasan, orang dari generasi ketiga yang belum pernah ke Indonesia.
Mackay adalah sebuah kota kecil di Queensland yang pada decade 40-an, selain Brisbane, Sydney dan Melbourne, menjadi pusat pergerakan juang kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Jauh sebelum bekas tawanan politik  Digul dan bekas pekerja-pekerja di kapal Belanda itu berjuang.  Di Mackay , ratusan orang Indonesia telah bermukim disekitar daerah itu, setidaknya sejak awal abad  ini.
Mohamad Bondan, pejuang yang kemudian menulis Genderang Revolusi di luar negeri (1971), menyinggung dalam bukunya  tentang pertemuannya dengan nenek Encon, yang saat itu berusia 65 tahun dan telah beranak cucu. Ia konon berasal dari Banten , mengikuti suaminya bernama Encon uang datang ke Queensland  untuk bekerja sebagai penanam tebu. Dan Sahdean Hassan, seperti diakuinya, adalah salah keturunan dari kaum pekerja tebu itu.
***
SAHDEAN menjelaskan dengan bahasa Inggris    karena memang tidak bisa berbahasa Indonesia    bahwa  kakek dan neneknya berasal dari sebuah  desa di Jawa Barat bernama Cikande Cimande. “Saya tidak tahu persisnya,” ungkapnya. “nama desa itu mungkin telah berubah sekarang. Kata orang-orang Indonesia, sebagian kata telah berubah, seperti  hitam yang menjadi item.”
Para pendahulu Sahdean, generasi pertama, meninggalkan kampung halaman mereka  ketika Krakatau  meletus tahun 1880-an. Maksud mereka semula sebenarnya bukan untuk bekerja  sebagai buruh perkebunan tebu. Melainkan untuk mencari  emas. Ada orang yang mengiming-imingi waktu itu, bila mereka datang ke Australia mereka akan mendadak kaya, karena terdapat banyak emas di sana. Ketika mereka tiba di tempat tujuan, mereka kecewa, karena tidak menemukan emas. Lantas mereka pun bekerja atau dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan tebu di daerah itu. Walhasil, mereka telah ditipu orang.
Tercatat dalam sejarah, sejak awalnya  industrI  gula di Queensland, seperti juga di New South Wales, para pekerja berwarna dari pulau-pulau laut Selatan sangat dibutuhkan, mereka dicari, dibujuk, dan di tipu atau dipaksa oleh para kontraktor untuk bekerja sebagai buruh murah  dalam kondisi-kondisi semi-perbudakan. Konon, dari tahun 1847 hingga 1904, kira-kira 57.000 orang kulit berwarna di borong ke Australia untuk di pekerjakan seperti itu.
***

PARA pendahulu Sahdean dari generasi  pertama itu tidak kembali ke Jawa, tapi terus tinggal di Queensland dan meninggal di sana. Ceritanya sedikit berbeda dari apa yang ditulis Dr Tuti Gunawan (1988). Menurut Tuti Gunawan , banyak buruh perkebunan tebu itu dipulangkan ke Jawa karena selain kontrak kerja mereka habis, Pemerintah Australia pun memperketat  kebijakan imigrasinya.

Generasi pertama itu telah menurunkan tiga generasi lagi. Generasi sekarang telah kehilangan  budaya nenek moyang mereka. Kalupun masih ada unsure  budaya yang tersisa, itu adalah beberapa jenis makanan seprti  nasi, roti, soun, sayur, cabai, lalap, kacang panjang dan sebagainya. Sahdean sendiri  dibesarkan dalam budaya barat. Orang tuanya tidak pernah mengajarkan Agama atau bahasa mereka. Mereka mengajari anaknya bahasa Inggris. Sedikit  saja mereka berbahasa Indonesia.
“Itulah sebabnya saya mengetahu i beberapa kata Indonesia. Generasi kedua umumnya tidak mempraktekkan Islam, meskipun mereka beragama Islam. Karenanya mereka juga tidak mengajarkan Islam kepada kami, kecuali beberapa Doa. Ada dua orang tua dari generasi kedua yang waktu itu bisa membaca AL Qur’an, tapi mereka juga tidak mengajarkannya kepada kami,” ujar Sahdean.
ia menambahkan bahwa ia sendiri menemukan Islam kembali lewat kematian ayahnya. Ketika ayahnya meninggal, seorang wanita India mangatakan bahwa karena ayahnya bernama Ismail Hassan, tentulah ia seorang Muslim. Lalu ia pun mempelajari  Islam dan semakin memahami  Agamanya setelah ia bertemu dan bergaul dengan orang-orang Islam yang berdakwah di Mackay.
***
MENARIK untuk dicatat, agaknya generasi migrant Indonesia yang datang ke Queensland  itu adalah generasi  pertama yang terus menetap di Australia, meskipun maksud mereka semula untuk kembali pulang setelah mereka kaya. Sebenarnya terdapat generasi lain yang lebih dahulu datang ke Australia, yaitu  orang-orang Makassar yang setiap tahun mengunjungi  Australia bagian utara, sejak awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Seperti dipaparkan  C.C. Macknight dalam bukunya The voyage to Marege(1976), selama hampIr seabad itu setiap tahunnya rata-rata seribu orang Makassar yang berlayar ke Australia. Mereka bisa menangkap tripang di sepanjang daerah yang disebut Marege, nama yang asal muasalnya tidak jelas, meskipun tercatat di berbagai sumber. Sebagian dari mereka mungkin saja mengunjungi  pantai Kimberly di Australia Barat yang mereka sebut kayu Jawa untuk melakukan  usaha serupa.
Kegiatan mereka berlangsung hingga akhirnya pemerintah Australia menerapkan undang-undang yang mempersulit usaha mereka menjelang  akhir abad ke-19 dan bahkan melarang kegiatan tersebut pada tahun 1906. Gelombang terakhir kedatangan orang-orang Makassar tiba di Australia tahun 1905-1906.
Meski  orang-orang Makassar itu tidak menetap,  mereka meninggalkan artefak seperti  gelas, mangkuk, cangkir, panci masak, jarum, alat pancing, uang logam , perapian untuk merebus Tripang, dan sebagainya. Keberadaan mereka di negeri kanguru juga diabadikan dalam lukisan-lukisan yang dibuat orang Eropa dan penduduk asli Australia yang bertemu dengan mereka pada masanya.
***
SAHDEAN menambahkan, terdapat perkuburan generasi pertama yang  terletak di luar Mackay.
“Sebenarnya terdapat lebih banyak lagi keturunan mereka. Di samping 19 atau 20 keluarga yang kini tinggal di Mackay dan sekitarnya, termasuk  keluarga saya, banyak pula yang telah menyebar ke seluruh pelosok Australia, sebagian bahkan menikah dengan orang-orang Australia.”  katanya.
Budaya Barat telah mempengaruhi seluruh kehidupan generasi keempat.
“Dalam hal ini misalnya ?’’
“Generasi setelah saya tidak merasa sebagai warga Indonesia, karena mereka tidak pernah merasa diajari seperti itu. Kabanyakan dari mereka berperilaku seperti  Australia.”
Untuk  melukiskan bagaimana generasi keempat itu telah terperosok dalam budaya barat, anak-anak muda itu tidak pernah memanggilnya  “Pak”.
Ketimbang menjabat tangan saya  ketika  bertemu , mereka menyapa saya dengan Hello atau G’day, Mate”’ ujarnya. “mereka menikah lewat celebrantmariage, seperti kebanyakan orang Australia. Melalui seorang celebrant. Mereka bisa menikah dimana saja mereka suka, di taman atau bahkan di pesawat udara,” tambahnya pula.
***

KETIKA  ditanya  bagaimana ia mengidenfikasikan dirinya sendiri, tanpa ragu ia menjawab, “ Saya keturunan Indonesia. Saya selalu menekankan itu. Namun pertama-tama saya adalah Muslim. Bila orang bertanya siapa saya, saya segera menjawab bahwa saya orang Indonesia. Tidak pernah terpikir dari benak saya bahwa saya orang Australia.”
Sahdean Hassan telah berkerja di perusahaan Telekomunikasi Australia selama 25 tahun. Ia menikah dengan seorang wanita Australia dan dikarunia lima anak, tiga putra dan dua putri,   ia berharap bisa mengunjungi kakek  dan neneknya  di penghujung tahun ini, untuk pertama kalinya. Namun ia ragu apakah ia bisa bertemu dengan kerabatnya  di sana kelak. Wallahualam.  (Deddy Mulyana).

( Sumber: Kompas, Selasa, 3 Maret 1992 )
*Laporan ini diketik ulang oleh T. Idham Khalid, putra saya yang pertama, 20 Juni 2014, delapan  hari sebelum 1 Ramadhan 1435 H.

 

Brunei Darussalam Berpeluang Memajukan Tamaddun Islam

 

Brunei Darussalam Berpeluang Memajukan Tamaddun Islam

Oleh.  A. HASJMY
Brunei Darussalam adalah sebuah negara berbentuk kerajaan.
Brunei merupakan negaragara kecil di Asia Tenggara dengan penduduknya lebih kurang 300.000 jiwa. Terletak di Pulau Kalimantan bagian Utara dan sistem pemerintahanny yang sangat makmur di rantau ini karena memiliki hasil minyak bumi dan gas alam yang melimpah ruah. Pendapatan rakyatnya rata-rata sekitar US$20.000 dan termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara, bahkan di dunia.
Negara anggota termuda dalam organisasi ASEAN ini mendapat julukan “Kuwaitnya Asia Tenggara” Hal ini disebabkan kekayaan hasil minyak dan gas bumi yang luar biasa.
Agama
Seperti negara-negara Melayu lainnya, penduduk Brunei darussalam menganut Agama islam dan bermazhab Syafi’i. Mereka sangat teguh memelihara ajaran Islam. Masjid-masjid indah berdiri dengan biaya pembangunan dan perawatan ditanggung oleh kerajaan.
Anagka kejahatan di negeri ini sangat kurang, sebab rakyat berpegang teguh  kepada agama dan adat. Pelanggaran terhadap hukum bukanlah tidak ada, tapi sangat kecil jumlahnya. Hidup di Brunei yang mungil tapi modern ini adalah kehidupan yang dicita-citakan oleh semua umat. Meski sistem kerajaan tapi rakyat di sini sangat dekat dengan rajanya.
Ibukota Brunei Darussalam ialah Bandar Sri Begawan yang indah dan damai. Kotanya tidak begitu besar dan tidak padat dengan bangunan-bangunan, apalagi bangunan pencakar langit. Dan yang terakhir  memang di sana tidak ada. Kecuali di pusat kota, pemukiman penduduk, juga pegawai, dia bangun di tengah-tengah “hutan kecil” yang masih perawan, pepehonan yang tidak disentuh fondasi bangunan, memang sengaja tidak dipotong. Gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia dan pemukiman para pegawainya, demikian pula kenyataannya.
Sekalipun lalulintas dalam Bandar Sri Begawan belum begitu padat seperti ibukota negara-negara ASEAN lainnya (Jakarta, Singapura dan Kuala Lumpur), namun pembangunan jalan-jalan raya dan jembatan-jembatan layang telah disesuaikan dengan kemungkinan “padatnya lalu-lintas” dalam Bandar Sri Begawan 10 – 20 tahun mendatang; suatu perencanaan yang arif yang dapat memandang jauh ke depan.
Brunei Darussalam, terutama ibukota Negara Bandar Sri Begawan, belum dipersiapkan sebagai “tujuan wisata”, baik Wisata ASEAN maupun Wisata manca Negara. Karena itu, para wisatawan perorangan yang kebetulan berwisata ke Brunei Darussalam, jangan berharap akan dapat membeli barang-barang khas Brunei yang dijual pada wisatawan perseorangan yang kadang datang juga.

Saya pernah berjumpa serombongan wisata orang kulit putih dari negeri Belanda di Mesjid Jami Brunei yang berkubah emas murni. Yang tidak disangka-sangka sebelumnya bahwa orang kulit putih yang kafir diperbolehkan masuk Masjid Jami Brunei, dengan diharuskan memakai pakaian sopan.
Waktu itu dalam hati saya sempat timbul keheranan, mengapa masih ada pikiran di Banda Aceh untuk mengharamkan orang yang kafir masuk Masjid Jami Baiturrahman, sekalipun orang-orang luar Aceh sangat meyakini bahwa ulama-ulama dan para pengurus Mesjid di Tanah Aceh luas pahamannya dan lebih maju.
Seorang wanita muda dalam rombongan wisatawan Belanda yang saya jumpai di Masjid Jamik itu, mengatakan kepada saya, setelah  ia tahu bahwa saya berasal dari Aceh.
“Serombongan wisatawan Jerman pernah sangat kecewa waktu di Banda Aceh, karena pada waktu itu ada oknum di Masjid Jamik Baiturrahman yang melarang para turis masuk dalam masjid, padahal masjid Baiturrahman telah bersejarah panjang dan juga dikenal di negara Jerman”. Katanya. Mohon perhatian pengurus Masjid Jami Baiturrahman!
Brunei yang kaya minyak
Dalam sejarah dunia Melayu Nusantara, kita kenal Kerajaan Brunei Darussalam merupakan sebuah kerajaan besar dan disegani ketika itu. Luas wilayahnya bukanlah seluas wilayah Brunei Darusslam yang sekarang. Tapi juga meliputi Sabah dan Serawak yang sekarang bergabung dengan Malaysia. Juga sebagian Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah dan Kalimantan barat Indonesia.
Kerajaan Brunei Darussalam tempo doeloe adalah salah satu dari tiga kerajan Islam yang beridntitakan “Darussalam” di Asia Tenggara. Yakni Aceh Darusslam, Brunei Darussalam, dan Pattani Darusslam.
Ketiga kerajaan Oslam yang berpedoman kepada hukum Syariah Islam itu menjalin hubungan diplomasi yang baik ketika itu. Peranan “Segitiga Emas” itu telah membantu penyebaran dakwah islamiyah di rantau Asia bagian Timur.
Hal demikian dapat terjadi, karena dalam tiga Kerajaan Darussalam itu, banyk lahir ulama-ulama besar dan sultan-sultan yang berwibawa dan adil, di samping karena kekayaan alamnya yang melimpah ruah. Brunei Darussalam  memilki kekayaan minyak dan gas disamping kekayaan hutan.
Aceh Darusslam memiliki kekayaan minyak dan gas bumi, tambang emas dan perak, sutera alam, padi dan tentunya juga hutan yang luasnya tak terkira. Pattani Darusslam mempunyai kekayaan hutan yang sangat potensial, disamping kekayaan laut dan sutera alam yang bermutu tinggi.
Sekarang, dalam akhir abad ke 20 ini, negara Brunei Darussalam dengan kekayaan minyak dan gas alam yang sangat besar, akan dapat memainkan peranan yang amat penting dalam usaha membina kemajuan ekonomi, politik, budaya dan pendidikan umat Islam di Asia Tenggara.

Menurut hemat saya, bahwa Tugas Penting inilahyang dalam waktu dekat mendatang harus dilaksanakan oleh Kerajaan Brunei Darusslam, terutama oleh Sultan Hasanul Bolkiah yang masih muda dan (menurut yang saya tahu) bercita-cita mengangkat derajat dan martabat umat Islam di Rantau Asia Tenggara ini.Mudah-mudahan.

Universiti Brunei
Keinginan Sultan Brunei yang hendak menjadikan dirinya sebagai pewaris Kerajaan Brunei Darusslam yang wujud pada abad-abad XV,XVI,XVII dan XVIII, dimulainya dengan pembangunan pendidikan.
Langkah pertama dengan mendirikan Universiti Brunei sejak sepuluh tahun lalu. Ini adalah suatu realita besardari cita-cita besar yang sedang membentuk dirinya agar menjadi sebuah kekuatan pelaksana cita-cita yang dapat diandalkan.
Universiti Brunei yang baru berusia muda ini, telahmemiliki berbagai fakultas dan institut dan pusat kajian. Kenyataannya, memang tumbuh sangat cepat, karena didukung kekuatan dana yang hampir lebih dari kebutuhannya.
Kalau Kerajaan Brunei Darussalam mempergunakan sebagian dari kekayaan minyak dan gasnya untuk kepentingan pembangunan pendidikan yang sedemikian artinya pembangunan pendidikan itu tidak hanya untuk kepentingan rakyat Brunei saja, tetapi juga untuk pembangunan kemajuan Islam dan umatnya di Asia Tenggara, bahkan hendaknya sampai ke Timur Jauh seperti halnya negara-negara Arab yang kaya minyak. Mereka membangun pembangunan Islam di Jepang, Filipina, Korea, Taiwan, dan sebagainya.
Cepatnya pertumbuhan Universiti Brunei, karena ditunjang dengan dana yang cukup dari hasil minyak dan gas bumi, hatta mereka sanggup mendatangkan pakar-pakar dan sarjana serta ulama-ulama kenamaan dari mancanegara. Selain itu mereka mendatangkan para pakar dari Eropa, juga mendatangkan ulama, pakar dari Mesir, Malaysia, dan Indonesia. Kecuali itu, Universiti Brunei juga mengirim para pemuda Brunei untuk belajar di luar negeri.
Dari Aceh saja (Indonesia) Universiti Brunei mendatangkan empat orang intelektual/sarjana/pakar, yaitu : Prof, Dr Teuku Iskandar, Dr Teungku Ahmad Daudy MA, Dr Ir Teungku M Nasir MA dan Teungku Abdul Kadir Umar al Hamidy MA.
Menurut penilaian saya yang sudah dua kali berkunjug ke Brunei Darusslam dalam waktu dekat Universiti Brunei Darusslam akan menjadi salah satu Pusat Pendidikan, Kebudayaan dan Tamaddun Islam di bagian Timur ini. Mudah-mudahan! Dan bila suatu  hari kelak terbukti, Aceh punya andil besar karena ada empat putra terbaiknya mengajar disana!
#.  Prof. Tgk H. Ali Hasjmy, Ketua Umum MUI Aceh
( Sumber: Serambi Indonesia, Selasa, 5 Januari 1993 hlm. 4/Opini. ).
*Artikel ini diketik ulang  Amal, putra saya yang bungsu, Sabtu, 21 Juni 2014, dari lembaran koran Serambi yang ‘kotor’  akibat terendam lumpur tsunami Aceh.( Kepada seluruh umat Islam  di seantero dunia, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah Puasa Ramadhan 1435 H mulai besok, Ahad, 29 Juni  2014 M – T.A. Sakti ).

Ayo, menuliskan Aceh di Internet – v

Ketika Lima Tahun Menjadi Blogger:

18 Juni 2009 – 18 Juni 2014

 

Ayo, menuliskan Aceh di Internet – v

Menjalani tahun ke IV mengelola blog ‘budaya Aceh’ ini, memang mulai menampakkan kemumangan saya –mumang atau gamang – dalam hal mengisi artikel-artikel keacehan sebagai ciri khasnya. Ini, memang akibat kesalahan saya sendiri. Bagaikan orang kaya ketika berusia lanjut, yang terus-terusan membelanjakan hartanya tanpa perhitungan, padahal dia tak mampu lagi bekerja keras akibat keuzuran. Akibatnya, dari hari ke sehari modal hidupnya semakin tipis bahkan habis.

Hal begitulah yang terjadi. Sewaktu saya memiliki dokumen artikel dan surat pembaca yang bertumpuk-tumpuk, setiap bulan terus-menerus saya posting 4 buah tulisan bahkan lebih ke dalam blog tersayang ini. Keangkuhan ‘makmur artikel’ berlangsung terus selama 3 tahun. Pada pertengahan tahun ke 4 kemumangan saya mulai muncul, yakni saya mulai memposting tulisan-tulisan pilihan milik orang lain ke dalam blog ini. Karya saya sendiri dengan ketikan mesin Tik lama, memang masih ada – bahkan sampai sekarang pun masih tersimpan dengan baik – namun belum sempat dikomputerkan.

Patut disyukuri, walaupun terisi dengan artikel-artikel orang lain, blog ini tetap bertambah ‘beratnya’ setiap bulan berjalan. Alhamdulillah, kini www.tambeh.wordpress.com telah berusia 5 tahun. Kabar prihatin yang saya terima menjelang Ultah ke 5 ini adalah pihak Rental yang mengetik ulang artikel selama ini, sudah ‘minta ampun’ karena berhalangan tidak dapat membantu lagi. Mudah-mudahan ke depan saya segera mendapatkan Rental lain yang sudi menerima upahan ketikan!. Serta saya mengharapkan munculnya tanggapan para pengunjung blog untuk sudi memberi tahukan saya tentang keberadaan Rental tersebut = di sekitar Kampus Darussalam, Banda Aceh. Sebab, masih banyak kliping artikel dan berita dari berbagai media cetak yang tersimpan di kotak, laci, almari, map, amplop, tas, dompet dan dalam berbagai halaman buku di rumah saya. Lagi, tulisan-tulisan karya saya sendiri!.

Saya memang peminat kliping. Ketika di Yogyakarta awal tahun 1985 saya mempunyai 6 kotak kardus sedang yang penuh berisi kliping koran-majalah. Namun, setelah keluar rumah sakit akibat musibah di jalan raya Solo – Yogyakarta pada 25 Ramadhan 1405  H/15 Juni 1985 M, pikiran saya terhadap kegunaan tumpukan kliping berubah total. Saya berpikir dan merasa tak mampu berbuat apa-apa lagi akan isi kliping yang bermacam-ragam itu. Karena itu, saya bersama teman pembantu menyortir kliping dalam 6 kardus, sehingga tinggal satu kotak-kardus saja, yang isinya terkait sejarah dan kebudayaan pada umumnya. Lima kotak sisanya dibakar di bawah rumpun bambu di belakang kamar kost saya di Tawangsari, Yogyakarta. Herannya, setelah saya balik dari Aceh ke Yogyakarta pertengahan tahun 1987 untuk menyelesaikan Skripsi, hobi mengumpulkan kliping bergairah kembali. Itulah sebabnya, saya masih memiliki sejumlah lembaran kliping hingga hari ini.

Terkait musibah jalan raya yang terlanjur tersinggung di atas, pada 25 Ramadhan 1435 H/ 23 Juli 2014  M tahun ini,  tepat berjalan waktu 30 tahun. Sempena menyambut Ultah ke 30 itu, saya telah menerbitkan dua buku hasil transliterasi dari aksara Arab Melayu atau Jawi/Jawoe ke huruf Latin. Buku tipis berjudul “Hikayat Qaulur Ridhwan” adalah kitab bahasa Aceh berusia 210 tahun lebih, karya Syekh Abdussalam. Kelebihan kitab ini, karena ia tersaji dalam bentuk cerita pendek atau ‘cerpen’, sejenis karya tulis dalam bahasa Aceh yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Buku lainnya yang berjudul “Nadham Mikrajus Shalat” ditulis Teungku Sulaiman ibnu Abdullah, asal Gampong Lala, Andeue, dalam kecamatan Mila, Pidie sekarang. Kalau Syekh Abdussalam masih dapat kita jumpai keturunan beliau pada hari ini, namun kita belum dapat memastikan keturunan Tgk Sulaiman bin Abdullah saat dewasa ini!.

 

Keberadaan blog ‘tambeh’ di tahun ke 4 memang mengalami banyak kesenjangan, terutama dari kepeduan saya sehari-hari selaku pengelolanya. Selama ini, boleh dikatakan hampir setiap pagi saya membuka blog Bek Tuwo Budaya, antara lain untuk mengamati perkembangannya, membaca serta membalas surat para pemgunjung, sekaligus memposting tulisan baru. Tetapi, sejak September 2013 s/d Juni 2014 kegiatan saya setiap hari, nyaris tak tersentuh blog Tambeh tercinta. Hanya yang tetap saya jaga, agar setiap bulan mesti ada tulisan baru yang saya posting, baik di awal, tengah atau di ujung bulan berjalan. Jumlah tulisan yang saya posting pun amat kurang dibandingkan bulan-bulan sebelumnya yang banyak waktu ‘rehat’ bagi saya.

Ada apa gerangan yang hampir memutuskan tali cinta saya kepada blog Tambeh?. Kesemuanya ini gara-gara saya melanjutkan kuliah di Program Pascasarjana, demi memenuhi tuntutan aturan baru bagi seorang staf pengajar. Akibatnya, amat banyak waktu yang terkuras dalam menjalaninya. Singkat kata, nyaris setiap hari saya punya kegiatan yang terkait pembelajaran, tak terkecuali hari Ahad yang sudah lazim sebagai hari libur. Di tempat tugas, mulai Selasa hingga hari Jum’at, saya mengajar 18 SKS   dengan tugas memberi kuliah pada dua lokal setiap hari, sekaligus menjadi pengkaji awal proposal serta pembimbing skripsi mahasiswa. Seminar proposal dan sidang skripsi mahasiswa, selalunya pada hari Senin. Sementara sebagai mahasiswa pasca, setiap Sabtu – Minggu saya ikuti kuliah mulai jam 8.30 pagi sampai pukul 6 sore, di samping siang-malam menghadapi bertumpuk makalah untuk tampil di muka kelas.

Bagi saya yang sudah berumur 60-an, semua kegiatan “berkuliah” itu nyaris tak tertanggungkan!. Namun , apa boleh buat demi memenuhi syarat dan menjaga martabat, serta   mencari ridha Hadlarat, Allah Swt!. Semoga Tuhan segera menolong saya!, Amin!.

Walaupun upaya kuliah amat melumatkan fisik saya, namun ada dua hal menarik. Pertama, ternyata saya kuliah satu kelas bersama Ahmad Fauzan di pascasarjana. Beliau yang bernama pena Fauzan Santa merupakan salah seorang ‘penyemangat’ saya sebelum blog Bek Tuwo Budaya ini hadir ke publik!. Satu keajaiban lagi, Alhamdulillah, saya jadi mampu berkegiatan ‘menulis kembali’ setelah menjadi mahasiswa pascasarjana!. Sekitar setahun lebih sebelum itu, pisau kepenulisan saya menjadi amat tumpul!. Pernah sekitar 5 kali saya mencoba menulis artikel. Dua diantaranya menanggapi berita dan tulisan dalam Hr. Serambi Indonesia. Hasilnya, tulisan itu hanya selesai sebatas judulnya saja atau paling-paling satu-dua baris dan satu alenia saja. Ada hal yang lebih parah lagi!. Ketika itu, saya hendak menulis satu artikel ilmiah yang ditujukan ke Jurnal Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Jakarta. Semua buku rujukan yang terkait sejarah ketatanegaraan Kerajaan Aceh Darussalam sudah saya siapkan. Dua artikel serupa yang sudah dimuat dalam Jurnal itu, yaitu mengenai Sistem Tata Negara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Mataram telah lama saya koleksi. Namun, ilham menulis tak muncul-muncul. Pernah berkali-kali duduk di depan komputer, tetap ide mengarang tak menjelang!. Akhirnya, ke 12 buku rujukan saya simpan di bawah Meja Ochin hampir  setahun. Kemudian, timbul upaya menyalin seluruh artikel yang dikandung semua buku rujukan. Saya ajaklah anak-anak membatu ketikannya. Lalu, salinan buku itu saya olah hingga hilang semua perkataan penulis aslinya.

Jadilah artikel ketata pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam itu dengan kata-kata saya sendiri. Setelah dikutip nama para sumbernya, selesailah tulisan itu. Lalu, saya kirim ke Jurnal MK Jakarta. Soal belum dimuat hingga hari ini, saya lebih menduga gara-gara musibah di lembaga MK sendiri, yang membuat Jurnal tidak terbit lagi, hanya Majalah MK yang masih eksis hingga kini. Alhamdulillah, saya ucapkan berkali-kali, karena setelah itu saya  mampu menulis satu artikel yang berjudul:”Duri di Balik Nama Universitas Syiah Kuala”. Karangan itu saya kirim ke Hr. Serambi Indonesia, Banda Aceh. Tetapi hingga kini belum dimuat, namun saya tetap optimis bahwa tidak dimuatnya artikel itu gara-gara terlalu panjang/7 halaman, padahal aturan rubrik Opini Serambi maksimal hanya 4 halaman. Karena itulah, karangan tersebut telah terposting ke blog Tambeh!.

 

Sudah hampir empat halaman sambutan Ultah ke V blog ‘tambeh’ ini saya tuangkan, ternyata masih bersifat umum, yang menandakan keakraban saya dengan blog tercinta itu di tahun ke 4 memang renggang. Sekedar menutup lobang itu, sekarang akan saya turunkan sejumlah catatan:

Sekilas pengantar catatan:

 

  1. Pengunjung blog Tambeh Mgg, 23 – 6 – 2012 pkl 6.52 wib = 164. Negara-negara: United States = 88, Indonesia = 65, Malaysia = 4, Denmark = 3, Bahrain = 1, Canada = 1, Philippines = 1, United Kingdom = 1.

 

  1. Pengunjung blog Tambeh Senin, 24 – 6 – 2013 pkl 6.36 wib/Selasa = 203. Negara-negara: United States = 120, Indonesia = 65, Malaysia = 13, Sri Lanka = 1.

 

Sebagian besar yang dibaca/dibuka mengenai kisah binatang langka, yakni terkait Lingkungan Hidup ( LH ), yaitu: Hueng, Piet, Cempala Kuneng, Kumbang, Hikayat Kisason Hiyawan/Hikayat Dunia Binatang, Musem Khueng, Ka Meutuka Ke, Dara Malaih, Tanda-Tanda, Jampok, Simatong-Tiyong, Boh Rom-Rom, Peutren Aneuk, Sale, Umpung Keumuto, Ujo, Doda Idi, Batee di Gle, Abo Lam Paya, Haba Indatu, Bla Peunyaket, PKA Limong, Sidom Baet, Kawe Ukam, Ubat Gampong, Aceh Leubeh Peng?, Anggaran Mate, Udep Lam Goga, Bang-Bang Jamei, Denden Meutak Tham, Timang-Timang, Sayang Leuek Kutru, Daruet Kleng, Pasangtren Kilat, Meuek, Sabang Lon Sayang, hikayat Qaulur Ridhwan, hikayat Gomtala Syah, Hikayat Nabi Yusuf, Hikayat Ranto, Hikayat Banta Amat, Qanun Numboi Lhee, Ringet- Keurimue, Hate lam Goga.

 

  1. Pengunjung blog Tambeh Selasa, 25-6- 2012 pkl 4.45 wib. Rabu = 129. Negara-negara: – Indonesia = 70, United States = 37, Malaysia = 13, Filipina = 6. Catt: Banyak topik/jdl cae yg jarang orang “baca” selama ini ternyata banyak dibaca.

 

  1. Kunjunga blog Tambeh Rabu, 26 Juni 2013 pkl 4.58 pagi/Kamis = 321. Visitor = 103.

Negara-negara: United States = 171, Indonesia = 124, Sweden = 11, Malaysia = 8. Catt: idem

 

  1. Pengunjung blog Tambeh Kamis, 27-6-2013 pkl 6.33 wib/Jum’at= 226

Visitor= 96

Negara-negara: United States = 149, Indonesia = 96, Malaysia = 14,
Jepang = 2, India = 2, Canada = 1. Catt: idem.

 

 

6 . P engunjung blog tambeh Jum’at, 28-6-2013 pkl 6.52 pagi/Sabtu=156
Visitor=90
Negara-negara: Indonesia = 70, United States = 43, Malaysia = 25
United Kingdom= 3. Catt: tentang Sastra Aceh berkurang.

  1. Pengunjung blog tambeh Minggu, 23-6-2013 pkl 6.52 wib pagi/Senin = 172.

    Negara-negara: United States = 88, indonesia = 65, Malaysia = 4, Denmark = 3, Bahrain= 1, Canada = 1, Philipphines = 1, United kingdom= 1.
    Catt: Sastra Aceh banyak disentuh.

  2. Pengunjung blog Tambeh Senin, 24-6-2013 pkl 6.36 wib/Selasa= 203
    Negara-negara: United States=120, Indonesia = 65, Malaysia =13,
    Srilanka = 1, Catt: Cae Aceh tentang LH banyak dibaca.
  3. Pengunjung blog tambeh Sabtu, 29-6-2013 pkl 6.43 pagi/Ahad= 119
    Visitor= 76.
    Negara-negara: Indonesia = 63, United States = 40, Malaysia = 11, Australia
    = 1, Germany = 1.
  4. Pengunjung blog Tambeh Minggu, 30-6-2013 pkl 6.24 wib/Senin = 99
    visitor=69.
    Nenegara: Indonesia = 58, United States = 23, Malaysia=17,
    Azerbaijan=1, India = 1. Catt: Ubat Gampong.
  5.  Pengunjung Tambeh Senin, 1-7-2013 Pkl 5.53 Selasa = 109. Visitor = 76
    Negara-negara: indonesia= 57, United States = 40, Malaysia= 4,
    Sweden = 2, Thailand = 1, Singapore = 1, Taiwan = 1, Bahrain = 1, Australia=1.
  6. Pengunjung blog Tambeh Selasa, 2 – 7 – 2013 pkl 6.09/Rabu = 123. Visitor = 85. Negara-negara: Indonesia = 54, United States = 47, Malaysia = 5, Sweden = 3, Republic of Korea = 1, Canada = 1, Swizerland = 1, Singapore = 1.
  7. Kunjungan blog Tambeh Rabu 3 Juli 2013 pkl 6.06 wib/Kamis = 135. Visitor = 101. Negara-negara: Indonesia = 63, United States = 34, Malaysia = 25, India = 2, Taiwan = 1, Singapore = 1, Japan = 1, Germany = 1.
  8. Pengunjung blog Tambeh Kamis, 4-7-2013 pkl 6.28 pagi/Jum’at=186
    Visitor = 116.
    Negara-negara: Indonesia= 106, United States = 42, Swedia = 17,
    Malaysia = 11, Singapore = 2, Brunei Darusslam = 1, Canada = 1, Irak = 1.
  9. Kamis sore, 4-7-2013, Miswar membuat format baru blog Bek Tuwo
    Budaya.
    sepulang dari Kantin Dek MI- Rukoh untuk pasang foto rubrik Kisah

Orang Aceh di Malaysia. Kamis mulai jam 11.30 – 13.13.

  1. Urg baca blog Tambeh, 18 – 10 – 2013 = 181. Negara-negara: USA = 80, INDONESIA = 79, Malaysia = 13, Germany = 1. Ctt: Inilah kali pertama banyak pembuka/pembaca USA dibandingkan Indonesia.
  2. Pembaca blog Tambeh, Ahad, 28 – 10 – 2013. Jumlah 219. Negara-negara: USA = 101, Indonesia = 97, Malaysia = 16, Egypt = 1, Cambodia = 1. Ctt: Kali ke II USA lbh banyak dari pembaca Indonesia ( ? ? bohong2an )

TA

Senin pagi

23 – 10 – ‘13

Poh 6.46

 

 

Bale Tambeh, 18 Juni 2014

20 Khanuri Bu 1435

20 Sya’ban 1435 H

 

Pawang Blog ‘Tambeh’,

 

( T.A. Sakti )