Menyibak Hubungan Persahabatan Aceh – Jepara

Menyibak Hubungan Persahabatan Aceh
Kerajaan Aceh tempo dulu telah mengadakan hubungan persahabatan dengan sesama kerajaan di kepulauan nusantara dengan tujuan perdamaian dan menggalang persatuan guna menghadapi musuh yang ingin menjajah bangsa Indonesia. Selain itu Aceh juga menjalin hubungan persahabatan juga ikut membina perdamaian dengan mancanegara atau dunia internasional, seperti yang tersimpul dalam rangkaian kata sempena yang melekat (inherent) pada kata Aceh Darussalam, kata HM Nur Rl Ibrahimy.
Dalam bukunya berjudul Selayang Pandang Langkah  Diplomasi Kerajaan Aceh ia menulis hubungan persahabatan kerjaan Aceh (bahkan telah membentuk persekutuan/aliansi militer) adalah dengan kerajaan Jepara di pulau Jawa.
Awal abad ke 16 katanya,  Jepara merupakan suatu kota pelabuhan yang berfungsi sebagai pintu gerbang komunikasi kerajaan Islam pertama di  Jawa yang berpusat di Demak.
Selain sebagai pusat perdagangan terbesar, Jepara juga merupakan pangkalan armada yang kemudian digunakan oleh Adipati Unus putra Raden Fatah untuk menyerang kekuasaan Portugis di Selat Malaka.  Jadi Jepara adalah  daerah paling  penting bagi kerajaan Islam Demak waktu itu, apalagi karena merupakan basis  angkatan laut kerajaan Demak cukup tangguh,  katanya..
Jepara waktu itu diperintah oleh seorang Ratu yang terkenal cantik bernama Ratu Kalinyamat. Suaminya Pangeran Hadiri, adalah seorang ulama berasal dari Aceh yang semula bernama Teungku Thayib. Setelah berada di Jawa ia mendapat panggilan Raden Thayib dan setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat. Thayib dianugerahkan gelar Pangeran Hadiri, tulis M Nur yang mantan anggota DPR RI periode 1950-1960 tersebut.
Menurut riwayat, Teungku Thayib bertolak dari Aceh untuk memperdalam pengetahuan keagamaan. Negeri pertama yang ditujunya adalah Tiongkok. Saat berada di negara itu Kaisar Tiongkok berkenan mengakui beliau sebagai anak angkatnya dan diberi kedudukan cukup tinggi. Tapi Teungku Thayib tidak menghiraukan kedudukan yang diberikan kaisar Tiongkok karena pengembaraan yang dilakukannya bukan untuk mencari pangkat dan kedudukan. Maka ia pun meneruskan perjalanannya ke Negara lain.
Dalam pengembaraannya itu ia sampai ke Jepara. Di Jepara ia menghadap dan menyatakan sekiranya ratu berkenan memberikan kesempatan ia akan mengabdi untuk menegakkan kalimah Allah dan turut serta dalam usaha memakmurkan dan mensejahterakan rakyat daerah itu. Ratu dengan senang hati menerima permohonan Raden Thayib, tulis M Nur El-Ibrahimy yang juga pengarang buku berjudul Catur Politik Imperialis (Inggris, Perancis, Italia dan Amerika) itu.

Suami istri
Pembawaannya yang lemah lembut, budi pekertinya yang tinggi sebagai cermin sikap seorang ulama yang saleh, bijaksana dalam menghadapi segala lapisan masyarakat sebagai menifestasi dari kepemimpinan yang mengayomi, membuat wanita agung itu tertarik kepadanya, Ratu Kalinyamat berkenan meminta Raden Thayib menjadi suaminya. Tawaran itu tidak ditolak sehingga ia dianugerahkani gelar Pangeran Hadiri. Putra Aceh itu akhirnya menjadi mitra Ratu Kalinyamat dalam mengayuh bahtera Kerajaan Jepara.
Cinta kasih Ratu kepada Pangeran Hadiri benar-benar tak terpisahkan semasa hidupnya selalu bersama dan bahkan makam mereka yang berada di belakang masjid Mantingan juga letaknya berdampingan, tulis M Nur.
Menurutnya, makam tesebut dibangun sendiri oleh Pangeran Hadiri tujuh kilometer dari kota Jepara. Sekarang setiap hari Senin dan Kamis pon banyak pengunjung datang berziarah ke makam mereka itu. Kerajaan Aceh waktu itu menilai posisi Jepara cukup kuat sebagai sebuah kerajaan Islam di Jawa dan mempunyai kedudukan strategis serta armada cukup tangguh. Karena itu, kerajaan Aceh berkeinginan menjalin hubungan persahabatan dengan kerajaan tersebut, bahkan ingin mengajak Jepara membentuk suatu persekutuan militer (alliance) untuk menghadapi musuh bersama, yaitu Portugis di perairan Selat Malaka.
Tahun 1568, sebuah perutusan kerajaan yang terdiri dari beberapa duta besar dikirim oleh Sultan Aceh untuk menemui Ratu Jepara, tetapi ketika kapal perang Aceh berada di perairan Selat Malaka, dicegat oleh armada Portugis yang berjumlah besar. Perutusan kerajaan Aceh ditawan dan semua yang berada di atas kapal dibunuh. Sehingga misi kunjungan muhibbah pertama sebagai upaya menjalin hubungan persahabatan gagal dicapai kedua  kerajaan berpengaruh di nusantara ini.
Akhirnya, pada  1573 Aceh- Jepara berhasil membentuk suatu persekutuan militer untuk menghadapi Portugis yang ingin menguasai Selat Malaka dan seterusnya berkeinginan besar menguasai kepulauan nusantara. Sejak itulah, kedua kerajaan Islam. Aceh dan Jepara bahu membahu melawan Portugis di Selat Malaka,  kata HM. Nur El-Ibrahimy melukiskan hubungan kedua kerajaan yang bersatu menggalang kekuatan untuk mempertahankan kerajaan Islam di nusantara.

( Sumber: Serambi Indonesia, Minggu,  22 Februari 1998 halaman “Budaya” )

Iklan