Duri Di Balik Nama Universitas Syiah Kuala

“Duri” Di Balik Nama Universitas Syiah Kuala
Oleh: T.A. Sakti

Sekiranya ada pihak yang bertanya setujukah saya dengan usul pergantian nama Universitas Syiah Kuala?. Jawaban yang akan saya berikan jelas mengandung unsur pro dan kontra. Terhadap pertanyaan mendadak, tentu jawaban saya amat setuju dengan usul pergantian itu demi menghapuskan pengalaman pahit yang pernah saya alami terkait nama Universitas Syiah Kuala. Namun sebagai peminat sejarah, maka saya pasti mengajukan beberapa saran demi abadinya nama itu; paling kurang tertunda dulu pergantian namanya.
Nampaknya, jawaban saya yang pro pergantian itu terlalu bermodalkan pengalaman pribadi. Berkali-kali saya merasa ‘palak’ bahkan sakit hati, karena orang luar Aceh sulit mengenali universitas tempat kuliah saya pertama kali, yakni Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Kebanyakan mereka salah ucap atau salah sebut pada kata Syiah dengan sebutan Syah atau Syi’ah. Akibatnya, jika disebut secara penuh akan muncullah nama Universitas Syah Kuala atau Universitas Syi’ah Kuala. Akan menjadi lebih kesal lagi, jika mereka sempat mengajukan soal tambahan:”Adakah perbedaan antara Syi’ah Aceh dengan Syi’ah di negara Iran?.
Saya selalu bersiap diri dengan pertanyaan seperti itu dan biasanya mampu mengubah pandangan sang penanya terhadap Unsyiah. Akan tetapi dengan tampilnya pertanyaan serupa di mana-mana, tentu dapat membuat sang penjawab seperti saya merasa jengkel dan stres. Hal itulah yang saya alami selama kuliah di Yogyakarta, baik di kampus UGM maupun saat bertandang ke tempat-tempat teman di pelosok pulau Jawa.
Pengalaman pahit saya paling akhir, terkait nama Universitas Syiah Kuala adalah penulisan nama Universitas Syiah Kuala di sebuah jurnal jurusan pada Fakultas Ilmu Budaya sebuah Universitas terkenal di luar Aceh. Sang Redaktur jurnal menulis “Universitas S i y a h Kuala Banda Aceh” sebagai identitas asal saya yang ikut menulis dalam jurnal itu.
Pergantian nama adalah suatu hal yang lumrah. Begitulah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Aceh tempo dulu. Setiap anak yang sering menderita sakit, salah satu solusi yang ditempuh orang tuanya adalah mengganti namanya. Maka tidak heran, jika sebagian orang Aceh saat itu sempat memiliki beberapa buah nama. Nama terakhir adalah nama yang paling cocok dengan kepribadiannya, sehingga ia dapat hidup aman-tenteram, bahagia-sejahtera sepanjang hayat.
Demikianlah perilaku kehidupan orang Aceh di saat dunia kedokteran modern belum menyentuh wilayah ini. Sekarang, keadaan serupa hampir tak terdengar lagi. Boleh dikata sejak tahun 70-an, nyaris semua orang Aceh hanya memiliki satu nama sepanjang hayatnya. Inilah sumbangan kemajuan teknologi kesehatan, yang telah menghapuskan ‘tradisi banyak nama’ dalam masyarakat Aceh.
Pergantian nama bagi sebuah lembaga juga tidak terlarang, seperti pergantian nama Universitas Syiah Kuala, misalnya. Namun, pertanyaan yang muncul apa alasannya, sehingga perlu pergantian nama tersebut!. Bila kemajuan teknologi juga mampu menjawab semua ‘alasan atau kegelisahan’ itu- seperti kasus orang Aceh banyak nama -, tentu Universitas Syiah Kuala pun cukup memiliki hanya satu nama saja, yakni “Sekali Syiah Kuala tetap Syiah Kuala”.

Mengapa Syiah?.
Dalam kehidupan saya yang kini hampir berumur 60-an tahun, sebutan Syiah sudah menyelimuti saya sejak kecil. Di kalangan masyarakat awam sering terdengar kisah-kisah misterius tentang Syiah, atau yang mereka gelari Teungku Syiah. Syiah adalah ulama yang amat tinggi ilmunya dan setaraf dengan Aulia atau dalam istilah lain disebut Wali. Teungku Syiah dipercaya bertempat tinggal di gunung atau rimba raya dan kadangkala muncul di khalayak ramai untuk menguji ketaatan manusia kepada Tuhan.
Di suatu waktu tersiar desas-desus seorang pengemis aneh, yang secepat kilat melesap hilang sosoknya setelah minta sedekah pada seorang ibu rumah tangga. “Nyan sang Teungku Syiah”(mungkin dia Teungku Syiah), kata seorang kakek di suatu gampong.
Bagi masyarakat awam di Aceh, mereka juga punya kisah versi sendiri tentang Syiah Abdokade(Syekh Abdul Kadir Jailany), Syiah Kuala dan Syiah Plak Plieng. Syiah Abdokade adalah pengguna pertama alat seni Rapa-I dan beliau sering menabuhnya di pinto guha (pintu gua) pada malam jum’at, sedangkan Syiah Kuala dianggap orang pertama yang menyebarkan agama Islam di Aceh. Sementara Syiah Plak Plieng merupakan ulama yang tidak sepaham dengan Syiah Kuala dalam hal cara menyebarkan Islam di Aceh.
Bagi mereka yang pernah belajar Nadham dan Tambeh di Bale Teungku, tentu mengenal pula terhadap beberapa sosok Syiah lainnya, seperti Syiah Bal’am dan Syiah Barshisha. Kedua beliau adalah ulama yang sudah masuk taraf Aulia atau Wali karena ilmu yang dimiliki keduanya amat tinggi. Berpuluh-puluh murid keduanya dapat terbang bagaikan burung sebelum pesawat terbang diproduksi manusia. Kalau murid saja dapat terbang, apalagi sang guru. Namun keduanya jatuh hina, karena takabur bin sombong akibat godaan syaitan.
Syekh Abdurrauf yang bergelar Syiah Kuala – dan sejak lebih setengah abad lalu menjadi label nama bagi Universitas Syiah Kuala – adalah ulama besar Aceh abad ke 17 yang juga menguasai ilmu yang amat dalam. Martabat beliau juga setaraf Aulia atau Wali. Berkat martabat ilmunya, yang disodorkan melalui fatwa; maka empat orang perempuan dapat menjadi Ratu atau Sulthanah(raja perempuan) di Kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke 17 Masehi. Padahal sampai kini pun, para ulama masih memperdebatkan boleh-tidaknya sebuah negeri Islam dipimpin seorang wanita. Orang lain masih terus berdebat, sedangkan di Aceh sudah terlaksana dengan manis hampir empat abad yang lalu.
Dalam Kamus Bahasa Arab dijelaskan, kata Syiah berasal dari kata Syaikh. Artinya maha guru. Bila dibawa ke tradisi ilmiah sekarang, maka berarti Guru Besar alias Profesor. Kesimpulan yang dapat dipetik dari uraian di atas, bahwa sejak awal tidak ada yang keliru atau salah dalam pemberian nama bagi Univeritas Syiah Kuala. Syiah adalah gelar bagi ulama besar, yang patut dicontoh dan ditiru berbagai segi kehidupan beliau. Soal masyarakat luar Aceh yang sering keliru mengucap kata Syiah menjadi Syah atau Syi’ah, itu masalah lain!.

 

Kenapa Mereka Salah?
Gelar atau sebutan tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara berbeda-beda menurut masing-masing wilayah. Gelar-gelar tersebut antara lain; makhdum, wali, sunan, maulana, imam, fakih, khatib, syekh dan syiah. Maulana, sunan dan wali terkenal di pulau Jawa, makhdum dan khatib di Filipina dan Kalimantan. Sementara di Aceh sebutan Syiah (Tengku Syiah) sebagai “ulama besar” bagi masyarakat luas.
Begitulah suatu masyarakat terwariskan ‘memory’ yang berbeda tentang tokoh ulama “keramat” di wilayah mereka. Karena itu tidaklah sulit memahami, bila masyarakat luar Aceh sering salah saat mengucapkan nama Univeritas Syiah Kuala. Akibat memory otak mereka tidak menyimpan “ kata Syiah”, maka melengkunglah lidah mereka kepada momory lain yang berdekatan bunyinya dengan ucapan Syiah itu. Akibatnya, meluncurlah dari mulut mereka nama Universitas Syah Kuala atau Universitas Syi’ah Kuala. Kata Syah cukup popular dibandingkan Syiah. Para sultan di Dunia Melayu hampir selalu namanya diakhiri dengan sebutan Syah, seperti Sultan Muhammad Daud Syah sebagai sultan terakhir dari Kerajaan Aceh Darussalam atau Sultan Iskandar Muhammad Syah yang ditabalkan menjadi sultan pertama Kerajaan Malaka.
Demikian pula dengan istilah Syi’ah, bahkan lebih dikenal daripada Syah apalagi Syiah. Sejak munculnya kasus aliran Syi’ah di Sampang Madura, persoalan Syi’ah bukan lagi hak paten negara Iran dan Irak, tetapi juga sudah menjadi salah satu sumber konflik politik di Indonesia. Perkembangan ini mempertebal selubung yang menutup nama Unsyiah yang seharusnya semakin mandiri itu.

Solusi Mencabut Duri!
Secara kasat mata, duri yang menusuk di tapak kaki nama Universitas Syiah Kuala terlalu kecil nampaknya. Namun racun bisanya dapat membuat komunitas Unsyiah kecewa berat, sakit hati bahkan koma. Bagaikan duri dari pimpingan gelas yang pecah, biar pecahan sekecil jarum pun yang menusuk anggota badan, pasti lukanya dalam dan banyak mengeluarkan darah. Lebih parah lagi jika mengandung kuman tetanus, tentu bisa menyebabkan koma bagi penderitanya. Walaupun demikian, kita berharap jangan segera diamputasi bagian anggota tubuh yang tertusuk pimpingan berbisa itu. Sebab di era canggih sekarang, telah tersedia berbagai jenis obat ampuh untuk mengobatinya.

( 1 ) Akar kekeliruan terhadap nama Universitas Syiah Kuala sudah terjadi sejak universitas ini belum lahir kealam nyata. SK pendiriannya yang ditandatangani Presiden Soekarno mengalami kesalahan dari awal lagi. Surat Keputusan ( SK ) itu bukanlah menyatakan berdirinya Universitas Syiah Kuala, melainkan buat pengesahan pembangunan Universitas Syah Kuala, Darussalam, Banda Aceh. Saya yakin dengan ‘haqqul yakin’ bahwa bahan-bahan dasar buat isi Surat Keputusan (SK) yang disodorkan Panitia Pembangunan Unsyiah telah tertulis dengan benar tanpa kesalahan sedikit pun. Bahwa SK yang dimohonkan tanda tangan Presiden pertama RI itu adalah untuk legalitas pendirian Universitas Syiah Kuala. Namun menjadi salah sewaktu diketik ulang oleh Staf Pegawai Istana yang menyusun isi pernyataan/konsideran SK tersebut. Hal ini saya pandang sebagai kesalahan yang tidak disengaja, tetapi terjadi karena sang pengetik SK itu tidak memiliki memory terhadap gelar Syiah di benaknya. Lantaran itu, warga luar yang tidak tahu mengenai SK Unsyiah yang salah dari semula, sebagian besar mereka juga menyebut Universitas Syah Kuala kepada Unsyiah.
Terhadap sikap Panitia pengusul SK yang tidak mempersoalkan kekeliruan itu, mereka tentu lebih memahami situasi. Kita yang hidup di era reformasi dan demokrasi sekarang, perlu menelaah kembali sejarah Bung Karno di era awal tahun 60-an itu. Saya percaya pihak Panitia yang dimotori Gubernur Aceh Ali Hasjmy pasti berpikir: “Dari pada tidak mendapat apa-apa bila diprotes nanti, lebih baik diam saja asal tujuan utama tercapai”. Bahle tameh surang-sareng, asai puteng jitamong bak bara (Biar tiang bengkok dan jongkok, asal puting masuk ke bara), demikian pepatah Aceh menasihati dengan tamsilan pembangunan Rumoh Aceh.
Jika kekeliruan pada SK pendirian Unsyiah dipandang kurang layak, tidak salahnya kesilapan itu diralat kembali pada era sekarang. Toh, hubungan silaturahmi antara Unsyiah dengan Presiden RI sedang hangat-hangatnya sekarang. Hal ini ditandai dengan penganugerahan gelar DR.HC kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( Sby ) oleh Rektor Unsyiah Prof.Dr. Samsul Rizal, M..Eng, baru-baru ini. Di alam reformasi dan demokrasi, Undang-undang Dasar negara pun boleh diubah, apalagi Keputusan Presiden(Kepres).

( 2 ) Sandungan lain yang mencegat Unsyiah bebas melangkah juga terkait namanya yang salah diucapkan orang, umumnya orang luar Aceh. Yaitu Universitas Syiah Kuala, namun sewaktu keluar dari mulut orang luar; lantas berubah bunyinya menjadi Universitas Syi’ah Kuala. Hal ini termasuk persoalan lebih baru. Sewaktu cara penulisan kata Syi’ah masih menggunakan huruf ‘ain dengan tanda ( ‘) saat menulis Syi’ah, maka kesalahan itu jarang terjadi. Akan tetapi ketika cara penulisan Syi’ah sudah sama dengan cara menulis Syiah, yaitu S y  i a h  juga, mengkibatkan kekeliruan mengucapkan Universitas Syiah Kuala menjadi Universitas S y i a h Kuala, justru semakin sering terjadi. Saya kira, upaya Redaktur Jurnal – yang tersebut di awal tulisan ini – yang menuliskan identitas saya berasal dari Universitas S i y a h Kuala, juga dalam usaha menghindari salah baca antara Syiah dengan S y i a h tadi,
Kita yang tak punya wewenang apa-apa dalam hal bahasa, tentu tak dapat membalik jarum sejarah, agar cara penulisan kata aliran Syiah dikembalikan seperti cara lama, yaitu Syi’ah. Oleh karena itu cara lebih mudah mengatasi kesalahan orang menyebut nama Universitas Syiah Kuala adalah dengan menambah huruf ( y ) pada tulisan Syiah, sehingga tertulislah Universitas Syiyah Kuala. Sekiranya kesilapan pada SK pendiriannya benar-benar diralat, maka ketika itulah penambahan huruf y menjadi saat yang tepat.

( 3 ) Promosi, kini tersedia berbagai jalur canggih untuk memperkenalkan diri. Salah satunya adalah melalui “iklan tampil” di televisi. Keunggulan media ini terutama dalam hal mampu menampilkan fisik dan vokal suara secara terang-benderang. Khusus buat membetulkan sebutan atau panggilan terhadap sesuatu yang salah , maka media televisilah sarana yang paling ampuh.
Dewasa ini kita dapat menyaksikan beberapa acara televisi Jakarta melibatkan mahasiswa dari berbagai universitas sebagai peserta, bahkan pelakunya. Sebut saja acara “Empat Pilar dan Rumah Perubahan di TVRI”. Begitu pula, sejumlah studio TV swasta Jakarta juga menayangkan acara serupa. Selain acara-acara yang telah/sedang berjalan, masih banyak acara lain yang dapat melibatkan Perguruan Tinggi, seperti acara kuis, kuliah subuh; di samping dalam bentuk iklan khusus tersendiri. Mungkin gara-gara  jauh  dari Jakarta  dan  biaya pendaftaran peserta yang  tinggi, maka kita jarang menyaksikan universitas-mahasiswa dari luar pulau Jawa yang turut melibatkan diri.
Saya amat yakin, melalui acara-acara di TV Jakarta itulah sebagai solusi paling ampuh untuk mengikis salah-silap dalam menyebut nama Universitas Syiah Kuala yang ‘sudah berkarat’ berpuluh tahun. Bila masyarakat Indonesia telah berpuluh-puluh kali mendengar panggilan yang benar bagi Universitas Syiah Kuala, mereka akan malu sendiri jika masih menyebut Universitas Syah Kuala atau Universitas Syi’ah Kuala dalam percakapan antar teman mereka. Semoga!.

*Penulis, adalah peminat sejarah dan sastra Aceh, tinggal di Banda Aceh.