Kisah Orang Jawa di Malaysia

Orang Kita di Semenanjung

 

       Makan tak makan asal kumpul. Kata orang, itulah falsafah orang Jawa. Dan di Malaysia, dalam perkampungan-perkampungan keturunan Jawa, akan terbukti bah­wa anggapan itu tak benar. Juga bahwa Jawa, misalnya, “suku pemalas”. Baik kasus Jawa maupun kasus Mandailing – keturunan Indonesia yang lain di Malaysia – yang dituturkan kali ini, justru bisa membuktikan bahwa faktor merantau, terutama bila di gertak oleh alasan-alasan ekonomi, lebih menentukan dalam membentuk ciri-ciri baru dibanding “kodrat asal”. (Bukankah orang-orang Cina di Daratan, atau orang Yahudi asli di Palestina, sama “gombal”nya dengan Arab udik di kemah-kemah gurun?).

            Ini boleh menjadi semacam studi sosial – yang menyangkut aspek budaya dan sejarah – yang dikerjakan dalam waktu singkat. Agus Basri dari TEMPO, yang bertugas mengunjungi Malaysia beberapa waktu yang lalu, mengorek-orek kehidup-an beberapa dusun Jawa. Sementara itu, Ikram H. Attamimi, orang TEMPO di sana, mengamati dan mengusut kelompok yang Mandailing. Laporan kemudian ditulis Abdul Rahman.

            DESA itu bernama Rejosari. Tak heran jika penduduknya bercakap, berlagak, dan bersopan santun gaya Jawa. Berpakaian pun khas Jawa meski tanpa blangkon. Makan nasi juga dengan sayur lodeh, semur, tahu, tempe, ikan asin, plus nyamikan singkong goreng dan ketela rebus. Bahkan ada pula perkumpulan gamelan, wayang kulit, ketoprak, ludruk, kuda kepang. Anak-anak bermain dengan sebangsa gasing,              layang-layang, gobak sodor, atau permainan galah.

            Yang tak seperti di Jawa adalah rumah mereka. Rumah-rumah itu berbentuk panggung (mana ada di Jawa?), mengapit ladang-ladang kelapa sawit serta kopi yang lumayan luas yang juga susah ditemukan di Jawa yang padat.

Tak seperti di Jawa juga kesejahteraan mereka. Rejosari, yang terletak di Distrik Rengit mukim 12, Batu Pahat, Johor, tampak lebih makmur ketimbang umumnya desa di Jawa. Jalan belum diaspal, memang masih berupa lempung merah yang diperkeras dengan batu-batu kecil. Tetapi penduduknya, yang cuma 837 jiwa atau 168 kepala keluarga, cukup bahagia dengan 1.377 ekar sekitar 350 hektar kebun yang mereka miliki.

        Ada sebuah sekolah dasar yang dilengkapi   beberapa   sarana   olahraga untuk anak-anak mereka yang jumlahnya tak  seberapa.   Umpamanya tenis,meja, bulu  tangkis,  sepak  bola,  dan sepak raga. Pendidikan memang wajib di Malaysia, dan agaknya ditaati betul-betul.

Itulah sebabnya, di desa itu buta huruf sudah hampir sirna. Bahkan, di sana terdapat empat sarjana dan tiga mahasiswa seorang di antaranya, anak ketua kampung, belajar komputer di Universitas Kansas, AS. Juga 15 lulusan Sekolah Tinggi Pelayaran dan 40 lulusan Sekolah Menengah Pelayaran. Pada sore hari anak-anak belajar agama bertempat di sekolah dasar agama, semacam ibtidaiyah kita. Pelajaran agama ini, menurut Khatib Iswoto, 43, sang guru, membuat Islam orang Jawa Semenanjung lain dari Islam orang Jawa yang di Jawa. “Lebih murni,” katanya. “Di sini tak ada lagi orang menurunkan atap rumah, mem­buat janur, atau membikin serundeng untuk acara pernikahan. Bisa dituduh Hindu!’

         Tetapi sembahyang mereka masih tampak seperti orang Jawa. Hampir semua memakai sarung, dan tak satu pun tak bertutup kepala. Ada beberapa yang berpakaian serba putih dan berjubah putih. Khatib Iswoto menyeru dalam bahasa Melayu. Teks khotbah yang dibacakannya berdasarkan edaran pemerintah seperti semua masjid di Malaysia. Selesai salat dan dikir, para jemaah bersalam-salaman sambil berkali-kali menyeru, “Allahumma shalli ‘ala Muhammad, ya Rabbi shalli ‘alaihi wasallim.” Sembahyang itu dilakukan di masjid satu-satunya di situ.

             Orang-orang itu sudah tidak tahu lagi bahwa masjid mereka pun punya bentuk khas Jawa. Taslim,  51, kepala kampung, baru manggut-manggut setelah dijelaskan bahwa masjid jami’nya itu, yang didirikan tahun 1954, berbentuk joglo.

Bangunan 14 x 14 m itu beratap sirap, bercat abu-abu, dan berwarna kuning gading. Kubahnya dihiasi kaca warna-warni. Di temboknya menempel jam dinding besar model Jawa, dengan lonceng gede yang berdentang tiap setengah jam. Mimbarnya dikerudungi kain yang warnanya juga kuning gading. Persis masjid di Jawa tahun enam puluhan.

Masjid seperti itu agaknya tak dianggap berbau Hindu, atau bertentangan dengan Islam. “Pokoknya, tradisi Jawa yang bertentangan dengan Islam dihapus,” ujar Taslim.

       Taslim  pula yang menjelaskan bahwa ladang kela­pa sawit dan kopi, yang dimiliki tiap penduduk dengan jumlah rata-rata dua hektar, cukup untuk menghidupi mereka. Kata dia, 2 ha kelapa sawit tiap 15 hari menghasilkan 600 kg kelapa. Cukup besar.

Tapi tak terbilang semuanya kepunyaan pemilik kebun. Kuli-kuli yang memanen biasanya minta upah setengahnya. Maka, kata Taslim, yang untung ya kuli-kuli itu – yang umumnya pendatang baru dari Indonesia. “Pendapatan mereka paling kurang 15 ringgit tiap hari,” ujarnya. Itu berarti sekitar Rp 6.000.

          “Makanya banyak orang Jawa yang datang ke sini, meski dengan menyelundup” Di Rejosari sendiri kini ada dua penyelundup baru. Keduanya yang sementara ini tinggal di rumah Iswoto, sang guru agama. Mereka datang melalui laut. “Kita berbondong-bondong ke sini dengan perahu. Kadang melalui sungai-sungai kecil dan berjalan malam hari. Toh, sesampai di Daratan Melayu, semua aman. Tak ada penangkapan,” kata salah seorang. Di Rejosari, menurut pengakuan mereka, mereka mendapat 20 ringgit tiap hari. Belum termasuk hasil menjual rokok Gudang Garam selundupan yang dua ringgit per bungkus. Itulah yang menyebabkan mereka kerasan malah berniat mengambil anak istri dari kampung. Kini mereka sedang dalam proses mengurus KTP Malaysia. Caranya? Gampang. “Bisa diatur dengan mengaku sebagai keluarga orang Jawa yang ada di Rejosari.” Ini dibenarkan oleh Taslim.

           Taslim sendiri penduduk asli Rejosari. Orang tuanyalah yang Jawa. Ayahnya, yang berasal dari Semarang, datang melalui Singapura. Tahun 1924 ia menuju Rejosari, dan dua tahun kemudian membangun rumah bergaya Melayu. Di Rejosari saat itu telah banyak pemukim dari Jawa, yang tampaknya sudah mapan. Permukiman orang Jawa di Malaysia memang sudah lama dikenal. Dan agaknya masih akan terus berlanjut, karena negara itu memang menawarkan lebih dari yang ada di kampung halaman.

             Cerita pertama tentang orang Jawa di Malaysia dimulai oleh Hang Tuah. Dalam legenda tentang pahlawan laut terkenal itu disebutkan bahwa Sultan Melaka mempunyai beberapa pembesar Jawa. Pengaruh mereka terhadap pemerintahan konon cukup besar.

Selain itu, Sultan Melaka, konon pula, mempersunting dan memboyong putri raja Majapahit. Di Majapahit itulah Hang Tuah setelah diuji oleh Gajah Mada, diberi keris “Tameng Sari”. Keris itu lalu digunakannya untuk membunuh temannya, Hang Jebat, yang berkhianat. Itu kata Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, pujangga pertama yang membukukan legenda itu. Maksudnya jelas, menggambarkan hubungan Melaka dan Majapahit.

          Hubungan yang erat itu juga dibuktikan oleh Pati Unus. Adik Raden Patah, sultan pertama Demak ini, pada tahun 1512 membawa armadanya ke Melaka untuk membantu orang Melayu melawan Portugis. Sayang sekali usahanya gagal, dan ia terpaksa pulang dengan hampa. Portugis akhirnya justru mencaplok Melaka.

            Pada zaman Portugis inilah awal pemukiman orang Jawa di Melaka diketahui. Paling tidak, itulah kata Tun Sri Lanang dalam buku Sadjarah Melaju, 1612. Meskipun kecil, dan tak ada catatan pasti, menurut Tun Sri, orang Jawa terdapat pula di beberapa tempat lain. Pekerjaan mereka: berdagang, menjadi hulubalang raja, atau sekadar  mengembara. Daerah asal mereka tentu saja dari daerah paling maju di Javva saat itu, yaitu pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Timur: Tuban, Gresik, Jepara, Demak, Pekalongan.

          Jumlah penduduk Jawa membesar setelah abad ke-19. Beberapa penulis Barat dan Timur mengungkapkannya. Antara lain bisa disebut Annemarie de Waal Malefijt, Alice C. Dewey, R.N. Jackson, John S. Mayson, Virginia Thomson, Soedigdo Hardjosudarmo, Yusuf Ismael, Tunku Ahamsul Bahrin, S. Husin AN, dan Khazin Mohamad AM.

           Orang-orang Jawa itu terdapat misalnya di Singa­pura. Pada tahun 1825, ketika kota itu baru saja didirikan Raffles, sudah terdapat 38 pak dan mbok jawa. Sebelas tahun kemudian mereka bahkan membuka perkampungan sendiri, namanya Kam­pung Jawa, tentu. “Tentu jumlahnya cukup banyak, sehingga mampu membuka perkampungan,” kata Prof. Amat Juhari Moain, keturunan Jawa yang menjadi guru besar bahasa Melayu dan pengamat sejarah Indonesia pada Universitas Pertanian Malay­sia. Jumlah itu, menurut Craig A. Lockard, sudah mencapai 5.885 jiwa pada tahun 1881. Craig mencatat pula pasal orang Jawa di Melaka, khususnya di Pulau Pinang. Jumlahnya 4.683 jiwa, pada 1871. Di situ mereka juga mengerjakan perkebunan dan membuka perkampungan sampai sekarang masih ada, bahkan tak hanya sebuah.

            Selain Craig, ada pula Muhammad Ibrahim Mun­syi. Munsyi yang satu ini, yang melakukan dan menulis kisah pelayarannya sepanjang pantai barat Semenanjung pada tahun 1870, mencatat banyak sekali orang Jawa tinggal di Johor. Jawa-Jawa itu telah memulai usaha perkebunan, menggali terusan-terusan, dan membuat jalan raya.

        Tak hanya di Semenanjung. Di bagian Malaysia yang lain, di Kalimantan Utara, orang Jawa juga tercatat membangun permukiman. Di Sabah dan Serawak buruh-buruh Jawa sengaja didatangkan untuk mengisi kekurangan buruh Cina di perkebunan-perkebunan tembakau setempat, mulai 1882. Proses ini berjalan sampai datangnya Perang Dunia II. Lalu ketika kontrak habis, mereka memilih untuk tidak kembali ke Jawa. Karena itulah di Sarawak terdapat kampung Jawa, Kampung Surabaya, dan Kampung Gresik. Jumlah Jawa-Jawa itu, ketika diadakan sensus tahun 1947, 2.397 jiwa ditambah sekitar 237 yang menetap di Brunei.

Jumlah orang Jawa perantauan ini selalu cenderung naik. Sensus yang dilakukan Inggris di tahun-tahun mereka berkuasa menunjukkan peningkatan itu. Selain itu, sensus juga mengungkapkan bahwa perantau Jawa selalu lebih banyak dibandingkan perantau dari suku lain di Indonesia.

          Tahun 1911, ketika sensus pertama dilakukan, jumlah Jawa perantau sudah 79.200, sedangkan Banjar 21.300, Sumatera 2.900, Bawean (boleh juga disebut Jawa, sebenarnya) 7.600, Bugis 6.500, dan suku-suku lain cuma 200. Pada sensus kedua, 1921, jumlah ini melonjak menjadi 112.800 untuk Jawa, 37.800 untuk Banjar, dan 20.600 untuk Bawean, Bugis, dan Suma­tera.

Sepuluh tahun kemudian, 1931, orang Jawa menjadi 169.200 dan suku-suku lain 111.500. Setelah Perang Dunia II, 1947, Jawa 187.700; suku lain 101.100. Sensus-sensus selanjutnya tak lagi membuat penggolongan suku, karena semuanya telah dianggap terasimilasi dengan rakyat Melayu setempat, dan disebut Orang Melayu. Pada sensus-sensus sebelumnya saja banyak perantau Sumatera tak tercatat karena te­lah melebur dengan penduduk asli. Karena itu, jumlahnya selalu tercatat sedikit.

Sensus-sensus itu juga mencatat tempat tinggal para perantau. Terlihat bahwa Johor sejak semula telah menjadi tujuan utama orang Jawa. Setelah itu menyusul Selangor, Singapuray Perak, Melaka, Negeri Sembilan, Pahang, dan baru negara-negara bagian lain.

         Tak jelas benar mengapa Johor yang menjadi pilihan pertama. Yang cukup terang adalah, sebelum pertengahan abad lalu tak ada bukti bahwa mereka berpindah karena dipaksa atau dibawa penjajah. Mereka datang atas kehendak sendiri, dan umumnya telah mempunyai pekerjaan. Sebagai pelaut kelasi di kapal atau pedagang, pekerja, petani, atau tukang kebun.

            Baru setelah paruh abad berikutnya, tanda-tanda kedatangan secara terorganisasi muncul. Mereka diboyong untuk dipekerjakan di perkebunan tebu, kopi, gambir, dan karet yang tumbuh menjamur di Malaysia ketika itu. Contohnya adalah buruh-buruh yang di Kalimantan Utara itu.

           Contoh lain: 21.000 buruh Jawa yang bekerja kontrak dengan Singapore Chinese Protectorate 1886-1890. Buruh kontrak semacam ini sebenarnya juga terdapat di daerah-daerah lain di Malaysia. Tetapi anehnya tak ada catatan sama sekali tentang itu. Para penulis sejarah dan pelapor sejarah ekonomi dan perburuhan di Malaysia hanya rnenyebut kegiatan buruh  Cina dan  India saja.

Maka, Prof. Amat, yang keturunan Jawa itu, berang. “Sungguh mengecewakan, dan jelas merupakan pemalsuan sejarah,” katanya ketus.

           Tetapi, mengecewakan atau tidak, dicatat atau tidak, kenyataan bahwa sejak pertengahan abad ke-19 orang Jawa secara terkoordinasi masuk Malaya terang tak bisa dipungkiri. Orang-orang Jawa itu dengan gampang bisa dibujuk, atau ditipu, atau dirayu, untuk pergi. Keadaan Jawa saat itu memang susah.

Kepadatan sudah mulai terasa. Pembukaan lahan-lahan baru yang bagus mulai sulit. Ada pula Tanam Paksa yang siap menghisap mereka. Sementara itu, di tanah seberang tanah-tanah luas dan subur tersedia cuma-cuma. Perkebunan-perkebunan yang lagi dibuka di sana juga menjanjikan banyak harapan. Dan penguasanya, Inggris, tak sekeji Belanda dalam merampas hasil kerja mereka. Mau apa lagi?.

 

 

 

 

 

 

ANAK-ANAK MANDAIL1NG BERMA1N DI LANGGAR

 

Maka, ketika tawaran tiba, mereka pun mencampakkan falsafah “makan tak makan asal kumpul” yang dikatakan menjadi milik mereka itu. Berbondong-bondong mereka hijrah sebagai bu­ruh, atau pergi sendiri tanpa ikatan. Dengan sistem kontrak lewat broker di Singapura, seperti yang didatangkan ke Serawak, Sabah, dan Brunei atau melalui sistem tebus.

             Jika dengan sistem tebus, mereka akan berpindah-pindah tangan seperti budak. Mula-mula mereka dibawa sang penyalur dari Jawa ke Singapura. Di kota itu lalu diserahkan kepada agen lain, yang dipanggil “syekh”. Para pemilik kebun yang membutuhkan buruh bisa menebusnya dari para syekh ini.

Sang penebus harus membayar kembali ongkos tiket kapal Jawa Singapura, uang makan selama ditampung syekh, dan biaya-biaya lain yang dikenakan syekh.

Ongkos menebus ini, menurut Prof. Amat, lumayan besar. Ayahnya, yang pernah menebus beberapa orang Jawa, harus mengeluarkan 80 ringgit untuk tiap kepala. Uang sebesar itu waktu itu tak sedikit nilainya. Karena itulah, di perkebunan, orang-orang tebusan ini tak jarang harus bekerja kelewat keras untuk paling sedikit dua tahun sampai akhirnya bisa melunasi biaya penebusan. Dan bebas.

             Banyak memang yang ternyata tak mau pergi setelah bebas. Bahkan memilih terus tinggal bersama sang penebus. Status keduanya tentu saja berubah sebagai majikan dan buruh. Sebab itu Jawa-Jawa ini memperoleh gaji, makan minum, dan penampungan gratis.

Upah mereka biasanya disimpan majikan, dan baru diserahkan ketika mereka memerlukannya baik untuk ongkos pulang menjenguk sanak keluarga, membeli tanah atau kebun, membangun rumah sendiri, maupun kawin.

Juga, lebih menentukan lagi, untuk mengajak keluarganya ikut hijrah. Itu misalnya dilakukan ayah Prof. Amat yang datang ke Malaysia tahun 1912. Mula-mula menumpang di rumah seorang saudara dan membuka lahan perkebunan. Setelah kebunnya

Parit Haji Ibrahim, Parit Simin, Parit Reso, atau Parit Sulaiman. Toh ada pula yang menggunakan nama setempat, seperti Benut, Rengit, Senggarang, Parit Raja, Sri Meda, Bagan, Sarang Buaya, Bukit Gambir, Sungai Rambai, Sepang, dan Sabak Bernam.

Memang tak jelas benar mengapa nama kampung banyak yang menggunakan istilah Parit. Tetapi diakui bahwa orang Jawa memang suka menggali saluran dan parit. Lebarnya biasanya antara 4 dan 5 m, sedangkan dalamnya sekitar 2 m. Kata Prof. Amat, orangtuanya menggali parit semacam itu sampai 10 km.

            Parit dan saluran air itu, kecuali digunakan untuk irigasi, juga untuk pengangkutan hasil kebun. Biasa­nya, pembangunan parit dan jalan-jalan kampung serta sarana ekonomi lain diserahkan kepada bekas buruh tebusan yang belum punya tanah, atau orang-orang yang datang karena tertipu. Dengan cara ini, para imigran yang belum beruntung bisa terbantu dan tak menjadi penganggur.

menghasilkan dan ekonominya membaik, si ayah pulang ke Jawa dan kembali membawa adik-adik dan kawan-kawannya termasuk yang kemudian jadi mertuanya.

        Tak  lama kemudian kembali ia memboyong ayahnya. Dan, setelah itu, keluarga ipar-ipar dan mertua­nya. Mereka membentuk sebuah keluarga besar yang akhirnya menjelmakan sebuah perkampungan yang panjangnya sekitar 10 km. Ayah Prof. Amat, karena dianggap pelopornya, oleh Inggris lalu dijadikan naib kampung.

Tindakan mengumpulkan sanak saudara semacam itu ternyata umum dilakukan perantau yang sudah jaya. Dan itu sejalan dengan kenyataan bahwa kebun yang dibuka semakin luas. Ini bisa dilihat di daerah-daerah Pontian, Batu Pahat, dan Muar di Johor, Sungai Rambai di Melaka, Port Dickson dan Sepang di Negeri Sembilan, Kuala Langat, Kelang, Tanjung Karang dan Kuala Selangor di Selangor, serta Sabak Bernam, Teluk Intan, dan Bagan Datuh di Perak.

          Nama-nama kampung mereka biasanya mengandung cap Jawa, tentu. Misalnya Kampung Jawa, Asam Jawa, Parit Jawa, Tambak Jawa, dan Bukit Jawa. Ada pula yang cenderung mengabadikan nama perintisnya. Umpamanya Parit Bajuri, Parit Serno,

Seperti yang kita temui di Jakarta, makanan yang dijual orang Jawa umumnya khas daerah asal penjajanya. Dan daerah-daerah asal para penjaja itu biasanya daerah sepanjang pantai utara Jawa Tengah dan Timur. Mereka ini pula pelopor perpindahan itu.

            Baru setelah permulaan abad ke-20, kelompok-kelompok dari pedalaman Jawa Tengah bagian selatan, terutama daerah Bagelen (Purworejo, Kebumen, Prembun, Karang Anyar), menyusul. Juga kelompok Jawa Timur selatan, khususnya Ponorogo dan Pacitan.

Kelompok-kelompok dari daerah lain berdatangan terutama setelah pendudukan Jepang. Saat itu seki­tar 200.000 rakyat Jawa dipekerjakan sebagai romusha. Mereka membangun jalan raya dan jalur kereta api dari Muangthai ke Birma untuk keperluan perang.

Sebagian besar akhirnya hilang atau menemui ajal. Yang pulang ke Jawa tak sampai 100.000, konon. Sisanya, yang tak meninggal dan tak kembali, ada yang bermukim di Muangthai dan Birma. Tetapi lebih banyak lagi yang menetap di Malaysia. Selain karena sudah banyak rekan mereka di situ, kebudayaan dan agama yang sama membuat mereka lebih betah dan lebih mudah merasa “di rumah”.

           Salah seorang bekas romusha itu adalah Ngadiyan, 70, penduduk Rejosari. Ngadiyan pemuda dari Wates, Yogyakarta. Ketika tinggal di Purwokerto dulu, ia digaruk Jepang. Lalu dibawa ke Muangthai, Filipina, dan Serawak. Sampai akhirnya seorang tentara Dai Nippon yang bisa berbahasa Jawa menolong dan membawanya ke Semenanjung. Tahun 1949 Ngadiyan sampai di Johor, dan menetap di Rejosari ini sampai sekarang.

Dan di Rejosari, Ngadiyan sosok yang agak istimewa. Bukan cuma mempertahankan kebiasaan Jawa Hindu, ia malah berpraktek sebagai dukun dan pelatih kuda kepang selain berkebun kelapa sawit di tanahnya seluas I ha, yang dilakukannya sejak tahun 1956. Entah mengapa ia tak sampai diganggu gugat di Rejosari.

Murid Ngadiyan cukup banyak, tersebar di beberapa tempat sekitar Rejosari. Antara lain, ia punya 19 siswa di Rejosari, 30 di Rengit, dan 22 di Kekaran Paluh. Uang yang harus dikeluarkan murid-muridnya besar juga. “Pokoknya, sekali saya ngajari, mereka harus bayar 12 ringgit,” katanya kepada Agus Basri dari tempo, sambil terkekeh. Yang diajarkannya tentu tak sekadar kuda kepang. Juga permainan pendukung, yaitu pentul/badut/topeng. Bahkan juga bermacam gending dan instrumen lain. Misalnya kenong, angklung, dan ketipung. “Semuanya saya ajarkan supaya lucu, dan dilakukan di rumah saya,” kata Ngadiyan dalam bahasa Jawa yang halus.

Sayangnya, menurut Ngadiyan, orang Jawa Melayu tidak bisa luwes. “Tapi, ya, biarkan saja. Wong memang sudah begitu. Jadi, pentul atau kuda kepang di sini ya jauh sekali dibanding yang di Jawa.”

Pokoknya, Ngadiyan ini ahli kebudayaan. la misalnya mendirikan perkumpulan ketoprak. Juga mengajarkan macam-macam tradisi Jawa. Umpamanya: peringatan tiga hari, tujuh hari, 40 hari, 100 hari, tahlilan 1.000 hari untuk sanak yang sudah meninggal.

Kalau sedang praktek, ia mengenakan sarung, duduk bersimpuh dengan dua batang lilin (lilin, memang) menyala di depannya, membakar kemenyan, menghadapi segelas air putih, dan memegang tongkat kayu. Mulutnya komat-kamit. la mengucapkan basmalah, shalawat Nabi, dan beberapa ayat Quran. Setelah itu, ia meminta Nyai Roro Kidul agar sudi menjadi perantara, dengan mengucapkan, “Semaro kuning nur jail, duh wirangku singandolo

 

PEMBUATAN GAMELAN JAWA WANITA MANDAILING MEMBUAT TIKAR ASLI

             singandelep, jalmo moro jalmo mati, sudi moro sudi mati, jim moro jim mati, hantu moro hantu mati. Alhamdulilah untu Mbah Nyai Roro Kidul.”

Entah apa artinya pokoknya Jawa.

Setelah itu, apa yang diinginkannya disebutkan. Untuk itu, “pasien” tak perlu membayar meski Ngadiyan juga “tak menolak jika diberi”. Masalah-masalah yang biasanya dibawa pasien adalah ini: jodoh, rezeki, hantu, kesurupan, dan yang semacam.

          Tradisi Jawa di Malaysia, seperti yang dijalankan Ngadijan, memang banyak yang tetap dijalankan. Meskipun barangkali sudah tak sepenuhnya asli,

selain beragam karena asal perantau yang tak sama. Bisa kita lihat berbagai adat dalam kehidupan keluarga, berkenduri, dalam lembaga gotong royong dan keagamaan seperti membangun langgar, pondok pengajian, dan sebagainya.

               Pengaruh Melayu tampaknya besar juga, terutama pada keseniannya. Tidak hanya seperti dikatakan Ngadiyan tadi gerakan penari Jawa Melayu tak bisa seluwes Jawa asli. Tapi juga pada pertunjukan wayang. Di Kelantan ada wayang yang dalangnya dipanggil tok dalang alias datuk dalang. Sebelum mulai, ia mutih (puasa mutih} dulu. Setelah itu, mengasapi wayangnya satu per satu dengan menyan, seperti aslinya di Jawa.

Tetapi wayang itu tak seperti wayang kulit kita, melainkan seperti wayang Muangthai. Cara mendalangnya memang mirip dengan cara Jawa, tapi bahasa yang dipakai bahasa Melayu dengan logat setempat. Mula-mula tok dalang akan menayangkan si wayang setelah itu menceritakan adegannya, disertai ketukan-ketukan pada kotak wayang. Konon, susah mengetahui apa yang dituturkannya, kalau bukan orang daerah itu.

Yang masih serupa dengan punya kita adalah gamelannya. Tapi jangan mengira gamelan itu made in Jawa. Ada pembuatnya sendiri di sana. Orang Jawa, memang, tapi tak pernah menginjakkan kaki sekali pun di pulau paling selatan itu.

Mpu pembuat gamelan itu Sarbini namanya, 56, penduduk Rengit mukim 12, sekitar 2 km dari Rejosari (mukim 11). Di rumahnya bisa kita saksikan aneka instrumen gamelan kenong, gong, demung, kendang . . . , semuanya masih setengah jadi. Juga seperangkat wayang kulit.

 

KUDA KEPANG DARI HARD BOARD SARBINI

               Sarbini bisa memainkan semua peralatan itu, kecuali wayang kulitnya. la sendiri tak pernah menerima pelajaran khusus mem­buat gamelan. “Saya belajar sendiri. Tak ada yang mengajari,” kata Sarbini, yang mengaku sudah senang gamelan sejak umur 10 tahun. Ceritanya begini. Suatu hari ia melihat gamelan lipatan di Parit Baru, Air Hitam, Johor. Barang itu didatangkan dari Jawa. “Saya coba memainkannya. Terus saya pinjam saronnya untuk saya bawa pulang. Saya  tiru suara saron itu dengan membuatnya sendiri, menggunakan kuningan. Wah, saya berhasil!”

          Terdorong oleh keberhasilan itu, Sarbini lalu mencoba membuat instrumen lain. Dengan  memakai  pedoman suara saron tadi, krangai   tahun  1964 Sarbini  membuat  bonang,  ke­nong, demung, gambang, gendang,  kempul, dan gong,  la berhasil lagi. Berhasil, berhasil.

Sarbini lalu memainkannya. Dan ketika seorang temannya, Prawiro, membeli seperangkat wayang kulit, ia pun mengiringi pagelaran wayang itu de­ngan gamelannya. la, yang tak bisa mendalang, akhirnya membentuk yoga gamelan dan mengepalainya. Namanya Yoga Purwo Sejati. “Karena saya memang memulainya dari awal, alias purwo.”

                  Eh, ternyata banyak orang tertarik. Maka, ia pun membuat satu perangkat lagi, yang dijualnya 700 ringgit pada 1965. Sejak itu ia berprofesi sebagai pembuat gamelan. Konsumennya, antara lain, pemerintah. Kementerian Kebudayaan Malaysia pernah memesan seperangkat gamelannya seharga 5.500 ringgit. Juga pemerintah Singapura, yang mengambil 10 perangkat. Pokoknya, laris.

Sampai-sampai Sarbini sendiri merasa kewalahan. “Karena pesanan banyak sekali, saya sampai sering menolaknya,” katanya. “Bahkan gamelan saya yang pertama pun akhirnya terjual 4.500 ringgit.” Sarbini rata-rata butuh waktu tiga bulan untuk menyelesaikan satu set. la satu-satunya pembuat gamelan di Johor.

la, yang cuma dibantu dua anaknya, mengaku sangat sulit mencari bibit baru untuk dijadikan anak didik. “Kebanyakan mereka mau dididik jika dibayar secara patut. Padahal, saya cuma mampu menggaji setengah dari kepatutan itu,” katanya. “Makanya saya ya cuma mendidik anak saya sendiri.”

          Sarbini mengaku, motivasi utamanya membuat gamelan adalah ini: “Supaya kebudayaan Jawa bisa  berkembang di Malaysia.” Selain mencari uang, tentu. Karena itu, ia selalu melengkapi pengetahuannya tentang gamelan dan tentang kebudayaan Jawa dengan membaca buku. Dari buku itulah ia tahu bahwa gamelan, konon, dibuat oleh Sunan Kalijaga untuk syiar Islam. Itu kata Sarbini.

Pokoknya, ia lalu mengatakan bahwa salah satu alasannya membuat gamelan adalah syiar Islam. “Saya tahu, Islam bisa diterima di Jawa melalui gamelan. Karena itu, kalau ada orang bilang gamelan haram, saya menentangnya. Mengapa? Kan Quran juga dilagukan,” kata ayah sembilan anak dan kakek 17 cucu ini. Betul juga.

Agama memang penting di Malaysia. Meski beberapa tradisi yang berbau kejawen, seperti yang dilakukan Mbah Ngadiyan itu, masih ada, orang Jawa di Malaysia semua mengaku Islam penuh. Apalagi di Malaysia sekarang tak ada pemisahan

( Sumber: Majalah TEMPO, 19 Januari 1985 halaman 33 – 43. Selingan yang berjudul “Orang Kita di Semenanjung”).

 

Iklan

10 pemikiran pada “Kisah Orang Jawa di Malaysia

  1. Saya suka dengan artikel ini, karena baru saja saya kunjungi Museum Selangor dan memang orang Jawa, Sumatera dan Bugislah yang banyak datang ke Semenanjung. Salam kenal juga buat Bapak ya….

  2. Waaah, apik temenan niku pak de

  3. Saya berketurunan Jawa Selangor. Monggo atas tulisanmu.

  4. leluhur saya hijrah ke Malaysia tahun 1910. dan sekarang sudah ratusan anak cucunya di sana, di parit pulai batu pahat Johor Malaysia.

  5. Ponorogo, itulah yang disebut2 pakcik2 aku semasa hayat mereka dulu ttg asal usul nenek moyang aku. Hj. Samlawi Abdullah. Sayangnya pengetahuan kami hanya setakat itu sajalah. Bila datang ke Malaya pun, kami tidak tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s