Melirik Aceh 4000 Tahun Lampau

Melirik Aceh 4000 Tahun Lampau

 

           ACEH 4.000 tahun lampau. atau di zaman prasejarah telah didiami manusia yang telah memiliki kebudayaan. Terbukti terdapatnya bukit-bukit kapur yang terkenal dengan Sumatera Lith di Tamiang Hulu. Sekitar 40 km dari kota Langsa, Aceh Tlmur. Malah terbentang mulai dari Aceh Utara sampai ke pantai Sumatera Timur. Diperkirakan berumur lebih kurang 4.000 tahun.

         Bukti lain, ditemukannya sebuah kerangka manusia di sekitar bukit Kelembei di Kecamatan Tamiang Hulu. Menurut ciri-ciri, jenis kelamin wanita, berumur sekitar 40 tahun. Tinggi I5O cm. bertengkorak lonjong. Akar hidung lebar dan gigi kecil-kecil. (Prof Dr T Yacob dalam bukunya Studi tentang Variasi Manusia di lndonesia, Yogyakarta 1973). Manusia prasejarah tersebut juga terdapat di sepanjang pantai Aceh Timur. Sejak dari Langsa sampai Peureulak, Idi Rayeuk, Julok dan Simpang Ulim. Juga terdapat bukti-bukti tentang adanya manusia pra­sejarah. berasal dari keturunan suku Trinil.

          Kemudian sekitar tahun 2.600 SM datang ke Indonesia, pada umumnya lebih maju dari penduduk yang telah ada. Diperkirakan ribuan tahun sebelumnya telah mendiami daerah Indo Cina (Funan, Campa dan Kamboja). Daerah mana disebut juga Hindia Belakang. Dalam antropologi budaya, mereka disebut juga sebagai golongan Proto Melayu atau Melayu Tua.

Tahun 1.500 SM datang pula gelombong kedua ke Aceh Timur. Juga dari Hindia Be­lakang, disebut Dietro Melayu dan kehidupan mereka lebih maju. Ini dapat dibuktikan dengan keahlian mereka di bidang tani, nelayan, ilmu falak, ilmu pemerintahan, ilmu dagang dan peternakan. Serta menggunakan uang untuk berjual beli.

 

Pengaruh Hindu/Budha Mazhab Mahayana

         Kekayaan dan kesuburan Pulau Sumatera, menyebabkan penduduk dari India Selatan meninggalkan negerinya, untuk mengadu nasib di lndo­nesia. Pengetahuan mereka lebih sempurna, sehingga dengan mudah mereka berkuasa. Sedangkan sebelum itu, penduduk asli Peureulak masih menganut kepercayaan yang berada dari jenis bangsa Austroloid, Proto Melayu dan Dietro Melayu, yaitu Dinamisme dan Animisme. Sekitar masa itu pula Aru dan Tamiang masih belum beragama.

Menurut Praodorigo dari Pordenone, tahun 1323 M, di Lamuri masih terdapat ma­nusia separuh telanjang. Adat perkawinannya juga belum teratur. Sedangkan gambaran masyarakat Aceh Timur waktu itu, lelaki dan perempuan sama-sama berambut panjang. Mengasah gigi dan dibubuhi baja sehingga hitam seperti gusi.

           Selain itu .sebelum awal tarikh masehi, masih diperkirakan Raja Poli (Pidie) sudah menganut agama Budha Mazhab Mahayana. Bekas kebudayaan Hindu dan Budha ini masih terkesan di Aceh Timur dan Aceh khususnya. Hingga sekarang masih menjadi tradisi. Baik kita lihat dalam tata laksana perkawinan maupun adat kebudayaan seperti:

1. Adanya bayangan kasta dalam kalangan masyarakat.

2 .Adanya tradisi yang menggambarkan kebudayaan dalam upacara perkawinan.

 

           Sebaliknya, pengaruh kebu­dayaan Tiongkok banyak pula didapati, terutama di Aceh Timur, seperti: buah tangan pada upacara perkawinan, seperti bawaan berupa benda diganti dengan uang. Dalam bahasa Aceh disebut Teumeutuk”. Demikian pula bawaan mempelai laki-laki. Harus membawa Tebu berdaun (Teubee meu on), kelapa terkupas (u meu lasoun). Serta membawa parakah (kotak berbentuk rumah adat) penuh dengan isinya (makanan).

 

 

Batu nisan  1000  tahun.

Berdasarkan pendataan sejarah pada 15 Juni 1979, setelah mengadakan peninjauan di beberapa lokasi tempat-tempat bersejarah di kawasan Peureulak, Aceh Timur.

Dr NA Baloch, dosen besar pada University Hyderabad Sind Pakistan (ahli sejarah Islam) berpendapat:

Melihat bentuk batu nisan yang berbentuk Halter (lihat foto), Dr NA Baloch menyatakan, umur batu nisan tersebut diperkirakan lebih dari 1.000 tahun. Baik NA Baloch maupun ketua pendataan benda-benda bersejarah M Arifin Amin BA bersama Ustad Zainuddin Saman belum dapat menaksir. Apakah batu nisan itu berasal dari kuburan seorang Hindu/Budha atau sesudah Islam berkembang di Peureulak, masih dalam pendata­an yang belum jelas. Peureulak kota tertua di Sumatera.

 

 

Dalam Prasati Tan Jore 1030

BATU NISAN – Batu Nisan yang ditemukan di lokasi Kerajaan Peureulak. Diperkirakan berumur lebih 1.000 tahun. M. Rendra Cola I mencatat kemenangan dalam perang melawan Indonesia khususnya di kawasan daerah Peureulak dan Pasai. Disebut sebagai Talai Tak Kolam. Di samping nama Kadara untuk Kedah, Illamuri de Gam untuk Lamuri. Maka yang disebut Talai Tak Kolam adalah Cot Kala yang berlokasi sekitar 5 km dari Aramiah, masih dalam lingkungan Kera­jaan Peureulak. Begitu juga yang disebut kota Rami oleh Kurdabeh (Abdullah Ibnu Ahmad) pengarang kitab Al Malik dan Mamalik di tahun 844-848 M. Juga oleh Abu Zaid Hasan pada tahun 916M. Juga tersebut kalimat Rami dan oleh saudagar Sulaiman Al Bashri Assirafi di tahun 851 M (Penga­rang buku Silsilatut-Tawarikh dan Akhiru  Was Sin). Melanjutkan pendapat, kota tertua di Sumatera tidak lain kota Armta atau Aramiah terletak di Kecamatan Langsa sekitar. 1.5 km dari kota Langsa. Pada masa itu, Aramiah merupakan kota perdagangan di zaman Kera­jaan Peureulak.

 

 

Pereulak Kerajaan Islam pertama

       Atas anjuran Khalifah Harun Al Rasyid, Khalifah Bani Abbasyiah untuk kesekian kalinya mengirim sebuah armada dakwah yang berjumlah 100 orang. Terdiri dari suku Arab, Parsi dan India muslim menuju Bandar Peureulak. Dikenal nama rombongan itu Nakhoda Bandar Khalifah. Mereka disambut baik oleh Meurah (Maharaja) Syahir Nuwi yang memerintah Kerajaan Peureu­lak waktu itu. Sejak tahun 173H-790 M, dilakukan berbagai metode dakwah dalam rangka pengislaman rakyat Peureulak.

          Dalam mengembangkan agama Islam, Nakhoda Khal­ifah mempunyai sistim yang menarik. Caranya, mendatangi kelompok dan kampung-karnpung penduduk yang belum Islam. Mengadakan pendekatan dengan cara tani, dagang serta mengikuti segala perilaku dalam penghidupan penduduk setempat. Sambil menanamkan ajaran Islam, yang kesemuanya mengandung unsur-unsur pendakwahan.

         Bersamaan dengan Itu, Putra Muhammad bin Jafar Assadiq bersama Ali bin Muhammad yang terjalin dari dua keturunan, yaitu keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah SAW sebelah ayahnya serta Kisra Parsi dari pihak ibunya dan juga pihak ibu dari ayahnya tiba bersama rombongan. Di dorong oleh kenyataan, maka Meurah Syahir Nuwi yang juga berdarah Parsi segera mengawinkan Ali bin Muhammad dengan adik kandungnya sendiri.

Perkawinan antara bangsawan Quraisy dengan bangsawan Parsi di Peureulak kini dianugerahi pula  seorang putra yang diberi nama Said Abdul Azis. Ketika Abdul Azis telah dewasa dikawinkan pula dengan si putri sulung Meurah Syahi Nuwl yang bergelar putri Makhdum Kudawl.

 

 

Kerajaan Islam Peureulak diproklamirkan

          Sepanjang yang diceritakan M Yunus Jamil dalam buku silsilah Tawarikh rqja-rqja kerajaan Aceh. Dan Prof Ali Hasjmy  dalam novel Sejarah Meurah Johan Sultan pertama Darussalam Banda Aceh. Yang keduanya memetik dari kitab Adharul Haq f i Mamlakatil Peureulak oleh Abu Ishak Al Makarani

Kerajaan Islam Peureulak diproklamirkan pada sehari bulan Muharram (hari Selasa) tahun l225 H-840 M. Raja Islam kerajaan Peurelak per­tama. dinobatkan Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Azls Syah Memerintah pada tahun 225-2- H atau 840-864 M. Pada peresmian kerajaan Islam ­Bandar Peureulak ditukar nama menjadi Bandar Khalifah. Sebagai kenangan kepada Nakhoda Khalifah. Dan sampai sekarang tetap dengan nama Bandar Khalifah

          Dari sinilah awal mula agama Islam disebar oleh Sayid Maulana Abdul Azis Syah ke seluruh pelosok nusantara dengan  catatan sebagal berikut: ke Jawa Barat oleh Maulana Fatahillah Syarif Hidayatullah (bergelar Sunan Gunung Jati). Ke Jawa Timur oleh Maulana Malik Ibrahim. Ke Brunai Darussalam oleh Syarif Ali. Ke Maluku Utara: 1. Kera­jaan Tidore oleh Syahadati, 2. Ternate oleh Mansur Malamo Jailo oleh Darajati. dll.

 

 

Benda-benda bersejarah

     Pendataan lain, dengan bukti-bukti setelah membongkar Makam Sultan Alaidin Maulana Abdul Azis Syah. Pada batu nisan terdapat tulisan Arab Khat Khufi. Sedang sebelah ujung nisan tersebut telah rusak berat akibat gangguan binatang ternak yang berkeliaran di kawasan tersebut. Namun saat ini telah dipugar. Tim ekspedisi mencari makam bersejarah di Peureulak dilakukan tahun 1974. Tim terdiri dari Drs Hasan Al Ambari, Ketua Lembaga Dinas Purbakala Pusat disertai saudari Una, didampingi Ketua Pendataan Aceh Timur M Arifin Amin BA. Dari hasil penyelidikan, disimpulkan dari segi buatan batu nisan, bentuk serta modelnya dan ukurannya dibanding dengan Pase, maka Peureulak lebih tua dari Kerajaan Pase.

Selain penemuan data-data otentik seperti benda-benda berupa naskah tua, kitab hikayat, mata uang dan sebagainya, juga ditemukannya bangunan kolam Mandi Putri Nurul’Ala yang terletak di kaki Bukit Paya Meligou, yang memerintah pada tahun 501-527 H atau 1108-1134 M.

          Di Bandar Khalifah dekat makam Abdul Azis Syah, juga terdapat makam Putri Makhdum Kudawi. Muatan galian yang dibuat Abdul Azls Syah, serta bekas masjid dayah Putroe  Nurul ‘Ala yang terletak di Desa Paya Meligou. Sedangkan di sekitar Takteh dan Paya Unou, terdapat makam ulama Sayed Ali Mukhayat Syah yang memer­intah tahun 302-305 H. Na­mun. yang terpenting dari semua pendataan dan pen­emuan adalah Dayah Cot Kala, bekas perguruan tinggi Islam dl zaman Kerajaan Islam Peureulak. Sedangkan benda bersejarah lainnya berupa naskah tua dan naskah Putri Nurul ‘Ala, hikayat Banta Beuransyah dan Hikayat Malem Dewa. Selain itu, dldapati juga mata uang Kerajaan Peureulak dan sebuah al-Qur’an tulisan tangan.

Demiklan penulisan yang bersahaja ini. Semoga sejarah dalam bentuk apapun dapat lebih dikembangkan. Yang pal­ing utama adalam penyelamatan benda-benda bersejarah, pendataan yang berkelanjutan, pemugaran walaupun secara bertahap. Serta pembangunan kembali lokasi-lokasi bersejarah, yang disesuaikan dengan marketing yang telah disain oleh pemuka, tokoh dan ulama Aceh Timur beberapa waktu lalu.

 

(Sumber:  Serambi Indonesia, Sabtu, 3 Agustus 1991 hlm. 8 ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s