Snouck Hurgronje dan Kode Etik Penelitian Sosial

 

Snouck Hurgronje dan Kode Etik Penelitian Sosial

Oleh W.G.J. Remmelink

 

           DALAM bulan Januari Kompas sudah beberapa kali memuat artikel dan tanggapan mengenai Dr Christiaan Snouck Hurgronje (Kompas 16, 18 dan 21 Januari). Semua itu berdasarkan sebuah wawancara Kompas dengan seorang sarjana Belanda Dr P.S. van Koningsveld (untuk selanjutnya VK) yang mengemukakan suatu interpretasi yang lain mengenai kehidupan dan kerja Dr Snouck Hurgronje alias Abdoel Ghaffar.

           Menurut Drs H. Ridwan Saidi pemuatan artikel semacam ini sangat berguna, karena “kita mesti tahu apa yang ada di Leiden atau Cornell.” Kalau begitu, kita juga mesti tahu bahwa pendapat dari VK, yang untuk pertama kalinya dikemukakan dalam sebuah ceramah pada tanggal 16 November 1979, telah mengakibatkan suatu polemik sengit sepanjang tahun 1980 dan 1981 dalam berbagai surat kabar dan majalah Belanda. Polemik tersebut dimuat secara lengkap dalam majalah De Gids tahun 1980/81, dan juga pernah disinggung oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo di Kompas dalam salah satu “Surat dari Wassenaar.”

           Menurut para penentangnya, VK bertolak dari suatu bayangan mengenai Snouck sebagai ilmuwan, orientalis, islamolog, sesuai dengan norma masa kini, dan “menemukan” Snouck yang “sebenarnya”, yaitu seorang agen intelijen, kolonialis, rasis, muslim semu, yang melanggar semua kode etik dengan pura-pura mengadakan penelitian ilmiah, pura-pura beralih agama, pura-pura kawin dengan putri pribumi, dan sebagainya dengan satu tujuan, yaitu membantu pemerintah penjajah mempererat belenggu kolonial.

          Melalui “tangan kotor” Snouck, VK menuduh orientalistik Belan­da telah menjadi ilmu bantu dari kolonialisme dan dengan demikian secara tidak langsung mernbenarkan ceritera kuno yang agak laku di dunia Islam, Bahwa orien­talistik Barat hanya kakitangan agama Kristen dan imperialisme kapitalis. Dahulu Husayn al-Harawi telah “membuka kedok” Snouck dan orientalistik Barat. Dan kita tidak perlu versi VK yang karena kekurangan argumen, akhirnya merasa perlu mengorbitkan kembali ceritera lama, bahwa di Mekkah Snouck telah mempunyai wanita simpanan (ceritera ini kemudian VK tarik kembali), atau melibatkan ayah Snouck yang pernah dikeluarkan dari Gereja karena berzina, tetapi kemudian diterima kembali setelah menikah secara sah dengan ibu Snouck. Demikian reaksi dari para penentang VK.

        Sejak dialog antara Al-Afghani dan Renan sekitar 100 tahun yang lalu, belum ada kemajuan berarti. Dunia Islam merasa ditonton oleh dunia Barat dengan congkak dan dijadikan obyek penelitian. Maka dunia Islam menonton kembali. Yang menonton ditonton dan hasilnya suatu percekcokan yang semakin seru biasanya dengan tuduhan terakhir dari kedua belah pihak, bahwa masing-masing hanya mementingkan “money and sex.” Oleh karena Snouck Hur­gronje adalah tokoh yang pernah berdiri di tengah badai yang masih mengamuk ini, kita harus berkepala dingin jika kita membicarakan peranannya.

          Peringatan Tengku HM Saleh bahwa penulisan mengenai Snouck tidak boleh merusak keharmonisan antar agama, perlu digarisbawahi. Baik VK maupun penentangnya setuju bahwa Snouck adalah seorang ilmuwan yang sekaligus insan politik. Tetapi mereka berbeda pendapat mengenai bagaimana harus menilai perilaku Snouck sebagai ilmuwan dari insan politik. VK merasa bahwa Snouck telah melampaui batas, baik sebagai ilmuwan maupun sebagai insan politik, dan mencoba mernbuktikan bahwa Snouck secara sadar menutup semua itu. Sedangkan para penentang VK mempertahankan bahwa Snouck tetap di dalam batas norrna etik, apalagi jika diukur menurut norma zaman itu. Dan menurut mereka, Snouck sama sekali tidak menyembunyikan sesuatu.

       Kedok Snouck yang dilihat VK adalah buatan VK sendiri. Misalnya VK berusaha mernbuktikan bahwa tugas intelijen Snouck di Aceh sudah direncanakan jauh sebelumnya dan perjalanannya ke Mekkah semata-mata untuk mempelajari rahasia Islam pada umumnya dan perlawanan Aceh pada khususnya. Hal ini dibantah oleh penentang VK dengan menunjukkan bahwa baik perjalanan Snouck ke Mekkah maupun ke Aceh sebagian besar atas inisiatif Snouck sendiri. Hanya karena Snouck sendiri begitu “ngeyel,” akhirnya dia dibantu dan diberikan subsidi dari pemerintah

Baru enam tahun kemudian, setelah “pengkhianatan Teuku Umar” dan setelah di Aceh diangkat seorang jenderal yang kurang lebih sependapat dengan Snouck, yaitu Van Heutsz, saran dari Snouck mulai diterima dan diterapkan di Aceh. Tuduhan dan bantahan yang silih berganti antara VK dan penentangnya tidak perlu dipaparkan secara mendetail di sini.

 

 

Snouck sebagai ilmuwan

        Bersama dengan Goldziher, Snouck dianggap sebagai pelopor Islamologi modern. Sejak abad pertengahan di Eropa, bahasa dan kebudayaan Arab telah dipelajari, tetapi fokus perhatian adalah pada naskah, khususnya naskah filsafat, sejarah, geografi, dan lain-lain. Hukum Islam sama sekali tidak dipelajari karena dianggap kering, tidak menarik. Namun Snouck berpendapat lain. Pengertian ilmiah mengenai Islam hanya dapat diperoleh dengan cara mempelajari Hukum Islam dan bagaimana Hukum Islam tersebut dipraktekkan oleh umat Islam. Agama dan kehidupan umatnya tidak dapat dipisahkan.

Pokok penelitian Snouck sebenarnya ada tiga: 1) Bagaimana sistem Islam terbentuk; 2) Apa arti Islam dalam praktek kehidupan umatnya; 3) Bagaimana golongan Islam di daerah jajahan harus diperintah untuk membawa mereka ke zaman modern dan kalau mungkin menjadikan mereka patner dalam pembentukan kebudayaan dunia yang universal.

       Pertanyaan pertama sebagian dijawab oleh Snouck dalam disertasinya, dan kemudian dibahas lagi dalam bagian pertama bukunya mengenai Mekkah. Untuk dapat menjawab pertanyaan  kedua,  Snouck harus ke Mekkah. tidak cukup hanya mempelajari naskah, praktek, kehidupan orang Islam harus langsung dipelajari. Ceritera perjalanan Snouck ke Tanah Suci sudah dikenal umum dan tidak perlu diulangi lagi.

       Yang dipermasalahkan adalah peralihan agama Snouck. Snouck secara formal masuk agama Islam, karena pada zaman itu tidak ada jalan lain untuk nempelajari praktek kehidupan umat Islam, selain masuk Islam,  apakah itu terjadi di depan Kadi Jeddah dengan dua saksi dari wali jelas seperti diutarakan VK, tetapi dibantah oleh penentangnya yang memberi interpretasi lain kepada kunjungan kadi tersebut dan memperkirakan bahwa setelah dilatih sedikit oleh Abu Bakr. Snouck ikut ke mesjid dan masuk Islam dengan mengucapkan syahadat di depan khalayak ramai, sebenarnya tidak penting Snouck telah dianggap Islam dan ialah ke Mekkah terbuka.

Meskipun hal ini mungkin sangat menyakitkan hati pihak yang diteliti. Perilaku ini sering terjadi dalam penelitian sosial karena demi kepentingan ilmu, hal ini  dibenarkan. Pengetahuan Snouck mengenai Hukum Islam pada waktu itu sudah sangat dalarn, dan para ulama di Mekkah mungkin lebih tertarik berdebat mengenai Hukum Islam dengan orang Barat ini daripada terlalu mempersoalkan    peralihan    agamanya.

         Dalam hubungan ini kepercayaan yang dianut Snouck sendiri sebenarnya tidak relevan, meskipun menimbulkan banyak spekulasi. Mungkin pada saat itu kepercayaan Snouck sendiri adalah paham “yang meredusir agama Kristen pada paham keesaan Tuhan dan cinta sesama manusia. Dengan demikian secara dogmatis Snouck lebih dekat Islam ‘ dari­pada Kristen, tetap ini hanya spekulasi belaka.

        Justru karena pengamatan dan penelitian menurut metode partisipasi inilah Snuock sangat dikagumi meskipun VK ingin memperkecil sumbangan Snouck karena dia menggunakan suatu jaringan informan. Tetapi menggunakan suatu jaringan informan adalah prosedur standar dalam penelitian sosial, bantah para penentang VK. Snouck sendiri tak pernah menyangkal bahwa dia (Bersambung ke hal V  kol 1 – 4)

 

(Sumber: Kompas, 2 Februari 1983 hlm IV ).

 

SEBUAH PERKAWINAN POLITIK UNTUK MENGUSIR PORTUGIS

Aceh Berbesan dengan Pahang:

SEBUAH PERKAWINAN POLITIK UNTUK MENGUSIR PORTUGIS

Oleh: Prof. A.Hasjmy

 

          MENJELANG akhir abad XV dan awal abad XVI, Portugis telah dapat memaksakan nafsu penjajahannya kepada Raja dalam wilayah kerajaan-kerajaan tersebut, Portugis mendirikan “benteng penjajahannya dengan nama kantor dagang, dan memang di dalamnya ditempatkan pasukan yang bersenjata lengkap.

Ali Mughaiyat Syah, Panglima Besar Angkatan Perang Aceh, melihat peristiwa ini dengan sangat geram, dan dia ingin menghancurkan kekuatan Portugis itu. Dia mendesak ayahnya, Sulthan Samsu Syah yang sangat lemah, agar meletakkan Jabatannya sebagai Sultan dan dia sebagai putera mahkota akan menggantikannya.

Setelah pada tanggal 12 Zulkaedah 916 H (1511 M) Ali Mughaiyat Syah dilantik menjadi Sultan Aceh Darussalam dengan gelar Sultan Alaidin All Mughayat Syah, beliau terus merencanakan untuk mengusir Portugis dari seluruh daratan Utara Sumatera, sejak dari Daya sampai ke Pulau Kampei.

           Untuk melaksanakan cita-cita besar dan mulia itu, Ali Mughaiyat Syah berpendapat bahwa kerajaan-kerajaan kecil perlu disatukan dalam satu kerajaan besar, beliau bercita-cita membangun satu Keraja­an Aceh Darussalam yang be­sar dan kuat. Setelah berhasil, Ali Mughaiyat mengusir Portugis dari Lubok, Pidie dan Samudra/ Pase, dengan menghancurkan armada Portugis di Perairan Jambo Aye Samudra/Pase, maka beliau terus memproklamirkan berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam, leburan dari semua Kerajaan Islam yang kecil-kecil.

         Dalam pertempuran-pertempuran di berbagai medan, dapat dicatat bahwa armada Portugis benar-benar telah teruk dan dihancur-lumatkan serta banyak sekali perwira unggulnya yang mati konyol, seperti Laksamana Jorge de Brito yang mati konyol dalam pertempuran bulan Mei 1521 M (927 H) dan Laksamana Simon de Souza yang mati da­lam pertempuaran laut tahun 934 H (1528 M).

Setelah syahid Laksamana Malik Uzair, Sulthan Ali Mughaiyat Syah mengangkat putera bungsunya, Malik Abdul Kahar, menjadi Amirul Harb (panglima perang) untuk kawasan timur merangkap Raja Muda di Aru.

Dengan berakhirnya Perang Laut Teluk Haru, dalam per­tempuran mana armada Portugis hancur total, maka berakhirlah riwayat pejajahan Por­tugis di Pulau Sumatera.

Kalau sekiranya Perang Laut Teluk Haru dimenangkan armada Portugis, niscaya selu­ruh Pulau Jawa akan menjadi jajahan penjajah Kristen/Katolik Portugis itu, sama halnya dengan Timor Timur yang  mereka jajah lebih 400 tahun.

        Menurut Dr NA  Bloch dalam bukunya, Advent of Islam in Indonesia, bahwa sebelum terjadi perang laut Teluk Haru, Portugis sudah mcncoba merebut Ibukota Kerajaan Aceh, Banda Aceh  tetapi gagal. Pe­rairan Banda Aceh dikepung armada Portugis yang amat kuat, yang didatangkan dari Goa. Sekalipun telah demikian gencarnya ditembak dengan meriam-meriam pantai Aceh, baik dari daratan Banda Aceh, maupun Pulau Aceh namun armada Portugis masih tidak terkalahkan.

          Menurut Hashim Bek Fuzumi dalam kitabnya Buhaira, yang dikutip Dr NA Baloch, akhirnya Aceh sebagai penghasll minyak bumi terbesar dl kawasan Selat Malaka, menumpahkan minyak bumi sebanyak-banyaknya ke laut dan kemudian dibakarnya, hatta Teluk Banda Aceh menjadi Lautan Api, dan terbakarlah  sebahagian besar armada Por­tugis, sementara sisanya lari menuju Goa.

         Dalam rangka mengusir penjajah Portugis, maka Sulthan  Alaidin Abdul Qahhar, beberapa kali mara ke Semenanjung Tanah Melayu, yang kemudian dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Meukuta AIam.

Untuk menghajar penjajahan Portugis, Sulthan Iskandar Meukuta Alam beberapa kali menyerang benteng-benteng Portugis di Semenanjung Tanah Melayu (Johor, Pahang, Malaka dan lain-laln) dengan Armada Cakra Donya yang Agung).

          Untuk lebih memperkuat hubungan Aceh dengan Seme­nanjung Tanah Melayu dalam menghadapi penjajah Portu­gis, telah terjadi beberapa perkawinan politik antara beberapa orang Sultan Aceh dengan puteri-puteri Istana Kerajaan-Kerajaun Islam di Semenan­jung Tanah Melayu. Perkawinan politik yang sangat terkenal. ialah perkawinan Sultan lskandar Muda dengan puteri Kamaliah, seorang puteri cantik jelita dari istana Pahang.

Tentang  perkawinan politik inl baiklah saya kutip sebahagian karangan saya dalam buku: Aceh dan Pahang.

          Setelah meninggal puteri Sendi Ratna Istana sebagai Permaisuri, Sulthan Iskandar Muda Meukuta Alam menikahi Puteri Kamaliah dari Keluarga Diraja Pahang, yang kemudian terkenal di Aceh dengan sebutan Putroe Phang (Puteri Pahang). Bagaimana cara Iskandar Muda mempersunting puteri Jelita dari Istana Kcrajaan Pahang itu, baiklah saya turunkan tulisan Haji Buyong Adil dalam bukunya: Sejarah Pahang, antara lain sebagai berikut:

      ” Dalam bulan Juni 1613, Sulthan Iskandar Muda Mahkota   Alam, Raja Aceh yang masyhur gagah perkasanya itu, telah menghantar suatu Angkatan Perang Laut yang besar datang menyerang dan mengalahkan negeri Johor, Batu Sawar dan Kota Seberang bandar-bandar utama di negeri Johor masa itu telah diduduki oleh orang-orang Aceh, Mengikuti setengah   sumber, Iskandar Muda sendiri mengepalakan Angkatan Perang Aceh yang menyerang Negeri Johor itu. Sulthan Alauddin  Riayat Syah III, adinda baginda Raja Abdullah serta  Bendahara Johor Tun Sri Lanang dan beberapa ramai pengiring-pcngiring Sulthan Johor telah ditawan dan dibawa ke negeri Aceh..,.,.,..”

        Setelah bcberapa tahun di Aceh, SulthanAlauddin Riayat Syah III  berjanji tidak lagl membantu Portugis yang telah menduduki Malaka, maka Is­kandar Muda membebaskan Sulthan Alauddin dan diantar kembali ke Johor serta ditabalkan kembali menjadi Sulthan Johor. Tetapi, ternyata kemudian Sulthan Alauddin Riayat Syah III yang telah menjadi Sulthan Johor kem­bali, lagi-lagi menjadi alat penjajah Portugis dalam rangka memperluas jajahannya di Semenanjung Tanah Melayu. Alauddin membantu Portugis untuk mengangkat Raja Bujang menjadi Sulthan Pahang. Raja Bujang adalah Pangeran yang telah mengangkat sumpah setia kepada Portugis.

        Karena itu, dalam bulan September 1615 Iskandar Muda menyerang lagl Johor dengan Angkatan yang lebih besar dan Johor dikalahkan lagi, Sulthan Alauddin ditahan dan dibawa ke Aceh, hatta meninggal di sana. Serangan dilanjutkan ke Pahang yang telah bersekutu dengan Portugis, seperti yang ditulis oleh Hajl Buyong Adil:

“Oleh sebab orang Portugis telah menolong Sulthan Johor (Alauddin Riayat Syah III) menaikkan Raja Bujang men­duduki takhta Kerajaan Negeri Pahang, pada tahun 1617 Sul­than Aceh (Iskandar Muda) telah mengeluarkan Angkatan Perang Aceh menyerang Negeri Pahang dan asykar-asykar Aceh yang datang itu telah membinasakan daerah di Negeri Pahang. Raja Bujang melarikan diri, sementara ayah mertuanya, Raja Ahmad, dan Puteranya yang bernama Raja Mughal serta 10 ribu Rakyat Negeri Pahang ditawan dan dibawa ke negeri   Aceh……… Seorang Puteri dari keluarga Diraja Pahang, yang bernama puteri Kamaliah juga turut dibawa ke Aceh, yang kemudian diperisteri oleh Sulthan lskandar Muda Meukuta Alam, dan Puteri Pahang itu termasyhur dalam sejarah Aceh karena kebijaksanaannya dan disebut oleh orang-orang Aceh Putroe Phang………..). 4

         Puteri Pahang dalam Istana Darud Dunia tidak hanya se­bagai permaisuri tetapi Juga menjadi penasehat bagi suaminya Sulthan Iskandar Muda.  Salah satu dari nasehatnya yang dilakukan Iskandar Muda dan amat bersejarahyaitu pembentukan sebuah lembaga yang mirip DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) zaman sekarang, yaitu Balai Majelis Mahkamah Rakyat, yang  beranggotakan 73 orang. yang mewakili mukim dalam Kerajaan Aceh Darussalam.

 

Prof. A.Hasjmy, Ketua Umum MUI Aceh.

Artikel ini diedit dari makalah yang berjudul sama!.

 

 

(Sumber: Serambi Indonesia, 15 Mei 1992 halaman 9 )

Mencari Si Mata Biru di Lamno

MencarSi Mata  Biru  di Lamno

 

         AWAL 1985, muncul lagi dua laki-laki muda Portugis di Desa Lamno, ibu kota Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Barat. Penduduk langsung bisa menduga apa tujuannya. Sebab hampir tiap tahun, desa kecil di Lembah Geureutee itu selalu dikunjungi orang-orang berkulit putih, bermata biru, yang mengaku datang dari Portugis.

Semua dengan tujuan mencari orang Lamno bermata biru. Seperti yang datang sebelumnya, dua yang terakhir pun ternyata tidak berhasil bertemu si mata biru. Yang terjadi selalu sama. Begitu mendapat izin camat memasuki desa-desa, orang-orang terutama para gadisnya, langsung berhamburan menjauhkan diri.

           Kisah dua laki-]aki muda Portu­gis itu diceritakan Camat Anwar Husin BA  kepada Kompas di kantornya awal Februari lalu. “Ini soal nasib. kalau Anda beruntung, bisa bertemu.” katanya. Diakui, sekarang ini memang banyak penduduk Lamno terutama gadis-gadis yang memiliki mata biru.

Isyarat Camat Anwar Husin itu, kecuali sudah merupakan izin memasuki desa-desa, juga sekaligus menumbuhkan harapan baru. Betapa tidak hari pertama di Lamno, pemilik rumah penginapan “Persinggahan,” T. Sulaiman Rachman sudah mematahkan harapan.” Omong kosong, di Lamno ini tidak ada keturunan Portugis, yang ada cuma pedang Portugis, yang satu dua masih disimpan penduduk sekarang ini,” katanya.

           Menurut T. Sulaiman, pensiunan ABRI  dan mengaku berumur 65 tahun itu, penuturan orang-orang tua menyatakan, bahwa serombongan pelaut Portugis pernah terdampar di lembah Geurutee. Pelaut-pelaut itu diterima oleh raja-raja Aceh dan dibenarkan bermukim sementara di tepi pantai, agar mereka bisa memulihkan kesehatan dan memperbaiki kapalnya. “Mereka dijaga ketat dan tidak dibenarkan berhubungan dengan penduduk. Karena itu, manalah mungkin ada turunan Portugis di Lamno ini,” katanya.

Dari  kantor camat, pencarian pun segera dimulai. Camat Anwar Husin menyebutkan dua desa,  Lam Me dan Ujong Sudheuen. Karena itu tidak perlu mengunjungi ke-48 desa di kecamatan itu. Bahkan tidak perlu meneliti setiap  orang dari I9.500 jiwa penduduk kecamatan itu, yang tersebar pada wilayah seluas 620,40 kilometer persegi. Apalagi, 12 desa di antaranya masih belum bisa dijangkau kendaraan bermotor.

           Tetapi, di Lam Me pencarian tidak berhasil. Satu-dua pendu­duk yang berpapasan tidak memi­liki ciri-ciri yang dicari. Warna kulit, profil dan postur adalah khas Aceh. Sama seperti di pesisir timur yang merupakan jumlah paling besar dari 2,6 juta pendu­duk Aceh. Yaitu warna kulit, profil dan postur yang mirip India dan Arab. Raut muka lonjong, mata dalam, dagu runcing dan hidung yang mancung serta warna kulit kehitam-hitaman. Nyaris percaya kata-kata T. Sulaiman Rachman, perlahan-lahan  jip dijalankan menuju Ujong Sudheuen di Kuala Daya, 15 kilometer barat Lamno, langsung di bibir pantai Samudera Hindia.

          Keuchik (kepala desa) Kuala Daya, Dahlan (42 tahun), adalah orang kedua setelah Camat Anwar Husin yang kembali membersitkan harapan. la langsung mengumpulkan 4-5 orang penduduk setempat, menjelaskan asal usul mereka. Di awal pembicaraan Keuchik Dahlan sudah menegaskan, khusus di kawasan Kuala Daya, nenek moyang mereka adalah orang Portugis. Maka berkisahlah Keuchik Dahlan dibantu A. Wahab Basri

(Kepala Mukim Lam Beusoe) dan seorang pemuka masyarakat bernama Tgk. Haji Abdul Aziz yang sudah berumur 83 tahun. Lainnya manggut-manggut, dan anggukan makin dalam setiap kali Tgk. Abdul Aziz mengatakan mereka adalah turunan Portugis.

          Katanya, sebelum Kerajaan Aceh berdiri sekitar abad ke-15, di kawasan Kuala Daya sudah ada suatu;Kerajaan Portugal. Di situ perbauran terjadi antara orang-orang Portugis dengan penduduk setempat. Tetapi, melalui proses alamiah yang berlangsung berabad-abad kemudian, Kuala Daya diperintah Sultan Saladin Riayat Syah yang lalu dikenal sebagai Po Teumeureuhom Daya. Raja inilah yang kemudian mengembangkan agama Islam, sekaligus mengislamkan orang-orang Portugis. Salah satu yang diislamkan itu, konon bernama Pahlawan Syah yang kuburannya masih ada di Krueng Tunong.

“Lalu, si mata birunya masih ada pak?” Menanggapi  pertanyaan itu, Keuchik Dahlan langsung menyuruh panggil pemuda ber­nama Abdullah, 20 tahun. Laki-laki muda bertubuh semampai dan mengaku tidak pernah mengikut pendidikan formal itu, muncul malu-malu. “Ayah saya juga masih bermata biru,” katanya sambil mendekat. Tampak bola matanya memang berwarna biru. Namun hidungnya tidak terlalu mancung, sedangkan kulitnya sudah kekuning-kuningan. Rambut? “Ini sudah saya cat hitam. Aslinya merah seperti jagung sama seperti yang dilakukan Keuchik Dahlan dan Pak Mukim Basri,” ujar Abdullah.

         Konnpas mendekati Keuchik Dahlan dan berbisik,” Boleh lihat gadis si mata biru?”. Keuchik Dahlan manggut-manggut.” Banyak memang, masih banyak jumlahnya. Tetapi, anak-anak boleh. Kalau yang sudah gadis payahlah. Soalnya mereka  malu.” jawabnya.

Tetapi setelah menunggu sampai beberapa lama, anak-anak yang dijanjikan Keuchik Dahlan tak kunjung muncul. Agaknya, Keuchik Dahlan bisa membaca situasi. Maka sebelum Kompas meninggalkan Kuala Daya dia masih mencoba menghibur kekecewaan.

“Kalau mau lihat, datanglah pada hari Raya Haji. Saat itu ada upacara Seumeuleueng. Semua penduduk akan berdatangan ke makam Po Teumeureuhom. Mulai dari anak-anak, orang tua dan tentu saja si gadis bermata biru.” ujar Dahlan.

Alhasil, bertambah lagi orang-orang yang gagal mencari gadis bermata biru.

 

(Sumber: Kompas, Sabtu, 15 Februari 1986 hlm. IX ).

Melirik Aceh 4000 Tahun Lampau

Melirik Aceh 4000 Tahun Lampau

 

           ACEH 4.000 tahun lampau. atau di zaman prasejarah telah didiami manusia yang telah memiliki kebudayaan. Terbukti terdapatnya bukit-bukit kapur yang terkenal dengan Sumatera Lith di Tamiang Hulu. Sekitar 40 km dari kota Langsa, Aceh Tlmur. Malah terbentang mulai dari Aceh Utara sampai ke pantai Sumatera Timur. Diperkirakan berumur lebih kurang 4.000 tahun.

         Bukti lain, ditemukannya sebuah kerangka manusia di sekitar bukit Kelembei di Kecamatan Tamiang Hulu. Menurut ciri-ciri, jenis kelamin wanita, berumur sekitar 40 tahun. Tinggi I5O cm. bertengkorak lonjong. Akar hidung lebar dan gigi kecil-kecil. (Prof Dr T Yacob dalam bukunya Studi tentang Variasi Manusia di lndonesia, Yogyakarta 1973). Manusia prasejarah tersebut juga terdapat di sepanjang pantai Aceh Timur. Sejak dari Langsa sampai Peureulak, Idi Rayeuk, Julok dan Simpang Ulim. Juga terdapat bukti-bukti tentang adanya manusia pra­sejarah. berasal dari keturunan suku Trinil.

          Kemudian sekitar tahun 2.600 SM datang ke Indonesia, pada umumnya lebih maju dari penduduk yang telah ada. Diperkirakan ribuan tahun sebelumnya telah mendiami daerah Indo Cina (Funan, Campa dan Kamboja). Daerah mana disebut juga Hindia Belakang. Dalam antropologi budaya, mereka disebut juga sebagai golongan Proto Melayu atau Melayu Tua.

Tahun 1.500 SM datang pula gelombong kedua ke Aceh Timur. Juga dari Hindia Be­lakang, disebut Dietro Melayu dan kehidupan mereka lebih maju. Ini dapat dibuktikan dengan keahlian mereka di bidang tani, nelayan, ilmu falak, ilmu pemerintahan, ilmu dagang dan peternakan. Serta menggunakan uang untuk berjual beli.

 

Pengaruh Hindu/Budha Mazhab Mahayana

         Kekayaan dan kesuburan Pulau Sumatera, menyebabkan penduduk dari India Selatan meninggalkan negerinya, untuk mengadu nasib di lndo­nesia. Pengetahuan mereka lebih sempurna, sehingga dengan mudah mereka berkuasa. Sedangkan sebelum itu, penduduk asli Peureulak masih menganut kepercayaan yang berada dari jenis bangsa Austroloid, Proto Melayu dan Dietro Melayu, yaitu Dinamisme dan Animisme. Sekitar masa itu pula Aru dan Tamiang masih belum beragama.

Menurut Praodorigo dari Pordenone, tahun 1323 M, di Lamuri masih terdapat ma­nusia separuh telanjang. Adat perkawinannya juga belum teratur. Sedangkan gambaran masyarakat Aceh Timur waktu itu, lelaki dan perempuan sama-sama berambut panjang. Mengasah gigi dan dibubuhi baja sehingga hitam seperti gusi.

           Selain itu .sebelum awal tarikh masehi, masih diperkirakan Raja Poli (Pidie) sudah menganut agama Budha Mazhab Mahayana. Bekas kebudayaan Hindu dan Budha ini masih terkesan di Aceh Timur dan Aceh khususnya. Hingga sekarang masih menjadi tradisi. Baik kita lihat dalam tata laksana perkawinan maupun adat kebudayaan seperti:

1. Adanya bayangan kasta dalam kalangan masyarakat.

2 .Adanya tradisi yang menggambarkan kebudayaan dalam upacara perkawinan.

 

           Sebaliknya, pengaruh kebu­dayaan Tiongkok banyak pula didapati, terutama di Aceh Timur, seperti: buah tangan pada upacara perkawinan, seperti bawaan berupa benda diganti dengan uang. Dalam bahasa Aceh disebut Teumeutuk”. Demikian pula bawaan mempelai laki-laki. Harus membawa Tebu berdaun (Teubee meu on), kelapa terkupas (u meu lasoun). Serta membawa parakah (kotak berbentuk rumah adat) penuh dengan isinya (makanan).

 

 

Batu nisan  1000  tahun.

Berdasarkan pendataan sejarah pada 15 Juni 1979, setelah mengadakan peninjauan di beberapa lokasi tempat-tempat bersejarah di kawasan Peureulak, Aceh Timur.

Dr NA Baloch, dosen besar pada University Hyderabad Sind Pakistan (ahli sejarah Islam) berpendapat:

Melihat bentuk batu nisan yang berbentuk Halter (lihat foto), Dr NA Baloch menyatakan, umur batu nisan tersebut diperkirakan lebih dari 1.000 tahun. Baik NA Baloch maupun ketua pendataan benda-benda bersejarah M Arifin Amin BA bersama Ustad Zainuddin Saman belum dapat menaksir. Apakah batu nisan itu berasal dari kuburan seorang Hindu/Budha atau sesudah Islam berkembang di Peureulak, masih dalam pendata­an yang belum jelas. Peureulak kota tertua di Sumatera.

 

 

Dalam Prasati Tan Jore 1030

BATU NISAN – Batu Nisan yang ditemukan di lokasi Kerajaan Peureulak. Diperkirakan berumur lebih 1.000 tahun. M. Rendra Cola I mencatat kemenangan dalam perang melawan Indonesia khususnya di kawasan daerah Peureulak dan Pasai. Disebut sebagai Talai Tak Kolam. Di samping nama Kadara untuk Kedah, Illamuri de Gam untuk Lamuri. Maka yang disebut Talai Tak Kolam adalah Cot Kala yang berlokasi sekitar 5 km dari Aramiah, masih dalam lingkungan Kera­jaan Peureulak. Begitu juga yang disebut kota Rami oleh Kurdabeh (Abdullah Ibnu Ahmad) pengarang kitab Al Malik dan Mamalik di tahun 844-848 M. Juga oleh Abu Zaid Hasan pada tahun 916M. Juga tersebut kalimat Rami dan oleh saudagar Sulaiman Al Bashri Assirafi di tahun 851 M (Penga­rang buku Silsilatut-Tawarikh dan Akhiru  Was Sin). Melanjutkan pendapat, kota tertua di Sumatera tidak lain kota Armta atau Aramiah terletak di Kecamatan Langsa sekitar. 1.5 km dari kota Langsa. Pada masa itu, Aramiah merupakan kota perdagangan di zaman Kera­jaan Peureulak.

 

 

Pereulak Kerajaan Islam pertama

       Atas anjuran Khalifah Harun Al Rasyid, Khalifah Bani Abbasyiah untuk kesekian kalinya mengirim sebuah armada dakwah yang berjumlah 100 orang. Terdiri dari suku Arab, Parsi dan India muslim menuju Bandar Peureulak. Dikenal nama rombongan itu Nakhoda Bandar Khalifah. Mereka disambut baik oleh Meurah (Maharaja) Syahir Nuwi yang memerintah Kerajaan Peureu­lak waktu itu. Sejak tahun 173H-790 M, dilakukan berbagai metode dakwah dalam rangka pengislaman rakyat Peureulak.

          Dalam mengembangkan agama Islam, Nakhoda Khal­ifah mempunyai sistim yang menarik. Caranya, mendatangi kelompok dan kampung-karnpung penduduk yang belum Islam. Mengadakan pendekatan dengan cara tani, dagang serta mengikuti segala perilaku dalam penghidupan penduduk setempat. Sambil menanamkan ajaran Islam, yang kesemuanya mengandung unsur-unsur pendakwahan.

         Bersamaan dengan Itu, Putra Muhammad bin Jafar Assadiq bersama Ali bin Muhammad yang terjalin dari dua keturunan, yaitu keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah SAW sebelah ayahnya serta Kisra Parsi dari pihak ibunya dan juga pihak ibu dari ayahnya tiba bersama rombongan. Di dorong oleh kenyataan, maka Meurah Syahir Nuwi yang juga berdarah Parsi segera mengawinkan Ali bin Muhammad dengan adik kandungnya sendiri.

Perkawinan antara bangsawan Quraisy dengan bangsawan Parsi di Peureulak kini dianugerahi pula  seorang putra yang diberi nama Said Abdul Azis. Ketika Abdul Azis telah dewasa dikawinkan pula dengan si putri sulung Meurah Syahi Nuwl yang bergelar putri Makhdum Kudawl.

 

 

Kerajaan Islam Peureulak diproklamirkan

          Sepanjang yang diceritakan M Yunus Jamil dalam buku silsilah Tawarikh rqja-rqja kerajaan Aceh. Dan Prof Ali Hasjmy  dalam novel Sejarah Meurah Johan Sultan pertama Darussalam Banda Aceh. Yang keduanya memetik dari kitab Adharul Haq f i Mamlakatil Peureulak oleh Abu Ishak Al Makarani

Kerajaan Islam Peureulak diproklamirkan pada sehari bulan Muharram (hari Selasa) tahun l225 H-840 M. Raja Islam kerajaan Peurelak per­tama. dinobatkan Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Azls Syah Memerintah pada tahun 225-2- H atau 840-864 M. Pada peresmian kerajaan Islam ­Bandar Peureulak ditukar nama menjadi Bandar Khalifah. Sebagai kenangan kepada Nakhoda Khalifah. Dan sampai sekarang tetap dengan nama Bandar Khalifah

          Dari sinilah awal mula agama Islam disebar oleh Sayid Maulana Abdul Azis Syah ke seluruh pelosok nusantara dengan  catatan sebagal berikut: ke Jawa Barat oleh Maulana Fatahillah Syarif Hidayatullah (bergelar Sunan Gunung Jati). Ke Jawa Timur oleh Maulana Malik Ibrahim. Ke Brunai Darussalam oleh Syarif Ali. Ke Maluku Utara: 1. Kera­jaan Tidore oleh Syahadati, 2. Ternate oleh Mansur Malamo Jailo oleh Darajati. dll.

 

 

Benda-benda bersejarah

     Pendataan lain, dengan bukti-bukti setelah membongkar Makam Sultan Alaidin Maulana Abdul Azis Syah. Pada batu nisan terdapat tulisan Arab Khat Khufi. Sedang sebelah ujung nisan tersebut telah rusak berat akibat gangguan binatang ternak yang berkeliaran di kawasan tersebut. Namun saat ini telah dipugar. Tim ekspedisi mencari makam bersejarah di Peureulak dilakukan tahun 1974. Tim terdiri dari Drs Hasan Al Ambari, Ketua Lembaga Dinas Purbakala Pusat disertai saudari Una, didampingi Ketua Pendataan Aceh Timur M Arifin Amin BA. Dari hasil penyelidikan, disimpulkan dari segi buatan batu nisan, bentuk serta modelnya dan ukurannya dibanding dengan Pase, maka Peureulak lebih tua dari Kerajaan Pase.

Selain penemuan data-data otentik seperti benda-benda berupa naskah tua, kitab hikayat, mata uang dan sebagainya, juga ditemukannya bangunan kolam Mandi Putri Nurul’Ala yang terletak di kaki Bukit Paya Meligou, yang memerintah pada tahun 501-527 H atau 1108-1134 M.

          Di Bandar Khalifah dekat makam Abdul Azis Syah, juga terdapat makam Putri Makhdum Kudawi. Muatan galian yang dibuat Abdul Azls Syah, serta bekas masjid dayah Putroe  Nurul ‘Ala yang terletak di Desa Paya Meligou. Sedangkan di sekitar Takteh dan Paya Unou, terdapat makam ulama Sayed Ali Mukhayat Syah yang memer­intah tahun 302-305 H. Na­mun. yang terpenting dari semua pendataan dan pen­emuan adalah Dayah Cot Kala, bekas perguruan tinggi Islam dl zaman Kerajaan Islam Peureulak. Sedangkan benda bersejarah lainnya berupa naskah tua dan naskah Putri Nurul ‘Ala, hikayat Banta Beuransyah dan Hikayat Malem Dewa. Selain itu, dldapati juga mata uang Kerajaan Peureulak dan sebuah al-Qur’an tulisan tangan.

Demiklan penulisan yang bersahaja ini. Semoga sejarah dalam bentuk apapun dapat lebih dikembangkan. Yang pal­ing utama adalam penyelamatan benda-benda bersejarah, pendataan yang berkelanjutan, pemugaran walaupun secara bertahap. Serta pembangunan kembali lokasi-lokasi bersejarah, yang disesuaikan dengan marketing yang telah disain oleh pemuka, tokoh dan ulama Aceh Timur beberapa waktu lalu.

 

(Sumber:  Serambi Indonesia, Sabtu, 3 Agustus 1991 hlm. 8 ).