Riwayat Unik Nama Kampung di Seputar Aceh

Riwayat Unik Nama Kampung di Seputar Daerah Aceh

 

Disusun kembali oleh : T. A. Sakti

 

Pengantar

. Penulisan ‘asal-usul’ nama desa ini merupakan ringkasan dari sejumlah paper mahasiswa semester V yang mengikuti mata kuliah sejarah Daerah Aceh yang saya asuh di FKIP  Unsyiah. Selama bertahun-tahun, paper-paper tugas para mahasiswa itu hanya saya simpan saja.  Tak pernah pula batin saya tergetar dan bergerak untiik mengolah kembali “pusaka terpendam ” itu,

Barulah setelah berlangsung “Seminar Napak Tilas Sultan Iskandar Muda” di Meureudu, Pidie, semangat menulis saya terpancing, Dalam seminar itu, asal-usul nama desa kedai Meureudu telah didiskusikan (Serambi Indonesia, 29Maret 1995 halaman 2).

Akibatnya, saya pun telah berusaha meringkas beberapa paper tersebut. Mudah-mudahan bermanfaat hendaknya.

 

ACEH UTARA

* Alue Leuhob

Desa Alue Leuhob merupakan sebuah desa di kawasan Transmigrasi Buket Hagu Cot Girek Aceh Utara. Desa ini termasuk dalam Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara. Sejak tahun 1984, desa Alue Leuhob sudah termasuk desa mandiri atau lepas dari pengelolaan Departemen Transmigrasi. Dengan demikian Alue Leuhob merupakan Desa ke -100 di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara.

Di saat orang pertama kali mendengar sebutan nama desa “Alue Leuhob”, mungkin saja yang dibayangkan “bau amis”, semberaut, tak terurus dan tak berprestasi apa-apa. Sebaliknya, di balik nama yang terkesan ‘kotor’ desa ini memiliki nilai lebih. Di antaranya, 4 kali juara Lomba Desa Teladan dan kebersihan di Kecamatan Lhoksukon  tahun 1989-1992. Di sampmg itu, sejak tahun 1990 dijadikan Induk dan Pusat Koperasi Transmigrasi dan Perkebunan Kelapa Sawit Wilayah Cot Girek. Prestasi yang lebih khusus di bidang pendidikan juga diraih, pernah mengharumkan nama desa Alue Leuhob. Salah seorang putra kelahiran desa ini, telah lulus ujian Sarjana dengan nilai “Cumlaude” atau tertinggi (baca : “Anak Transmigrasi yang Lulus Cumlaude” Majalah PANCA No. 25 Tahun V halaman 39).

Nama Alue Leuhob berasal dari dua kata, yaitu “Alue” dan “Leuhob”. Alue, artinya sungai kecil, sedangkan Leuhob berarti lumpur. Secara sederhana Alue Leuhob berarti “Sungai Kecil yang berlumpur”. Sebenarnya, letak rawa-rawa  yang berlumpur ± 2 km di sebelah barat sebelum sampai ke desa ini. Apa boleh buat, masyarakat telah terlanjur menamakannya Alue Leuhob. Padahal desa ini “amat bersih” dari jebakan lumpur.

 

aceh selatan

* Lama Inong

Pada zaman dulukala, Teuku Karim dari  desa Ujong Rimba, Pidie, bersama dua orang temannya berangkat merantau ke Aceh Barat. Pada mulanya mereka menetap di daerah Nagan (Jeuram) dan mulai membuka “seuneubok” lada, tempat bercocok tanam lada keumeukok (lada berekor).

Ketiga anak muda itu memiliki bakat pergaulan yang baik. Di siang hari mereka bekerja di kebun lada, sedang pada malam hari mengajar anak-anak mengaji Al-Qur’an dan mengajar Kitab-kitab kepada orang dewasa. Pengaruhnya semakin besar di kalangan rakyat daerah Seunagan

Melihat gelagat yang kurang menguntungkan dirinya, raja Jeuram mulai gelisah. Di carilah cara-cara agar ketiga anak muda itu mau pindah ke tempat lain. Akhirnya, raja berhasil membujuk mereka berangkat ke Aceh Selatan, karena di sanalah yang paling cocok untuk membuka Seuneubok lada. Setelah diberi perbekalan oleh raja, berangkatlah Teuku Karim bersama dua kawannya ke Aceh Selatan (yang waktu itu masih disebut Aceh Barat Leupah)

Ketika berada di Aceh Selatan, mereka menumpang tinggal di rumah seorang perempuan di suatu desa yang belum punya nama. Dengan diantar perempuan tua itu sebagai penunjuk jalan, barangkatlah mereka menjumpai raja Teuku Sarullah ke daerah “Kuala Batee”.

Kedatangan ketiga pemuda asal Pidie ini disambut baik oleh raja Teuku Sarullah. Kemudian, ketiganya menjadi tokoh-tokoh penggerak kemajuan rakyat di kerajaan “Kuala Batee”. Teuku Karim, Sesudah jadi tokoh masyarakat bergelar Teuku Syik Karim.

Peristiwa menumpangnya tiga pemuda perantau di rumah seorang perempuan tua itu, akhirnya menjadi “sejarah ” yang dikenang oleh rakyat kerajaan Kuala Batee. Sebabnya, ketiga anak muda tersebut telah mengukir “sejarah” yang indah bagi masyarakat di daerah itu. Mungkin untuk mengenang peristiwa itu, maka daerah tempat menginap/menumpang beberapa hari pemuda perantau itu, diberi nama “Lama lnong”, arti­nya perempuan lama  atau perempuan tua

Setelah kerajaan “Kuala Batee” runtuh, maka pusat kegiatan rakyat berpindah ke “Lama Inong”. Dalam ucapan sehari-hari, sebutan “Lama Inong” kadangkala terdengar terucap “Lamoi Inong”.

 

 

PEDIE

* Jeurat Manyang

Kampung Jeurat Manyang ber­ada di kemukiman Jeurat Manyang, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. Dalam bahasa Indonesia arti harfiah dari Jeurat Manyang, yaitu Kuburan Tinggi.

Pada zaman periode awal kedatangan agama Islam di Aceh, telah datang ke desa (yang sekarang bernama Jeurat Manyang) seorang ulama dari negeri Pasai (Kerajaan Samudra Pasai) dengan mengendarai seekor gajah. Menurut sumber cerita orang-orang tua, Ulama itu berasal dari suatu daerah bernama Jeurat Manyang (Rhang Manyang) di kerajaan Samudra Pasai, Aceh Utara. Masyarakat menyebut Ulama itu de­ngan gelar Teungku Jeurat Manyang.

Setelah tinggal menetap di di situ, Teungku Jeurat Manyang lalu mendirikan Dayah (Pesantren). Ketika segala rintangan dari penduduk setempat dapat diselesaikan dengan memuaskan, maka ke Dayah Jeurat Manyang banyak belajar para santri (Ureueng Meudagang) yang datang dari berbagai daerah.

Sewaktu Teungku Jeurat Manyang wafat, Dayahnya terus dikembangkan oleh murid-muridnya. Akhirnya untuk mengenang dan menghormati ulama ini, maka tempat daerah lokasi Dayah didirikan sekaligus tempat beliau dikuburkan dinamakan Kampung Jeurat Manyang. Jeurat Manyang, berarti di situ pernah berjasa Teungku Jeurat Manyang asal Pasai, Aceh Utara.

Pendapat lain mengatakan, bahwa asal mula nama Jeurat Manyang diambil dari tempat ulama itu dikebumikan. Kalau diperhatikan, letak kuburan itu memang pada tanah yang agak tinggi (bahasa Aceh : Manyang). Jeurat artinya: Kuburan. Jeurat Manyang makna harfiahnya “Kubur yang tinggi”.

 

 

 

 

ACEH BESAR

 

* Kandang Cut

Kampung Kandang Cut termasuk dalam Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Menurut cerita seorang sesepuh desa, bahwa pada zaman dahulu di desa ini berdiri sebuah kerajaan yang besar dan megah. Kerajaan itu memiliki sebuah benteng terletak di Cot Kuta. Setelah berdiri sekian lama, kerajaan itu pun runtuh.

Sesudah kerajaan lebur, maka yang tinggal hanya kuburan raja-raja dan keturunannya. Sebagai penghormatan kepada para raja yang dikebu­mikan di situ, kuburan inilah dinamakan “Kandang”. Mungkin karena ada “Kandang Rayeuk” besar di tempat lain, maka makam raja ini dinamakan “Kandang Cut” artinya “Perkuburan kecil”. Seterusnya, nama desa itupun digelar orang Kampung Kandang Cut; artinya Cut atau Pocut (orang bangsawan) dikuburkan.

Perlu penulis tambahkan, dalam buku-buku “Sejarah Aceh”, disebutkan bahwa perkuburan “Kandang Cut” adalah juga kuburan atau makam-makam dan para keturunan dari Kerajaan Aceh Darussalam. Jadi, bukan kuburan keturunan raja Kerajaan yang berdiri di desa itu sendiri, sebagaimana dijelaskan sesepuh desa “Kandang Cut” tersebut

ACEH BARAT

 

* Alue Peudeueng

Desa Alue Peudeueng terletak di Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat. Menurut kisah, dulu nama kampung ini adalah Kuntirek, yakni sebelum “Peristiwa Perang” terjadi. Wilayah ini diperintah oleh seorang pemimpin yang bergelar Datuk. Pemimpin pertama bernama Datuk Raja Bujang. Wilayah kekuasaannya sangat luas, mulai Alue Gantung (menuang Kinco, sekarang) sampai ke Pasi Megat.

Secara berurutan Datuk-datuk yang pernah memerintah di daerah ini sebagai berikut : Datuk Raja Bujang, Datuk Teungku Meuko Cumeh, Datuk Keucik Padang, Datuk Keucik Kuta Baro, Datuk Genta Ali, Datuk Gadong, Datuk Jali, Datuk Bali, Datuk Sampe, dan Datuk Kaoy yang merupakan pemimpin yang bergelar Datuk paling akhir.

Kemudian pemimpin pemerintahan gelarnya diganti dengan se­butan  Keuchik. Nama-nama Keuchik adalah: Keuchik Utoh Dollah, Keuchik Teubok, Keuchik Saman, Keuchik Asyem, kemudian kembali kepada Keuchik Teubok sampai tahun 1953. Sejak tahun 1954, pemimpin desa Alue Peudeueng berada di tangan Keuchik Zakaria Adami (sampai penulisan catatan ini tahun 1991) masih tetap di tangan beliau (±37 tahun).

Setelah terjadi pembagian wilayah pada masa berkuasa Datuk-datuk, maka desa itu dinamakan Alue Peudeueng. Berdasarkan arti kata; Alue = Alur atau aliran sungai kecil, sedangkan Peudeueng berarti Pedang atau senjata tajam. Jadi, Alue Peudeueng artmya : aliran sungai yang ada pedangnya. Menurut cerita, pada suatu peristiwa perebutan kekuasaan zaman dulu, jatuhlah ke sungai sebilah pedang dari  salah satu pihak. Karena air sungai sangat curam deras, maka pedang itu tak dapat diambil lagi.

 

(Sumber:  Rubrik “Jendela”, Majalah PANCA, Kanwil Transmigrasi Aceh, September – Oktober 1995 halaman  27 – 28).

 

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Riwayat Unik Nama Kampung di Seputar Aceh

  1. Assalamu’alaikum wr.wb

    Pue haba Teuku A Sakti
    nyo na lon baca tulisan teuku lon menarik that tapi galom lengkap karena gampong galom neutuleh,tulong neutuleh sejarah gampong 1.Alue awe,
    2.Blang crum
    3.Manyang,
    4.Mee
    5.Cot Girek ,
    6.Blang,
    7.Cut Mamplam
    8.Cut Baro (Non status)
    gampong-gampong tersebut dalam Kemukiman kandang,kecamatan muara dua kota lhokseumawe.
    terima kasih.
    M.yahya Alkadana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s