Riwayat Unik Nama Kampung di Seputar Aceh

Riwayat Unik Nama Kampung di Seputar Daerah Aceh

 

Disusun kembali oleh : T. A. Sakti

 

Pengantar

. Penulisan ‘asal-usul’ nama desa ini merupakan ringkasan dari sejumlah paper mahasiswa semester V yang mengikuti mata kuliah sejarah Daerah Aceh yang saya asuh di FKIP  Unsyiah. Selama bertahun-tahun, paper-paper tugas para mahasiswa itu hanya saya simpan saja.  Tak pernah pula batin saya tergetar dan bergerak untiik mengolah kembali “pusaka terpendam ” itu,

Barulah setelah berlangsung “Seminar Napak Tilas Sultan Iskandar Muda” di Meureudu, Pidie, semangat menulis saya terpancing, Dalam seminar itu, asal-usul nama desa kedai Meureudu telah didiskusikan (Serambi Indonesia, 29Maret 1995 halaman 2).

Akibatnya, saya pun telah berusaha meringkas beberapa paper tersebut. Mudah-mudahan bermanfaat hendaknya.

 

ACEH UTARA

* Alue Leuhob

Desa Alue Leuhob merupakan sebuah desa di kawasan Transmigrasi Buket Hagu Cot Girek Aceh Utara. Desa ini termasuk dalam Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara. Sejak tahun 1984, desa Alue Leuhob sudah termasuk desa mandiri atau lepas dari pengelolaan Departemen Transmigrasi. Dengan demikian Alue Leuhob merupakan Desa ke -100 di Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara.

Di saat orang pertama kali mendengar sebutan nama desa “Alue Leuhob”, mungkin saja yang dibayangkan “bau amis”, semberaut, tak terurus dan tak berprestasi apa-apa. Sebaliknya, di balik nama yang terkesan ‘kotor’ desa ini memiliki nilai lebih. Di antaranya, 4 kali juara Lomba Desa Teladan dan kebersihan di Kecamatan Lhoksukon  tahun 1989-1992. Di sampmg itu, sejak tahun 1990 dijadikan Induk dan Pusat Koperasi Transmigrasi dan Perkebunan Kelapa Sawit Wilayah Cot Girek. Prestasi yang lebih khusus di bidang pendidikan juga diraih, pernah mengharumkan nama desa Alue Leuhob. Salah seorang putra kelahiran desa ini, telah lulus ujian Sarjana dengan nilai “Cumlaude” atau tertinggi (baca : “Anak Transmigrasi yang Lulus Cumlaude” Majalah PANCA No. 25 Tahun V halaman 39).

Nama Alue Leuhob berasal dari dua kata, yaitu “Alue” dan “Leuhob”. Alue, artinya sungai kecil, sedangkan Leuhob berarti lumpur. Secara sederhana Alue Leuhob berarti “Sungai Kecil yang berlumpur”. Sebenarnya, letak rawa-rawa  yang berlumpur ± 2 km di sebelah barat sebelum sampai ke desa ini. Apa boleh buat, masyarakat telah terlanjur menamakannya Alue Leuhob. Padahal desa ini “amat bersih” dari jebakan lumpur.

 

aceh selatan

* Lama Inong

Pada zaman dulukala, Teuku Karim dari  desa Ujong Rimba, Pidie, bersama dua orang temannya berangkat merantau ke Aceh Barat. Pada mulanya mereka menetap di daerah Nagan (Jeuram) dan mulai membuka “seuneubok” lada, tempat bercocok tanam lada keumeukok (lada berekor).

Ketiga anak muda itu memiliki bakat pergaulan yang baik. Di siang hari mereka bekerja di kebun lada, sedang pada malam hari mengajar anak-anak mengaji Al-Qur’an dan mengajar Kitab-kitab kepada orang dewasa. Pengaruhnya semakin besar di kalangan rakyat daerah Seunagan

Melihat gelagat yang kurang menguntungkan dirinya, raja Jeuram mulai gelisah. Di carilah cara-cara agar ketiga anak muda itu mau pindah ke tempat lain. Akhirnya, raja berhasil membujuk mereka berangkat ke Aceh Selatan, karena di sanalah yang paling cocok untuk membuka Seuneubok lada. Setelah diberi perbekalan oleh raja, berangkatlah Teuku Karim bersama dua kawannya ke Aceh Selatan (yang waktu itu masih disebut Aceh Barat Leupah)

Ketika berada di Aceh Selatan, mereka menumpang tinggal di rumah seorang perempuan di suatu desa yang belum punya nama. Dengan diantar perempuan tua itu sebagai penunjuk jalan, barangkatlah mereka menjumpai raja Teuku Sarullah ke daerah “Kuala Batee”.

Kedatangan ketiga pemuda asal Pidie ini disambut baik oleh raja Teuku Sarullah. Kemudian, ketiganya menjadi tokoh-tokoh penggerak kemajuan rakyat di kerajaan “Kuala Batee”. Teuku Karim, Sesudah jadi tokoh masyarakat bergelar Teuku Syik Karim.

Peristiwa menumpangnya tiga pemuda perantau di rumah seorang perempuan tua itu, akhirnya menjadi “sejarah ” yang dikenang oleh rakyat kerajaan Kuala Batee. Sebabnya, ketiga anak muda tersebut telah mengukir “sejarah” yang indah bagi masyarakat di daerah itu. Mungkin untuk mengenang peristiwa itu, maka daerah tempat menginap/menumpang beberapa hari pemuda perantau itu, diberi nama “Lama lnong”, arti­nya perempuan lama  atau perempuan tua

Setelah kerajaan “Kuala Batee” runtuh, maka pusat kegiatan rakyat berpindah ke “Lama Inong”. Dalam ucapan sehari-hari, sebutan “Lama Inong” kadangkala terdengar terucap “Lamoi Inong”.

 

 

PEDIE

* Jeurat Manyang

Kampung Jeurat Manyang ber­ada di kemukiman Jeurat Manyang, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. Dalam bahasa Indonesia arti harfiah dari Jeurat Manyang, yaitu Kuburan Tinggi.

Pada zaman periode awal kedatangan agama Islam di Aceh, telah datang ke desa (yang sekarang bernama Jeurat Manyang) seorang ulama dari negeri Pasai (Kerajaan Samudra Pasai) dengan mengendarai seekor gajah. Menurut sumber cerita orang-orang tua, Ulama itu berasal dari suatu daerah bernama Jeurat Manyang (Rhang Manyang) di kerajaan Samudra Pasai, Aceh Utara. Masyarakat menyebut Ulama itu de­ngan gelar Teungku Jeurat Manyang.

Setelah tinggal menetap di di situ, Teungku Jeurat Manyang lalu mendirikan Dayah (Pesantren). Ketika segala rintangan dari penduduk setempat dapat diselesaikan dengan memuaskan, maka ke Dayah Jeurat Manyang banyak belajar para santri (Ureueng Meudagang) yang datang dari berbagai daerah.

Sewaktu Teungku Jeurat Manyang wafat, Dayahnya terus dikembangkan oleh murid-muridnya. Akhirnya untuk mengenang dan menghormati ulama ini, maka tempat daerah lokasi Dayah didirikan sekaligus tempat beliau dikuburkan dinamakan Kampung Jeurat Manyang. Jeurat Manyang, berarti di situ pernah berjasa Teungku Jeurat Manyang asal Pasai, Aceh Utara.

Pendapat lain mengatakan, bahwa asal mula nama Jeurat Manyang diambil dari tempat ulama itu dikebumikan. Kalau diperhatikan, letak kuburan itu memang pada tanah yang agak tinggi (bahasa Aceh : Manyang). Jeurat artinya: Kuburan. Jeurat Manyang makna harfiahnya “Kubur yang tinggi”.

 

 

 

 

ACEH BESAR

 

* Kandang Cut

Kampung Kandang Cut termasuk dalam Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar. Menurut cerita seorang sesepuh desa, bahwa pada zaman dahulu di desa ini berdiri sebuah kerajaan yang besar dan megah. Kerajaan itu memiliki sebuah benteng terletak di Cot Kuta. Setelah berdiri sekian lama, kerajaan itu pun runtuh.

Sesudah kerajaan lebur, maka yang tinggal hanya kuburan raja-raja dan keturunannya. Sebagai penghormatan kepada para raja yang dikebu­mikan di situ, kuburan inilah dinamakan “Kandang”. Mungkin karena ada “Kandang Rayeuk” besar di tempat lain, maka makam raja ini dinamakan “Kandang Cut” artinya “Perkuburan kecil”. Seterusnya, nama desa itupun digelar orang Kampung Kandang Cut; artinya Cut atau Pocut (orang bangsawan) dikuburkan.

Perlu penulis tambahkan, dalam buku-buku “Sejarah Aceh”, disebutkan bahwa perkuburan “Kandang Cut” adalah juga kuburan atau makam-makam dan para keturunan dari Kerajaan Aceh Darussalam. Jadi, bukan kuburan keturunan raja Kerajaan yang berdiri di desa itu sendiri, sebagaimana dijelaskan sesepuh desa “Kandang Cut” tersebut

ACEH BARAT

 

* Alue Peudeueng

Desa Alue Peudeueng terletak di Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat. Menurut kisah, dulu nama kampung ini adalah Kuntirek, yakni sebelum “Peristiwa Perang” terjadi. Wilayah ini diperintah oleh seorang pemimpin yang bergelar Datuk. Pemimpin pertama bernama Datuk Raja Bujang. Wilayah kekuasaannya sangat luas, mulai Alue Gantung (menuang Kinco, sekarang) sampai ke Pasi Megat.

Secara berurutan Datuk-datuk yang pernah memerintah di daerah ini sebagai berikut : Datuk Raja Bujang, Datuk Teungku Meuko Cumeh, Datuk Keucik Padang, Datuk Keucik Kuta Baro, Datuk Genta Ali, Datuk Gadong, Datuk Jali, Datuk Bali, Datuk Sampe, dan Datuk Kaoy yang merupakan pemimpin yang bergelar Datuk paling akhir.

Kemudian pemimpin pemerintahan gelarnya diganti dengan se­butan  Keuchik. Nama-nama Keuchik adalah: Keuchik Utoh Dollah, Keuchik Teubok, Keuchik Saman, Keuchik Asyem, kemudian kembali kepada Keuchik Teubok sampai tahun 1953. Sejak tahun 1954, pemimpin desa Alue Peudeueng berada di tangan Keuchik Zakaria Adami (sampai penulisan catatan ini tahun 1991) masih tetap di tangan beliau (±37 tahun).

Setelah terjadi pembagian wilayah pada masa berkuasa Datuk-datuk, maka desa itu dinamakan Alue Peudeueng. Berdasarkan arti kata; Alue = Alur atau aliran sungai kecil, sedangkan Peudeueng berarti Pedang atau senjata tajam. Jadi, Alue Peudeueng artmya : aliran sungai yang ada pedangnya. Menurut cerita, pada suatu peristiwa perebutan kekuasaan zaman dulu, jatuhlah ke sungai sebilah pedang dari  salah satu pihak. Karena air sungai sangat curam deras, maka pedang itu tak dapat diambil lagi.

 

(Sumber:  Rubrik “Jendela”, Majalah PANCA, Kanwil Transmigrasi Aceh, September – Oktober 1995 halaman  27 – 28).

 

 

 

Iklan

Snouck Hurgronje alias Abdoel Ghaffar

 

Dr.P.S. van Koningsveld melacak kehidupan

Snouck Hurgronje alias Abdoel Ghaffar

 

           Dr Christian Snouck Hurgron­je terdidik sebagai sarjana Islamologi, namun bagian terpenting riwayat hidup dan karyanya dalam masa itu lebih penting sebagai negarawan jajahan (colonial sta­tesman) yang mengabdi kepentingan politik Belanda pada zamannya.

Hal ini dikemukakan Dr P.S. van Koningsveld dalam wawancaranya kepada Kompas akhir pekan ini. la adalah “seorang sar­jana ahli Arab (Arabist) lulusan Vrij Universiteit di Amsterdam, negeri Belanda, yang kini sedang menyiapkan suatu biografi lengkap Hurgronje. Sebagai staf ahli pada Universitas Leiden, dia bertugas di bagian arsip dan dokumen Arab dan Islam. Di situ dia menemukan sejumlah besar dokumen sejarah yang berkaitan dengan Snouck, yang belum pernah digunakan sebagai sumber penulisan dan penelitian sejarah, bahkan ada yang baru belakangan ini saja diketahui adanya.

         Berdasarkan penelitiannya, van Koningsveld memastikan bahwa Snouck secara sadar beralih agama di Jeddah dan berperilaku lahiriah sebagai Muslim di Mekkah maupun Indonesia, untuk tujuan politik belaka.

Snouck Hurgronje lahir di Oosterhout pada 8 Februari 1857 dan meninggal di Leiden pada 26 Juni 1936. la belajar teologi Kristen pada Universitas Leiden. Pada tingkat kandidat, dia mempelajari bahasa Hibrani dan Semit, agar bisa membaca naskah Perjanjian Lama. Salah satu bahasa utama Semit adalah bahasa Arab. Dan gurunya bahasa Arab adalah seorang Arabist terkemuka saat itu, Prof Dr De Goeje. Pada tahap inilah Snouck tumbuh dan berkembang perhatiannya kepada Islamologi, dan meninggalkan teo­logi.

        Pada 1880, Snouck mengakhiri pendidikannya dengan mempertahankan disertasi doktornya Het Mekkaansche Feest” yang membahas tentang ibadah haji. Disitu Snouck menganalisa kapan, mengapa dan bagaimana berhaji dijadikan ibadah Islam.

Dalam hubungan ini, van Ko­ningsveld mengemukakan bahwa Snouck menilai Al-Qur’an bukan sebagai wahyu Tuhan, tetapi lebih sebagai “karya tertulis” Nabi Mu­hammad SAW yang mengandung gagasan-gagasannya tentang agama. “Menurut penilaian saya. disertasi Snouck itu merupakan karya ilmiahnya yang terbaik, karena di situ dia bersikap sebagai ilmuwan,” ujar Koningsveld.

        Van Koningsveld menambahkan keterangan tentang situasi budaya di negeri Belanda saat itu, yang amat berpengaruh terhadap sikap dan pandangan hidup Snouck kelak. Snouck berasal dari keluarga pendeta Protestan (domine) terkemuka yang konvensional dan semi ortodoks. Tetapi lingkungan dia belajar (Leiden) adalah liberal untuk zaman itu. Dan pada periode itu, ilmu perbandingan agama perbandingan seja­rah agama, amat dipengaruhi oleh teori evolusi dari Charles Darwin. Pengaruh itu melahirkan suatu teori kebudayaan, bahwa budaya Eropa dan agama Kristen merupa­kan titik puncak proses perkembangan kebudayaan. Karena itu, agama Islam dianggap sebagai suatu bentuk “degenerasi” kebu­dayaan yang oleh kalangan Kris­ten di situ dianggap sebagai hukuman Tuhan YME atas segala dosa kaum Nasrani. Pendeknya, agama dan budaya Eropa lebih unggul dari pada agama dan budaya Timur (Oriental).

          Teori atau konsep kebudayaan tersebut di atas amat mempengaruhi pandangan dan sikap Snouck selanjutnya, demikian van Koningsveld. . Pada tahun 1876, semasa Souck masih mahasiswa di Leiden pernah menyatakan “Kita harus membantu bangsa pribumi (maksudnya penduduk negara jajahan) untuk beremansipasi dari Islam”. Sejak itu, memang Snouck tidak pernah beranjak jauh dari sikap demikian. Dr Snouck kemudian mengajar pada “Leiden & Delf Akademie”, tempat semua calon pejabat pemerintah kolonial Belanda dilatih sebelum berdinas di Hindia Belan­da. Snouck sendiri belum pernah ke Hindia, namun di situlah dia mulai terlibat dengan urusan kolo­nial Hindia Belanda di mana Perang Aceh sudah mulai berkobar.

 

Abdoel Ghaffar

      Pada tahun 1880-an, di Belanda terjadi perdebatan tentang adanya banyak orang Indonesia yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Isyu berhaji (pilgrimage) menjadi bahan perdebatan sengit di parlemen dan kalangan politik Belan­da. Ada fihak yang kontra dengan alasan politik (“para jemaah Indo­nesia di Mekkah diindoktrinasi anti Belanda”), ekonomis (“ber­haji menghamburkan banyak uang karena biayanya mahal, jadi mengancam ekonomi Hindia”) dan kesehatan (“jemaah bisa ditulari penyakit yang akan meluas di Hindia kelak”). yang pro, menyatakan berhaji adalah ibadah agama, jadi harus dibiarkan,

Untuk memecahkan soal itu, Konsul Jenderal Belanda di Jeddah datang ke Den Haag, untuk berkonsultasi. “Dengan sendirinya Snouck yang telah membuat disertasi tentang berhaji dan mengajar di akademi, menjadi orang yang mempunyai peranan dalam usaha menyelesaikan isyu ini,” ujar van Koningsveld.

       Ketika itu, demikian Konings­veld, Kementerian Luar Negeri Belanda menyatakan soal berhaji bukan urusannya dan menunjuk Kementerian Urusan Jajahan. Menteri Urusan Jajahan, karena suatu sebab, enggan menugaskan Snouck secara resmi sebagai pembantu Konjen Belanda di Jeddah untuk meneliti segala aspek ber­haji yang diperdebatkan. Apa lagi Snouck tidak bisa berbahasa Melayu untuk bergaul dengan para jemaah dari Hindia. Tetapi akhirnya Snouck mendapat subsidi sebesar 2000 gulden yang amat besar untuk saat itu, melalui suatu subseksi Kementerian Urusan Jajahan, untuk melakukan missi mencari fakta ke Jeddah. “Jadi Sneuck pada 1884 berangkat seba­gai sarjana. Akademi, dengan tugas dan biaya dari Kementerian Urusan Jajahan,” kata van Ko-ningsveld.

Ketika tinggal di Jeddah, Snouck berkenalan dengan dua orang Indonesia yang kemudian menjadi amat penting baginya.

(Bersambung ke hal. XII koL 1-5)

Yaitu Raden Aboe Bakar Djajadiningrat dan Haji Hasan Moestafa, kedua berasal dari Priangan. Snouck belajar bahasa Melayu dari Aboe Bakar, dan giat bergaul dengan para jamaah dari Hindia untuk mencari keterangan yang diperlukannya. Semua kegiatan Snouck selama tinggal di Arab Saudi ini dicatat dalam buku harian  yang teliti sampai kini masih tersimpan di arsip perpustakaan Universitas Laiden.
Dari buku harian itu menurut van Koningsveld, banyak ulama di Jeddah menganjurkan Snouck untuk beralih agama menjadi Muslim. Apalagi  Snouck memang sudah banyak pengetahuannya tentang Islam. Dan ini memang  dilakukan oleh Snouck, setelah ia tinggal di rumah Aboe Bakar di Jeddah pada 4 Januari 1885.
Peralihan agama ini pasti, karena enam bulan sesudah itu ada sepucuk surat berbahasa Arab, dari seorang penduduk Mekkah yang ditunjukan kepada Snouck dengan nama Abdoel Ghaffar. Salah satu (isi)  surat itu, menurut penuturan van Koningsveld berbunyi:
“…  Karena anda telah beralih agama di depan khalayak ramai,maka juga para ulama di Mekkah dengan ini mengukuhkan keabsahan peralihan agama anda ke Islam”.
“Tetapi walaupun Snouck telah melakukan upacara peralihan agama,tidaklah berarti dia itu muslim sejati,” kata van Koningsveld,  “Ini pernyataan saya, dan saya bias membuktikannya berdasarkan dokumen yang ada !’’.
Kemudian Snouck alias Abdoel Ghaffar, tinggal selama enam bulan di Mekkah. Di situ dia diterima dengan kehormatan oleh ulama tertinggi di Mekkah, yaitu Wali Hejaz. Tahun 1885, Snouck kembali ke negerinya.

Karya Aboe Bakar
         Tiga tahun setelah itu, Snouck menerbitkan dua jilid bukunya “Mekka”. Karya  ini menjadikannya tersohor  ke seluruh dunia, dalam sekejap mata. Jilid pertama tentang sejarah Mekkah, dalam mana dia mengutip sumber sejarah. Jilid kedua, jauh lebih penting dan amat berguna bagi politik kolonial pemerintah Belanda terhadap Hindia.
Jilid kedua berisi uraian tentang pelbagai segi kehidupan masyarakat dan keluarga di Mekkah. Terutama tentang peri kehidupan dan pandangan kaum “el Djawa” yaitu masyarakat Indonesia yang bermukim di Mekkah. Bahkan Snouck menguraikan kehidupan seks dalam keluarga di situ dan pelbagai segi pribadi kehidupan masyarakat, seperti pendidikan agama, khitanan, upacara perkawinan,penguburan dan lain sebagainya.
Banyak kelangan ilmuwan yang mengagumi Snouck yang telah menjalankan metode pengamatan dan penelitian  “modern” yaitu dengan motode partisipasi.
Tetapi van konongsveld berpendapat lain. “Jilid kedua itu terbukti didasarkan pada laporan tertulis berupa surat-surat dari Aboe Bakar di Jeddah kepada Snouck,” ujarnya.  ‘Korespondensi ini berjalan terus setelah Snouck pulang melalui Konjen Belanda. Bahkan ada bagian-bagian dari buku Snouck itu, yang merupakan terjemahan kata demi kata dari surat Aboe Bakar !”. Memang Aboe Bakar ketika itu dijadikan asisten Konjen Belanda atas rekomendasi Snouck.
Bukan itu saja. Bahkan atas permintaa Snouck, Aboe Bakar membuat sebuah buku catatan  berisi biografi ulama Indoneisa yang berada di Mekkah ketika itu. Buku (cahier) ini berjudul “Risalah Tarjamah Ulama Djawa”, antara lain memuat biografi Al-Nawawi Banten. Adanya risalah ini diketahui sekarang dan ditemukan oleh van Koningsveld. “Ini dan semua surat-surat tadi sepatutnya  diterbitkan atas nama Aboe Bakar Djajadiningrat karena Snocuk tidak menggunakan seluruhnya.”, katanya.
Selama di Jeddah dah Mekkah, Snouck memang berhasil mendapatkan informasi yang mempunyai nilai politis bagi Belanda. Terutama pandangan terhadap Belanda. Keterangan ini diperoleh dengan mudah, karena masyarakat Indonesia sudah menganggap Snouck alias Abdoel Ghafar sebagai “Akhu-fiddin” ( saudara seagama) mereka. Ketika di situ pula Snouck membina perkenalan dan hubungan dengan orang-orang  Aceh.

                                                                                                                  Tugas ke Aceh
Awal pemahaman Snocuk tentang Aceh terjadi di Mekkah, terutama setelah ia berkenalan dengan seorang bernama  Habib Abdoerrahman Az-Zahir. Ulama ini adalah bekas penasehat utama Sultan Aceh ketika itu. Tetapi integritasnya dan peranannya  diragukan, karena  dia juga  menjadi perantara  dalam hubungan antara Sultan Aceh  dengan fihak Belanda. Dia akhirnya dilepas oleh Sultan Aceh, tetapi pemerintah Belanda memberinya pensiun untuk hidup di  Mekkah.
Setelah  “Mekkah”  terbit, Snouck ditawari jabatan maha guru Melayu di Universitas Laiden. Tetapi ini ditolaknya karena merasa belum cukup pengetahuannya, sedang untuk bidang Islamologi masih tetap diduduki gurunya, de Goeje. Snouck memilih mengajar di akademi  dan sebuah pendidikan penginjilan Kristen untuk Hindia.
Namun Snouck lalu membuat langkah yang amat penting dalam hidupnya. Dia menawarkan untuk menuju ke Aceh, di mana Belanda sudah terlibat perang yang luas di situ Apalagi dia masih berkorespondensi dengan beberapa  ulama Aceh yang dikenalnya di Mekkah.
“Snouck mengusulkan, dia akan pergi ke Aceh diam-diam dengan tujuan melakukan penetrasi ke istana Sultan di Kumala, suatu tempat dimana sultan itu menyingkir dari serbuan Belanda,” tutur van Koningsveld,    “Snouck akan mengusahakan suatu persetujuan antara Belanda dan Sultan Aceh.”
Kementrian Urusan Jajahan  setuju,dan Snouck berangkat secara rahasia. Tetapi sesampai di Peang, dia dicegat Konsul Belanda dan diperintah melapor kepada Gebernur Jendral Hindia. Ternyata fihak militer Belanda di Aceh tidak setuju dengan rencana Snouck.
                                                                                                                    Perang Aceh
         Snouck mendarat di Batavia tahun 1889. Gebernur Jenrdal C. Pijnacker Hordijk segera menunjuk beberapa orang menjadi asisten Snouck.
Salah seorang pembantu yang pertama adalah Sayyid Osman ibn Jahja ibn Aqil al-Alawi. Dia ulama keturunan Arab Hadramaut,  dan pembantu penasehat pemerintah masalah Islam yang terdahulu
Mr. L.W.C van den Bergh. Selain itu, Snouck juga dibantu kenalan lama di Mekkah, Haji Hasan Moestafa, yang dijadikannya penasehat utama untuk wilayah Jawa Barat.
Melalui perbinCangan di Batavia dan korespondensi dengan  Den Haag, Snouck mendapat jabatan resmi dan tetap sebagai  “Officieel  Adviseur voor Oostersche Talenen Mohammedaans Rechts” (Penasehat Resmi Bahasa Timur dan Hukum Islam). Bahkan sesudah pulang kembali ke Laiden 1906, dia tetap menjabat kedudukan itu dengan nama “Adviseur voor Inlandsche Zaken” yang berhubungan langsung dengan kabinet Belanda.
Tugas penting pertama Snouck adalah mendalami cara menyelesaikan atau lebih tepat menumpas Perang Aceh. Setelah peninjauan lapangan selama hanya delapan bulan saja, dan dibantu banyak keterangan tertulis jaringan pembantunya.
                                                                                                                                                 Ulee Lheue   
       Pada 1903, Snouck ditugaskan ke Aceh untuk menyelesaikan Perang Aceh bagi Belanda, karena politik pemerintah gagal total. Snouck berangkat ke Ulee Lheue yang menjadi kubu meliter Belanda. Di situ dia mendapat bantuan berharga dari Tengku Nurdin yang juga abang kepala Penghulu Ulee Lheue bernama A’koeb. Kemudian Snouck menbuat laporan tebal “Atjeh Verslag” yang menjadi dasar kebijakan politik dan militer Belanda menghadapi persoalan Aceh.
Bagian pertama laporan itu, berupa uraian antro[ologis Aceh, pengaruh Islam, peranan ulama dan uleebalang. Dalam bagian ini, Snouck mengemukakan bahwa Perang Aceh dikobarkan oleh para ulama, sedang para uleebalang bisa menjadi calon sekutu Belanda karena kepentingannya adalah berniaga. “Islam harus dinilai  sebagai faktor yang sangat negatif, karena membangkitkan fanatisme anti-Belanda di kalangan rakyat. Setelah para pemuka agama ditumpas, maka Islam akan menjadi tipis (superficial) di Aceh, sehingga para uleebalang bisa dengan mudah menguasai situasi,” demikian pendapat Snouck menurut penuturan van Koningsveld.
Bagian kedua berisi saran tindakan dan strategi militer Snouck menyarankan operasi militer. Snouck menyarankan operasi militer kepedalaman menumpas habis gerilya dan kekuatan ulama, dan setekah itu baru bisa  ada peluang membina hubungan kerja sama dengan uleebalang.
Menurut van Koningsveld, tidak sepenuhnya analisa  Snouck benar. Karena dari daftar pemimpin Gerilya Aceh yang dibuat Snouck ketika itu, banyak terdapat nama uleebalang. Tetapi saran Snouck  sepenuhnya dijalankan pemerintah Batavia.

                                                                                                                 Jaringan dan kepercayan
Van Koningsveld menegaskan, bahwa Snouck selalu dikelilingi suatu jaringan pembantu atau pemberi keterangan yang terdiri dari orang Indonesia. “ Cara kerja Snouck di Hindia persis sama dengan ketika dia berada Arab Saudi: mengadakan kontak dan mendapatkan informasi lengkap tertulis. Kontak terutama dengan ulama terkemuka, dan juga dengan tokoh priyayi.
Para ulama ini membantunya dengan sukarela dan dengan keyakinan Snouck itu Muslim. Kecuali beberapa, seperti Sayyid Osman yang memang digaji 100 gulden sebulan oleh pemerintah.
Van Koningsveld menemukan sejumlah surat dari banyak ulama di Jawa kepada Snouck yang disebutnya antara lain sebagai “al sheikh al-allama maulana abdoel ghaffar moefti ad-dhiyar al djawiya” yang artinya “tuan Abdoel Ghaffar sarjana amat terpelajar pemimpin agama tertinggi di Jawa.”
        Lebih istimewa lagi, Sheikh Maulana Abdoel Ghaffar itu pada bulan Januari 1890, menikah dengan puteri seorang penghulu Ciamis. Dari perwakinan ini lahir empat anak, dau perempuan dan dua lelaki. Yaitu Salmah Emah, Oemar, Aminah dan Ibrahim.
Dan dekat dengan akhir abad ke-19, Abdoel Ghaffar Snouck Hurgronje menikah lagi dengan Sitti Sadiyah – puteri ulama paling terkemuka di Bandung ketika itu yaitu Kalipah Apo! Pernikahan ini melahirkan seorang putra tunggal – R. Joesoef yang sampai sekarang masih hidup dikelilingi  anak cucunya.
Snouck dalam suatu korespondensi dengan Theodor Nuldeke, orientalist terkemua Jerman yang juga gurunya di sebuah universitas Strassbourgh, mengaku terus terang bahwa perilakunya sebagai muslimin adalah untuk menembus masyarakat Islam dan mendapat keterangan.   “…  saya melakukan idharu-Islam (artinya berperilaku lahiriyah sebagai Islam Red), karena hanya dengan begitu saya bisa  diterima dikalangan primitif, seperti di Indonesia,” begitu van Koningsveld mengutip surat Snouck kepada Nuldeke,” Dan dengan berbuat begitu, siapa pula yang dirugikan?  Barangkali hanya saya sendiri saja….”  “’Tentu saja Snouck tidak menceritakan tentang perkawinannya di Ciamis dan Bandung, atau tentang Aboe Bakar Djajadiningrat dan banyak ulama lain yang mempercayai dirinya,” komentar van Koningsveld, “Snouck telah berdusta, bahwa tidak ada yang dirugikannya. Ini salah satu kecaman saya kepadanya.”
van Koningsveld juga menemukan surat lain Snouck, yang menyatakan bahwa dia juga seorang agnostik  (selalu meragukan adanya Tuhan). Ini ternyata dari surat Snouck kepada teolog Protestan terkenal pada zamannya Herman Barvinck yang rekan sekuliah di Universitas Laiden.
        “… anda memang seorang yang yakin kepada Tuhan. Sedang seorang yang skeptic terhadap segala hal…” tulis Snouck.

Negarawan Kolonial
“Karyanya terpenting Snouck yang ada hubungannya dengan sejarah Indonesia adalah saran-sarannya kepada Pemerintah Belanda mengenai kebijakan tentang Islam di Hindia,” komentar van Koningsveld kepada Kompas, “jangan lupa, Snouck jadi adviseur sampai akhir hayatnya pada 1936, dan sarannya dijalankan pemerintah Belanda sampai tahun 1940-an. Jadi setengah abad!”. Sebagai ilmuwan, Snouck jarang dikutip dalam perbincangan ilmiah sekarang. Sebagai insan politik ia lebih menonjol.
“Snouck bagi Belanda adalah perwujudan pembenaran intelektual kehadiran Belanda di Hindia Belanda sebagai bagian dari sistem kolonial. Dan Snouck mempunyai kebijakan politik yang diyakininya baik bagi penduduk Hindia, karena bangsa ini dibantu meningkatkan diri ketaraf Eropa,” kata van Koningsveld.
“Tugas kita adalah menunjukkan kepada bangsa Hindia, bagaimana Belanda yang negara kecil menjadi bangsa dan negara besar.  Itulah suatu tugas memperadabkan (mission civiiatrice) bangsa,” kata Snouck dalam pidato ilmiah menerima jabatan mahaguru Islamologi Universitas Laiden.
Van Koningsveld menyatakan sebagi ilmuwan Snouck meluntur.”Tetapi politikus, sebagai negarawan kolonial dia tetap serius. Paling dulu dia adalah orang Belanda, dan mengabdi kepentingan Belanda selamanya,”  demikian van Koningsveld menutup wawancaranya.  (rh/bd)

 

(Sumber: Kompas Minggu, 16 Januari 1983 hlm 1 dan 12).

Makna Penyerahan Diri Ketua “Partai” Keumala

 

Makna Penyerahan Diri Ketua “Partai” Keumala

Oleh: Otto Syamsuddin Ishak

 

           Januari, kiranya merupakan bulan yang bersejarah bagi masyarakat Aceh, bila dikaitkan dengan tahum 1903.  Pada 20 Januari, menurut Van Koningsveld, adalah saat Sultan Aceh yang terakhir “menyerahkan” diri kepada pihak kolonial. Namun, sebenarnya secara de facto pada 6  Januari Sultan telah meniatkan untuk berserah diri. Baru pada 15 Januari, sebagai­mana yang ditulis oleh Muham­mad Said, Sultan secara dejure menyerahkan diri dengan menanda-tangani perjanjian.

              Banyak penulis sejarah, seperti diungkapkan Mohammad Said, memandang peristiwa itu tidak begitu penting. Artinya, tidak mempengaruhi dinamika pergerakan di Aceh pada umumnya. Karena, Sultan tidak memiliki kekuasaan absolut serta sebelum penyerahan diri itu kekuasaan diambil alih para ulama dan pejuang.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, penyerahan diri itu ada­lah sangat berarti penting bagi semua pihak, baik dari sudut kepentingan perang maupun dari sudut struktur sosial dan budaya keacehan di masa kini.

          Bagi kepentingan perang, peta konflik antara penguasa kolonial dan pihak Aceh menja­di berubah. Karena  masyara­kat Aceh bukanlah masyarakat yang padu. Pihak Aceh terdiri atas tiga “partai” pergerakan, yakni Partai Keumala (partai Sultan); Partai Uleebalang (par­tai orang kuat-lokal/sultan kecil) dan partai ulama yang populis (kerakyatan). Jadi, kolusi antara pihak Kolonial dengan Pakeh Dalam, dan kemudian menyerahnya partai Keu­mala yang termasuk di dalamnya uleebalang Keumangan, berarti Belanda dapat memusatkan kekuatannya untuk menggempur partai Tiro. Hal ini bagi Aceh sendiri, merupakan perjuangan yang sepenuhnya atas dasar etika keagamaan fisabilillah. Dan, ternyata Partai Tiro hanya salah satu dari sejumlah partai ulama dan partai uleebalang, seperti Cut Nyak Dhien yang dipertalikan dengan etika keagamaan.

           Pertanyaan yang penting dalam konteks ini adalah, bagaimanakah Partai Keumala itu terbentuk? Mengapa Sultan tidak menyingkir ke balik Geurutee, melainkan ke balik Seulawah? Lalu, mengapa Sultan membangun basis di Keumala, bukannya di Tiro?

Awal ekspansi kesultanan Aceh sering dikatakan sebagai upaya pengislaman Barat adalah ke balik Geureutee. Ali Mughayat Syah, Sultan “kedua” yang naik tahta setelah mengkudeta ayahnya  Munawar Syah, pernah menikahi adik raja Daya yang ditaklukkannya. Meskipun ia mangkat karena diracun oleh istrinya itu, Siti Hawa, toh kesultanan telah menjalin “silaturrahmi” dengan keluarga raja di balik Geurutee.      Namun, sanad silsilah kesultanan Aceh, sebenar­nya terputus-putus dan tidak konsisten menurut sistem patriarkhat, baik karena suksesi internal dalam keluarga kesultanan maupun suksesi yang dilakukan oleh para elite.

Itulah mengapa sejarah ke­sultanan itu cenderung ditarik ke balik Seulawah. Iskandar Muda misalnya,  Proses naik tahtanya tak dapat dilepaskan dari peran raja di balik Seula­wah.  Jauhar Alam (1819-1824)  yang naik tahta dengan mengkudeta Syaiful itu mendapat bantuan dari Raja Pedir, Tuanku Pakeh. Juga berkolusi de­ngan Tuanku            Bintara Keuma­ngan yang mendukung Partai Keumala setelah ia berseteru dengan Pakeh Dalam.

            Ayahnya Tuanku Muhammad Dawod Syah, Tuanku Mahmud yang meninggal karena kolera Belanda, naik tahta dari hasil permufakatan elite karena Tuanku Ibrahim tak memiliki ahli waris. Pada masa ini, apa dan siapa yang menjadi sultan memang sangat ditentukan oleh faksi Habib Abdurrahman (Mangkabumi), faksi Panglima Tibang (Syhibandar) dan faksi Panglima Ba’et yang berkolusi dengan Panglima Sagi XXII Mukim.

           Jadi, kesultanan Aceh memi­liki “jalinan” yang lebih erat dengan Pedir daripada dengan Daya. Apalagi, Keumangan ternyata memiliki hubungan yang lebih khusus lagi, sehingga Sultan terakhir itu cende­rung menyingkir ke Pidie dan membangun basis di Keumala. Di sana terhimpun sejumlah sisa kekuatan kesultanan yang terdiri dari Tuanku Hasyim dan Tuanku Raja Keumala. Pangli­ma Polem, dan Teuku Raja Kuala, Teuku Paya dan Teuku Asan, Imam Leungbata dan Teuku Usen, Teuku Bintara Cumbok, Habib Husen dan uleebalang sagi lainnya. Sementara faksi elite lainnya yang mengangkat Tuanku Mahmud, yakni faksi Habib pergi ke luar negeri dan menjalin hubungan dengan pihak Belanda, khususnya dengan Snouck Hurgronje sedangkan Panglima Ti­bang berkolusi dengan pihak kolonial di Aceh.

            Apa yang disebut sebagai “partai” Keumala, adalah kumpulan para elite, baik yang berasal dari Aceh. maupun yang memang bermukim di Pidie, dan Sultan sebagai ketuanya dengan anggota teras para elite yang berpisah dari kedua “partai” lainnya. Keterpisahan dengan partai raja lokal karena surut, serta raja-raja kecil selalu menyimpan hasrat untuk menjadi mandiri.

             Hal yang terakhir inilah yang mendorong konflik antar raja kecil, seperti antara raja Keumangan dan Pidie yang berkolusi dengan pihak kolonial. Sedang­kan keterpisahan dengan partai Tiro adalah, karena perbedaan dalam hal etika yang melandasi spirit juang. Fondasi partai Tiro, sebagaimana gerakan ulama independen lainnya, adalah etika fi sabilillah. Sementara, etika yang melandasi perjuangan Partai Keumala adalah etika kekuasaan.

            Kuatnya dominasi etika kekuasan dalam diri Partai Keumala berakar jauh ke seja­rah kesultanan Aceh. Realitas yang merefleksikan etika kekuatan adalah, pertama, konflik internal para elite yang terus berkelanjutan sejak awal berdirinya hingga berakhirnya kesultanan. Bila kita sarikan lebih lanjut adalah konflik dalam keluarga inti kesultanan, dan dalam perkembangan selanjutnya melibatkan elite sekitarnya, seperti elite agama,  istana, dan kepala Sagi.

            Kedua, sepanjang sejarah umat. manusia hampir dapat dikatakan muskil bahwa etika kekuasaan dapat memotivasi individu untuk menjadi martir. Hanya etika keagamaan yang mampu melahirkan spirit martir. Karena itu, sepanjang seja­rah kesultanan muskil terdapat sultan yang mangkat sebagai syuhada. Sultan Muhammad Dawod Syah menyerah kepada kolonial. Rasionalisasinya sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Said  adalah karena disanderanya kedua istri Sultan, yakni Pocut Putroe dan Pocut Murong.

           Kemudian Panglima Polem pun secara de facto menyerah kepada pihak kolonial pada 21 September 1903, berikut elite partai Keumala lainnya. Atas dasar realitas sejarah demikianlah, maka para ulama selalu mengimbau agar para raja dan uleebalang melakukan tindakan fi sabilillah terhadap kolonial.

Masa kolonial telah menjadi penguji sejauhmana daya tahan etika kekuasaan dan etika keagamaan yang tercermin pada tindakan masing-masing penganutnya, seperti Panglima Polem; dan syahidnya sebagaian besar ulama-ulama Aceh yang terbaik, uleebalang yang saleh dan rakyat yang fanatik. Penyerahan diri itu, pertama, menunjukkan berakhirnya daya tahan etika kekuasaan, yang sekaligus berakhirnya

sistem   kesultanan   di   Aceh. Dan,   tidak  padamnya  protes sosial   hingga  masa Republik  menunjukkan daya talian dari etika keagamaan. Apalagi dalam perspektif etika keagamaan, spirit kejuangan tidak per­nah berakhir karena mengikuti garis kontinum dari jihad besar ke yang lebih besar lagi.

              Ketiga, tentunya, kita pun tidak dapat menyimpulkan bahwa perjuangan partai ulama merupakan  bagian atau kelanjutan dari perjuangan Partai Keumala karena landasan etikanya yang berbeda. Hanya waktu dan ruangnya yang sama, yakni Aceh dan masa kolonial. Masing-masing etika memiliki garis kontinumnya sendiri.

              Akhirnya, penyerahan diri Sultan itu merupakan akhir dari struktur sosial feodal-represif yang menimpakan kendala bagi perkembangan masyara­kat Aceh yang egalitarian agamis. Jad, kesimpulan para ilmuwan sosial, seperti Clive Kessler, bahwa revolusi sosial Cumbok, kiranya lebih tepat disebut sebagai penegasan kembali sistem sosial egalitari­an agamis keacehan yang muncul dan semakin mandiri sejak 40-an tahun sebelumnya, yakni bertepatan dengan berakhirnya tatanan sosial yang berdasarkan pada etika kekuasaan  dalam bulan Januari Bukankah, partai bagian dari garis elika kekuasaan dan, . sebagai partai dari gannum etika keagamaan

(Sumber: Harian Serambi Indonesia, 25 Januari 1994 hlm. 4/Opin).

Ditemukan lagi, Suku Mante di Daerah Pedalaman Aceh

Ditemukan lagi, Suku Mante di Daerah Pedalaman Aceh

 

 Banda Aceh, Kompas

 Mante, kelompok masyarakat, yang berkelana di hutan-hutan pegunungan Aceh Tenggara dan Aceh Tengah, kini ditemukan kembali. Warga masyarakat suku terasing yang selama ini sangat terkenal dalam kisah-kisah lama Aceh serta kebudayaan tutur setempat, nampaknya masih bertahan di kawasan hutan belukar sampai sekarang. Dengan demikian, suku bangsa Proto Melayu yang sudah menghuni wilayah Indonesia sebelum kedatangan suku-suku Melayu masyarakat kita sekarang ini, sisa-sisanya bertahan melewati pasangsurut zaman di hutan-hutan Aceh.

         “Semula saya masih agak ragu, apa mereka benar-benar orang Mante…’,, kata Gusnar Effendy (72), seorang pawang hutan. la menambahkan; “…maka, saya tak berani mengungkapkannya.”  Te­tapi setelah ia beberapa kali berjumpa dengan  rombongan suku tersebut, ia semakin yakin bahwa keberadaan suku yang pernah “hilang” ini benar-benar bukan khayalan.

“Jika  betul ditemukan keber­adaan masyarakat Mante, itu sebuah berita besar. Semua pihak harus ikut turun tangan,” kata Prof  Dr Ibrahim Alfian, sejarawan, penulis buku “Perang di Jalan Allah” yang kini menjabat Dekan Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

 

Nama panggilan

          Istilah Mante dikenalkan secara luas oleh Dr Snouck Hurgronje dalam karya terkenalnya De Atjehers. Mengutip keterangan yang diperolehnya dari para informannya, ia melukiskan orang Mante orang Mantran tinggal di wilayah perbukitan Mukim XXII. Malahan konon, pada pertengahan-abad XVII, ada sepasang Mante laki-perempuan ditangkap dan dipersembahkan kepada Sultan Aceh. “Mereka tak mau berbicara, tak mau makan-minum yang disodorkan, hingga akhirnya mati…,” begitu Snouck Hurgronje memberikan ilustrasi.

Tetapi lewat buku yang sama ia juga menyatakan, panggilan mante akhirnya juga diberlakukan untuk menyebut mereka yang bertingkah kebodoh-bodohan dan berlaku kekanak-kanakan. Hur­gronje sendiri memang mengaku belum pernah bertemu muka de­ngan kelompok termaksud.  Kata Prof Ibrahim Alfian, “Da­lam Kamus Gayo-Belanda susunan Dr GAJ Hazen, terbit tahun 1907, istilah mante digunakan untuk sekelompok masyarakat liar yang tinggal di hutan. Sementara pada Kamus Gayo-Indonesia tulisan antropolog Nelalatoa, pang­gilan mante juga disebutkan untuk memberi nama kelompok su­ku terasing setempat.” Berdasar kenyataan ini, sejarawan asal Aceh tadi menyebutkan, “…kalau memang suku tadi ditemukan kembali, penelitian ilmiah perlu dilakukan secara tuntas di samping  upaya Departemen Sosial yang mempunyai tugas antara lain, membina suku-suku terasing.

 

Berkelompok

       “Kalau berbohong, …silakan saya digantung,” tutur Gusnar Ef­fendy meyakinkan. Pawang hutan berusia lanjut tetapi tetap tegar ini memang sering kali menjelajah hutan dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan  tadi, ia beberapa kali bertemu dengan kelom­pok masyarakat Mante. “Mereka tinggal berkelompok, sekitar 60-an orang, besar- kecil-laki perempuan. Sayang, begitu bertemu, mereka langsung melarikan diri menghindar.”

          Masyarakat Mante yang ditemukannya tadi hidup di belantara pedalaman Lokop, Kabupaten Aceh Timur. Kecuali itu Gusnar juga pernah berjumpa dengan mereka di hutan-hutan Oneng, Pintu Rimba, Rikit Gaib di Kabu­paten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara. “Umumnya, tinggal di gua-gua celah gunung. Kalau siang hari berada di alur-alur sungai dalam  lembah.” Gua yang dijadikan tempat tinggal kelom­pok terasing ini dinamakah Gua Beye, Jambur Atang , Jambur Ketibung, Jambur Ratu dan Jambur Simpang,

Berapa jumlah mereka yang selalu nampak bertelanjang dengan (Bersambung kehal. VIII kol. 1-2)

(Sumber: Kompas, 18 Desember 1987 hlm 1).