Memburu Naskah Tua Aceh di Amerika Serikat

Memburu Naskah Tua  Aceh di Amerika Serikat

 

Suatu tulisan yang   dituangkan     dalam     bentuk perjanjian jelas akan mengandung makna bagi sekelompok   masyarakat,   apalagi   kalau dalam tulisan itu secara jelas tertera suatu masalah penting seperti huhungan diplomalik antar negara.

Perjanjian yang berisikan hubungan diplomatik itu merupakan benda berharga dan pasti akan “diburu” untuk mendapatkannya  seperti yang dilakukan H. M.Nur El Ibrahimy terhadap naskah berusia sekitar 120 tahun yang merupakan tulisan Tuanku Ibrahim Raja Fakih Ali Pidie. Untuk memperoleh naskah tersebut, El Ibrahimy berburu hingga ke Amerika Serikat.

Boleh jadi tulisan tuanku Ibra­him Raja Fakih Ali Pidie belum bermakna   pada   saat  hubungan diplomatik   Aceh   dan   Amerika Serikat mulai dijalin, namun pada tahun 1990-an buah karya putra Aceh tersebut mulai dicari orang. M.Nur El  Ibrahimy  (83) yang mengaku  sudah  30 tahun, tidak pulang ke Aceh untuk memburu naskah berusia 120 tahun di Amerika Serikat. Dan keinginannya itu akhirnya terwujud pada tahun  1994. “Hari ini bagi saya merupakan hari yang indah, hari gembira dan bahagia dalam hidup saya. Gembira, karena janji yang saya   berikan   kepada   Gubernur Aceh    bahwa   semua   dokumen sejarah Aceh yang saya peroleh dari U.S. National Archives, Washington, akan   saya   serahkan kepada rakyat Aceh, dapat saya tepati, katanya.

Dalam sambutannya yang dibacakan putri tertuanya, Susan­na, M.Nur El Ibrahimy mengatakan, “Bahagia, karena dokumen sejarah Aceh yang raib dari tanah Areh selama hampir 1 1/4 abad tidak ketahuan rimbanya, sempat saya antarkan kembali ke persada tanah leluhur, sebelum saya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa ke Hadhiratnya,”

la mengatakan, dari sejarah kita belajar mencintai tanah air, dengan sejarah memupuk semangat dan tanpa pamrih mengabdi kepa­da tanah air, dan akhirnya kepada sejarah pula berpedoman dalam berpacu mengejar masa depan vang lebih baik dan lebih cerah. Seratus tahun lalu sekitar akhir Agustus atau September 1873, di gedung konsulat di Singapura telah berlangsung suatu pertemuan bersejarah antara konsul  Amerika, Mayor Studer dan Tuanku Ibrahim Raja Fakih Ali Pidie.

Ibrahim yang merupakan wakil mutlak sultan Alaidin Mahmud Syah, dapat dikatakan seorang pejabat tinggi sultan yang bertindak sebagai menteri luar negeri Kerajaan Aceh waktu itu dan merupakan arsitek dari draf  perjanjian Aceh Amerika. Pertemuan tersebut disaksikan seorang peja­bat bawahan Tuanku Ibrahim, dan dari pihak Studer disaksikan oleh Cyrus Wakefield dari Boston Firm of Cyrus Wakefield, jelas tokoh masyarakal Aceh tersebut.

Dalam pertemuan itu, tuanku Ibrahim menyerahkan seberkas dokumen kepada Studer. Doku­men tersebut terdiri dari lima buah,  yakni dokumen induk yang berisikan perjanjian Aceh-Amerika yang dibuat sendiri oleh Tuanku Ibrahim. Dokumen ini terdiri dari dua lembar, ditulis dengan bahasa Melayu-Aceh lama dengan memakai huruf Arab yang sukar dimengerti oleh generasi muda sekarang. Dokumen ini disertai terjemahannya dalam bahasa Inggris yang terdiri dari tiga lembar.

Dokumen kedua adalah sepucuk surat dari Tuanku Ibrahim se­bagai wakil mutlak Sultan Aceh kepada Jenderal Grant, Presiden Amerika Serikat. Surat ini ditulis dalam bahasa lnggris, jelas M.Nur el Ibrahimy.

Sedangkan dokumen ketiga adalah dekrit Sultan Aceh membentuk Dewan Tiga yang terdiri dari Teuku Muda Nyak Malim, Teuku Maharaja Mangkubumi dan Tuanku Ibrahim Raja Fakih Ali pidie, untuk mengelola segala urusan pemerintah, guna menjamin keselamatan bangsa dan negara dalam menghadapi ancaman Belanda.

Dua dokumen lainnya adalah keputusan Dewan Tujuh di Pulo Penang dan surat pribadi kakak tuanku Ibrahim kepada Ibrahim. Surat-surat ini merupakan “cre­dentials” dan mengandung data sejarah yang tidak diketahui oleh ahli-ahli sejarah, katanya.

Penyerahan dokumen kepada konsul Amerika dalam rangka usaha Sultan Alaidin Mahmud-Syah untuk mengikat suatu perjanjian persahabatan dan aliansi dengan Amerika Serikat, sebagai suatu upaya untuk menghindari atau menghadapi perang yang tidak adil yang dikobarkan oleh Belanda terhadap Aceh.

Sebulan kemudian, kata tokoh Aceh itu, tepatnya pada 4 Oktober 1873, draft perjanjian Aceh-Ame­rika dengan dokumen dokumen lain yang terkait ditransfer oleh konsul Amerika, Studer ke Deplu AS di Washington DC.

 

 Hasrat memiliki

Peristiwa pertemuan antara tuanku Ibrahim dan Studer di Singapura pada akhir tahun 1873 itu pantas dicatat dalam sejarah sebagai suatu peristiwa besar, sebab hal itu terjadi jauh sebelum fajar kebangkitan Asia menyingsing pada tahun 1905, katanya. “Saya mengetahui draft itu berada di Amerika Serikat dari Dr. James Werren Gould. la adalah profesor dari Clearmount College di Cali­fornia,” jelasnya.

Pada tahun 1960, ia bertemu dengan James di Hollywood Inn. Doktor James adalah orang pertama yang menemukan draft perjanjian tersebut di State Departement’s Archives, ketika ia mengadakan penelitian untuk menulis sebuah artikel, yang kemudian dimuat dalam majalah “The An­nals of Iowa” tahun 1957. “Saya ingin sekali melihat draft perjanji­an Aceh-Amerika itu, sekurang-kurangnya kalau dapat ingin memiliki fotocopy. Tetapi bagaimana, saya pada waktu itu sedang dalam perjalanan pulang ke tanah air,” kata M.Nur el Ibrahimy.

Pada awal tahun 1992, tatkala ingin merampungkan penulisan naskah “Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh” yang terbengkalai, timbul gairah kembali untuk memburu doku­men draft perjanjian Aceh-Ame­rika itu. “Perburuan saya lakukan dua jurusan. Dari satu jurusan saya suruh anak saya Susanna dan Nisrina menghubungi USIS (Pusat Pelayanan Informasi AS) di Jakarta, sedangkan jurusan kedua, saya sendiri menulis surat kepada Departemen Luar Negeri Amerika Serikat di Washington melalui American Embassy di Jakarta,’ katanya.

November 1992, Mr Stewart dari Kedubes AS mengirim kawat ke USIS di Washington, dan meminta tolong dicarikan di Deplu AS naskah mengenai ‘The Achehnese – American Treaty Proposal”, dan minta dikirimkan ke Perwakilan Kearsipan AS di Jakarta.

Bulan Desember 1992, Miss Betsy Franks dari USIS Washing­ton mengirim pesan kepada perwakilan mereka di Jakarta yang isinya meminta penjelasan lebih lanjut karena “The Achehnese -American Treaty Proposal” tidak dikenal di kalangan Deplu AS.

Berhasil ditemukan

Setelah “dicari beberapa bulan, akhirnya draft itu ditemukan pada 30 Juli 1993. Tokoh masyarakat Aceh tersebut berhasil memburu naskah tua yang merupakan Draft Perjanjian Aceh-Amerika melalui Pusat Kebudayaan AS di Jakarta.

Dokumen itu merupakan sejumlah fotocopy  yang mengan­dung peristiwa peristiwa penting berkaitan dengan sejarah Aceh yang hampir satu seperempat abad boleh dikatakan tidak diketahui masyarakat dunia, bahkan oleh ahli sejarah Aceh sendiri, kata M.Nur El Ibrahimy. “Sejak berada di tangan, saya sudah berniat menyerahkan pusaka nenek moyang (Achehnese Heritage) yang tidak ternilai itu kepada rakyat Aceh, tegasnya.

Dengan rujuknya warisan terse­but ke pangkuan persada tanah air, sejarah Aceh perlu disempurnakan, dengan menempatkan peristiwa pada proporsi yang sebenarnya. Semua draft perjanji­an Aceh – Amerika yang ditanda-tangani tahun 1873 di Singapura antara utusan kerajaan Aceh dan konsulat Amerika, diserahkan kepada Gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud dalam suatu acara sederhana yang berlangsung be­lum lama ini.

Gubernur mengharapkan agar dokumen itu dijaga karena meru­pakan warisan yang tak ternilai harganya. “Apalagi mendengar kisah memburunya terasa sulit, sehingga pusaka nenek moyang tersebut benar-benar bisa menjadi bahan rujukan generasi muda mendatang”, kata Gubernur.

Saidulkarnain Ishak/ans

 

( Sumber: Harian SERAMBI INDONESIA, Minggu, 20 November 1994 halaman 7 )

Komunitas Cae Aceh Terbentuk

        Komunitas Cae  Aceh Terbentuk

Banda Aceh,

Bertempat di  kantor Studio baru AcehTV di Lam Geundring, Aceh Besar, Selasa sore,(  7- 12 – 2010)

telah dibentuk Komunitas Anggota Cae Aceh (KACA). Perkumpulan ini merupakan organisasi para pengarang cae  Aceh  yang  selama tiga tahun terakhir ini cae/syair-syair  mereka selalu disenandungkan Medya Hus  di malam Minggu jam 20.30 s/d 22.00 Wib.  pada acara “Cae Bak Jambo” di AcehTV, Banda Aceh.

Acara  rapat yang dihadiri hampir semua penulis Cae Aceh ini dipimpin  Medya Hus, dilanjutkan dengan sambutan dari salah seorang peserta yang diwakili Suwardi serta kata sambutan dari Drs. Dahlan TH selaku pendiri AcehTV tempat organisasi ini bernaung. Dalam ucapan sambil duduk bersila di ruang  siar dan syuting AcehTV; Suwardi menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada pihak AcehTV  yang sangat peduli kepada budaya Aceh. Khusus bagi  para  pengarang Cae  Aceh,  dengan adanya acara ‘Cae Bak Jambo” di AcehTV selama tiga tahun terakhir ini telah memunculkan bakat-bakat baru pengarang Cae Aceh, papar Suwardi.

Sementara itu Drs.  Dahlan TH selaku pembina organisasi “KACA”, mengharapkan, agar persatuan seniman Aceh itu dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Dianjurkan pula, agar organisasi itu tidak terpengaruh dengan “politik praktis” lebih-lebih menjelang Pemilukada/Pilkada mendatang, tegas Dahlan TH yang mantan Ketua PWI Aceh itu. Puncak acara yang berlangsung pada hari Tahun Baru Baru Islam, 1 Muharram 1432 H itu adalah pemilihan pengurus Komunitas Anggota Cae Aceh  (KACA), yang secara aklamasi menunjuk Medya Hus sebagai Ketua, Suwardi selaku Sekretaris dan Cek Man menjadi Bendahara (Tas/    )

Sekitar Draft Perjanjian antara Kerajaan Aceh Darussalam dengan Negara Amerika Serikat tahun 1289 H/1873 M

 

Sekitar Draft Perjanjian Aceh-Amerika Serikat

Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Oleh: HM Nur El Ibrahimy

 

        Syukur Alhamdulillah buku saya “Selanyang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh”  telah terbit dan telah beredar di dalam masyarakat. Kepada PT Gramedia Widiasarana Indonesia dan siapa saja yang terlibat, yang memungkinkan buku ini terbit saya mengucapkan terima kasih.

          Meskipun buku ini belum memenuhi kriteria sebagai sebuah buku ilmiah, namun saya merasa gembira. Karena saya kira ia membawa kepada masyarakat Indonesia informasi-informasi baru yang cukup penting yang belum pernah terungkap, menyangkut sejarah Aceh yang merupakan bagian dari sejarah nasional.                       Bahkan tanpa ada sedikit pun niat untuk menepuk dada, saya kira ia menyingkap suatu periswa sejarah yang besar dalam sejarah Aceh, yang sejak 120 tahun silam sampai saat ini tidak diketahui oleh kalangan dunia. Bahkan, saya kira, tidak diketahui oleh masyarakat Aceh  sendiri. Beberapa dokumen yang autentik sebagai bukti tuntas atas peristiwa itu, saya persembahkan kepada masyarakat Indonesia, khususnya kepada masyarakat Aceh.

               Buku ini hendak menceritakan bahwa orang Aceh tidak saja ulet berperang seperti diakui oleh banyak orang , tetapi mereka juga dapat berdiplomasi. Merupakan anggapan yang salah, bahwa orang Aceh suka bergaduh dan kalau ingin menyelesaikan sesuatu masalah selalu dengan Rencong di tangan. Mereka dengan siapa saja bisa berbaik kapan dan dimana saja mau berdialog. Berdialog adalah berdiplomasi sekurang-kurangnya mereka pernah berkecimpung dalam dunia diplomasi sejak zaman dahulu.

           Isinya antara lain tentang penerimaan data-data dari luar negeri pengiriman duta-duta.  Inggris dan perjanjian persahabatan dan perdamiaian dengan kerajaan Belanda. Fokus sentral dalam buku saya adalah Draft Perjanjian Aceh Amerika yang sejak Oktober 1873 sampai Juli 1993 merupakan a missing link, rantai sejarah yang raib dari tanah Aceh tak ketahuan rimbanya. Hatta, bagi ahli-ahli sejarah Aceh sendiri. Rupanya selama 120 tahun itu ia disimpan di State Departemen’s Archives, dan kemudian dipindahkan ke US Natonal Archives, Washington . sekarang sejak 30 Juli 1993 draft perjanjian tesebut sudah berada di tangan  saya dengan dokumen – dokumen lainnya yang terkait. Insya allah, semuanya akan saya serahkan kepada rakyat Aceh.

              Menyangkut draft perjanjian tersebut saya kecewa terhadap diri saya sendiri karena uraian saya mengenai draft perjanjian itu saya rasa kurang lengkap, tidak sesuai dengan  kedudukannya sebagai masalah yang menjadi fokus sentral. Dalam hal ini tiada siapa-siapa pun yang bersalah. Hal ini terjadi semta-mata karena dokumen dari US National Archives yang saya perkirakan bisa  tiba di Jakarta pada awal April 1993, baru datang pada akhir Juli 1993, setelah naskah selesai disunting dan masuk kebabak pracetak. Jadi dapatlah dimengerti kalau tidak banyak informasi baru dari dokumen-dokumen tersebut yang dapat ditampung dalam naskah itu.

          Berhubungan dengan  itu izinkan saya memberikan uraian yang lebih lengkap berdasarkan dokumen yang autentikdari dari US National Archives yang belum pernah terungkapkan  itu akhir 1972 seperti kata Van’t Veer tatkala tersebar desas-desus bahwa Belanda akan meyerang Aceh. Sultan mengirimkan dua orang utusan keluar negeri untuk mencari dukungan dan bantuan yang Mangkubumi Sayid Abdurrahman Azzahir ke Turki dan Panglima Tibang Muhammad ke Singapura. Utusan ke Istambul gagal total karena Turki pada waktu itu merupakan the Sickman of Europe.

           Sedangkan Panglima Tibang di Singapura setelah dialognya dengan  Konsul Italia tidak berhasil karena Italia tidak mau terlibat dalam masalah Aceh mengadakan approach dengan Konsul Amerika Studer. Dia ini tidak menolak. Hanya menganjurkan agar Sultan Aceh  sendiri yang membuat draft perjanjian. Setelah ditandatangani,  dia yang akan mentransfernya ke Washington nanti. Sebab dia tidak berwenang membuat sesuatu perjanjian dengan sesuatu negara.

                Pada  bulan Desember 1872,  sultan Aceh secara mendadak memerintahkan Panglima Tibang Muhammad berangkat ke Riau untuk bertemu dengan Schiff Residen Riau yang selalu atas nama Gubernur Jenderal berdialog dengan pemerintah Aceh. Pada waktu hendak berangkat pulang,  Panglima Tibang menyatakan kepada Schiff, bahwa ia ingin singgah di Singapura untuk membeli sebuah kapal api. Panglima Tibang diantarkan oleh kapal perang Marnix ke Singapura pada Januari 1873 beliau  sudah berada di  Singapura.

             Di Singapura Panglima Tibang mengambil kesempatan untuk menemui Studer. Tatkala ditanya oleh Studer apakah Panglima Tibang ada membawa draft perjanjian Aceh Amerika ia menjawab terus terang, tidak. Katanya ia berangkat mendadak sekali untuk menemui Residen Riau Schiff,  lagi pula naskah perjanjian belum sampai dibuat oleh sultan.  Panglima tibang membujuk Studer untuk membuat bersama-sama draft perjanjian itu tanpa menunggu yang dibuat oleh sultan, untuk megejar waktu yang sangat  mendesak. Studer mengatakan bahwa ia sebagai Konsul tidak dapat bertindak melampaui wewenangnya.

              Studer mendesak Panglima Tibang segera pulang ke Aceh untuk membuat draft perjanjian. Waktu Panglima Tibang tiba di Aceh suasana sudah begitu tegang karena santernya desas-desus bahwa Belanda segera menyerang Aceh. Seluruh rakyat sedang bersiap-siap untuk berperang.

           Tindakan penting pertama yang diambil oleh Sultan Alaiddin Mahmud Syah untuk menghadapi ancaman Belanda adalah usaha mengikat perjanjian persahabatan dan aliansi dengan Amerika Serikat sebagai suatu upaya untuk menghindari/menghadapi perang dengan Belanda.

             Untuk maksud ini pada 6 Muharram 1290 H beliau mengadakan suatu musyawarah besar yang dihadiri oleh kepala – Kepala Sagi, orang-orang besar kerajaan yang mendukung takhta baginda, pejabat–pejabat pemerintah panglima angkatan laut, hulubalang – hulubalang (Panglima-panglima perang), kadi dan mufti kerajaan, alim ulama dan kaum cerdik pandai lainnya. Dalam musyawarah tersebut dirundingkan kehendak sultan  untuk mengikat perjanjian persahabatan dan aliansi dengan Amerika Serikat. Pada akhirnya musyawarah dengan suara bulat mengambil keputusan menyetujui dan mendukung kehendak sultan itu.

             Untuk melaksanakan keputusan musyawarah itu, Sultan memberi  kuasa kepada waris beliau Tuanku Ibrahim Raja Fakih Ali Pidie, yang beberapa waktu lalu bertempat tinggal  di Pulo Pinang untuk mengurusi hal-hal yang menyankut ke pentingan Aceh, sebagai wakil mutlak beliau untuk membuat Draft Penjanjian Aceh Amerika itu, setelah dimusyawarahkan dengan orang–orang besar Aceh yang bermukim di Pulo Pinang, dan dengan memperhatikan hal-hal yang telah dikemukakan kedua belah pihak dalam surat-menyurat mereka sebelumnya.

            Waktu yang diberikan oleh sultan kepada Tuanku Ibrahim yang bertempat tinggal di Pulo Pinang untuk membuat draft perjanjian tersebut selambat-lambatnya lima bulan Di sini barangkali orang akan bertanya. Mengapa sultan memberi  tempo sampai begitu lama,  sedangkan keadaan mendesak agar perjanjian itu dapat dilaksanakan secepat-cepatnya. Hal yang demikian itu disebabkan karena seluruh perairan Aceh diblokade oleh Belanda.  Kalau dalam waktu damai Pulo Pinang bisa dicapai dari Ulee Lheu dalam waktu yang tidak sampai seminggu; sekarang berbulan-bulan belum tentu dapat dijangkau.

            Lalu lintas pelayaran di Selat Malaka dijaga ketat oleh kapal-kapal perang Belanda. Untuk menembusi blokade Belanda, pelaut-pelaut Aceh dengan alat-alat transportasi yang sederhana, yaitu tongkang atau bergas (semacam kapal api yang berukuran kecil) harus berkucing – kucingan dengan kapal perang Belanda kalau – kalau ada celah yang dapat dimasuki sebagai akibat longgarnya  penjagaan atau lengahnya patroli. . Oleh sebab itu, orang tidak usah heran kalau pada naskah perjanjian ditulis tersurat pada 22 hari bulan Jumadil akhir 1290 H (16 Agustus 1873) lebih kurang 5 bulan setelah perintah dikeluarkan oleh sultan.

 ( Sumber: Serambi Indonesia, Jum’at, 28 Januari 1994 halaman 4/Opini )

Sekitar Draft Perjanjian Aceh – Amerika Serikat

                                          ( Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)

                                                Oleh: HM Nur El Ibrahimy

 

Pilihan sultan yang jatuh kepada Tuanku Ibrahim Raja Pakeh Ali Pidie. untuk membuat naskah perjanjian dengan Amerika Serikat tepat sekali. Sebab beliau adalah seorang tokoh muda Aceh yang mempunyai bakat sebagai diplomat. Beliau mempunyai hubungan antarbangsa.

Berikut cuplikan beberapa gambaran tentang pribadi Tuanku Ibrahim yang dilukiskan oleh Studer, Konsul Amerika di Singapura dalam sebuah laporannya yang dikirim ke State Department di Washington DC “This officer, tuanku Ibrahim etc a young man about 25 years of agemwould make an excellent impression anywhere, his manners and bearing are polished and dignified, his man ner of speech cool, sagacious and well chosen, and all natural, and I candidly and truly say that he would grace the best of society anywhere, and when considering, that there are many more such man among his nation , it seems to be quite natural that they should feel perpectly able of taking care of themselves”

Secara bebas maksudnya kira-kira “pejabat ini, tuanku Ibrahim dan seterusnya seorang muda yang berusia sekitar 25 tahun akan menimbulkan impresi yang terbaik dari masyarakat di mana saja dia berada. Gaya dan kelakuannya cemerlang (dengan kata lain dalam bahasa Inggris dapat disebut weel-eduvated), dan mendorong orang akan selalu hormat kepadanya, cara berbicaranya sejuk mengesankan bahwa ia mempunyai pertimbangan yang matang tutur katanya tersusun rapi dari kata-kata pilihan dan semua itu natural (tidak dibuat-buat), dan saya secara terus terang dan secara benar mengatakan bahwa ia, karena konsennya dengan masyarakat, selalu tidak akan segan-segan menghormati atau menghargai mereka yang terbaik dari masyarakat di mana pun jua, dan mengingat bahwa masih banyak orang seperti dia di antara bangsanya agaknya cukup wajar, bahwa seharusnya mereka merasa sepenuhnya mampu mengurus diri mereka sendiri.

Di Pulo Pinang, disebabkan oleh pengangkatan Tuanku Ibrahim Raja Fakih Ali Pidie sebagai wakil mutlak sultan untuk membuat naskah perjajian Aceh- Amerika, atas prakarsa tokoh-tokoh pejuang Aceh yang bermukim di sana, telah dibentuk suatu dewan yang terdiri atas 7 orang untuk mendampingi dan membantu Tuanku Ibrahim dalam melaksanakan tugas berat itu.

Dewan ini dalam sejarah terkenal dengan Dewan Tujuh (council of seven). Mereka adalah (1) Teuku Muhammad Hanifah Nyak Piah (kepala daerah Tanjong Seumantok), (2) Raja Bendahara Syekh Ahmad bin Haji Kasim Annajjari (salah seorang menteri sultan) (3) Syekh Ahmad bin Abdullah Basaud (pengusaha dan seorang kepercayaan sultan), (4)Haji Yusuf (panglima tentera sultan untuk air labu), (5) Teuku Nyak Abu Karruf (pengusaha), (6) Syekh Kasim bin Said Amudi (pengusah), dan (7) Gulamudin Sah Maricar (sekretaris pada kantor lorrain & hill)

Menyangkut naskah perjanjian Aceh-Amerika, Dewan Tujuh ini tiga kali mengadakan sidangnya untuk membahas naskah tersebut, keputusannya adalah menyetujui dengan suara bulat dan mendukung dengan sepenuh hati naskah itu. Kemudian, pada surat yang dikirim oleh Tuanku Ibrahim kepada Jenderal  Grant. Presiden Amerika Serikat, sebagai surat pengantar naskah tersebut, mereka membubuhi cap dan tandatangannya.

Penting diketahui bahwa dalam  rangka menghadapi keadaan gawat yang ditimbulkan oleh Belanda, Sultan Alaiddin Mahmud Syah, di samping melakukan tindakan ke luar yaitu mengusahakan perjanjian persahabatan dengan  Amerika Serikat, beliaupun mengadakan konsolidasi ke dalam,  yaitu memperkuat posisi pemerintah. Sebab, posisi pemerintah yang kuat mempunyai pengaruh besar, baik dalam usaha menghadapi musuh, yaitu Belanda maupun dalam usaha menarik Amerika  untuk menjadi sahabat yang baik dan sekutu yang setia.

Beliau telah membentuk suatu dewan yang terdiri dari tiga orang, yaitu Teuku Muda Nyak Malim, Teuku Maharaja Mangkubumi dan Tuanku Ibrahim Raja Fakih Ali Pidie. yang menetap di Pulo Pinang. Kepada ketiga tokoh Aceh ini sultan Alaiddin Mahmud Syah memberi  kuasa untuk beritndak, baik secara bersama-sama maupun secara maisng-masing, untuk sultan atau atas namanya, menyelenggarakan hal-hal yang dapat menjamin tetap terlaksananya Syariat Allah dan Rasulnya di seluruh wilayah kerajaan Aceh, menjalankan segala perintahnya sebagaimana yang diarahkannya dan melaksanakan segala sesuatu yang dipandang penting untuk keselamatan bangsa dan negara.

Segala hal yang termasuk dalam “Urusan luar negeri” dikelola oleh Tuanku Ibrahim Raja Fakih Ali Pidie yang menetap di Pulo Pinang.

Dewan ini sangat penting artinya bagi kelancaran pemerintahan, apalagi karena Mangkabumi (Perdana Menteri)  Sayid Abdurrahman Azzahir tidak berada di tempat, beliau seperti diketahui sudah beberapa waktu lalu, berangkat ke Istambul, mencari bantuan kepada pemerintah Turki. Tidak berlebihan kalau dewan ini disebut sebagai “Kabinet perang”.

Kita kembali kepada naskah persetujuan Aceh-Amerika setelah selesai dibuat dan mendapat persetujuan dari Dewan Tujuh, diantar oleh Tuanku Ibrahim Raja Fakih Ali Pidie yang ditemani oleh seorang pejabat bawahannya kepada Studer, Konsul Amerika di Singapura. Dalam suatu pertemuan di kediaman Konsul Amerika naskah tersebut diserahkan oleh Tuanku Ibrahim Raja Fakih Ali Pidie kepada Konsul Amerika, Studer yang ditemani oleh  Cyrus Wakefirld.

Disamping naskah perjanjian. Tuanku Ibrahim juga menyerahkan sebuah surat kepada Jenderal Grant. Presiden Amerika Serikat dan beberapa buah surat kepercayaan. Tuanku Ibrahim dalam sambutannya meyampaikan harapan, mudah-mudahan pemerintah Amerika tidak meninggalkan rakyat Aceh sendirian dilanda perang yang tidak adil. Pemerintah Amerika diharapkan mempergunakan pengaruh dan kekuasaannya untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng, sehingga rakyat Aceh tetap hidup dalam keadaan bebas dan merdeka, tidak menjadi warga negara Belanda.

Dalam percakapan dengan  Studer, Tuanku Ibrahim juga menyatakan, bahwa Belanda dengan jalan apa saja telah menyebarkan laporan-laporan yang menjelek-jelekkan Aceh dalam berbagai aspek. Padahal apa yang dikatakan  itu palsu.

Kami tahu benar, dalam soal kemajuan, kami tidak sama tingkatnya dengan tetangga –tetangga kami yang telah maju. Namun demikian, rakyat kami rajin, tekun dan bekerja keras melipat gandakan produksi pertanian mereka, sehingga sebagian dari produk – produk kami itu dapat kami kirimkan untuk mereka   kepasar –pasar negeri Belanda.

Di samping itu sejak 15 tahun lalu, banyak rakyat Aceh yang telah menjadi kaya. Mereka dengan  kekayaan yang melimpah telah menginvestasikan modalnya dalam bisnis real estate di Pulo Pinang. Sekiranya mereka dibiarkan, tidak diganggu dan tetap hidup  dalam keadaan damai peradaban sudah menyebar ke seluruh pelosok tanah Aceh.

Tuanku Ibrahim juga menegaskan kepada Studer apabila kelebihan-kelebihan (superiorities) yang dimiliki rakyat Aceh, walaupun masih  bisa dihitung dengan  jari dikombinasikan dengan tekad penentuan nasib untuk tidak mau jatuh kebawah kekuasaan Belanda,  mereka akan mampu bertahan sampai adanya renungan keinsafan yang serius dari pihak Belanda sendiri. Atau, melalui suatu intervesi asing mereka akan terpaksa meninggalkan  rakyat Aceh hidup dalam kedamaian.

Di pihak lain Konsul Studer menjawab, bahwa semua dokumen yang telah diserahkan kepadanya akan disampaikan kepada pemerintah Amerika, dengan  segala harapan dan keinginan dari Tuanku Ibrahim, katanya, sekarang ini pemerintah Amerika telah mengambil suatu pendirian yang teguh untuk berada di dalam posisi netral yang ketat,  baik dengan Belanda maupun dengan Aceh. Dalam waktu dekat bila saya telah menjadi  Konsul Amerika untuk Sumatera, saya akan berusaha sekeras-kerasnya untuk mempertahankan sikap netral yang ketat itu (strict neutrality). Mengenai kesukaran-kesukaran yang sekarang dihadapi oleh rakyat Aceh, itu semua berada di dalam pertimbangan pemerintah Amerika”

Sebulan kemudian, 4 oktober 1873 naskah perjanjian Aceh – Amerika (Achehnese American Treaty Proposal) ditransfer oleh Konsul Amerika, Studer kepada Jcb davius, assistant Secretary of State di Washington. DC. Mungkin karena mengingat perang antara Aceh dan Belanda sudah bekecamuk. Sedangkan Amerika tidak ingin melibatkan diri. Ia tidak mau mengambil risiko untuk menandatangani naskah perjanjian itu. Ditambah lagi saya kira, karena mereka sama-sama negara yang mempunyai rencana untuk membawa “misi peradaban” (mission civilisastrio) kepada bangsa – bangsa di timur, yang menurut kamus negara – negara barat waktu itu tidak termasuk dalam kategori civilized nations. (bangsa-bangsa yang beradab).

Sekiranya perang belum meletus, saya kira naskah perjanjian itu ditandatangani. Sebab, bagi Amerika masih ada kesempatan untuk intervensi dengan  operasi-operasi diplomatik  untuk mencegah terjadinya perang. Tetapi justeru inilah pula yang ingin dicegah oleh Belanda, dengan mempercepat pengumuman perang terhadap Aceh. Walaupun dengan persiapan yang buruk sehingga ekspedisinya yang pertama gagal total dengan Jenderah Kohler, sebagai pemimpin ekspedisi dibunuh pejuang  Aceh.

Dengan demikian naskah tersebut disimpan di bagian Arsip State Departemen dan setelah US National Archeves dibangun naskah tersebut disimpan di sana dalam microfilm. Sampai sekarang sesudah hampir satu seperempat abad ia masih berada di sana dalam keadaan yang utuh.

*HM Nur El Ibrahimy, mantan anggota DPR RI.

( Sumber: Serambi Indonesia, Sabtu, 29 Januari 1994  halaman 4/Opini ).

Sumbangan Aceh Bagi Bahasa Melayu dan Indonesia

 

SUMBANGAN ACEH BAGI BAHASA MELAYU DAN INDONESIA

Oleh: T.A. Sakti

 

Bahasa Melayu merupakan akar utama dari bahasa Indonesia. Sepanjang sejarah perkembangannya, bahasa diperkaya sehingga ia semakin mantap berperan di seluruh Nusantara, Bahasa Melayu masih dapat dilacak jejaknya mulai abad ke-7 masa kerajaan Sriwijaya berupa prasasti-prasasti yang menggunakan bahasa Melayu kuno, seperti prasasti Kedukan Bukit (tahun 683 M), Talang Tuo (tahun 684), dan lain-lain.

Seiring dengan timbul-tenggelamnya kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara dan datangnya penjajahan asing; bahasa Melayu pun mendapat predikat yang berbeda-beda dalam perkembangannya; seperti bahasa Melayu Pasai, bahasa Melayu Melaka, bahasa Melayu Johor, bahasa Melayu Riau, bahasa Melayu Balai Pustaka, dan bahasa Nasional Indonesia.

Bahasa Melayu Pasai berkembang pada masa Kerajaan Samudera Pasai (1250-1524M). Kerajaan ini amat berperan dalam penyebaran agama Islam ke berbagai wilayah di Asia Tenggara seperti Melaka dan Jawa. Bersamaan dengan berkembangnya  agama Islam itu tersebar pula bahasa Melayu Pasai di daerah wilayah tersebut melalui kitab-kitab pelajaran agama Islam yang menggunakan bahasa Melayu Pasai sebagai pengantarnya.

Kerajaan Samudera Pasai berhubungan akrab dengan Kerajaan Melaka. Perkawinan antara Sultan Melaka Iskandar Syah dengan putri Sultan Zainal Abidin dari Samudera Pasai semakin mempererat hubungan kedua Negara itu. Sultan Samudera juga telah mengutus dua orang ulama ke pulau Jawa untuk mengembangkan agama Islam. Berkat dakwahIslam yang dilakukan oleh Maulana Ishak-lah, maka agama Islam berkembang di Gresik, dan seterusnya menyebar ke seluruh pulau Jawa. Karena berperan sebagai pendakwah pertama itulah sehingga Maulana Ishak bergelar Syekh Awwalul Islam.

Sebutan istilah “bahasa Melayu” merupakan kebiasaan baru di abad ke-18. Pada abad keenam belas dan tujuh belas penyebutan bahasa Melayu dengan menggunakan istilah “bahasa Jawi”, karena bahasa itu ditulis dalam huruf jawi, yakni huruf yang telah disesuaikan dengan ucapan lidah masyarakat Nusantara. Sementara “Jawi” ialah sebutan orang-orang Arab di masa itu untuk negeri-negeri di wilayah Nusantara – Asia Tenggara.

Hikayat Raja-raja Pasai yang ditulis dengan bahasa Jawi atau bahasa Melayu Pasai merupakan bukti amat kuat untuk mengenal bentuk asli bahasa Jawi Pasai itu. Namun, naskah satu-satunya dari Hikayat Raja-raja Pasai yang terwariskan kepada kita hari ini bukanlah dijumpai di Aceh, melainkan di pulau Jawa. Naskah itu kepunyaan Kiai Suradimenggala, Bupati Sepuh di Demak, daerah Bogor yang selesai disalin tahun 1235 H atau 1819 M.

Keberadaan naskah satu-satunya Hikayat Raja-raja Pasai di pulau Jawa merupakan salah satu bukti pula, bahwa masyarakat Jawa masa itu telah mengenal bahasa Melayu Pasai dengan baik, sehingga mereka dapat menikmati kisah-kisah dalam Hikayat Raja-raja Pasai itu.

Menurut Dr. Muhammad Gade Ismail dalam satu tulisannya mengatakan, adanya hubungan antara Kerajaan Samudera-Pasai dengan wilayah-wilayah lain di Nusantara seperti pulau Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Lombok dan Sumbawa dapat ditelusuri dengan adanya kesenian batu nisan yang terdapat di Pasai dengan daerah-daerah tersebut di atas. Melalui perhubungan antara berbagai wilayah itulah bahasa Melayu Pasai secara perlahan-lahan berkembang menjadi “bahasa lingua franca” atau bahasa ilmu dan perdagangan.

Bahasa Jawi atau bahasa Melayu Pasai juga menjadi salah satu bahasa resmi Kerajaan Aceh Darussalam. Hal ini antara lain dapat dibuktikan melalui pengantar Kitab Miraatut Thullab karya Syekh Abdurrauf Syiah Kuala. Tentang hal ini Syekh Abdurrauf berkata: “Maka bahwa sanya adalah hadlarat yang Mahamulia (Paduka Sri Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah) itu telah bersabda kepadaku daripada sangat lebai akan agama Rasulullah, bahwa kukarang baginya sebuah kitab dengan bahasa Jawi yang dibangsakan kepada bahasa Pasai yang muhtaj (diperlukan) kepadanya orang yang menjabat jabatan qadli pada pekerjaan hukum daripada segala hukum syarak Allah yang muktamad pada segala ulama yang dibangsakan kepada Imam Syafi’i radliallahu ‘anhu”.

Dalam masa kejayaan kerajaan Aceh Darussalam, wilayah ini banyak melahirkan ulama dan pengarang yang sebagian karya-karya mereka masih ditemui hingga hari ini. Namun, ada empat ulama-pujangga yang paling terkenal yaitu Hamzah Fansuri, Syamsuddin Assumatrani, Nuruddin Ar-Raninry dan Abdurrauf As-Singkili. Diantara karangan Hamzah Fansuri ialah: Syair Burung Pingai, Syair Burung Pungguk, Syair Perahu, dan Syair Dagang. Sementara karya yang berbentuk prosa antara lain Asrarul Arifin.

Tokoh ulama dan ilmuan lainnya yang amat terkenal adalah Nurudin Ar-Raniry meski hanya menetap selama tujuh tahun (1047 H/1637 M – 1054 H/1644 M), peranan syekh Nuruddin Ar-Raniry di Aceh cukup besar, ia menulis 29 kitab dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Karya-karyanya antara lain Bustanus Salatin, Sirathal Mustaqim, Hidayatul Habib, Khaifiatus salat, Babul Nikah, yang terakhir ini, bersama kitab Sirathal Mustaqim dikirimkan sendiri oleh Ar-raniry ke Kedah (sekarang di Malaysia) pada akhir tahun 1050 H/1640 M. diantara murid Nuruddin Ar-Raniry yang kemudian paling menonjol di Nusantara adalah Syekh Yusuf Al-Maqassari, seorang ulama besar Sulawesi Selatan, yang juga berperan di Banten (Jawa) dan Afrika Selatan.

Tentang peranan Nuruddin Ar-Raniri dalam mengembangkan bahasa Melayu, Dr. Azyumardi Azra menulis sebagai berikut : “Tidak kalah penting adalah peranan Nuruddin Ar-Raniri dalam mendorong lebih jauh perkembangan bahasa Melayu sebagai Lingua Franca di wilayah melayu Indonesia. Dia bahkan diklaim sebagai salah seorang pujangga Melayu pertama. Meski bahasa ibu Ar-Raniri bukanlah Melayu, penguasaannya atas bahasa ini tidak perlu diperdebatkan lagi. Seorang ahli bahasa Melayu –Indonesia menyatakan, bahasa Melayu Klasik al-Raniri tidak menunjukkan kekakuan yang sering terlihat dalam bahasa Melayu praklasik. Dengan demikian karya-karya Ar-Raniri dalam bahasa Melayu juga dianggap sebagai karya-karya sastra dan, sebab itu, memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu pengetahuan.

Perkembangan bahasa Melayu Jawi sejak Kerajaan Samudera Pasai sampai saat berdiri negara Nasional Republik Indonesia tentu telah melewati waktu yang berabad-abad lamanya. Dr. Teuku Iskandar mengatakan :”Kesusteraan Melayu yang dimulai di Kerajaan Pasai dan dilanjutkan di Kerajaan Aceh berkembang selama lebih dari enam ratus lima puluh tahun, dan berpengaruh sampai sekarang.

Dalam hal itu, Syed Muhammad Naquib al-Attas antara lain mengatakan, bahwa pengaruh jejak ke penyairan Hamzah Fansuri terus berlanjut hingga abad ke-20. Kesimpulan itu diakui oleh seorang ahli tentang Hamzah Fansuri (Hamzah Fansurilog), yakni Abdul Hadi W.M. ia berpendapat, pengaruh Hamzah Fansuri terlihat pada beberapa karya penyair “Pujangga Baru” seperti Sanusi Pane dan Amir Hamzah. Bagi Sanusi Pane pengaruh itu nampak pada sajaknya “Dibawa Gelombang”, sedangkan untuk Amir Hamzah terlihat dalam sajak yang berjudul “Sebab Dikau”.

Selain Sanusi Pane dan Amir Hamzah, masih banyak pula para penyair “Angkatan Pujangga Baru” yang terpengaruh dengan sastra sufi yang bersumber dari aliran Tasawul Hamzah Fansuri, diantara mereka adalah Hamka, Ali Hasjmy, Asmara Hadi, OE Mandank, Yoesoef Sou’yb dan Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam kajian Abdul Hadi W.M lainnya pada periode 1970-an juga didapati, bahwa aliran tasawuf Hamzah Fansuri terus berpengaruh kepada beberapa penyair masa itu, bahkan hingga masa kini, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Acep Zamzami Noor dan Ahmadun Y Herfanda.

 

·      Penulis adalah budayawan dan peminat Sastra Melayu dan Indonesia, tinggal di Banda Aceh.

*Sumber: Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh, Kamis, 21 Agustus 2008 halaman 24, rubrik: OPINI. Artikel ini saya tulis dalam rangka menyambut “Pekan Peradaban Melayu Raya yang berlangsung di Banda Aceh,  20 s/d 25 Agustus 2008.