Sultan Iskandarmuda dalam Literatur Sejarah

 

Iskandarmuda dalam Literatur Sejarah

Oleh: Tuanku Abdul Jalil

 

Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1993 lalu, Bapak Prof. Syamsuddin Mahmud yang baru beberapa bulan menjabat Gubernur Aceh mendapat kehormatan untuk  menerima anugerah Sultan Iskandar Muda. (1607-1636) sebagai Pahlawan Nasional di Istana Negara, Jakarta. Sejarah Aceh tentang Iskandarmuda dapat disimak dalam berbagai literature yang ditulis dalam bahasa Indonesia, Belanda, dan Inggris koleksi Pusat Dokumentasi Aceh di Banda Aceh.

Dalam tahun 1893-1894 Dr. C. Snouck Hurgronje mengangkat sejarah Aceh ke permukaan dalam karya De Atjehers I dan II. Dalam tahun 1906 diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh O’Sullivan (Achehnese I-II).

Sejarah Aceh  (Iskandarmuda) dalam konteks perbandingan sumber anak negeri dengan sumber asing termasuk kritik sumbernya, dapat disimak dalam Critisch overzicht vande in lameische werken vervatte gegevens over de geschiedenis van het Soeltanaat van Atjeh dalam BKI 65.1911. hal 135 – 265, karya Raden Hoesein Djajadiningrat.

Penelitian purbakala Islam di Aceh dalam tahun 1914-18 (oudheidkundige verslag) dan komparatifnya dengan kitab sejarah Aceh Bustanus-salatin  karya Nuruddin Ar-Raniry di abad ke 17 telah menghasilkan rekonstruksi silsilah sultan Iskandarmuda dan leluhurnya (lihat Encyclopaedie van Ned. Indie (AG) I. Mr.Dr. J Paulus dkk. 1917, hal 88/genealogisch overzicht der Atjehsche Soeltans tot 1675).

Penulis Belanda yang mengangkat nilai dan martabat Aceh dan sekaligus membetulkan karya Snouck (de Atjehers yaitu J. Kreemer dalam karyanya Atjeh I dan II (1922-23), dalam tahun 1034 terbit Atjehsch Nederlandsch Woordenbaoek dua jilid karya Dr Hoesein Djajadiningrat. Terkandung di dalamnya martabat dan kebudayaan Aceh yang Islami.

Sejarah Aceh atau Iskandarmuda dalam konteks kakeknya Alauddin sebagai pengasuh, menurut satu versi anak nelayan yang perkasa (Otto Syamsuddin Ishak, Iskandarmuda, Pahlawankah dia?”, Serambi Indonesia 18 November 1993 hal 4 alinea 5) telah bertentangan dengan Encyclopaedie yang disebutkan di atas.

Ensyclopaedie membakukan bahwa kakek Iskandarmuda, yaitu Sultan Aluddin Riayat Syah Saidilmukammil (1599-16040) bin Almalik Firman Syah bin Sultan Muthafar itu terkenal dengan  Poteumeureuhom Daya (Sultan Ali Riayat Syah, Mangkat pada 12 November 1508).

Dalam sejarah ada satu versi yang menyatakan bahwa Iskandarmuda diracun oleh wanita yang dikirim oleh Raja Makasar ke Aceh sebagai Hadiah (Otto Syamsuddin Ishak, ibid, alinea 14).” Ternyata tidak pernah ada sejarah hijrah wanita Makassar ke Aceh, baik dalam karya Snouck, Hoesein Djajadiningrat, J Kreemer maupun T.J.Veltman dalam Nota over de Geschedenis van het Landschap Pidie, TBG: 58, 1919, hal 79 dan seterusnya.

Yang hijrah ke Aceh dan menetap di Pidie adalah dua ulama dari Sulawesi Selatan, pertama. Teungku dari Sidenreng. Lidah orang Aceh menyebutnya Teungku Seundri yang makamnya terletak di Masjid Raya Lama Pidie. Kedua, Teungku Sigeuli (makamnya di belakang Hotel Mali, Sigli). Menurut Veltmen, asal muasal nama Sigli berasal dari nama Teungku Sigeuli.

Ulama lainnya dari Wajo (Sulawesi Selatan). Demikian Veltman, sepulangnya dari selesai menunaikan ibadah haji di Mekkah beliau  akhirnya menetap  di kampung Reubee, Pidie, namanya Daeng Mansur.

Makam Daeng Mansur dan anaknya Putri Seuni, permaisuri Sultan Iskandarmuda masih diziarahi orang di kampung Reubee. Pidie. Baru-baru ini pun, 7 November 1993, di bawah pimpinan Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Saudara Ishak Kaba dan beberapa pengurus telah berziarah ke makam Daeng Mansur dan Putri Seuni. Penulis berterima kasih sekali kepada ulama Reubee, Teungku Muhammad Arbi dan T Anwar Camat Delima, Drs Safari Haitami Kandepag Pidie dan masyarakat/tokoh yang demikian rupa ramahnya menerima ziarah KKSS.

Taqdirullah Putri Seuni mangkat di Reubee setelah melahirkan Ratu Safiatuddin Syah binti Sultan Iskandarmuda (1607-1636), kemudian Ratu ini terkenal sebagai permaisuri sultan Aceh asal Pahang Iskandar Thani (1636-1641)

Perkawinan Iskandarmuda dengan  putri Pahang tanpa keturunan, sementara keturunannya, Iskandarmuda, dari isterinya wanita Abbesinia terkenal dengan keturunan yang bergelar Panglima Polem (HM .Zainuddin, Singa Atjeh. Cet pertama, 1959, hlm. 191-192).

Karena tanpa putra mahkota Meurah Pupok disebabkan mangkat karena hukum rajam oleh Iskandarmuda sendiri sesuai dengan  amanah, menantunya Iskandar Thani (1636-1641), suami Ratu Safiatuddin dinobatkan menjadi Sultan Aceh. Setelah mangkat, Iskandarmuda (27 Desember 1636) dan Iskandar Thani (15 Februari 1641), lembaran sejarah Aceh mencatat pemerintahan 4 Ratu selama 60 tahun (1675-1699) dan dilanjutkan oleh 4 sultan Aceh keturunan Arab bergelar Al-Jamalullail (1699-1726).

Untuk meredam pergolakan politik tiga Panglima Sagi di Aceh Besar (Dewan Pemilih sultan) menetapkan sultan Aceh Ahmad Syah (1727-1735) bin Abdurrahim bin Zainal Abidin (Teungku di Lhong) bin Daeng Mansur bergelar Teungku Chik di Reubee, (Hikayat Pocut Muhammad dalam bahasa Inggris oleh GWJ Drewes, koleksi PDIA dan KFH van Langen. De inrichting van het Atjehsche Staatsbestuur, 1888, hal 24). Met hem begint de Boeginceshe dynastie in Atjeh (dengan sultan Amad Syah permulaan Dinasti Bugis sebagai sultan-sultan Aceh, tulis Raden Hoesein Djajadiningrat dalam Critisch overzicht).

Dalam rangka penulisan sejarah Aceh (Sultan Iskandarmuda), sering dianjurkan kepada beberapa mahasiswa yang melakukan penelitian di PDIA (Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh) untuk mempergunakan buku “Aceh Sepanjang Abad I, cetakan pertama, 1982, karya H Muhammad Said sejarawan kawakan yang berorientasi Indonesia-sentris sebagai mana diamanahkan oleh bapak Prof. Dr. Sartono Kartosudirdjo dan bapak Prof Dr Teuku Ibrahim Alfian, Ibrahim Alfian, Rekonstruksi masa Lampau, Bulletin Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM No. 2 1969, hal 5).

Marilah kita bersyukur ke Hadhirat Allah SWT, bahwa Pemerintah Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 45 telah menganugerahkan enam pahlawan nasional untuk Aceh.

 

*Tuanku Abdul Jalil, Sekretaris Pusat Dokumentasi dan Informasi, Propinsi Daerah Istimewa Aceh.

 

_( Sumber:  Serambi Indonesia, 20 November 1993 halaman 4 ).

Iklan

2 pemikiran pada “Sultan Iskandarmuda dalam Literatur Sejarah

  1. Assalamualaikum. ,

    senang saya membaca Artikel ini dan mendapatkan isi sebagai berikut: Yang hijrah ke Aceh dan menetap di Pidie adalah dua ulama dari Sulawesi Selatan, pertama. Teungku dari Sidenreng. Lidah orang Aceh menyebutnya Teungku Seundri yang makamnya terletak di Masjid Raya Lama Pidie.

    Pertanyaan saya: adakah yang bisa membantu untuk mencarikan sejarah dan silsilah dari Teungku pakeh Seundri ini?

    Beliau sendiri adalah leluhur saya, yang bagi kami Sidenreng itu adalah WAJO. Sangat senang jika ada yang bisa membantu untuk mencari nama ASLI beliau, karena pada masa itu banyak nama2 diberikan , yang salah satunya “Teungku Pakeh Seundri”. dan setahu saya beliau masuk ke daerah Keulibut.

    Dimanakah makam beliau? Yang saya lihat di Labuy adalah tugu peringatan ataukah itu makamnya “Teungku Pakeh Seundri”.?

    Saya mohonkan bantuan dari semua AHLI SEJARAH Aceh kita agar sudi untuk membantu dan sangat saya nantikan jawabannya. Sebelumnya saya sangat berterimakasih.

    Wassalam,
    Pocut manyana husein

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s