Sempena Hari Pahlawan hari ini, 10 November 2013: Iskandarmuda Meukuta Alam

 

Iskandarmuda Meukuta Alam

 

Oleh: Ameer Hamzah

 

Suara tokek di Meureudu dengan di Pase sangat berbeda. Di Meureudu suaranya  ko’o-ko’o dan di Pase berbunyi e’ee. e’eee. Mengapa? Seorang peneliti suara satwa bertanya kepada orang-orang tua yang ada di Aceh.

Jawabannya, ternyata sa­ngat seragam. Di Meureudu pernah singgah Poteu Meureuhom Iskandar Muda, sedang di Pase tidak. maka suara tokek berbeda. Jawaban seperti itu memang tak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, namun dalarn masyarakat telah sangat populer.

Sultan Iskandarmuda me­mang sudah menjadi legendaris. Namanya sangat agung dan hampir tak ada lidah orang Aceh yang tak pernah menyebut nama itu.

Istilah Poteu Meureuhom dalam ungkapan hadih maja, Adat bak Poteu Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala. adalah gelar yang disempenakan kepadanya setelah sultan tersebut mangkat.

la seorang sultan terbesar yang pernah dimiliki Kerajaan Aceh Darussalam. Kekuasaannya meluas mencakupi semua wilayah Sumatera sampai ke Semenanjung Tanah Melayu (M Said: Aceh Sepanjang Abad, halaman 147).

Kerajaan Deli dan Aru ditaklukkannya pada tahun 1612 M. Johor 1613, Pahang, Kedah, Perak,  Singapura dan Batam dalam tahun 1617-1620 M. Pulau Nias, Asahan,  Indragiri dan Jambi 1623-1625 M’ dan menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1629 M. Singkat kata, seluruh Sumatera dan Semenanjung Malaya sudah berada di bawah kekuasaannya.

Zamannya adalah zaman kegemilangan dan puncak keemasan bagi Aceh dan daerah taklukannya. Bandar Aceh Darussalam menjadi kiblat ilmu pengetahuan di belahan bumi Asia Tenggara.

Banyak ulama dan sarjana yang datang dari Arab, India, Persia, dan Gujarat untuk bermukim di Aceh. Di sini mereka menjadi guru-guru besar yang mengajar ilmu pengetahuan di Perguruan Tinggi Darusy Syariah Jamiah Baiturrahmam Bandar Aceh Darussalam. Mahasiswa datang dari berbagai penjuru nusantara.

Para pujangga dan penyair, penari dan penyanyi juga mendapat tempat tersendiri dalam istana sultan. Iskandarmuda bagaikan Harun Ar-Rasyid yang pernah berkuasa di Bag­dad.

Petani dan pedagang hidup sejahtera karena hasil yang berlimpahruah. Tak ada orang kaya yang kikir dan orang miskin yang dengki. Aceh masa itu menurut Prof Dr Hamka — benar-benar sudah mencapai, taraf Baldatun Thayyibatun wa Rabbul Ghafuur (Sejarah Umat Islam PT Bulan Bintang, 1977).

Sultan memerintah dengan adil dan bijaksana berdasarkan hukum yang berlaku di zamannya.yakni hukum syariah yang berdasarkan al-Quran, hadits, ijmak, dan qias. Banyak pelaku kejahatan yang mati dibunuh berdasarkan hukum hudud.

Hukum baginya adalah amanah Allah. Karena itu siapa saja yang berbuat melanggar hukum akan menerima risiko hukum, meski anak kandungnya sendiri. Dalam menjalankan hukum tidak pilih kasih. Ini dibuktikan dalam sejarah. Meurah Pupok, putranya yang dipersiapkan untuk menjadi pengganti (putra mahkota) — telanjur berbuat zina dengan isteri seorang menteri. Karena itu baginda sangat murka. Ia memerintahkan serdadu untuk menangkap anaknya itu dan memerintahkan hakim untuk merajamnya sampai mati.

Banyak pembesar istana yang ingin mengesampingkan risiko hukum terhadap putra mahkota. Mereka menggoda baginda supaya membatalkan hukum tersebut. Tapi dengan tegas Iskandarmuda menjawab: Mate aneuek meupat jrat, gadoh adat pat tamita. (Mati anak tinggal kuburan, hilang adat kemana dicari) (Prof A Hasymy: Iskandarmuda Meu kuta Alam). Dalam hal ini ia serupa dengan Umar bin Khattab yang menghukum rajam putranya Abu Syamah karena kasus yang serupa juga.

Sultan Iskandarmuda yang berkuasa sejak tahun 1607-1636 memang tak tertandingi. la seorang penakluk yang sa­ngat berhasil. la menaklukkan tapi bukan untuk menjajah. la seorang negarawan besar yang sangat cinta kepada agama Islam dan saudara serumpunnya di Sumatera dan Semenan­jung Melayu yang sudah dalam cengkeraman penjajah Portugis. Makanya ncgeri-ncgcri yang ditaklukkan tak pernah merasa kecewa, kecuali raja-raja yang hilang kekuasaan.

Rakyat dalam negeri-negeri yang ditaklukkan menganggap Iskandarmuda sebagai pahlawan yang telah membebaskan mereka dari pengaruh kolonialisme Barat. Bahkan kemenangan-kemenangan yang didapatnya bukan semata-mata karena kekuatan pasukan Aceh, melainkan juga karena adanya tentara yang membelot karena benci kepada kolonialisme dan bonekaisme Portugis.

Ketika Iskandarmuda dan angkatan lautnya bertekat untuk membebaskan Tanah Semenanjung Melayu (sekarang Malaysia) dari penjajahan Portugis, banyak cerita yang menarik kita baca dalam buku sejarah.

Sultan Iskandarmuda menerapkan etika perang menurut Islam yang diajarkan Rasulullah SAW. Bila rnusuh dapat dikalahkan jangan disiksa, jangan dirampok hartanya, dan jangan pula diganggu wanitanya. Sebaliknya, bila mati da­lam peperangan adalah syahid. Jangan lari dari medan perang, kecuali untuk mengatur strategi.

Dengan etika perang yang mulia itulah, kejayaan yang dicapai Iskandarmuda hampir serupa dengan kejayaan yang dipcrolehi Abubakar, Umar bin Khattab, Usman, Ali  dan Mu­hammad al-Fateh dari Turki.

Pasukan Aceh (Iskandarmu­da) dengan gemilang berturut-turut dapat menaklukkan selu­ruh negeri  yang ada di Sumatera dan Semenanjung Melayu. Nama beliaupun hidup subur menjadi lagenda di Tanah Se­menanjung.

Belum lama ini. (2/11) penulis berada di Kampong Acheh, Yan Kedah Malaysia. Saya bertanya kepada Ustaz Haji Ibrahim bin Haji Abdurrahman sesepuh masyarakat Aceh di sana. Sejak kapan masyarakat Aceh sudah bermukim di sini? “Sejak Poteu Meureuhom Iskandarmuda menaklukkan Kedah,” jawabnya.

Nama Iskandarmuda, tetap dikenang di sana. Hikayat Malem Dagang yang merupakan kisah Iskandarmuda masih dibaca oleh masyarakat Aceh di Yan. Meski sudah ratusan tahun mereka terpisah dari tanah Aceh, Serambi Makkah. Begitu juga masyarakat Melayu di Pahang. Mereka tidak melupakan jasa Iskandarmuda yang telah memuliakan Putroe Phang

 Beliau juga seorang pria yang romantis dan sangat be­sar kasih sayangnya terhadap musuh yang sudah ditawannya. Setelah Pahang menyerah dan menawan anggota kerajaan, ia jatuh cinta kepada putri cantik bernama Kamaliah (Pu­troe Phang). Ia kawin dan memboyongnya ke Aceh.

Untuk mengobat hati putri Pahang yang luka karena ayahnya kalah, maka Sultan Iskan­darmuda membuat sebuah taman yang indah, (Raudhatul Isyqi lengkap dengan tempat permandian, tempat pelipur lara di pinggir Krueng Daroy. Itulah yang kita kenal seka­rang Taman Sari, Taman Pinto Khop dan Gunongan.

Sebenarnya masih sangat banyak yang harus kita tulis tentang orang besar Aceh Ini, sebab ia telah banyak mewariskan pusaka terhadap kita semua. la telah mengangkat harkat dan martabat umat Islam nusantara dari kekejaman kolonialisme Barat. Ia telah berbuat yang beIum dibuat oleh pendahulunya dan oleh sultan-sultan sesudahnya.

Tulisan ini hanya secuil ungkapan rasa bangga dan kesyukuran kita karena Sultan Iskandarmuda Meukuta Alam telah disahkan menjadi Pahlawan Naslonal oleh Pemerintah Republik Indonesia. Hari Pahlawan Nasional 10 Nevember yang kita peringati hari ini rasanya sangat indah dari yang sudah-sudah, sangat bermakna dari sebelumnya. Seorang pahlawan sejati telah kita beri tempat yang layak untuk dihormati.

Bagi rakyat Aceh Iskandar­muda adalah simbol keadilan, simbol kemakmuran dan kebesaran. Jadi, bukan simbol impian dan nostalgia. Masa lalu adalah masa lain, denting waktu tak mungkin terulang kembali.

Tugas kita sekarang, bukan bernostalgja (cet langet) terhadap prestasi yang diraih Iskandarmuda dan juga pahlawan-pahlawan kita yang lain, tetapi berkarya yang lebih baik lagi dari karya pcndahulu kita. Kalau Iskandarmuda dalam waktu yang relatif singkat dapat mengubah wajah kemiskinan menjadi kemakmuran, rasanya kita juga perlu meniru.

 

Ameer Hamzah, Wartawan Harian Serambi Indonesia.

 

( Sumber: Serambi Indonesia, Rabu, 10 November 1993 halaman 4).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s