Ya!, Sultan Iskandarmuda Pahlawan Nasional Sejati!

YA! ISKANDARMUDA, PAHLAWAN SEJATI!

Oleh: Ameer Hamzah

 

Seorang penulis kontemporer, Otto Syamsuddin Ishak  meragukan keabsahan anugerah pahlawan kepada Poteu Meureuhom Iskandarmuda. la menanyakan Iskandarmuda, Pahlawankah dia? (Serambi 18/11).

Isi tulisan itu dianggap tidak salah jika sumbernya berasal dari para orientalis yang sinis terhadap Islam. Otto tahu itu. Hanya saja latar belakang apa yang menyertai tulisan itu, memang telah menimbulkan banyak pertanyaan. Misalnya, apakah ia ingin mencari sensasi, sebab namanya belum sepopuler Abdurrahman Wahid dan Nurcholis Madjid?.  Memang salah satu cara mudah mencari popularitas pada zaman sekarang dengan melemparkan ide-ide kontroversial. Ini hanya dugaan!

Sebenarnya para sejarawan Islam sudah lama membuang pikiran-pikiran orientalis dan mencoba menganilisis kembali dengan penuli tanggung jawab. Tulisan penulis asing (Barat) sangat subyektif terhadap pahlawan-pahlawan Islam, termasuk Iskandarmuda.

Karena itu. sejarawan Islam, seperti Prof Ahmad Syalabi, Prof Dr. Hasan Ibrahim Hasan (mantan Rektor Universltas Al-Azhar, Kairo), atau Prof. Dr. Thaha Husein dari Universitas AL -Azhar Kairo pernah mengingatkan sejarawan Islam yang belajar ke Barat agar jangan terpengaruh dengan pandangan miring orientalis terhadap tokoh-tokoh Islam.

Menurut Thaha Husein dalam bukunya Al-Tharikh wa Siasah (1978). analisis orienta­lis terhadap Islam adalah racun yang dibungkus dengan kertas ilmiah untuk menuba umat Islam sendiri. Sebagai contoh, Saidina Umar bin Khattab yang sudah dijamin masuk syurga oleh Nabi,  Orientalis masih menuduh Umar seorang yang haus kekuasaan. Alasan mereka, Umar seorang penakluk yang sangat banyak menumpahkan darah. Umar menegakkan Islam dengan mata pedang, bukan dengan kebijaksanaan. Khalifah kaum muslimin itu sangat kejam dan zalim. Sebelum masuk Islam, Umar seorang pemabuk dan pembunuh anak perempuan, termasuk anaknya sendiri. Begitulah antara lain tuduhan kaum orientalis.

Lalu disebut lagi bahwa setelah wafat Nabi, ia bersekongkol dengan Abubakar untuk merampas kekuasaan dari orang yang paling berhak. yakni Ali bin Abi Thalib. Selama berkuasa, menurut sumber Barat, Umar sangat banyak membunuh tokoh oposisi, termasuk Said bin Ubaidah  pimpinan masyarakat pribumi Madinah. Ia juga banyak membunuh orang-orang kaya de­ngan dalih tidak mau membayar zakat. Cerita ini dapat dibaca dalam banyak literatur ori­entalis.

Bukan hanya Umar yang menjadi sasaran fitnah orien­talis. Nabi Muhammad sendiri tak luput dari kritikan dan fitnah. Yang paling mutakhir. barangkali novel The Satanic Verses (Ayat-ayat syetan) oleh Salman Rushdi.

Husein bin Ali bin Abi Thalib yang syahid dalam tragedi Karbala, bagi umat Islam ada­lah pahlawan syahid. Ia berjuang untuk menegakkan keyakinan dan kebcnaran. Tetapi apa kata Dillot? Husein orang bodoh yang tidak tahu politik dan strategi perjuangan. la sudah tahu tidak mampu melawan pasukan Yaziz yang kuat, tetapi ia tidak mau berdamai. Bukankah itu usaha bunuh diri?, tanya Dillot.

Pahlawan-pahlawan kita yang lain, seperti Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, menurut orientalis terutama sejarawan Belanda juga tidak dianggap pahlawan. Mereka mencari berbagai alasan dan kelemahan, bukan yang faktual.

Diponegoro dituduh melawan Belanda karena mcmpertahankan harta bendanya yang ingin diambil pemerintah Hindia Bclanda demi kepentingan rakyat. Begitu juga tentang Imam Bonjol dan Teuku Umar. Bahkan Teuku Umar dituduh pengkhianat dan munafik, sebab pernah berpihak kepada mereka. Setelah dipersenjatai dengan lengkap, Umar berbalik melawan mereka.

Perspektif sejarah tersebut sepatutnya menjadi tazkirah (peringatan) bagi siapa saja yang ingin menulis tentang sejarah. Kalau tidak, tak usah memberanikan diri. Tulis saja soal lain atau opini tentang SDSB.

Halnya Iskandarmuda, kalau dicoba menganalisis dari sudut pandang Islam dan keacehan, ia benar-benar pahlawan besar dan sejati. la lebih besar dari Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Teuku Chik Di Tiro. Panglima Polem, dan semua pahlawan yang dimiliki Indonesia.

Kalau pahlawan lain hanya berjuang melawan Belanda yang semuanya berakhir de­ngan kekalahan, justeru Iskandarmuda berjuang untuk menaklukkan negeri-negeri Islam dan Kristen yang sudah menjadi boneka kolonial Portugis, Inggris, dan Belanda. la berhasil, sehingga Kerajaan Aceh Darussalam kala itu merupakan lima besar di dunia.

Sultan Iskandarmuda bukan orang kikir dan zalim, bukan pembunuh elit politik. Nara sumber yang Otto cantumkan itu semuanya berasal dari orientalis. Kalau Otto mau jujur dalam ungkapannya, tentu ia harus menggunakan pula sumber-sumber Islam. Misalnya, kita sepakat lebih percaya kepada Bustanussalatin. Karya Syeh Nuruddin Ar-Rarniry sebab ulama itu hidup di zaman Iskandarmuda dan Iskadar Tsani. Nuruddin bukan semata-mata ahli fikih, lalu seorang politikus. Sebab zaman itu belum ada spesialisasi ilmu. Seperti halnya Iskandarmuda ia bukan hanya negarawan tetapi juga seorang ulama (baca: Kanun  Meukuta Alam).

Siapa bilang istana hanya diperuntukkan bagi putri raja dan dayang-dayang? Semua itu isapan jempol orientalis. Begitu juga tuduhan keturunannya yang kabur. Semua itu tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Iskandarmuda justeru sahabat ulama. Kalau tidak, mana mungkin di zamannya lahir berbagai kitab agama dan ilmu umum. Mana mungkin di zamannya berlaku hukum syariah.

Masalah keturunan (lihat Silsilah Sumber Perpustakaan dan Museum A Hasjmy) tak perlu kita ragukan, sebab dalam ajaran Islampun hal tersebut tidak penting. Seandainya pun Iskandarmuda tidak punya keturunan, bukan sebuah alasan untuk menjatuhkan marwahnya. Ingat Nabi Muhammad SAW yang tak punya keturunan, sebab anak laki-laki beliau semua wafat ketika  masih kecil.

Menulis sejarah tidak hannya cukup dengan membaca sekian banyak literatur. Tetapi kita perlu mengerti falsafah, agama, adat, kritik sumber, dan sejumlah ilmu bantu lainnya. Bila mereka-reka, bisa tersinggung simbol-simbol kemasyarakatan dan melanggar garis melingkar yang sedang dirancang.

 

« Drs Ameer Hamzah, alumnus Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab IAIN Ar- Raniry, dan wartawan Serambi Indonesia.

 

*Catatan: Akibat keawaman saya, silsilah Sultan Iskandarmuda yang menyertai artikel di atas, belum tersajikan!. (T.A. Sakti – 1 Muharram 1435 H).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s