Syair Aceh: Sultan Iskandar Muda

                           Sultan Iskandar Muda

 

Deungon Bismillah kisah lon lambong

Sultan nyang Agong ulon calitra

Iskandar Muda raya that untong

Aceh geulindong bak  marabahya

 

Bahya rot Barat teuka meugulong

Bandum geusinthong lam laot raya

Bahya rot Timu dijak meuron-ron

Laju geusayong hanjan jihoi Ma

 

Aceh lam aman  leubeh  30  thon

Kuta ngon gampong dame sijahtra

Sampe ‘an jinoe ta sanjong – sanjong

375 thon  dumnan ka lama

  ( baca: lhee tujoh limong )

 

Pakon  roh  teuma geusanjong sanjong

Kon kareuna mbong bukeuti hana

Jinoe lon seubut mangat neuhitong

Pakon jeuet lambong Iskandar Muda

 

Nyang phon kheurajeuen luah meuglong – glong

Troh Semenanjong Selat Malaka

Bengkulu Riau tanggoe Belitong

Borneo Lampong kon Aceh saja

 

Teuma keudua sigra lon singgong

Peng meuh sinoe phon di Nusantara

Deureuham peng Aceh nilai jih lambong

Jeuet bloe barang dum ban saboh donya

 

Masa nyan Aceh   tinggi  tamaddon

Na surat sion tinggai keu tanda

Keu daweuet ie meuh gohlom gob peuphon

Tanda bit Agong Iskandar Muda

 

Keu Ratu Inggreh geukirem langsong

Tanda  meusambong ka meusyeedara

Keu 4 lon peugah kisah meusambong

Diplomat Agong Iskandar  Muda

 

Portugeh Inggreh Cina nanggroe Rom

Bandum hai kawom hubungan mesra

Yoh nyan Beulanda goh meuho untong

Aceh ka harom ban saboh donya!!!

                                            ( T.A. Sakti )

Catatan: Sumber ilham terbersit  dari surat Sultan Iskandar Muda kepada Raja Kerajaan Inggris, dalam buku Mohammad Said, ” Aceh Sepanjang Abad” jilid I, halaman 320.

 

 

 

                             Bale Tambeh, 27 Desember 2011

                        …. terdengarlah …. Bang meughreb!

 

 

Iklan

Sultan Iskandarmuda dalam Literatur Sejarah

 

Iskandarmuda dalam Literatur Sejarah

Oleh: Tuanku Abdul Jalil

 

Pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1993 lalu, Bapak Prof. Syamsuddin Mahmud yang baru beberapa bulan menjabat Gubernur Aceh mendapat kehormatan untuk  menerima anugerah Sultan Iskandar Muda. (1607-1636) sebagai Pahlawan Nasional di Istana Negara, Jakarta. Sejarah Aceh tentang Iskandarmuda dapat disimak dalam berbagai literature yang ditulis dalam bahasa Indonesia, Belanda, dan Inggris koleksi Pusat Dokumentasi Aceh di Banda Aceh.

Dalam tahun 1893-1894 Dr. C. Snouck Hurgronje mengangkat sejarah Aceh ke permukaan dalam karya De Atjehers I dan II. Dalam tahun 1906 diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh O’Sullivan (Achehnese I-II).

Sejarah Aceh  (Iskandarmuda) dalam konteks perbandingan sumber anak negeri dengan sumber asing termasuk kritik sumbernya, dapat disimak dalam Critisch overzicht vande in lameische werken vervatte gegevens over de geschiedenis van het Soeltanaat van Atjeh dalam BKI 65.1911. hal 135 – 265, karya Raden Hoesein Djajadiningrat.

Penelitian purbakala Islam di Aceh dalam tahun 1914-18 (oudheidkundige verslag) dan komparatifnya dengan kitab sejarah Aceh Bustanus-salatin  karya Nuruddin Ar-Raniry di abad ke 17 telah menghasilkan rekonstruksi silsilah sultan Iskandarmuda dan leluhurnya (lihat Encyclopaedie van Ned. Indie (AG) I. Mr.Dr. J Paulus dkk. 1917, hal 88/genealogisch overzicht der Atjehsche Soeltans tot 1675).

Penulis Belanda yang mengangkat nilai dan martabat Aceh dan sekaligus membetulkan karya Snouck (de Atjehers yaitu J. Kreemer dalam karyanya Atjeh I dan II (1922-23), dalam tahun 1034 terbit Atjehsch Nederlandsch Woordenbaoek dua jilid karya Dr Hoesein Djajadiningrat. Terkandung di dalamnya martabat dan kebudayaan Aceh yang Islami.

Sejarah Aceh atau Iskandarmuda dalam konteks kakeknya Alauddin sebagai pengasuh, menurut satu versi anak nelayan yang perkasa (Otto Syamsuddin Ishak, Iskandarmuda, Pahlawankah dia?”, Serambi Indonesia 18 November 1993 hal 4 alinea 5) telah bertentangan dengan Encyclopaedie yang disebutkan di atas.

Ensyclopaedie membakukan bahwa kakek Iskandarmuda, yaitu Sultan Aluddin Riayat Syah Saidilmukammil (1599-16040) bin Almalik Firman Syah bin Sultan Muthafar itu terkenal dengan  Poteumeureuhom Daya (Sultan Ali Riayat Syah, Mangkat pada 12 November 1508).

Dalam sejarah ada satu versi yang menyatakan bahwa Iskandarmuda diracun oleh wanita yang dikirim oleh Raja Makasar ke Aceh sebagai Hadiah (Otto Syamsuddin Ishak, ibid, alinea 14).” Ternyata tidak pernah ada sejarah hijrah wanita Makassar ke Aceh, baik dalam karya Snouck, Hoesein Djajadiningrat, J Kreemer maupun T.J.Veltman dalam Nota over de Geschedenis van het Landschap Pidie, TBG: 58, 1919, hal 79 dan seterusnya.

Yang hijrah ke Aceh dan menetap di Pidie adalah dua ulama dari Sulawesi Selatan, pertama. Teungku dari Sidenreng. Lidah orang Aceh menyebutnya Teungku Seundri yang makamnya terletak di Masjid Raya Lama Pidie. Kedua, Teungku Sigeuli (makamnya di belakang Hotel Mali, Sigli). Menurut Veltmen, asal muasal nama Sigli berasal dari nama Teungku Sigeuli.

Ulama lainnya dari Wajo (Sulawesi Selatan). Demikian Veltman, sepulangnya dari selesai menunaikan ibadah haji di Mekkah beliau  akhirnya menetap  di kampung Reubee, Pidie, namanya Daeng Mansur.

Makam Daeng Mansur dan anaknya Putri Seuni, permaisuri Sultan Iskandarmuda masih diziarahi orang di kampung Reubee. Pidie. Baru-baru ini pun, 7 November 1993, di bawah pimpinan Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Saudara Ishak Kaba dan beberapa pengurus telah berziarah ke makam Daeng Mansur dan Putri Seuni. Penulis berterima kasih sekali kepada ulama Reubee, Teungku Muhammad Arbi dan T Anwar Camat Delima, Drs Safari Haitami Kandepag Pidie dan masyarakat/tokoh yang demikian rupa ramahnya menerima ziarah KKSS.

Taqdirullah Putri Seuni mangkat di Reubee setelah melahirkan Ratu Safiatuddin Syah binti Sultan Iskandarmuda (1607-1636), kemudian Ratu ini terkenal sebagai permaisuri sultan Aceh asal Pahang Iskandar Thani (1636-1641)

Perkawinan Iskandarmuda dengan  putri Pahang tanpa keturunan, sementara keturunannya, Iskandarmuda, dari isterinya wanita Abbesinia terkenal dengan keturunan yang bergelar Panglima Polem (HM .Zainuddin, Singa Atjeh. Cet pertama, 1959, hlm. 191-192).

Karena tanpa putra mahkota Meurah Pupok disebabkan mangkat karena hukum rajam oleh Iskandarmuda sendiri sesuai dengan  amanah, menantunya Iskandar Thani (1636-1641), suami Ratu Safiatuddin dinobatkan menjadi Sultan Aceh. Setelah mangkat, Iskandarmuda (27 Desember 1636) dan Iskandar Thani (15 Februari 1641), lembaran sejarah Aceh mencatat pemerintahan 4 Ratu selama 60 tahun (1675-1699) dan dilanjutkan oleh 4 sultan Aceh keturunan Arab bergelar Al-Jamalullail (1699-1726).

Untuk meredam pergolakan politik tiga Panglima Sagi di Aceh Besar (Dewan Pemilih sultan) menetapkan sultan Aceh Ahmad Syah (1727-1735) bin Abdurrahim bin Zainal Abidin (Teungku di Lhong) bin Daeng Mansur bergelar Teungku Chik di Reubee, (Hikayat Pocut Muhammad dalam bahasa Inggris oleh GWJ Drewes, koleksi PDIA dan KFH van Langen. De inrichting van het Atjehsche Staatsbestuur, 1888, hal 24). Met hem begint de Boeginceshe dynastie in Atjeh (dengan sultan Amad Syah permulaan Dinasti Bugis sebagai sultan-sultan Aceh, tulis Raden Hoesein Djajadiningrat dalam Critisch overzicht).

Dalam rangka penulisan sejarah Aceh (Sultan Iskandarmuda), sering dianjurkan kepada beberapa mahasiswa yang melakukan penelitian di PDIA (Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh) untuk mempergunakan buku “Aceh Sepanjang Abad I, cetakan pertama, 1982, karya H Muhammad Said sejarawan kawakan yang berorientasi Indonesia-sentris sebagai mana diamanahkan oleh bapak Prof. Dr. Sartono Kartosudirdjo dan bapak Prof Dr Teuku Ibrahim Alfian, Ibrahim Alfian, Rekonstruksi masa Lampau, Bulletin Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM No. 2 1969, hal 5).

Marilah kita bersyukur ke Hadhirat Allah SWT, bahwa Pemerintah Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 45 telah menganugerahkan enam pahlawan nasional untuk Aceh.

 

*Tuanku Abdul Jalil, Sekretaris Pusat Dokumentasi dan Informasi, Propinsi Daerah Istimewa Aceh.

 

_( Sumber:  Serambi Indonesia, 20 November 1993 halaman 4 ).

Negara Agraria dan Maritim – Pandangan Penulis Barat terhadap Sultan Iskandar Muda!

Negara Agraria dan Maritim

Oleh: Onghokham

 

DALAM Kompas 16 Mei 1983 kami menulis mengenai dua bentuk negara tradisional yakni negara maritim dan agraria yang terdapat di Indonesia. Dalam tulisan kini kami akan membicarakan struktur dari kedua bentuk itu. Mengapa struktur dan tradisi negera tradisional ini kini penting dan diteliti serta diperdebatkan di kalangan ilmuwan sejarah dan sosial? Banyak sejarawan dan ilmuwan sosial kini berpendapat bahwa akar masa lampau dari kebanyakan negara modern sangat penting untuk menjelaskan masa kini atau dengan perkataan lain ada kelangsungan antara masa lampau dan kini. Hal ini menyangkut soal pembangunan atau penjelmaan masyarakat tradi­sional menjadi masyarakat mo­dern.

Para sejarawan biasanya melihat dua masalah mengenai transformasi atau penjelmaan masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Kedua masalah itu terdapat dalam masyarakat tradisional yang lebih kuat, Negara (pusat) atau masyarakat (elite, petani dan orang biasa).

Dalam sejarah dunia yang biasanya dilihat sebagai memiliki pusat atau negara kuat itu adalah Prusia. Rusia, Cina: yang melahirkan da­lam abad ke 19 dan 20 negara-negara otokratis atau totaliter. Sebaliknya kalau negara tradi­sional berstruktur pada unsur masyarakat dan bukan pusat, biarpun unsur masayarakat itu dapat bersifat feudal penjelmaan negara modernnya dalam demokratis seperti Eropa Barat bagian Utara khususnya Inggris, Amerika, Belanda dan Jepang di Asia.

Dengan demikian masalah negara maritim atau agraria sebenarnya merupakan masalah negara kita kini, yakni mana yang lebih penting negara atau masyarakat?.  Selain itu kita sebenarnya bertradisi negara maritim atau agraris?.

 

Masyarakat Maritim

Satu hal yang menyolok me­ngenai struktur politik maritim ialah bahwa umumnya lemah bila dibandingkan dengan negara ag­raria, artinya kedudukan pusat atau raja baik terhadap elite (bangsawan) yang disebut Orang Kaya (Orang Java = pembesar) maupun terhadap rakyat penduduk kota.

Dikisahkah di Aceh misalnya. para Orang Kaya tinggal di kediaman yang baik pertahanannya. Mungkin ada bagian-bagian rumah masyarakat suatu generasi dan lapisan Orang Kaya baru dengan alasan para Orang Kaya itu jahat, merongrong tahta dan mencuri dari negara.

Akan tetapi setelah Iskandar wafat pada tahun 1636 para Orang Kaya merebut kembali kedudukan dan mereka berhasil memilih sebagai raja seorang putri, anak Iskandar dengan pertimbangan bahwa seorang sultan putri lebih mudah dipengaruhi oleh dewan Orang Kaya daripada seorang sul­tan putra. Hal ini dipermudah karena Iskandar telah menghukum mati semua putranya demi menghindari persaingan tahta. Selama tiga generasi setelah Iskandar wafat para orang kaya Aceh kemudian memperoleh hak kembali untuk memilih raja dan yang dipilih selalu seorang putri.

Kesultanan dan kraton Aceh tidak demikian penting dan hancurnya lembaga ini belum tentu runtuhnya negara atau ma­syarakat seperti dialami Hindia Belanda yang menyerang Aceh dalam tahun 1874. Biar pun kesultanan Aceh dihapus dan ibukota diduduki para pemimpin ma­syarakat, yakni para Orang Kaya atau Hulubalang, Ulama bersama rakyat tetap mengadakan perlawanan sampai puluhan tahun.

Bahwa seorang raja di negara maritim tidak berkuasa mutlak juga terlihat di kesultanan Maritim Banjarmasin di mana seorang  mencoba melarang para Orang Kaya Banjarmasin untuk mengubah penanaman lada melulu yang pada waktu itu mencapai harga tinggi. Sultan melihat bahaya ketergantungan ekonomi kerajaan dari hanya satu hasil dan sultan menganjurkan penanaman padi, meskipun gagal. Ternyata dalam hal ini kebijaksanaan sultan seharusnya diikuti sebab ekonomi Banjarmasin akan hancur tidak lama setelah nasihat bijaksana itu karena merosotnya harga lada dan dengan demikian jatuh juga ke­dudukan Banjarmasin.

Contoh klasik lain di mana elite politik yang bekuasa bukan seo­rang raja adalah Makasar di mana ada perimbangan kekuasaan anta­ra para Orang Kaya dan raja. Biarpun menurut mitologi Bugis raja itu keturunan dewa dan diturunkan kebumi untuk mengadakan manusia namun ditekankan juga bahwa “…seorang raja yang tidak meminta nasihat para menteri akan dihancurkan… Malapetaka akan menimpa kerajaan bila nasehat ini tidak dimintakan dari para menteri yang mempunyai kedudukan elite baik Orang kaya-maupun penduduk berkedudukan lebih kuat terhadap pusat, yakni raja dari pada di negara agraria. Di negara agraria, raja berkuasa secara relatif absolut dan kedudukannya baik terhadap elite politik yang disebut priyayi (=adik raja dalam arti abstrak) dan terhadap rakyat petani.

Semuanya di negara agraria bergantung pada tanah. Para priyayi memperoleh upeti dan kerja bakti dari petani mereka. Upeti ini sering dalam bentuk sebagian dari panen atau dalam natura yang sukar disembunyikan dan tidak tahan lama, pokoknya kedudukannya lain daripada harta. Demikian juga para petani sangat tergantung dari tanah dan tidak dapat meninggalkannya maupun menyembunyikan panen sehingga terikat dengan struktur politis karena ia menentukan penghasilan dari bawah sampai atas.

Di samping faktor tanah sebagai sumber penghasilan yang menjelaskan absolutisme raja, di negara agraria ada berbagai sarjana yang menunjukan bahwa negara agraria karena kebutuhannya akan air. Suatu unsur kebutuhan yang serba kurang yang terpaksa melahirkan semacam birokrasi dan kontrol untuk mengurus pembagiannya pada petani yang saling berebut memperoleh unsur ini.

 

Manusia sebagai Tenaga

Akan tetapi kalau kami membicarakan, manusia di negara maritim atau agraria lebih terikat dengan struktur atau lebih bebas darinya, kami sebenarnya lupa bahwa mungkin sebagian besar rakyat berada di luar ikatan tradisional sama sekali.

Di negara maritim misalnya, jumlah budak sangat tinggi. Budak ini diperoleh karena-pembelian, karena uang piutang atau karena tawanan perang. Tenaga manusia dalam perekonomian tradisional merupakan satu-satunya tenaga yang sangat penting dan kedudukan pejabat atau raja sering diukur dari jumlah tenaga ini yang merupakan kekuatan ekonomis, politis dan militernya. Sebab semuanya seperti pertanian dan bangunan dikerjakan dengan tenaga manusia. Perang dalam zaman dahulu sering dilakukan untuk menawan manusia untuk dipergunakan sebagai budak dan tidak untuk memperluas daerah.

Sebab untuk hal yang terakhir ini kerajaan tradisional tidak memiliki alat-alat seperti tentara pendudukan dan korps pejabat yang dapat menguasai daerah taklukan yang jauh dari ibu kota di istana yang dibuat dari batu dan dikelilingi air. Di dalam kediaman itu ada banyak pengikut dan pengawal sedangkan pintu gerbang masuk dijaga dengan meriam. Hanya sekali semasa kesultanan Aceh para Orang Kaya tunduk pada raja, yakni semasa pemerintahan Iskandar Muda (1607 – 36) yang merebut tahta melalui pemberontakan dan membunuh semua Qrang Kaya untuk mengganggu para menterinya.

“Adat” di negara-negara maritim menempati kedudukan sangat penting sebab raja tidak boleh mengguncangkan apa yang telah ditetapkan oleh nenek-moyang. Banyak negara maritim di Indone­sia sebenarnya sangat dipengaruhi oleh pepatah Melayu atau konsep-konsep politiknya. dan “kalau raja adalah api maka para menterinya adalah kayu bakar, api tidak bisa menyala tanpa bahan ini”. Memang di kerajaan Melayu sering kita dapatkan di samping dinasti raja keluarga-keluarga bangsawan yang turun-temurun seperti dinas­ti patih, bendaharawan. laksamana yang tidak kurang penting dari dinasti raja.

 

Dasar ekonomi

Sebab dari kedudukan kuat elite politik di negara maritim adalah dasar ekonominya. Para Orang Kaya tidak mendapat penghasilan dari upeti atau kerja bakti rakyat. Kalau para Orang Kaya agak bebas dari pengawasan raja, maka rakyat juga bebas dari kontrol para Orang Kaya, artinya tidak membayar upeti dan kerja-bakti dan hanya dalam keadaan perang rakyat harus tunduk pada pimpinan. Orang Kaya. Namun selanjutnya tidak. Kebebasan relatif sama satu sama lain. Agak lepasnya struktur poli­tik dan ekonomi demikian ini disebabkan jenis mata pencarian masing-masing golongan.

Para orang Kaya mendapatkan penghasilan dari beacukai kapal-kapal atau pedagang-pedagang yang lewat tempat yang mereka kuasai, selain penghasilan lain dari perdagangan. Dengan singkat bisa dikatakan sumber ekonomi negara maritim ini berupa uang tunai atau barang dan dasar kekuatan adalah harta. Harta adalah sesuatu yang jauh lebih mudah untuk disembunyikan, dibawa ke tempat lain. Dengan singkat harta lebih sukar diawasi, karena sifat mobilnya.

Demikian juga kedudukan penduduk, yang kebanyakan terdiri dari tukang, nelayan, pedagang kecil. mereka dengan mudah dapat pindah ke pelabuhan atau kerajaan maritim lain. Penghasil­an mereka lebih sukar diawasi daripada penghasilan seorang petani yang harus tetap berdiam di tanahnya dengan hasil panen yang tidak dapat demikian mudah di­sembunyikan. Para tukang, nela­yan lebih punya bekal tawar menawar dengan para pembesar daripada petani di negara agraria yang kalau tidak ada tanah juga tidak berpenghasilan.

Dasar ekonomi ini yang menyebabkan di negara maritim kepihak biar pun tenaga manusia ini demikian berharga, pengangkutan para tawanan perang meminta korban yang bukan main besarnya. Ketika Sultan Iskandar Muda dari Aceh mengalahkan salah satu kerajaan di Semenanjung Malaya, maka yang ditawan berjumlah 22.000 orang dan yang sampai di Aceh tidak lebih dari 15.000. Sult­an Agung dari Mataram mendeportasi 40.000 orang Madura ketika pulau itu ditaklukan olehnya dan berapa yang sampai di Mata­ram, dari jumlah itu tidak diketahui namun pasti banyak korbannya.

Salah satu penyebab korban demikian banyak dalam transportasi.para tawanan perang adalah logistic. yakni persediaan bahan makanan dan lain faktor kesehatan yang primitif. Soal logistik ini menyebabkan peperangan tidak dapat berlangsung lama di medan perang dan biasanya berbentuk ekspedisi kilat. Banyak tentara berjumlah besar yang kalau lama di medan “mencair seperti balok es di sinar matahari panas”. Tenta­ra lari atau mati karena kekurangan pangan. Lebih mudah seperti dilakukan Aceh dan Makasar adalah membeli budak. Kesempatan ini tiba pada akhir abad ke-17 bagi Aceh yang mengimpor budak dalam ribuan dari Koromandel (India Selatan) ketika di daerah itu timbul kelaparan selama bertahun-tahun dan orang terpaksa menjual diri sebagai budak.

Biar pun di negara agraria persoalan budak tidak demikian ba­nyak dibicarakan, namun di Mata­ram rupanya ada banyak orang yang tidak terikat dengan struktur desa maupun politik lain. Pada abad ke 18 misalnya ada laporan yang mengatakan, di jalan besar antara Yogyakarta dan Semarang ada kira-kira 30.000 sampai 40.000 kuli (batur) para pekerja kasar yang tidak punya rumah tetap dan berpakaian hanya de­ngan cawat tanpa baju. Para kuli ini mengangkut barang dan kehidupannya dikatakan liar. Kalau ada uang sedikit mereka akan judi dan sering ada perkelahian antara mereka.

Tentu juga dilaporkan bahwa kalau ada kesempatan, mereka mencuri dan merampok atau mengganggu keamanan. Namun mereka adalah unsur ekonomi yang penting,  yakni sebagai tenaga pengangkut biar pun hidup di luar suatu ikatan apa pun juga. Pada setiap pemberontakan yang tim­bul para kuli ini akan memakai kesempatan apa saja.   ( Bersambung  ke hal V kol. 1 – 8)

Sempena Hari Pahlawan hari ini, 10 November 2013: Iskandarmuda Meukuta Alam

 

Iskandarmuda Meukuta Alam

 

Oleh: Ameer Hamzah

 

Suara tokek di Meureudu dengan di Pase sangat berbeda. Di Meureudu suaranya  ko’o-ko’o dan di Pase berbunyi e’ee. e’eee. Mengapa? Seorang peneliti suara satwa bertanya kepada orang-orang tua yang ada di Aceh.

Jawabannya, ternyata sa­ngat seragam. Di Meureudu pernah singgah Poteu Meureuhom Iskandar Muda, sedang di Pase tidak. maka suara tokek berbeda. Jawaban seperti itu memang tak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah, namun dalarn masyarakat telah sangat populer.

Sultan Iskandarmuda me­mang sudah menjadi legendaris. Namanya sangat agung dan hampir tak ada lidah orang Aceh yang tak pernah menyebut nama itu.

Istilah Poteu Meureuhom dalam ungkapan hadih maja, Adat bak Poteu Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala. adalah gelar yang disempenakan kepadanya setelah sultan tersebut mangkat.

la seorang sultan terbesar yang pernah dimiliki Kerajaan Aceh Darussalam. Kekuasaannya meluas mencakupi semua wilayah Sumatera sampai ke Semenanjung Tanah Melayu (M Said: Aceh Sepanjang Abad, halaman 147).

Kerajaan Deli dan Aru ditaklukkannya pada tahun 1612 M. Johor 1613, Pahang, Kedah, Perak,  Singapura dan Batam dalam tahun 1617-1620 M. Pulau Nias, Asahan,  Indragiri dan Jambi 1623-1625 M’ dan menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1629 M. Singkat kata, seluruh Sumatera dan Semenanjung Malaya sudah berada di bawah kekuasaannya.

Zamannya adalah zaman kegemilangan dan puncak keemasan bagi Aceh dan daerah taklukannya. Bandar Aceh Darussalam menjadi kiblat ilmu pengetahuan di belahan bumi Asia Tenggara.

Banyak ulama dan sarjana yang datang dari Arab, India, Persia, dan Gujarat untuk bermukim di Aceh. Di sini mereka menjadi guru-guru besar yang mengajar ilmu pengetahuan di Perguruan Tinggi Darusy Syariah Jamiah Baiturrahmam Bandar Aceh Darussalam. Mahasiswa datang dari berbagai penjuru nusantara.

Para pujangga dan penyair, penari dan penyanyi juga mendapat tempat tersendiri dalam istana sultan. Iskandarmuda bagaikan Harun Ar-Rasyid yang pernah berkuasa di Bag­dad.

Petani dan pedagang hidup sejahtera karena hasil yang berlimpahruah. Tak ada orang kaya yang kikir dan orang miskin yang dengki. Aceh masa itu menurut Prof Dr Hamka — benar-benar sudah mencapai, taraf Baldatun Thayyibatun wa Rabbul Ghafuur (Sejarah Umat Islam PT Bulan Bintang, 1977).

Sultan memerintah dengan adil dan bijaksana berdasarkan hukum yang berlaku di zamannya.yakni hukum syariah yang berdasarkan al-Quran, hadits, ijmak, dan qias. Banyak pelaku kejahatan yang mati dibunuh berdasarkan hukum hudud.

Hukum baginya adalah amanah Allah. Karena itu siapa saja yang berbuat melanggar hukum akan menerima risiko hukum, meski anak kandungnya sendiri. Dalam menjalankan hukum tidak pilih kasih. Ini dibuktikan dalam sejarah. Meurah Pupok, putranya yang dipersiapkan untuk menjadi pengganti (putra mahkota) — telanjur berbuat zina dengan isteri seorang menteri. Karena itu baginda sangat murka. Ia memerintahkan serdadu untuk menangkap anaknya itu dan memerintahkan hakim untuk merajamnya sampai mati.

Banyak pembesar istana yang ingin mengesampingkan risiko hukum terhadap putra mahkota. Mereka menggoda baginda supaya membatalkan hukum tersebut. Tapi dengan tegas Iskandarmuda menjawab: Mate aneuek meupat jrat, gadoh adat pat tamita. (Mati anak tinggal kuburan, hilang adat kemana dicari) (Prof A Hasymy: Iskandarmuda Meu kuta Alam). Dalam hal ini ia serupa dengan Umar bin Khattab yang menghukum rajam putranya Abu Syamah karena kasus yang serupa juga.

Sultan Iskandarmuda yang berkuasa sejak tahun 1607-1636 memang tak tertandingi. la seorang penakluk yang sa­ngat berhasil. la menaklukkan tapi bukan untuk menjajah. la seorang negarawan besar yang sangat cinta kepada agama Islam dan saudara serumpunnya di Sumatera dan Semenan­jung Melayu yang sudah dalam cengkeraman penjajah Portugis. Makanya ncgeri-ncgcri yang ditaklukkan tak pernah merasa kecewa, kecuali raja-raja yang hilang kekuasaan.

Rakyat dalam negeri-negeri yang ditaklukkan menganggap Iskandarmuda sebagai pahlawan yang telah membebaskan mereka dari pengaruh kolonialisme Barat. Bahkan kemenangan-kemenangan yang didapatnya bukan semata-mata karena kekuatan pasukan Aceh, melainkan juga karena adanya tentara yang membelot karena benci kepada kolonialisme dan bonekaisme Portugis.

Ketika Iskandarmuda dan angkatan lautnya bertekat untuk membebaskan Tanah Semenanjung Melayu (sekarang Malaysia) dari penjajahan Portugis, banyak cerita yang menarik kita baca dalam buku sejarah.

Sultan Iskandarmuda menerapkan etika perang menurut Islam yang diajarkan Rasulullah SAW. Bila rnusuh dapat dikalahkan jangan disiksa, jangan dirampok hartanya, dan jangan pula diganggu wanitanya. Sebaliknya, bila mati da­lam peperangan adalah syahid. Jangan lari dari medan perang, kecuali untuk mengatur strategi.

Dengan etika perang yang mulia itulah, kejayaan yang dicapai Iskandarmuda hampir serupa dengan kejayaan yang dipcrolehi Abubakar, Umar bin Khattab, Usman, Ali  dan Mu­hammad al-Fateh dari Turki.

Pasukan Aceh (Iskandarmu­da) dengan gemilang berturut-turut dapat menaklukkan selu­ruh negeri  yang ada di Sumatera dan Semenanjung Melayu. Nama beliaupun hidup subur menjadi lagenda di Tanah Se­menanjung.

Belum lama ini. (2/11) penulis berada di Kampong Acheh, Yan Kedah Malaysia. Saya bertanya kepada Ustaz Haji Ibrahim bin Haji Abdurrahman sesepuh masyarakat Aceh di sana. Sejak kapan masyarakat Aceh sudah bermukim di sini? “Sejak Poteu Meureuhom Iskandarmuda menaklukkan Kedah,” jawabnya.

Nama Iskandarmuda, tetap dikenang di sana. Hikayat Malem Dagang yang merupakan kisah Iskandarmuda masih dibaca oleh masyarakat Aceh di Yan. Meski sudah ratusan tahun mereka terpisah dari tanah Aceh, Serambi Makkah. Begitu juga masyarakat Melayu di Pahang. Mereka tidak melupakan jasa Iskandarmuda yang telah memuliakan Putroe Phang

 Beliau juga seorang pria yang romantis dan sangat be­sar kasih sayangnya terhadap musuh yang sudah ditawannya. Setelah Pahang menyerah dan menawan anggota kerajaan, ia jatuh cinta kepada putri cantik bernama Kamaliah (Pu­troe Phang). Ia kawin dan memboyongnya ke Aceh.

Untuk mengobat hati putri Pahang yang luka karena ayahnya kalah, maka Sultan Iskan­darmuda membuat sebuah taman yang indah, (Raudhatul Isyqi lengkap dengan tempat permandian, tempat pelipur lara di pinggir Krueng Daroy. Itulah yang kita kenal seka­rang Taman Sari, Taman Pinto Khop dan Gunongan.

Sebenarnya masih sangat banyak yang harus kita tulis tentang orang besar Aceh Ini, sebab ia telah banyak mewariskan pusaka terhadap kita semua. la telah mengangkat harkat dan martabat umat Islam nusantara dari kekejaman kolonialisme Barat. Ia telah berbuat yang beIum dibuat oleh pendahulunya dan oleh sultan-sultan sesudahnya.

Tulisan ini hanya secuil ungkapan rasa bangga dan kesyukuran kita karena Sultan Iskandarmuda Meukuta Alam telah disahkan menjadi Pahlawan Naslonal oleh Pemerintah Republik Indonesia. Hari Pahlawan Nasional 10 Nevember yang kita peringati hari ini rasanya sangat indah dari yang sudah-sudah, sangat bermakna dari sebelumnya. Seorang pahlawan sejati telah kita beri tempat yang layak untuk dihormati.

Bagi rakyat Aceh Iskandar­muda adalah simbol keadilan, simbol kemakmuran dan kebesaran. Jadi, bukan simbol impian dan nostalgia. Masa lalu adalah masa lain, denting waktu tak mungkin terulang kembali.

Tugas kita sekarang, bukan bernostalgja (cet langet) terhadap prestasi yang diraih Iskandarmuda dan juga pahlawan-pahlawan kita yang lain, tetapi berkarya yang lebih baik lagi dari karya pcndahulu kita. Kalau Iskandarmuda dalam waktu yang relatif singkat dapat mengubah wajah kemiskinan menjadi kemakmuran, rasanya kita juga perlu meniru.

 

Ameer Hamzah, Wartawan Harian Serambi Indonesia.

 

( Sumber: Serambi Indonesia, Rabu, 10 November 1993 halaman 4).

Ya!, Sultan Iskandarmuda Pahlawan Nasional Sejati!

YA! ISKANDARMUDA, PAHLAWAN SEJATI!

Oleh: Ameer Hamzah

 

Seorang penulis kontemporer, Otto Syamsuddin Ishak  meragukan keabsahan anugerah pahlawan kepada Poteu Meureuhom Iskandarmuda. la menanyakan Iskandarmuda, Pahlawankah dia? (Serambi 18/11).

Isi tulisan itu dianggap tidak salah jika sumbernya berasal dari para orientalis yang sinis terhadap Islam. Otto tahu itu. Hanya saja latar belakang apa yang menyertai tulisan itu, memang telah menimbulkan banyak pertanyaan. Misalnya, apakah ia ingin mencari sensasi, sebab namanya belum sepopuler Abdurrahman Wahid dan Nurcholis Madjid?.  Memang salah satu cara mudah mencari popularitas pada zaman sekarang dengan melemparkan ide-ide kontroversial. Ini hanya dugaan!

Sebenarnya para sejarawan Islam sudah lama membuang pikiran-pikiran orientalis dan mencoba menganilisis kembali dengan penuli tanggung jawab. Tulisan penulis asing (Barat) sangat subyektif terhadap pahlawan-pahlawan Islam, termasuk Iskandarmuda.

Karena itu. sejarawan Islam, seperti Prof Ahmad Syalabi, Prof Dr. Hasan Ibrahim Hasan (mantan Rektor Universltas Al-Azhar, Kairo), atau Prof. Dr. Thaha Husein dari Universitas AL -Azhar Kairo pernah mengingatkan sejarawan Islam yang belajar ke Barat agar jangan terpengaruh dengan pandangan miring orientalis terhadap tokoh-tokoh Islam.

Menurut Thaha Husein dalam bukunya Al-Tharikh wa Siasah (1978). analisis orienta­lis terhadap Islam adalah racun yang dibungkus dengan kertas ilmiah untuk menuba umat Islam sendiri. Sebagai contoh, Saidina Umar bin Khattab yang sudah dijamin masuk syurga oleh Nabi,  Orientalis masih menuduh Umar seorang yang haus kekuasaan. Alasan mereka, Umar seorang penakluk yang sangat banyak menumpahkan darah. Umar menegakkan Islam dengan mata pedang, bukan dengan kebijaksanaan. Khalifah kaum muslimin itu sangat kejam dan zalim. Sebelum masuk Islam, Umar seorang pemabuk dan pembunuh anak perempuan, termasuk anaknya sendiri. Begitulah antara lain tuduhan kaum orientalis.

Lalu disebut lagi bahwa setelah wafat Nabi, ia bersekongkol dengan Abubakar untuk merampas kekuasaan dari orang yang paling berhak. yakni Ali bin Abi Thalib. Selama berkuasa, menurut sumber Barat, Umar sangat banyak membunuh tokoh oposisi, termasuk Said bin Ubaidah  pimpinan masyarakat pribumi Madinah. Ia juga banyak membunuh orang-orang kaya de­ngan dalih tidak mau membayar zakat. Cerita ini dapat dibaca dalam banyak literatur ori­entalis.

Bukan hanya Umar yang menjadi sasaran fitnah orien­talis. Nabi Muhammad sendiri tak luput dari kritikan dan fitnah. Yang paling mutakhir. barangkali novel The Satanic Verses (Ayat-ayat syetan) oleh Salman Rushdi.

Husein bin Ali bin Abi Thalib yang syahid dalam tragedi Karbala, bagi umat Islam ada­lah pahlawan syahid. Ia berjuang untuk menegakkan keyakinan dan kebcnaran. Tetapi apa kata Dillot? Husein orang bodoh yang tidak tahu politik dan strategi perjuangan. la sudah tahu tidak mampu melawan pasukan Yaziz yang kuat, tetapi ia tidak mau berdamai. Bukankah itu usaha bunuh diri?, tanya Dillot.

Pahlawan-pahlawan kita yang lain, seperti Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, menurut orientalis terutama sejarawan Belanda juga tidak dianggap pahlawan. Mereka mencari berbagai alasan dan kelemahan, bukan yang faktual.

Diponegoro dituduh melawan Belanda karena mcmpertahankan harta bendanya yang ingin diambil pemerintah Hindia Bclanda demi kepentingan rakyat. Begitu juga tentang Imam Bonjol dan Teuku Umar. Bahkan Teuku Umar dituduh pengkhianat dan munafik, sebab pernah berpihak kepada mereka. Setelah dipersenjatai dengan lengkap, Umar berbalik melawan mereka.

Perspektif sejarah tersebut sepatutnya menjadi tazkirah (peringatan) bagi siapa saja yang ingin menulis tentang sejarah. Kalau tidak, tak usah memberanikan diri. Tulis saja soal lain atau opini tentang SDSB.

Halnya Iskandarmuda, kalau dicoba menganalisis dari sudut pandang Islam dan keacehan, ia benar-benar pahlawan besar dan sejati. la lebih besar dari Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Teuku Chik Di Tiro. Panglima Polem, dan semua pahlawan yang dimiliki Indonesia.

Kalau pahlawan lain hanya berjuang melawan Belanda yang semuanya berakhir de­ngan kekalahan, justeru Iskandarmuda berjuang untuk menaklukkan negeri-negeri Islam dan Kristen yang sudah menjadi boneka kolonial Portugis, Inggris, dan Belanda. la berhasil, sehingga Kerajaan Aceh Darussalam kala itu merupakan lima besar di dunia.

Sultan Iskandarmuda bukan orang kikir dan zalim, bukan pembunuh elit politik. Nara sumber yang Otto cantumkan itu semuanya berasal dari orientalis. Kalau Otto mau jujur dalam ungkapannya, tentu ia harus menggunakan pula sumber-sumber Islam. Misalnya, kita sepakat lebih percaya kepada Bustanussalatin. Karya Syeh Nuruddin Ar-Rarniry sebab ulama itu hidup di zaman Iskandarmuda dan Iskadar Tsani. Nuruddin bukan semata-mata ahli fikih, lalu seorang politikus. Sebab zaman itu belum ada spesialisasi ilmu. Seperti halnya Iskandarmuda ia bukan hanya negarawan tetapi juga seorang ulama (baca: Kanun  Meukuta Alam).

Siapa bilang istana hanya diperuntukkan bagi putri raja dan dayang-dayang? Semua itu isapan jempol orientalis. Begitu juga tuduhan keturunannya yang kabur. Semua itu tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Iskandarmuda justeru sahabat ulama. Kalau tidak, mana mungkin di zamannya lahir berbagai kitab agama dan ilmu umum. Mana mungkin di zamannya berlaku hukum syariah.

Masalah keturunan (lihat Silsilah Sumber Perpustakaan dan Museum A Hasjmy) tak perlu kita ragukan, sebab dalam ajaran Islampun hal tersebut tidak penting. Seandainya pun Iskandarmuda tidak punya keturunan, bukan sebuah alasan untuk menjatuhkan marwahnya. Ingat Nabi Muhammad SAW yang tak punya keturunan, sebab anak laki-laki beliau semua wafat ketika  masih kecil.

Menulis sejarah tidak hannya cukup dengan membaca sekian banyak literatur. Tetapi kita perlu mengerti falsafah, agama, adat, kritik sumber, dan sejumlah ilmu bantu lainnya. Bila mereka-reka, bisa tersinggung simbol-simbol kemasyarakatan dan melanggar garis melingkar yang sedang dirancang.

 

« Drs Ameer Hamzah, alumnus Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab IAIN Ar- Raniry, dan wartawan Serambi Indonesia.

 

*Catatan: Akibat keawaman saya, silsilah Sultan Iskandarmuda yang menyertai artikel di atas, belum tersajikan!. (T.A. Sakti – 1 Muharram 1435 H).

Sultan Iskandar Muda, Siapakah Dia?.

 

Iskandarmuda, Pahlawankah Dia?

 

                       Oleh: Otto Syamsuddin Ishak

 

             Ada tiga fakta sejarah yang menarik ketika mengetahul Sultan Is­kandarmuda mendapat anugerah sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 1993 lalu. Pertama, tentunya penganugerahan predikat Pahlawan Nasional dengan dasar kegigihannya mempertahankan prinsip kedaulatan. Kedua, yang menerima anugerah bukan keturunannya langsung, tetapi Syamsuddin Mahmud, selaku Gubernur Aceh. Ketiga, hal ini mengingatkan saya pada pernyataan Umar Kayam pada seminar dalam rangka PKA III, yakni, kira-kira bunyinya, setiap penguasa (tradisional) yang besar, adalah penakluk yang besar, dan sekaligus yang pa­ling banyak menumpahkan darah, baik dari pihaknya, manpun dari pihak yang ditaklukkan.

Pernyataan ini mendapat sanggahan yang emosional dari seorang peserta. Bahwa itu pernyataan yang keliru karena Iskandarmuda adalah seorang sultan sebagaimana dirinya, tentu orang Aceh.

           Lantas, adakah kini ketika Iskandarmuda dinobatkan sebagai pahlawan, dengan jarak waktu sekitar 350-an tahun ia mangkat, kita sudah mendapatkan sosok yang jelas tentang dirinya? Apa dan siapakah la. Iskandarmuda, yang telah menjadi bagian dari mitos keacehan? Raja yang sultan, yang membangkitkan emosi kita bila ada pernyataan yang “miring” terhadap dirinya. betapa pun tak jelasnya garis keturunan sang sultan.

 

          Siapa dia?

           Iskandarmuda lahir sekitar 1590. la memiliki banyak nama dan gelar. Ada saatnya ia bernama Darmawangsa,  Perkasa Alam,  Tun Pangkat, Meukuta Alam  dan akhirnya Meureuhum Meukuta Alam. Namun la diasuh oleh (bukan) kakeknya, Alauddin Riayat Syah. Ayah Mansur, adalah salah satu cucu dari salah satu anak Al-Kahhar. Ibunya Indra Wangsa, adalah cucu Al-Mukammil dari putri tersayang.

Jadi Alauddin, kakek pengasuhnya, menurut satu versi, anak nelayan yang perkasa, yang berhasil meniti karier sebagai laksamana. la berhasil naik tahta, karena Ali Riayat Syah, sultan yang didaulat oleh elit penguasa dikudeta. Sedangkan cucu dari anak perempuannya, yang merupakan kandidat sultan, masih dl bawah umur, dan meninggal di pangkuan Alauddin.

Namun, menurut versi lain, Alauddin adalah elit penguasa yang tertua di saat terjadi kevakuman kekuasaan. Atas kesepakatan elit lainnya. ia diangkat sebagai sultan, dan mem­bunuh semua elit yang tak mendukung untuk mendaulatnya pada saat upacara pelantikan sebagai Sultan Aceh.

Alauddin mangkat karena dibunuh oleh anaknya, Sultan Muda. yang kemudian duduk sebagai Sultan Aceh, adalah juga paman Iskandarmuda. Dcmikianlah, kita dapat membayangkan bagaimana latar keluarga dan latar sosial dimana Iskandarmuda dibesarkan; dan sejauhmana pengaruhnya terhadap pembentukan wataknya.

 

         Menjadi sultan

           Saat masih bemama Darmawangsa. ia banyak menimbulkan kesulitan bagi Sultan Mu­da, pamannya itu. Lantias ia meminta perlindungan pada pamannya yang lain, juga adiknya Sultan Muda, yakni Sultan Husin yang berkuasa di Pedir.

Kemudian, Perkasa Alam dilepas dari tahanan Sultan Muda karena diserahkan memimpin  penyerangan ke Kuta Lubok yang dikuasai Portugis. Namun, ketika la kembali ke Kutaraja dari penyerangan yang meraih kemenangan itu, ia justeru mengkudeta Sultan Muda.

Ada dua hal di sini yang menarik, pertama. ia mendapat dukungan dari Kadi Malikul Adil. Dalam lain kata, ulama istana, biasanya ulama fiqh seperti Nuruddin Ar-Raniry, juga terlibat dalam intrik politik di istana kesultanan. Kedua, Iskandarmuda menangkap Husin, paman pelindungnya, yang juga menginginkan jabatan sultan. Husin meninggal dalam status tahanan ponakannya itu.

 

 

 

          Sebagai sultan

             Sebagaimana Alauddin, tindakan pertama yang dilakukan oleh Iskandarmuda adalah membunuh semua elit pengu­asa dan orang kaya lama, dan membentuk yang baru. Baru ia mengadakan penaklukkan,  di antaranya:  Johor, Pahang, Patani, Malaka, Aru dan daerah Sumatera belahan Timur khususnya.

Iskandarmuda berkuasa antara tahun 1607-1636. Me­nurut Beaulieu, Laksamana Prancis, yang dikutip oleh Mohammad Said, sultan memiliki sejumlah kapal perang yang panjangnya 120 kaki, dengan; sejumlah bilik, dan mampu mengangkut 700-800 tentara per buah. Sultan memelihara sekitar 900 ekor gajah. Lalu tersedia baginya 300 pandai emas dan sejumlah tukang kayu, serta 1.500 hamba sahaya

Sedangkan istana dikelilingi oleh parit yang lebar de­ngan kedalaman 25-30 kaki, dan dinding batu setinggi 10-20 kaki dengan ketebalan 50 langkah. Untuk keamanan tersedia 500 orang pengawal khusus, 3.000 prajurit siaga, dan tujuh pucuk meriam.

               Lantas kita pun dapat membayangkan bagaimana Iskan­darmuda membangun jaringan kekuasaan, struktur elit baru dengan membasmi yang lama; dan juga membangun perlindungan bagi dirinya. Apakah itu semua dapat menunjukkan kondisi psikologis Iskandarmuda yang merasa kekuasaannya tidak terjamin, dan atau latar sosial  Aceh memang begitu labil pada saat itu sehingga sekalipun merupakan sebuah kesultanan (pemerintahan politik Islam tradisional) di tengah latar sosial Islam tetap saja tak terjamin kcberadaannya.

 

           Sebagai pribadi

             Istana hanya diperuntukkan bagi sultan, para  isteri, serta 20 orang putrinya dan seorang putra yang berusia 18 tahun. Beaulieu juga menginformasikan watak Iskandar, yang tidak dikutip Said melainkan oleh Denys Lombard.

Iskandarmuda sering begitu saja naik pitam dan pingsan. la sangat curiga terhadap golongan elit orang kaya, yang dianggapnya jahat dan kejam. Lantas bersama putrinya, ia sering melakukan penyiksaan terha­dap wanita yang dicurigainya secara kejam hingga tiga jam lebih lamanya dengan peralatan yang telah dlrancang secara khusus. Ia senang melihat penyiksaan binatang yang dilakukan atas perintahnya. Hal ini agaknya berkaitan dengan masa kanak-kanaknya yang telah berburu gajah liar pada usia 7 tahun, dan kerbau pada usia 12 tahun sebagai bagian pendidikan kesatriaan dari kakek asuhnya, Alauddin.

             Namun, hal yang paling tragis adalah sebab kematian Iskandarmuda yang misterius, dan justeru terjadi pada usia kematangannya, yakni 46 ta­hun. Menurut satu versi, ada kemungkinan ia meninggal karena terserang penyakit yang bersumber dari Ibu Iskandar Tsani, Putri Pahang yang jelita. Sedangkan versi lain, ia diracun oleh wanita yang dikirim oleh raja Makasar ke Aceh sebagai “hadiah”.

            Untuk merekonstruksi kematian Iskandarmuda, ada baiknya kita pertimbangkan hal berikut: pertama, keseluruhan proses suksesi para Sultan dan Sultanah Aceh; kedua. pembasmian para elit oleh Iskandar sendiri; ketiga, struktur sosial dan budaya yang labil; keempat, penjaga keamanan yang ketat di sekitar dirinya; dan kelima, khusus sikap Iskandar terhadap wanita. Kita dapat menyimpulkan kematian Iskandar Muda ada kaitannya dengan racun, wanita, intrik kekuasaan  elit sekitarnya, dan suksesi.

 

          Penutup

           Dari satu episode sejarah sekaligus puncaknya ini,  ada banyak sisi yang masih gelap dan hikmah yang dapat kita ambil. Oleh karena itu barangkali ini tugas sejarawan kita perlu melakukan rekonstruksi sejarah kesultanan Aceh. Apalagi saat ini ketika Iskandarmuda telah dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional karena hasratnya yang kuat untuk mempertahankan prinsip kedaulatan diri. Bagaimana  mungkin, seorang sultan yang telah menjelma sebagai mitos itu, garis keturunannya di saat ini menjadi begitu kabur?

Mungkin, inilah mengapa mitos itu tak pernah membangkitkan etos bagi generasi sekarang, justeru ketika Aceh semakin definitif dan memiliki konstruk sosial yang lebih mapan.  Itulah juga mengapa, sebagaimana mitos, tokoh itu tak meninggalkan jejak-jejak budaya di mana kita bisa merefleksikan diri. melainkan emosi-emosi apologis yang ahistoris. Namun demikian. Iskandarmuda, itulah  pahlawan kita, salah satu acuan dalam pencarian diri kita sendiri.

 

 

*Otto Syamsuddin Ishaq

Adalah Direktur Center for Region

And Human Studies, Banda Aceh.

 

( Sumber: Serambi Indonesia,  18 November 1993 ).