Nasib Makam Permaisuri Sultan Iskandarmuda Yang Hampir Punah

Makam Permaisuri Sulthan Iskandar Muda Yang Hampir Punah

Olleh: A.Hasjmy

(II – Penutup)

 

Makam Daeng Mansur Teungku Chik Direubee, tidak membuat kami menjadi gembira, kalau enggan dikatakan sangat menyedihkan, karena makam yang terletak dalam pekarangan yang begitu luas kelihatannya kotor tidak terpelihara. Bangunan tempat makam berteduh adalah sebuah gubuk tua yang telah reot dan pada ujung selatan gubuk yang menunggu rubuh ituterdapat ruang sempit yang kumuh, tetapi tinggal khadam yang menjaga makam orang besar yang hampir dilupakan itu. Khadam ini masih bernasib baik, karena penziarah yang lumayan banyak selalu memberi kepadanya “sekedar sedekah” dan kadang-kadang dibawa pula hidangan nasi, yang biasanya dengan lauk-pauk yang agak mewah bagi “Bapak Khadam” tersebut.

Pada hari kami berziarah ke sana, datang pula satu rombongan penziarah dari Grong-Grong, banyaknya satu bus, dengan hidangan yang cukup untuk sekitar 20 orang. Sekalipun diminta dengan  sangat agar kami ikut makan bersama, namun kami terpaksa menolaknya, karena kami lihat banyak anak-anak dan beberapa orang kampung yang seharusnya diberi makan terlebih dahulu.

Berbeda dengan makam Teungku Chik Direubey, makam Puteri Seni Ratna Indera tidak seorangpun yang mengetahui tempatnya, juga khadam makam Teungku Chik Direubey tidak mengetahui. Setelah kami bertanya kepada banyak orang, kami dapat orang-orang setengah baya, memberi tahu kepada kami, bahwa mungkin sekali orang kaya Said dapat membantu bapak dalam hal ini, katanya.

Dengan petunjuk orang yang baik hari ini, kami diantar ke satu kedai kecil di desa Reubey, yaitu kedai kepunyaan orang kaya Said memang nyatanya, O.K Said mengetahui tempat yang kami tuju.

Jirat putroe Sani ada dalam pekarangan rumah anak saya “kata orang kaya Said dengan sedikit bangga.

Dengan didahului orang kaya Said, kami menuju ke tempat bermukim makam puteri Seni Ratna Indera. O.K. Said membuka kunci pintu pekarangan rumah anaknya. Yang berpagar kuat, mungkin karena dalam tanah pekarangan itu sedang menghijau pohon ubi kayu dan macam-macam tanaman lainnya. Bersama–sama O. K. Said kami mencari makam yang dimaksud, Karena O.K Said sendiri sudah tidak mengetahui persis  lokasinya. Akhirnya di tengah-tengah pekarangan yang luas yang penuh dengan pohon ubi kayu dan rerumputan yang tumbuh subur, saya melihat sebuah “batu nisan” yang hampir terbenam dalam tanah. Saya bergegas ke batu nisan itu yang diikuti O. K. Said dan rombongan saya.

“ya, betul makam Sani”, teriak O. K. Said.

Sekalipun hati sangat kecewa, tetapi tidak saya perlihatkan kepada O. K. Said. Dengan tidak membuang–buang waktu saya ajak O. K. Said dan rombongan saya untuk membersihkan makam tersebut, mencabut rumput yang menutupi, memotong semak belukar kecil sekiranya dan membuang unggukan tanah yang meninggi, sebagai hasil kerja rayap  peluhan tahun, dan kemudian muncul makam itu sekedar dapat difoto. Batu nisan kepala telah patah ujungnya, sementara tulisan kaligrafi Arab tidak dapat dibaca karena terbalut dengan  tanah. Batu nisan kaki telah tergeser dari tempatnya.

Walau bagaimanapun, kami cukup berbahagia, karena dalam masa 40 tahun ini kamilah orang pertama yang berusaha untuk mendapat lokasi makam Puteri Sendi Ratna Indera (puteri Sani), anak kandung Maharaja Lela Daeng Mansur (Teungku di Reubey) dan permaisuri pertama Sulthan IskandarMuda  Meukuta Alam.

Waktu kami tanya, bagaimana hubungan O.K. Said dengan  Putei Sendi Ratna Indera dan Daeng Mansur, beliau menjawab.

Kuchik ulontuan jameun jameun  saboh Ma saboh Yah ngon Ma putroe Sani (kakek saya dulu – dulu saudara kandung dengan ibunda Puteri Sani).

Dari keterangan itu, dapat kita pahami, bahwa kakek-kakek  O. K. Said dahulu adalah saudara kandung dengan isteri Daeng Mansur. Mungkin sekali, bahwa isteri Daeng Mansur (kakek/kuchik O. K. Said) salah seorang puteri istana Reubey. Menurut sebuah sumber bahwa isteri Daeng Mansur adalah puteri raja Hussein Syah (Raja Muda Pidie), jadi mertua Daeng Mansur adalah mamandanya sendiri, yaitu Raja Hussein Syah, adik ayahandanya (Maharaja Diraja).

Setelah member  sekedari  sedekah kepada Orang Kaya Said yang “tidak kaya” diiringi permohonan agar beliau merawat dan membersihkan makam “kemenakan kuchiknya” dengan hati kecewa bercampur harapan, kami berangkat menuju Banda Aceh Darussalam….

Muzakarah ASEAN

Telah menjadi adat (tradisi) Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Aceh, tiap – tiap tahun mengadakan rapat kerja yang dilanjutkan dengan sebuah muzakarah (seminar), yang kadang-kadang wilayah jangkauannya lokal, nasional, ASEAN atau antar bangsa (internasional). Dalam rapat kerja, hanya dihadiri pimpinan MUI Daerah Istimewa Aceh dan utusan MUI tiap – tiap daerah tingkat II dalam Daerah Istimewa Aceh, sementara para peserta muzakarah ialah orang yang diundang sesuai dengan tema dan tujuan muzakarah / seminar.

Dalam pelaksanaan muzakarah, MUI Daerah Istimewa Aceh bekerja sama dengan Pemda Daerah Tingkat II bersangkutan dan lembaga lain.

Dalam melaksanakan Muzakarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Asia Tenggara yang telah berlangsung beberapa tahun yang lalu, bertempat di Rantau Kuala Simpang, Aceh Timur,  MUI Daerah Istimewa Aceh bekerjasama dengan Pemda Aceh Timur dan Pertamina Rantau Kuala Simpang. Para peserta muzakarah, kecuali dari Aceh dan wilayah-wilayah Indonesia lainnya, juga dari Negara  ASEAN, India, Australia dan Amerika serikat.

Dua tahun kemudian  berlangsung seminar (muzakarah) Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan di Takengon. Untuk melaksanakan muzakarah ini, MUI Daerah Istimewa Aceh bekerja sama denga Pemda Aceh Tengah, sementara pesertanya datang dari berbagai wilayah Indonesia, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia dan Pattani (Thailan Selatan).

Setahun kemudian, berlangsung pula Muzakarah Pembangun di Lhokseumawe (dalam komplek PT Arun). Untuk melaksanakan muzakarah ini, MUI Daerah Istimewa Aceh bekerjasama dengan Pemda Aceh Utara, P.T Arun, PT Pupuk Iskadarmuda dan PT Pupuk Asean, sementara para pesertanya datang dari seluruh wilayah Indonesia dan Negara-negara Asean.

Berikutnya berlangsung Muzakarah Pembangunan Sabang di Kotamadya Sabang. Untuk melaksanakan muzakarah ini, MUI Daerah Istimewa Aceh bekerjasama dengan Pemda Kotamadya Sabang, sementara pesertanya hanya dari Indonesia saja.

Pada awal tahun 1988, berlangusng Muzakarah Pembangunan Pantai Barat/Selatan, yang untuk melaksanakannya, MUI Daerah Istimewa Aceh bekerjasama dengan Pemda Aceh Barat dan Kanwil Koperasi, sementara para pesertanya hanya dari Indonesia.

Tahun 1989 (tepatnya tanggal 19-2 Januari 1989) akan diadakan Muzakarah Pembinaan Generasi Muda bertempat di Kampus Universitas Jabal Ghafur, Sigli, Kabupaten Aceh Pidie dan Universitas Jabal Ghafur, sementara para pesertanya, insya Allah, akan dating dari seluruh wilayah Indonesia, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Pattani/Thailan Selatan dan Philipina.

Menurut rencana Muzakarah Pembinaan Generasi Muda akan dibuka oleh Menteri Pemuda dan  Olahraga, Akbar Tanjung. Sekitar 30 makalah akan dibahas dalam muzakarah ini, diantanya tiga makalah kunci, yang masing-masing akan disampaikan oleh  Ir. Akabar Tanjung (Menteri Pemuda dan Olahraga), Prof Dr Ibrahim Hasan (Gubernur / Kepal Daerah Istimewa Aceh) dan Kiyai Hasan Basri (Ketua Umum MUI Pusat).

Selebihnya, dua makalah Yogyakarta, lima makalah  dari Jakarta, dua makalah dari Medan, satu  makalah dari Brunei, satu makalah dari Singapura, tiga makalah dari Malaysia, dua makalah dari Pattani/Thailan Selatan, dua makalah dari Philipina dan beberapa makalah dari Aceh sendiri.

Dalam rangka pelaksanaan muzakarah tersebut diadakan beberapa paket wisata untuk para peserta muzakarah, antara lain dua makam di kecamatan Reubey, yaitu makam Maharaja Lela Daeng Mansur dan makam Putri Sendi Ratna Indera (Permaisuri Sulthan Iskandarmuda).

Harapan kepada Pemda Pidie.

Agar kunjungan peserta muzakarah ke Reubey mendapat kesan yang indah, adalah wajar kalau sebelumnya kedua makam tersebut diperbaiki.

Tidak ada salahnya, kalau harapan ini ditujukan kepada sdr Bupati/Kepala Daerah Pidie dan kepada Camat serta rakyat Reubey. Menurut keterangan Bupati Pidie kepada saya sekarang di Jakarta terdapat seorang keturunan Daeng Mansur/Teungku Chik di Reubey, yang dengan kurnia Allah telah menjadi orang kaya yang kaya benar. Alangkah indahnya, kalau keturunan dua almarhum itu turun tangan untuk merehab kedua makam Orang Besar Nusantara yang telah menempati tempat khusus dalam lembaran sejarah dunia.

Mudah-mudahan!.

Banda Aceh Darussalam, 20 Desember 1988

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s