Nasib Makam Permaisuri Sultan Iskandarmuda Yang Hampir Punah

Makam Permaisuri Sulthan Iskandar Muda Yang Hampir Punah

Olleh: A.Hasjmy

(II – Penutup)

 

Makam Daeng Mansur Teungku Chik Direubee, tidak membuat kami menjadi gembira, kalau enggan dikatakan sangat menyedihkan, karena makam yang terletak dalam pekarangan yang begitu luas kelihatannya kotor tidak terpelihara. Bangunan tempat makam berteduh adalah sebuah gubuk tua yang telah reot dan pada ujung selatan gubuk yang menunggu rubuh ituterdapat ruang sempit yang kumuh, tetapi tinggal khadam yang menjaga makam orang besar yang hampir dilupakan itu. Khadam ini masih bernasib baik, karena penziarah yang lumayan banyak selalu memberi kepadanya “sekedar sedekah” dan kadang-kadang dibawa pula hidangan nasi, yang biasanya dengan lauk-pauk yang agak mewah bagi “Bapak Khadam” tersebut.

Pada hari kami berziarah ke sana, datang pula satu rombongan penziarah dari Grong-Grong, banyaknya satu bus, dengan hidangan yang cukup untuk sekitar 20 orang. Sekalipun diminta dengan  sangat agar kami ikut makan bersama, namun kami terpaksa menolaknya, karena kami lihat banyak anak-anak dan beberapa orang kampung yang seharusnya diberi makan terlebih dahulu.

Berbeda dengan makam Teungku Chik Direubey, makam Puteri Seni Ratna Indera tidak seorangpun yang mengetahui tempatnya, juga khadam makam Teungku Chik Direubey tidak mengetahui. Setelah kami bertanya kepada banyak orang, kami dapat orang-orang setengah baya, memberi tahu kepada kami, bahwa mungkin sekali orang kaya Said dapat membantu bapak dalam hal ini, katanya.

Dengan petunjuk orang yang baik hari ini, kami diantar ke satu kedai kecil di desa Reubey, yaitu kedai kepunyaan orang kaya Said memang nyatanya, O.K Said mengetahui tempat yang kami tuju.

Jirat putroe Sani ada dalam pekarangan rumah anak saya “kata orang kaya Said dengan sedikit bangga.

Dengan didahului orang kaya Said, kami menuju ke tempat bermukim makam puteri Seni Ratna Indera. O.K. Said membuka kunci pintu pekarangan rumah anaknya. Yang berpagar kuat, mungkin karena dalam tanah pekarangan itu sedang menghijau pohon ubi kayu dan macam-macam tanaman lainnya. Bersama–sama O. K. Said kami mencari makam yang dimaksud, Karena O.K Said sendiri sudah tidak mengetahui persis  lokasinya. Akhirnya di tengah-tengah pekarangan yang luas yang penuh dengan pohon ubi kayu dan rerumputan yang tumbuh subur, saya melihat sebuah “batu nisan” yang hampir terbenam dalam tanah. Saya bergegas ke batu nisan itu yang diikuti O. K. Said dan rombongan saya.

“ya, betul makam Sani”, teriak O. K. Said.

Sekalipun hati sangat kecewa, tetapi tidak saya perlihatkan kepada O. K. Said. Dengan tidak membuang–buang waktu saya ajak O. K. Said dan rombongan saya untuk membersihkan makam tersebut, mencabut rumput yang menutupi, memotong semak belukar kecil sekiranya dan membuang unggukan tanah yang meninggi, sebagai hasil kerja rayap  peluhan tahun, dan kemudian muncul makam itu sekedar dapat difoto. Batu nisan kepala telah patah ujungnya, sementara tulisan kaligrafi Arab tidak dapat dibaca karena terbalut dengan  tanah. Batu nisan kaki telah tergeser dari tempatnya.

Walau bagaimanapun, kami cukup berbahagia, karena dalam masa 40 tahun ini kamilah orang pertama yang berusaha untuk mendapat lokasi makam Puteri Sendi Ratna Indera (puteri Sani), anak kandung Maharaja Lela Daeng Mansur (Teungku di Reubey) dan permaisuri pertama Sulthan IskandarMuda  Meukuta Alam.

Waktu kami tanya, bagaimana hubungan O.K. Said dengan  Putei Sendi Ratna Indera dan Daeng Mansur, beliau menjawab.

Kuchik ulontuan jameun jameun  saboh Ma saboh Yah ngon Ma putroe Sani (kakek saya dulu – dulu saudara kandung dengan ibunda Puteri Sani).

Dari keterangan itu, dapat kita pahami, bahwa kakek-kakek  O. K. Said dahulu adalah saudara kandung dengan isteri Daeng Mansur. Mungkin sekali, bahwa isteri Daeng Mansur (kakek/kuchik O. K. Said) salah seorang puteri istana Reubey. Menurut sebuah sumber bahwa isteri Daeng Mansur adalah puteri raja Hussein Syah (Raja Muda Pidie), jadi mertua Daeng Mansur adalah mamandanya sendiri, yaitu Raja Hussein Syah, adik ayahandanya (Maharaja Diraja).

Setelah member  sekedari  sedekah kepada Orang Kaya Said yang “tidak kaya” diiringi permohonan agar beliau merawat dan membersihkan makam “kemenakan kuchiknya” dengan hati kecewa bercampur harapan, kami berangkat menuju Banda Aceh Darussalam….

Muzakarah ASEAN

Telah menjadi adat (tradisi) Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Aceh, tiap – tiap tahun mengadakan rapat kerja yang dilanjutkan dengan sebuah muzakarah (seminar), yang kadang-kadang wilayah jangkauannya lokal, nasional, ASEAN atau antar bangsa (internasional). Dalam rapat kerja, hanya dihadiri pimpinan MUI Daerah Istimewa Aceh dan utusan MUI tiap – tiap daerah tingkat II dalam Daerah Istimewa Aceh, sementara para peserta muzakarah ialah orang yang diundang sesuai dengan tema dan tujuan muzakarah / seminar.

Dalam pelaksanaan muzakarah, MUI Daerah Istimewa Aceh bekerja sama dengan Pemda Daerah Tingkat II bersangkutan dan lembaga lain.

Dalam melaksanakan Muzakarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Asia Tenggara yang telah berlangsung beberapa tahun yang lalu, bertempat di Rantau Kuala Simpang, Aceh Timur,  MUI Daerah Istimewa Aceh bekerjasama dengan Pemda Aceh Timur dan Pertamina Rantau Kuala Simpang. Para peserta muzakarah, kecuali dari Aceh dan wilayah-wilayah Indonesia lainnya, juga dari Negara  ASEAN, India, Australia dan Amerika serikat.

Dua tahun kemudian  berlangsung seminar (muzakarah) Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan di Takengon. Untuk melaksanakan muzakarah ini, MUI Daerah Istimewa Aceh bekerja sama denga Pemda Aceh Tengah, sementara pesertanya datang dari berbagai wilayah Indonesia, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia dan Pattani (Thailan Selatan).

Setahun kemudian, berlangsung pula Muzakarah Pembangun di Lhokseumawe (dalam komplek PT Arun). Untuk melaksanakan muzakarah ini, MUI Daerah Istimewa Aceh bekerjasama dengan Pemda Aceh Utara, P.T Arun, PT Pupuk Iskadarmuda dan PT Pupuk Asean, sementara para pesertanya datang dari seluruh wilayah Indonesia dan Negara-negara Asean.

Berikutnya berlangsung Muzakarah Pembangunan Sabang di Kotamadya Sabang. Untuk melaksanakan muzakarah ini, MUI Daerah Istimewa Aceh bekerjasama dengan Pemda Kotamadya Sabang, sementara pesertanya hanya dari Indonesia saja.

Pada awal tahun 1988, berlangusng Muzakarah Pembangunan Pantai Barat/Selatan, yang untuk melaksanakannya, MUI Daerah Istimewa Aceh bekerjasama dengan Pemda Aceh Barat dan Kanwil Koperasi, sementara para pesertanya hanya dari Indonesia.

Tahun 1989 (tepatnya tanggal 19-2 Januari 1989) akan diadakan Muzakarah Pembinaan Generasi Muda bertempat di Kampus Universitas Jabal Ghafur, Sigli, Kabupaten Aceh Pidie dan Universitas Jabal Ghafur, sementara para pesertanya, insya Allah, akan dating dari seluruh wilayah Indonesia, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, Pattani/Thailan Selatan dan Philipina.

Menurut rencana Muzakarah Pembinaan Generasi Muda akan dibuka oleh Menteri Pemuda dan  Olahraga, Akbar Tanjung. Sekitar 30 makalah akan dibahas dalam muzakarah ini, diantanya tiga makalah kunci, yang masing-masing akan disampaikan oleh  Ir. Akabar Tanjung (Menteri Pemuda dan Olahraga), Prof Dr Ibrahim Hasan (Gubernur / Kepal Daerah Istimewa Aceh) dan Kiyai Hasan Basri (Ketua Umum MUI Pusat).

Selebihnya, dua makalah Yogyakarta, lima makalah  dari Jakarta, dua makalah dari Medan, satu  makalah dari Brunei, satu makalah dari Singapura, tiga makalah dari Malaysia, dua makalah dari Pattani/Thailan Selatan, dua makalah dari Philipina dan beberapa makalah dari Aceh sendiri.

Dalam rangka pelaksanaan muzakarah tersebut diadakan beberapa paket wisata untuk para peserta muzakarah, antara lain dua makam di kecamatan Reubey, yaitu makam Maharaja Lela Daeng Mansur dan makam Putri Sendi Ratna Indera (Permaisuri Sulthan Iskandarmuda).

Harapan kepada Pemda Pidie.

Agar kunjungan peserta muzakarah ke Reubey mendapat kesan yang indah, adalah wajar kalau sebelumnya kedua makam tersebut diperbaiki.

Tidak ada salahnya, kalau harapan ini ditujukan kepada sdr Bupati/Kepala Daerah Pidie dan kepada Camat serta rakyat Reubey. Menurut keterangan Bupati Pidie kepada saya sekarang di Jakarta terdapat seorang keturunan Daeng Mansur/Teungku Chik di Reubey, yang dengan kurnia Allah telah menjadi orang kaya yang kaya benar. Alangkah indahnya, kalau keturunan dua almarhum itu turun tangan untuk merehab kedua makam Orang Besar Nusantara yang telah menempati tempat khusus dalam lembaran sejarah dunia.

Mudah-mudahan!.

Banda Aceh Darussalam, 20 Desember 1988

Iklan

Beginilah Nasib Makam Para Sultan, Ulama dan Pujangga Aceh Sekarang Ini!- Cuplikan Karya Prof. A.Hasjmy

RANUP SIGAPU

BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM

1.      Risalah ini saya namakan “KEBUDAYAAN ACEH DALAM SEJARAH”, dengan pengertian bahwa buku ini mengemukakan kembali kebudayaan Aceh seperti yang termaktub dalam kitab-kitab sejarah dan catatan- catatan lainnya, dan saya susun dengan sistematika modern. Jadi, ia belum merupakan buku sejarah kebudayaan Aceh yang berfungsi meriwayatkan kebudayaan dari segala seginya.

2.      Dalam menyusun buku ini, kesulitan yang pertama saya hadapi yaitu kurangnya buku- buku bacaan mengenai sejarah Aceh, terutama mengenai sejarah kebudayaan. Sungguhpun demikian, dengan bahan-bahan yang ada dalam perpustakaan saya dan dengan bantuan bahan dari teman-teman, teristimewa Sdr. Teungku M. Yunus Jamil dan Teungku Haji Abdullah Ujong Rimba, maka risalah ini telah dapat saya selesaikan p ada tanggal 2l Rabiul Akhir 1392 (3 Juni 1972), sebagai langkah kearah penyusunan sebuah buku sejarah kebudayaan Aceh yang lengkap, yang harus dimulai sejak zaman sebelum Islam

3Karena kesulitan bahan seperti yang tersebut diatas, maka uraian mengenai lembaga- lembaga pendidikan (dayah- dayah), karya- karya sastera dan riwayat para ulama, sangat tidak memadai dibandingka 4.      Semua buku hikayat Aceh yang saya pakai dan bicarakan dalam risalah ini, adalah naskah lama tulisan tangan huruf Arab atau salinan kembali dari nask5.      Buku Qanun Meukuta Alam yang sering saya ambil bahannya dalam menyusun risalah ini, adalah naskah lama tulisan tangan huruf Arab, dan nomor- nomor halamannya yang dicantumkan pada tiap- tiap foot-note yaitu nomor halaman dari naskah yang ada pada saya.

6.      Buku Adat Aceh With Introduction adalah salinan dari buku tersebut yang diterbitkan/dicetak s’-Gravenhage-Martinus Nijhoof, Nederland. Jadi nomor- nomor yang tercantum pada foot-note adalah nomor- nomor pada naskah salinannya yang ada pada saya.

7.      Cara kebetulan, bahwa risalah ini selesai saya susun menjelang berlangsungnya Pekan Kebudayaan Aceh Kedua, yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus s/d 2 September 1972, dan menurut tanggapan saya bahwa usaha Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh mengadakan Pekan Kebudayaan Aceh Kedua dan usaha saya menyusun risalah ini bertujuan sama, yaitu mengetengahkan kembali kebudayaan Aceh dalam rangka membina Kebudayaan Indonesia yang lengkap menyeluruh.

8.      Adapun gambar- gambar dan fotocopi- fotocopi yang dimuat dalam buku ini, adalah diangkat dari koleksi album pribadi saya

9.      Risalah yang bernama kebudayaan Aceh Dalam Sejarah ini, setelah selesai saya susun ia telah menjadi hak masyarakat bangsa Indonesia untuk ditelaah, serta mengadakan usaha lanjutan untuk memperbaiki, menambah dan menyempurnakannya, dan inilah harapan saya satu-satunya.

10.  Wabillahit Taufiq Wal Hidayah !

Banda Aceh. 23 Rabiul Achitr 1392

5 Juni 1972

                 ttd.

                   A. HASJMY

PENGANTAR TAMBAHAN

TENTANG BENDA- BENDA BUDAYA

Setelah buku ini selesai saya susun semakin terasa bagi saya betapa bermanfaatnya turun kelapangan untuk melihat dan mempelajari benda-benda budaya peninggalan zaman jayanya Aceh; zaman Kerajaan Aceh Darussalam telah mencapai kedudukan internasional yang amat mengagumkan.

Demikianlah, selama akhir Juni sampai awal Agustus 1972 hari-hari yang senggang dari kesibukan dinas rutin  saya pergunakan untuk mengunjungi tempat- tempat bersejarah, dimana terdapat kuta- kuta (benteng), kandang- kandang para Sulthan dan makam para ulama, baik yang berada di Banda Aceh ataupun di tempat tempat lain.

Untuk melengkapi buku ini, saya berpendapat ada baiknya menurunkan dibawah ini beberapa catatan tentang benda- benda budaya yang saya kunjungi itu.

KUTA INONG BALE

Kesempatan yang pertama pada tanggal 20 Juni 1972, saya pergunakan untuk mengunjungi Kuta Indrapatra di Ladong Kecamatan Darus Salam, Kuta Mukuta Alam, Kuta Inong Bale dan Makam Laksamana Malahayati yang ketiga- tiganya terletak sekitar Krueng Raya Kecamatan Mesjid Raya.

Kuta Inong Bale (Benteng Wanita Janda) terletak  kira-kira 7  kilo meter dari Krueng Raya, di atas bukit yang menghadap ke Teluk Krueng Raya yang indah, tinggi dari permukaan laut kita-kita l00 m. Dan panjang kuta ini kira-kira 600 m. Kuta Inong Bale ini terdiri dari benteng utama yang dilingkari dengan tembok yang sangat kuat, dan kuat menyeluruh dimana di dalamnya terdapat bangunan-bangunan asrama dan sebuah kolam pemandian yang bernama Kolam Putroe Ijoo, yang masih ada bekas-bekasnya.

Kuta Inong Bale ini adalah pangkalan utama dari Armada Inong Bale yang dibentuk oleh sulthan Alaiddin Riayat Syah I  Saidil Mukammil, yang memerintah tahun 997- 1011 H. (1589-l6 ?? M). Inti dari Armada Inong Bale terdiri dari janda para Syuhada, dengan panglimanya Laksamana Malahayati dan Kepala Stafnya Laksamana Muda Cut Meurah Inseuen.

Tempat terlerak Kuta Inong Bale ini indah sekali dan bersama- sama dengan benda- benda lainnya sekitar Krueng Raya baik sekali untuk menjadi objek turisme.

MAKAM MALAHAYATI

 

Di sebelah selatan Kuta Inong Bale terdapat Makam Laksamana Malahayati, yang terletak di atas sebuah bukit dekat Kampung Kuta, Lam Reh.

Kampung Kuta dahulunya adalah perkampungan perwira dari Armada Inong Bale, ditempat mana Laksamana Malahayati dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseuen serta perwira-perwira lainnya bertempat tinggal.

Makam Laksamana Malahayati yang terletak di atas bukit yang menghadap ke Teluk Krueng Raya, mempunyai batu nisan yang berukiran indah dengan ayat- ayat Quran. Disamping makam Laksamana Malahayati, juga terdapat makam yang lain, mungkin makam Kepala Stafnya Laksamana Muda Cut Meurah Inseuen.

Diatas bukit ini sekarang telah ditumbuhi kayu yang tinggi besar.

KUTA INDRA PATRA DAN KUTA MEUKUTA ALAM

 

Kuta Indrapatra terletak di Ladong Kecamatan Darussalam sekarang, sedangkan Kuta Meukuta Alam (Kuta Iskandar Muda) terletak dekat Teluk Krueng Raya Kecamatan Mesjid Raya.

Kuta Indrapatra lebih besar dari Kuta Meukuta Alam, tetapi bentuk dan arsitekturnya serupa, menandakan, mungkin sekali, bahwa arsitek perencana kedua kuta itu adalah satu orang.

Sekalipun ada orang mengatakan bahwa Kuta Indrapatra adalah peninggalan zaman Hindu, namun saya tidak melihat adanya ursur-unsur Hindu pada kedua kuta ini adalah asli buatan Kerajaan Aceh Darussalam sendiri, sekalipun tidak tertutup kemungkinan bahwa Kuta Indrapatra dibangun diatas puing- puing reruntuhan candi Hindu.

KANDANG BILUY

 

Kesempatan yang kedua pada tanggal 4 Juli 1972, saya pergunakan untuk mengunjungi Kandang Biluy dan Makam Lam Keuneu’euen yang keduanya terletak dalam Kecamatan Darul lmarah.

Dalam Kandang Biluy terdapat makam para Meurah dan para Sulthan serta para keluarganya, yang antaranya Sulthan Alaiddin mudhaffar Syah yang memerintah tahun 895- 902 H. (1490-149 7 M) .

Batunisan-batunisan yang terdapat pada makam-makam di Kandang Biluy ini mempunyai nilai sejarah karena tercatat nama Sulthan dan tanggal mangkatnya, dan juga mempunyai nilai seni yang tinggi karena ianya berukiran dengan huruf- huruf Arab yang bermotifkan ayat- ayat Quran.

Baik untuk kepentingan sejarah ataupun untuk kepentingan turisme, maka Kandang Biluy sangat memerlukan kepada perawatan dan pengawetan yang pantas.

MAKAM LAM KEUNEU’EUEN

 

Makam Lam Keuneu’euen ini telah tua usianya, yaitu telah lebih dari 700 tahun. Makam Lam Keu Neu’euen ini, yaitu makam dari Syekh Abdullah Kan’an, seorang ulama besar yang bersama-sama  dengan Meurah  Johan sekitar  tahun  576 H. (1180 M) datang ke Aceh Besar untuk menjalankan dakwah Islam.

Syekh Abdullah Kan’an inilah yang mula-mula membawa bibit lada ke Aceh sehingga beliau dapat disebut Bapak Lada Aceh.

Setelah beliau dimakamkan ditempat tersebut, maka kemudian makamnya terkenal dengan sebutan Makam Teungku Chik Lam Keuneu’euen yang lama kelamaan oleh lidah Aceh menjadi Lampeueneu-euen, sehingga sampai sekarang demikianlah namanya, bahkan kampong itu pun telah bernama Kampung Lam Peuneu’euen.

Makam Teungku Chik ini terletak dalam sebuah bangunan yang berbentuk mesjid, yang mungkin dibinanya belum lebih dari 200 tahun, sementara sumur dihadapannya dengan munyeng dari tanah berukir, diduga telah berumur lebih dari 700 tahun.

Pengaruh Teungku Lam Keuneu’euen sangat besar, bukan saja karena beliau seorang ulama dan pembawa Islam pertarna ke Aceh Besar, tetapi juga karena seorang pengusaha dan ahli pertanian yang besar.

Bukti dari besarnya pengaruh beliau sampai sekarang, yaitu kinipun makam beliau masih dikunjungi orang dan masih banyak orang melepaskan  nazar. Pada hari saya berkunjung kesana, terlihat beberapa ekor kambing nazar, yang menurut keterangan khadam makam tersebut bahwa kambing-kambing itu akan disembelih hari

Jum’at mendatang……………….

Dalam komplek pekarangan Makam Teungku Cik Lam Keuneu’euen, terdapat makam Teungku Cik Kuta Karang, seorang ulama dan pengarang kenamaan.

KANDANG COT BADA

 

Kesempatan ketiga pada tanggal l8 Juli 1972, saya pergunakan untuk mengunjungi Kandang Cot Bada, Makam para Meurah sekitar dataran tinggi Mamprai, yang tereletak dalam kecamatan Suka Makmur, dan Kandang Pangoe yang terletak dekat Lam Bhuk Kecamatan Mesjid Raya.

Kandang Cot Bada yang terletak dekat Samahani Kecamatan Suka Makmur, adalah tempat berkuburnya Sulthan Alaiddin Mahmud Syah yang memerintah tahun  l286- 1290 H. (l870-1874 M), Sulthan yang gagah berani dan tahu harga-diri; Sulthan yang menolak

ultimatum Belanda bertanggal 26 Maret 1873.

Sulthan Alaiddin Mahmud Syah meninggal setelah pusat Kerajaan Aceh dipindah keluar kota Banda Aceh, karena Kraton Daruddunia direbut Belanda setelah menjadi puing. Jenazah beliau dibawa ke Cot Bada dan dimakamkan disana, tanpa ada kesempatan untuk

membuat makamnya yang layak sebagai seorang Sulthan yang tidak kenal menyerah.

Saya telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana menyedihkan makam Sulthan ini. Seharusnyalah pemerintah Daerah dan rakyat Aceh secepatnya membina kembali makam Sulthan Alaiddin Mahmud Syah, sehingga menjadi makam yang layak bagi seorang sulthan yang lebih suka meninggalkan istana daripada

menyerah kepada musuh…………

MAKAM-MAKAM SEKITAR MAMPRAI

 

Sekitar dataran tinggi Mamprai banyak terdapat makam para Meurah (raja-raja kecil) dan para ulama kenamaan. Mamprai satu dataran tinggi yang berpemandangan indah, yang menurut cerita beratus tahun yang lalu berpenduduk banyak sekali, sehingga

didaerahnya pernah dibangun satu kota istirahat.

Diantara makam-makam yang terdapat didataran tinggi Mamprai ini, yaitu Makam Meurah Cot Bakkrut (turunan Meurah Eumpee Blieng), Makam Meurah Puteh, Makam Meurah Keunayan (dua yang akhir ini anaknya Meurah Cot Bakkrut), Makam Putroe

Ijoo (putrinya Meurah Cot Bakkrut dan isteri dari Teungku Cik Glee Weueng yang terkenal), Makam Teungku Cik Cot Bruk, seorang ulama besar pencinta binatang.

Pada makam-makam ini, juga terdapat batunisan-batunisan yang berukiran huruf Arab yang indah dengan motif ayat-ayat Quran. Tetapi, sayang sekali karena makam-makam itu telah menjadi tempat istirahat kerbau waktu terik matahari, oleh karena rindangnyadengan kayu-kayu besar…………..

KANDANG LHEUE ULEE LUENG, KANDANG LEU UE.

 

Kesempatan keempat pada tanggal 21 Juli 1972, saya pergunakan untuk mengunjungi Kandang Lheue, Kandang Ulee Lueng dan Kandang Leu Ue, yang semuanya terletak dalam Kecamatan Darul Imarah.

Kandang Lheue yang terletak di Kampung Paya Trieng, didalamnya antara lain terdapat makam Meurah Jiee yang berbatu nisan besar tinggi serta berukiran yang bermotifkan ayat-ayat Quran, demikian pula dengan makam-makam lainnya ditempat itu. Kandang telah ditumbuhi kayu-kayu besar dan rindang.

Tiada berapa jauh dari Kandang Lheue ini, terdapat makam Teungku Cik Awee Geutah, seorang ulama besar yang dianggap keramat sampai sekarang, terletak di Kampung Meunasah Lam Blang, dan sebuah lagi makam Ja Cik, juga seorang ulama yang dianggap sangat kramat, terletak di Kampung Lagang. Kebetulan waktu saya kesana, lagi musim kemarau yang amat sangat, sehingga semua sumur telah kering, kecuali sumur yang dekat dengan makam Ja Cik, hal mana menambah keyakinan penduduk akan keramatnya Ja tersebut. Memang waktu itu saya lihat banyak wanita-wanita mengambil air kesumur Ja Cik……….

Kandang Ulee Lueng yang terletak dekat Kampung Daroy Kameu, terdapat didalamnya banyak makam Meurah- Meurah dan keluarganya, dengan batunisan-batunisan yang besar tinggi dan berukiran indah dengan motif  ayat- ayat Qur’an. Kandang Ulee Lueng ini saya lihat sekarang telah merupakan hutan dan rimba kayu-kayu besar yang mungkin telah ratusan tahun umurnya.

Menurut hemat saya, baiknya hutan/rimba dipelihara terus, artinya jangan dipotong, kecuali yang betul- betul tumbuh atas kubur.

Saya rasa dalam suasana seperti dalam hutan belantara ini, akan sangat menarik bagi kaum turis yang biasanya selalu mendekam dalam kota besar.

Kandang Leu Ue yang terletak di Kemukiman Puni tidak berapa jauh dari Kandang Ulee Lueng, keadaannya juga sama seperti Kandang Ulee Lueng dan Kandang Lheue, baik kayu-kayunya ataupun batunisan-batunisannya. Jumlah makam-makam dikandang kandang ini banyak sekali, sehingga betul-betul dapat menjadi objek turisme yang amat berkesan……..

KANDANG RAJA

 

Kesempatan kelima pada tanggal 25 Juli 1972, saya pergunakan untuk mengunjungi Kandang Raja yang terletak di Kampung Kandang Kecamatan Darul Imarah, dekat dengan Kampung Daroy Kameu. Juga kesempatan hari ini saya pergunakan sebaik-baiknya untuk mempelajari bekas-bekas Kraton Darul Kamal (Daroy Kameu) yang juga terletak dalam Kecamatan Darul Imarah.

Kandang Raja ini sama halnya juga dengan Kandang Ulee Lueng, Kandang Lheue dan Kandang Leu Ue, yaitu sama-sama mempunyai batunisan-batunisan besar tinggi, berukiran indah dengan motif ayat- ayat Qur’an, dibawah naungan kayu-kayu besar tinggi

dengan hutan-hutan kecil kelilingnya.

KANDANG PANGOE

Kandang Pangoe yang terletak dekat Lam Bhuk Kecamatan Mesjid Raya, adalah salah satu Kandang yang dahulunya bernaung dibawah pengawasan Kraton Kuta Alam. Dalam kandang antara lain terdapat makam Sulthan Alaiddin Syamsu Syah yang

memerintah tahun 902-916 H. (1497-1511 M) dan makam Raja Ibrahim.

Seperti halnya dengan kandang-kandang didaerah Kecamatan Darul Imarah, maka Kandang Pangoe inipun tidak terpelihara sama sekali, sehingga batunisan kepala dari Sulthan Syamsu Syah telah patah.

Kandang inipun telah merupakan rimba kecil dengan kayu-kayu besar tinggi. Menurut keterangan penjaga kandang itu kepada kami, bahwa tidak ada orang yang berani memotong kayu ditempat itu, karena kuatir akan celaka.

 

KRATON DARUL KAMAL

 

Kesempatan tanggal 25 Juli 1972 juga saya pergunakan untuk menyelidiki dan mempelajari bekas-bekas Kraton Darul Kamal.

Kraton Darul Kamal, yang oleh lidah Aceh disebut “Daroy Kameu” pertama kali didirikan oleh Sulthan Alaiddin Johan Syah, sebagai sulthan pertama dari Kerajaan (Aceh) Darussalam, yang memerintah dalam tahun 601-631 H. (1205-1234 M ).

Kira 90 tahun kemudian, didirikan pula Kraton Darud Dunya oleh Sulthan Mahmud syah I yang memerintah dalam tahun 665-708 H. (1267-1309 M) . Setelah kedudukan Sulthan dan Pusat Pemerintahan dipindahkan ke Kraton Darud Dunya, maka Kraton Daroy Kameu dijadikan lembaga pusat Balai Majelis Mahkamah (Mahkamah Agung) dan pusat kegiatan ilmu.

Bekas Kraton Darul Kamal (Daroy Kameu) sekarang menjadi dua buah kampung, yaitu Kampung Daroy Kameu dan Kampung Kandang, dalam Kecamatan Darul Imarah, Kampung Daroy Kameu terletak pada pusat Kraton tempat dulunya berdiri istana dan

gedung- gedung lainnya, sedangkan Kampung Kandang terletak disebelah selatan, tempat dulunya berdiri asrama perajurit dan sebuah kandang yang kemudian terkenal dengan sebutan Kandang Raja yang tinggi dan bermedan luas, yang mungkin tempat upacara- upacara waktu pemakaman orang- orang besar.

Antara Kampung Daroy Kameu (pusat Kraton) dan Kampung Kandang (asrama perajurit dan Kandang Raja) terhampar blang padang (pandangan luas) yang mungkin antara lain dijadikan tempat upacara- upacara kenegaraan yang besar dan parade, dan ditengah- tengah blang padang itu terdapat tanah yang agak tinggi (bukit rendah mendatar) yang disebut Peukan Dara Baroo (Pasar Penganten Baru), ditempat mana tiap-tiap tahun diadakan upacara keramaian yang kira-kira sama dengan Pekan Kebudayaan Aceh sekarang.

Dalam Kraton Darul Kamal terdapat dua buah kandang, yaitu Kandang Raja dan Kandang Dalam (sekarang terkenal dengan sebutan Kandang Ulee Lueng), sedangkan sekitarnya terdapat Kandang Biluy, Kandang Leu Ue dan Kandang Lheue.

KRATON DARUD DUNYA

 

Selagi Sulthan Alaiddin Johan Syah masih hidup, telah mulai dibangun satu kota baru dekat sungai Kuala Naga (sungai Aceh sekarang) antara Kampung Pandee dan Blang Peureulak, kota mana dinamakan Bandar Darussalam (dalam perjalanan sejarahnya berobah menjadi Banda Aceh). Oleh Sulthan Alaiddin Johan Syah, kota baru direncanakan pada satu waktu dijadikan Ibukota Kerajaan untuk menggantikan kota lama Bandar Lamuri.

Dalam tahun 691 H. (1292 M), Sulthan Alaiddin Mahmud Syah  membangun Kraton Darud Dunya dan Mesjid Jami Baitur Rahman dalam kota Bandar Darussalam, yang mulai didiami oleh penggantinya Sulthan Alaiddin Mahmud Syah II yang memerintah dalam tahun 811-870 H. (1408-1465 M).

Demikianlah, tiap-tiap sulthan berturut-turut memperbesar dan menyempurnakan Kraton Darud Dunya, sehingga pada zaman Sulthan Alaiddin Riayat Syah II Al- Kahhar yang memerintah dalam tahun 945-979 H. (1539-1571 M), semua bangunan dalam kraton telah diganti dengan tembok beton.

Dalam zaman pemerintahan Sulthan Iskandar Muda Meukuta Alam (1016-1045H. (1607-1636 M). Kraton Darud Dunya setelah mencapai puncak kegemilangannya.

Dalam zaman pemerintahan Sri Ratu Nurul Alam Naqiyatuddin, (1086-1088 H).  (1675-1678 M) terjadilah pembakaran terhadap Kraton Darud Dunya, sebagai usaha sabotase  yang putus asa dari golongan kaum wujudiyah yang menjadi alat golongan politik yang anti raja wanita. Diantara gedung-gedung yang sempat terbakar, yaitu Mesjid Baitur Rahim, Istana Sulthan, Balai Peratna Sembah dan Balai Mahkamah Rakyat.

Kraton Darud Dunya dilengkapi dengan istana resmi, beberapa istana lainnya, Balai Peratna Sembah, Balai Rong Sari, Balai Gading, Balai Mahkamah Rakyat, Mesjid Baitur Rahim, Asrama Perajurit Pengawal dan rumah-rumah para perwiranya, gudang-gudang perlengkapan persenjataan dan lainnya.

Pada tanggal 24 Januari 1874, tentara Belanda dibawah pimpinan agressor Van Swieten dapat merebut Kraton Darud Dunya yang telah menjadi puing dan setelah Syahid perajurit terakhir……………

KRATON DARUL AMAN

 

Setelah Kraton Darud Dunya berusia 200 tahun lebih, maka dibangunlah Kraton baru oleh Sulthan Alaiddin Syamsu Syah yang memerintah dalam tahun 902-916 H. (1497-1511  M), diseberang sungai Aceh atau disebelah utara dari Kraton Darud Dunya.

Kraton yang baru dibangun ini, yang dibentengi dengan sebuah tanggul raksasa yang bernama “Teunambak Pidie”, diberi nama “Kraton Darul Aman” , yang kemudian oleh karena kuat bentengnya dinamakan juga Kraton Kuta Alam (Benteng Dunia).

Teunambak Pidie memanjang dari pinggir sungai Aceh (dijembatan Kota Alam sekarang) sampai ke Kampung Lam Dingen, dan dari sana membelintang sampai kepinggir sungai Aceh didaerah Peunayong sekarang. Jadi daerah Kraton Darul Aman meliputi

sebagian Peunayong, Kota AIam dan sebahagian kampung Lam Bhuk.

Dalam Kraton Darul Aman (Kraton Kuta Alam), selain istana-istana dan gedung- gedung pemerintah lainnya, juga dibangun sebuah mesjid yang diberi nama Mesjida Baitur Rahim, yang kemudian nama ini oleh Sulthan Iskandar Muda dijadikan nama mesjid dalam Kraton Darud Dunya, sedangkan mesjid dalam Kraton Darul Aman oleh Sulthan Iskandar Sani diberi nama baru yaitu Baitul Musyahadah, setelah diperbaiki dan

Dan sebagai akibat dari perang saudara beberapa kali, dan ditambah lagi dengan perang semesta melawan Belanda, maka Kraton Darul Aman berantakan menjadi puing……..

KANDANG LAM SUSOON

 

Kesempatan  tanggal 7 Agustus 1972 saya pergunakan untuk mengunjungi Kandang Lam Susoon, ditempat mana menurut riwayat  muktamad dimakamkan tiga orang Sulthan, yaitu :

1.      Sulthan Alaiddin Johan Syah, yang memerintah tahun 601-631 H. (1205-1234 M).

2.      Sulthan Alaiddin Ahmad Syah, yang memerintah dalam tahun 631-665 H. (1234-1267 M).

3.      Sulthan Alaiddin Mahmud Syah I, yang memerintah dalam tahun 665-708 H. (1267-1309 M).

Ketiga orang sulthan ini memang tiada terdapat makamnya di salah satu kandang yang ada sekitar Banda Aceh ataupun kandang- kandang lainnya di luar kota Banda Aceh, sekalipun orang telah coba mengadakan penyelidikan. Hanya pernah orang melihat dalam sebuah catatan naskah lama, bahwa makam ketiga sulthan tersebut terletak dalam satu tempat yang dulunya sebagai kota istirahat di dataran tinggi Mamprai yang bernama Glee Weueng.

Hasil penyelidikan yang sudah mendekati kebenaran, memang makam ketiga orang Sulthan tersebut benar terdapat di dataran tinggi Mamprai, tetapi bukan persis di Glee Weueng, hanya di suatu tempat yang sekarang bernama Lam Susoon.

Menurut keterangan yang saya peroleh dari orang- orang tua di Lam Krak, bahwa di Lam Suoon, ada kuburan sulthan-sulthan, tetapi mereka tiada mengetahui siapa nama sulthan-sulthan itu .

Dari seorang orang tua yang bernama Teungku Ubit, saya mendapat penjelasan bahwa tempat tersebut dinamakan Lam Susoon, yaitu nama satu kampong di daerah Bilui. Kalau dihubungkan dengan keterangan-keterangan ini, hampir sudah dapat diambil kesimpulan bahwa memang di tempat itulah berkubur ketiga sulthan kita itu, karena memang ketiganya berasal dari Lam Susoon Bilui.

Untuk maksud membuktikan dengan mata kepala sendiri itulah maka kami tanggal 7 Agustus 1972 berkunjung ke Lam Susoon yang terletak di atas dataran tinggi Mamprai yang berpemandangan sangat indah.

Dari Banda Aceh, kami dapat berkenderaan hanya sampai ke Lam Birah, kemukiman Luthu, Kecamatan Suka Makmur. Dari Lam Birah, kami berjalan kaki menuju ke selatan dengan menempuh jalan mendaki dan terus mendaki, yang seluruhnya kami tempuh dalam masa 4 jam jalan kaki. Kecapekan dapat terhibur oleh indahnya pemandangan alam yang mentakjubkan.

Kami berjalan melereng bukit yang menanjak, dimana sebelah kiri ternganga jurang dalam yang sayup-sayup mata memandang ke bawah, sementara di sebelah kanan meninggi bukit terjal yang menakutkan. Bagi kami yang tidak biasa sangat mengerikan melalui jalan yang hanya muat sebuah tapak kaki, tetapi bagi penduduk disana yang menemani kami berlari seperti diatas jalan aspal, karena telah biasa.

Diantara Lam Birah dengan Lam Susoon berkali- kali kami berhenti untuk istirahat, dan pada suatu tempat yang bernama Cinta Guna kami berhenti agak lama sedikit, tidak saja untuk istirahat,  tetapi oleh karena tempat yang bernama agak romantis itu mempunyai riwayat pula.

Menurut cerita yang kami peroleh dari seorang orang tua yang mengantar kami, bahwa tempat itu dinamakan Cinta Guna karena ditempat itulah selalu terjadi pertemuan antara Teungku di Weueng dengan isterinya Putroe Ijoo.

Ceritanya begini : Putroe ljoo bertempat tinggal di Mamprai sedangkan suaminya di Glee Weueng yang letaknya lebih tinggi,  apabita mereka ingin hendak bertemu, maka Teungku turun dari Glee Weueng dan putroe naik dari Mamprai dan bertemulah selalu ditempat yang kemudian dimashurkan namanya dengan “Cinta Guna”, sebagai perlambang kesetiaan kedua suami isteri itu.

Teungku Di Weueng yaitu salah seorang ulama besar yang tidak menyetujui kebijaksanaan Ratu Safiatuddin, sehingga karenanya beliau pindah dari Banda Aceh dan mengambil tempat di Glee Weueng, yang dulunya merupakan kota pegunungan tempat istirahat; sedangkan  Putroe Ijoo. yaitu salah seorang puteri dari Meurah Cot Bak Krut, keluarga raja-raja di Bilui.

Dari tempat yang bernama Cinta Guna ini, apabila kita memandang ke utara, terpampanglah didepan mata kita dataran rendah Aceh Besar dengan terlihat jelas kota Banda Aceh, Sibreh, Lambaro, Samahani, Indrupuri dan sebagainya. Demikian juga Pulau Weh dengan Sabangnya, seakan-akan dekat sekali diujung mata kita. Indah, sungguh indah pemandangan.

Jam 14 sampailah kami di Lam Susoon, yang terletak antara lingkaran bukit diatas dataran tinggi itu, yang kedua ujung bukit itu setelah melengkung membentuk sebuah lingkaran lantas hampir bertemu mengarah ke utara, yang membentuk gerbang seakan- akan pintu masuk, dari mana kami dan siapa saja harus masuk kalau mau ke Lam Susoon.

Apabila kita telah sampai dalam lingkaran bukit itu, dimana sekarang telah merupakan kebun durian, sama sekali tidak merasa bahwa waktu itu kita telah berada ditempat yang tingginya dari permukaan laut mendekati 1000 meter; kita merasa seperti dalam kebun durian ditengah- tengah dusun dataran rendah.

Melihat tempatnya, masuk akal kalau dahulu ditempat itu telah terbangun satu kota pegunungan tempat istirahat.

Kami terus dibawa ketempat tanah pekuburan, setelah makan siang.  Memang disana kami dapati ada empat buah makam; satu diantaranya yaitu makam Teuku Lam Teungoh yang syahid dalam peperangan dengan Belanda sekitar tahun 1880, dan yang tiga lagi itulah makam dari sulthan-sulthan yang diceritakan oleh orang- orang tua di Lam Krak, yang kata Teungku Ubit berasal dari Kampung Lam Susoon.

Demikianlah, apa yang diceritakan orang- orang tua di Lam Krak itu, kami dapati faktanya, hanya timbul pertanyaan: apakah benar makam yang tiga itu tempat berkuburnya Sulthan Alaiddin Johan Syah, Sulthan Alaiddin Akhmad Syah dan Sulthan Alaiddin Mahmud Syah I? Karena batunisannya adalah batu biasa dan tiada bertulisan.

Setelah melihat dengan mata kepala sendiri, dan setelah mendengar keterangan- keterangan dari orang- oran tua sekitar Lam Krak dan Lam Birah serta dihubungkan dengan catatan pada sebuah naskah lama, maka saya mengambil kesimpulan bahwa sudah dapat dipastikan, disitulah ketiga sulthan kita berkubur. Hal ini lebih menyakinkan lagi, setelah melihat komplek pekuburan itu, persis seperti komplek- komplek pekuburan Kandang Bilui, Kandang Ulee Lueng, K andang Lheue, Kandang Leu Ue dan Kandang Pangoe, yaitu empat segi memanjang dan meninggi dari dataran tanah sekelilingnya sekalipun dalam format kecil.

Dari tempat makam itu, yang kemudian saya namakan dengan “Kandang Lam Susoon“, jika kita mengarah ke utara terpandanglah dataran rendah tempat lokasi Banda Aceh dan dikejauhan sana laut biru mengapungkan pulau Weh yang amat indah, dan lupalah kami sejenak keletihan empat jam berjalan kaki tadi…………

Pendapat saya sementara tentang Kandang Lam Susoon ini, haruskan dilanjutkan dengan usaha- usaha penyelidikan yang terus menerus………….

BandaA ceh, l7 Agustus l972.

A. Hasjmy

( Sumber: A.Hasjmy, Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, Penerbit Beuna, Jakarta, 1983, halaman  13 – 27 ).