Sastra Aceh Mundur, Mengapa?

SASTRA ACEH MUNDUR, MENGAPA?

 

           Judul di atas mungkin terlalu kejam, Mungkin juga akan mengundang pro dan kontra yang tak habis-habisnya. Tapi Itulah sebuah kenyataan tentang perjalanan sastra Aceh pasca aksara Arab-Melayu yang terseok-seok. Para pengamat sering melihat masalah itu penuh prihatin dan pesimis tentang kelangsungan hidup sastra Aceh (hikayat syair, dan pantun)

         Selama ini sering tudingan dialamatkan kepada sastrawan-sastrawan muda Aceh. Mengapa mereka tidak mau mengarang hikayat, pantun syair dan prosa dalam bahasa daerah?.  Mengapa para penyair yang sebetulnya orang Aceh tapi menulis puisi dalam bahasa Indonesia?.  Benarkah mereka sok nasionalis atau ingin menjadi sastrawan nasional?

         Kalau ingin ditelusuri sejarah, kita tidak dapat menyalahkan para sastrawan muda yang memilih profesi dalam bahasa Indonesia. Mereka bukan tidak mau menulis dalam bahasa ibunya dan bukan tidak mau mengikuti langkah Tgk Chik Pante Kulu, Do Karim, Abdullah Arif; Abubakar Atjeh atau Syeh Rih Krueng Raya. Tapi terpelesatnya me­reka dalam bahasa Indonesia juga karena berpijak kepada catatan sejarah bahwa, sastrawan Aceh tidak semata-mata menulis dalam bahasa Aceh.

Prof. A. Hasjmy, mungkin satu-satunya putra Aceh yang namanya termasuk dalam angkatan Pujangga Baru In­donesia. Dalam suatu telaah sastra den­gan beberapa penyair muda Aceh menyimpulkan. Yang dinamakan sas­trawan Aceh atau sastra Aceh bukan saja orang yang menulis dalam bahasa Aceh, seperti Tgk Chik Pante Kulu, Tgk Di Rukam atau Tgk Seumatang;  tetapi yang menulis dalam bahasa Arab dan bahasa Melayu (Indonesia) juga sastra­wan Aceh.

           A. Hasjmy sendiri yang tidak pernah menulis dalam bahasa Aceh, tetapi merasa dirinya sastrawan Aceh. Begitu juga penyair sufi Hamzah Fanshury, Bukhari Al-Juhary, Ismail Al-Rumy, Nuruddin Ar-Raniry atau Di Meulek, karya-karya mereka semuanya ditulis dalam bahasa Melayu. Namun mereka tetap dikenang sebagai sastrawan Aceh. Sebab menurut A Hasjmy, bahasa Melayu adalah bahasa kedua bagi orang Aceh. Lalu bagaimana kalau putra Aceh mampu menulis dalam sastra Arab, seperti Syamsuddin As-Sumatrany dan Ismail Ar-Rumy (dua putra Aceh) yang mengarang dalam sastra Arab di abed ke-16. Kata A Hasjmy mereka tetap dikenal sebagai pujangga Aceh, sebab bahasa Arab adalah bahasa agama orang Aceh.

             Setelah bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan, memang bahasa ini cepat berkembang di Aceh. Tahun 1937 di Bireun sudah terbit sebuah majalah  yang bernama suloh. Meskipun namanya dalam bahasa Aceh, tapi isinya dalam bahasa Indonesia, Begitu Juga beberapa penulis Aceh ketika itu, menulis dalam bahasa Indonesia.

            Setelah Indonesia merdeka, kata pakar budaya itu, sebuah kesalahan telah dilakukan oleh generasi Aceh, termasuk dia sendiri. Ketika itu pimpinan Aceh telah melalaikan bahasa Aceh dan huruf Arab Melayu. Mulanya me­reka mengira bahasa Aceh bisa tumbuh sendiri sebagai bahasa ibu. Bahasa Indonesialah yang harus diprioritaskan karena ketika itu orang Aceh paling malas berbahasa Indonesia.

              Program itu ternyata meleset, setelah 40 tahun merdeka, sebagian orang Aceh tidak mampu lagi berbahasa Aceh, hikayat-hikayat Aceh sebagai puncak kesusastraan (karena dalam bahasa Aceh tidak ada prosa) sekarang tidak bisa lagi ditulis dan dibaca oleh gen­erasi muda Aceh. Jadi semua itu salah orang Aceh sendiri.

Beberapa sebab kemunduran sas­tra Aceh memang dapat disebutkan, misalnya, tidak adanya  fakultas sastra Aceh, tidak ada mass media tempat penyaluran bakat minat para penulis.

            Tapi sekarang alasan itu segera terjawab, mass media di Aceh telah membuka rubrik khusus bahasa Aceh. Begitu juga fakultas sastra dan jurusan bahasa Aceh segera dibuka di Unsyiah. Mungkinkah setelah itu sas­tra Aceh menemui jalannya kembali?. Menurut hemat penulis, jalannya tetap terseok-seok, sulit memajukan bahasa daerah, apalagi ejaannya sangat sulit ditulis, jumlah penuturnya juga sedikit.  Bahasa Jawa saja yang penuturnya lebih dari 80 juta sulit berkembang, apalagi bahasa Aceh yang hanya dituturkan oleh sekitar 1,5 juta orang.

            Ada beberapa cara memang, bila ingin diselamatkah bahasa Aceh. Yang pertama, diperlukan sebuah ejaan baru yang efektif untuk menulis bunyi ba­hasa Aceh agar lebih sederhana. Perlu mass media, untuk menampung karya bahasa Aceh, baik audio visual mau­pun media elektronik. Bahasa Aceh harus diajarkan secara kontinyu di sekolah, mulai TK sampai perguruan tinggi. (Ameer Hamzah)

( Sumber: Harian Serambi Indonesia, Minggu,  15 Juli 1990 halaman 6 ).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s