Si Rambai, Meriam Peninggalan Sultan Iskandar Muda

SRI RAMBAI MERIAM  PENINGGALAN ISKANDAR MUDA

APABILA Anda pernah mengunjungi Penang, Malaysia, dari bertamasya ke Padang Kota (espalanade), Anda akan melihat sebuah meriam kuno berdiri dengan megahnya menghadap tepi laut. Meriam tersebut adalah salah satu benda bersejarah peninggalan zaman Iskandar Muda yang bernama “Sri Rambai” atau biasa disebut “Si Rambai” saja. Pada meriam yang terbuat dari perunggu itu ada ukiran tulisan Jawi yang berbunyi: ‘Tawanan Sulthan”

Tawanan Tuan kita Sri Sul­than Perkasa Alam Johan Berdaulat menitahkan orang kaya Sri Maharaja akan Panglima dan Orang Kaya Laksamana dan Orang. Kaya Lela Wangsa akan mengamuk ke Johor: Sanat 1023.

Pada larasnya terukir nama sipembuatnya lan Bergerus mefecit 1603. Bagaimana riwayat Si Rambai , tersebut sampai berada di Penang?

Adalah seorang laksamana Belanda yang bernama Verhoef talum .1606 M membujuk Sul­tan Johor agar diberi izin membangun sebuah benteng (Fort) sebagai markas   dan   tempat persiapan mereka guna menyerang Portugis yang ada di Melaka. Dan sebagai balas jasa ia menghadiahkan sebuah meriam   yang   kemudian dikenal dengan Si Rambai.

Pada tahun 1613  M  atau bertepatan tahun 1023 H kerajaan Aceh dalam penyerangan ke Johor;menaklukkan ibu kota Johor Batu sawar, menawan Sulthan beserta keluarganya merampas persenjataan termasuk meriam hadiah  laksamana Belanda tadi dan membawanya ke Aceh. Tetapi .Sul­than Johor kemudian diampuni

Lebih kurang 180 tahun meriam rampasan tadi berada di Aceh. Adapun ukiran tulisan Jawi yang terdapat pada “meriam” seperti tersebut di atas adalah sebagai mengabadikan kenangan kepada para panglima Iskandar Muda yang telah berjasa dalam penyerangan (mengamuk) ke Johor.

Menurut riwayat pada penyerangan ke Johor tahun 1613 itu, Iskandar Muda tidak langsung memimpin perang,  tetapi dilaksanakan oleh para panglimanya.

Kemudian. tahun 1795 Sulhtan Aceh Alauddin Mahmudsyah menghadiahkan meriam ini, kepada Sulthan Ibrahim dari Selangor” sebagai balas jasa atas pertolongan Raja Nala yaitu  adik Sulthan Selangor dalam peperangan Aceh melawan kerajaan Dusun. Demikianlah meriam bersejarah itu menghiasi kota Kuala Selangor kira-kira 75 tahun lamanya.

Tahun 1871 koloni Inggris yang telah menguasai negeri-negeri Selat (Straits Setieements, yaitu Pulau Pinang, Melaka dan Singapore), dalam usaha mereka menaklukkan Selangor, menembaki ibu kota Kuala Selangor dengan meriam-meriam dari kapal HMS Rinaldo (dan meminta agar raja muda (Viceroy) yang juga menantu Sultan,  yaitu Tunku Kudin agar segera meninggalkan Kuala Selangor.

Kota itu diruntuhkan dan berbagai jenis meriam dirampas  dan  dibawa ke Penang termasuk meriam hadiah raja Aceh.

Diceritakan bahwa meriam ini pernah Jatuh kelaut dekat Padang Kota dan terendam dalam air sekitar 9 tahun lamanya. Dalam tahun 1880 dalam suatu upacara yang bersifat mistik dan dihadiri raja muda Selangor yang telah bersara, meriam itu diangkat dari dalam air ke darat di Padang Kota Penang. Kemudian diberi roda dan dipajangkan di tepi pantai.

Semula tempatnya di dekat gedung Balai Kota (mericipal) di bawah   pohon  yang  rindang, tetapi sejak tahun 1975 dipindahkan ke sebelah timur Padang  Kota.   ditempatkan di atas pelataran khusus sampai sekarang.

Mengapa meriam itu sering diperebutkan dan juga dijadikan hadiah? Mungkin karena bagus bentuknya dari cantik buatannya. Hampir setiap pelancong yang .mengunjungi Penang; datang melihat dan mengaguminya serta membaca ukiran aksara pada meriam itu. Dan tak lupa membuat membuat foto berdiri di samping si Rambai sebagai kenang-kenangan. Banyak orang percaya meriam itu keramat. Orang-orang Melay, Cina dan India terutama dari kalangan bawahan sering “bernazar” seperti ingin mendapat anak, jodoh, mudah rezeki. Mereka membakar kemenyan, menabur bunga dan berdoa menurut kepercayaan masing-masing.

Mengingat meriam itu sangat bersejarah bagi rakyat Aceh, alangkah baiknya jika pemerintah Indonesia,  khususnya pemerintah Aceh mengusahakan dan meminta pada kerajaan Malaysia agar Si Rambai dapat dikembalikan ke Aceh sebagai kenang-kenangan,  kebanggaan dan kejayaan kerajaan Aceh masa lalu, khususnya masa Sulthan  Iskandar Muda. Dengan demikian bertambahlah benda-benda bersejarah di samping Lonceng Cakra Donya. Gunongan. Pinto Khop, Taman Sari,  Makam raja-raja dan lain sebagainya.( a. wahab gam )

( Sumber: Harian SERAMBI INDONESIA, Minggu, 20 Maret 1994 halaman 8 ).

Iklan

2 pemikiran pada “Si Rambai, Meriam Peninggalan Sultan Iskandar Muda

  1. sangat berharga dan berkenang sekali meriam itu,, ya semoga saja malaysia fapat mengembalikannya pak,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s