Menengok Mesjid Peninggalan Saudagar Aceh di Penang

MENENGOK MASJID PENINGGALAN SAUDAGAR ACEH DI PENANG

             Pulau Penang, Malaysia, memiliki banyak bangunan bersejarah. Benteng tua hingga tempat ibadah kuno berumur ratusan tahun masih berdiri kokoh. Siapa sangka nenek moyang masyarakat Aceh juga  pernah singgah bahkan membangun masjid di pulau tersebut.

Masjid megah itu bernama Masjid Melayu (jamek) Acheh Pulau Pinang atau lebih dikenal dengan masjid Aceh. Satu satunya jejak para saudagar asal Indonesia yang berada di kota sejuk tersebut. Lokasi masjid berada di kawasan perdagangan padat di kota penang. Menaranya yang mirip dengan pagoda sebuah kuil Cina membuat para pelancong tidak sulit untuk menemukannya.

Tidak jauh berbeda dengan masjid di Indonesia. Berbagai tanda larangan juga ditempel di seluruh area masjid. Mulai dari larangan menggunakan ponsel, larangan tidur , dan imbauan untuk menjaga keaslian arsitektur masjid.

Kawasan ini awalnya dipenuhi oleh para pedagang asal Aceh, tapi sekarang sudah mulai bercampur dengan etnis Melayu, “kata Raffi, salah seorang warga di lokasi tersebut, kamis, (5/8).

                Masjid dengan nuansa kuning tersebut dibangun pada tahun 1808 Masehi. Sejarah masjid  bermula  pada tahun 1792. Saat Tengku syed Hussain al-aidid, seorang kerabat kerajaan Aceh datang dari Indonesia dan membuka sebuah kawasan perkampungan Islam di Pulau Pinang.

Teungku syed Hussain al-aidid adalah seorang pedagang Aceh yang kaya ketika pulau Pinang baru dibuka oleh Kapten Sir Francis Ligh pada akhir abad ke 18. Desember kekayaan yang dimiliki Tengku syed Hussain al-aidid kemudian membangun sebuah masjid di Lebuh Acheh. Ia juga membangun rumah. Took dan Madrasah Al-Quran.

               Hasil usahanya ini secara tidak langsung telah mewujudkan sebuah pusat pengajian agama Islam dan pusat perdagangan antarbangsa yang terkenal di pulau Pinang. Para pedagang-pedagang baru dari Melayu, Tanah Arab dan India pun berdatangan.

Setelah wafatnya Tengku syed Hussain al-aidid pada pertengahan abad ke 19, wilayah di sekitar masjid Aceh terus berkembang. Para penduduk tidak hanya menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan, namun juga menjaga keaslian bangunan agar mampu menarik wisatawan.

Alhasil, turis pun berbondong-bondong untuk melihat masjid dan  makam Teungku syed Hussain al-aidid yang berada di sebelahnya.( detik.com )

  ( Sumber: Harian SERAMBI INDONESIA, Senin, 10 Agustus 2009 halaman 10/Nasional ).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s