Masa Tua Anzib adalah Mesin Tik Hermes Baby atau Biola

MASA TUA ANZIB ADALAH MESIN TIK HERMES BABY ATAU BIOLA

Suatu ketika tahun 1914, lelaki itu mulai terlihat belajar viool secara Intensif kepada Sang Sarif, seorang seniman kawakan waktu itu. Seterusnya dua tahun kemudian lelaki berkulit gelap tersebut sudah ikut bermain musik pada Muziekvereenig ing Atjeh Band di Uleelheue. Grup musik itu dipimpin (kapelmeester) ABC Theu-venet (seorang turunan Jerman). Kelompok ini bermain seminggu sekali di Socitett Juliana Club Koetaradja, serta acap diundang pada perhelatan – perhelatan perkawinan. Barangkali, boleh disebut inilah titik awal mengantarkan dia pada peringkat musisi kenamaan, di tanah Aceh. Karena kemudian lelaki Itu bermain di banyak tempat, dengan berbagai kelompok musik. Seperti pada tahun 1920-1922 dia tercatat sebagai vioolist di Dell Bioscoop Koetaradja, bersama Zainal Abidin, Soelaiman, Kandar dan lain-lain.

Agaknya musik sudah demikian mengakar dalam urat nadinya hingga sulit dipisahkan dari kesehariannya. Ketika pada tahun 1924 mendirikan sebuah kelompok musik yang dipimpinnya sendiri. Grup ini sangat sederhana, hanya dilengkapi dengan empat buah trombon, dan dua biola. Kedudukan kelompok ini di Lamnyong. Siapa sesungguhnya dia? Namanya cukup singkat Anzib. Oleh karena tanah kelahirannya di Lamnyong, dengan sendirinya namapun berubah Jadi Anzib Lamnyong. Padahal nama aslinya Abdul Aziz. Selain dikenal sebagai musisi kawakan Anzib juga tercatat pengarang lagu-lagu daerah Aceh, ser­ta pendokumen kesenian yang cukup teliti. Hingga kini tercatat di dalam perpustakaan pribadinya tersimpan sekitar 250 buah syair lagu-lagu Aceh serta sejumlah buku-buku sejarah musik tanah rencong.

Selain mengarang lagu-lagu daerah Aceh, Anzib juga menelorkan beberapa

karya sastra lainnya, antara lain hikayat Silindong Geulima yang kemudian diterbitkan oleh Balai Poestaka Batavia seria No 963 pada tahun 1931. Kemu­dian berturut-turut mengarang. Harta Yang Terpendam, Pengalaman Seorang Anak Desa, Ibu Djawa Bapa Atjeh, Bungong Mawo Deyah Baroo. Selanjutnya pada tahun 1940 karya-karyanya berupa cerita pendek tersebar di majalah Penyedar terbitan Medan, antara lain Seudati di Atjeh. Asal Bangsa Atjeh dan beberapa cerpennya.

Sementara pada tahun 1952 bersama Teukoe Djohan mengarang buku Lagu Kite yang diterbitkan Balai Poe­staka Djakarta. Anzib juga banyak mengarang lagu bertema anak-anak yang dimuat di majalah Kunang-Kunang (1952-1954), dan majalah Teruna (1955). Semua lagu itu berjumlah 27 buah lengkap dengan not angka dan not baloknya.

Anzib sudah mencipta lagu-lagu Aceh sejak tahun 1916, di antaranya ada dari lagu-lagu ciptaannya itu direkam di  Singapura oleh His Master Voice yang waktu itu dinyanyikan oleh A Moeloek Karim.

Kelompok-kelompok musik yang pernah dldirikannya bernama HANA, bersama-sama dengan Sang Sarief, Mahmoed, A Raoef, M Hanmid, M.Joenoes, Sjahroeddin, Oesman Effendy, T. Djohan dan Syawal. Kelompok lain bernama Indahan Seulawah, berdiri atas inisiatifnya bersama dengan DA Manua, pada tahun 1955. Kelom­pok ini acap mengisi gelombang RRI. Lagu-lagu yang sempat populer waktu itu diantarnya Atjeh Loon Sayang, Nanggroe Atjeh, Bungong, Sulthan. Iskandar Muda, Gunongan, Prang Atjeh dan sebagainya. Lagu-lagu yang didendangkan oleh penyanyi-penyanyi) In­dahan Seulawah adalah karya anggota grup itu. Dari catatan harian Anzib, menyebutkan banyak biduan yang tidak tetap, ada yang berhenti, ada yang pindah ke orkes lain, dan ada yang masuk kembali, sehingga sangat menyulitkan pelatihnya.

Sayangnya pada tahun 1959 grup ini harus bubar akibat perselisihan pendapat antara DA Manua dan Anzib. DA Manua menginginkan segi-segi hiburan lebih ditingkatkan dengan tidak semata-mata membawakan lagu-lagu daerah. Perselisihan itu terlukis dari beberapa catatan harian Anzib. “DA. Manua kurang mcngetahui bahwa di daerah Aceh juga mempunyai lagu-lagu sendiri yang khas,” tulis Anzib dalam catatan hariannya tahun 1961. Meski keduanya memiliki persepsi yang berlainan, tapi hubungan mereka tetap terjalin mesra, dan berakhir mengharukan saat Anzib meninggal dunia di tahun 1976.

 

205 Lagu

Anzib lahir di Silang, dekat Lam­nyong tahun 1892. Dia memasuki Sekolah Rakyat (masa itu disebut Open-bare Irdandisch School dertweede) pada usia 13 tahun atau pada 1906. Kemu­dian pada 1910 sampai 1912 memasuki Normaal cursus (Sekolah Guru) di Koe­taradja.

Tahun 1914-1916, bersama saudara-saudaranya HM Zainoeddin dan M Djoenet Ibrahim belajar bahasa Belanda pada HZO. Pada masa itu pula Anzib menjadi guru bantu pada Volkschool (Sekolah Rakyat) di Gani (Keurukon).

Keterlibatannya dengan dunia mu­sik, adalah keterlibatannya juga den­gan dunia sastra dan bahasa. Perhatiannya di dua bidang ini sangat besar. Keterlibatannya dengan sastra lantaran diapun, seperti yang sudah disebutkan di atas mengarang banyak buku, sekaligus syair-syair lagu yang dinyanyikan oleh orkestra. Atau lebih menjurus lagi, Anzib bersama Abdul Aziz Ibrahim (pada 1948) menelorkan karyanya berupa Buku Ejaan Atjeh berikut dengan tatabahasanya. “Buku-buku itu perlu disimpan untuk sewaktu-waktu dapat dilihat dan dibaca kembali oleh anak cucu kita,” pesannya dalam sebuah catatan. Tampaknya dia memahami betul, bahwa kesemua itu akan sangat besar manfaatnya di kemudian hari. Selanjutnya membuat kumpulan hadih maja yang merupakan kerja patungan dengan Adnan Hanafiah (kini Ketua PDIA.cs

Masa-masa tua Anzib, adalah masa-masa di depan mesin tik, dan gesek biola. Waktunya nyaris tersita berteman kedua benda itu. Kalau tidak dengan mesin tik merek Harmes Baby yang dibeli secara kredit Rp. 85, ya dengan biola tuanya. Dari biola yang kerap putus tali inilah konon melahirkan banyak lagu, yang menurut catatan mencapal 205 judul lagu. Ada memang yang belum sempat dinyanyikan oleh biduan-biduanitanya semasa Indahan Seulawah, yang kini mungkin sudah jadi nenek-nenek. Seperti Bungong Jeumpa atau Bungong Seulanga yang layu, masihkah kuncup-kuncup baru akan mekar kembali?.  Entahlah, hanya waktu yang menjawab. (marhiyansyah/nt. fikar w.ed)

 

(Sumber: Harian SERAMBI INDONESIA, Minggu, 15 Juli 1990 halaman 6 )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s