Rampoe Bak Rakan – Ketika Mahasiswa Aceh Kuliah di Yogyakarta!

Rampoe Bak Rakan

 

Assalamu’alaikom horeumat sabe

Rakan boh hate alumni Yogya

Tanyoe uroe nyoe ka saho hate

Baroekon cre-bre maseng keureuja

 

Untong meusapat  napeue lon ruge

Peue tanyoe pike masa di Yogya

Mungken bandum na yohnyan seumike

Aceh bek yang-ye  pakriban cara!

 

Aceh beumaju makmu beusabe

Bah paleng akhe beulagee Yogya

Dalam diskusi dialog sare

Ide nyan lahe meubura-bura

Tanyoe di  Yogya pusat seumike

Dialog sabe kayem  ta peuna

Pike keu Aceh gigeh bukonle

Undangan tabre Bali ngon Jawa

 

Trokle  antusan  pakar seumike

Rancak that lahe  dum  mahasiswa

Bak Bale Gadeng  sinan prah pike

Ide dum lahe tampok angkasa!

 

Jonoe ka tawoe tanyoe bak tangke

Meubandum  sare udep di Banda

Aleh cit mantong teuingat hate

Peue nyang  tapike masa di Yogya(?!)

 

 

Aleh   ide nyan hanco meugule

Putoih  bak tangke ka rhot lam paya

Wab pruet sijeungkai nabsu ube gle

Bandum ka reule  ide di Jawa!.

 

“Cah lanang  cah wedhok: Samimawon!”.

 

                  Bale Tambeh, Aleuhad, 23 Beurapet  1434

                                                         29 September 2013

 

                                                               T.A. Sakti

                                       www.tambeh.wordpress.com

Catt:   1. Antusan = utusan

2.  Cae  Aceh di atas  pada jam 11.15 hari ini, Ahad, 23 Beurapet 1434 alias 23 Zulqaidah 1434 H saya deklamasikan pada acara ‘Temu Ramah & Silaturrahmi’   Ke  III  alumni Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta di Hotel Gohna Nan, Banda Aceh.

 

 

Iklan

Sastra Aceh Mundur, Mengapa?

SASTRA ACEH MUNDUR, MENGAPA?

 

           Judul di atas mungkin terlalu kejam, Mungkin juga akan mengundang pro dan kontra yang tak habis-habisnya. Tapi Itulah sebuah kenyataan tentang perjalanan sastra Aceh pasca aksara Arab-Melayu yang terseok-seok. Para pengamat sering melihat masalah itu penuh prihatin dan pesimis tentang kelangsungan hidup sastra Aceh (hikayat syair, dan pantun)

         Selama ini sering tudingan dialamatkan kepada sastrawan-sastrawan muda Aceh. Mengapa mereka tidak mau mengarang hikayat, pantun syair dan prosa dalam bahasa daerah?.  Mengapa para penyair yang sebetulnya orang Aceh tapi menulis puisi dalam bahasa Indonesia?.  Benarkah mereka sok nasionalis atau ingin menjadi sastrawan nasional?

         Kalau ingin ditelusuri sejarah, kita tidak dapat menyalahkan para sastrawan muda yang memilih profesi dalam bahasa Indonesia. Mereka bukan tidak mau menulis dalam bahasa ibunya dan bukan tidak mau mengikuti langkah Tgk Chik Pante Kulu, Do Karim, Abdullah Arif; Abubakar Atjeh atau Syeh Rih Krueng Raya. Tapi terpelesatnya me­reka dalam bahasa Indonesia juga karena berpijak kepada catatan sejarah bahwa, sastrawan Aceh tidak semata-mata menulis dalam bahasa Aceh.

Prof. A. Hasjmy, mungkin satu-satunya putra Aceh yang namanya termasuk dalam angkatan Pujangga Baru In­donesia. Dalam suatu telaah sastra den­gan beberapa penyair muda Aceh menyimpulkan. Yang dinamakan sas­trawan Aceh atau sastra Aceh bukan saja orang yang menulis dalam bahasa Aceh, seperti Tgk Chik Pante Kulu, Tgk Di Rukam atau Tgk Seumatang;  tetapi yang menulis dalam bahasa Arab dan bahasa Melayu (Indonesia) juga sastra­wan Aceh.

           A. Hasjmy sendiri yang tidak pernah menulis dalam bahasa Aceh, tetapi merasa dirinya sastrawan Aceh. Begitu juga penyair sufi Hamzah Fanshury, Bukhari Al-Juhary, Ismail Al-Rumy, Nuruddin Ar-Raniry atau Di Meulek, karya-karya mereka semuanya ditulis dalam bahasa Melayu. Namun mereka tetap dikenang sebagai sastrawan Aceh. Sebab menurut A Hasjmy, bahasa Melayu adalah bahasa kedua bagi orang Aceh. Lalu bagaimana kalau putra Aceh mampu menulis dalam sastra Arab, seperti Syamsuddin As-Sumatrany dan Ismail Ar-Rumy (dua putra Aceh) yang mengarang dalam sastra Arab di abed ke-16. Kata A Hasjmy mereka tetap dikenal sebagai pujangga Aceh, sebab bahasa Arab adalah bahasa agama orang Aceh.

             Setelah bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan, memang bahasa ini cepat berkembang di Aceh. Tahun 1937 di Bireun sudah terbit sebuah majalah  yang bernama suloh. Meskipun namanya dalam bahasa Aceh, tapi isinya dalam bahasa Indonesia, Begitu Juga beberapa penulis Aceh ketika itu, menulis dalam bahasa Indonesia.

            Setelah Indonesia merdeka, kata pakar budaya itu, sebuah kesalahan telah dilakukan oleh generasi Aceh, termasuk dia sendiri. Ketika itu pimpinan Aceh telah melalaikan bahasa Aceh dan huruf Arab Melayu. Mulanya me­reka mengira bahasa Aceh bisa tumbuh sendiri sebagai bahasa ibu. Bahasa Indonesialah yang harus diprioritaskan karena ketika itu orang Aceh paling malas berbahasa Indonesia.

              Program itu ternyata meleset, setelah 40 tahun merdeka, sebagian orang Aceh tidak mampu lagi berbahasa Aceh, hikayat-hikayat Aceh sebagai puncak kesusastraan (karena dalam bahasa Aceh tidak ada prosa) sekarang tidak bisa lagi ditulis dan dibaca oleh gen­erasi muda Aceh. Jadi semua itu salah orang Aceh sendiri.

Beberapa sebab kemunduran sas­tra Aceh memang dapat disebutkan, misalnya, tidak adanya  fakultas sastra Aceh, tidak ada mass media tempat penyaluran bakat minat para penulis.

            Tapi sekarang alasan itu segera terjawab, mass media di Aceh telah membuka rubrik khusus bahasa Aceh. Begitu juga fakultas sastra dan jurusan bahasa Aceh segera dibuka di Unsyiah. Mungkinkah setelah itu sas­tra Aceh menemui jalannya kembali?. Menurut hemat penulis, jalannya tetap terseok-seok, sulit memajukan bahasa daerah, apalagi ejaannya sangat sulit ditulis, jumlah penuturnya juga sedikit.  Bahasa Jawa saja yang penuturnya lebih dari 80 juta sulit berkembang, apalagi bahasa Aceh yang hanya dituturkan oleh sekitar 1,5 juta orang.

            Ada beberapa cara memang, bila ingin diselamatkah bahasa Aceh. Yang pertama, diperlukan sebuah ejaan baru yang efektif untuk menulis bunyi ba­hasa Aceh agar lebih sederhana. Perlu mass media, untuk menampung karya bahasa Aceh, baik audio visual mau­pun media elektronik. Bahasa Aceh harus diajarkan secara kontinyu di sekolah, mulai TK sampai perguruan tinggi. (Ameer Hamzah)

( Sumber: Harian Serambi Indonesia, Minggu,  15 Juli 1990 halaman 6 ).

 

Si Rambai, Meriam Peninggalan Sultan Iskandar Muda

SRI RAMBAI MERIAM  PENINGGALAN ISKANDAR MUDA

APABILA Anda pernah mengunjungi Penang, Malaysia, dari bertamasya ke Padang Kota (espalanade), Anda akan melihat sebuah meriam kuno berdiri dengan megahnya menghadap tepi laut. Meriam tersebut adalah salah satu benda bersejarah peninggalan zaman Iskandar Muda yang bernama “Sri Rambai” atau biasa disebut “Si Rambai” saja. Pada meriam yang terbuat dari perunggu itu ada ukiran tulisan Jawi yang berbunyi: ‘Tawanan Sulthan”

Tawanan Tuan kita Sri Sul­than Perkasa Alam Johan Berdaulat menitahkan orang kaya Sri Maharaja akan Panglima dan Orang Kaya Laksamana dan Orang. Kaya Lela Wangsa akan mengamuk ke Johor: Sanat 1023.

Pada larasnya terukir nama sipembuatnya lan Bergerus mefecit 1603. Bagaimana riwayat Si Rambai , tersebut sampai berada di Penang?

Adalah seorang laksamana Belanda yang bernama Verhoef talum .1606 M membujuk Sul­tan Johor agar diberi izin membangun sebuah benteng (Fort) sebagai markas   dan   tempat persiapan mereka guna menyerang Portugis yang ada di Melaka. Dan sebagai balas jasa ia menghadiahkan sebuah meriam   yang   kemudian dikenal dengan Si Rambai.

Pada tahun 1613  M  atau bertepatan tahun 1023 H kerajaan Aceh dalam penyerangan ke Johor;menaklukkan ibu kota Johor Batu sawar, menawan Sulthan beserta keluarganya merampas persenjataan termasuk meriam hadiah  laksamana Belanda tadi dan membawanya ke Aceh. Tetapi .Sul­than Johor kemudian diampuni

Lebih kurang 180 tahun meriam rampasan tadi berada di Aceh. Adapun ukiran tulisan Jawi yang terdapat pada “meriam” seperti tersebut di atas adalah sebagai mengabadikan kenangan kepada para panglima Iskandar Muda yang telah berjasa dalam penyerangan (mengamuk) ke Johor.

Menurut riwayat pada penyerangan ke Johor tahun 1613 itu, Iskandar Muda tidak langsung memimpin perang,  tetapi dilaksanakan oleh para panglimanya.

Kemudian. tahun 1795 Sulhtan Aceh Alauddin Mahmudsyah menghadiahkan meriam ini, kepada Sulthan Ibrahim dari Selangor” sebagai balas jasa atas pertolongan Raja Nala yaitu  adik Sulthan Selangor dalam peperangan Aceh melawan kerajaan Dusun. Demikianlah meriam bersejarah itu menghiasi kota Kuala Selangor kira-kira 75 tahun lamanya.

Tahun 1871 koloni Inggris yang telah menguasai negeri-negeri Selat (Straits Setieements, yaitu Pulau Pinang, Melaka dan Singapore), dalam usaha mereka menaklukkan Selangor, menembaki ibu kota Kuala Selangor dengan meriam-meriam dari kapal HMS Rinaldo (dan meminta agar raja muda (Viceroy) yang juga menantu Sultan,  yaitu Tunku Kudin agar segera meninggalkan Kuala Selangor.

Kota itu diruntuhkan dan berbagai jenis meriam dirampas  dan  dibawa ke Penang termasuk meriam hadiah raja Aceh.

Diceritakan bahwa meriam ini pernah Jatuh kelaut dekat Padang Kota dan terendam dalam air sekitar 9 tahun lamanya. Dalam tahun 1880 dalam suatu upacara yang bersifat mistik dan dihadiri raja muda Selangor yang telah bersara, meriam itu diangkat dari dalam air ke darat di Padang Kota Penang. Kemudian diberi roda dan dipajangkan di tepi pantai.

Semula tempatnya di dekat gedung Balai Kota (mericipal) di bawah   pohon  yang  rindang, tetapi sejak tahun 1975 dipindahkan ke sebelah timur Padang  Kota.   ditempatkan di atas pelataran khusus sampai sekarang.

Mengapa meriam itu sering diperebutkan dan juga dijadikan hadiah? Mungkin karena bagus bentuknya dari cantik buatannya. Hampir setiap pelancong yang .mengunjungi Penang; datang melihat dan mengaguminya serta membaca ukiran aksara pada meriam itu. Dan tak lupa membuat membuat foto berdiri di samping si Rambai sebagai kenang-kenangan. Banyak orang percaya meriam itu keramat. Orang-orang Melay, Cina dan India terutama dari kalangan bawahan sering “bernazar” seperti ingin mendapat anak, jodoh, mudah rezeki. Mereka membakar kemenyan, menabur bunga dan berdoa menurut kepercayaan masing-masing.

Mengingat meriam itu sangat bersejarah bagi rakyat Aceh, alangkah baiknya jika pemerintah Indonesia,  khususnya pemerintah Aceh mengusahakan dan meminta pada kerajaan Malaysia agar Si Rambai dapat dikembalikan ke Aceh sebagai kenang-kenangan,  kebanggaan dan kejayaan kerajaan Aceh masa lalu, khususnya masa Sulthan  Iskandar Muda. Dengan demikian bertambahlah benda-benda bersejarah di samping Lonceng Cakra Donya. Gunongan. Pinto Khop, Taman Sari,  Makam raja-raja dan lain sebagainya.( a. wahab gam )

( Sumber: Harian SERAMBI INDONESIA, Minggu, 20 Maret 1994 halaman 8 ).

Menengok Mesjid Peninggalan Saudagar Aceh di Penang

MENENGOK MASJID PENINGGALAN SAUDAGAR ACEH DI PENANG

             Pulau Penang, Malaysia, memiliki banyak bangunan bersejarah. Benteng tua hingga tempat ibadah kuno berumur ratusan tahun masih berdiri kokoh. Siapa sangka nenek moyang masyarakat Aceh juga  pernah singgah bahkan membangun masjid di pulau tersebut.

Masjid megah itu bernama Masjid Melayu (jamek) Acheh Pulau Pinang atau lebih dikenal dengan masjid Aceh. Satu satunya jejak para saudagar asal Indonesia yang berada di kota sejuk tersebut. Lokasi masjid berada di kawasan perdagangan padat di kota penang. Menaranya yang mirip dengan pagoda sebuah kuil Cina membuat para pelancong tidak sulit untuk menemukannya.

Tidak jauh berbeda dengan masjid di Indonesia. Berbagai tanda larangan juga ditempel di seluruh area masjid. Mulai dari larangan menggunakan ponsel, larangan tidur , dan imbauan untuk menjaga keaslian arsitektur masjid.

Kawasan ini awalnya dipenuhi oleh para pedagang asal Aceh, tapi sekarang sudah mulai bercampur dengan etnis Melayu, “kata Raffi, salah seorang warga di lokasi tersebut, kamis, (5/8).

                Masjid dengan nuansa kuning tersebut dibangun pada tahun 1808 Masehi. Sejarah masjid  bermula  pada tahun 1792. Saat Tengku syed Hussain al-aidid, seorang kerabat kerajaan Aceh datang dari Indonesia dan membuka sebuah kawasan perkampungan Islam di Pulau Pinang.

Teungku syed Hussain al-aidid adalah seorang pedagang Aceh yang kaya ketika pulau Pinang baru dibuka oleh Kapten Sir Francis Ligh pada akhir abad ke 18. Desember kekayaan yang dimiliki Tengku syed Hussain al-aidid kemudian membangun sebuah masjid di Lebuh Acheh. Ia juga membangun rumah. Took dan Madrasah Al-Quran.

               Hasil usahanya ini secara tidak langsung telah mewujudkan sebuah pusat pengajian agama Islam dan pusat perdagangan antarbangsa yang terkenal di pulau Pinang. Para pedagang-pedagang baru dari Melayu, Tanah Arab dan India pun berdatangan.

Setelah wafatnya Tengku syed Hussain al-aidid pada pertengahan abad ke 19, wilayah di sekitar masjid Aceh terus berkembang. Para penduduk tidak hanya menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan, namun juga menjaga keaslian bangunan agar mampu menarik wisatawan.

Alhasil, turis pun berbondong-bondong untuk melihat masjid dan  makam Teungku syed Hussain al-aidid yang berada di sebelahnya.( detik.com )

  ( Sumber: Harian SERAMBI INDONESIA, Senin, 10 Agustus 2009 halaman 10/Nasional ).

Masa Tua Anzib adalah Mesin Tik Hermes Baby atau Biola

MASA TUA ANZIB ADALAH MESIN TIK HERMES BABY ATAU BIOLA

Suatu ketika tahun 1914, lelaki itu mulai terlihat belajar viool secara Intensif kepada Sang Sarif, seorang seniman kawakan waktu itu. Seterusnya dua tahun kemudian lelaki berkulit gelap tersebut sudah ikut bermain musik pada Muziekvereenig ing Atjeh Band di Uleelheue. Grup musik itu dipimpin (kapelmeester) ABC Theu-venet (seorang turunan Jerman). Kelompok ini bermain seminggu sekali di Socitett Juliana Club Koetaradja, serta acap diundang pada perhelatan – perhelatan perkawinan. Barangkali, boleh disebut inilah titik awal mengantarkan dia pada peringkat musisi kenamaan, di tanah Aceh. Karena kemudian lelaki Itu bermain di banyak tempat, dengan berbagai kelompok musik. Seperti pada tahun 1920-1922 dia tercatat sebagai vioolist di Dell Bioscoop Koetaradja, bersama Zainal Abidin, Soelaiman, Kandar dan lain-lain.

Agaknya musik sudah demikian mengakar dalam urat nadinya hingga sulit dipisahkan dari kesehariannya. Ketika pada tahun 1924 mendirikan sebuah kelompok musik yang dipimpinnya sendiri. Grup ini sangat sederhana, hanya dilengkapi dengan empat buah trombon, dan dua biola. Kedudukan kelompok ini di Lamnyong. Siapa sesungguhnya dia? Namanya cukup singkat Anzib. Oleh karena tanah kelahirannya di Lamnyong, dengan sendirinya namapun berubah Jadi Anzib Lamnyong. Padahal nama aslinya Abdul Aziz. Selain dikenal sebagai musisi kawakan Anzib juga tercatat pengarang lagu-lagu daerah Aceh, ser­ta pendokumen kesenian yang cukup teliti. Hingga kini tercatat di dalam perpustakaan pribadinya tersimpan sekitar 250 buah syair lagu-lagu Aceh serta sejumlah buku-buku sejarah musik tanah rencong.

Selain mengarang lagu-lagu daerah Aceh, Anzib juga menelorkan beberapa

karya sastra lainnya, antara lain hikayat Silindong Geulima yang kemudian diterbitkan oleh Balai Poestaka Batavia seria No 963 pada tahun 1931. Kemu­dian berturut-turut mengarang. Harta Yang Terpendam, Pengalaman Seorang Anak Desa, Ibu Djawa Bapa Atjeh, Bungong Mawo Deyah Baroo. Selanjutnya pada tahun 1940 karya-karyanya berupa cerita pendek tersebar di majalah Penyedar terbitan Medan, antara lain Seudati di Atjeh. Asal Bangsa Atjeh dan beberapa cerpennya.

Sementara pada tahun 1952 bersama Teukoe Djohan mengarang buku Lagu Kite yang diterbitkan Balai Poe­staka Djakarta. Anzib juga banyak mengarang lagu bertema anak-anak yang dimuat di majalah Kunang-Kunang (1952-1954), dan majalah Teruna (1955). Semua lagu itu berjumlah 27 buah lengkap dengan not angka dan not baloknya.

Anzib sudah mencipta lagu-lagu Aceh sejak tahun 1916, di antaranya ada dari lagu-lagu ciptaannya itu direkam di  Singapura oleh His Master Voice yang waktu itu dinyanyikan oleh A Moeloek Karim.

Kelompok-kelompok musik yang pernah dldirikannya bernama HANA, bersama-sama dengan Sang Sarief, Mahmoed, A Raoef, M Hanmid, M.Joenoes, Sjahroeddin, Oesman Effendy, T. Djohan dan Syawal. Kelompok lain bernama Indahan Seulawah, berdiri atas inisiatifnya bersama dengan DA Manua, pada tahun 1955. Kelom­pok ini acap mengisi gelombang RRI. Lagu-lagu yang sempat populer waktu itu diantarnya Atjeh Loon Sayang, Nanggroe Atjeh, Bungong, Sulthan. Iskandar Muda, Gunongan, Prang Atjeh dan sebagainya. Lagu-lagu yang didendangkan oleh penyanyi-penyanyi) In­dahan Seulawah adalah karya anggota grup itu. Dari catatan harian Anzib, menyebutkan banyak biduan yang tidak tetap, ada yang berhenti, ada yang pindah ke orkes lain, dan ada yang masuk kembali, sehingga sangat menyulitkan pelatihnya.

Sayangnya pada tahun 1959 grup ini harus bubar akibat perselisihan pendapat antara DA Manua dan Anzib. DA Manua menginginkan segi-segi hiburan lebih ditingkatkan dengan tidak semata-mata membawakan lagu-lagu daerah. Perselisihan itu terlukis dari beberapa catatan harian Anzib. “DA. Manua kurang mcngetahui bahwa di daerah Aceh juga mempunyai lagu-lagu sendiri yang khas,” tulis Anzib dalam catatan hariannya tahun 1961. Meski keduanya memiliki persepsi yang berlainan, tapi hubungan mereka tetap terjalin mesra, dan berakhir mengharukan saat Anzib meninggal dunia di tahun 1976.

 

205 Lagu

Anzib lahir di Silang, dekat Lam­nyong tahun 1892. Dia memasuki Sekolah Rakyat (masa itu disebut Open-bare Irdandisch School dertweede) pada usia 13 tahun atau pada 1906. Kemu­dian pada 1910 sampai 1912 memasuki Normaal cursus (Sekolah Guru) di Koe­taradja.

Tahun 1914-1916, bersama saudara-saudaranya HM Zainoeddin dan M Djoenet Ibrahim belajar bahasa Belanda pada HZO. Pada masa itu pula Anzib menjadi guru bantu pada Volkschool (Sekolah Rakyat) di Gani (Keurukon).

Keterlibatannya dengan dunia mu­sik, adalah keterlibatannya juga den­gan dunia sastra dan bahasa. Perhatiannya di dua bidang ini sangat besar. Keterlibatannya dengan sastra lantaran diapun, seperti yang sudah disebutkan di atas mengarang banyak buku, sekaligus syair-syair lagu yang dinyanyikan oleh orkestra. Atau lebih menjurus lagi, Anzib bersama Abdul Aziz Ibrahim (pada 1948) menelorkan karyanya berupa Buku Ejaan Atjeh berikut dengan tatabahasanya. “Buku-buku itu perlu disimpan untuk sewaktu-waktu dapat dilihat dan dibaca kembali oleh anak cucu kita,” pesannya dalam sebuah catatan. Tampaknya dia memahami betul, bahwa kesemua itu akan sangat besar manfaatnya di kemudian hari. Selanjutnya membuat kumpulan hadih maja yang merupakan kerja patungan dengan Adnan Hanafiah (kini Ketua PDIA.cs

Masa-masa tua Anzib, adalah masa-masa di depan mesin tik, dan gesek biola. Waktunya nyaris tersita berteman kedua benda itu. Kalau tidak dengan mesin tik merek Harmes Baby yang dibeli secara kredit Rp. 85, ya dengan biola tuanya. Dari biola yang kerap putus tali inilah konon melahirkan banyak lagu, yang menurut catatan mencapal 205 judul lagu. Ada memang yang belum sempat dinyanyikan oleh biduan-biduanitanya semasa Indahan Seulawah, yang kini mungkin sudah jadi nenek-nenek. Seperti Bungong Jeumpa atau Bungong Seulanga yang layu, masihkah kuncup-kuncup baru akan mekar kembali?.  Entahlah, hanya waktu yang menjawab. (marhiyansyah/nt. fikar w.ed)

 

(Sumber: Harian SERAMBI INDONESIA, Minggu, 15 Juli 1990 halaman 6 )