Dengan Semangat Hikayat Prang Sabi, Rakyat Aceh Berjuang Mempertahankan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia di Aceh, Langkat, Tanah Karo dan Front Medan Area (1945 – 1949)

Hikayat Perang Sabi, Penggerak Semangat Juang

                                                    Oleh: T.A. Sakti

 

DARI sekian banyak jumlah Hikayat Aceh, yang dikategorikan sebagai Sastra Lama daerah itu, Hikayat Prang Sabi punya kenangan tersendiri bagi masyarakat Aceh hingga dewasa ini. Hikayat inilah yang mendorong rakyat Aceh sanggup berjuang puluhan tahun melawan penjajah. Karena itu, baik dimasa Belanda maupun Jepang masih berkuasa, hikayat ini dilarang keras membaca atau menyimpannya.

Demi berbagai tujuan, sejak dulu sampai sekarang Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang Sabil) tetap masih dibaca dan dipelajari oleh berbagai kalangan. Semasa Perang Aceh masih berkobar, sarjana-sarjana Belanda mcmpelajari hikayat ini dengan tujuan untuk mengatur strategi, supaya Perang Aceh dapat dipadamkan. Diantara sarjana Belanda yang sangat menaruh perhatian terhadap “Sastra Perang” itu adalah Prof. Dr. Christian Snouck Hurgronje dan H. T. Damste.

Snouck Hurgronje sengaja dikirim pemerintah Belanda ke Aceh untuk mempelajari seluk beluk kehidupan masyarakat Aceh. Laporan-laporannya menjadi pedoman mengatur strategi perang. Sesudah Indonesia merdeka, hikayat Prang Sabi juga masih memiliki daya penarik bagi sarjana-sarjana Asing. Tentu saja tujuannya bukan lagi untuk taktik perang, tetapi sebagai studi ilmiah untuk menulis sejarah Aceh. dr. A, J, Piekaar (Belanda) dan Dr. Anthony Reid berkebangsaan Australia, termasuk dian­tara sarjana-sarjana asing yang pernah mendalami tentang Hikayat Perang Sabil.

Dari kalangan sastrawan  Aceh dan Indonesia yang ikut serta menulis dan mengomentari hikayat ini, antara lain Prof. A. Hasjmy, Abdullah Arif, MA, Drs. H. Ismuha, SH, Prof. Tgk. Ismail Yakub, SH, MA, T. A. Talsya. Bahkan dalam tahun 1981, seorang sejarawan mengambil topik tentang hikayat ini sebagai bahan disertasi. Dengan judul disertasi “Perang Di Jalan Allah”, Teuku  Ibrahim Alfian meraih gelar doktor di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Begitulah besarnya perhatian para sarjana un­tuk mempelajari Hikayat Prang Sabil.

 

 

Wakil Presiden

Keunikan dari Hikayat Prang Sabi adalah karena isinya menyalahi dari isi hikayat-hikayat Aceh lainnya. Kalau karya-karya sastra Aceh yang lain; biasanya merupakan kisah kehidupan tokoh-tokoh tertentu ataupun berisi nasehat-nasehat. Sebaliknya Hikayat Prang Sabi melulu mengetengahkan anjuran-anjuran Perang Sabil. Walaupun didalamnya juga ditemui beberapa kisah, namun kesemuanya itu hanya sekedar penjabaran buat contoh teladan bagi sipembaca.

Isi pokoknya adalah anjuran perang. Hal in­ilah yang menyebabkan banyak sarjana yang mengelompokkan Hikayat Prang Sabi sebagai “Sastra Perang”. Kisah-kisah yang terdapat dalam hikayat ini hanya empat buah. Yaitu: Kisah Alnul Mardliyah, Kisah Pasukan Gajah, Kisah Sa’id Salamy dan Kisah Bayi mati hidup kembali.

Karena keterbatasan ruang, penulis tidak dapat menguraikan kesemua kisah secara terperinci, namun secara garis besar akan ditemui nanti. 

“Bahle tinggai  inong ceudah/Bah takeubah nyan bu  basi/Woe bak judo Ainul Mardliyah/Nyang that ceudah bei kasuri” (Biar tinggal isteri cantik, ditelan masa dia akan layu, kawin yang lain Ainul Mardliyah, si elok paras bau kesturi). “Wahe adek cut muda seudang/Beudoh rijang jak Prang Sabi/Bahle tinggai dum sibarang/Jak cokbintang ateuh kurusi (Wahai adik muda belia, mari berjuang dalam Perang Sabil, Tinggalkan semua segala kekayaan. jemputlah intan (Bidadari) atas kursi). Dalam dua kutipan diatas, kentera sekali propaganda si pengarang, yang menganjurkan para pemuda supaya jangan takut mati di medan perang. “kenapa kita mesti takut mati, padahal Tuhan telah menjanjikan Bidadari bagi orang yang syahid di medan perang”, demikian pesan pengarang.

Kisah Pasukan Gajah, menceritakan kehebatan tentara Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah, dalam tahun kelahiran Nabi Muhammad Saw. Biarpun demikian hebat, baik jumlah pasukan maupun perlengkapan perang, namun pada akhirnya Pasukan Gajah itu hancur lebur atas kehendak Allah. Begitu pula nasib yang akan dialami tentera Belanda.

Walaupun mereka lengkap dengan persenjataan modern, namun kemenangan terakhir pasti berada dipihak rakyat Aceh. Karena Allah Swt pasti menolong orang-orang yang berjuang dipihakNya, demi membela kebenaran. Gambaran sang pengarang dalam kisah pasukan gajah ini, telah memberi rasa optimis kepada para pejuang Aceh, bahwa pada suatu ketika mereka pasti menang. Harapan itulah yang diperjuangkan mereka berpuluh-puluh tahun.

“Sare keumah seukalian/Rasul Tuhan neubeurangkat/Bileue tamong dalam peukan/Meuhoi bandum yohnyan sahbat” (Setelah siap semua perlengkapan, Rasul Tuhan hendak berangkat, Bilal mengajak rakyat berperang, ikut pasukan Rasul Hadlarat). “Sa’id Salamy gohlom neuwoe/Ka seuleusou bloe meuneukat/Bak isteri neu keumeung woe/Hana bagoe meusyen neuhthat” (Sa’id Salamy masih di jalan, hanya barusan lepas berbelanja, kepada isteri berniat pulang, rasa tak tertahan rindu di dada?. “.

Disini diceritakan ketetapan hati seorang pemuda negro yang berkulit hitam pekat. Bertahun-tahun ia berniat kawin, namun tidak pernah terlaksana karena semua gadis tidak bersedia nikah dengannya lantaran tampangnya yang sangat jelek.

Tetapi berkat kharisma Rasulullah yang melamar seorang gadis bangsawan untuk si Negro ini, barulah ia berhasil menikah, Ketika Sa’id Salamy baru bersiap-siap pulang kepada isterinya, tersebar berita bahwa Nabi Muham­mad Saw akan berangkat kemedan perang. Tanpa berpikir  panjang, perhatian Sa’id Salamy beralih ke medan perang. Semua uang yang sedianya hendak membeli perlengkapan pengantin baru, dialihkan menjadi modal untuk membeli perlengkapan perang. Walaupun beberapa kali Nabi Muhammad Saw menghalanginya supaya ia jangan ikut pasukan perang, namun secara diam-diam ia telah berada diarena perang, bahkan berada dibarisan   paling depan.

Dia termasuk salah seorang diantara sejumlah syuhada dalam perang itu. Syahidnya sangat disayangkan oleh Rasulullah, hingga beliau menangis sedusedan. Walaupun telah syahid, beberapa orang sahabat pernah melihatnya;  ketika ia pulang kepada isterinya yang putri bangsawan itu. “Itulah bukti, bahwa orang syahid bukanlah mati sebagai keadaan ‘mati biasa’ lainnya, ia tetap hidup di alam yang berbeda.

Kisah ini memberi dorongan kepada para gerilyawan Muslimin Aceh untuk tidak takut mati. Bahkan mereka berlomba-lomba menggempur pasukan Belanda karena mengharapkan syahid.

Demikian besar inspirasi dan dorongan perang yang  dipompakan Hikayat Prang Sabi, sehingga kita tidak heran disuatu ketika Wakil Presiden Adam Malik pernah menghimbau para sastrawan  Indonesia, supaya mereka berusaha menciptakan karya sastra yang “bernilai tinggi” sebagaimana karya sastra Hikayat Prang Sabi.

Hal itu dikatakannya pada jamuan makan untuk para sastrawan, sewaktu berlangsungnya Pertemuan Sastrawan 1979 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Tentang hal ini sebuah harian Medan memberitakan: “Adam Malik meminta, agar para sastrawan Nusantara jangan hanya menciptakan ‘”karya sastra”, tetapi mereka harus dapat menciptakan karya sastra yang lebih berarti dan bernilai, seumpama karya sastra yang dapat menimbulkan semangat perjuangan.

Adam Malik mengambil contoh karya sastra Hikayat Prang Sabi, yang dapat membangkitkan semangat jihad pemuda-pemuda Aceh untuk berperang melawan Belanda berpuluh-puluh tahun lamanya. Seakan-akan Pak Adam Malik hendak bertanya: kapan kiranya lahir  “Pengarang Hikayat Perang Sabil”  abad ke XX ini?”.

 

 

( Sumber: Harian Merdeka, Jakarta, Kamis, 10 Maret 1983 halaman VI ).


 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s