Nasib Putra Pahlawan Tiga Zaman: Dirgahayu HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke – 68, 17 Agustus 2013

 

img_20070108_0007

Foto: Hasballah Bin Panghab

 

 

 

 

Komentar Pembaca

 

                        PUTRA PAHLAWAN TIGA ZAMAN

                         HIDUPNYA SANGAT SENGSARA

              Tahun 1979, semasa saya sedang rancak-rancaknya berusaha mengumpulkan bahan-bahan tulisan mengenai sejarah, kisah kepahlawanan  Pang Hab pernah saya coba mengumpulkan informasinya, tetapi gagal akibat kurang lengkap datanya. Ia memang orang kampung saya , tetapi kebanyakan warga desa tidak tahu  ‘peta’  perjuangannya  yang mencukupi bahannya bagi sebuah karangan. Memang semua orang tua  yang pernah akrab dengannya mengakui, bahwa Pang Hab bekas perjuang, namun sewaktu ditanya secara mendeteil, semua mereka menjawab HOM (tidak jelas).

           Secara pribadi, sewaktu saya masih kecil hanya mengenalnya sebagai orang tua yang sudah uzur, senang memakai baju warna hitam, orangnya agak pendek ; hanya itulah yang masih terbayang –bayang di benak / ingatan saya tentang tokoh Pang Hab itu. Sesudah beliau meninggal dan saya sudah agak besar, pernah pula mendengar bait-bait syair Aceh tentang kepahlawanan Pang Hab yang dikarang  Abdullah Arif, MA yakni : “Pang Hab Keumire geugrop lam uteun. Geugunci peudeung geukap ngon  gigoe “. Atau “Pang Hab Keumire Geureuhem batok,  Teukeujot ‘musoh’ lam alue Kala”, begitu syair-syair lisan yang biasa dihafal warga desa.

silsilah-image

          Riwayat hidup Pang Hab puluhan tahun ‘misterius’ bagi saya, barulah terang – benderang pada minggu pertama bulan Februari 1993 ini, setelah membaca satu artikel yang ditulis oleh Prof. A. Hasjmy dalam Harian Serambi  Indonesia (terlampir tanggal terbitnya lupa dicatat). Fotokopy artikel itu diberikan oleh Teungku Hasballah Aceh (Tgk. Aceh)putra paling bungsu Pang Hab dari isterinya yang ke enam, penduduk kampung Bucue, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie. Semula artikel itu diterima Tgk. Aceh dari abangnya yang lain ibu, penduduk desa Keumire/ Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar.

          Melalui karangan yang berjudul:’Panglima Perang Aceh  di Tiga Zaman”, Prof.A. Hasjmy memberikan informasi sangat lengkap mengenai kepahlawanan Pang Hab Keumire. Pang Hab (Panglima Abdul Wahab) ialah salah seorang Panglima dari para Uleebalang (Komandan  batalion) dalam lingkungan Sagoe/Kawom (Divisi  XXII Mukim yang Panglima Sagoenya bergelar Panglima Polem Sri Muda Perkasa. Beberapa komandan battalion  lain yang sezaman dengan Pang Hab dan juga anak buah Panglima Polem Sri Muda Perkasa  adalah Pang Raden (Pan Den), Pang Husin  (Pang  Usen), dan Pang Abbas (Pang Abah). Dari ketiga para panglima ini, hanyalah Pang Hab yang masih hidup sampai zaman Indonesia Medeka dan mendapat Piagam Tanda Kehormatan dan Bintang Jasa dari Presiden Republik Indonesia,  Soekarno. Atas nama Presiden Republik Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1961, Gubernur/Kepala Daerah Istimewa Aceh, A.Hasjmy  menyerahkan Piagam Tanda Kehormatan dan menyematkan Bintang Tanda Jasa pada dada Pahlawan Tiga Zaman, Pang Hab Keumire itu.

         Sungguh, data-data yang disajikan Prof. A.Hasjmy cukup lengkap, termasuk keterangan bahwa  Pang Hab sempat berjuang lagi untuk mengusir Belanda menjelang kedatangan Jepang. Setelah Proklamasi Kemerdekaan R.I. , Pang Hab menggabungkan diri dalam Barisan Mujahidin untuk bertempur melawan Belanda di Medan Area, Sumatera Utara.

           Dari keenam isterinya Pang Hab dikaruniai 11 orang anak. Sementara  isteri keempat tidak mewariskan keturunan.

Namun ada satu hal yang kurang diberikan penjelasan dalam tulisan Prof.A. Hasjmy, yang juga berkaitan langsung dengan  kehidupan dan pewarisan nilai kepahlawanan dari tokoh Pang Hab Keumire, yaitu bagaimana  keadaan kehidupan dari putra-putri  Panglima Abdul Wahab sekarang ini?. Adakah diantara mereka  yang jadi “pahlawan” yang sesuai dengan zaman merdeka, yakni sebagai Pahlawan Pembangunan?. Atau paling kurang  ada yang mampu berperan sebagai  tokoh masyarakat!. Perkara  ini

memang tidak diberi porsi penjelasan yang memadai, kecuali hanya disebutkan jumlah putra Pang Hab  adalah 11 orang.

       Saya memang tidak mengenal ke 11 orang dari putra Pang Hab,  karena 10 orang diantara mereka berasal dari isteri-isteri  penduduk desa Keumire/Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Hanya seorang saja yang benar-benar saya kenal, karena ia orang  sekampung saya dan teman sepengajian, teman sepermainan semasa kami masih kecil dan tetap menjadi sahabat  diketika sama-sama telah dewasa.

Putra Pahlawan Tiga Zaman itu bernama  Hasballah Wahab, yang lebih popular dipanggilnya Tgk Aceh, sementara sesama  kawan  sebaya  diwaktu kecil  sering dipanggil Si Aceh. Tgk. Aceh lahir di kampung Bucue, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, tahun 1952. Kini ia dikaruniai 4 orang anak dari isterinya Nurhayati (28 tahun) yang berasal, dari kampung Lheue, Indrapuri, Aceh Besar. Ia adalah anak Pang Hab dari isterinya yang keenam bernama Aisyah, meninggal tahun 1960.

       Kisah kehidupan Hasballah Wahab ini sejak kecil sudah cukup menderita. Umur 8 tahun sudah meuntui (ibunya sudah meninggal), sedang pada umur 11 tahun sudah yatim-piatu(Pang Hab meninggal tahun 1963 dalam usia 101 tahun). Akibat sudah yatim-piatu ini biaya sekolahnya tak ada yang menanggung, hidup bersama nenek yang juga dalam keadaan serba kekurangan, sehingga ia dewasa dan berumah tangga.

      Akibat tidak sanggup menamatkan satu jenjang sekolah pun, berbagai kesempatan dan peluang dalam roda kehidupan modern tertutup rapat baginya. Mau jadi petani, ia tak memiliki sawah sendiri barang sepetak pun. Hendak berkebun, lagi-lagi tak punya tanah kebun walaupun hanya sebidang.

       Nyaris tertutuplah segala lobang pencaharian  nafkah hidup bagi putra pahlawan tiga zaman ini. Untunglah ia punya keterampilan bidang bertukang(utoh). Hanya itulah sumber pendapatannya utuk membiayai keluarganya, seorang istri dan 4 orang anak. Kehidupannya sebagai tukang  memang serba kurang, sebab jarang mendapat tawaran bertukang, karena di kampungnya jarang ada orang yang membangun rumah baru. Apalagi dalam pekerjaan pertukangan juga sangat banyak saingannya dari utoh-utoh yang lain. Sewaktu tidak memperoleh kerja bertukang,  sang putra pahlawan ini hidup menganggur di rumahnya. Kesan sebagai putra pahlawan, memang hampir-hampir tidak berbekas kepadanya, yang kesemuanya itu akibat tidak ada yang menyekolahkannya diwaktu kecil. Hanya dari sikap tabah menjalani penderitaan itulah, kita masih bisa merasakan bahwa ia benar-benar putra pahlawan tiga zaman. Ia pantang berputus asa!.

      Dalam upaya memperbaiki kehidupannya, Tgk.Aceh meminta saya menulis ‘komentar pembaca’ ini. Ia menghimbau Bapak Prof.A.Hasymy,  Bapak-bapak dari Tingkat I Aceh dan Tingkat II Pidie serta pihak-pihak yang masih meresapi semboyan: “Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa-Jasa Pahlawannya”,  agar sudi mengangkat derajat kehidupannya. Kalau dirinya dulu tak bersekolah, karena memang sudah nasibnya. Tetapi ia bermaksud agar hal itu tak lagi terjadi di anak-anaknya.

      Memang ia bukan minta bantuan uang kontan, tapi berupa ‘jatah atau fasilitas’ yang dapat diusahakannya dalam mencari nafkah hidup. Sekiranya proyek-proyek pembangunan yang sedang diselesaikan, ia bersedia mengabadikan keterampilannya sebagai tukang (Tgk.Utoh). bila ada Transmigrasi  lokal, ia mau pula menyambutnya. Mudah-mudahan ada pihak-pihak pecinta sejarah pahlawan bangsa yang tersentuh hatinya. Semoga!.

                                                                                                                             Banda Aceh, Februari 1993

                                                                                                                                             T.A. Sakti

img_20070108_0005

 silsilah-keluarga

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s