Kisah Cut Nyak Dhien dalam Pembuangan di Sumedang, Jawa Barat

Kisah Lain Semasa Pengasingan Tjut Nya’ Dhien di Sumedang

 

Tanggal 6 Nopember yang lalu genap sudah 75 tahun ia beristirahat untuk selama-lamanya di tanah perbukitan Gunung Puyuh yang damai itu. Jauh dari sanak saudaranya, jauh dari kampung halamannya, jauh dari teman-teman seperjuangan yang sempat tercatat arti keperkasaannya, dan jauh dari orang-orang yang teramat dikasihaninya. Dia pergi dalam sepi. Namun semangat juangnya tak akan pernah terbawa serta.

             Ia memang diasingkan ke kota kecil ini, setelah bertahun-tahun hidup di alam yang amat keras, menghunus rencong dan bergerilya dari hutan ke hutan seraya meyakinkan bahwa seorang wanita pun mampu melakukan tugas-tugas dan tanggung jawab yang paling berat sekalipun. Memimpin sendiri perang gerilya melawan penjajahan Belanda sekaligus menggantikan posisi suaminya, Teuku Umar, setelah suami yang dikasihaninya ini gugur dalam pertempuran tanggal 11 Februari 1899, delapan puluh empat tahun yang silam.

Cut Nya’ Dhien, putri  bangsawan yang lahir tahun 1848 di Kabupaten Aceh Besar ini agaknya memang ditakdirkan untuk terbiasa menerima kenyataan hidup sebagai keluarga pejuang. Mewarisi  patriotisme ayahandanya Teuku Nanta Setia, Hulubalang Mukim di Peukan Bada, suami pertamanya Teuku Syeh Ibrahim  gugur terlebih dahulu dalam sebuah pertempuran seru di Montasiek. Tjut Nya’ Dhien kemudian menikah dengan Teuku Umar dan selama belasan tahun lamanya menyertai  suaminya ini memimpin perang Aceh yang terkenal itu. Satu-satunya anak yang diperolehnya dalam perkawinannya yang kedua tersebut, Tjut Gambang, dipersunting pula oleh Teuku  Mayet, putra  TeukuTjik Ditiro, seorang diantara pahlawan Aceh lainnya.(ralat: Teungku Mayet adalah cucu Teungku Chik Di Tiro-TA)

Selanjutnya kehidupan “Srikandi  Aceh” ini lebih banyak dihiasi dengan cerita-cerita kepahlawnan, terlibat dalam pertempuran demi pertempuran, kemudian didera oleh perasaan hidup sebagai pejuang. Enam tahun lamanya  ia melanjutkan perjuangan almarhum suaminya, memimpin pasukan gerilya ke hutan-hutan belantara dan menghasilkan pertempuran-pertempuran seperti halnya yang terjadi di Lampage,, Lampinang,  Moegoe dan sebagainya.

 

Sengaja ditangkapkan

Sesungguhnya kondisi fisik Tjut Nya’ Dhien sudah hampir tak memungkinkan untuk terlibat dalam pertempuran. Entah mengapa mungkin karena gizi makanan yang tidak memadai selama bergerilya atau karena suatu penyakit, kedua matanya merabun dan terancam kebutaan, sementara kesehatan tubuhnya jauh merosot. Berulang kali teman-teman terdekatnya mengusulkan agar ia beristirahat atau menyerah saja ke pihak musuh. Mereka tak sampai hati melihat penderitaannya.      

Tetapi apa jawaban wanita yang keras hati ini?

Dengan tegas beliau menolak dan menganggap suatu kehinaanlah bila menyerah pada “Khape”, kafir, yang telah membunuh serta menodai  kehormatan anak negerinya. Ia tak sedikitpun menggubris usul tersebut. Dengan sisa tenaga yang ada ia tetap hadir memimpin pertempuran-pertempuran, lari dari sergapan serdadu Belanda yang memiliki persenjataan yang lebih modern dan dengan garang meneriakkan:

Perang Kaphe, bek jigidong tanoh Aceh! Perangi kafir, jangan dipijaknya tanah Aceh.”

 Namun bagaimanapun juga, wanita perkasa ini telah teramat lelah untuk sebuah tugas dan tanggung jawab besar. Kecuali tekad serta semangat yang kuat dengan didasarkan keyakinan pada ridho Tuhan terhadap jalan yang ditempuhnya sebagai muslimah teguh, hampir tak banyak lagi tenaga yang dimilikinya. Kesehatannya merapuh.

Di suatu hari di bulan Nopember 1905, Pang Laot, teman seperjuangannya yang merasa   tak sampai hati melihat penderitaannya, memberitahukan tempat persembunyian  Tjut Nya’ Dhien pada pasukan patroli  Belanda. Tanggal 6 Nopember 1905, ia disergap oleh pasukan Belanda yang dipimpin sendiri oleh Kapten Veltman dan Letnan van Vuuren  di  Rigaih, Meulaboh, Aceh Barat. Wanita gagah berani ini tertangkap atau lebih tepat bila disebut sengaja ditangkapkan. Atas perintah Jenderal van Daalen, Tjut Nya’ Dhien diasingkan ke kota Sumedang di Jawa Barat. Kota kecil yang akhirnya mencatat hari-hari  akhir seorang wanita berhati baja ini.

           Siapa guru mengaji  itu?

          Tak banyak orang Sumedang yang mengerti mengapa perempuan tua yang hampir buta total itu tiba-tiba berada di kota mereka. Bupati Sumedang waktu itu, Pangeran Aria Suriaatmadja, hanya memberitahukan pada Mbak Soleha bahwa  ia putri bangsawan Aceh. Karena itu ia harus dirawat dengan sebaik-baiknya. Tak lebih.

 “Orang Sumedang akhirnya memanggilnya Eyang Prabu Aceh” tutur R.A.Bulkini, seorang yang dipandang amat paham dengan seluk beluk dengan sejarah sumedang. Menurut penuturannya, walaupun ketika ia masih bocah, namun kisah tentang kehadiran Tjut Nya’ Dhien di Kota Smedang cukup menarik perhatiannya saat itu. Orangtuanya yang tinggal berdekatan dengan tempat kediamannya Tjut Nya’ Dhien sekitar daerah Kauman, Sumedang. Menceritakan bahwa Eyang Prabu Aceh yang tak lain adalah Tjut Nya’ Dhien tersebut amat dihormati oleh masyarakat sekitarnya. Rambutnya yang masih menghitam dalam usianya yang tua terpelihara panjang, tubuhnya tampak cukup tinggi untuk ukuran wanita sekarang sementara wajahnya memperlihatkan keteguhan hatinya yang luar biasa.

            Ia menempati sebuah rumah yang tak bnayak berbeda dengan rumah-rumah orang Sumedang lainnya. Berpanggung dan dinding bambu pilihan. Dalam masa perasingannya ini  Tjut Nya’ Dhien lebih banyak melewatkan hari-harinya  dengan mengajarkan agama Islam serta mengadakan pengajian Al-Qur’an bagi masyarakat sekitarnya yang masih belum mampu mengaji.

“Kepintarannya menghapalkan ayat-ayat Al Qur’an kendati dengan keadaan mata yang tak bisa melihat lagi benar-benar menimbulkan kekaguman sera rasa hormat masyakat Sumedang.” Demikian Pak Bulkini.

               Tinggal bersama salah seorang anak angkatnya yang turut bersamanya dari Aceh dan dikenal dengan Teungku Nanak oleh masyarakat Sumedang. Tjut Nya’ Dhien tak pernah mau dikasihani walaupun baginya  telah diperbantukan Mak Soleha untuk merawatnya sehari-hari. Ia tetap berbelanja seorang diri ke pasar dan melakukan kegiatan biasa rumah tangga seperti halnya ibu rumah tangga lainnya.

           Sepengetahuannya  orang-orang tua yang menceritakan pada anak-anaknya, Eyang Prabu Aceh memiliki cukup banyak perhiasan untuk dijualnya bagi mencukupi kebutuhannya sehari-sehari. Kadang-kadang orang tak bersedia dibayar karena mereka tahu betapa besar jasanya mengajarkan agama pada orang lain,” cerita pak Bulkini. Menurutnya, banyak masyarakat Sumedang menjadi lebih paham agama Islam berkat ajarannya. Sementara kebenciannya terhadap Belanda   tetap mengental.

“kata orang, bila sekali waktu ia bersonsongan dengan serdadu Belanda di pasar, Eyang Prabu Aceh sengaja menabraknya secara kasar,” lanjut Pak Bulkini.

               Tiga tahun menjalani masa pengasingannya di Sumedang, tepat tanggal dan bulan yang sama dengan saat penangkapannya di Aceh dulu, Tjut Nya’ Dhien menutup kisah hidupnya yang penuh suri tauladan itu. Ia meninggal dengan tenang di rumah yang selama tiga tahun ditempatinya bersama anak angkatnya dan seorang ibu, Mak Soleha, yang setia merawatnya. Kaum kerabatnya mengantarkan wanita tabah dan pemberani  ini ke kompleks pemakaman leluhur Sumedang di Gunung Puyuh, tak begitu jauh dari kediamannya.

              Lama setelah itu masyarakat Sumedang barulah mengetahui bahwa wanita yang dikenal Eyang Prabu Aceh tersebut tidak lain dari Tjut Nya’ Dhien, perempuan yang menggemparkan Aceh itu. Peranannya dalam memperjuangkan kemerdekaan baru diketahui masyarakat Sumedang belakangan hari,” ujar R.A.Bulkini.

Tak ada yang mengetahui bagaimana perasaan wanita perkasa ini pada hari-hari terakhir dalam hidupnya yang jauh dari sanak saudaranya. Siapa lagi orang terdekatnya yang bisa bercerita tentang dirinya di Sumedang? Mak Soleha telah lama meninggal dunia.

           Dan di rumah bersejarah itu, kini sudah tiga generasi turunan Mak Soleha menghuninya. Bila ditanya pada penduduk yang tinggal di sekitarnya dimana  gerangan bekas rumah Tjut Nya’ Dhien, maaf… tak seorangpun yang tahu. Mereka hanya tahu rumah Ceu Neng, cucu Mak Soleha almarhumah.

Sembari duduk di tangga itu, seakan terbayang rasanya wanita berhati baja itu di bilik tengah. Tujuhpuluh lima tahun yang lalu mungkin ia sedang duduk mengaji di situ. Betapa tabahnya dia. *** ( Liestihana Mz )

 

 

TAK ADA YANG MENYANGKA

DIALAH  PEREMPUAN  YANG  MENGGEMPARKAN  ITU

 

 

( Sumber: Majalah KARTINI – 237 Tahun 1983 halaman 44 – 45 )

 

Iklan

2 pemikiran pada “Kisah Cut Nyak Dhien dalam Pembuangan di Sumedang, Jawa Barat

  1. Sejarah Cut Nyak watee dipeuaseng u Bogor sampo’an jino manteng hana that le cit ureueng teupu pak, padahai gobnyak awai dile na diba keudeh u Bogor seugeulom tinggal trep di Sumedang. Pu na koleksi sejarah nyan pak bak droen?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s