Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia dalam Buku Sejarah Nasional Indonesia Masih Sangat Minim!

Mukaddimah: Sengaja artikel  ini saya postingkan pada   Sabtu, 25 Ramadhan  1434 H ( 3 Agustus 2013 M), yakni hari ini adalah dalam rangka mengenang atau Ultah ke 29   kecelakaan di jalan raya yang saya alami di Yogyakarta. Naas itu terjadi hari Sabtu, 25 Ramadhan 1405  (15 Juni 1985 ) sekitar pukul 13.00 wib di wilayah Kalasan, lk 8 km sebelah timur kota Yogyakarta.  Pada hari itu, kami mahasiswa peserta KKN-UGM dijemput pulang ke kampus setelah melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata selama dua bulan lebih. Saya sendiri, T. Abdullah Sulaiman  beserta empat orang teman lainnnya ditugaskan di desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Selesai acara perpisahan dengan “Pemda Kabupaten di Boyolali” konvoi mahasiswa KKN-UGM bergerak pulang ke Kampus UGM Yogyakarta.  Setelah melintasi Candi Prambanan peristiwa naas itu terjadi. Sebuah mobil Colt pengangkut barang  tivi tiba-tiba menabrak saya.  Akibatnya, saya  perlu berobat dua tahun, secara medis di kota dan tabib patah di gunung. Nyaris skripsi tak selesai. Syukur Alhamdulillah, semua hambatan itu teratasi juwa akhirnya. Semoga kedepan rahmat dan karunia Allah Swt semakin berlimpah dicucurkan kepada saya sekeluarga serta bagi kaum Muslimin-Muslimat  ban Sigom Donya!. Selamat Menyambut Hari Raya ‘Idul Fitri 1434 H, mohon-maaf lahir dan bathin!!!.

 

Bale Tambeh,  25 Puwasa 1434

                        25 Ramadhan  1434 H

                          3 Agustus 2013 M

( T.A. Sakti )

 

 

 

Porsi Umat Islam Dalam Penulisan Buku Sejarah Indonesia

         Akhir-akhir ini penulisan mengenai sejarah sudah menduduki tempat yang sangat penting dalam setiap bangsa. Perhatian di sini bukan hanya dalam dunia akademis saja, tetapi pihak pemerintahpun menunjukkan perhatiannnya dalam persoalan ini.

       Kini kita lihat Republik Turki, sejak kelahirannya pada perempatan kedua abad kedua puluh , sudah mulai melakukan penyelidikan tentang asal-usul mereka sebagai suatu bangsa yang terpisah dari bangsa Arab. Singapura, tengah menyusun sebuah penulisan sejarah yang sejak kedatangan emigrant China ke pulau tersebut pada masa Reffles. Jepang sedang melakukan revisi terhadap penulisan sejarah nasionalnya, yang dua negara tetangga, RRC dan Korea (Selatan) memprotes keras . Dan akhir-akhir ini Presiden Soeharto menginstruksikan agar pelajaran sejarah di sekolah disempurnakan, demikianlah uraian Drs. Nourouzzaman shiddiqi,MA dalam memulai pidatonya.

        Selanjutnya putera Prof. DR. Hasbi Asshiddiqi itu menguraikan tentang pentingnya penulisan sejarah. Menurut beliau penulisan sejarah dianggap penting, karena dari sejarahlah orang akan memahami dirinya sendiri. Dengan mensitir pendapat Karl Jaspers yang mengatakan kita tidak menghendaki menjadi sirna, tetapi menginginkan untuk mendapat tempat di dalam humanitas.

          Bahkan menurut Nourouzzaman, sebuah pandangan sejarah menciptakan sebuah rasa yang dari situlah bangkit humanitas kita. Gambaran sejarah yang kita bentuk, menjadi sebuah faktor tindakan. Kebiasaan kita berpikir tentang sejarah membentuk batasan-batasan tentang potensialitas kita, atau yang memancing kita menjadi jauh dari realitas kita sendiri. Juga dalam ketidak raguan obyektifitas pengetahuan kesejahteraan tidaklah semata-mata tidak berbeda isi faktual, tapi satu unsur yang aktif dalam kehidupan kita, tandasnya. Kita dapat mengetahui fundamen kesejarahan kita  melalui perenungan kebersaran yang berada dalam hati kita masing-masing. Kita harus ingat bahwa kita dari sejarah dan melalui sejarah kita terbentuk.

       Dalam bab yang lain, Nourouzzaman memperinci argumen mengenai manfaat didalam mempelajari sejarah, dalam hubungannya dengan assumsi yang berkembang; yaitu masa yang lalu  milik generas yang lalu, masa sekarang milik generasi sekarang. Untuk menjawab asumsi tersebut, Nourouzzaman melihat ada tiga hal.

        Pertama, walaupun masa lalu , masa kini dan masa yang akan datang tidak terbengkalai dalam suatu hubungan mutlak, namun ada warisan masa lalu yang harus dipelihara, dijaga dan diteruskan, karena warisan itu sudah terbukti kebaikannya.

         Kedua, tidak ada argument moderen yang lebih meyakinkan untuk membangkitkan rasa kesadaran sejarah dan makna eksistensi kita selain dengan mengaitkan diri kita dengan masa lalu, kini dan mendatang. Menurut Direktur Lembaga Bahasa IAIN SUKA itu, Aristoteles dapat berpuas diri dalam membuat batasan , bahwa manusia adalah seorang machluk dalam masyarakat (zoon politikon). Dengan demikian dalam pikiran Aristoteles sejarah tidak memainkan peranan penting, karena masyarakat baginya adalah hanyalah aktualisasi dari pada sebuah bentuk tak berwaktu. Namun orang dewasa ini mendefenisikan dirinya sebagai machluk sejarah (zoon-historikoon), machluk masa lalu, masa kini dan yang akan datang.

          Ketiga,  pengalaman pahit orang-orang terdahulu yang menyebabkan mereka harus menanggung derita, yang mungkin juga penderitaan mereka masih kita rasakan sampai sekarang. Dengan demikian hal itu jangan sampai terulang lagi, itulah guna mempelajari “sejarah sebagai cerminan untuk dijadikan pedoman bagi masa kini dan masa mendatang’’.
Oleh karena itu para sejarawan dituntut bertindak jujur, tidak menggelapkan apalagi menghapuskan peristiwa sejarah dengan dalih apapun. Karena kepalsuan sejarah akan menghasilkan yang palsu juga.

          Apalagi sejarah dijadikan propaganda bagi kepentingan kekuasaan. Kalau hal ini terjadi maka akan lahir apa yang disebut “kebohongan atau kepalsuaan sejarah”. Kalau dilihat dalam konteks  yang lebih luas lobang-lobang dan faktor penyebab adanya kekeliuran, kebohongan atau kepalsuan dalam penulisan sejarah. Menurut dosen LAIN itu dikarenakan adanya:


a. Faktor dari dalam, yaitu antara lain,
1.  Terlalu terlibat terhadap apa yang ditulisnya. Dalam hal ini penulis adalah seorang partipisan,                                   yang membela golongannya tanpa melihat kesalahan-kesalahan.

     2.  Terlalu percaya dengan sikap yang berlebih-lebihan terhadap sumber informasi, dengan menolak informasi yang lain.

     3.  Mencari muka agar disenangi oleh orang lain (penguasa) dll.

b. Faktor dari luar :
Yaitu tekanan-tekanan yang datang dari luar dirinya, baik dari penguasa maupun dari lingkungan masyarakatnya. Beberapa faktor penyebab diatas, berlaku juga bagi penulisan buku sejarah nasional di negara kita.
Kiranya tidak ada yang membantah, bahwa buku sejarah Indonesia pra kemerdekaan hampir seluruhnya ditulis oleh sarjana-sarjana Belanda. Dengan memperhatikan  pernyataan yang disampaikan oleh Gibb, dikatakan oleh Nouruzzaman, bahwa pada umumnya yang menulis sejarah orang-orang timur (Islam) adalah orientalis yang menulis sejarah secara amatir.
Peringatan Lewis yang menyebutnya tentang kekurangan khas yang dimiliki oleh barat. Inilah barangkali sebagai penyebab disamping ada sikap mineur dikalangan orang Belanda terhadap ummat Islam Indonesia, sehingga pembahasan yang menyangkut ummat Islam mendapat porsi yang sangat sedikit.  Bagi orang Belanda, ummat Islam bersama ulamanya adalah troublemakers. Dari sini bisa kita simpulkan adanya ketidak senangan pada ummat Islam. Dengan beberapa uraian di atas, maka sejarah Indonesia perlu ditulis kembali.
Bagi kita bangsa Indonesia, kebutuhan mengkaji sejarah ummat Islam mempunyai kepentingan yang lebih khusus lagi. Sejak 98% bangsa Indonesia menganut Agama Islam, maka mengkaji sejarah Islam adalah mengkaji sejarahnya sendiri.
Bagi bangsa Indonesia Islam berfungsi pula sebagai  tali ikatan kebangsaannya. Sedangkan rukun-rukun telah menjadi ide kultural, tuturnya.
Dengan kesepakatannya pada Wilfred  Cantwel yang berpendapat, bahwa bagi kaum muslimin, Islam juga sesuatu kekuatan yang memberikan dampak bagi kemajuan, yang mendorong dari belakang, mengontrol dan mengangkat ke atas. Disamping dampak modernisasi yang datang dari samping.

             Untuk mengetahui dampak ini menurut Nourouzzaman diperlukan pelacakan sejarah. Oleh karena itu sejarah adalah satu hal yang unik bagi ummat Islam. Dan hal ini yang kurang dipahami oleh penulis sejarah Indonesia pra kemerdekaan sehingga dengan kesengajaan memberi  porsi yang begitu kecil dalam penulisan sejarah Indonesia. Mungkin sebagai salah satu penyebab pula didalam mengambarkan peranan Teungku Chik Ditiro, Teungku Chik Kuta Karang tidak terlukis sebesar Teuku Umar (priyayi) yang oleh Belanda dijuluki Johan pahlawan. Demikian juga tentang gambaran kerajaan Islam seperti Maluku, Mataram, Banten. Sulawesi, yang tidak sama penggambarannya dalam penulisan sejarah, kalau dibandingkan kerajaan-kerajaan Hindu pada masa lalu. 

             Sekarang (decade ketujuh abad keduapuluh) timbul pula masalah yang diperdebatkan tentang kapan masuknya  Islam di Indonesia. Menurut Nourouzzaman masalah ini memerlukan pembahasan akademis yang serius. Pernyataan-pernyataan yang dilontarkan melalui pertemuan-pertemuan (apalagi yang hadir  bukan sejarawan, apalagi menyebut professional) tidaklah cukup. Dilain pihak, terkait dengan gejala keangkuhan otoritas (kesombongan akademis) yang dipertunjukkan oleh sarjana-sarjana barat.

             Dengan argumen diatas, perlu kini re-interpretasi tentang sejarah umat Islam, dengan harapan tumbuhnya minat untuk menulis kembali. Pada akhir pembicaraan Nourouzzaman Shiddiqi menyarankan kepada pemerintah yang dalam hal ini Menteri Agama berkenan mengambil inisiatif untuk membentuk sebuah team ahli yang mengkaji tentang permasalahan ini.

             Senada dengan apa yang diuraikan Nourouzzaman Shiddiqi, MA, adalah pendapat Drs. H. Maman A Malik yang dikemukakan dalam forum diskusi dosen-dosen IAIN Sunan Kalijaga pada tanggal 24 September 1982. Dalam forum diskusi yang dipimpin Prof. DR. H. Mukti Ali itu, Maman A Malik berpendapat, bahwa perbedaan pandangan dalam tafsir sejarah, dalam batas-batas tertentu sebenarnya masih bisa dimaklumi. Akan tetapi penggelapan dan penggebirian fakta sejarah apapun alasannya akan banyak mengandung reaksi.

          Dalam hal ini banyak diketemukan dalam penulisan sejarah nasional Indonesia. Kalau dilihat dari keseluruhan, menurut Maman A. Malik, penulisan buku sejarah yang terdiri dari VI jilid itu, patut dibanggakan dan dihargai. Pembeberan fakta sejarah disusun secara kronologis dan gamblang. Analisa sejarahnya cukup tajam dan mendalam, Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ditunjang pula oleh berbagai literatur yang bisa dipertanggung jawabkan. Akan tetapi sangat disesalkan bahwa pembahasan dan analisa yang mendetil sedikit dalam hal-hal yang menyangkut masalah umat Islam dibanding dengan hal-hal yang lain, tuturnya.

              Hal ini bisa kita lihat dalam “buku kedua yang berisi zaman kuno”. Periode zaman kuno dalam penulisan buku sejarah nasional Indonesia identik dengan Hindu yang meliputi proto-sejarah, dan berakhir dengan masuknya pengaruh Islam ke Indonesia. Menurut penulis buku sejarah buku sejarah itu zaman kuno berlangsung sejak awal Masehi sampai sekitar tahun 1600 M. Padahal jauh sebelum tahun 1600 M pengaruh Hindu sudah terdesak oleh pengaruh Islam yang sejak akhir abad XIII M  sudah menanamkan benih-benih politiknya di bagian utara pulau Sumatera. Kerajaan Majapahit yang dianggap sebagai kerajaan Hindu terbesar dalam sejarah Nusantara, berdiri antara tahun 1293-1528 M. dengan  puncak kejayaan yang dicapai pada masa pemerintahan Hayam Wuruk pada tahun 1350-1389 M atas dukungan patih Gajah Mada (1331-1364).

           Akan tetapi setelah Hayam Wuruk meninggal, Majapahit diliputi kabut kegelapan. Sejak tahun 1400 Majapahit yang besar dan bersatu itu sudah tidak ada lagi, dan dalam masa itu juga Islam semakin merasuk ke dalam bumi Nusantara. Jadi  menurut H. Maman A. Malik, dengan nada bertanya, apa yang dimaksud penulis sejarah nasional itu sehingga periode zaman kuno dikatakan “sejak awal Masehi hingga tahun 1600”.

            Demikian juga kekeliruan itu terdapat dalam buku ketiga, yang berisi periode tumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Yang menurut buku sejarah nasional itu, penetapan periode pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam adalah tahun 1600-1800. Padahal kerajaan Malaka muncul pada awal abad XV sebagai pusat kegiatan Islam yang meliputi politik, sosial, budaya, tutur dosen IAIN itu. Bahkan, menurut Malik, kerajaan yang pertama memeluk Islam itu mampu menyaingi kebesaran Samudera dan sebagai pusat niaga memberikan bantuan pada penyebaran agama dan sebagai niaga memberikan bantuan pada penyebaran agama Islam di berbagai wilayah Nusantara, termasuk dipelabuhan-pelabuhan yang dikuasai kerajaan Majapahit. Tapi ini tidak terdapat dalam buku sejarah nasional kita.

            Dan kalau kita mau menelusuri lebih jauh lagi, disekitar tahun 1430, juga muncul suatu kerajaan Islam di Ternate. Dari pusat-pusat atau kerajaan itulah Islam mampu menerobos keseluruh Nusantara. Jadi penetapan tahun 1600-1800 sebagai periode pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Islam dalam sejarah nasional kita, tidak bisa dibenarkan, karena secara faktual, kerajaan Islam di bumi Nusantara ini sudah bermunculan sebelum  tahun 1800.

         Ada beberapa point dalam bab IV sub bab A dan buku ke VI  yang menjadi kandungan sub bab A bab IV, mengapa lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti NU, Muhammadiyah, dll (kecuali yang dikelola SI) tidak dibicarakan disini?. Padahal kalau kita mau bicara yang objektif lembaga pendidikan seperti pesantren, sebagai suatu lembaga pendidikan tertua umurnya, seharusnya mendapat tempat untuk dibahas di bab ini. Sebab dari pesantren ini telah lahir pejuang-pejuang bangsa yang militan.

         Juga isi dalam buku ke VI (keenam), mengapa perlawanan phisik bangsa Indonesia melawan  Jepang tidak dibahas?. Yang lebih menarik dalam pemaparan Drs. H.Maman A. Malik itu adalah  di dalam menanggapi buku ke V(lima) yang isinya mengenai kebangkitan nasional mulai tahun 1900 dan berakhir tahun 1942.
Didalam buku kelima ini, tidak sedikit pembahasan-pembahasan pergerakan rakyat secara mendetail. Akan tetapi sayang lebih banyak jumlahnya yang hanya disinggung  sekilas dan bahkan tidak dibicarakan sama sekali. Dalam buku kelima ini, organisasi-organisasi yang bercorak keagamaan ( Islam ) tidak dibicarakan, kecuali Serikat Islam. Tidak dikemukakan pembahasan mengenai NU, Muhammadiyah, POI, Jamiyatul Wasliyah, PERSIS, MIAI, dsbl. Serikat Islam walaupun dibicarakan, tetapi tidak disinggung mengenai sebelum berubah nama, yaitu dari  SDI  ke  S1, padahal kalau SDI  dibicarakan, akan menunjukkan bahwa ummat Islam di Indonesia telah mempunyai organisasi sebelum berdirinya Boedi Oetomo. Karena SDI yang lahir tahun 1905 itu sudah mempunyai latar belakang dan tujuan mensejahterakan rakyat pribumi, walaupun dibatasi oleh nama Islam.
Bahkan dalam tahun 1901 lahir organisasi Islam Jamiyatulkhair. Dan organisasi ini baru mendapat izin dari pemerintah jajahan  pada tahun 1905. Organisasi yang pemimpinnya kebanyakan orang keturunan Arab itu, bergerak di pendidikan. Dan banyak melahirkan tokoh-tokoh masyarakat yang mempunyai peranan cukup penting pada zaman pergerakan nasional menuju kemerdekaan. Tapi mengapa tidak disitir dalam buku sejarah ini, tutur dosen Fakultas Adab itu.
Dalam akhir pembicarannya Drs.H.Maman A. Malik mengemukakan, bahwa selain uraian di atas, terdapat ungkapan-ungkapan yang lebih mencerminkan sifat subyektif penulis, seperti:
1.   Pada akhir bulan Maret 1946 beberapa tokoh  politik ditangkap karena dianggap melemahkan  persatuan dan hendak merubah susunan negeri di undang-undang.
2.  Sekalipun Pemilu pada tahun 1955 dianggap paling murni ternyata tidak membawa kepada  pemerintahan yang stabil.
3.  Pada Orde Lama, seperti partai-partai politik tidak  mampu menampilkan pemimpin kaliber dunia.
selanjutnya ada kesan lain, lebih bersifat Jawa sentris. Hal ini dapat dilihat dari sudut:

1.  Penampilan gerakan nasional yang berpusat  di Jawa.
2.  Penonjolan terhadap sinkretisme ( Islam  dan agama Islam asli).
3. Gerakan-gerakan sosial yang ditulis hanya terjadi di Jawa.

4. Dalam sistematika mendahulukan kerajaan Mataram dari pada Aceh. Padahal kerajaan Aceh lebih dahulu muncul.                                                                                                                                (M. Soleh Amin).

 

( Sumber: Majalah MUHIBBAH, No. II Thn XVI/1982  hlm 37 – 50. Diterbitkan Lembaga Pers Mahasiswa UII, Yoyakarta).

 

  

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s