Dengan Semangat Hikayat Prang Sabi, Rakyat Aceh Berjuang Mempertahankan Kemerdekaan Negara Republik Indonesia di Aceh, Langkat, Tanah Karo dan Front Medan Area (1945 – 1949)

Hikayat Perang Sabi, Penggerak Semangat Juang

                                                    Oleh: T.A. Sakti

 

DARI sekian banyak jumlah Hikayat Aceh, yang dikategorikan sebagai Sastra Lama daerah itu, Hikayat Prang Sabi punya kenangan tersendiri bagi masyarakat Aceh hingga dewasa ini. Hikayat inilah yang mendorong rakyat Aceh sanggup berjuang puluhan tahun melawan penjajah. Karena itu, baik dimasa Belanda maupun Jepang masih berkuasa, hikayat ini dilarang keras membaca atau menyimpannya.

Demi berbagai tujuan, sejak dulu sampai sekarang Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang Sabil) tetap masih dibaca dan dipelajari oleh berbagai kalangan. Semasa Perang Aceh masih berkobar, sarjana-sarjana Belanda mcmpelajari hikayat ini dengan tujuan untuk mengatur strategi, supaya Perang Aceh dapat dipadamkan. Diantara sarjana Belanda yang sangat menaruh perhatian terhadap “Sastra Perang” itu adalah Prof. Dr. Christian Snouck Hurgronje dan H. T. Damste.

Snouck Hurgronje sengaja dikirim pemerintah Belanda ke Aceh untuk mempelajari seluk beluk kehidupan masyarakat Aceh. Laporan-laporannya menjadi pedoman mengatur strategi perang. Sesudah Indonesia merdeka, hikayat Prang Sabi juga masih memiliki daya penarik bagi sarjana-sarjana Asing. Tentu saja tujuannya bukan lagi untuk taktik perang, tetapi sebagai studi ilmiah untuk menulis sejarah Aceh. dr. A, J, Piekaar (Belanda) dan Dr. Anthony Reid berkebangsaan Australia, termasuk dian­tara sarjana-sarjana asing yang pernah mendalami tentang Hikayat Perang Sabil.

Dari kalangan sastrawan  Aceh dan Indonesia yang ikut serta menulis dan mengomentari hikayat ini, antara lain Prof. A. Hasjmy, Abdullah Arif, MA, Drs. H. Ismuha, SH, Prof. Tgk. Ismail Yakub, SH, MA, T. A. Talsya. Bahkan dalam tahun 1981, seorang sejarawan mengambil topik tentang hikayat ini sebagai bahan disertasi. Dengan judul disertasi “Perang Di Jalan Allah”, Teuku  Ibrahim Alfian meraih gelar doktor di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Begitulah besarnya perhatian para sarjana un­tuk mempelajari Hikayat Prang Sabil.

 

 

Wakil Presiden

Keunikan dari Hikayat Prang Sabi adalah karena isinya menyalahi dari isi hikayat-hikayat Aceh lainnya. Kalau karya-karya sastra Aceh yang lain; biasanya merupakan kisah kehidupan tokoh-tokoh tertentu ataupun berisi nasehat-nasehat. Sebaliknya Hikayat Prang Sabi melulu mengetengahkan anjuran-anjuran Perang Sabil. Walaupun didalamnya juga ditemui beberapa kisah, namun kesemuanya itu hanya sekedar penjabaran buat contoh teladan bagi sipembaca.

Isi pokoknya adalah anjuran perang. Hal in­ilah yang menyebabkan banyak sarjana yang mengelompokkan Hikayat Prang Sabi sebagai “Sastra Perang”. Kisah-kisah yang terdapat dalam hikayat ini hanya empat buah. Yaitu: Kisah Alnul Mardliyah, Kisah Pasukan Gajah, Kisah Sa’id Salamy dan Kisah Bayi mati hidup kembali.

Karena keterbatasan ruang, penulis tidak dapat menguraikan kesemua kisah secara terperinci, namun secara garis besar akan ditemui nanti. 

“Bahle tinggai  inong ceudah/Bah takeubah nyan bu  basi/Woe bak judo Ainul Mardliyah/Nyang that ceudah bei kasuri” (Biar tinggal isteri cantik, ditelan masa dia akan layu, kawin yang lain Ainul Mardliyah, si elok paras bau kesturi). “Wahe adek cut muda seudang/Beudoh rijang jak Prang Sabi/Bahle tinggai dum sibarang/Jak cokbintang ateuh kurusi (Wahai adik muda belia, mari berjuang dalam Perang Sabil, Tinggalkan semua segala kekayaan. jemputlah intan (Bidadari) atas kursi). Dalam dua kutipan diatas, kentera sekali propaganda si pengarang, yang menganjurkan para pemuda supaya jangan takut mati di medan perang. “kenapa kita mesti takut mati, padahal Tuhan telah menjanjikan Bidadari bagi orang yang syahid di medan perang”, demikian pesan pengarang.

Kisah Pasukan Gajah, menceritakan kehebatan tentara Abrahah yang hendak menghancurkan Ka’bah, dalam tahun kelahiran Nabi Muhammad Saw. Biarpun demikian hebat, baik jumlah pasukan maupun perlengkapan perang, namun pada akhirnya Pasukan Gajah itu hancur lebur atas kehendak Allah. Begitu pula nasib yang akan dialami tentera Belanda.

Walaupun mereka lengkap dengan persenjataan modern, namun kemenangan terakhir pasti berada dipihak rakyat Aceh. Karena Allah Swt pasti menolong orang-orang yang berjuang dipihakNya, demi membela kebenaran. Gambaran sang pengarang dalam kisah pasukan gajah ini, telah memberi rasa optimis kepada para pejuang Aceh, bahwa pada suatu ketika mereka pasti menang. Harapan itulah yang diperjuangkan mereka berpuluh-puluh tahun.

“Sare keumah seukalian/Rasul Tuhan neubeurangkat/Bileue tamong dalam peukan/Meuhoi bandum yohnyan sahbat” (Setelah siap semua perlengkapan, Rasul Tuhan hendak berangkat, Bilal mengajak rakyat berperang, ikut pasukan Rasul Hadlarat). “Sa’id Salamy gohlom neuwoe/Ka seuleusou bloe meuneukat/Bak isteri neu keumeung woe/Hana bagoe meusyen neuhthat” (Sa’id Salamy masih di jalan, hanya barusan lepas berbelanja, kepada isteri berniat pulang, rasa tak tertahan rindu di dada?. “.

Disini diceritakan ketetapan hati seorang pemuda negro yang berkulit hitam pekat. Bertahun-tahun ia berniat kawin, namun tidak pernah terlaksana karena semua gadis tidak bersedia nikah dengannya lantaran tampangnya yang sangat jelek.

Tetapi berkat kharisma Rasulullah yang melamar seorang gadis bangsawan untuk si Negro ini, barulah ia berhasil menikah, Ketika Sa’id Salamy baru bersiap-siap pulang kepada isterinya, tersebar berita bahwa Nabi Muham­mad Saw akan berangkat kemedan perang. Tanpa berpikir  panjang, perhatian Sa’id Salamy beralih ke medan perang. Semua uang yang sedianya hendak membeli perlengkapan pengantin baru, dialihkan menjadi modal untuk membeli perlengkapan perang. Walaupun beberapa kali Nabi Muhammad Saw menghalanginya supaya ia jangan ikut pasukan perang, namun secara diam-diam ia telah berada diarena perang, bahkan berada dibarisan   paling depan.

Dia termasuk salah seorang diantara sejumlah syuhada dalam perang itu. Syahidnya sangat disayangkan oleh Rasulullah, hingga beliau menangis sedusedan. Walaupun telah syahid, beberapa orang sahabat pernah melihatnya;  ketika ia pulang kepada isterinya yang putri bangsawan itu. “Itulah bukti, bahwa orang syahid bukanlah mati sebagai keadaan ‘mati biasa’ lainnya, ia tetap hidup di alam yang berbeda.

Kisah ini memberi dorongan kepada para gerilyawan Muslimin Aceh untuk tidak takut mati. Bahkan mereka berlomba-lomba menggempur pasukan Belanda karena mengharapkan syahid.

Demikian besar inspirasi dan dorongan perang yang  dipompakan Hikayat Prang Sabi, sehingga kita tidak heran disuatu ketika Wakil Presiden Adam Malik pernah menghimbau para sastrawan  Indonesia, supaya mereka berusaha menciptakan karya sastra yang “bernilai tinggi” sebagaimana karya sastra Hikayat Prang Sabi.

Hal itu dikatakannya pada jamuan makan untuk para sastrawan, sewaktu berlangsungnya Pertemuan Sastrawan 1979 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Tentang hal ini sebuah harian Medan memberitakan: “Adam Malik meminta, agar para sastrawan Nusantara jangan hanya menciptakan ‘”karya sastra”, tetapi mereka harus dapat menciptakan karya sastra yang lebih berarti dan bernilai, seumpama karya sastra yang dapat menimbulkan semangat perjuangan.

Adam Malik mengambil contoh karya sastra Hikayat Prang Sabi, yang dapat membangkitkan semangat jihad pemuda-pemuda Aceh untuk berperang melawan Belanda berpuluh-puluh tahun lamanya. Seakan-akan Pak Adam Malik hendak bertanya: kapan kiranya lahir  “Pengarang Hikayat Perang Sabil”  abad ke XX ini?”.

 

 

( Sumber: Harian Merdeka, Jakarta, Kamis, 10 Maret 1983 halaman VI ).


 

Iklan

Peran Aceh Masa PDRI Perlu di ‘Nasionalkan” Kembali!

 Peran Aceh masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia ( PDRI )  Perlu di  “Nasionalkan” Kembali!!!

                    Oleh: T.A. Sakti

 

Mencermati Dialog sejarah dengan pelaku sejarah A.K. Jakobi dan pembacaan puisi bertema sejarah oleh L.K.Ara di Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya, Unsyiah, Banda Aceh, Kamis siang, 5 Mei 2011  amat menggugah saya sebagai peminat sejarah. Betapa tidak!. Sebab, belum lewat sebulan lalu( 12/4)  di Kampus Darussalam  yang dijuluki “Jantung Hati Rakyat Aceh” ini juga telah berlangsung seminar sejarah dengan tema yang sama, yakni “Peran Aceh dalam Perang Kemerdekaan Republik Indonesia ( 1945-1949)

dengan narasumber tak tanggung-tanggung pula, yaitu Prof.Dr. Darni M.Daud, MA selaku   Rektor Unsyiah dan Dr, Ahmad Farhan Hamid,MS sebagai  Pembicara Kunci,yang kini berjabatan Wakil Ketua MPR RI.

         Sebagai peminat sejarah, saya bersyukur sekaligus terharu; karena masih ada elit-elit kita  yang mencintai sejarah nasional bangsa Indonesia yang perkasa itu. Memang sekarang, kita tak dapat lagi ‘menikmati’ cerita-cerita kegagahan rakyat  Aceh mempertahankan kemerdekaan RI,  yang dimuat dalam koran-majalah sehari-hari. Namun dengan adanya seminar atau dialog sejarah itu, berarti ‘ketandusan kisah sejarah’ bagi masyarakat kita agak terobati juga. Dulu, ketika Prof.A. Hasjmy, T.A. Talsya, Tuwanku Abdul Jalil,  Tgk. Hasballah Aneuk Galong,BA masih sehat walafiat, masyarakat Aceh tak pernah sepi dilingkari artikel-artikel sejarah Aceh yang dimuat dalamsuratkabarHarian WASPADA-Medan, bulletin,dan majalah. Kini, ‘sungai sejarah Aceh’ itu  tak mengalir lagi, setelah semua ‘sejarawan’ tersebut di atas berpulang ke rahmatullah. Kapankah lahir pengganti mereka?.

            Kosongnya  penulis sejarah dalam media-massa itu, memang telah membawa dampak pada pemahaman sejarah  bagi generasi muda Aceh sekarang. Hal ini terlihat pada dialog sejarah dengan pelaku sejarah A.K.Jakobi tersebut di atas,ketika seorang mahasiswa memberi komentarnya, bahwa ia nyaris tak mengetahui sejarah Aceh karena tak diajarkan ‘secara khusus’ di sekolah-sekolah.

              Problema lain yang menjerat sejarah Aceh kontemporer – khusus peran Aceh dalam perang kemerdekaan RI – adalah gaungnya hanya sebatas wilayah Nanggroe Aceh Darussalam. Sampai ke batas Aceh- Sumatera Utara (Sumut), maka berhentilah kisah heroik rakyat Aceh mempertahankan kemerdekaan RI 1945-1949. Orang di seberang Aceh, nyaris tak tahu samasekali perihal itu.

          Buktinya,sewaktu saya masih mahasiswa di jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM dulu, ternyata nyaris tak ada  pemahaman sejarah kontemporer Aceh

di kalangan teman-teman saya di sana. Tentang perang kemerdekaan RI, mereka hanya tahu peran arek-arek Surabaya,kisah lautan api di Bandung, “sepasang mata bola” di Yogyakarta serta Bung Tomo dan Jenderal Sudirman sebagai Panglima Perang RI masa itu. Perihal keberhasilan  Konferensi Meja Bundar(KMB) yang menyebabkan kemerdekaan Indonesia diakui Belanda; para sahabat saya itu, hanya tahu kesemua itu  berkat kepiawaian para diplomat Indonesia.

       Padahal fakta sejarahnya tidaklah demikian. Dalam hal  suksesnya KMB itu, peran Aceh amat menentukan

Perihal ini terangkum dalam  makalah Dr.Ahmad Farhan Hamid,MS, Prof.Dr. Darni M.Daud,MA dan A.K.Jakobi tersebut di atas. Namun sayang, mereka yang di luar Aceh tak  “mengakui”/ belum  mengetahuinya

Walaupun ditulis singkat, sebenarnya pengakuan terhadap peran Aceh itu masih dapat ditelusuri. Dalam buku “Peran TNI AU dalam Pemerintah Darurat Republik Indonesia(PDRI)” terbitan 2001 dijelaskan begini:

  

“Belanda menangkap para pejabat tinggi RI, termasuk KSAU Komodor Suryadarma, kemudian mengasingkannya ke Pulau Bangka. Dengan tidak adanya pimpinan AURI, PDRI mengangkat Opsir Udara I Hubertus Suyono menjadi KSAU PDRI. Diangkat pula Opsir Udara I Soejoso Karsono, yang berkedudukan di Kutaraja, Aceh, sebagai KSAU cadangan I dan Opsir Udara II Wiweko Supono di Rangoon, Burma, sebagai KSAU cadangan II
Digambarkan dengan jelas, betapa banyak stasiun radio yang dimiliki TNI AU masa itu, untuk mendukung komunikasi perhubungan PDRI. Yaitu: stasiun radio “ZZ” di Kototinggi untuk melayani daerah Sumatera bagian tengah; stasiun radio pemancar “UDO” yang mengikuti gerakan gerilya PDRI; stasiun radio “PD-2” di Kutaraja dan “NBM” di Tangse, Aceh; pemancar radio “SMN” di pesawat Dakota Indonesian Airways, yang beroperasi di Rangoon, Burma; serta stasiun radio “PC-2” yang digunakan Kolonel TB Simatupang di Playen, Wonosari. Melalui stasiun-stasiun radio AURI, semua berita perjuangan diketahui negara-negara lain”.

 

 

Belasan tahun yang lalu pernah pula  saya simak  suatu dialog sejarah  pada TVRI-Pusat Jakarta. Acara “Forum Dialog” itu berlangsung  hari Jum’at tanggal 25 Desember 1998 pukul 21.30 Wib. Pokok pembahasan termasuk topik langka, yaitu sejarah PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) sejak  22 Desember 1948 s/d 13 Juli 1949).

Peserta dialog malam itu adalah para pelaku sejarah yang terlibat langsung dengan peristiwa sejarah itu. Yaitu Umar Said Noor mantan Wakil Kepala Stasiun Radio AURI Bukittinggi, Aboebakar Loebis mantan Diplomat RI, Bapak Halim mantan Wakil Gubernur Militer Sumatera Barat, dan didampingi oleh seorang sejarawan terkemuka Prof. Dr. Taufik Abdullah serta dengan moderator TVRI Bapak Purnama.

Lewat penuturan langsung dari para pelaku sejarah PDRI dari Sumatera Barat, barulah saya yakin bahwa peran  Aceh semasa Perang Kemerdekaan RI memang cukup penting.

 

 

Beberapa fakta sejarah  yang khusus menyangkut “Peran Aceh”  yang terungkap pada dialog  PDRI di TVRI  adalah tentang peran beberapa pemancar radio di Aceh yang telah memperlancar tugas-tugas dari pemerintahan PDRI. Nama-nama pemancar radio itu ialah Radio Tangse, Radio Kutaraja dan Radio Rimba Raya. Disamping itu, juga disinggung tentang kedatangan Wakil Presiden Mohammad Hatta ke Aceh untuk menjumpai Mr. Sjafruddin Prawiranegara  selaku Ketua PDRI yang merangkap Menteri Pertahanan/Menteri Penerangan dan Menteri Luar Negeri ad Interim (Kemudian dijabat oleh A.A. Maramis).

Dalam kedua sumber yang bukan berasal dari pelaku/penulis sejarah asal Aceh itu barulah  terungkap, bahwa alat propaganda pihak kita bukan hanya radio Kutaraja dan Radio Rimba Raya, tetapi ada sebuah pemancar lagi, yaitu Radio Tangse. Lantas hati kita berdesah, masih adakah “situs sejarah Radio Tangse” setelah wilayah Tangse terkena musibah  banjir bandang baru-baru ini?.

 Sekarang, tergantung kesediaan  Pemda Aceh dan Rektor Unsyiah untuk mengangkat sejarah Peran Aceh dalam Perang Kemerdekaan RI ke tingkat nasional. Jangan sampai nanti  generasi muda Aceh akan bergumam:”Itu ‘kan celoteh pelaku sejarah asal Aceh saja!. Kalau memang fakta sejarah, tentu disebut pula dalam buku sejarah nasional Indonesia!”..Bagaimana cara mengangkat Sejarah Aceh ke tingkat nasional?. Tentu saya tak perlu mengajari air mengalir!!!.

 

*Penulis, adalah peminat sejarah, dan tinggal di Banda Aceh.

 

 

 

 

 

 

 

Nasib Putra Pahlawan Tiga Zaman: Dirgahayu HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke – 68, 17 Agustus 2013

 

img_20070108_0007

Foto: Hasballah Bin Panghab

 

 

 

 

Komentar Pembaca

 

                        PUTRA PAHLAWAN TIGA ZAMAN

                         HIDUPNYA SANGAT SENGSARA

              Tahun 1979, semasa saya sedang rancak-rancaknya berusaha mengumpulkan bahan-bahan tulisan mengenai sejarah, kisah kepahlawanan  Pang Hab pernah saya coba mengumpulkan informasinya, tetapi gagal akibat kurang lengkap datanya. Ia memang orang kampung saya , tetapi kebanyakan warga desa tidak tahu  ‘peta’  perjuangannya  yang mencukupi bahannya bagi sebuah karangan. Memang semua orang tua  yang pernah akrab dengannya mengakui, bahwa Pang Hab bekas perjuang, namun sewaktu ditanya secara mendeteil, semua mereka menjawab HOM (tidak jelas).

           Secara pribadi, sewaktu saya masih kecil hanya mengenalnya sebagai orang tua yang sudah uzur, senang memakai baju warna hitam, orangnya agak pendek ; hanya itulah yang masih terbayang –bayang di benak / ingatan saya tentang tokoh Pang Hab itu. Sesudah beliau meninggal dan saya sudah agak besar, pernah pula mendengar bait-bait syair Aceh tentang kepahlawanan Pang Hab yang dikarang  Abdullah Arif, MA yakni : “Pang Hab Keumire geugrop lam uteun. Geugunci peudeung geukap ngon  gigoe “. Atau “Pang Hab Keumire Geureuhem batok,  Teukeujot ‘musoh’ lam alue Kala”, begitu syair-syair lisan yang biasa dihafal warga desa.

silsilah-image

          Riwayat hidup Pang Hab puluhan tahun ‘misterius’ bagi saya, barulah terang – benderang pada minggu pertama bulan Februari 1993 ini, setelah membaca satu artikel yang ditulis oleh Prof. A. Hasjmy dalam Harian Serambi  Indonesia (terlampir tanggal terbitnya lupa dicatat). Fotokopy artikel itu diberikan oleh Teungku Hasballah Aceh (Tgk. Aceh)putra paling bungsu Pang Hab dari isterinya yang ke enam, penduduk kampung Bucue, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie. Semula artikel itu diterima Tgk. Aceh dari abangnya yang lain ibu, penduduk desa Keumire/ Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar.

          Melalui karangan yang berjudul:’Panglima Perang Aceh  di Tiga Zaman”, Prof.A. Hasjmy memberikan informasi sangat lengkap mengenai kepahlawanan Pang Hab Keumire. Pang Hab (Panglima Abdul Wahab) ialah salah seorang Panglima dari para Uleebalang (Komandan  batalion) dalam lingkungan Sagoe/Kawom (Divisi  XXII Mukim yang Panglima Sagoenya bergelar Panglima Polem Sri Muda Perkasa. Beberapa komandan battalion  lain yang sezaman dengan Pang Hab dan juga anak buah Panglima Polem Sri Muda Perkasa  adalah Pang Raden (Pan Den), Pang Husin  (Pang  Usen), dan Pang Abbas (Pang Abah). Dari ketiga para panglima ini, hanyalah Pang Hab yang masih hidup sampai zaman Indonesia Medeka dan mendapat Piagam Tanda Kehormatan dan Bintang Jasa dari Presiden Republik Indonesia,  Soekarno. Atas nama Presiden Republik Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1961, Gubernur/Kepala Daerah Istimewa Aceh, A.Hasjmy  menyerahkan Piagam Tanda Kehormatan dan menyematkan Bintang Tanda Jasa pada dada Pahlawan Tiga Zaman, Pang Hab Keumire itu.

         Sungguh, data-data yang disajikan Prof. A.Hasjmy cukup lengkap, termasuk keterangan bahwa  Pang Hab sempat berjuang lagi untuk mengusir Belanda menjelang kedatangan Jepang. Setelah Proklamasi Kemerdekaan R.I. , Pang Hab menggabungkan diri dalam Barisan Mujahidin untuk bertempur melawan Belanda di Medan Area, Sumatera Utara.

           Dari keenam isterinya Pang Hab dikaruniai 11 orang anak. Sementara  isteri keempat tidak mewariskan keturunan.

Namun ada satu hal yang kurang diberikan penjelasan dalam tulisan Prof.A. Hasjmy, yang juga berkaitan langsung dengan  kehidupan dan pewarisan nilai kepahlawanan dari tokoh Pang Hab Keumire, yaitu bagaimana  keadaan kehidupan dari putra-putri  Panglima Abdul Wahab sekarang ini?. Adakah diantara mereka  yang jadi “pahlawan” yang sesuai dengan zaman merdeka, yakni sebagai Pahlawan Pembangunan?. Atau paling kurang  ada yang mampu berperan sebagai  tokoh masyarakat!. Perkara  ini

memang tidak diberi porsi penjelasan yang memadai, kecuali hanya disebutkan jumlah putra Pang Hab  adalah 11 orang.

       Saya memang tidak mengenal ke 11 orang dari putra Pang Hab,  karena 10 orang diantara mereka berasal dari isteri-isteri  penduduk desa Keumire/Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Hanya seorang saja yang benar-benar saya kenal, karena ia orang  sekampung saya dan teman sepengajian, teman sepermainan semasa kami masih kecil dan tetap menjadi sahabat  diketika sama-sama telah dewasa.

Putra Pahlawan Tiga Zaman itu bernama  Hasballah Wahab, yang lebih popular dipanggilnya Tgk Aceh, sementara sesama  kawan  sebaya  diwaktu kecil  sering dipanggil Si Aceh. Tgk. Aceh lahir di kampung Bucue, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, tahun 1952. Kini ia dikaruniai 4 orang anak dari isterinya Nurhayati (28 tahun) yang berasal, dari kampung Lheue, Indrapuri, Aceh Besar. Ia adalah anak Pang Hab dari isterinya yang keenam bernama Aisyah, meninggal tahun 1960.

       Kisah kehidupan Hasballah Wahab ini sejak kecil sudah cukup menderita. Umur 8 tahun sudah meuntui (ibunya sudah meninggal), sedang pada umur 11 tahun sudah yatim-piatu(Pang Hab meninggal tahun 1963 dalam usia 101 tahun). Akibat sudah yatim-piatu ini biaya sekolahnya tak ada yang menanggung, hidup bersama nenek yang juga dalam keadaan serba kekurangan, sehingga ia dewasa dan berumah tangga.

      Akibat tidak sanggup menamatkan satu jenjang sekolah pun, berbagai kesempatan dan peluang dalam roda kehidupan modern tertutup rapat baginya. Mau jadi petani, ia tak memiliki sawah sendiri barang sepetak pun. Hendak berkebun, lagi-lagi tak punya tanah kebun walaupun hanya sebidang.

       Nyaris tertutuplah segala lobang pencaharian  nafkah hidup bagi putra pahlawan tiga zaman ini. Untunglah ia punya keterampilan bidang bertukang(utoh). Hanya itulah sumber pendapatannya utuk membiayai keluarganya, seorang istri dan 4 orang anak. Kehidupannya sebagai tukang  memang serba kurang, sebab jarang mendapat tawaran bertukang, karena di kampungnya jarang ada orang yang membangun rumah baru. Apalagi dalam pekerjaan pertukangan juga sangat banyak saingannya dari utoh-utoh yang lain. Sewaktu tidak memperoleh kerja bertukang,  sang putra pahlawan ini hidup menganggur di rumahnya. Kesan sebagai putra pahlawan, memang hampir-hampir tidak berbekas kepadanya, yang kesemuanya itu akibat tidak ada yang menyekolahkannya diwaktu kecil. Hanya dari sikap tabah menjalani penderitaan itulah, kita masih bisa merasakan bahwa ia benar-benar putra pahlawan tiga zaman. Ia pantang berputus asa!.

      Dalam upaya memperbaiki kehidupannya, Tgk.Aceh meminta saya menulis ‘komentar pembaca’ ini. Ia menghimbau Bapak Prof.A.Hasymy,  Bapak-bapak dari Tingkat I Aceh dan Tingkat II Pidie serta pihak-pihak yang masih meresapi semboyan: “Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghargai Jasa-Jasa Pahlawannya”,  agar sudi mengangkat derajat kehidupannya. Kalau dirinya dulu tak bersekolah, karena memang sudah nasibnya. Tetapi ia bermaksud agar hal itu tak lagi terjadi di anak-anaknya.

      Memang ia bukan minta bantuan uang kontan, tapi berupa ‘jatah atau fasilitas’ yang dapat diusahakannya dalam mencari nafkah hidup. Sekiranya proyek-proyek pembangunan yang sedang diselesaikan, ia bersedia mengabadikan keterampilannya sebagai tukang (Tgk.Utoh). bila ada Transmigrasi  lokal, ia mau pula menyambutnya. Mudah-mudahan ada pihak-pihak pecinta sejarah pahlawan bangsa yang tersentuh hatinya. Semoga!.

                                                                                                                             Banda Aceh, Februari 1993

                                                                                                                                             T.A. Sakti

img_20070108_0005

 silsilah-keluarga

Kisah Cut Nyak Dhien dalam Pembuangan di Sumedang, Jawa Barat

Kisah Lain Semasa Pengasingan Tjut Nya’ Dhien di Sumedang

 

Tanggal 6 Nopember yang lalu genap sudah 75 tahun ia beristirahat untuk selama-lamanya di tanah perbukitan Gunung Puyuh yang damai itu. Jauh dari sanak saudaranya, jauh dari kampung halamannya, jauh dari teman-teman seperjuangan yang sempat tercatat arti keperkasaannya, dan jauh dari orang-orang yang teramat dikasihaninya. Dia pergi dalam sepi. Namun semangat juangnya tak akan pernah terbawa serta.

             Ia memang diasingkan ke kota kecil ini, setelah bertahun-tahun hidup di alam yang amat keras, menghunus rencong dan bergerilya dari hutan ke hutan seraya meyakinkan bahwa seorang wanita pun mampu melakukan tugas-tugas dan tanggung jawab yang paling berat sekalipun. Memimpin sendiri perang gerilya melawan penjajahan Belanda sekaligus menggantikan posisi suaminya, Teuku Umar, setelah suami yang dikasihaninya ini gugur dalam pertempuran tanggal 11 Februari 1899, delapan puluh empat tahun yang silam.

Cut Nya’ Dhien, putri  bangsawan yang lahir tahun 1848 di Kabupaten Aceh Besar ini agaknya memang ditakdirkan untuk terbiasa menerima kenyataan hidup sebagai keluarga pejuang. Mewarisi  patriotisme ayahandanya Teuku Nanta Setia, Hulubalang Mukim di Peukan Bada, suami pertamanya Teuku Syeh Ibrahim  gugur terlebih dahulu dalam sebuah pertempuran seru di Montasiek. Tjut Nya’ Dhien kemudian menikah dengan Teuku Umar dan selama belasan tahun lamanya menyertai  suaminya ini memimpin perang Aceh yang terkenal itu. Satu-satunya anak yang diperolehnya dalam perkawinannya yang kedua tersebut, Tjut Gambang, dipersunting pula oleh Teuku  Mayet, putra  TeukuTjik Ditiro, seorang diantara pahlawan Aceh lainnya.(ralat: Teungku Mayet adalah cucu Teungku Chik Di Tiro-TA)

Selanjutnya kehidupan “Srikandi  Aceh” ini lebih banyak dihiasi dengan cerita-cerita kepahlawnan, terlibat dalam pertempuran demi pertempuran, kemudian didera oleh perasaan hidup sebagai pejuang. Enam tahun lamanya  ia melanjutkan perjuangan almarhum suaminya, memimpin pasukan gerilya ke hutan-hutan belantara dan menghasilkan pertempuran-pertempuran seperti halnya yang terjadi di Lampage,, Lampinang,  Moegoe dan sebagainya.

 

Sengaja ditangkapkan

Sesungguhnya kondisi fisik Tjut Nya’ Dhien sudah hampir tak memungkinkan untuk terlibat dalam pertempuran. Entah mengapa mungkin karena gizi makanan yang tidak memadai selama bergerilya atau karena suatu penyakit, kedua matanya merabun dan terancam kebutaan, sementara kesehatan tubuhnya jauh merosot. Berulang kali teman-teman terdekatnya mengusulkan agar ia beristirahat atau menyerah saja ke pihak musuh. Mereka tak sampai hati melihat penderitaannya.      

Tetapi apa jawaban wanita yang keras hati ini?

Dengan tegas beliau menolak dan menganggap suatu kehinaanlah bila menyerah pada “Khape”, kafir, yang telah membunuh serta menodai  kehormatan anak negerinya. Ia tak sedikitpun menggubris usul tersebut. Dengan sisa tenaga yang ada ia tetap hadir memimpin pertempuran-pertempuran, lari dari sergapan serdadu Belanda yang memiliki persenjataan yang lebih modern dan dengan garang meneriakkan:

Perang Kaphe, bek jigidong tanoh Aceh! Perangi kafir, jangan dipijaknya tanah Aceh.”

 Namun bagaimanapun juga, wanita perkasa ini telah teramat lelah untuk sebuah tugas dan tanggung jawab besar. Kecuali tekad serta semangat yang kuat dengan didasarkan keyakinan pada ridho Tuhan terhadap jalan yang ditempuhnya sebagai muslimah teguh, hampir tak banyak lagi tenaga yang dimilikinya. Kesehatannya merapuh.

Di suatu hari di bulan Nopember 1905, Pang Laot, teman seperjuangannya yang merasa   tak sampai hati melihat penderitaannya, memberitahukan tempat persembunyian  Tjut Nya’ Dhien pada pasukan patroli  Belanda. Tanggal 6 Nopember 1905, ia disergap oleh pasukan Belanda yang dipimpin sendiri oleh Kapten Veltman dan Letnan van Vuuren  di  Rigaih, Meulaboh, Aceh Barat. Wanita gagah berani ini tertangkap atau lebih tepat bila disebut sengaja ditangkapkan. Atas perintah Jenderal van Daalen, Tjut Nya’ Dhien diasingkan ke kota Sumedang di Jawa Barat. Kota kecil yang akhirnya mencatat hari-hari  akhir seorang wanita berhati baja ini.

           Siapa guru mengaji  itu?

          Tak banyak orang Sumedang yang mengerti mengapa perempuan tua yang hampir buta total itu tiba-tiba berada di kota mereka. Bupati Sumedang waktu itu, Pangeran Aria Suriaatmadja, hanya memberitahukan pada Mbak Soleha bahwa  ia putri bangsawan Aceh. Karena itu ia harus dirawat dengan sebaik-baiknya. Tak lebih.

 “Orang Sumedang akhirnya memanggilnya Eyang Prabu Aceh” tutur R.A.Bulkini, seorang yang dipandang amat paham dengan seluk beluk dengan sejarah sumedang. Menurut penuturannya, walaupun ketika ia masih bocah, namun kisah tentang kehadiran Tjut Nya’ Dhien di Kota Smedang cukup menarik perhatiannya saat itu. Orangtuanya yang tinggal berdekatan dengan tempat kediamannya Tjut Nya’ Dhien sekitar daerah Kauman, Sumedang. Menceritakan bahwa Eyang Prabu Aceh yang tak lain adalah Tjut Nya’ Dhien tersebut amat dihormati oleh masyarakat sekitarnya. Rambutnya yang masih menghitam dalam usianya yang tua terpelihara panjang, tubuhnya tampak cukup tinggi untuk ukuran wanita sekarang sementara wajahnya memperlihatkan keteguhan hatinya yang luar biasa.

            Ia menempati sebuah rumah yang tak bnayak berbeda dengan rumah-rumah orang Sumedang lainnya. Berpanggung dan dinding bambu pilihan. Dalam masa perasingannya ini  Tjut Nya’ Dhien lebih banyak melewatkan hari-harinya  dengan mengajarkan agama Islam serta mengadakan pengajian Al-Qur’an bagi masyarakat sekitarnya yang masih belum mampu mengaji.

“Kepintarannya menghapalkan ayat-ayat Al Qur’an kendati dengan keadaan mata yang tak bisa melihat lagi benar-benar menimbulkan kekaguman sera rasa hormat masyakat Sumedang.” Demikian Pak Bulkini.

               Tinggal bersama salah seorang anak angkatnya yang turut bersamanya dari Aceh dan dikenal dengan Teungku Nanak oleh masyarakat Sumedang. Tjut Nya’ Dhien tak pernah mau dikasihani walaupun baginya  telah diperbantukan Mak Soleha untuk merawatnya sehari-hari. Ia tetap berbelanja seorang diri ke pasar dan melakukan kegiatan biasa rumah tangga seperti halnya ibu rumah tangga lainnya.

           Sepengetahuannya  orang-orang tua yang menceritakan pada anak-anaknya, Eyang Prabu Aceh memiliki cukup banyak perhiasan untuk dijualnya bagi mencukupi kebutuhannya sehari-sehari. Kadang-kadang orang tak bersedia dibayar karena mereka tahu betapa besar jasanya mengajarkan agama pada orang lain,” cerita pak Bulkini. Menurutnya, banyak masyarakat Sumedang menjadi lebih paham agama Islam berkat ajarannya. Sementara kebenciannya terhadap Belanda   tetap mengental.

“kata orang, bila sekali waktu ia bersonsongan dengan serdadu Belanda di pasar, Eyang Prabu Aceh sengaja menabraknya secara kasar,” lanjut Pak Bulkini.

               Tiga tahun menjalani masa pengasingannya di Sumedang, tepat tanggal dan bulan yang sama dengan saat penangkapannya di Aceh dulu, Tjut Nya’ Dhien menutup kisah hidupnya yang penuh suri tauladan itu. Ia meninggal dengan tenang di rumah yang selama tiga tahun ditempatinya bersama anak angkatnya dan seorang ibu, Mak Soleha, yang setia merawatnya. Kaum kerabatnya mengantarkan wanita tabah dan pemberani  ini ke kompleks pemakaman leluhur Sumedang di Gunung Puyuh, tak begitu jauh dari kediamannya.

              Lama setelah itu masyarakat Sumedang barulah mengetahui bahwa wanita yang dikenal Eyang Prabu Aceh tersebut tidak lain dari Tjut Nya’ Dhien, perempuan yang menggemparkan Aceh itu. Peranannya dalam memperjuangkan kemerdekaan baru diketahui masyarakat Sumedang belakangan hari,” ujar R.A.Bulkini.

Tak ada yang mengetahui bagaimana perasaan wanita perkasa ini pada hari-hari terakhir dalam hidupnya yang jauh dari sanak saudaranya. Siapa lagi orang terdekatnya yang bisa bercerita tentang dirinya di Sumedang? Mak Soleha telah lama meninggal dunia.

           Dan di rumah bersejarah itu, kini sudah tiga generasi turunan Mak Soleha menghuninya. Bila ditanya pada penduduk yang tinggal di sekitarnya dimana  gerangan bekas rumah Tjut Nya’ Dhien, maaf… tak seorangpun yang tahu. Mereka hanya tahu rumah Ceu Neng, cucu Mak Soleha almarhumah.

Sembari duduk di tangga itu, seakan terbayang rasanya wanita berhati baja itu di bilik tengah. Tujuhpuluh lima tahun yang lalu mungkin ia sedang duduk mengaji di situ. Betapa tabahnya dia. *** ( Liestihana Mz )

 

 

TAK ADA YANG MENYANGKA

DIALAH  PEREMPUAN  YANG  MENGGEMPARKAN  ITU

 

 

( Sumber: Majalah KARTINI – 237 Tahun 1983 halaman 44 – 45 )

 

Bung Karno Pergi Ke Sumatra: Menyambut HUT Kemerdekaan RI ke – 68, 17 Agustus 2013.

Bung Karno Pergi Ke Sumatra

 

           Tujuan utamanya mengumpulkan uang untuk membeli pesawat terbang. Jelasnya RI pada tahun 1948  itu perlu jembatan udara, untuk menerobos blokade udara Belanda. Juga agar hubungan daerah defacto Jawa dan Sumatra lebih lancar. Namun hanya di Aceh BK berhasil dapat uang yang cukup untuk dibelikan sebuah pesawat DC 3 “Dakota”. Karenanya pesawat itu diberi nomor registrasi RI-001 Seulawah.
Seulawah merupakan nama gunung terdapat di Aceh.

     Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer ke-II, pesawat RI-001 Seulawah turun mesin (overhaul) di luar negeri. Karena keadaan tidak memungkinkan pesawat itu kembali ke tanah air,  Seulawah lalu dioperasikan di luar negeri untuk tujuan komersial, guna mencari dana bagi keperluan perjuangan kemerdekaan RI.
Untuk Legalisasinya, pada 26 Januari 1949 dibentuk Indonesian Airways yang berpusat di Rangoon, Birma.  RI-001 Seulawah melayani penerbangan sipil, tapi juga penerbangan militer , untuk operasi keamanan dalam negeri Birma. Dengan demikian RI_001 Seulawah merupakan usaha penerbangan niaga pertama Indonesia yang beroperasi di Birma.
Hasilnya keuntungan pesawat RI-001 Seulawah digunakan untuk membeli Dakota baru, yang diberi nomor registrasi  RI-007 dan RI-009 hasil pengoperasian untuk membiayai Perwakilan RI dan  taruna/pelajar Indonesia yang tengah tugas belajar di India dan Filipina. Jasa Dakota lainnya adalah memasukkan senjata ke Aceh. Dari sinilah hubungan Radio antara pemerintah dengan Perwakilan RI di PBB diselenggarakan.
Setelah pengakuan kedaulatan RI,  Indonesian Airwasy  mengakhiri kegiatannya di Birma. Pesawat RI-001 Seulawah beserta anak buahnya kembali ke pangkalan induknya AURI, sedangkan pesawat RI-007 dihadiahkan kepada rakyat Birma sebagai tanda terimakasih.
Duplikat RI-001 Seulawah diabadikan di Museum ABRI Satriamandala . Suasana pangkalan udara Mingaladon, Rangoon, Birma  yang merupakan pangakalan  pusat kegiatan pesawat Indenesian Airways  diabadikan dalam diorama.

 

Catatan: Tulisan ini  disertai foto pesawat dan diorama pangkalan udara Mingaladon, Birma.

 

( Sumber: Majalah  JAKARTA- JAKARTA no. 07 Nopember 1983 halaman

Sejarah Perjuangan Umat Islam Indonesia dalam Buku Sejarah Nasional Indonesia Masih Sangat Minim!

Mukaddimah: Sengaja artikel  ini saya postingkan pada   Sabtu, 25 Ramadhan  1434 H ( 3 Agustus 2013 M), yakni hari ini adalah dalam rangka mengenang atau Ultah ke 29   kecelakaan di jalan raya yang saya alami di Yogyakarta. Naas itu terjadi hari Sabtu, 25 Ramadhan 1405  (15 Juni 1985 ) sekitar pukul 13.00 wib di wilayah Kalasan, lk 8 km sebelah timur kota Yogyakarta.  Pada hari itu, kami mahasiswa peserta KKN-UGM dijemput pulang ke kampus setelah melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata selama dua bulan lebih. Saya sendiri, T. Abdullah Sulaiman  beserta empat orang teman lainnnya ditugaskan di desa Guli, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Selesai acara perpisahan dengan “Pemda Kabupaten di Boyolali” konvoi mahasiswa KKN-UGM bergerak pulang ke Kampus UGM Yogyakarta.  Setelah melintasi Candi Prambanan peristiwa naas itu terjadi. Sebuah mobil Colt pengangkut barang  tivi tiba-tiba menabrak saya.  Akibatnya, saya  perlu berobat dua tahun, secara medis di kota dan tabib patah di gunung. Nyaris skripsi tak selesai. Syukur Alhamdulillah, semua hambatan itu teratasi juwa akhirnya. Semoga kedepan rahmat dan karunia Allah Swt semakin berlimpah dicucurkan kepada saya sekeluarga serta bagi kaum Muslimin-Muslimat  ban Sigom Donya!. Selamat Menyambut Hari Raya ‘Idul Fitri 1434 H, mohon-maaf lahir dan bathin!!!.

 

Bale Tambeh,  25 Puwasa 1434

                        25 Ramadhan  1434 H

                          3 Agustus 2013 M

( T.A. Sakti )

 

 

 

Porsi Umat Islam Dalam Penulisan Buku Sejarah Indonesia

         Akhir-akhir ini penulisan mengenai sejarah sudah menduduki tempat yang sangat penting dalam setiap bangsa. Perhatian di sini bukan hanya dalam dunia akademis saja, tetapi pihak pemerintahpun menunjukkan perhatiannnya dalam persoalan ini.

       Kini kita lihat Republik Turki, sejak kelahirannya pada perempatan kedua abad kedua puluh , sudah mulai melakukan penyelidikan tentang asal-usul mereka sebagai suatu bangsa yang terpisah dari bangsa Arab. Singapura, tengah menyusun sebuah penulisan sejarah yang sejak kedatangan emigrant China ke pulau tersebut pada masa Reffles. Jepang sedang melakukan revisi terhadap penulisan sejarah nasionalnya, yang dua negara tetangga, RRC dan Korea (Selatan) memprotes keras . Dan akhir-akhir ini Presiden Soeharto menginstruksikan agar pelajaran sejarah di sekolah disempurnakan, demikianlah uraian Drs. Nourouzzaman shiddiqi,MA dalam memulai pidatonya.

        Selanjutnya putera Prof. DR. Hasbi Asshiddiqi itu menguraikan tentang pentingnya penulisan sejarah. Menurut beliau penulisan sejarah dianggap penting, karena dari sejarahlah orang akan memahami dirinya sendiri. Dengan mensitir pendapat Karl Jaspers yang mengatakan kita tidak menghendaki menjadi sirna, tetapi menginginkan untuk mendapat tempat di dalam humanitas.

          Bahkan menurut Nourouzzaman, sebuah pandangan sejarah menciptakan sebuah rasa yang dari situlah bangkit humanitas kita. Gambaran sejarah yang kita bentuk, menjadi sebuah faktor tindakan. Kebiasaan kita berpikir tentang sejarah membentuk batasan-batasan tentang potensialitas kita, atau yang memancing kita menjadi jauh dari realitas kita sendiri. Juga dalam ketidak raguan obyektifitas pengetahuan kesejahteraan tidaklah semata-mata tidak berbeda isi faktual, tapi satu unsur yang aktif dalam kehidupan kita, tandasnya. Kita dapat mengetahui fundamen kesejarahan kita  melalui perenungan kebersaran yang berada dalam hati kita masing-masing. Kita harus ingat bahwa kita dari sejarah dan melalui sejarah kita terbentuk.

       Dalam bab yang lain, Nourouzzaman memperinci argumen mengenai manfaat didalam mempelajari sejarah, dalam hubungannya dengan assumsi yang berkembang; yaitu masa yang lalu  milik generas yang lalu, masa sekarang milik generasi sekarang. Untuk menjawab asumsi tersebut, Nourouzzaman melihat ada tiga hal.

        Pertama, walaupun masa lalu , masa kini dan masa yang akan datang tidak terbengkalai dalam suatu hubungan mutlak, namun ada warisan masa lalu yang harus dipelihara, dijaga dan diteruskan, karena warisan itu sudah terbukti kebaikannya.

         Kedua, tidak ada argument moderen yang lebih meyakinkan untuk membangkitkan rasa kesadaran sejarah dan makna eksistensi kita selain dengan mengaitkan diri kita dengan masa lalu, kini dan mendatang. Menurut Direktur Lembaga Bahasa IAIN SUKA itu, Aristoteles dapat berpuas diri dalam membuat batasan , bahwa manusia adalah seorang machluk dalam masyarakat (zoon politikon). Dengan demikian dalam pikiran Aristoteles sejarah tidak memainkan peranan penting, karena masyarakat baginya adalah hanyalah aktualisasi dari pada sebuah bentuk tak berwaktu. Namun orang dewasa ini mendefenisikan dirinya sebagai machluk sejarah (zoon-historikoon), machluk masa lalu, masa kini dan yang akan datang.

          Ketiga,  pengalaman pahit orang-orang terdahulu yang menyebabkan mereka harus menanggung derita, yang mungkin juga penderitaan mereka masih kita rasakan sampai sekarang. Dengan demikian hal itu jangan sampai terulang lagi, itulah guna mempelajari “sejarah sebagai cerminan untuk dijadikan pedoman bagi masa kini dan masa mendatang’’.
Oleh karena itu para sejarawan dituntut bertindak jujur, tidak menggelapkan apalagi menghapuskan peristiwa sejarah dengan dalih apapun. Karena kepalsuan sejarah akan menghasilkan yang palsu juga.

          Apalagi sejarah dijadikan propaganda bagi kepentingan kekuasaan. Kalau hal ini terjadi maka akan lahir apa yang disebut “kebohongan atau kepalsuaan sejarah”. Kalau dilihat dalam konteks  yang lebih luas lobang-lobang dan faktor penyebab adanya kekeliuran, kebohongan atau kepalsuan dalam penulisan sejarah. Menurut dosen LAIN itu dikarenakan adanya:


a. Faktor dari dalam, yaitu antara lain,
1.  Terlalu terlibat terhadap apa yang ditulisnya. Dalam hal ini penulis adalah seorang partipisan,                                   yang membela golongannya tanpa melihat kesalahan-kesalahan.

     2.  Terlalu percaya dengan sikap yang berlebih-lebihan terhadap sumber informasi, dengan menolak informasi yang lain.

     3.  Mencari muka agar disenangi oleh orang lain (penguasa) dll.

b. Faktor dari luar :
Yaitu tekanan-tekanan yang datang dari luar dirinya, baik dari penguasa maupun dari lingkungan masyarakatnya. Beberapa faktor penyebab diatas, berlaku juga bagi penulisan buku sejarah nasional di negara kita.
Kiranya tidak ada yang membantah, bahwa buku sejarah Indonesia pra kemerdekaan hampir seluruhnya ditulis oleh sarjana-sarjana Belanda. Dengan memperhatikan  pernyataan yang disampaikan oleh Gibb, dikatakan oleh Nouruzzaman, bahwa pada umumnya yang menulis sejarah orang-orang timur (Islam) adalah orientalis yang menulis sejarah secara amatir.
Peringatan Lewis yang menyebutnya tentang kekurangan khas yang dimiliki oleh barat. Inilah barangkali sebagai penyebab disamping ada sikap mineur dikalangan orang Belanda terhadap ummat Islam Indonesia, sehingga pembahasan yang menyangkut ummat Islam mendapat porsi yang sangat sedikit.  Bagi orang Belanda, ummat Islam bersama ulamanya adalah troublemakers. Dari sini bisa kita simpulkan adanya ketidak senangan pada ummat Islam. Dengan beberapa uraian di atas, maka sejarah Indonesia perlu ditulis kembali.
Bagi kita bangsa Indonesia, kebutuhan mengkaji sejarah ummat Islam mempunyai kepentingan yang lebih khusus lagi. Sejak 98% bangsa Indonesia menganut Agama Islam, maka mengkaji sejarah Islam adalah mengkaji sejarahnya sendiri.
Bagi bangsa Indonesia Islam berfungsi pula sebagai  tali ikatan kebangsaannya. Sedangkan rukun-rukun telah menjadi ide kultural, tuturnya.
Dengan kesepakatannya pada Wilfred  Cantwel yang berpendapat, bahwa bagi kaum muslimin, Islam juga sesuatu kekuatan yang memberikan dampak bagi kemajuan, yang mendorong dari belakang, mengontrol dan mengangkat ke atas. Disamping dampak modernisasi yang datang dari samping.

             Untuk mengetahui dampak ini menurut Nourouzzaman diperlukan pelacakan sejarah. Oleh karena itu sejarah adalah satu hal yang unik bagi ummat Islam. Dan hal ini yang kurang dipahami oleh penulis sejarah Indonesia pra kemerdekaan sehingga dengan kesengajaan memberi  porsi yang begitu kecil dalam penulisan sejarah Indonesia. Mungkin sebagai salah satu penyebab pula didalam mengambarkan peranan Teungku Chik Ditiro, Teungku Chik Kuta Karang tidak terlukis sebesar Teuku Umar (priyayi) yang oleh Belanda dijuluki Johan pahlawan. Demikian juga tentang gambaran kerajaan Islam seperti Maluku, Mataram, Banten. Sulawesi, yang tidak sama penggambarannya dalam penulisan sejarah, kalau dibandingkan kerajaan-kerajaan Hindu pada masa lalu. 

             Sekarang (decade ketujuh abad keduapuluh) timbul pula masalah yang diperdebatkan tentang kapan masuknya  Islam di Indonesia. Menurut Nourouzzaman masalah ini memerlukan pembahasan akademis yang serius. Pernyataan-pernyataan yang dilontarkan melalui pertemuan-pertemuan (apalagi yang hadir  bukan sejarawan, apalagi menyebut professional) tidaklah cukup. Dilain pihak, terkait dengan gejala keangkuhan otoritas (kesombongan akademis) yang dipertunjukkan oleh sarjana-sarjana barat.

             Dengan argumen diatas, perlu kini re-interpretasi tentang sejarah umat Islam, dengan harapan tumbuhnya minat untuk menulis kembali. Pada akhir pembicaraan Nourouzzaman Shiddiqi menyarankan kepada pemerintah yang dalam hal ini Menteri Agama berkenan mengambil inisiatif untuk membentuk sebuah team ahli yang mengkaji tentang permasalahan ini.

             Senada dengan apa yang diuraikan Nourouzzaman Shiddiqi, MA, adalah pendapat Drs. H. Maman A Malik yang dikemukakan dalam forum diskusi dosen-dosen IAIN Sunan Kalijaga pada tanggal 24 September 1982. Dalam forum diskusi yang dipimpin Prof. DR. H. Mukti Ali itu, Maman A Malik berpendapat, bahwa perbedaan pandangan dalam tafsir sejarah, dalam batas-batas tertentu sebenarnya masih bisa dimaklumi. Akan tetapi penggelapan dan penggebirian fakta sejarah apapun alasannya akan banyak mengandung reaksi.

          Dalam hal ini banyak diketemukan dalam penulisan sejarah nasional Indonesia. Kalau dilihat dari keseluruhan, menurut Maman A. Malik, penulisan buku sejarah yang terdiri dari VI jilid itu, patut dibanggakan dan dihargai. Pembeberan fakta sejarah disusun secara kronologis dan gamblang. Analisa sejarahnya cukup tajam dan mendalam, Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang ditunjang pula oleh berbagai literatur yang bisa dipertanggung jawabkan. Akan tetapi sangat disesalkan bahwa pembahasan dan analisa yang mendetil sedikit dalam hal-hal yang menyangkut masalah umat Islam dibanding dengan hal-hal yang lain, tuturnya.

              Hal ini bisa kita lihat dalam “buku kedua yang berisi zaman kuno”. Periode zaman kuno dalam penulisan buku sejarah nasional Indonesia identik dengan Hindu yang meliputi proto-sejarah, dan berakhir dengan masuknya pengaruh Islam ke Indonesia. Menurut penulis buku sejarah buku sejarah itu zaman kuno berlangsung sejak awal Masehi sampai sekitar tahun 1600 M. Padahal jauh sebelum tahun 1600 M pengaruh Hindu sudah terdesak oleh pengaruh Islam yang sejak akhir abad XIII M  sudah menanamkan benih-benih politiknya di bagian utara pulau Sumatera. Kerajaan Majapahit yang dianggap sebagai kerajaan Hindu terbesar dalam sejarah Nusantara, berdiri antara tahun 1293-1528 M. dengan  puncak kejayaan yang dicapai pada masa pemerintahan Hayam Wuruk pada tahun 1350-1389 M atas dukungan patih Gajah Mada (1331-1364).

           Akan tetapi setelah Hayam Wuruk meninggal, Majapahit diliputi kabut kegelapan. Sejak tahun 1400 Majapahit yang besar dan bersatu itu sudah tidak ada lagi, dan dalam masa itu juga Islam semakin merasuk ke dalam bumi Nusantara. Jadi  menurut H. Maman A. Malik, dengan nada bertanya, apa yang dimaksud penulis sejarah nasional itu sehingga periode zaman kuno dikatakan “sejak awal Masehi hingga tahun 1600”.

            Demikian juga kekeliruan itu terdapat dalam buku ketiga, yang berisi periode tumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Yang menurut buku sejarah nasional itu, penetapan periode pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam adalah tahun 1600-1800. Padahal kerajaan Malaka muncul pada awal abad XV sebagai pusat kegiatan Islam yang meliputi politik, sosial, budaya, tutur dosen IAIN itu. Bahkan, menurut Malik, kerajaan yang pertama memeluk Islam itu mampu menyaingi kebesaran Samudera dan sebagai pusat niaga memberikan bantuan pada penyebaran agama dan sebagai niaga memberikan bantuan pada penyebaran agama Islam di berbagai wilayah Nusantara, termasuk dipelabuhan-pelabuhan yang dikuasai kerajaan Majapahit. Tapi ini tidak terdapat dalam buku sejarah nasional kita.

            Dan kalau kita mau menelusuri lebih jauh lagi, disekitar tahun 1430, juga muncul suatu kerajaan Islam di Ternate. Dari pusat-pusat atau kerajaan itulah Islam mampu menerobos keseluruh Nusantara. Jadi penetapan tahun 1600-1800 sebagai periode pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Islam dalam sejarah nasional kita, tidak bisa dibenarkan, karena secara faktual, kerajaan Islam di bumi Nusantara ini sudah bermunculan sebelum  tahun 1800.

         Ada beberapa point dalam bab IV sub bab A dan buku ke VI  yang menjadi kandungan sub bab A bab IV, mengapa lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti NU, Muhammadiyah, dll (kecuali yang dikelola SI) tidak dibicarakan disini?. Padahal kalau kita mau bicara yang objektif lembaga pendidikan seperti pesantren, sebagai suatu lembaga pendidikan tertua umurnya, seharusnya mendapat tempat untuk dibahas di bab ini. Sebab dari pesantren ini telah lahir pejuang-pejuang bangsa yang militan.

         Juga isi dalam buku ke VI (keenam), mengapa perlawanan phisik bangsa Indonesia melawan  Jepang tidak dibahas?. Yang lebih menarik dalam pemaparan Drs. H.Maman A. Malik itu adalah  di dalam menanggapi buku ke V(lima) yang isinya mengenai kebangkitan nasional mulai tahun 1900 dan berakhir tahun 1942.
Didalam buku kelima ini, tidak sedikit pembahasan-pembahasan pergerakan rakyat secara mendetail. Akan tetapi sayang lebih banyak jumlahnya yang hanya disinggung  sekilas dan bahkan tidak dibicarakan sama sekali. Dalam buku kelima ini, organisasi-organisasi yang bercorak keagamaan ( Islam ) tidak dibicarakan, kecuali Serikat Islam. Tidak dikemukakan pembahasan mengenai NU, Muhammadiyah, POI, Jamiyatul Wasliyah, PERSIS, MIAI, dsbl. Serikat Islam walaupun dibicarakan, tetapi tidak disinggung mengenai sebelum berubah nama, yaitu dari  SDI  ke  S1, padahal kalau SDI  dibicarakan, akan menunjukkan bahwa ummat Islam di Indonesia telah mempunyai organisasi sebelum berdirinya Boedi Oetomo. Karena SDI yang lahir tahun 1905 itu sudah mempunyai latar belakang dan tujuan mensejahterakan rakyat pribumi, walaupun dibatasi oleh nama Islam.
Bahkan dalam tahun 1901 lahir organisasi Islam Jamiyatulkhair. Dan organisasi ini baru mendapat izin dari pemerintah jajahan  pada tahun 1905. Organisasi yang pemimpinnya kebanyakan orang keturunan Arab itu, bergerak di pendidikan. Dan banyak melahirkan tokoh-tokoh masyarakat yang mempunyai peranan cukup penting pada zaman pergerakan nasional menuju kemerdekaan. Tapi mengapa tidak disitir dalam buku sejarah ini, tutur dosen Fakultas Adab itu.
Dalam akhir pembicarannya Drs.H.Maman A. Malik mengemukakan, bahwa selain uraian di atas, terdapat ungkapan-ungkapan yang lebih mencerminkan sifat subyektif penulis, seperti:
1.   Pada akhir bulan Maret 1946 beberapa tokoh  politik ditangkap karena dianggap melemahkan  persatuan dan hendak merubah susunan negeri di undang-undang.
2.  Sekalipun Pemilu pada tahun 1955 dianggap paling murni ternyata tidak membawa kepada  pemerintahan yang stabil.
3.  Pada Orde Lama, seperti partai-partai politik tidak  mampu menampilkan pemimpin kaliber dunia.
selanjutnya ada kesan lain, lebih bersifat Jawa sentris. Hal ini dapat dilihat dari sudut:

1.  Penampilan gerakan nasional yang berpusat  di Jawa.
2.  Penonjolan terhadap sinkretisme ( Islam  dan agama Islam asli).
3. Gerakan-gerakan sosial yang ditulis hanya terjadi di Jawa.

4. Dalam sistematika mendahulukan kerajaan Mataram dari pada Aceh. Padahal kerajaan Aceh lebih dahulu muncul.                                                                                                                                (M. Soleh Amin).

 

( Sumber: Majalah MUHIBBAH, No. II Thn XVI/1982  hlm 37 – 50. Diterbitkan Lembaga Pers Mahasiswa UII, Yoyakarta).