Menyambut Duek Meujakarah di Bale Tambeh, Proehai Hikayat, Nazam, Tambeh: Bila Gagasan Itu…

                     Bila gagasan itu jadi kenyataan:

LEMBAGA   INDONESIANOLOGI   BERMANFAAT   BAGI   BANGSA

                    -Namun perlu pengawasan yang cermat!

            “DARI Barat sampai ke Timur, berjejer pulau-pulau. Sambung-menyambung menjadi SATU, itulah  INDONESIA…..    Demikian bunyi lagu wajib  yang sering dinyanyikan murid-murid SD dengan semangat bergelora. Mungkin maksud dari lagu wajib itulah yang ingin dicapai oleh  rencana pengembangan studi kebudayaan dari lembaga yang telah terwujud sekarang. Berikut merupakan beberapa pandangan penulis, yang pernah mengikuti perkembangan “Lembaga Studi Kebudayaan” yang telah berdiri itu.

          Sejak munculnya gagasan Menteri P dan K; Prof.Dr. Nugroho Nutosusanto, yang bermaksud mengembangkan Proyek Javanologi menjadi  Indonesianologi, tanggapan masyarakat semakin hangat nampaknya. Hal ini jelas sekali dari meningkatnya keikutsertaan masyarakat menghadiri ceramah ilmiah di Proyek Javanologi, Yogyakarta. Kalau sebelumnya,  yang hadir kebanyakan hanyalah orang-orang tua. Tetapi sekarang, peserta dari kalangan muda tidak kalah pula jumlahnya. Hingga mulai terlihat fasilitas tempat duduk tak cukup.

              Masyarakat mulai sadar, bahwa apa yang diceramahkan itu bukan sekedar  warisan nenek moyang  yang telah usang, Dan mungkin pula mereka hendak mencari jawaban: “apa sih yang diperdebatkan terhadap “proyek  itu” akhir-akhir ini?”. Selain itu sorotan dan komentar dalam media massa baik Koran pusat maupun daerah semakin semarak pula. Hr. Merdeka, Hr. Kompas, Buana Minggu dan beberapa Koran Jakarta lainnya ikut pula menyebarkan informasi tentang hal ini. Dan yang paling “serius” nampaknya adalah koran/mingguan lokal Yogyakarta, terutama dalam artikel-artikel yang disajikannya.

               Melihat perkembangan yang demikian, lebih bijaksana rasanya bila setiap  keputusan yang diambil  pihak berwenang dalam hal studi kebudayaan “daerah” harus didasari  pada pertimbangan yang cukup matang.   Bila tidak,  akan timbul penyesalan pada akhirnya. Kata orang usaha mencegah penyakit, lebih mudah dari mengobatinya. Namun demikian, semua pihak  baik yang muncul dalam media massa atau tidak,  kelihatannya sangat setuju dengan usaha-usaha  penelitian kebudayaan  ini.  “Dari pada diteliti dan ditulis bangsa asing nantinya,, yang biasanya lebih banyak negatifnya”, kata mereka.

                 ………………… halaman 2 hilang!…………………….

             Yang telah kita kenal  hanyalah sebagian kecil saja. Yaitu yang pernah diajarkan di sekolah atau pun yang sempat termuat dalam media  massa. Bagaimana dengan rakyat di desa, tentu saja lebih parah lagi. Dalam perkara yang “satu” ini kita tak usah munafik pada diri sendiri.   Pernyataan penulis adalah berdasarkan  pengalaman pribadi  sebelum merantau ke Yogyakarta. Biarpun hampir sarjana, namun pengetahuan  tentang bangsa  sendiri  minim sekali. Bahkan banyak yang menyimpang dari kenyataan yang sebenarnya. Kesadaran demikian baru timbul setelah menyaksikan sendiri secara langsung. Sekarang, hati penulis sering bisik-membisik begini :”sebaiknya pemerintah, selain mengadakan program pertukaran pemuda antara  negara, perlu juga rasanya  mewujudkan program pertukaran pemuda antar daerah se-Indonesia “. Pepatah yang mengatakan; Bahwa  dari  kenal timbullah cinta “,  semakin terbukti bagi penulis.
Selama ini, setiap kali serasehan ilmiah di Proyek Javanologi Yogyakarta selalu disebarkan melalui media massa baik pusat maupun daerah. Penulis sendiri (bukan orang Jawa-red) ikut pula meringkaskan makalah ceramah itu, yang sudah beberapa kali dimuat dalam Hr.Merdeka.  Lagi-lagi semakin terasa, bahwa ungkapan:  “dari kenal menjelma sayang dari situlah benih –benih  cinta sama sebangsa yang lebih bermakna”. Karena itu, apa yang pernah menjadi ide Menteri P dan K tentang “Lembaga  Indonesianologi ‘ perlu diwujudkan  dengan  segera. Tentu saja setelah diolah dan melalui perencanaan yang matang. Bila gagasan itu terjelma, terbukalah kesempatan besar bagi rakyat Indonesia untuk saling mengenal secara utuh sesama mereka.

           Sebagai hasil penelitian ilmiah para ahli, sudah pasti apa yang dihidangkan bagi pengetahuan masyarakat, adalah masalah-masalah yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Serta harus bebas dari rasa keangkuhan etnis, yang menimbulkan emosi superioritas. Dengan kerjasama berbagai media massa secara adil,  mudahlah segenap hasil penelitian dari Lembaga Indonesianologi dari berbagai daerah itu disebarluaskan.
Untuk memudahkan  pengontrolan pihak berwenang, baik dalam hal pengurusan dana, menentukan program dan sebagainya  bagi cabang Indonesialogi di daerah-daerah, sungguh bijaksana sekali bila pusat  Indonesianologi ditempatkan  di Jakarta. Sebagai ibukota negara, sangat tepat jika Jakarta dijadikan sebagai sentral dari lembaga yang menasional itu.

                      Berdikari

            Seandainya program kerja Indonesianologi mengambil contoh apa yang sedang digarap Proyek Javanologi, maka kita pun mengakui acuan itu sangat tepat. Proyek Javanologi antara lain bertujuan  memelihara dan meneruskan nilai-nilai budaya daerah; meliputi system pertanian, perekonomian, tehnologi, kesusastraan, kemasyarakatan, kesenian, religi dan ilmu pengetahuan (Dr.Soeroso: Kompas, 29-6-’83). Semakin jelas, bahwa yang menjadi obyek penelitian bukanlah budaya daerah dalam arti sempit. Tetapi kebudayaan dalam pengertian luas, yang nanti besar kemungkinan hasil penelitian itu bermanfaat bagi tujuan pembangunan bangsa. Baik

          Harus pula diakui, bahwa nilai-nilai budaya daerah yang tersebut di atas, masih sedikit sekali  yang telah diteliti para ahli  Indonesia sendiri. Hingga kini,  hanyalah para penulis asing yang telah banyak  menggarap masalah itu. Itu pun hanya baru bagi daerah Jawa dan Bali. Sedang bagi daerah-daerah lain , masih nyaris belum dijamah para penulis asing itu.  Apalagi oleh ahli bangsa kita.

                 Nampaknya, setiap terbit karya baru penulis asing tentang Indonesia, masyarakat pun berebutan membelinya. Kita pun belum tahu sebab-musababnya. Apakah karena terdapat “bau asing” dalam buku-buku itu, hingga mereka merasa perlu membacanya. Atau pun memang lantaran rasa nasionalisme yang menggebu-gebu, hingga terpanggil untuk mengenal lebih dekat kehidupan bangsa sendiri. Dari kenyataan demikian,  beberapa hal perlu kita camkan bersama. Bahwa tidaklah semua tulisan orang asing  tentang Indonesia  bernilai obyektif atau ilmiah. Biarpun mereka seringkali memproklamirkan diri kaum “ pengabdi” ilmiah.  Ketidak jujuran dalam karya-karya mereka kadang-kadang membawa kerugian  bagi kita. Sebagai contoh, adalah karya-karya pengarang asing yang masih  mengekor  sikap tokoh Van der Plas dalam bidang kebudayaan Indonesia tempo doeloe (Lihat: Induk Karangan Harian Merdeka,  17 Juli 1982 halaman V ).

              Harapan kita, semoga dengan hadirnya Indonesianologi sebagai  badan penelitian  budaya bangsa,  dapatlah kiranya membalikkan kiblat  pembaca kita dari  menggeluti karya-karya pengarang asing kepada hasil-hasil penelitian  bangsa sendiri. Jika sudah demikian, barulah boleh dikatakan kita  dapat berdikari  dalam masalah kebudayaan sendiri. Demi menampakkan  kekompakan nasional,  maka pemakaian istilah logi-logi  yang menonjolkan daerah  bagi lembaga-lembaga  penelitian “budaya daerah”  perlu dihindarkan!.( T.A. Sakti)

Yogyakarta, 3 – 11 – 1403

                     12 – 8 – 1983 – TA

            (Catatan aktual: Niat   mengadakan   suatu” Meujakarah di Bale Tambeh”  semacam yang saya cadangkan di depan halaman rumah saya  ini;   sudah 30 tahun hendak saya wujudkan.  Inspirasi ini timbul ketika saya  sering menghadiri  diskusi di Proyek Javanologi, Yogyakarta tahun 1983. Namun, akibat  banyak aral-melintang yang saya alami, pengwujudan niat baik itu terus tertunda. Namun, pada hari Kamis. 2 Ramadhan 1434 H/11  Juli  2013 M, ilham itu mendadak muncul kembali dan segera saya laksanakan. Saat itu, sekitar jam 10 pagi,  saya  sedang duduk di Bale Tambeh seperti hari puasa pertama kemaren. Semula saya hendak balik ke rumah mengambil naskah Hikayat Abu Jahai, guna melanjutkan pembacaannya seperti kemaren. Ketika hendak beranjak ke rumah itulah terbersit niat mengadakan “meujakarah di Bale Tambeh” itu, dan langsung saya tulis ‘undangan’ seperti ini:

“Insya Allah, teupeuna meujakarah bhah hikayat, nadham ngon tambeh tiep-tiep uroe Satu ngon Aleuhad – meuna soetem jak -(tok-tok lam bln Puwasa) di Bale Tambeh….Darussalam, mulai poh 10.30 sampoe poh 12.30, insya Allah. Silakan neulangkah bak ulontuwan!!!. T.A. Sakti

            Segera sms  undangan ini  saya layangkan kepada lebih 25 orang seniman, budayawan Aceh yang bermukim di Banda Aceh serta pemberitahuan kepada beberapa teman, sahabat di luar Banda Aceh. Akibat disibukkan dengan  rencana kegiatan yang muncul ‘ble ban kilat’ itu, saya  pun alpa membaca hikayat Abu Jeuhai pada hari itu. Hikayat Abu Juhai  berhuruf Jawi/Jawoe  yang dipinjamkan sahabat saya itu, rencananya akan saya alihkan ke aksara Latin dalam bulan Ramadhan  1434 H ini!.

Kesan yang muncul dari gebrakan baru saya dalam menjunjung “sastra Aceh”  kurang membesarkan hati. 1. Pada hari pertama,  Sabtu, 4 Puwasa 1434/4 Ramadhan 1434 H/13  Juli  2013, sampai batas waktu habis acara, tidak seorang pun  undangan hadir . Besoknya, Ahad, hanya seorang tamu datang- seorang asal Betawi yang sudah berkeluarga di Banda Aceh.  2. Pada Jum’at kedua, hari Sabtu, 20 Juli 2013, juga tak ada undangan yang hadir. Tapi pada malam Sabtu. selesai tarawih, ada 3 orang yang datang bertanya mengenai kegiatan meujakarah itu. Besok Ahad, 12 Ramadhan 1434 H/21  Juli  2013 M, sebagaimana telah dijanjikan, 4 orang tamu yaitu Medya Hus, Cek Man, Abrar,dan seseorang(?) hadir bermeujakarah di Bale Tambeh. 3. Pada Jum’at ketiga, 18 Ramadhan 1434 H/27 Juli 2013 M, acara meujakarah Hikayat,Nazam dan Tambeh hanya diisi oleh Fauzan Santa dan saya sendiri. Besoknya Ahad, diskusi/meujakarah itu juga disemarakkan seorang antropolog,  asal Amerika Serikat yang sedang belajar bahasa Aceh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s